Moderasi Beragama sebagai Ikhtiar Merawat Kemerdekaan dalam Ke-Bhinneka-an


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 lahir dari kesadaran kolektif bangsa yang majemuk untuk mewujudkan cita-cita bersama. Para pendiri bangsa memahami bahwa keberagaman etnis, bahasa, dan agama adalah realitas historis yang tidak dapat dihapuskan. Oleh karena itu, Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dijadikan fondasi berbangsa dan bernegara, sebagai titik temu antara pluralitas dan nasionalitas (Latif, 2018). Namun, perjalanan merawat kemerdekaan dalam ke-Bhineka-an tidak pernah bebas dari tantangan, baik berupa ancaman radikalisme, intoleransi, maupun fragmentasi sosial-politik.

Dalam konteks inilah, moderasi beragama memperoleh relevansinya. Kementerian Agama Republik Indonesia (2019) mendefinisikan moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang menekankan keseimbangan dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama, sehingga tidak terjebak pada ekstremisme. Secara teoretis, konsep ini selaras dengan gagasan ummatan wasathan dalam tradisi Islam (QS. Al-Baqarah: 143), maupun prinsip humanisme universal dalam tradisi agama lain. Dengan demikian, moderasi beragama tidak dimaksudkan untuk menafikan keyakinan, melainkan meneguhkan agama sebagai sumber nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian (Azra, 2020).

Secara sosiologis, moderasi beragama berfungsi sebagai mekanisme integrasi sosial. Ia mencegah fragmentasi akibat perbedaan identitas dengan cara membuka ruang dialog, memperkuat trust antar-kelompok, serta menumbuhkan solidaritas kebangsaan. Tanpa sikap moderat, keberagaman mudah tergelincir menjadi konflik horizontal yang merusak tatanan sosial (Syamsuddin, 2019). Sejarah mencatat berbagai peristiwa intoleransi di Indonesia seringkali berakar pada sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal yang ditafsirkan secara sempit.

Di era kontemporer, tantangan moderasi beragama semakin kompleks. Globalisasi dan teknologi digital menghadirkan banjir informasi yang tidak selalu sehat. Hoaks, ujaran kebencian, serta propaganda ideologi transnasional dengan mudah menjangkau masyarakat luas (Hefner, 2019). Di sisi lain, dinamika politik elektoral terkadang memanfaatkan isu agama sebagai instrumen mobilisasi massa, yang berpotensi mengikis kohesi sosial (Burhani, 2021). Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan komitmen moderasi, maka semangat ke-Bhineka-an yang menjadi roh kemerdekaan akan terancam.

Oleh karena itu, upaya merawat kemerdekaan harus ditempuh melalui strategi multi-level. Pertama, pada level pendidikan, penting menanamkan literasi keagamaan dan kebangsaan yang mendorong siswa memahami perbedaan sebagai keniscayaan sekaligus potensi. Kedua, pada level keagamaan, para tokoh dan institusi keagamaan harus menekankan dakwah atau pelayanan keagamaan yang inklusif, dialogis, dan menyejukkan. Ketiga, pada level kebijakan publik, pemerintah perlu memastikan regulasi dan praktik sosial-politik yang menjunjung prinsip kesetaraan warga negara tanpa diskriminasi berbasis identitas agama.

Sebagai refleksi, kemerdekaan Indonesia hanya dapat bermakna substantif apabila terjaga melalui ikhtiar kolektif dalam merawat pluralitas. Moderasi beragama adalah instrumen strategis untuk memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi sumber disintegrasi, melainkan energi kebangsaan. Dengan menjadikan moderasi beragama sebagai habitus sosial, Indonesia dapat terus berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, adil, dan beradab sesuai cita-cita kemerdekaan.

Santri Nurul Jadid Ditekankan Jadi Patriot Bangsa dalam Upacara HUT ke-80 RI

Probolinggo – Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Ahad (17/08/2025), di halaman Kampus Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Upacara ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, pengurus pesantren, dosen, serta ribuan santri dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan.

Bertindak selaku inspektur upacara, KH Najiburrahman Wahid menyampaikan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia. Ia menyebut peringatan kemerdekaan sebagai syiar yang penting untuk terus mengingat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.

“Alhamdulillah atas kudrat dan iradah Allah SWT, kita kembali hadir di tempat ini untuk melaksanakan syiar, yaitu upacara kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia saat itu belum siap secara persenjataan dan materi, tetapi karena rahmat Allah, kita berhasil merdeka,” ujarnya dalam sambutan.

KH Najiburrahman mengajak seluruh peserta upacara untuk tidak hanya bersyukur, tetapi juga senantiasa mendoakan para pejuang dan syuhada yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan bangsa.

