Urgensi Peran MUI Mengatasi Realitas LGBT


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Sangat mencengangkan ketika terungkap adanya 20 pasangan LGBT di kota Probolinggo sebagaimana dilansir Harian Radar Bromo (23 Juni 2025). Melihat realitas yang ada, sepertinya perkembangannya tidak hanya terbatas pada ranah individu, tetapi telah masuk dalam wilayah sosial yang lebih luas—dari media sosial, dunia hiburan, hingga wacana kebijakan publik. Dan yang memprihatinkan, ternyata secara khusus menyentuh berbagai lapisan usia. Tidak terkecuali anak-anak muda usis. Kondisi ini menuntut tanggapan serius, khususnya dari lembaga otoritatif keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang selama ini menjadi penopang moral dan spiritual umat Islam khususnya di kota Probolinggo.
Sebagai institusi dengan mandat moral dan keagamaan, MUI tidak cukup hanya menyampaikan fatwa yang mengharamkan perilaku LGBT. Lebih dari itu, MUI harus dengan pendekatan yang komprehensif—edukatif, preventif, dan solutif—untuk menyentuh akar permasalahan dan memberikan jalan keluar yang manusiawi serta sesuai syariat.
Edukasi Berkelanjutan: Jalan Awal Membina Umat
Sebagai langkah strategis dan fundamental adalah penguatan pendidikan keagamaan dan dakwah yang mencerdaskan. Banyak remaja yang terpapar isu LGBT bukan karena pilihan sadar, melainkan karena minimnya pemahaman agama, krisis identitas, dan minimnya peran keluarga dan lingkungan pergaulan. Dalam hal ini, MUI dapat berperan aktif melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam, pesantren, majelis taklim, dan media dakwah digital untuk sebagai langkah edukasi bagi anak-anak usis muda agar mulai memahami jati dirinya sebagaimana ajaran Islam.
Pendekatan Dakwah yang dilakukan juga harus menyentuh hati, bukan menghujat. Alih-alih menstigma pelaku LGBT, pendekatan dakwah yang ramah, persuasif, dan membuka ruang dialog justru akan lebih tepat dalam proses pemulihan dan penyadaran.
Advokasi Kebijakan Publik dan Pendampingan
Dari sisi kebijakan, MUI perlu menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah dalam menyusun regulasi yang melindungi generasi muda dari pengaruh LGBT, sekaligus menyediakan sarana rehabilitasi dan pendampingan bagi yang berupaya memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Adanya sarana rehabilitasi dan pendampingan berbasis spiritual dan konseling keagamaan bisa menjadi solusi tepat yang bisa diadvokasi MUI bersama pemerintah dan stakeholder berkompeten lainnya.
Kolaborasi dan Kepemimpinan Moral
Mengatasi realitas LGBT bukan persoalan sederhana, namun juga bukan bukan tidak mungkin tanpa solusi. MUI sebagai representasi moral umat harus memimpin gerakan kolektif ini dengan penuh kebijaksanaan, kasih sayang, dan komitmen keagamaan yang kokoh. Kolaborasi lintas sektor—dari berbagai kalangan seperti  tokoh masyarakat, akademisi, psikolog, hingga pemerintah —akan memperkuat upaya ini menjadi gerakan yang beradab dan solutif.
Kita berharap, dengan pendekatan yang tepat dan komprehensif, Kota Probolinggo dapat menjaga moralitas generasi mudanya dan menghadirkan lingkungan sosial yang sehat, adil, dan beradab. Perjuangan ini bukan tentang kebencian, melainkan tentang kasih sayang yang ingin menyelamatkan masa depan generasi.

* Ketua V MUI Kota Probolinggo Merangkap Humas
* Ketua FKUB Kota Probolinggo

Prima Energi Gandeng DPC HNSI Gresik, Sosialisasi Daerah Terbatas dan Terlarang

Gresik, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan keselamatan dan keamanan nelayan dalam aktivitasnya mencari nafkah, PT. Prima Energi Bawean (PEB) melakukan sosialisasi daerah terbatas dan terlarang (DTT) di lapangan camar blok Bawean di kantor DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kabupaten Gresik, Rabu (25/6/2025) pagi.

Kegiatan sosialiasi ini diikuti oleh para perwakilan dari SKK Migas, jajaran manajemen PT. Prima Energi Bawean, Mohammad Rusman Kabid. Humas Dewan Pimpinam Pusat (DPP) HNSI, Dinas Perikanan dan Kelautan Gresik yang diwakili Kabid. Perikanan Tangkap Ir. Kusnaim, Forkopimda kecamatan Ujungpangkah, Polairud Polres Gresik, KAMLADU kabupaten Gresik, jajaran pengurus DPC HNSI Gresik, serta perwakilan 35 rukun nelayan (RN) dari tujuh kecamatan di kabupaten Gresik.

