Perkuat Sinergi, FKUB Kota Probolinggo Gelar Rakor dan Halal Bihalal Bersama Dewan Penasihat dan Forkopimda

Probolinggo, berdampak.net — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menggelar kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) dan Halal Bihalal bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Dewan Penasehat, serta Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo. Kegiatan ini berlangsung di Bromo View Hotel dengan mengusung tema “Merawat Indonesia dari Daerah: Sinergi untuk Kerukunan dan Persatuan.”
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi pasca Hari Raya Idul Fitri sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menjaga kerukunan umat beragama di Kota Probolinggo.
Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.Og. (K)., M.Kes, dalam sambutannya menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas sosial dan pembangunan daerah.
“Kekuatan bangsa ini berawal dari daerah. Jika kerukunan terjaga di tingkat lokal, maka persatuan nasional akan semakin kokoh. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, Forkopimda, dan FKUB menjadi kunci dalam merawat harmoni di tengah keberagaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wali Kota juga mengapresiasi peran aktif FKUB Kota Probolinggo yang selama ini telah menjadi garda terdepan dalam membangun dialog lintas agama serta menjaga kondusivitas wilayah.
Semebtara itu Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP. menyampaikan dalam sambutan sebelum sambutan Walikota bahwa Rakor ini membahas berbagai isu strategis terkait penguatan moderasi beragama, deteksi dini potensi konflik sosial, serta optimalisasi peran tokoh agama dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya toleransi dan kebersamaan.
Selain itu, kegiatan Halal Bihalal yang dirangkaikan dalam acara ini menjadi sarana mempererat ukhuwah dan memperkuat hubungan emosional antar pemangku kepentingan, sehingga tercipta suasana yang harmonis dan penuh kekeluargaan.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk terus menjaga Kota Probolinggo sebagai kota yang aman, damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan”, cetus Hudri.

Dalam kesempatan ini FKUB juga menjaring masukan dari Dewan Penasihat terkait dengan peningkatan kapasitas dan kualitas kinerja kelembagaan FKUB yang akan tertuang dalam program kerja dan akan dibahas lebih lanjut di rapat kerja kedua FKUB pada tahun 2026 ini.

Harmoni dalam Keberagaman : Warga Graha Pelita Regency Bondowoso Gelar Halal Bihalal Lintas Iman

Bondowoso, Berdampak.net – Warga Perumahan Graha Pelita Regency, Kampung Kopi – Tamansari – Bondowoso, menggelar kegiatan Halal Bihalal lintas iman pada Jumat (10/4/2026) petang, bertempat di Masjid An-Nur.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan sosial antarwarga yang berasal dari latar belakang agama yang beragam.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh masyarakat perumahan tanpa memandang perbedaan keyakinan. Mereka berkumpul dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, saling bersalaman serta bermaafan sebagai bagian dari tradisi Halal Bihalal yang sarat makna.

Halal Bihalal lintas iman ini merupakan upaya nyata dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan di lingkungan tempat tinggal. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog sosial yang memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan.

“Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Justru dari keberagaman inilah kita belajar saling menghargai dan hidup berdampingan secara damai,” ujar Ketua RT yang turut hadir.

Selain ramah tamah, kegiatan juga diisi dengan tausiyah singkat yang disampaikan oleh ustadz Wasit selaku Dewan Pembina ALIFYA, beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan, saling menghormati, serta menumbuhkan kepedulian sosial antarwarga.

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, berharap tradisi Halal Bihalal lintas iman dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, nilai-nilai harmoni dan persaudaraan dapat terus tumbuh di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. (sa)

Rezeki: Antara Ikhtiar, Kegagalan, dan Rencana Besar Tuhan

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Sering kali kita memahami rezeki sebatas uang, pekerjaan, atau penghasilan. Padahal, kalau mau sedikit jujur dan lebih luas melihat, rezeki itu tidak sesempit itu.

Nafas yang masih teratur, tubuh yang sehat, hati yang tenang, bahkan kesempatan untuk bangkit setelah jatuh—itu semua juga rezeki.

Dalam bahasa sederhana, rezeki adalah segala sesuatu yang membuat hidup kita tetap berjalan dan bermakna. Ada yang terlihat—seperti makanan, tempat tinggal, dan penghasilan. Ada juga yang tidak terlihat—seperti ketenangan batin, kebahagiaan, dan rasa cukup. Keduanya sama pentingnya.

Menariknya, dalam ajaran Islam, rezeki telah dijamin. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an: QS. Hūd [11]: 6 “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

Namun, jaminan tersebut tidak boleh dipahami secara keliru. Kepastian rezeki bukan alasan untuk berdiam diri tanpa usaha, melainkan penegasan bahwa setiap makhluk memiliki bagian yang harus dijemput melalui ikhtiar.

