Santri dan Moderasi Beragama: Merajut Harmoni di Tengah Kemajemukan

Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Hari Santri diperingati secara resmi sebagai Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, artinya baru 10 (sepuluh) tahun lalu. Namun adanya peresmian peringatan Hari Santri Nasional pada tahun 2015 tersebut bukanlah sebagai penanda awal kiprah santri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Namun hal itu lebih sebagai faktor pengingat bahwa santri memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di era kolonialisme yang sangat panjang. Menurut Saputra (2019) bahwa dalam sejarah, santri tidak hanya berperan sebagai pemuka agama, tetapi juga sebagai elemen penting yang turut serta dalam membentuk narasi kebangsaan. Santri berperan besar meletakkan pondasi kebangsaan yang sangat kuat bagi berdirinya pilar-pilar kebangsaan. Yaitu nilai-nilai spiritualitas yang menjunjung tinggi prinsip Ketuhanan dan penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Disini pula peran santri yang berakar dari pesantren seperti KH. Hasyim dan putra beliau KH. Wahid Hasyim turut berperan penting “mempertemukan” Agama dan Negara dalam bingkai kebangsaan yang bernama Indonesia.

Oleh karena itu ketika bangsa ini berbicara tentang moderasi beragama, maka tidak adil jika mengabaikan peran santri dari diskursus tersebut. Sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan hingga kini, santri selalu hadir sebagai entitas yang menempatkan agama bukan sekadar simbol keimanan, tetapi juga sebagai inspirasi kebangsaan. Momentum Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi pengingat penting sekaligus penggugah bahwa semangat cinta tanah air, toleransi, dan keseimbangan berpikir telah lama hidup dalam denyut nadi pesantren.

Moderasi Beragama dan Nilai-nilai Kebangsaan

Indonesia sebagai negara yang sangat majemuk —dari agama, suku, bahasa, hingga budaya. Dalam perspektif ini moderasi beragama menjadi kebutuhan mendesak sekaligus solusi, bukan hanya sebatas slogan. Kementerian Agama RI mendefinisikan moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang selalu mengambil jalan tengah, menghindari ekstremisme, serta menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi informasi dengan ditandai oleh digitalisasi informasi yang melahirkan postruth, kita juga menghadapi tantangan baru: penyebaran paham radikal, polarisasi sosial, dan ujaran kebencian berbasis agama di ruang publik dan digital. Di sinilah kontribusi santri menjadi sangat relevan. Santri tidak hanya dibekali pengetahuan agama yang mendalam, tetapi juga diajarkan untuk menimbang segala sesuatu dengan akal sehat dan hati yang seimbang nan jernih.

Nilai-nilai Pesantren sebagai Fondasi Moderasi

Dalam tradisi pesantren, nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) bukan sekedar teori, melainkan bagian dari perilaku keseharian. Santri dibentuk untuk berpikir jernih, tidak tergesa-gesa menilai, dan senantiasa mencari titik temu di tengah perbedaan. Menjadi jembatan penghubung diantara jurang pemisah perbedaan.

Nilai-nilai ini bersumber dari ajaran Islam rahmatan lil alamin — Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Seorang santri belajar untuk menghargai guru, teman, bahkan mereka yang berbeda pandangan. Pembelajaran dari Kitab Adabul Alim Wal Mutaalim karya KH. Hasyim Asyari mengaktualisasikan bahwa akhlak dalam pendidikan adalah fondasi yang kuat dan ditransformasikan untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dan harmonis, sesuatu yang sangat diperlukan dalam masyarakat modern yang serba cepat dan sering kali kurang memperhatikan nilai-nilai humanis. Sikap inilah yang menjadi basis etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan modal nilai-nilai tersebut, santri sejatinya adalah “moderator” alami dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan. Mereka menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks, antara agama dan kemanusiaan.

Santri sebagai Motor Penggerak Harmoni dan Persaudaraan

Dalam kehidupan sosial, santri seringkali menjadi pionir dalam membangun ruang-ruang dialog lintas iman dan lintas budaya. Keberadaan pesantren dengan para santrinya turut aktif bermitra dengan pemerintah dan entitas
masyarakat lainnya dalam menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren bukan entitas eksklusif, melainkan terbuka terhadap kebinekaan.

Selain itu, santri juga hadir di ruang digital dengan wawasan keilmuan yang mengkolaborasi wawasan keilmuan kontemporer dan agama dengan pendekatan inklusifitas. Banyak komunitas santri muda yang aktif membuat konten edukatif tentang Islam yang sejuk, dialogis, dan penuh kasih. Gerakan Santri dalam jagat digital merupakan bentuk nyata dari adaptasi santri terhadap tantangan era digital tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaannya.

