Mendorong Kebijakan Transportasi Publik di Probolinggo: Menata Kota, Mengurai Kemacetan, dan Membangun Budaya Baru


Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo & Pemerhati Kebijakan Publik

Transportasi publik merupakan wajah peradaban sebuah kota. Ia bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan instrumen penting dalam menata ruang, mengurai kemacetan, sekaligus membangun budaya masyarakat yang lebih tertib, efisien, dan berkelanjutan. Kota dan Kabupaten Probolinggo, dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang semakin dinamis, memerlukan langkah konkret dalam penyediaan sarana transportasi publik yang terintegrasi dan modern.

Saat ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang memicu kemacetan, tetapi juga penataan kota yang mulai terbebani oleh kepadatan lalu lintas di kawasan strategis. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup warga, tetapi juga menghambat laju investasi dan pariwisata—dua sektor yang menjadi motor penting pembangunan Probolinggo.

Oleh karena itu, pemerintah kota dan kabupaten perlu hadir dengan kebijakan yang progresif. Penyediaan transportasi publik berupa bus perkotaan, angkutan massal yang nyaman, aman, dan terjangkau adalah kebutuhan mendesak. Lebih jauh, kebijakan ini harus diiringi dengan pembangunan infrastruktur pendukung seperti halte yang layak, jalur khusus, hingga sistem pembayaran digital yang memudahkan. Integrasi antarwilayah juga harus dipikirkan, sehingga mobilitas warga antara Kota dan Kabupaten Probolinggo tidak terputus.

Namun, penyediaan sarana saja tidak cukup. Dibutuhkan rekayasa kebijakan yang mampu menumbuhkan budaya baru: budaya menggunakan transportasi publik. Edukasi kepada masyarakat, kampanye kesadaran lingkungan, hingga pemberian insentif bagi pengguna transportasi umum adalah strategi penting untuk menggeser paradigma dari “bangga bermobil pribadi” menjadi “bangga menggunakan transportasi publik”.

Jika kebijakan ini diwujudkan, Probolinggo tidak hanya sekadar menata kota dan mengurai kemacetan, tetapi juga membangun identitas baru sebagai daerah yang peduli pada kualitas hidup warganya. Transportasi publik adalah investasi jangka panjang, bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk generasi mendatang.

Saat Hati Kehilangan Cahayanya

Oleh: Ustadz Ahmad Muzakki Kholil
Direktur Aswaja NU Center & Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Probolinggo

Di dalam diri setiap manusia, ada taman jiwa. Di sanalah kebaikan dan keburukan bersaing untuk tumbuh. Terkadang, kita menanam bunga-bunga kebaikan, yang mekar karena ketulusan. Namun, ada kalanya kita membiarkan gulma maksiat tumbuh subur, merusak keindahan taman itu.

Maksiat bukan hanya sekadar perbuatan salah. Ia adalah virus yang perlahan menyerang hati kita. Awalnya, ia hanya melemahkan niat baik. Tapi lama-kelamaan, ia mulai mengubah hati itu sendiri. Keinginan untuk berbuat baik yang tadinya kuat, kini meredup seperti lilin yang hampir padam. Sebaliknya, dorongan untuk melakukan kesalahan justru semakin besar, membuat kita ketagihan.

Seiring waktu, kebiasaan buruk ini menjadi rantai yang mengikat. Hati kita menjadi keras, tak lagi merasakan sakitnya penyesalan. Meski mulut masih bisa mengucapkan “ampun,” itu hanya kata-kata kosong tanpa makna. Hati sudah terbiasa dengan kegelapan, dan enggan kembali ke cahaya.

Mereka yang sampai pada titik ini, seolah terjebak di dasar sumur yang gelap. Air mata penyesalan mengering, dan harapan untuk keluar terasa mustahil. Mereka lupa bahwa pintu taubat selalu terbuka, dan tangan Tuhan selalu terulur. Tapi yang paling menyedihkan, mereka tidak lagi punya kemauan untuk meraihnya. Hati mereka telah menjadi tanah tandus yang tak lagi bisa menumbuhkan benih kebaikan.

Maka, berhati-hatilah. Setiap maksiat kecil adalah kerikil yang kita lempar ke dalam kolam hati. Jika terus-menerus, ia akan mengaburkan kejernihan hati kita.

Jagalah hati kita dengan kebaikan, kuatkan tekad dengan dzikir dan introspeksi, agar cahayanya tak pernah padam. Sebab, pertarungan terbesar kita adalah melawan diri sendiri.