“Mari jangan lupa untuk terus mendoakan mereka agar mendapat rahmat Allah. Tanpa perjuangan mereka, kita tidak akan merasakan nikmat kemerdekaan hari ini,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengingatkan kembali pentingnya Panca Kesadaran Santri yang menjadi nilai dasar di Pesantren Nurul Jadid, yakni kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berorganisasi.

KH Najiburrahman menegaskan bahwa pendiri Pesantren Nurul Jadid, KH Zaini Mun’im, sejak awal telah memiliki visi kebangsaan yang kuat. Menurutnya, santri tidak hanya bertugas mengaji dan memikirkan diri sendiri, tetapi juga harus aktif dalam perjuangan dakwah Islam dan pembangunan bangsa.

“Santri Nurul Jadid harus memperjuangkan keadilan sosial, mewujudkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada yang salah dengan Pancasila dan UUD 45 jika kita terapkan dengan benar. Insya Allah Indonesia akan menjadi baldatun thoyyibatun warabbun ghafur,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya karakter tangguh dan mental pekerja keras yang harus dimiliki para santri, agar tidak menjadi generasi yang malas atau hanya bekerja ketika terdesak keadaan.

“Kita tidak boleh bermental budak. Kita harus bekerja keras, bersyukur atas nikmat aman dan damai yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain seperti Palestina dan Ukraina,” imbuhnya.

KH Najiburrahman menutup sambutan dengan harapan besar agar santri Nurul Jadid menjadi pelopor kebangkitan bangsa, dengan jiwa patriotik yang mencintai tanah air dan sekaligus istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah.

“Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua. Jadilah santri pelopor, patriot sejati, yang siap membangun bangsa tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” pungkasnya. (pm)

KH Najiburrahman Wahid: Jangan Jadi Santri Pemalas, Jadilah Patriot Bangsa

Probolinggo, Berdampak.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia pada Ahad (17/08/2025) di halaman Kampus Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Upacara ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, pengurus pesantren, dosen, serta ribuan santri dengan penuh khidmat.

KH Najiburrahman Wahid yang bertindak sebagai inspektur upacara mengajak seluruh santri untuk menjadikan momen kemerdekaan sebagai sarana bersyukur atas nikmat Allah SWT dan hasil perjuangan para pahlawan.

“Alhamdulillah, atas kudrat dan iradah Allah SWT, kita kembali hadir di tempat ini untuk melaksanakan syiar, yaitu upacara kemerdekaan 17 Agustus 1945. Betapa bangsa Indonesia saat itu belum siap secara persenjataan dan materi, tapi karena rahmat Allah, kita bisa merdeka,” ujarnya dalam sambutan.

Ia menegaskan bahwa kemerdekaan bukan semata hasil kekuatan, tapi juga kehendak ilahi dan pengorbanan besar para pejuang. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar generasi muda, khususnya santri, terus mendoakan para pahlawan bangsa.

“Jangan lupakan untuk mendoakan para syuhada dan pejuang agar mereka mendapat rahmat Allah SWT,” tambahnya.

KH Najiburrahman Wahid juga mengingatkan pentingnya Panca Kesadaran Santri yang telah menjadi prinsip pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kesadaran tersebut meliputi kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta berorganisasi.

Ia menegaskan bahwa pendiri pesantren, KH Zaini Mun’im, sejak awal telah memiliki visi kebangsaan. Santri tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga harus peduli pada nasib umat dan bangsa.

“Santri harus memperjuangkan dakwah Islam, memikirkan rakyat Indonesia, dan memperjuangkan keadilan sosial serta penerapan Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa. Tidak ada yang salah dengan keduanya jika dijalankan dengan benar,” jelasnya.

KH Najiburrahman juga menekankan pentingnya memiliki mental pekerja keras. Ia memperingatkan santri agar tidak menjadi generasi pemalas yang hanya mau bekerja jika ditekan atau terdesak.

“Apakah kita mau terus bermalas-malasan? Apakah kita mau bermental budak? Bangsa budak adalah bangsa yang hanya mau bekerja kalau dicambuk, kalau tertimpa musibah, kalau kepepet,” ujarnya dengan nada tegas.

Ia mengajak seluruh santri untuk bersyukur atas nikmat aman dan damai yang dirasakan Indonesia, yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain yang masih dilanda konflik, seperti Palestina dan Ukraina.

“Kita harus bersyukur atas nikmat besar ini. Mari giat beribadah dan belajar, demi masa depan bangsa yang cerah dan masa depan kita sendiri di dunia dan akhirat,” pesannya.

Menutup sambutannya, KH Najiburrahman Wahid berharap santri Nurul Jadid menjadi generasi pelopor yang cinta tanah air sekaligus teguh menjalankan nilai-nilai Islam.

“Jadilah santri pelopor, santri yang berjiwa patriot, yang istiqamah dalam ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, dan aktif membangun bangsa Indonesia,” pungkasnya. (pm)