Ra Hamid Wahid: Pemimpin Visioner untuk Bondowoso Maju

Oleh: Ponirin Mika, Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton Probolinggo

Bondowoso memiliki potensi luar biasa di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pariwisata, hingga pendidikan. Terletak di jantung wilayah Tapal Kuda, Bondowoso menyimpan sumber daya alam yang melimpah dan lanskap wisata yang belum tergali secara optimal. Namun, potensi ini belum cukup tergarap sehingga sering kali Bondowoso tertinggal dibandingkan daerah sekitarnya.

Dalam kondisi ini, Bondowoso memerlukan sosok pemimpin yang tidak hanya paham dengan kebutuhan masyarakat, namun juga memiliki visi yang kuat dan strategis untuk mengarahkan daerah ini ke masa depan yang lebih baik. Sosok Ra Hamid Wahid dianggap mampu mewujudkan harapan ini. Dengan pengalaman yang luas di berbagai bidang—dari organisasi, politik, hingga pendidikan—Ra Hamid memiliki kemampuan untuk merumuskan kebijakan yang tepat demi memajukan Bondowoso.

Ra Hamid Wahid dikenal sebagai sosok yang memahami pentingnya membangun dari akar, dari masyarakat kecil hingga menengah. Berbeda dari pemimpin lain yang kadang terjebak dalam politik praktis, Ra Hamid justru memiliki pemikiran untuk memajukan Bondowoso secara menyeluruh, mulai dari mengoptimalkan sektor pariwisata, menggalakkan pendidikan yang berbasis lokal, hingga memberdayakan ekonomi masyarakat melalui UMKM. Dengan kepribadian yang dekat dengan masyarakat dan kepemimpinan yang teruji, Ra Hamid mampu menjadi figur pemimpin yang diidamkan oleh masyarakat Bondowoso.

Selain Ra Hamid, ada juga sosok Ra As’ad yang tak kalah penting. Bersama, mereka adalah figur pemimpin yang berpengalaman dan bijaksana. Kedua tokoh ini dapat menjadi kombinasi yang sempurna untuk mengawal Bondowoso menuju masa depan yang lebih cerah. Bondowoso butuh pemimpin yang tidak hanya berpikir untuk lima tahun ke depan, tapi yang dapat menanamkan fondasi kuat bagi generasi mendatang.

Dengan berbagai potensi yang ada, serta kepemimpinan yang mumpuni seperti Ra Hamid Wahid dan Ra As’ad, Bondowoso seharusnya tidak lagi berada di bawah bayang-bayang daerah lain. Jika diurus dengan baik, Bondowoso bukan hanya akan maju secara ekonomi, tetapi juga akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya secara berkelanjutan.

Di Tabligh Akbar BI, Kiai Zuhri Zaini Ajak Santri Memiliki Kepekaan Sosial

Probolinggo, Berdampak.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo KH. Moh. Zuhri Zaini mengajak para santri untuk tidak bahagia dan senang sendirian. Tapi harus memperhatikan nasib orang lain dan peka kepada keberadaan masyarakat disekitarnya (peka sosial). Pernyataan itu diungkapkan saat memberikan tausyiah pada tabliqh akbar yang diselenggarakan Bank Indonesia Malang di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid. Rabu (24/10/24).

Selain itu, Kiai Zuhri menegaskan bahwa sebagai manusia harus berikhtiar agar menjadi sukses. Ia juga menyinggung menerangkan sosok panutan umat yaitu Rasulullah SAW.

“Rasulullah itu adalah saudagar, beliau menikahi Siti Khodijah dengan mas kawin kurang lebih satu milyar,” tegasnya.

Namun kata Kiai Zuhri, bekerja apapun yang penting pekerjaan yang baik harus diniati baik pula.

“Orang yang bekerja di kantor, sawah, Perusahaan harus diniati dengan baik salah satunya niati untuk menafkahi keluarga,” imbuhnya.

Ta lupa juga, kiai yang terkenal sederhana dan familiar ini menyetir sabda Rasulullah “Betapa banyaknya pekerjaan yang dianggap pekerjaan dunia tetapi dengan niat yang baik maka menjadi pekerjaan akhira, sebaliknya banyak pekerjaan seakan akan pekerjaan akhirat tapi dengan niat yang tidak benar maka jadi perbuatan dunia,”.
Kiai Zuhri berpesan agar kita bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja dengan baik agar bisa menjadi orang sukses

“Dalam usaha tidak hanya dilakukan sendirian tapi lebaik utk bersama sama,” ungkapnya. (pm)

Pertama Kalinya, BWI dan Nurul Jadid Cetus Gerakan Pesantren Indonesia Berwakaf

Probolinggo, berdampak.net – Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyelenggarakan pertemuan Waqf Goes to Pesantren (WGTP) yang pertama di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada, Rabu (16/10/24).

