Probolinggo, Berdampak.net – Semangat kemerdekaan di Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, di Desa Jatiadi Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Tampak khidmat dimana para santri mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih, Sabtu (17/8/2025).
Pengasuh Ponpes Raudlatul Jannah Habib Ali Zainal Abidin mengatakan, bahwa perayaan tahun ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga sarat dengan pesan moral. Terutama pendidikan harus bisa diakses secara merata oleh seluruh santri, tanpa ada perbedaan latar belakang sosial maupun ekonomi.
“Pondok pesantren sejak dulu menjadi pusat pendidikan rakyat. Kami ingin meneguhkan kembali komitmen itu. Semua santri berhak mendapatkan pendidikan yang setara,” katanya
Usai pelaksanaan upacara, suasana semakin semarak dengan digelarnya prosesi potong tumpeng sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Pesantren diharapkan tetap menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi bangsa yang berilmu, berakhlak, dan cinta tanah air. (rh)
Probolinggo – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Puspan tahun 2025 menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk Pentingnya Pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Raudhlatul Fath, Desa Puspan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Acara yang berlangsung pada Sabtu tanggal 9 Agustus 2025 ini dihadiri oleh siswa-siswi di lingkungan MA Raudhlatul Fath.
Kegiatan sosialisasi menghadirkan Bapak Sahrul Munir, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa pendidikan merupakan salah satu bekal utama untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan, baik dalam aspek karier, sosial, maupun pengembangan diri.
Bapak Sahrul juga menuturkan bahwa generasi muda harus memiliki kesadaran sejak dini akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan di kelas, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab,” ujarnya dalam sesi penyampaian materi.
Kegiatan sosialisasi ini berjalan lancar dan penuh antusiasme. Para siswa tampak aktif mengikuti jalannya acara, bahkan beberapa di antaranya mengajukan pertanyaan seputar motivasi belajar dan tantangan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Interaksi ini menunjukkan tingginya minat pelajar dalam menggali wawasan baru.
Kepala MA Raudhlatul Fath, Abdul Somad menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program sosialisasi oleh kelompok KKN Desa Puspan 2025. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peserta didik, khususnya dalam memupuk semangat belajar. “Kami sangat menyambut positif kegiatan ini. Semoga mampu memberikan motivasi kepada anak-anak untuk lebih giat dalam menuntut ilmu,” ungkapnya.
Selain memberikan materi, pemateri juga mengajak siswa untuk terus menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pendidikan tidak hanya diperoleh di bangku sekolah, melainkan juga melalui pengalaman, interaksi sosial, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan masyarakat.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan siswa MA Raudhlatul Fath semakin termotivasi untuk menggapai cita-cita mereka melalui jalur pendidikan. Program KKN Desa Puspan 2025 pun diharapkan dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar, terutama dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan sebagai pondasi kemajuan bangsa.
Probolinggo – Pada hari Sabtu tanggal 9 Agustus 2025, mahasiswa KKN Universitas Panca Marga mengadakan sosialisasi terkait pencegahan penggunaan narkoba. Kegiatan ini diadakan di MTs Raudhlatul Fath, Dusun Krajan, Desa Puspan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini diikuti seluruh siswa di MTs Raudhlatul Fath di Aula Pondok Pesantren Raudhlatul Fath lantai 2.
Pada kesempatan ini, hadir AKP Wedy yang merupakan anggota Polsek Maron sebagai pemateri pencegahan penggunaan narkoba. AKP Wedy menjelaskan betapa pentingnya generasi muda saat ini menjauhi narkoba. “Bahaya Narkoba sungguh sangat dekat dengan kita, jangan sampai kalian sebagai generasi muda coba-coba untuk mendekatinya karena dapat merusak masa depan kalian sendiri”.
