Maulid Nabi dan Buah-buahan


Oleh: USTADZ MOHAMAD KHOIRUL ADHIM, S.H.I
Ketua Umum MUI Kecamatan Wonoasih – Kota Probolinggo

Setiap tiba bulan Rabi’ul Awwal, yakni bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw., ada tradisi menarik di masyarakat kita. Untuk menyambut kelahiran beliau, masyarakat beramai-ramai mengadakan slametan atau syukuran. Mereka berkumpul di masjid, mushalla, atau rumah-rumah lalu membaca shalawat nabi bersama-sama.

Setelah acara selesai, masing-masing pulang dengan membawa berkat berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Tidak ketinggalan didalamnya juga ada buah-buahan sebagai pelengkapnya.

Yang menggelitik rasa penasaran penulis adalah buah-buahan yang selalu disertakan di dalam berkat tadi. Seperti kita tahu, setiap kali ada yang mengadakan slametan ia pasti akan menyiapkan berkat sebagai oleh-olehnya. Nah, di dalam bingkisan tadi tidak satupun ada buahnya. Hanya di acara maulidan inilah buah-buahan selalu bisa kita temukan.

Mengapa bisa demikian? Apa istimewanya buah-buahan sehingga ia selalu hadir untuk ikut memeriahkan acara syukuran atas kelahiran Rasulullah Saw. ini?

Semula saya juga tidak mengerti apa alasannya. Saya pikir itu hanya kebetulan atau kebiasaan belaka yang tidak memiliki alasan historis.

Ternyata anggapan penulis kurang tepat. Fenomena munculnya buah-buahan di dalam berkat maulidan bisa jadi memiliki latar belakang sejarah yang erat kaitannya dengan tradisi di Arab (Mekah), tempat kelahiran Rasulullah Saw.

Hal ini penulis simpulkan setelah mempelajari Hamisy Tafsiir Suurah Yaasiin karya As-Syekh Hamami Zadah hal. 3 terbitan Karya Toha Putra Semarang. Disitu diceritakan bahwa suatu ketika Sayyid Abdul Muththalib memanggil putranya, Sayyid Abdullah. Beliau ini tidak lain ayah Rasulullah Saw.

Sayyid Abdul Muththalib menjelaskan kepada putranya itu tentang tradisi Arab jika ada keluarga bangsawan yang melahirkan. Biasanya masyarakat berbondong-bondong menjenguk bayi tersebut sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur.

Nah, untuk menghormati dan menjamu para tamu, Sayyid Abdul Muththalib menyuruh putranya itu pergi ke Madinah. Tujuannya untuk berbelanja kurma dalam jumlah besar. Seperti kita ketahui, Madinah merupakan salah satu daerah penghasil kurma terbesar dan terbaik di jazirah Arab. Tidak lupa kakek Rasulullah itu berpesan agar Sayyid Abdullah memilih kurma terbaik di tiap-tiap daerah di Madinah.

Singkat kata, Sayyid Abdullah telah berhasil melaksanakan perintah ayahnya lalu bermaksud kembali ke Mekah. Namun saat berada di desa An-Naabighah, masih di wilayah Madinah, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dan dikuburkan disitu.

Menurut hemat penulis, dari sinilah asal muasal tradisi yang berkembang di masyarakat kita saat ini. Dalam perkembangannya, buah yang disajikan bukan berupa kurma saja melainkan beraneka ragam jenisnya. Tapi anehnya, penulis sendiri belum pernah ketemu berkat acara maulidan yang di dalamnya ada buah kurmanya. Wallaahu a’lam bis-shawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *