Kecerdasan Nabi Yusuf AS. Manajer Logistik dan Pemimpin yang Berempati

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Kebanyakan dari kita saat mendengar kisah Nabi Yusuf A.S hanya pada cerita Nabi yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudara (tiri)-nya, Ketampanan Nabi Yusuf yang mempesona banyak wanita terutama Siti Zulaikha dan Nabi Yusuf yang ahli di dalam menafsirkan mimpi.Tapi ada kisah perjalanan Nabi Yusuf A.S yang menarik namun luput di dalam perhatian kita semua. Terutama kisah bagaimana nabi Yusuf A.S dapat mengelola dan memanajemen Pangan di dalam Negara saat itu di zaman Kerajaan Mesir. Semuanya berawal dari mimpi unik seorang penguasa Mesir.Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi sang Penguasa. Namun salah seorang Pelayan sang Penguasa ingat bahwa dia mengenal Nabi Yusuf A.S yang mampu menafsirkan mimpi saat mereka masih bersama di dalam penjara. Setelah pelayanan itu memberitahukan perihal kemampuan Nabi Yusuf A.S ke Sang Penguasa, maka penguasa tersebut langsung memerintahkan agar Nabi Yusuf A.S dikeluarkan dari penjara agar menemui dan menafsirkan mimpinya.Mesir di era tersebut merupakan masyarakat yang maju di dalam Pearadaban dan Ilmu pengetahuan.. Ilmu Kimia, biolagi, biokimia dan arsitektur sangat berkembang saat itu. Kemampuan ilmu pengetahuan tersebut dikembangkan untuk Teknik Pertanian dan Pengawetan makanan.

Dengan modal perberdayaan masyarakat dengan peradaban yang tinggi tersebut, Nabi Yusuf A.S tidak banyak menemui masalah di dalam teknik dan manajemen pengelolaan Pangan saat pasca panen. Teknik pengawetan makanan, system sirkulasi pangan, Bangunan penyimpanan pangan yang sesuai standar, serta yang terpenting adalah peraturan dan pegaturan mengenai gaya hidup dan kosumsi masyarakat juga diperhatikan.Dalam upayanya menghidupkan produktivitas lahan untuk pertanian mengingatkan pada Kisah Nabi Yusuf atau Joseph di masa silam. Hal ini terjadi berkat manajemen atau pengaturan air pada masa beliau.

Air diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan lahan gurun menjadi sangat subur, seperti yang kemudian dikenal sebagai Kota Al-Fayyūm, yang menjadi sentra pertanian.

Al-Fayyūm merupakan daerah di hulu Mesir, yang terletak di depresi besar Gurun Barat di barat daya Kairo.

Air dari Sungai Nil disalurkan ke dalam Danau Qarun (jarak Sungai Nil dengan Danau Qorun sekitar 100 km) melalui Kanal Yusuf (Joseph Canal’s) mengikuti saluran kuno ke Fayyūm yang bercabang-cabang untuk menyediakan air irigasi.

Nabi Yusuf juga membangun kincir air untuk menaikkan air dari danau ke lahan Al-Fayyūm yang posisinya lebih tinggi di hulu Mesir.

Singkatnya, manajemen air melalui teknologi kincir air pada masa tersebut menjadi kunci guna menghidupkan lahan agar berproduksi sepanjang tahun.

Berkat air, selama tujuh tahun Yusuf memanen gandum dan menyimpannya untuk persediaan tujuh tahun paceklik berikutnya.

Dengan cara itu Yusuf membawa Bangsa Mesir selamat dari bencana kekeringan, kelaparan, dan kekacauan akibat krisis pangan.

Strategi Efisiensi

Apabila diamati dari literatur sejarah, maka secara garis besar terdapat strategi kunci dan efisiensi Nabi Yusuf dalam mengatasi kekeringan yang diprediksi bakal melanda.