Dalam perhelatan itu, para pimpinan Badan Wakaf Indonesia dan Pondok Pesantren Nurul Jadid berkumpul untuk meresmikan sekaligus menggagas tindak lanjut program gerakan Indonesia berwakaf masuk pesantren.

Rendahnya tingkat literasi masyarakat tentang wakaf telah menjadi perhatian forum WGTP, sebagaimana isu tersebut telah diupayakan jalan keluarnya melalui beberapa program yang telah diinisiasi oleh BWI dan badan lain yang bergerak di bidang filantropi, termasuk salah satunya Waqf Goes to Pesantren yang diresmikan hari ini.

Dalam sambutannya, Ketua Divisi Humas, Sosialisasi, dan Literasi Wakaf BWI Agus Priyatno menyampaikan latar belakang memilih pesantren sebagai salah satu sasaran objek program peningkatan literasi wakaf.

“Indonesia ada 43.000 pesantren dan 22% nya di Jawa Timur, jadi kira-kira 13.000 pesantren di Jawa Timur. Ternyata, potensi pesantren yang sedemikian besar itu belum terkelola dengan baik, terutama pada potensi wakaf-wakafnya,” ujarnya.

Menurutnya, BWI telah menyediakan instrumen pendukung berupa wakaf uang melalui aplikasi digital guna menyongsong kesuksesan program tersebut.

“Beberapa inisiatif telah dilakukan, salah satunya instrumen wakaf uang. Melalui teknologi digital, masyarakat bisa terlibat dalam kegiatan wakaf internasional dan bisa mendorong potensi lembaga-lembaga pendidikan ataupun ekonomi Islam dengan tidak terbatas oleh tempat,” imbuhnya.

Di samping itu, Sekretaris BWI Anas Nasihim menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pencetus awal dalam menyemarakkan gerakan Indonesia berwakaf masuk pesantren.

“Alhamdulillah Nurul Jadid, sebagaimana namanya “Cahaya Baru”, hari ini kita melalui sebuah kebaruan, yakni sebagai pesantren penggerak wakaf di Indonesia,” ungkapnya.

Dalam sejarahnya, lanjut Anas, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah aktif dalam peran kemasyarakatan pesantren sejak dulu, yaitu terlibat dalam pembentukan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.

“Peran kemasyarakatan pesantren pernah dicetuskan oleh 4 pesantren besar di negeri ini, di antaranya Pesantren Cipasung, Matholiul Falah Pati, Nurul Jadid, dan Annuqayah Sumenep,” imbuhnya.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua BWI H. Kamiruddin Amin mengajak setiap elemen untuk terus mengambil langkah bersama secara cepat dalam menyukseskan program wakaf ini.

“Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2024-2029, pembangunan agama yang telah kami diskusikan dalam RPJMN, menjadikan keuangan sosial atau zakat wakaf sebagai salah satu program prioritas,” terangnya.

Target itu, menurut Ketua BWI dimulai dari pesantren dengan melakukan pembentukan karakter santri agar menjadikan wakaf sebagai gaya hidup berderma, keinginan membantu yang lemah dan membutuhkan.

“Tantangan kita, cita cita kami semuanya, suatu saat gaya hidup berwakaf ini menjadi gaya hidup anak-anak muda. Hal itu kami mulai dari pondok pesantren. Berwakaf ini bukan persoalan mampu atau tidak mampu, akan tetapi ini persoalan tahu atau tidak tahu, persoalan ada fasilitas atau tidak ada fasilitas untuk melakukannya, persoalan literasi,” jelasnya.

Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid setuju untuk mendukung akselerasi perkembangan wakaf sebagai salah satu kontribusi atau pilar pengembangan ekonomi masyarakat di Indonesia.

“Alhamdulillah pesantren dalam hal ini telah mendorong gerakan wakaf, kami mempunyai unit kerja Laziskaf yang sudah memulai gerakan wakaf ini kepada masyarakat. Kami merasa kegiatan ini sangat penting, Nurul Jadid siap menjadi bagian dari gerakan Indonesia berwakaf,” terang Kiai Hamid.

Pertemuan WGTP pertama pada hari ini menjadi dasar koordinasi erat yang diperlukan di masa depan untuk menentukan cara terbaik dalam menghadapi tantangan gerakan Indonesia berwakaf. (pm)

Santri, Pilar Peradaban Baru: Mengabdi untuk Agama dan Negara di Era Modern

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research

Hari Santri Nasional (HSN) diperingati setiap tanggal 22 Oktober di Indonesia. Peringatan ini merupakan pengakuan terhadap peran penting para santri dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa, serta dedikasi mereka dalam menjaga moralitas, spiritualitas, dan kebangsaan.