Selain itu, Koordinator Desa KKN Puspan 2025, Muhammad Hadiyanto merasa sosialisasi ini perlu dilakukan untuk mencegah tingginya angka pengguna narkoba di kalangan generasi muda saat ini agar tidak sampai terjerumus bahaya narkoba. “Bahaya Narkoba menjadi concern kami karena menurut hemat kami, pengguna narkoba khususnya di kabupaten Probolinggo semakin tinggi, untuk itu sosialisasi bahaya narkoba ini perlu dilakukan” tegasnya.
Setelah penyampaian materi, ada sesi tanya jawab terkait sosialisasi ini. Audiens dari MTs Raudhlatul Fath sangat antusias dan bersemangat mengikuti sosialisasi ini. Secara keseluruhan kegiatan, sosialisasi ini berjalan dengan lancar.
Pihak sekolah MTs Raudhlatul Fath menyambut baik kegiatan ini. “Apapun itu kegiatan positif, kami selaku pihak sekolah selalu menyambut baik karena impactnya pasti positif juga” ujar salah satu guru di MTs Raudhlatul Fath.
Kegiatan sosialisasi ini termasuk dari program kerja yang dilakukan oleh kelompok KKN UPM Puspan 2025 yang merupakan bagian dari fokus Pendidikan, baik itu Pendidikan karakter, Pendidikan mental, dan Pendidikan pengetahuan bagi generasi muda di Desa Puspan.
Probolinggo – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Puspan tahun 2025 kembali melaksanakan kegiatan edukasi bagi masyarakat. Kali ini, sosialisasi yang bertemakan Stop Bullying digelar di SDN Puspan 1, Desa Puspan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu tanggal 16 Agustus 2025.
Iman Santoso, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Panca Marga (UPM), didaulat sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan berbagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk bullying, dampak negatif yang ditimbulkan, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh siswa, guru, maupun lingkungan sekolah.
Menurut Iman Santoso, bullying adalah masalah serius yang dapat mengganggu perkembangan mental dan emosional anak. “Bullying bukan sekadar ejekan atau candaan, tetapi bisa melukai perasaan, menurunkan kepercayaan diri, bahkan memengaruhi prestasi belajar. Karena itu, penting bagi kita semua untuk bersama-sama mencegahnya,” jelasnya.
Sosialisasi berjalan lancar dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Mereka tampak aktif menyimak materi yang disampaikan, bahkan beberapa di antaranya berani menceritakan pengalaman terkait perundungan di lingkungan sekolah. Hal ini menandakan bahwa isu bullying memang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak, sehingga perlu penanganan serius.
Guru-guru di SDN Puspan 1, dalam sambutannya, menyambut baik kegiatan positif ini. Ia menilai sosialisasi tentang Stop Bullying sangat bermanfaat bagi siswa maupun tenaga pendidik. “Kami mengapresiasi program KKN yang telah memilih tema penting ini. Semoga anak-anak lebih berani berkata tidak terhadap bullying dan guru lebih peka dalam mendampingi mereka,” ujarnya.
Selain itu, para guru yang hadir juga menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pencegahan bullying. Mereka berharap dengan adanya sosialisasi ini, sekolah dapat menjadi lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa dalam menimba ilmu tanpa adanya rasa takut atau tertekan.
Melalui kegiatan ini, KKN Desa Puspan 2025 berharap kesadaran siswa akan bahaya bullying semakin meningkat. Dengan dukungan sekolah, guru, serta peran aktif orang tua, diharapkan SDN Puspan 1 dapat menciptakan budaya sekolah yang ramah anak, bebas dari kekerasan, dan mampu mencetak generasi penerus bangsa yang lebih percaya diri serta berprestasi.
Probolinggo, Berdampak.net – Upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025 di Desa Karanganyar, Paiton, Probolinggo berlangsung meriah berkat penampilan drumband dari murid Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Mun’im.
Sebanyak 85 siswa dari kelas 4, 5, dan 6 tampil memukau dengan membawakan dua lagu, yakni Mars Nurul Jadid dan Indonesia Raya. Meski masih berusia dini, mereka mampu memainkan ritme dengan sangat baik sehingga mengundang decak kagum warga yang menyaksikan langsung.