Pertama , perencanaan selama tahun-tahun kelimpahan. Ketika Nabi Yusuf memahami mimpi tentang tujuh tahun kelimpahan diikuti oleh tujuh tahun kelaparan, beliau segera menyadari pentingnya merencanakan masa depan.

Ia menyarankan kepada Raja Mesir, kala itu, untuk menyimpan sebagian besar hasil pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Nabi Yusuf mengoptimalkan tujuh tahun kelimpahan dengan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun. Ia membangun kincir angin dan kanal-kanal untuk mengambil air dari sumbernya, lalu mengalirkannya ke lahan-lahan subur.

Kedua , penyimpanan makanan. Nabi Yusuf mengatur penyimpanan makanan secara besar-besaran selama tahun-tahun kelimpahan.

Ia membangun gudang-gudang besar alias lumbung pangan di seluruh Mesir untuk menyimpan gandum dan sumber daya pangan lainnya.

Ini memungkinkan Mesir untuk memiliki persediaan makanan yang cukup selama masa kelaparan.

Ketiga , distribusi selama masa kelaparan. Ketika masa kelaparan tiba, Nabi Yusuf bertanggung jawab mendistribusikan sumber daya pangan yang disimpan dengan adil kepada masyarakat Mesir.

Ia melakukan ini dengan bijaksana, memastikan bahwa makanan didistribusikan secara merata dan tidak ada yang kelaparan.

Keempat , kebijaksanaan dalam pengelolaan. Nabi Yusuf menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya.

Nabi Yusuf telah mengatur sistem pengaturan harga atau alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

Ini membantu mencegah penimbunan atau penyalahgunaan sumber daya oleh pihak tertentu.

Kelima , pengawasan dan pengelolaan pertanian. Nabi Yusuf juga telah memimpin upaya untuk mengoptimalkan produksi pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Ini bisa termasuk teknik irigasi yang lebih efisien atau strategi pertanian lainnya untuk meningkatkan hasil tanaman.

Selain itu, selama masa kelaparan, beliau mungkin telah memberikan nasihat kepada petani tentang cara mengelola sumber daya air yang terbatas.

Dengan mengelola pertanian dan persediaan pangan dengan bijaksana selama tahun-tahun kelimpahan dan kelaparan, Nabi Yusuf berhasil mengatasi kekeringan dengan mengurangi dampaknya pada masyarakat Mesir dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup untuk semua orang. Kitab suci Al-Qur’an tidak hanya kitab petunjuk spiritual , melainkan juga kitab ekologi , yang memuat strategi keberlanjutan hidup manusia dalam harmoni dengan alam. Salah satu babak penting dalam narasi ekologi transenden kitab suci Al-Qur’an adalah kisah Nabi Yusuf a.s., terutama dalam Surat Yusuf ayat 47, yang menggambarkan strategi mengatasi krisis pangan dan multikrisis lainnya secara lestari dan visioner .

Surat Yusuf Ayat 47

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّم فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

“Yusuf berkata, ‘Kalian bertani selama tujuh tahun seperti biasa. Maka apa yang kalian panen, biarkanlah dalam bulir-bulirnya, kecuali sedikit untuk kalian makan.’”

Ayat ini merupakan argumentasi filosofis dan praktis bagi konsep ekologi transenden, yakni pendekatan ekologis yang mengakar pada ajaran kesadaran spiritual manusia sempurna, Nabi Yusuf as. Memproduksi yang Lestari, tidak untuk di eksploitasi

Yang disampaikan Nabi Yusuf adalah perintah untuk bertani selama tujuh tahun secara konsisten. Ini bukan sekadar strategi pertanian, tetapi sebuah nasihat ekologis. Bertani dalam konteks ekologi transenden berarti melestarikan siklus hayati: menjaga tanah, air, dan benih agar tetap produktif dan berkesinambungan.