Penetapan Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk memperingati Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Resolusi ini menggerakkan para santri dan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan setelah Proklamasi Kemerdekaan, khususnya dalam pertempuran di Surabaya yang menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Resolusi Jihad ini dianggap sebagai titik penting di mana para santri berperan dalam memobilisasi umat untuk berperang melawan pasukan Belanda dan Sekutu, serta menjaga kedaulatan negara Indonesia yang baru merdeka.

Peringatan Hari Santri tidak hanya berupa upacara seremonial, tetapi juga sering disertai dengan program-program penghargaan bagi santri. Di beberapa daerah, para santri yang berprestasi mendapatkan hadiah dalam bentuk beasiswa pendidikan, penghargaan, dan program pengembangan diri. Ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan agama. Selain itu, HSN juga sering dirangkaikan dengan kegiatan lomba keagamaan, festival kebudayaan santri, hingga kompetisi hafalan Al-Qur’an.

Santri memegang peran yang sangat penting dalam menjaga amanah agama, kebangsaan, dan moralitas. Mereka dididik untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia, mengamalkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari, dan menjaga persatuan bangsa. Amanah yang dipikul santri mencakup tanggung jawab untuk mempertahankan ajaran Islam yang moderat, menghormati keberagaman, dan menjadi teladan bagi masyarakat dalam berperilaku dan berbicara.

Para santri juga dianggap sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, sesuai dengan semangat jihad yang terkandung dalam Resolusi Jihad. Amanah ini berlanjut dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, hingga politik.

Peringatan Hari Santri dapat menjadi momentum bagi santri untuk berperan aktif dalam menciptakan peradaban baru yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan, keilmuan, dan kemanusiaan. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga moral dan spiritual, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju kemajuan, tanpa meninggalkan identitas keislaman dan keindonesiaan.

Dalam menghadapi tantangan global seperti digitalisasi, santri harus mampu beradaptasi dan mengambil peran penting dalam inovasi teknologi, namun tetap memegang teguh nilai-nilai agama dan moral. Dengan demikian, santri diharapkan bisa menciptakan peradaban baru yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Peran santri dalam negara sangatlah signifikan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, hingga era reformasi dan pembangunan, santri terus berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Dalam politik, ekonomi, sosial, dan budaya, santri selalu memberikan kontribusi nyata. Mereka berperan sebagai tokoh masyarakat, pendidik, dan pemimpin yang berusaha membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Santri dan negara adalah dua entitas yang saling terkait, di mana santri terus melanjutkan perjuangan ulama dan para pendahulu dalam menjaga moralitas bangsa, sementara negara mengakui dan menghargai kontribusi santri dalam memperkokoh fondasi kebangsaan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional, santri diharapkan terus memperkuat perannya sebagai bagian integral dari negara, baik sebagai penjaga moral bangsa maupun sebagai motor penggerak pembangunan yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Kiai Zuhri Zaini Ungkap Maulid Nabi Bentuk Cinta Kita pada Rasulullah

Probolinggo, Berdampak.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H di Masjid Jami’ dan halaman pesantren, Ahad (19/09/24). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Penceramah Habib Achmad Jamal bin Thoha Baagil, Pengasuh Pesantren KH. Moh. Zuhri Zaini, jajaran Masyayikh Nurul Jadid, santri, pengurus pesantren, alumni, dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pesantren KH. Moh. Zuhri Zaini menyebutkan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW banyak dilakukan dengan berbagai kegiatan, di antaranya seperti pembacaan Maulid Diba’, Barzanji, dan Simtudduror. Beliau menyebutkan bahwa itu semua adalah bentuk cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.

“Hikmah adanya peringatan maulid ini adalah untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai a’domun ni’am, nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada kita. Melalui beliau kita bisa menjadi orang yang beriman dan berislam, orang yang bisa membedakan haq dan batil, sehingga kita bisa tahu jalan yang menuntun ke surga dan jalan yang menjerumuskan ke neraka,” tuturnya.

Dengan adanya penyampaian tentang maulid Nabi, lanjut beliau, kita bisa semakin mengenal sosok Rasulullah. Beliau menerangkan bahwa kecintaan kepada Nabi dapat tumbuh dengan tidak hanya mengenal nama Nabi saja, akan tetapi juga mengenal akhlak dan amaliahnya.

“Kecintaan ini sangat penting, kita berharap dengan kecintaan kepada beliau, selain kita berharap nanti akan dikumpulkan dengan beliau di hari akhir, kita juga akan termotivasi meneladani akhlak, amaliah, dan mengikuti ajaran beliau sehingga menjadi manusia yang selamat di dunia dan akhirat,” imbuhnya.

