Tingkatkan Mutu Pembelajaran, MA Nurul Jadid Paiton Gelar Supervisi Administrasi Guru

Probolinggo.Berdampak.Net — Madrasah Aliyah (MA) Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar kegiatan Supervisi Administrasi Pembelajaran pada Selasa (11/8/2026) di ruang pertemuan madrasah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh tenaga pendidik dan bertujuan memperkuat tata kelola pendidikan sekaligus mendorong peningkatan kualitas proses belajar mengajar di lingkungan madrasah.

Bertindak sebagai supervisor utama, Pengawas Madrasah Abd. Ghani, S.Ag., M.Pd.I., melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen administrasi pembelajaran yang disusun para guru. Berkas yang diperiksa antara lain Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), Capaian Pembelajaran, Silabus, hingga Modul Ajar dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Proses supervisi tidak sebatas mengecek kelengkapan dokumen, tetapi juga menelaah kesesuaian isi materi dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Menurut Abd. Ghani, administrasi pembelajaran yang tersusun rapi bukan sekadar pemenuhan formalitas, melainkan menjadi pedoman penting bagi guru dalam mengarahkan jalannya pembelajaran di kelas.

Ia menekankan bahwa perencanaan yang matang akan berdampak langsung pada efektivitas penyampaian materi kepada siswa.

Selain memeriksa dokumen, Abd. Ghani turut memberikan masukan dan alternatif solusi atas kendala teknis yang kerap dihadapi guru saat mengajar. Para guru diminta segera menindaklanjuti dan memperbaiki perangkat pembelajaran sesuai catatan koreksi yang diberikan.

Pihak manajemen MA Nurul Jadid menegaskan komitmennya untuk terus mengawal hasil evaluasi supervisi agar benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut bersama seluruh tenaga pendidik, sebagai wujud keseriusan MA Nurul Jadid dalam meningkatkan kualitas pendidikan sejalan dengan cita-cita besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Dosen UPN Veteran Jatim Ciptakan Aplikasi Antiperundungan Berbasis Sastra, Siswa SMAN 1 Besuki Bisa Petakan Kasus Tanpa Rasa Takut

SITUBONDO, INDHEF NEWS — Banyak kasus perundungan di sekolah luput dari perhatian karena korban enggan bercerita. Rasa malu, takut disalahkan, atau trauma sering membuat siswa memilih diam dan memendam persoalan sendirian.

Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur mengembangkan sebuah terobosan bernama Virtual Literary Therapy Lab — aplikasi berbasis Android yang menggabungkan edukasi antiperundungan dengan pendekatan sastra reflektif, permainan edukatif, dan jurnal emosi.

Aplikasi ini resmi diperkenalkan kepada siswa kelas X B SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–13.00 WIB dan sekaligus menjadi momen serah terima aplikasi kepada pihak sekolah.

Sastra sebagai Media Refleksi Emosi

Tim pelaksana dipimpin oleh Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A., beranggotakan Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A.; Ambaristi Hersita Milanguni, M.A.; Lailatul Fitriyah, M.Si.; dan Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., bersama dua mahasiswa, Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Koordinator BK SMAN 1 Besuki, Ika Febrianti, S.Pd., serta Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Berbeda dari aplikasi pembelajaran pada umumnya, Virtual Literary Therapy Lab menawarkan ruang interaktif yang cukup lengkap: materi edukasi seputar perundungan, game antiperundungan, kumpulan cerita dan puisi reflektif, hingga fitur jurnal emosi harian. Konten sastra di dalamnya sengaja dirancang untuk membantu siswa mengenali dan memahami emosinya lewat kisah yang dekat dengan keseharian remaja.

Dr. Achmad Fawaid menjelaskan bahwa inovasi ini juga menjadi bukti bahwa ilmu bahasa dan sastra Indonesia dapat dikembangkan lewat teknologi digital.

“Kami mencoba membawa teks sastra ke fungsi yang lebih aplikatif. Cerita dan puisi tidak hanya dibaca, tetapi digunakan sebagai medium refleksi untuk membantu siswa memahami emosi dan persoalan perundungan. Teknologi memungkinkan proses tersebut dikemas lebih interaktif dan lebih dekat dengan kebiasaan siswa,” jelas Fawaid.

Pemetaan Perundungan Lewat 75 Pertanyaan Berbasis Kasus

Selain memperkenalkan aplikasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memetakan kondisi perundungan dan budaya aman di lingkungan sekolah. Para siswa diminta mengisi 75 pertanyaan digital yang disusun berdasarkan kasus atau kejadian konkret, sehingga mereka tidak perlu menyatakan secara langsung apakah dirinya pernah menjadi korban.

