Islam dan Proyek Pembebasan Manusia Modern
Oleh: Taufikur Rohman
Kapitalisme modern, meski berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi, menyimpan problem kemanusiaan yang serius. Manusia direduksi menjadi objek produksi, mengalami alienasi psikologis, serta terjebak dalam ketimpangan sosial yang semakin tajam. Secara global, kapitalisme melanggengkan keterbelakangan negara-negara dunia ketiga melalui relasi produksi yang eksploitatif dan imperialistik. Ketidakadilan ini bukan persoalan budaya atau teologi, melainkan struktur ekonomi-politik yang timpang.
Ironisnya, agama yang seharusnya menjadi benteng nilai kemanusiaan justru kerap terkooptasi oleh budaya konsumerisme. Agama kehilangan daya kritis dan revolusionernya, berubah menjadi simbol ritual yang jinak dan elitis, jauh dari spirit pembebasan.
Padahal, sejarah kenabian menunjukkan bahwa agama hadir sebagai kekuatan transformasi sosial. Ibrahim membebaskan akal dari tradisi buta, Musa melawan tirani, Isa mengoreksi dominasi materialisme, dan Muhammad SAW memimpin perjuangan kaum tertindas melawan oligarki Quraisy. Risalah Islam sejak awal adalah pembongkaran terhadap sistem kepercayaan palsu dan struktur sosial yang menindas.
Misi Islam adalah pembebasan manusia dari penghambaan selain Allah, dari ketidakadilan struktural, dan dari sistem sosial yang mematikan solidaritas. Di Makkah, Islam hadir sebagai gerakan liberasi; di Madinah, Islam menjelma menjadi proyek pembangunan sosial-politik yang inklusif melalui Piagam Madinah sebuah kontrak sosial egaliter yang melampaui sekat agama dan etnis.
Model Makkah-Madinah inilah yang menegaskan Islam sebagai ideologi perubahan, bukan sekadar doktrin spiritual. Perubahan sosial mensyaratkan kesadaran kolektif bahwa realitas yang menindas adalah hasil konstruksi sejarah, dan karena itu dapat diubah.
Dalam konteks modern, ketika agama kehilangan daya emansipatorisnya, diperlukan ijtihad sosial: perpaduan antara iman dan analisis struktural. Agama memberi energi moral dan ideologis, sementara analisis sosial memetakan arah perjuangan. Islam harus hadir sebagai kritik ideologi dominan dan berpihak pada mereka yang dimarginalkan.
Di sinilah pentingnya Paradigma Kepemimpinan Transformatif Islam. Kepemimpinan Islam bukan sekadar otoritas formal, melainkan praksis profetik yang berpijak pada nilai:
- Tauhid Emansipatoris – kepemimpinan yang membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan struktural.
- Keadilan Sosial (‘adl) – keberpihakan nyata kepada kaum lemah dan tertindas.
- Amar Ma’ruf Nahi Munkar Transformatif – bukan moral individual semata, tetapi koreksi terhadap sistem yang zalim.
- Partisipasi dan Musyawarah (syura) – kepemimpinan yang membangun kesadaran kolektif, bukan memonopoli kebenaran.
- Keteladanan Profetik – integrasi iman, etika, dan aksi sosial.
Kepemimpinan transformatif Islam bertujuan membangun kesadaran kritis-transformis, mendorong umat keluar dari keberagamaan verbal menuju keberagamaan praksis. Iman yang sejati terwujud dalam keberpihakan pada keadilan dan perjuangan membela yang tertindas.
Islam tidak membenarkan sikap pasif di tengah dehumanisasi. Cita-cita Islam adalah terwujudnya ummah wahidah, ummah wasathan, dan khairu ummah masyarakat yang adil, moderat, dan unggul secara moral serta sosial.
Sebagaimana ditegaskan Moeslim Abdurrahman, Islam sejati bukan berhenti pada formulasi teologis, tetapi hidup dalam pergulatan konkret menegakkan keadilan. Islam adalah gagasan sejarah yang bergerak, ideologi pembebasan yang menuntut kepemimpinan transformatif kepemimpinan yang menjadikan iman sebagai energi perubahan sosial, bukan sekadar simbol ritual.