Produk hayati adalah produk yang dapat diperbarui secara alamiah. Ia tumbuh melalui waktu, mengalami regenerasi, dan menjawab kebutuhan hidup tanpa menghabiskan sumber daya bumi secara fatal. Inilah prinsip dasar dari keberlanjutan. Dalam konteks modern, ini berarti produksi harus berbasis pada pendekatan hayati ( bio-based ), bukan ekstraktif. Nabi Yusuf tidak menyuruh menambang, menggunduli, atau mengeksploitasi; beliau menyuruh untuk membudidayakan. Dengan kata lain, Nabi Yusuf menyuruh kita untuk melakukan produksi tentang apa saja yang lestari atau berkelanjutan.

Paham dengan Siklus Hidupnya Spesies

Kemudian yang diajarkan Nabi Yusuf adalah agar hasil panen disimpan dalam bulirnya. Di balik perintah ini terdapat kecerdasan ekologis tingkat tinggi. Menyimpan gandum dalam bulirnya adalah bentuk penghormatan terhadap siklus hidup spesies tanaman. Ia tidak dirusak bentuknya, tidak dipecah struktur biologisnya, agar tetap hidup, stabil, dan dapat dikembangkan kembali ketika dibutuhkan.

Secara ekologis, ini adalah pesan bahwa manusia sebagai produsen harus memahami siklus hidup dari setiap organisme yang dimanfaatkan. Tanpa pemahaman ini, manusia akan menjadi perusak. Dengan pemahaman ini, manusia menjadi penjaga. Maka, ekologi transenden mengajarkan bahwa produksi harus dibarengi dengan perlindungan terhadap sifat hidup suatu spesies.

Mengkonsumsi Secukupnya, Menyimpan Lebih Banyak

Nabi Yusuf AS menyarankan kita agar yang dikonsumsi hanya sedikit, sisanya disimpan. Ini bukan hanya strategi menghadapi musim paceklik, melainkan etika pemanfaatan sumber daya. Dalam kerangka ekologi transenden, ini adalah perintah untuk tidak serakah. Kita hanya boleh mengambil dari alam seperlunya, sementara sisanya disimpan, dijaga, dan diperkaya agar berguna di masa depan.

Menkonsumsi secukupnya, tetapi berikan nilai tambah pada hasil hayati itu dengan teknologi. Inilah yang kini disebut sebagai enrichment meningkatkan kualitas gizi dan daya guna produk tanpa perlu memperbesar volume ekstraksi dari alam. Dalam konteks ini, sedikit dari alam, tetapi banyak untuk manusia, menjadi prinsip emas. Itulah sebabnya Nabi Yusuf tidak menganjurkan eksploitasi berlebih, tetapi pengolahan cerdas atas apa yang sudah ada.

Melampaui proyeksi ekonomi, Menuju Etika keseimbangan

Yang diajarkan Nabi Yusuf bukan sekadar ekonomi pangan biasa, tetapi etika ekologis yang melampaui dimensi fisik transenden. Karena bencana ekologis terbesar di dunia hari ini bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan keserakahan dalam mengonsumsinya. Setiap banjir, krisis iklim, degradasi hutan, dan krisis air, berpangkal pada kegagalan manusia membatasi diri dan menghormati keseimbangan ekosistem.

Ekologi transenden tidak bisa hanya mengandalkan data dan kebijakan. Ia membutuhkan kesadaran transenden bahwa semua makhluk hidup tumbuhan, hewan, manusia adalah ciptaan Allah yang harus dihargai bukan hanya karena manfaatnya, tapi juga karena keberadaannya. Dan Nabi Yusuf adalah teladan bagaimana strategi pangan berbasis spiritualitas ini mampu menyelamatkan sebuah bangsa dan negara dari kehancuran.