Menjaga Tradisi dan Beradaptasi dengan Kemajuan

Santri dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang moderat. Namun, di saat yang sama, mereka juga adaptif terhadap perubahan zaman. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berpesan bahwa santri harus mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artinya, nilai-nilai klasik yang diwariskan ulama harus terus dihidupkan, tetapi juga perlu dikontekstualisasikan dengan tantangan baru. Sebagaimana kaidah yang populer di kalangan pesantren yaitu mempertahankan nilai-nilai lama yang masih baik dan menerima nilai-nilai baru yang lebih baik. Kaidah ini terkenal dalam bahasa Arab yaitu Al mukhafadhutu ala Qodimissholeh Wal Akhdu bil Jadidi wal Aslah.

Dalam perspektif kebangsaan, hal ini bermakna bahwa santri tidak hanya berkutat di ranah keagamaan, melainkan juga berperan aktif dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Banyak alumni pesantren kini menjadi akademisi, pejabat publik, wirausahawan, pegiat sosial hingga politisi yang tetap membawa semangat moderasi beragama.

Sinergi dengan Program Nasional Moderasi Beragama

Program Penguatan Moderasi Beragama yang digagas Kementerian Agama sejak 2019 sejatinya mendapat dukungan moral dan konseptual dari pesantren. Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren seirama dengan empat indikator moderasi beragama versi Kemenag, yakni: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal.

Oleh sebab itu, santri bukan hanya obyek program, namun juga menjadi mitra strategis dan konstruktif dalam implementasinya. Oleh karena Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menaungi para santri dapat menjadi penggerak moderasi beragama — tempat di mana nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dirawat melalui pembelajaran agama yang inklusif dan rasional.

Refleksi: Santri dan Masa Depan Kebangsaan

Di tengah berbagai tantangan kehidupan sebagaimana tersebut di atas, santri memikul tanggung jawab moral yang sangat berat. Mereka tidak cukup hanya memahami keilmuan agama secara tekstual, namun juga harus mampu menafsirkan secara kontekstual kedalam realitas sosial dengan bijak. Santri masa kini harus berani tampil sebagai katalisator di tengah konflik, sebagai penyejuk di tengah panasnya perdebatan terutama di media sosial, dan sebagai penjaga harmoni dalam keberagaman.

Sebagaimana halnya pesantren mengajarkan tentang memuliakan kemanusiaan dengan Akhlaqul karimah, memegang komitmen kebangsaan, dan mengamalkan agama dengan cinta, bukan kebencian.

Maka dari itu, moderasi beragama bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Dan santri, dengan segala kearifan dan keikhlasannya, akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan dan harmoni bagi Indonesia agar tetap damai, toleran, berkeadaban dan berkemajuan.

Festival Rangkarang di Randutatah, Kolaborasi Seni dan Ekonomi Warga Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, sukses menggelar Festival Rangkarang pada Sabtu (18/10/25) di wisata Greenthing Beach and Mangrove Forest. Acara ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kepala Desa Randutatah, Suham, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan bentuk komitmen desa dalam menjaga eksistensi seni dan budaya yang mulai ditinggalkan masyarakat.

Menurutnya, arus globalisasi membuat minat terhadap seni tradisional menurun. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan kegiatan yang mampu menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya lokal.

“Festival Rangkarang bukan sekadar hiburan. Ini adalah langkah konkret agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak melupakan akar budayanya,” ujar Suham.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Banyak warga yang berjualan makanan, minuman, dan produk kerajinan selama acara berlangsung.

“Melalui kegiatan budaya, ekonomi warga juga ikut bergerak. Kami ingin desa menjadi pusat kegiatan yang bermanfaat bagi banyak pihak,” tambahnya.

Festival ini menampilkan beragam pertunjukan kesenian tradisional, mulai dari musik daerah, tari, hingga teater rakyat. Berbagai kelompok seni dari Randutatah dan desa sekitar turut ambil bagian memeriahkan acara.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Sejak pagi hingga malam hari, ratusan pengunjung memadati area festival untuk menikmati sajian budaya yang penuh warna dan makna.

Manager SDM PT POMI, Rochman Hidayat, turut hadir dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Rangkarang. Menurutnya, kegiatan seperti ini memperkuat hubungan sosial dan menjadi wadah ekspresi budaya masyarakat.

“POMI mendukung penuh kegiatan seni dan budaya di lingkungan sekitar. Melalui festival ini, kita tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga membangun potensi wisata dan ekonomi desa,” kata Rachman.

Selain itu, Kepala Budang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Arief Hermawan, memberikan apresiasi kepada pemerintah desa atas inisiatifnya dalam menggelar festival tersebut.

Ia menilai, kegiatan ini menunjukkan bahwa Randutatah memiliki kesadaran budaya yang kuat dan dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Kabupaten Probolinggo.

“Festival Rangkarang adalah contoh bagaimana pendidikan karakter dan pelestarian budaya bisa berjalan seiring. Anak-anak muda perlu diperkenalkan dengan kekayaan budaya daerahnya,” ujar Arif.

Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan bagi para peserta dan penampilan kolaboratif dari siswa sekolah dasar setempat. Pementasan tersebut menjadi simbol semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga dan mencintai budaya lokal. (pm)