Government Relation Manager PT Prima Energi Bawean Tribuono B.Prawiro menyampaikan sosialisasi ini diharapkan dapat membentuk sikap saling peduli di antara nelayan dan pemangku kepentingan dalam menjaga aset-aset dan kegiatan operasional migas yang dikategorikan sebagai objek vital nasional (obvitnas).

“Saya mengapresiasi seluruh pihak atas kerja sama yang terjalin selama ini. Dan saya juga menyampaikan permohonan maaf karena baru bisa silaturahmi ke masyarakat nelayan Gresik setelah platform beroperasi selama satu setengah tahun ini,” katanya.

Kegiatan sosialiasi ini, lanjut Tribuono, menjadi momen penting dalam mewujudkan langkah strategis guna memastikan keselamatan dan keamanan area DTT operasi migas. Kinerja keselamatan yang unggul dan lingkungan laut yang aman-selamat dapat mendukung keberlanjutan operasi dan bisnis migas dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Secara aspek penetapan daerah terlarang adalah daerah dengan radius 500 meter dari objek atau fasilitas migas, di mana tidak diperbolehkan adanya aktivitas yang berpotensi mengganggu operasional.

“Daerah terbatas adalah daerah di mana kapal dilarang membuang atau membongkar saur. Daerah terbatas mempunyai jarak maksimal 1.250 meter dari objek dari sisi terluar zona terlarang atau 1.750 meter dari titik terluar instalasi,” jelasnya.

Semoga dengan adanya sosialisasi ini, harapnya masyarakat nelayan Gresik lebih peka pada keselamatan diri dan aktivitas di obyek vital nasional dalam menjalankan aktivitas penangkapan sehari hari.

Muhammad Rusman selaku Kabid Hubungan Masyarakat DPP HNSI dalam sambutannya menyampaikan mendukung dan mengapresiasi kegiatan sosialisasi hari ini dengan harapan menumbuhkan rasa peduli masyarakat nelayan terhadap area daerah terlarang dan terbatas dalam rangkah menjemput program “Nelayan Milenial” yang modern melaksanakan kegiatan nelayan yang didasarkan pada teknologi dan berbasis IT.

Disela-sela kegiatan sosialisasi, Ketua DPC HNSI Gresik, Samaun menyampaikan, dengan adanya sosialisasi diharapakan adanya kontribusi yang riel dari PT Prima Energi Bawean untuk masyarakat nelayan Gresik dalam hal penyaluran dana CSR. (fj)

Bank Sampah hingga Eco Enzim, Nurul Jadid Buktikan Pesantren Bisa Hidup Sehat

Probolinggo, Berdampak.net — Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) kembali mencatat prestasi membanggakan dengan menjadi lokus penilaian program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) oleh Kementerian Kesehatan RI. Rabu (25/6/2025), tim verifikasi pusat melakukan kunjungan langsung ke lingkungan pesantren untuk meninjau implementasi STBM yang telah berjalan aktif dan menyeluruh.

Tim verifikasi terdiri dari perwakilan Kemenkes RI, Wahana Visi Indonesia, dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Mereka disambut oleh para pengurus dan santri di halaman utama pesantren. Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga mampu menjadi pelopor dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat.

Sekretaris pelaksana kegiatan, Thohirudin, menyampaikan bahwa amanah sebagai lokasi penilaian STBM menjadi penyemangat bagi seluruh elemen pesantren untuk terus memperbaiki layanan, khususnya di bidang kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih.

Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan utama adalah pengelolaan bank sampah. Santri dari seluruh asrama secara aktif terlibat dalam pemilahan sampah sejak dari sumber. Sampah-sampah tersebut kemudian dikumpulkan ke tiga titik bank sampah utama yang dikelola oleh 90 kader lingkungan aktif, hasil dari dua gelombang kaderisasi.

Sampah anorganik bernilai ekonomis dijual kembali untuk menunjang operasional kegiatan, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos dan eco enzym. Menariknya, eco enzym yang diproduksi tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bermanfaat untuk mendukung kesehatan para santri. Mereka juga memproduksi ecobrick sebagai bentuk edukasi kreatif daur ulang.

Pengelolaan ini tidak lepas dari pendampingan teknis oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PONI, serta puskesmas. Untuk pengolahan limbah cair, pesantren juga telah menerapkan sistem grease trap di area dapur agar limbah tidak mencemari lingkungan.