Tanggung Jawab Moral dan Hikmah ekologi transenden

Apa yang diajarkan Nabi Yusuf lebih dari cukup menjadi landasan bagi dunia modern yang sedang menghadapi krisis multidimensi—pangan, iklim, energi, dan moralitas. Jika dunia ingin selamat, maka arahkan kembali strategi pembangunan ke basis ekologi transenden: produksi hayati yang lestari, pemahaman atas siklus hidup, pengolahan yang cerdas, konsumsi yang bijak, dan penghindaran mutlak dari kerakusan. Tidak ada ajaran agama untuk mengandalkan pembangunan ekonomi pada hutang dan tidak ada ajaran untuk mengatasi kelangkaan dengan impor, tetapi dengan manajemen stok.

Keteladanan dari Nabi Yusuf lainnya sebagai ciri pemimpin yang baik di antaranya tata kelola yang baik (good governance), berilmu, bersimpati dan berintegritas. Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a’lam Bissowab

FEB UNJ Gelar Pelatihan Kewirausahaan Internasional Bagi Pekerja Migran Indonesia di Taiwan

Taiwan, berdampak.net — Dalam rangka memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat lintas negara, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Internasional di Taiwan. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan bertema “Merintis Masa Depan Sejahtera Melalui Keterampilan Kewirausahaan bagi Pekerja Migran Taiwan.” Rabu (06/08/2025).

Acara yang diselenggarakan secara kolaboratif ini diikuti oleh 59 peserta secara online via Line dan Zoom, diikuti oleh komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Kegiatan terlaksana atas dukungan IMIT (Ikatan Muslim Indonesia Taiwan) serta beberapa organisasi pekerja seperti Serikat Pekerja Migran Indonesia & FKKBWIT yang berkomitmen pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan anggotanya.

Pelatihan ini menghadirkan fasilitator Arif Firmansyah, Ph,D, dosen FEB Universitas Airlangga (UNAIR), yang memandu jalannya pelatihan dengan pendekatan partisipatif.

Kegiatan dibagi dalam dua sesi utama dengan pembicara dari FEB UNJ. Sesi 1: Andi Muhammad Sadat, SE., M.SM., Ph.D Kepala Program Studi Pemasaran Digital FEB UNJ, yang membawakan materi terkait Cara Membuat Perencanaan Usaha di Era Digital. Sedangkan Sesi 2: Sheyla S. Siregar, S.S., M.Si., dengan topik Strategi Memanfaatkan teknologi Digital Untuk Usaha.

Dalam paparannya, Dr. Andi Muhammad Sadat menekankan pentingnya membangun pola pikir kreatif dan berani mengambil risiko terukur sebagai fondasi utama dalam memulai usaha. Ia juga menggarisbawahi potensi bisnis digital yang bisa diakses oleh PMI bahkan saat masih berada di luar negeri. “Wirausaha bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga sarana membangun kemandirian dan masa depan yang berkelanjutan. Dengan kemajuan teknologi, pekerja migran punya peluang besar untuk mulai merintis usaha sejak dini,” ungkap Dr. Andi Sadat.

Sementara itu, Sheyla Siregar membekali peserta dengan keterampilan praktis dalam merancang strategi pemasaran melalui media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business, agar usaha yang baru dirintis dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelatihan ini juga menjadi ruang kolaborasi yang erat antara akademisi dan komunitas migran. IMIT dan Serikat Pekerja Migran di Taiwan menyampaikan apresiasi atas inisiatif dari FEB UNJ dan berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini sendiri merupakan komitmen FEB UNJ untuk membangun jejaring pengabdian masyarakat internasional yang memberdayakan diaspora Indonesia dengan pendekatan akademik dan praktis. Pelatihan ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi lahirnya wirausaha-wirausaha tangguh dari kalangan pekerja migran Indonesia di Taiwan. (fj)

Pemdes Randutatah Paiton &  PT POMI Gelar Festival Rangkarang

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke 80 Republik Indonesia, dan selamatan Desa Randutatah, Pemerintah Desa Randutatah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo bersama PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI) menyelenggarakan Festival Budaya Rangkarang (mencari kerang). Kamis (07/08/2025).

