Dorong Legalitas Aset Ibadah, PKB Probolinggo Gelar Program Sertifikasi Wakaf

Probolinggo, Berdampak.net — Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Probolinggo resmi meluncurkan Program Pendampingan Sertifikasi Wakaf. Inisiatif ini diperkenalkan langsung oleh Ketua DPC, KH Fahmi Abdul Haq Zaini, dalam sebuah pertemuan internal kader yang juga dihadiri sejumlah tokoh keagamaan dan pengurus wakaf di daerah tersebut.

Menurut penjelasan panitia, program ini menargetkan tanah maupun bangunan wakaf milik masjid, musala, pondok pesantren, madrasah, serta lembaga keagamaan lain di seluruh Kabupaten Probolinggo. Tim pendamping—yang terdiri atas kader PKB dengan latar belakang hukum pertanahan—akan membantu proses administrasi, mulai dari pengumpulan berkas, pengukuran bidang, hingga pendaftaran ke Kantor Pertanahan setempat.

PKB menyatakan, pendampingan tersebut bertujuan meningkatkan literasi hukum masyarakat mengenai perwakafan sekaligus memastikan aset-aset keagamaan terlindungi dari potensi sengketa atau alih fungsi di kemudian hari. “Sertifikat wakaf adalah tameng hukum agar tanah ibadah tidak mudah digugat atau dialihkan,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis.

Selain menyediakan layanan konsultasi gratis, program ini juga akan menggandeng Badan Wakaf Indonesia (BWI), Kementerian Agama, dan Kantor ATR/BPN Kabupaten Probolinggo untuk percepatan penerbitan sertifikat. Verifikasi lapangan dijadwalkan bergulir mulai Juli 2025 dengan prioritas pada lokasi yang telah lama menunggu legalisasi status wakaf.

PKB berharap skema pendampingan ini menjadi model kolaborasi partai-masyarakat dalam menjaga aset umat serta memperkuat basis keagamaan di Probolinggo. Sosialisasi lanjutan akan digelar di tiap kecamatan guna menjaring masjid dan lembaga lain yang siap mengikuti proses sertifikasi. (fj)

Digitalisasi Berbuah Manis: Mahasiswa KKN UNUJA Bantu Seblak Teteh Tembus Omzet Rp 5 Juta Sehari

Probolinggo, Berdampak.net– Di balik dapur sederhana di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, aroma seblak khas Bandung menyeruak menggoda. Namun kini, bukan hanya cita rasa yang menarik perhatian publik, melainkan lonjakan omzet yang berhasil diraih berkat sentuhan digitalisasi dari mahasiswa Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Probolinggo.

Lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Outcome-Based Education (OBE) tahun 2025, para mahasiswa UNUJA melakukan pendampingan intensif terhadap UMKM “Seblak Prasmanan Teteh Khas Bandung”. Kegiatan yang berlangsung sepanjang Mei ini tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi fokus pada promosi digital dan strategi pemasaran berbasis teknologi.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UNUJA yang didesain untuk menghadirkan solusi konkret bagi pelaku usaha lokal. Tim mahasiswa menggandeng langsung pemilik usaha, Teteh Yuyun, dalam proses pembelajaran dan praktik digital marketing.

“Kami ingin membuktikan bahwa UMKM pun bisa naik kelas jika dibekali dengan strategi yang tepat di era digital,” ujar Dosen Pendamping Lapangan, Mufidatul Himmah, M.E.

Transformasi dimulai dari hal mendasar: pembuatan akun Instagram dan TikTok bisnis. Dari sana, tim melangkah ke tahap yang lebih strategis, yakni mendaftarkan usaha pada platform layanan pesan-antar makanan seperti GoFood dan GrabFood. Tak berhenti di situ, para mahasiswa juga memberikan pelatihan pembuatan konten: mulai dari teknik foto produk yang menggugah selera, penulisan caption yang persuasif, hingga penggunaan hashtag yang mampu meningkatkan jangkauan.

Sebagai puncak strategi, tim mengundang seorang food vlogger lokal untuk mencicipi dan mengulas langsung Seblak Teteh. Ulasan tersebut kemudian tayang di media sosial, dan dalam hitungan hari, Seblak Teteh menjadi buah bibir di jagat maya.

Hasilnya? Luar biasa. Dalam dua minggu pertama, omzet harian naik rata-rata 30%. Puncaknya terjadi saat unggahan si vlogger viral, dan penjualan melonjak hingga dua kali lipat.

“Dulu paling tinggi Rp3 juta per hari. Tapi setelah masuk GoFood dan viral, pernah sampai Rp5 juta sehari,” ungkap Teteh Yuyun penuh syukur.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sentuhan digital bukanlah sekadar tren, tetapi kebutuhan mutlak bagi UMKM yang ingin berkembang. Lebih dari sekadar angka, pengalaman ini memberikan kepercayaan diri bagi pelaku usaha lokal untuk terus tumbuh dan berinovasi.

Bagi tim KKN UNUJA, pengalaman ini juga menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya hadir membawa teori, tapi juga solusi. Mereka tidak hanya belajar bersama masyarakat, tetapi turut mengubah nasib dan membuka masa depan baru bagi pelaku UMKM.

“Kami berharap ini bukan akhir, tapi awal dari kemitraan jangka panjang. Ke depan, Seblak Teteh bisa menjadi inspirasi UMKM digital lain, terutama yang tumbuh di lingkungan pesantren,” tutup Mufidatul Himmah. (pm)