Kampung Cempluk Menghidupkan Bukan Menggetarkan

Oleh ; Redy Eko P.
Dosen FAKULTAS VOKASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Dalam kacamata antropolog Clifford Geertz, Kampung Cempluk sedang “merajut jaring-jaring makna mereka sendiri”. Festival dan musik Garuda Putih adalah simbol-simbol yang mereka ciptakan bersama untuk mendefinisikan diri mereka. Ini berbeda secara fundamental dengan budaya horeg yang cenderung menjadi konsumsi pasif, di mana identitas lebih sering diukur dari kemewahan dan volume suara.

Kampung Cempluk adalah bukti nyata bahwa merespon ruang publik tak harus dengan meminjam kemegahan dari luar. Mereka menunjukkan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari dalam. Di saat desa-desa lain berlomba-lomba “menggetarkan” kampungnya, Kampung Cempluk memilih “menghidupkan” kampungnya dengan irama yang mereka ciptakan sendiri.

Opening Training Raya Tingkat Nasional Sukses! Ini Kesan Pesan Wali Kota Probolinggo dan Peserta

Probolinggo, Berdampak.net – Gelora semangat kaderisasi kembali membara! Latihan Kader II (LK-2) atau yang akrab dikenal sebagai Intermediate Training sukses digelar oleh HMI Cabang Probolinggo. Namun kali ini berbeda dari biasanya—lebih besar, lebih bersejarah, dan lebih strategis. Untuk pertama kalinya, kegiatan ini diselenggarakan secara bersamaan dengan Training Senior Course, yakni pelatihan elite yang dirancang khusus untuk mencetak Instruktur HMI berkualitas nasional.

Dengan tema besar “Transformasi Peradaban : Manifesto HMI dengan meneguhkan iman-intelektual sebagai fondasi pengabdian dari Insan Cita Menuju Masyarakat cita”, gelaran ini sukses menyedot perhatian dan antusiasme kader dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat sebanyak 40 peserta terbaik lolos dalam proses seleksi ketat, dan mengikuti dua jalur pelatihan ini. Uniknya, salah satu peserta datang dari daerah paling jauh—Surakarta—membuktikan magnet Probolinggo sebagai episentrum baru pengkaderan nasional.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Wali Kota Probolinggo, yang secara langsung hadir dan memberikan dukungan penuh. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa bangga atas kontribusi HMI dalam membentuk pemuda yang kritis, intelektual, dan berintegritas.

“Kami menyambut baik kegiatan besar ini. HMI telah lama menjadi mitra strategis bangsa dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Probolinggo merasa terhormat menjadi tuan rumah training berskala nasional seperti ini dan adik-adik jadilah kader yang berpihak pada rakyat kecil,” ujar Wali Kota dengan penuh semangat.

Sementara itu, para peserta menyebut acara ini sebagai pengalaman luar biasa yang tak hanya menguji intelektualitas, tapi juga mengasah mental, kepekaan sosial, dan daya juang. Mulai dari materi ke-HMI-an, keislaman, kebangsaan, hingga manajemen organisasi, semuanya dikemas intensif dan kolaboratif. Apalagi, kehadiran instruktur nasional dalam sesi training Senior Course menambah bobot pelatihan ini menjadi sangat eksklusif.

“Training ini membuka cakrawala berpikir saya. Ini bukan hanya soal organisasi, tapi tentang misi besar membangun peradaban,” tutur Feni Fandila, salah satu peserta dari Surakarta.

Dengan keberhasilan ini, HMI Cabang Probolinggo tak hanya mencatat sejarah baru, tapi juga membuktikan diri sebagai kekuatan kaderisasi yang solid dan berwawasan nasional. Sinergi antara LK-2 dan Senior Course menjadi langkah progresif dalam mencetak kader pemimpin dan instruktur yang profesional—siap membina pelatihan HMI di berbagai cabang di seluruh Indonesia.

Kaderisasi bukan hanya rutinitas. Di tangan HMI, ia adalah lompatan peradaban.

HMI, Yakusa!
HMI, Tetap Jaya!