Kepala Desa Randutatah, Suham menyampaikan, Festival Rangkarang ini bentuk melestarikan warisan budaya agar tidak punah.

“Jadi warga pesisir Randutatah setiap sore hari saat air pantai mulai surut, mulai dari dulu selalu ke pantai untuk mencari kerang untuk dikonsumsi bersama keluarga ataupun dijual kembali,” jelasnya.

Dalam festival tersebut, semua warga Randutatah mulai mencari kerang dengan durasi waktu selama satu jam, kemudian hasil dari kerangnya akan ditimbang oleh panitia dan ditukarkan dengan kupon undian.

“Hadiahnya kami siapkan sepeda listrik, kulkas, mensin cuci serta alat elektronik untuk memasak, itu semua merupakan persembahan dari PT. POMI Paiton, yang selalu mendukung setiap kegiatan yang kita lakukan di Desa Randutatah,” ungkapnya.

Sementara itu, Human Capital and Community (HCFC) Manager PT POMI, Rochman Hidayat, menyampaikan ini merupakan langkah awal untuk terus melesatarikan budaya rangkarang di Desa Randutatah.

“Kami akan terus mendukung program dari Pemerintah Desa Randutatah, mulai dari eko wisata hingga pelestarian budaya,” jelasnya.

Kedepan harapannya festival serupa bisa terus dilaksanakan dalam skup yang lebih besar. “Untuk tahun ini hanya skala warga Desa Randutatah saja, mungkin di tahun depan bisa skala Kabupaten, dan di adakan di Desa Randutatah,” ungkapnya. (fiq)

Gubernur Khofifah Tinjau Lokasi Bakti Kesehatan dan Sosial di Randutatah Probolinggo

Probolinggo, berdampak.net – Gubernur Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris, Panglima Komando Armada II (Pangkoarmada II) Laksamana Muda TNI I G. P. Alit Jaya dan Danlantamal V Laksamana Pertama TNI Arya Delano melakukan peletakan keramik pertama renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Dusun Gilin RT 6/RW 2 Desa Randutatah Kecamatan Paiton, Senin (4/8/2025).

Usai melakukan peletakan keramik pertama renovasi Rutilahu, Gubernur Khofifah, Bupati Haris, Pangkoarmada II dan Danlantamal V melakukan peninjauan ke lokasi bhakti kesehatan dan bhakti sosial.

Turut mendampingi Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif, sejumlah anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto, sejumlah Kepala OPD terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo dan Forkopimka Paiton.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah dan Bupati Haris menyapa masyarakat yang sedang menikmati pelayanan kesehatan yang dilayani oleh 56 tenaga kesehatan (nakes). Mereka diberi promosi kesehatan dan edukasi untuk penyakit kusta. 

Bhakti kesehatan ini memberikan pelayanan pengukuran berat badan, pengukuran tinggi badan, pemeriksaan tensi, pemeriksaan gula darah, pemeriksaan kolesterol, pemeriksaan asam urat, pemeriksaan gigi serta pemeriksaan mata dan pemberian kaca mata baca.

Kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan 250 paket sembako dalam kegiatan bhakti sosial. Dimana secara simbolis diserahkan oleh Gubernur Khofifah, Bupati Haris, Pangkoarmada II dan Danlantamal V Surabaya.

Gubernur Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen kuat pemerintah dan TNI AL dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). 

“Tahun ini ada 300 rumah yang akan direnovasi. Rinciannya, 100 rumah di Kabupaten Probolinggo, 100 rumah di Kota Probolinggo, 70 rumah di Kabupaten Pasuruan dan 30 rumah di Kabupaten Magetan,” ujarnya.

Khofifah menyampaikan terima kasih kepada Lantamal V Surabaya yang telah berkomitmen membangun rumah layak huni sejak 10 tahun lalu. “Harapannya, kualitas hidup masyarakat akan makin membaik dan pengentasan kemiskinan bisa lebih signifikan,” tambahnya.