Kiai Zuhri berharap, dengan peringatan Maulid Nabi SAW ini, kita bisa membawa oleh-oleh keberkahan berupa ilmu.
“InsyaAllah kalau ilmu itu diamalkan, manfaatnya bukan hanya kita rasakan di dunia tapi insyaAllah nanti juga di akhirat,” pungkasnya. (pm/fiq)

Anas Menunjukkan Karakter Negarawan di Kampus UB Malang

Malang, Berdampak.net – Intelektual organik, mantan aktivis Kampus yang juga Ketum PB HMI Periode 1997-1999 Anas Urbaningrum mendorong agar kampus tidak bisu. Tetapi kembali lantang bersuara untuk menyehatkan cara berfikir bangsa.

Hal ini disampaikan Anas Urbaningrum dalam Mimbar Akademis yang diinisiasi Sygma Research and Consoulting bekerja sama dengan Fisip UB mengambil tajuk “Mengawal Demokrasi yang Bersih dan Beradab” di UB Coffe, Kamis (26/9/2024).

Anas menilai, obrolan ala kampus sekarang agak terdesak dengan obrolan-obrolan Non kampus yang lupa dengan substansinya. Padahal penting sebetulnya menjaga perbincangan publik yang sehat dan substantif.

Dimana suasana seperti itu sehatnya kalau datang dari lingkungan kampus. Karena kampus itu harus nyambung dengan dinamika kehidupan sosial, kehidupan politik.

“Jadi kalau narasi besar di kampus bisa nyambung dengan baik dan mempengaruhi dinamika pemikiran bangsa. Itu yang akan menyehatkan cara berfikir bangsa kita juga,” ujarnya.

Dalam Mimbar Akademis itu juga menampilkan Wakil Dekan II Fisip UB, Achmad Imron Rozuli dimoderatori Staf Pengajar Fakultas Perikanan UB Citra.

Audiense yang hadir mahasiswa di seluruh fakultas UB, civitas akademi UB, mahasiswa sejumlah kampus di Malang Raya, aktivis Cipayung, kader-kader HMI dari beberapa cabang di seputar Malang Raya.

Pada Kamis pagi (26/09/2024) Anas Urbaningrum sempat sarapan bersama di Guest House UB dengan sejumlah Civitas akademi UB dalam suasana keakraban penuh romantisme.

Minum Pil Anti Cuek
Secara jernih Anas Urbaningrum menyinggung tentang peran pentingnya dunia perguruan tinggi dan kampus agar selalu terjaga dan mengawal demokrasi.

“Kampus harus terlibat aktif mengawal Demokrasi dengan frase
Pencerahan Demos dan Pengawasan Kratos,” kata Alumnus Fisip Unair.

Lebih jauh AU, panggilan akrab Anas Urbaningrum, menyatakan bahwa kunci nya Kampus adalah pihak yg tidak boleh tidur.

“Kampus saat ini tertidur dan sedang ditidurkan. Kampus tidak boleh agak lama tidur dan ditidurkan. Kampus sudah tidak boleh lagi terlalu percaya memberikan blank check bagi para pemimpin,” tegas AU.

Secara jernih AU menegaskan bahwa mahasiswa mesti banyak minum pil anti cuek.

“Dengan minum pil anti cuek bagi kalangan mahasiswa akan membuatnya care [peduli] dengan lingkungan sekitar termasuk urusan politik dan demokrasi. Karena kalangan mahasiswa adalah kaum cendikia calon pemimimpin bangsa masa depan sehingga tidak boleh cuek dengsn kondisi yang ada.”

Dalam sesi diskusi, seorang penanya Jaka, mahasiswa S2 Universitas Brawijaya menanyakan adanya temuan tentang keterlibatan aparat penegak hukum yang mengintervensi masyarakat dalam prosesi pilkada di Kabupaten Malang.

“Intervensi aparat penegak hukum dalam momen pilkada seyogyanya bisa dihindari, karena akan merusak nilai esensi demokrasi itu sendiri.

Anas Urbaningrum menyatakan mengawal proses demokrasi dengan melibatkan semua unsur.

“Semua unsur mesti berkomitmen melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai aturan yang berlaku.”

Pada kesempatan sama CEO Sygma Research and Consoulting Ken Bimo Sultoni menyatakan kesimpulan dari narasi Mas AU bahwa kampus jangan tidur adalah bahasa agar sudah saatnya mahasiswa memiliki sensitifitas demokrasi.

Lebih jauh Ken Bimo menyatakan sensitivitas mahasiswa juga mesti muncul pada dinamika pilkada mendatang.

“Demokrasi harus bersih dari intervensi kekuasaan. Mahasiswa akan terus mlakukan fungsi kontrol terhadap jalannya demokrasi,” tegas Ken Bimo. (fjr/tfq)