Instrumen survei ini dikembangkan dengan merujuk pada sejumlah standar internasional dan nasional, yaitu Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Melalui pendekatan berbasis kasus ini, tim berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih rinci mengenai berbagai bentuk perundungan yang dialami siswa — mulai dari verbal, fisik, sosial atau relasional, siber, hingga seksual. Survei ini juga memetakan frekuensi dan lokasi kejadian, dampak yang dirasakan siswa, pola pelaporan, hambatan dalam mencari bantuan, serta persepsi siswa terhadap keamanan lingkungan sekolah mereka.

Data untuk Perkuat Kebijakan Sekolah

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut baik hasil pemetaan ini dan menilainya dapat memperkuat pengambilan keputusan di tingkat sekolah.

“Sekolah membutuhkan data agar program yang dibuat benar-benar menjawab kondisi siswa. Dari pemetaan ini kami berharap dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperkuat, baik layanan BK, edukasi kepada siswa, pengawasan lingkungan sekolah maupun mekanisme pelaporan. Jadi tindak lanjutnya dapat lebih tepat sasaran,” ujar Irpan.

Antusiasme juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, mengaku merasa lebih nyaman karena pengalamannya dipotret lewat pertanyaan berbasis situasi, bukan pertanyaan langsung yang bisa terasa menghakimi.

“Pertanyaannya menggunakan contoh kejadian yang mungkin dialami siswa, jadi lebih mudah dipahami dan dijawab. Kami juga tidak perlu menyebut nama siapa pun. Menurut saya cara seperti ini membuat siswa lebih nyaman untuk menjawab sesuai keadaan sebenarnya,” kata Ilzam.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan resmi aplikasi Virtual Literary Therapy Lab kepada SMAN 1 Besuki sebagai produk yang dapat terus dimanfaatkan untuk memperkuat layanan psikososial bagi siswa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah PKM Edu LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur bertajuk “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”

Dosen UPN Veteran Jatim Kembangkan Virtual Literary Therapy Lab, Perkuat Deteksi Perundungan dan Budaya Aman di Sekolah

Situbondo.Berdampak.Net — Tim dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur mengembangkan Virtual Literary Therapy Lab, aplikasi berbasis Android yang memadukan teknologi, literasi sastra, edukasi antiperundungan, dan refleksi emosi bagi siswa. Aplikasi tersebut disosialisasikan sekaligus diserahterimakan kepada SMAN 1 Besuki, Kabupaten Situbondo, pada 6 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di ruang kelas X B SMAN 1 Besuki mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Program dipimpin Dr. Achmad Fawaid, S.S., M.A., M.A. bersama Hanum Lintang Siwi Suwingnyo, M.A., Ambaristi Hersita Milanguni, M.A., Lailatul Fitriyah, M.Si., Moh. Ainol Yaqin, M.Kom., serta mahasiswa Nurmalita Herdiana dan Cindy Eka Aulia. Pelaksanaan kegiatan didampingi Koordinator BK SMAN 1 Besuki Ika Febrianti, S.Pd. dan Kepala SMAN 1 Besuki Irpan Hilmi, S.Pd., M.P.

Virtual Literary Therapy Lab menghadirkan sejumlah fitur yang dekat dengan pengalaman remaja, mulai dari edukasi mengenai perundungan, game antiperundungan, cerita dan puisi reflektif, hingga jurnal emosi. Teknologi tersebut dirancang bukan sebagai alat diagnosis klinis, melainkan sebagai media edukasi dan refleksi yang dapat mendukung layanan psikososial serta program budaya sekolah aman.

Ketua tim pelaksana, Dr. Achmad Fawaid, mengatakan pengembangan aplikasi tersebut menunjukkan bahwa bahasa dan sastra dapat dipertemukan dengan teknologi untuk menjawab persoalan konkret di lingkungan pendidikan.

“Kami ingin teks sastra tidak berhenti sebagai bahan bacaan di kelas. Cerita, puisi, dan aktivitas reflektif kami integrasikan dengan teknologi agar menjadi ruang yang lebih dekat dengan siswa untuk mengenali perasaan, memahami perundungan, dan mengetahui cara mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman,” ujar Fawaid.

Selain sosialisasi aplikasi, tim melaksanakan survei digital untuk memperoleh gambaran kondisi perundungan, kesehatan mental, dan budaya aman sekolah. Sebanyak 75 pertanyaan berbasis kejadian disusun dengan merujuk pada Global School-based Student Health Survey (GSHS) dari World Health Organization, indikator iklim sekolah dan paparan perundungan dalam Programme for International Student Assessment (PISA) OECD, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026.

Survei dirancang agar siswa dapat menyampaikan pengalaman secara lebih bebas tanpa harus menceritakan kasus secara langsung di hadapan guru atau teman. Data yang diperoleh diharapkan membantu sekolah memetakan bentuk perundungan, lokasi dan waktu rawan, dampak terhadap siswa, pola pelaporan, serta tingkat kepercayaan siswa terhadap mekanisme bantuan sekolah.