Dalam momen kemerdekaan RI ini, Khofifah mengajak seluruh masyarakat Jawa Timur mengibarkan bendera Merah Putih sepanjang Agustus. “Kami keluarkan surat edaran untuk mengibarkan Merah Putih sebanyak-banyaknya, baik di rumah, kendaraan maupun fasilitas publik,” terangnya.

Sementara Danlantamal V Surabaya Laksamana Pertama TNI Arya Delano menegaskan program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) merupakan bentuk kepedulian nyata TNI AL terhadap masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.

“Hari ini merupakan hari yang sangat luar biasa karena Ibu Gubernur Jawa Timur bersama Bupati Probolinggo melaksanakan kerja sama dengan Lantamal V untuk renovasi rumah tidak layak huni,” ungkapnya.

Menurut Arya Delano, Lantamal V mendapat tugas untuk merenovasi 300 rumah di tahun 2025 dengan rincian 100 rumah di Kabupaten Probolinggo, 100 rumah di Kota Probolinggo, 70 rumah di Kabupaten Pasuruan dan 30 rumah di Kabupaten Magetan. “Kami mentargetkan waktu pelaksanaan sekitar 90 hari. Tentunya kami bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk pendataan dan verifikasi fisik di lapangan,” jelasnya.

Arya berharap ke depan peran TNI AL dalam membantu masyarakat semakin luas. “Kami mohon doa agar TNI AL terus bisa aktif membantu kesulitan masyarakat, terutama di wilayah pesisir,” tegasnya.

Sedangkan Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menyampaikan apresiasi atas dimulainya renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di wilayah Kabupaten Probolinggo. Program ini merupakan sinergi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Lantamal V Surabaya dalam rangka Bhakti TNI AL 2025.

“Kami pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur, Pangkoarmada dan Lantamal. Kehadiran TNI Angkatan Laut di sini merupakan bentuk gotong royong antara negara dan masyarakat,” katanya.

Menurut Bupati Haris, program renovasi Rutilahu tidak sekedar pembangunan fisik, melainkan juga membangun harapan baru bagi warga. “Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga kepedulian negara terhadap kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya adalah rumah atau permukiman,” tambahnya.

Bupati Haris berharap program ini bisa terus berlanjut dan sejalan dengan target pemerintah pusat yang ingin membangun tiga juta rumah dalam lima tahun ke depan. “Mudah-mudahan ke depan agar perhatian pemerintah tidak berhenti di bidang perumahan saja. Semoga berkembang ke sektor kesehatan, ekonomi dan kesejahteraan nelayan di daerah pesisir,” pungkasnya.  (fiq)

Massif Protes di Harbour Bridge: WNI Bergabung dalam “March for Humanity” di Sydney

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

 Minggu, 3 Agustus 2025 pendukung Palestina, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI) di Australia, berpartisipasi dalam aksi long march damai di atas Sydney Harbour Bridge, menuntut gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Aksi ini digelar sejak pagi hari di tengah guyuran hujan dan penutupan jembatan secara penuh oleh otoritas. Mereka membawa spanduk, bendera Palestina, serta simbol-simbol kelaparan seperti panci dan wajan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Tepat setelah pukul 17.00 waktu setempat, Pejabat Wakil Komisaris Polisi NSW, Peter McKenna, menyampaikan bahwa sekitar 90.000 orang hadir dalam aksi tersebut, hal ini jauh melebihi estimasi awal penyelenggara yang hanya 50.000. Menurutnya, ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah ia dan Asisten Komisaris Adam Johnson saksikan selama karier kepolisian mereka. Bahkan Johnson menyebutnya sebagai aksi paling berisiko dalam 35 tahun masa tugasnya.

Namun, salah satu penyelenggara utama, Josh Lees, mengatakan bahwa jumlah peserta bisa jadi mendekati 300.000 orang. Ia menyatakan bahwa berbagai pihak telah melakukan analisis mandiri berdasarkan rekaman udara yang tersebar luas di media sosial, dan hasilnya menunjukkan jumlah peserta jauh melampaui perkiraan awal. “Ini lebih besar dari yang pernah saya bayangkan,” ungkap Lees dari titik tengah barisan demonstran.

