Amul Huzn: Rintihan Perih Akar Rumput

Oleh : Salman Farisi

Di kalangan warga Nahdlatul Ulama, beberapa hari terakhir terasa seperti sebuah Amul Huzn—tahun kesedihan. Bukan karena kehilangan tokoh sebagaimana yang dialami Rasulullah SAW, tetapi karena menyaksikan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir peradaban pesantren: adab kepada ulama, seolah dipertontonkan sedang mengalami erosi di ruang publik.

Bagi warga akar rumput NU, peristiwa tersebut meninggalkan luka yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebab yang terlihat bukan sekadar perbedaan pendapat atau kritik terhadap organisasi. Yang terlihat adalah sebuah sikap yang dipandang tidak pantas di hadapan para ulama dan masyayikh yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk menjaga agama, pesantren, dan jam’iyah.

Dalam tradisi pesantren, seorang santri boleh berbeda pandangan. Seorang murid boleh tidak sepakat dengan gurunya. Namun adab tetap menjadi pagar yang tidak boleh dilanggar. Karena itu para ulama sering mengajarkan bahwa keberkahan ilmu lahir dari penghormatan kepada guru sebelum kecerdasan berpikir.

Inilah yang membuat banyak warga NU bersedih. Mereka menyaksikan sebuah perilaku yang terasa asing dari kultur pesantren. Sebuah ekspresi yang mungkin dianggap biasa dalam arena aktivisme atau politik, tetapi terasa janggal ketika dipertontonkan di hadapan para kiai.

Lebih jauh lagi, banyak warga kemudian menyadari bahwa sosok yang menjadi sorotan tersebut bukanlah seorang santri, bukan kiai, bukan pula gus yang tumbuh dan ditempa dalam tradisi kepesantrenan. Ia bukan lahir dari rahim pesantren yang sejak kecil mengajarkan bagaimana memuliakan guru, menjaga lisan, dan menempatkan ulama pada kedudukan yang terhormat.

Pernyataan ini bukan untuk mendiskreditkan seseorang berdasarkan latar belakangnya. Sebab kebenaran tidak hanya lahir dari pesantren. Namun fakta tersebut membantu menjelaskan mengapa banyak warga NU merasakan adanya benturan nilai yang begitu tajam. Apa yang dianggap wajar oleh sebagian kalangan, justru dipandang sebagai pelanggaran etika yang serius oleh komunitas pesantren.

Dan di sinilah letak tragedinya.

Tragedi itu bukan karena ada kritik. Tragedi itu bukan karena adanya perbedaan pandangan. Tragedi itu adalah ketika penghormatan kepada ulama yang selama ini menjadi mahkota peradaban pesantren mulai dianggap tidak penting.

Akar rumput NU sesungguhnya tidak sedang memperjuangkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka hanya ingin nilai-nilai yang diwariskan oleh para muassis tetap dijaga. Mereka ingin NU tetap menjadi rumah besar yang dibangun di atas ilmu, akhlak, tawaduk, dan penghormatan kepada ulama.

Karena bagi warga Nahdliyin, sebesar apa pun jabatan seseorang, setinggi apa pun popularitasnya, tidak ada yang lebih tinggi daripada adab di hadapan para pewaris Nabi.

Maka jika hari-hari ini banyak warga NU merasakan kesedihan, sesungguhnya itu bukan kesedihan politik. Ini adalah rintihan perih akar rumput yang merasa tradisi luhur pesantren sedang diuji di hadapan mata mereka sendiri.

Peristiwa ini juga menyisakan pelajaran yang lebih besar bagi kaum santri. Selama ini santri sering ditempatkan sebagai penjaga moral (moral guard) bangsa. Ketika terjadi penyimpangan, santri diminta mengingatkan. Ketika terjadi krisis akhlak, santri diminta menenangkan. Ketika terjadi kegaduhan sosial, santri diminta menjadi penengah.

Namun pertanyaannya, sampai kapan santri hanya menjadi penonton yang memberikan nasihat dari pinggir lapangan?

Sejarah Islam menunjukkan bahwa ulama dan santri tidak hanya berperan sebagai penjaga moral masyarakat. Mereka juga pernah menjadi pemimpin peradaban. Mereka membangun sistem pendidikan, mengatur ekonomi, memimpin pemerintahan, bahkan menentukan arah perjalanan sebuah negara.

Karena itu, Amul Huzn yang dirasakan warga NU hari ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam. Sudah saatnya kaum santri tidak hanya hadir sebagai pengkritik kekuasaan, tetapi juga sebagai pengelola kekuasaan. Tidak hanya menjadi penjaga nilai, tetapi juga menjadi penentu kebijakan. Tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pembuat sejarah.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang lahir dari rahim pesantren. Pemimpin yang memahami adab sebelum ambisi, pengabdian sebelum kekuasaan, dan kemaslahatan umat sebelum kepentingan pribadi maupun kelompok.

Sebab pesantren selama ratusan tahun telah membuktikan kemampuannya mencetak manusia yang tahan godaan materi, dekat dengan rakyat kecil, serta memiliki legitimasi moral di tengah masyarakat. Nilai-nilai inilah yang justru semakin langka dalam kehidupan berbangsa dewasa ini.

Maka tragedi yang hari ini melukai perasaan warga Nahdliyin hendaknya tidak berhenti menjadi ratapan. Ia harus menjadi energi kebangkitan. Sebuah kesadaran bahwa jika kultur pesantren ingin tetap hidup dan dihormati, maka kaum santri tidak cukup hanya menjaga negara dari luar.

Kaum santri harus mulai memimpin negara.

Bukan untuk mendirikan negara agama. Bukan untuk menguasai kelompok lain. Melainkan untuk menghadirkan tata kelola negara yang berlandaskan ilmu, akhlak, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan di pesantren.

Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini justru semakin membutuhkan pemimpin yang memiliki adab.

Dan selama pesantren masih melahirkan manusia-manusia yang menjunjung adab di atas ambisi, maka dari rahim pesantrenlah harapan itu akan terus lahir.