Santri juga diberikan edukasi berkala tentang lima pilar STBM, yang mencakup: stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Tim Kemenkes RI yang dipimpin oleh Ikha Purwandari, SKM, MKM, bersama Mita Julinartati Sirait, WASH Specialist dari Wahana Visi Indonesia, menyampaikan apresiasi tinggi atas langkah nyata pesantren. Mereka menyebut Pesantren Nurul Jadid sebagai contoh ideal lembaga pendidikan berbasis komunitas dalam penerapan STBM.

Dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, hadir pula Dwi Setyo Agus, SKM, Sulistyaningsih, Am.KL, Joko Sunyoto M Alim, SH, dan Anton Suyatno, yang mengaku bangga dan berharap Nurul Jadid bisa menjadi rujukan bagi pesantren lain.

Dengan berbagai inovasi tersebut, Pesantren Nurul Jadid membuktikan bahwa pesantren bisa dan mampu menjadi motor penggerak perubahan perilaku hidup sehat, serta pionir pembangunan lingkungan yang bersih, mandiri, dan berkelanjutan. (pm)

Rencanakan masa liburanmu agar tak hilang masa liburmu

oleh: Akh. Arief Hermawan CM, S.Pd., MM,

Ketua APSI Kabupaten Probolinggo

Mulai hari ini, 23 Juni 2025 sd 12 Juli 2025 adalah masa Liburan Kenaikan kelas. Liburan ini tentu menjadi saat yang sangat dinantikan baik oleh para murid maupun guru-guru. Mereka bisa bersantai, bermain, jalan-jalan atau berkumpul dengan keluarga.

Masa liburan kenaikan kelas selama tiga minggu ini seakan waktu yang panjang, tetapi kalau tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan hilang begitu saja, akibatnya saat masuk sekolah di tgl 14 Juli nanti, kita menjadi malas utk ke sekolah, krn liburnya terasa kurang.

Oleh karena itu, saya sebagai ketua APSI (Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia) Kabupaten Probolinggo mengajak kepada kita semua baik Pengawas, Kepala sekolah, guru-guru dan murid-murid agar memanfaatkan masa liburan ini dengan sebaik-baiknya.
Caranya dengan membuat rencana liburan dengan sebaik-baiknya.

Bagi teman-teman Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas, masa liburan ini bisa dijadikan ajang untuk melakukan refleksi diri atas apa yang sudah kita lakukan khususnya terkait pembelajaran yang sudah kita berikan. Mana yang sudah baik, mana yang sudah kita capai dan mana yang belum atau mau kita tingkatkan.

Rencanakan juga perbaikan-perbaikan apa yang akan kita lakukan kedepan dalam melayani anak didik kita. Atur juga kapan waktu bersama keluarga dan seterusnya.

Dengan demikian waktu liburan selama tiga minggu ini akan menjadi waktu yg bermanfaat dan akan memberikan semangat baru saat masuk tahun ajaran baru nanti.

Begitu juga dengan anak-anak, murid-murid kita.
Rencanakan waktu liburmu dengan sebaik-baiknya. Isi masa liburan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Atur waktumu kapan bermain dan kapan mengisi liburan dengan kegiatan-kegiatan positif. Liburan juga bisa digunakan untuk mempelajari hal-hal yang baru, berpiknik, bersilaturahim ke rumah saudara dan seterusnya.

Berpiknik juga tidak harus pergi jauh, tetapi yang terpenting adalah bisa membuat kita rileks dan senang.
Selamat berlibur untuk anak-anakku semuanya, para murid, bapak/ibu guru, Kepala Sekolah dan teman-teman Pengawas.

Dan kepada anak-anakku murid-murid sekalian, jangan lupa kegiatan-kegiatan pembiasaan yang selama ini ditanamkan di sekolah tetap kalian laksanakan di rumah. Mulai dari bangun pagi, sholat, ngaji dan beribadah lainnya, berolah raga dan seterusnya. Dan yang terpenting, jangan tidur terlalu malam.

Semoga tips ini bermanfaat untuk semua.

Pesantren Nurul Jadid Paiton Lakukan Studi Tiru ke Pemkab Probolinggo, Perkuat Tata Kelola Ex Officio

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan ex officio, Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menggelar studi tiru tentang sistem keorganisasian ke Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Probolinggo, Senin (23/6/2025).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini diikuti oleh delapan perwakilan pesantren, termasuk Sekretaris Pesantren H. Thohiruddin, MM.Pd, Kepala Bagian Keuangan dan Aset Abdul Hamid, serta beberapa kepala bidang lainnya.

