Probolinggo, Berdampak.net – Sabtu (02/08/2025) SMA Nurul Jadid Paiton, Probolinggo kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang pendidikan bahasa asing. Kali ini, keberhasilan mereka dalam pengembangan bahasa Mandarin mendapat apresiasi langsung dari Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd., tokoh pendidikan nasional yang juga pembina Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang.
Kunjungan Prof. Ibrahim ke Pondok Pesantren Nurul Nurul Jadid dilakukan bersama rombongan sebanyak sepuluh orang pengelola dari Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang. Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk belajar langsung tentang pengelolaan pembelajaran bahasa Mandarin di lingkungan pesantren.
Dalam sambutannya, Prof. Ibrahim menyampaikan rasa kagumnya terhadap sistem yang diterapkan SMA Nurul Jadid. Menurutnya, pembiasaan berbahasa Mandarin yang terstruktur, kurikulum yang progresif, serta perhatian pada kualitas guru menjadi kunci keberhasilan lembaga ini.
“Kami sangat terkesan. Tidak banyak sekolah, apalagi yang berbasis pesantren, mampu menyelenggarakan pembelajaran bahasa Mandarin dengan kualitas seperti ini. Bahkan sudah sampai pada tahap pelaksanaan ujian HSK,” ungkapnya.
HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) merupakan ujian standar kemampuan bahasa Mandarin yang diakui secara internasional. Fakta bahwa siswa-siswi SMA Nurul Jadid sudah mampu mengikuti ujian ini menunjukkan tingginya level penguasaan mereka terhadap bahasa tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Ibrahim menyebut bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan dan manajemen pendidikan yang baik. Ia menilai bahwa ada sistem yang konsisten diterapkan di SMA Nurul Jadid untuk membentuk budaya literasi dan kemampuan bahasa asing di kalangan santri.
Salah satu alumni yang menjadi bukti konkret keberhasilan pendidikan bahasa Mandarin di SMA Nurul Jadid adalah Novi Basuki. Novi dikenal sebagai sosok muda yang fasih berbahasa Mandarin dan kini menempuh studi S1 hingga doktoral di Tiongkok dengan beasiswa penuh.
Prestasi Novi menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Nurul Jadid. Bahkan, Prof. Ibrahim secara pribadi mengaku mengikuti perkembangan Novi melalui berbagai kanal digital, termasuk menonton video-videonya di YouTube dan media sosial lainnya.
“Kami sering menonton kanal video Novi Basuki. Beliau menjadi gambaran bagaimana lembaga pendidikan pesantren mampu mencetak generasi global dengan bekal bahasa internasional,” tambah Prof. Ibrahim.
Delegasi dari Yayasan Pendidikan Sabilillah pun menggali banyak hal selama kunjungan, mulai dari strategi pembiasaan berbahasa Mandarin di lingkungan sekolah, model kurikulum, metode pembelajaran, hingga program upgrading guru-guru bahasa Mandarin.
Para guru SMA Nurul Jadid juga dengan terbuka berbagi pengalaman dan strategi dalam menyusun roadmap pembelajaran bahasa asing yang kontekstual dengan dunia pesantren. Salah satunya adalah dengan integrasi antara bahasa, budaya, dan nilai-nilai akhlak dalam pembelajaran.
Kunjungan ini tidak hanya bersifat observasi, tetapi juga menjadi forum diskusi dan kolaborasi antar-lembaga pendidikan Islam. Para tamu dari Malang terlihat sangat antusias mencatat dan berdialog dengan para pengelola SMA Nurul Jadid.
Dengan adanya kerja sama dan kunjungan seperti ini, SMA Nurul Jadid berharap dapat terus memperluas jaringan dan memperkuat program bahasa asing, terutama Mandarin, sebagai bagian dari misi internasionalisasi pendidikan pesantren.
Sugiono Kepala Bidang Kurikulum Biro Pendidikan dan mantan WaKa Kurikulum SMA Nurul Jadid dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif tim, dukungan yayasan, dan semangat para santri dalam menyambut tantangan global.
“Penguasaan bahasa asing, termasuk Mandarin, bukan hanya untuk keperluan akademik, tetapi juga sebagai pintu dialog peradaban. Kami ingin santri memiliki kesiapan menghadapi dunia global, tanpa kehilangan akar keislamannya,” ujarnya.
Kunjungan Prof. Ibrahim dan tim dari Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang ini diakhiri dengan sesi foto bersama, penandatanganan kenang-kenangan, dan rencana tindak lanjut kerja sama dalam pengembangan bahasa asing antar kedua lembaga. (pm)