“Saya kagum pada murid-murid itu,” kata Aisyah, salah satu warga yang hadir di lokasi upacara.
Drumband MI Nurul Mun’im mengiringi prosesi pengibaran bendera merah putih yang dilakukan oleh Pasukan Khusus (Kopassus) Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Bagian Kelembagaan dan Peserta Didik Biro Pendidikan Nurul Jadid.
Pembina pasukan drumband, Umar Falas, menyatakan kebanggaannya atas partisipasi murid-murid dalam memeriahkan Hari Kemerdekaan RI. “Kami sangat bangga, murid kami bisa tampil dan ikut andil dalam peringatan hari kemerdekaan,” ujarnya.
Dalam upacara tersebut, 16 personel drumband mengiringi bagian putri, sementara 24 personel mengiringi pengibaran bendera di bagian putra. Penampilan mereka merupakan hasil latihan intensif sebanyak tiga kali, ditambah satu kali latihan khusus untuk penyesuaian dengan petugas upacara.
Drumband merupakan ekstrakurikuler wajib di MI Nurul Mun’im yang bertujuan mengembangkan bakat dan keterampilan siswa. Selain sebagai hiburan, penampilan drumband ini juga menumbuhkan semangat nasionalisme dan kebanggaan baik bagi murid maupun masyarakat sekitar.
Upacara 17 Agustus tahun ini di Karanganyar menjadi bukti nyata kontribusi generasi muda dalam menjaga tradisi kenegaraan dengan semangat dan kemampuan yang luar biasa. (pm)
Oleh: Ahmad Muzakki Kholil Direktur ASWAJA NU Center & Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Probolinggo
Bari’an adalah salah satu tradisi unik yang masih lestari di beberapa daerah, khususnya di Jawa Timur, untuk memperingati malam Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Tradisi ini pada dasarnya adalah kegiatan berbagi hidangan dan makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat.
*Asal-usul Kata ‘Bari’an’* Meskipun secara umum bari’an diartikan sebagai “berbagi,” ada pandangan lain yang menghubungkannya dengan bahasa Arab. Kata ini merupakan isim fa’il atau maf’ul dari kata برأ يبرأ yang berarti “terbebas” atau “terlepas.” Dalam konteks peringatan kemerdekaan, kata ini sangat relevan, merujuk pada pembebasan bangsa Indonesia dari penjajahan.
*Tujuan dan Makna Bari’an* Tradisi bari’an bukan sekadar acara makan-makan biasa. Kegiatan ini sarat akan nilai-nilai luhur, seperti: ▪️Rasa Syukur: Bari’an menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas kemerdekaan yang telah diraih. ▪️Kebersamaan dan Gotong Royong: Setiap keluarga membawa hidangan masing-masing, lalu dikumpulkan dan dinikmati bersama. Ini menunjukkan semangat gotong royong dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. ▪️Memperkuat Solidaritas: Dengan makan bersama, sekat sosial melebur. Semua orang berkumpul dalam satu wadah untuk merayakan momen penting bagi bangsa. ▪️Pelestarian Budaya Lokal: Bari’an menjadi salah satu cara untuk menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul di tempat-tempat umum seperti balai desa atau halaman masjid. Mereka akan berdoa bersama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat, lalu dilanjutkan dengan makan bersama.
*Perspektif Syariat* Menurut perspektif fikih, tradisi bari’an atau syukuran di malam 17 Agustus adalah sebuah adat kebiasaan (al-‘urf) yang hukumnya mubah atau diperbolehkan. Ini didasarkan pada kaidah fikih العادة محكمة (al-‘Adah Muhakkamah) yang berarti “adat atau kebiasaan dapat menjadi dasar hukum”. Tradisi ini diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan syariat Islam, tidak mengandung unsur kemaksiatan, dan justru memuat nilai-nilai positif seperti rasa syukur, persatuan, dan silaturahmi.
Tradisi ini membuktikan bahwa semangat kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara yang sederhana, namun penuh makna, dan berpusat pada persatuan dan kebersamaan.