KH Zaini Mun’im, Ulama Visioner dari Probolinggo yang Jejaknya Diakui Nasional

JAKARTA, Berdampak.net – Sosok ulama kharismatik asal Probolinggo, almarhum KH Zaini Mun’im, kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton ini dianugerahi penghargaan “Tokoh Santri Mengabdi Sepanjang Hayat” dalam ajang Santri of The Years 2025 yang digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks DPR/MPR RI, Jakarta, Minggu (9/11/2025).

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh cucu beliau, Lora (Gus) Fahmi Abdul Hamid Zaini, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Probolinggo. Kehadiran Gus Fahmi mewakili keluarga besar Nurul Jadid sekaligus menandai bahwa perjuangan dan nilai-nilai luhur sang kiai terus hidup dalam generasi penerusnya.

Dalam sambutannya, Gus Fahmi menyampaikan rasa syukur atas penghargaan tersebut.

“Pengakuan ini adalah bukti bahwa perjuangan dan pemikiran KH Zaini Mun’im tetap relevan dan menjadi inspirasi bagi dunia pesantren dan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Acara penghargaan ini digagas oleh Islam Nusantara Centre (INC) dan Majelis Pecinta Sholawat Nusantara (Majelis Pesona) dengan dukungan DPR RI dan MPR RI. Turut hadir sejumlah tokoh nasional, kiai pesantren, dan akademisi dari berbagai daerah.

KH Zaini Mun’im dikenal sebagai ulama visioner, pembaharu pendidikan Islam, sekaligus penggerak sosial yang menanamkan semangat kebangsaan di tengah masyarakat. Melalui Pondok Pesantren Nurul Jadid yang didirikannya pada tahun 1948, beliau meneguhkan konsep “berilmu amaliyah, beramal ilmiah, dan berakhlakul karimah” sebagai dasar pembentukan karakter santri.

Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPRD Kabupaten Probolinggo, Mukhlis, yang turut hadir mendampingi Gus Fahmi, menyebut penghargaan ini sebagai bentuk pengakuan negara terhadap jasa besar KH Zaini Mun’im.

“Beliau bukan hanya milik Nurul Jadid, tapi milik bangsa. Keteladanannya melampaui zaman dan terus menjadi cahaya bagi dunia pesantren,” tutur Mukhlis.

Dengan penghargaan ini, nama KH Zaini Mun’im kembali teguh di hati masyarakat Indonesia sebagai simbol pengabdian, keikhlasan, dan kepemimpinan spiritual yang memberi arah bagi perjalanan santri di masa kini dan mendatang. (pm)

Bangun Semangat Pahlawan di Era Disrupsi

Oleh : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Sejarah peringatan Hari Pahlawan Indonesia yang diperingati setiap tanggal 10 November. Sebuah momentum untuk mengenang jasa mereka yang telah berkorban demi kemerdekaan. Seiring berjalannya waktu makna pahlawan telah mengalami perkembangan dan tidak lagi sebatas mereka yang telah berperang di medan tempur. Hari Pahlawan ini dapat menjadi refleksi yang perlu diemban oleh seluruh elemen masyarakat terutama bagi kalangan pemuda dalam menghadapi tatangan di era disrupsi.
Pada saat revolusi kemerdekaan Indonesia, kala itu ribuan pahlawan dari berbagai daerah di Indonesia telah berjuang dengan berani melawan penjajah. Mereka para pejuang yang gigih dan tidak kenal rasa takut dengan mempertaruhkan nyawanya untuk memerdekakan tanah air. Mereka berjuang bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan semangat dan tekad yang kuat untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah. Adapun pahlawan yang tidak dikenal namanya secara luas, tetapi memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Contohnya para pejuang pribumi yang secara diam-diam melakukan sabotase terhadap pasukan Belanda atau menyelundupkan senjata ke berbagai daerah yang belum dijajah. Mereka berjuang tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan pengakuan yang besar, tetapi keberanian dan pengorbanan mereka tidak boleh dilupakan sejarahnya.
Mungkin bagi sebagian orang Hari Pahlawan ini hanya menjadi hari libur nasional yang dimanfaatkan hanya untuk beristirahat atau bersenang-senang ( Happy Fun ). Seharusnya hal ini kita mengambil momen untuk merenung dan menghargai perjuangan para pahlawan Indonesia. Kita dapat merenungkan tentang arti sebuah kemerdekaan dan hak-hak yang harus diperjuangkan serta pentingnya semangat patriotisme dalam membangun cinta tanah air bangsa. Menghargai pahlawan bukan hanya dengan mengenang mereka pada Hari Pahlawan, tetapi menjaga dan menghormati nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Nilai-nilai seperti persatuan, gotong royong, dan keberanian harus tetap oleh generasi muda. Kalangan generasi muda inilah yang memiliki peran penting dalam meneruskan dan menghidupkan semangat kebangsaan.
Sebuah tantangan baru bagi generasi muda di era disrupsi ini menimbulkan berbagai perubahan yang terjadi secara besar-besaran sehingga berdampak besar bagi kehidupan bangsa. Pada awalnya disrupsi hanya popular di kalangan para sektor ekonom, namun semakin berkembangnya dunia digital maka merambah ke berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi dan politik. Salah satu contohnya banyak orang terjebak dalam lingkaran hoaks yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Di sinilah munculnya pahlawan digital yakni orang-orang yang gigih mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi. Mereka ini berperan aktif dalam melawan penyebaran hoaks, menjaga perdamaian dan toleransi di dunia maya, serta mengajak masyarakat untuk berpikir kritis adalah pahlawan di dunia virtual. Tindakan kecil seperti meluruskan misinformasi, mempromosikan konten edukatif, atau menegakkan nilai-nilai kebenaran di media sosial memiliki dampak besar dalam menjaga kohesi sosial dan nasionalisme.
Era disrupsi ini sejatinya generasi muda memahami dan memiliki alternatif cara mengadapi tantangan yang penuh gejolak yaitu 1) Memiliki semangat melakukan terobosan / inovasi baru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. 2) Meningkatkan semangat kualitas SDM ( Sumber Daya Manusia ) dengan cara saling berkolaborasi antar semua golongan. 3) Meningkatkan semangat asah kemampuan diri dengan cara mengikuti berbagai kelas pelatihan atau kursus sesuai bidang yang ditekuni.