Justru, manusia diperintahkan untuk bergerak, berusaha, dan bekerja. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an: QS. Al-‘Ankabūt [29]: 17 “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”

Dalam konteks ini pemikiran Ibnu Khaldun menjadi sangat menarik. Ia melihat rezeki bukan sekadar “apa yang kita miliki”, tetapi “apa yang benar-benar kita manfaatkan”. Uang yang hanya disimpan tanpa memberi nilai bagi kehidupan, menurutnya, belum sepenuhnya bisa disebut rezeki.

Lebih jauh lagi, Ibnu Khaldun mengaitkan rezeki dengan kerja, produksi, dan pengelolaan sumber daya. Ketika manusia bekerja, mengolah, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, di situlah rezeki bergerak. Bahkan sisa dari hasil itu bisa menjadi modal untuk berkembang lebih besar di masa depan.

Lalu bagaimana dengan kegagalan?

Di sinilah sering kali kita keliru. Kita menganggap gagal sebagai akhir, padahal bisa jadi itu hanya jeda. Bahkan dalam Al-Qur’an: QS. Yusuf [12]: 87 manusia diingatkan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Kegagalan, kalau dilihat dengan kacamata yang lebih jernih, sering kali adalah bagian dari desain besar yang tidak kita pahami. Kita punya rencana, tapi Tuhan punya skenario.

Contoh sederhana—dan dekat dengan kehidupan kita—adalah kisah Brian Acton. Ia pernah ditolak bekerja di Facebook. Kalau saat itu ia diterima, mungkin dunia tidak akan pernah mengenal WhatsApp seperti sekarang.

Ironisnya, justru Facebook yang dulu menolaknya, akhirnya membeli WhatsApp dengan nilai fantastis. Dari kegagalan, lahir peluang yang jauh lebih besar.

Dari sini kita belajar satu hal penting: gagal bukan berarti tidak dapat rezeki. Bisa jadi, kita sedang diarahkan menuju bentuk rezeki yang lebih tepat.

Akhirnya, hidup ini bukan soal cepat atau lambat mendapatkan hasil. Tapi soal bagaimana kita terus berusaha, menjaga niat, dan tetap percaya bahwa setiap proses—termasuk yang pahit—ada dalam rencana-Nya.

Rezeki itu pasti datang. Tugas kita hanya dua: menjemputnya dengan usaha, dan memanfaatkannya dengan bijak. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk mencari rezeki yang halal, baik, dan membawa keberkahan.

Waktu Subuh/Pagi Hari dan Keutamaan Bersedekah di Dalamnya (?)

Oleh: USTADZ MOHAMAD KHOIRUL ADHIM, S.H.I
Ketua Umum MUI Kecamatan Wonoasih – Kota Probolinggo

Akhir-akhir ini lagi populer istilah Sedekah Subuh. Sampai-sampai ini dijadikan sebagai sebuah gerakan yang dikampanyekan secara masif di berbagai kesempatan.

Sebagaimana namanya, ini adalah sebuah gerakan yang menganjurkan kita berinfaq di waktu subuh/pagi hari. Jadi penekanannya ada pada waktu pelaksanaannya, yakni subuh/pagi hari.

Menurut informasinya, sedekah di waktu subuh/pagi hari ini memiliki keutamaan tersendiri. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis muttafaq ‘alaih (riwayat Imam Bukhari dan Muslim Ra.) sebagai berikut:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ اِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ اَحَدُهُمَا اَللّٰهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ الْاٰخَرُ اَللّٰهُمَّ اَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada satu pagi hari pun bagi seorang hamba kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) kepada orang yang bersedekah. Sedangkan malaikat satunya lagi berdoa, ya Allah berilah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya (tidak mau berinfaq)” (H.R. Imam al-Bukhariy {1442} dan Muslim {1010} dari sahabat Abu Hurairah Ra.)

Namun disini ada kejanggalan mengenai adanya keutamaan bersedekah di waktu subuh/pagi hari ini. Benarkah sedekah di waktu ini memiliki keutamaan tersendiri di samping keutamaan sedekah di waktu-waktu lainnya. Jika memang benar begitu, apakah hal itu tepat jika berpijak pada hadis shahih di atas.

Berlandaskan penelusuran beberapa hadis tentang keutamaan bersedekah, khususnya keutamaan yang berkenaan dengan waktu pelaksanaannya, diperoleh beberapa hadis. Tetapi sepanjang penelusuran itu tidak ditemukan satupun hadis yang menjelaskan waktu subuh/pagi hari sebagai salah satu waktu utama untuk bersedekah.

Sekedar contoh hadis yang mengungkapkan waktu-waktu utama bersedekah terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy (2748) dan Muslim (1032) dari sahabat Abu Hurairah Ra. Dalam hadis ini diceritakan bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah Saw. dan bertanya tentang shadaqah yang paling utama/paling besar pahalanya. Lalu beliau menjawab, shadaqah yang dilakukan pada waktu masih sehat, saat masih punya banyak keinginan/kebutuhan, saat sangat berharap menjadi kaya dan saat takut jatuh miskin.