Condong Carnival Festival 2025: Semangat Budaya dan Kemerdekaan di Tengah Hujan

Probolinggo, Berdampak.net – Desa Condong, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, kembali menggelar Condong Carnival Festival (CCF) pada Selasa, 19 Agustus 2025. Acara tahunan ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Meskipun diguyur hujan deras, semangat warga dan peserta tidak surut sedikit pun.
Festival ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar TK/RA, SD/MI, hingga SMA/MA, serta kelompok umum dan perwakilan RT. Tidak hanya dari Kabupaten Probolinggo, peserta juga datang dari luar daerah, seperti Madura dan Kabupaten Lumajang. Mereka menampilkan beragam atraksi budaya, mulai dari tarian tradisional, busana khas daerah, hingga pertunjukan seni yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.
Meskipun hujan deras mengguyur wilayah tersebut, warga tetap bertahan di tempat, menikmati setiap penampilan yang disuguhkan. Ini membuktikan bahwa semangat masyarakat untuk merayakan kemerdekaan dan melestarikan budaya begitu tinggi.
Wakil Bupati Probolinggo, Ra Fahmi AHZ, hadir secara langsung dalam acara tersebut. Kehadirannya disambut hangat oleh Camat Gading Satrio Sinung Raharjo, jajaran Forkopimka, serta Kepala Desa Condong Jasuri beserta perangkat desa. Wabup Fahmi mengapresiasi penyelenggaraan CCF yang telah tiga tahun berturut-turut digelar. Festival ini bukan hanya hiburan, tetapi juga merupakan ekspresi cinta terhadap Tanah Air dan budaya bangsa.
Kepala Desa Condong, Jasuri, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan serta ungkapan kebahagiaan masyarakat. “Ini adalah bagian dari identitas kami sebagai bangsa yang mencintai budayanya,” ujarnya. Sementara itu, Wabup Fahmi mengingatkan pentingnya mengenal dan mencintai budaya sendiri agar tidak kalah oleh budaya asing. “Ini bagian dari tanggung jawab kita dalam mengisi kemerdekaan secara produktif dan positif,” tegasnya.
Lebih jauh, Wabup Fahmi berharap acara seperti ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan daya saing daerah, tidak hanya di tingkat Jawa Timur, tetapi juga secara nasional. “Condong Carnival Festival 2025 berhasil membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan secara kreatif, meriah, dan melibatkan semua lapisan masyarakat, bahkan di tengah hujan sekalipun,” pungkasnya.
Dengan semangat yang tinggi dan dukungan dari berbagai pihak, Condong Carnival Festival 2025 menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan bersama.(fj)

Perkuliahan Fleksibel, Sekolah Pascasarjana Jadi Pilihan Karyawan

Malang, Berdampak.net – Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) menggelar kegiatan Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (ORDIK) tahun 2025 pada Selasa 19 Agustus 2025. Peserta kegiatan sejumlah 348 mahasiswa baru dari berbagai program magister dan doktor hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi gerbang awal perjalanan akademik mereka di UB. Kegiatan ORDIK tidak sekadar memperkenalkan aturan akademik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang visi misi universitas, tata kelola pendidikan, hingga pengembangan soft skills. Melalui agenda ini, mahasiswa diharapkan dapat membangun jejaring, mengenal lebih dekat budaya akademik, serta menumbuhkan rasa kebersamaan lintas program studi.

Tingginya animo pendaftar tahun ini menunjukkan bahwa Pascasarjana UB semakin dipercaya sebagai pilihan utama bagi mereka yang ingin melanjutkan studi lanjut. Menariknya, mayoritas mahasiswa baru berasal dari kalangan karyawan aktif yang membutuhkan sistem pembelajaran fleksibel tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Fleksibilitas perkuliahan menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan oleh Sekolah Pascasarjana. UB menyediakan skema kuliah tatap muka, daring, maupun hybrid sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan dengan kesibukan profesional masing-masing. Sekolah Pascasarjana UB tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Berbagai mahasiswa baru dengan latar belakang beragam—mulai dari pendidik, birokrat, praktisi, hingga tenaga profesional—saling berbaur dan berbagi pengalaman. Hal ini mencerminkan karakter Sekolah Pascasarjana UB sebagai ruang akademik inklusif yang menampung berbagai pemikiran dan perspektif. Mahasiswa juga didorong untuk menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan solusi bagi permasalahan nyata di masyarakat.

Menariknya, pada tahun ini terdapat empat karyawan aktif dari PT POMI (Paiton Operations & Maintenance Indonesia) yang mendapatkan kesempatan khusus berupa beasiswa pendidikan untuk menempuh studi di Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan (PSLP) Universitas Brawijaya. Pemberian beasiswa ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus kolaborasi nyata dunia industri dengan dunia akademik. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran melalui pengalaman praktis di lapangan, serta menghasilkan penelitian yang relevan dengan isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Rochman Hidayat HCFC Manager PT POMI menyampaikan bahwa Perusahaan memiliki program education assistance yang merupakan bagian dari program development SDM Perusahaan melalui jalur Pendidikan formal, dimana Karyawan bisa melanjutkan kuliah dari jenjang diploma ke sarjana dan sarjana ke Magister. Dan dengan adanya program di Sekolah Pascasarjana yang mengakui portofolio menjadi SKS sehingga bisa mempersingkat masa kuliah dan juga tentunya dengan gaya pembelajaran yang adaptif terhadap kelas Karyawan tentunya sangat bermanfaat untuk para pekerja khusus di sektor swasta.

Salah satu penerima beasiswa dari PT POMI, M. Lubab, menyampaikan bahwa kesempatan melanjutkan studi di Program Magister PSLP Universitas Brawijaya merupakan pengalaman yang sangat berharga. “Sebagai karyawan aktif, saya sangat terbantu dengan sistem perkuliahan yang fleksibel. Kami bisa mengikuti kelas daring tanpa harus mengorbankan tanggung jawab pekerjaan di kantor. Ini sangat memudahkan kami dalam menjaga keseimbangan antara studi dan karier,” ujarnya.

Lubab juga menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran di Sekolah Pascasarjana UB sangat relevan dengan tantangan dunia kerja saat ini. “Materi kuliah yang aplikatif, diskusi yang terbuka, serta keberagaman latar belakang mahasiswa membuat proses belajar menjadi lebih kaya dan dari berbagai bidang disiplin ilmu yang berbeda serta pengalaman praktik lapangan yang cukup luas. Kami tidak hanya belajar dari dosen, tetapi juga dari pengalaman rekan-rekan satu kelas,” katanya.

Ia berharap, kolaborasi antara dunia industri dan akademik seperti ini dapat terus diperluas. “Dengan dukungan perusahaan dan kualitas pendidikan yang adaptif, kami bisa menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat luas tentunya untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tutupnya. (fj)