Kepala SMAN 1 Besuki, Irpan Hilmi, S.Pd., M.P., menyambut pemanfaatan teknologi tersebut karena dapat menyediakan informasi yang lebih terukur untuk penguatan kebijakan sekolah.

“Bagi sekolah, aplikasi dan survei ini penting bukan hanya untuk mengetahui apakah perundungan terjadi, tetapi untuk memahami bentuk dan kondisinya. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi sekolah, guru BK, dan seluruh warga sekolah dalam menentukan program pencegahan serta layanan yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Respons positif juga datang dari siswa. Muhammad Ilzam Firdausi, siswa kelas X B, menilai penyampaian materi melalui aplikasi membuat isu perundungan lebih mudah dipahami.

“Aplikasinya menarik karena kami tidak hanya membaca materi. Ada game, cerita, puisi, dan jurnal emosi. Surveinya juga membuat kami bisa menjawab berdasarkan pengalaman tanpa harus bercerita langsung di depan kelas,” ungkap Ilzam.

Kegiatan ditutup dengan serah terima Virtual Literary Therapy Lab kepada Kepala SMAN 1 Besuki untuk mendukung pemanfaatan dan pengembangan layanan sekolah selanjutnya.

Program ini merupakan pelaksanaan hibah Pengabdian kepada Masyarakat PKM Edu yang didanai LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur melalui kegiatan berjudul “Penguatan Layanan Pemulihan Psikososial melalui Aplikasi Virtual Literary Therapy Lab Berbasis Teks Sastra bagi Siswa SMAN 1 Situbondo.”

Metafora “Bumi Sekarat” hingga “Rumah Bersama”: UPNVJT dan Earth Hour Malang Racik Bahasa untuk Selamatkan Iklim

Malang.Berdampak.Net— Di balik setiap unggahan kampanye lingkungan di media sosial, ternyata ada strategi bahasa yang dirancang secara ilmiah agar pesan lebih membekas di benak audiens. Inilah yang dibuktikan Tim Riset Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) melalui kajian metafora konseptual yang didiseminasikan kepada Earth Hour Malang, Jumat (7/8/2027), di Maitri Coffee and Social Hub, Kota Malang.

Dipimpin Hanum Lintang Siwi Suwignyo, S.Pd., M.A., riset yang didanai LPPM UPNVJT ini menyasar takarir dan tagar dalam unggahan Instagram Earth Hour Malang. Fokus penelitian adalah bagaimana metafora — cara menggambarkan satu hal lewat hal lain, seperti bumi yang “sekarat” atau alam sebagai “rumah bersama” — mampu memengaruhi persepsi publik terhadap isu iklim.

Menurut tim peneliti, pemilihan metafora yang tepat tidak sekadar mempercantik kalimat, melainkan berperan membentuk cara berpikir audiens terhadap krisis lingkungan sekaligus mendorong perubahan perilaku, mulai dari hal kecil seperti mengurangi sampah plastik hingga mendukung gerakan mitigasi perubahan iklim secara luas.

Dari riset ini, tim menghasilkan luaran yang lintas bentuk: publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi Sinta 2, artikel yang akan dibawakan dalam Seminar Internasional ISRM UPNVJT pada September mendatang, buku referensi berbasis Linguistik Kognitif dan Ekolinguistik, hingga video campaign dan poster rekomendasi metafora yang bisa langsung dipakai Earth Hour Malang dalam konten media sosial mereka.

Kehadiran produk riset yang aplikatif ini mendapat sambutan hangat dari komunitas. Vice Coordinator Earth Hour Malang 2025, Abdullah Radhi Maulana, mengatakan kolaborasi dengan UPNVJT membuka cara pandang baru bagi timnya dalam menyusun konten kampanye. Senada, Coordinator Earth Hour Malang 2026, Keitha, menilai temuan soal kekuatan bahasa ini relevan dengan karakter audiens mereka yang mayoritas generasi Z, yang menurutnya lebih mudah tergerak lewat narasi yang emosional dan dekat dengan keseharian.

Efek dari riset ini pun dirasakan langsung oleh sejumlah peserta diseminasi. Salah satunya Ryan, Public Relation Earth Hour Malang, yang mengaku tersentuh usai menyaksikan video campaign hasil penelitian. Ia menyebut kebiasaan sederhana yang selama ini dijalankannya, seperti membawa tumbler sendiri, kini terasa punya makna lebih besar sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan.

Ketua tim peneliti, Hanum, menegaskan bahwa bahasa dan kesadaran manusia saling memengaruhi secara timbal balik. Cara seseorang berbahasa mencerminkan pola pikirnya, sekaligus bahasa yang digunakan dapat membentuk kembali cara pandang dan tindakan orang tersebut terhadap lingkungan.