Lalu bagaimana dengan hadis yang pertama tadi? Tidakkah itu cukup sebagai landasan hukum keutamaan sedekah di waktu subuh/pagi hari?

Secara redaksional, makna, dan konteksnya, hadis itu tidak tepat dijadikan sebagai dasar hukum. Mengapa?

Perlu dipahami bahwa hadis tersebut menjelaskan tentang doa yang dipanjatkan dua malaikat di waktu pagi untuk orang yang bersedekah dan yang tidak mau bersedekah. Maksudnya, waktu pagi itu adalah saat dimana dua malaikat tadi memanjatkan doanya, bukan waktu yang secara khusus dianjurkan untuk bersedekah di dalamnya. Itu artinya, mau bersedekah kapan saja, baik pagi, siang, sore, maupun malam tetap mendapatkan barokah dari doa malaikat tadi. Begitu pula bagi yang tidak mau bersedekah akan mendapatkan akibat buruk dari doa malaikat tersebut.

Karena itu, sedekah yang mendatangkan keistimewaan doa malaikat tadi tidak ditentukan hanya dilakukan di saat subuh/pagi hari saja. Waktu subuh/pagi hari tidak memiliki keistimewaan tertentu untuk bersedekah. Bagi anda yang baru sempat bersedekah di waktu siang, sore, atau malam tidak perlu berkecil hati. Anda tetap akan mendapatkan keutamaan doa malaikat tadi.

Di samping itu, anda juga akan mendapatkan tambahan keutamaan ketika bersedekah dalam kondisi sebagaimana digambarkan di hadis kedua tadi. Begitu juga ada tambahan keutamaan saat anda bersedekah di bulan Ramadhan, di hari Jumat, dan waktu-waktu lain sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. dalam hadis-hadis beliau.

Wallaahu a’lam bis-shawaab

Industri Alas Kaki Indonesia Kian Kokoh, Indonesia Footwear Summit 2026 Dorong Peluang Ekspor dan Investasi

Jakarta, Berdampak.net — Industri alas kaki Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan dan semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Untuk memperkuat momentum ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah Indonesia Footwear Summit 2026 yang digelar pada 13–15 April 2026 di DoubleTree by Hilton Kemayoran, Jakarta — forum internasional pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia hasil kolaborasi ECV International dengan APRISINDO.

Summit ini menghadirkan perwakilan merek global, produsen, pemasok bahan baku dan teknologi, asosiasi industri, konsultan, investor, serta pelaku rantai pasok internasional. Kehadiran kementerian terkait, termasuk perwakilan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, memperkuat fokus forum pada fasilitasi investasi dan pengembangan industri berkelanjutan.

Ketua Umum APRISINDO, Anton J. Supit, menyatakan bahwa nilai ekspor alas kaki Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$7,98 miliar—naik 9,54% dibanding 2024—dan total volume ekspor mencapai sekitar 601 juta pasang, menempatkan Indonesia sebagai eksportir alas kaki terbesar ketiga dunia. Pasar utama masih Amerika Serikat (sekitar 30%), diikuti Uni Eropa dan China.

Ketua Dewan Pembina APRISINDO, Eddy Widjanarko, menilai summit ini strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi dan sourcing global, memanfaatkan tren relokasi rantai pasok dan minat investasi dari merek internasional. Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan industri ke PT Aggiomultimex International Group untuk menunjukkan kapasitas produksi dan peluang kemitraan.

Dengan forum ini, diharapkan kolaborasi global, investasi, dan akses pasar ekspor bagi produk alas kaki Indonesia akan semakin meningkat, mendorong transformasi industri menuju inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan. (rh)

Peletakan Batu Pertama Pabrik Melamine Terbesar di Indonesia Dimulai

Gresik, Berdampak.net – Peletakan batu pertama pembangunan pabrik melamine terbesar di Indonesia resmi digelar pagi ini di kawasan industri JIIPE, Gresik. Proyek ini merupakan kerja sama empat perusahaan raksasa dari Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan China, dengan investasi awal lebih dari Rp 10 triliun dan kapasitas produksi diperkirakan menjadi salah satu terbesar di dunia.

Groundbreaking dilakukan secara simbolis oleh Menko Perekonomian, didampingi perwakilan Kementerian Investasi, Duta Besar China, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Gresik, dan pimpinan kawasan JIIPE serta hadir ketua DPP Apindo Jawa Timur. Pemerintah dan mitra proyek menegaskan komitmen percepatan perizinan, transfer teknologi, serta penciptaan lapangan kerja lokal.

Manajemen proyek menyatakan investasi akan digunakan untuk pembangunan fasilitas produksi, pengelolaan lingkungan, dan R&D. Pabrik diharapkan memperkuat rantai nilai industri kimia nasional dan mendorong ekspor. (rh)