Beberapa tokoh terkenal turut hadir, seperti pendiri WikiLeaks Julian Assange, mantan Menteri Luar Negeri Bob Carr, Senator Mehreen Faruqi, Senator Greens, serta anggota parlemen seperti Ed Husic. Para peserta membawa panci dan wajan sebagai simbol kelaparan di Gaza dan meneriakkan slogan seperti “We are all Palestine”, “Stop the genocide”, dan menyerukan pengakuan negara Palestina serta sanksi terhadap Israel

Momen ini menekan pemerintah Australia, mendorong diskusi tentang pengakuan negara Palestina dan sanksi terhadap Israel. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyebut aksi ini sebagai “luar biasa” dan mencerminkan kegelisahan warga terhadap krisis di Gaza, dengan komunitas internasional semakin menuntut solusi dua negara.

FKUB Kota Probolinggo Gelar Sarasehan Moderasi Beragama untuk Segmen Guru SMP/MTs dan Penyuluh Agama Lintas Agama

Probolinggo, 5 Agustus 2025 — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat harmoni sosial dan memperkuat nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat. Kali ini, FKUB menggelar kegiatan Sarasehan Moderasi Beragama dengan segmen khusus guru agama SMP/MTs serta penyuluh lintas agama se-Kota Probolinggo, bertempat di Aula Pondok Pesantren Raudhatul Hasaniyah, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Selasa (5/8).

Kegiatan yang bertemakan Deteksi dini kerawanan berbasis agama ini merupakan lanjutan dari rangkaian sarasehan sebelumnya yang menyasar segmen guru agama tingkat SD/MI. FKUB Kota Probolinggo secara konsisten menyasar para pendidik dan penyuluh sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda.

Sarasehan yang dimulai pada pukul 11.30 WIB ini dibuka secara langsung oleh Wali Kota Probolinggo, dr. Aminudin, Sp.OG.(K)., MM.Kes. Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan pentingnya penguatan moderasi beragama dalam membangun peradaban bangsa yang inklusif dan berkeadaban.

“Moderasi beragama bukan hanya konsep, melainkan kebutuhan. Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, kita akan menghadapi bonus demografi. Di sinilah peran para guru agama dan penyuluh sangat penting untuk membentuk karakter generasi bangsa yang toleran, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar Wali Kota.

Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang agama, antara lain Arifin Budianto, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Probolinggo, serta Agus Maryono dari Gereja Katolik Bunda Karmel. Kehadiran narasumber lintas agama ini mempertegas semangat inklusivitas dan dialog antariman yang diusung oleh FKUB. Arifin Budianto memaparkan tentang strategi kementerian agama dalam melakukan deteksi din dalam menghadapii kerawanan konflik berbasis agama. Sedangkan Agus Maryono memaparkan konflik antar umat beragama di media sosial dan dampaknya terhadap kerukunan umat beragama.

Setidaknya 100 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari guru-guru agama jenjang SMP/MTs dan para penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha di Kota Probolinggo.

Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP., dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pendidik dengan perspektif moderasi beragama yang dapat diteruskan kepada para siswa dan masyarakat luas.

 “Tugas kita bukan hanya menjaga kerukunan, tapi juga mentransformasikan nilai-nilai itu ke dalam ruang kelas dan masyarakat. Guru dan penyuluh memiliki peran strategis untuk menjadi agen perubahan sosial,” tegasnya.

FKUB berharap melalui kegiatan ini, semangat toleransi, saling menghargai perbedaan, dan kolaborasi lintas iman akan terus mengakar di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pendidik sebagai agen pembentuk karakter bangsa.

Probolinggo, 5 Agustus 2025

Ketua FKUB

Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.