Kolaborasi riset dan komunitas ini menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan di kampus tidak berhenti di ruang akademik, melainkan dapat diterjemahkan menjadi alat komunikasi yang aplikatif bagi masyarakat sipil, sekaligus memperkuat kontribusi dunia pendidikan tinggi dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) 13: Climate Action.

Dispusip Probolinggo Perkuat Budaya Literasi lewat Lomba Resensi Buku Tingkat Pelajar

Probolinggo.Berdampak.Net– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat upaya menumbuhkan budaya literasi di kalangan pelajar dengan menyelenggarakan Lomba Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan Tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Tahun 2026. Sebagai tahap awal, Dispusip menggelar kegiatan pembekalan bagi para peserta pada Kamis (6/8/2026) di Ruang Pustakaloka, Kantor Dispusip Kabupaten Probolinggo.

Kepala Dispusip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, S.H., M.M., mengatakan lomba ini digagas bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus informasi di era digital, ia menilai kemampuan membaca dan menganalisis menjadi bekal penting bagi pelajar agar tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks.

“Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berkomitmen untuk terus menumbuhkan budaya literasi,” ujarnya saat membuka kegiatan, seraya menyebut program mobil perpustakaan keliling dan pojok baca sebagai ikhtiar lain yang telah dijalankan dinasnya untuk tujuan yang sama.

Pembekalan ini diikuti 50 pelajar hasil seleksi dewan juri, terdiri dari 25 siswa SMP/MTs dan 25 siswa SMA/SMK/MA se-Kabupaten Probolinggo. Dua narasumber, yaitu seorang praktisi/pegiat literasi dan seorang akademisi, dihadirkan untuk membekali peserta dengan teknik penulisan resensi sebelum mereka berkompetisi.

Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini merupakan jawaban atas rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Data UNESCO tahun 2024 mencatat minat baca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 0,001, sementara hasil PISA 2022 menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia di peringkat 68 dari 79 negara. Lomba resensi dipandang mampu mendorong siswa membaca buku secara tuntas sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan menulis.

Dana penyelenggaraan lomba dan pembekalan ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Perpustakaan Nasional Tahun Anggaran 2026. Melalui kegiatan ini, Dispusip Kabupaten Probolinggo berharap dapat lahir generasi muda yang gemar membaca, kritis, kreatif, dan berkarakter, sejalan dengan visi “Generasi Probolinggo Cerdas Berbasis Literasi”.

UPN “Veteran” Jatim Gandeng SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Latih Guru Analisis Morfologi Bahasa Indonesia

Sidoarjo.Berdampak.Net– Program Studi Linguistik Indonesia dan Program Studi Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (BISPRO), Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik UPN “Veteran” Jawa Timur menggelar Pelatihan Analisis Proses Morfologi bagi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Sabtu (1/8).

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tersebut diikuti oleh guru-guru Bahasa Indonesia SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo selama sehari penuh. Rangkaian pelatihan meliputi pre-test, pendalaman materi afiksasi, pembahasan hasil evaluasi, penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), hingga presentasi hasil diskusi.

Ketua tim pengabdian, Hanum Lintang Siwi Suwignyo, S.Pd., M.A., mengatakan pelatihan ini digagas untuk menjembatani hasil kajian linguistik di perguruan tinggi dengan kebutuhan praktik mengajar di sekolah.

“Perguruan tinggi memiliki banyak hasil kajian kebahasaan yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menjembatani hasil kajian tersebut dengan praktik mengajar guru sehingga materi yang disampaikan kepada siswa menjadi lebih relevan dan mudah diterapkan,” ujarnya.

Wakil Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Alful Musrifah, M.Pd., menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi memberi kesempatan bagi guru untuk memperbarui wawasan sesuai perkembangan ilmu bahasa.

“Guru memang harus terus belajar. Kolaborasi dengan dosen membuat kami memperoleh sudut pandang baru, terutama mengenai analisis morfologi yang dapat dikembangkan menjadi strategi pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa,” katanya.

Salah satu peserta, Khusnul Isa, M.Pd., Gr., mengaku mendapat banyak ide baru yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

“Forum seperti ini penting karena kami bisa bertukar pengalaman dengan guru lain sekaligus berdiskusi langsung dengan narasumber. Kami jadi memiliki referensi baru dalam menyusun soal maupun aktivitas belajar yang melatih kemampuan analisis siswa,” ujarnya.

Tim pengabdian dalam kegiatan ini terdiri atas Hanum Lintang Siwi Suwignyo, S.Pd., M.A., Ambaristi Hersita Milanguni, S.Pd., M.A., Moulidvi Rizki Permita, S.Hum., M.A., dan Renta, S.Pd., M.A. Mereka berharap kolaborasi serupa dapat terus dikembangkan melalui tema-tema kebahasaan lainnya, sebagai upaya menghubungkan hasil penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di sekolah