Sekretaris Pesantren H. Thohiruddin dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama dari studi tiru ini adalah untuk belajar tentang penataan organisasi, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan ex officio. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid diharapkan tidak lagi menggunakan pola panitia, tetapi langsung melekat pada struktur pengurus yang ada sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

“Pelaksanaan ex officio harus sesuai standar yang kita harapkan. Kami ingin membangun sistem organisasi yang efisien dan berkelanjutan, sehingga tugas-tugas kegiatan tidak dibebankan kepada panitia ad hoc, tapi menjadi bagian dari struktur kerja tetap para pengurus,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, H. Thohiruddin juga memperkenalkan satu per satu peserta studi tiru dari Pesantren Nurul Jadid kepada pihak Pemkab Probolinggo. Ia berharap kegiatan ini menjadi momentum penting dalam proses pembenahan tata kelola organisasi pesantren agar lebih sistematis dan profesional.

Sementara itu, Kepala Bidang Keorganisasian Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo, Sholehudin Hamid, mengungkapkan bahwa kunjungan yang dilakukan oleh tim Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan sebuah kehormatan bagi pihaknya. Ia juga menyampaikan apresiasi atas semangat belajar dan keterbukaan pihak pesantren dalam menyerap sistem kelembagaan pemerintahan.

“Ini adalah bentuk sinergi yang luar biasa. Kami sangat terbuka untuk berbagi pengalaman terkait struktur organisasi dan tupoksi yang diterapkan di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo,” ungkap Sholehudin dalam pemaparannya.

Studi ini mencakup fokus pada struktur organisasi, pembagian tugas, mekanisme koordinasi, prosedur pelaporan, serta identifikasi kendala dan solusi dalam pelaksanaan ex officio. Metode pelaksanaan meliputi observasi langsung, wawancara, pengumpulan dokumen, dan diskusi mendalam dengan pihak terkait.

Tim dari Pondok Pesantren Nurul Jadid berharap dapat menyusun laporan hasil studi tiru yang tidak hanya menggambarkan sistem keorganisasian yang efektif, tetapi juga menghasilkan rekomendasi perbaikan sistem organisasi yang relevan dan dapat diterapkan di lingkungan pesantren.

Hasil akhir dari studi tiru ini juga akan menjadi dasar penyusunan SOP atau panduan pelaksanaan ex officio di Pesantren Nurul Jadid, sebagai langkah strategis menuju tata kelola organisasi yang lebih tertata, modern, dan sesuai dengan prinsip manajemen kelembagaan yang profesional. (pm)

Eksotika Bromo 2025: Simfoni Budaya dalam Pelukan Kaldera

Probolinggo, Berdampak.net – Kaldera Gunung Bromo kembali menjadi pusat perhatian dengan terselenggaranya Eksotika Bromo 2025. Festival budaya tahunan ini digelar selama dua hari pada 21–22 Juni 2025 sebagai bagian dari rangkaian Karisma Event Nusantara yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Mengusung tema “Merajut Harmoni Nusantara di Bumi Hila Hila”, festival ini menghadirkan harmoni antara kearifan lokal, keragaman budaya, dan pelestarian lingkungan.

Suasana sakral terasa sejak pembukaan acara dengan prosesi adat Suku Tengger, Ruwat-Ruwat Gunung Segoro, yang menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan leluhur. Ritual ini menandai dimulainya seluruh rangkaian pertunjukan budaya yang digelar di hamparan pasir Bromo yang eksotis. Ribuan pengunjung tumpah ruah menyaksikan pentas seni dari berbagai penjuru Nusantara. Penampilan spektakuler seperti Reog Ponorogo, tari Yospan dari Papua, musik daul Madura, barongan Jawa Timur, hingga kolaborasi tari dan musik etnik lainnya menciptakan suasana yang menggetarkan dan menyatukan identitas kebangsaan dalam lanskap alam yang megah.

Tak sekadar menyajikan hiburan, Eksotika Bromo 2025 juga menghadirkan kegiatan edukatif dan partisipatif. Para pengunjung diajak mengikuti pelatihan fotografi budaya bersama fotografer profesional. Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni visual, lomba foto bertema Eksotika Bromo pun digelar dengan hadiah jutaan rupiah. Yang membuat festival ini berbeda adalah cara masuk yang unik: setiap pengunjung diminta membawa satu bibit pohon sebagai tiket. Inisiatif ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap upaya penghijauan dan konservasi kawasan Bromo yang rentan mengalami kerusakan lingkungan.

Eksotika Bromo 2025 membuktikan bahwa festival budaya bukan hanya peristiwa seni semata, melainkan juga ruang edukasi, refleksi, dan aksi nyata menjaga bumi. Dalam balutan pertunjukan yang memikat, terselip pesan kuat tentang harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Di tengah lautan pasir yang sunyi dan luas, gema budaya Indonesia kembali terdengar, mengakar kuat dan menembus cakrawala. (fj)