Talkshow Penutupan Bulan K3 Dorong Penguatan Budaya Keselamatan Kerja di Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Upaya membangun kesadaran keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini tercermin dalam kegiatan Talkshow Penutupan Bulan K3 yang digelar pada Kamis (12/2/2026) di Ruang PRIC Mall Pelayanan Publik Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Mengusung tema “Membangun Budaya K3 melalui Pencegahan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja di Tempat Kerja”, kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, lembaga jaminan sosial, praktisi kesehatan kerja, dan masyarakat untuk memperkuat pemahaman bahwa keselamatan kerja bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari budaya organisasi.

Acara menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo, Saniwar, S.Sos., M.Si, menegaskan pentingnya komitmen perusahaan dalam menerapkan standar K3 sebagai fondasi produktivitas tenaga kerja. Menurutnya, perlindungan pekerja harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan beban operasional.

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Probolinggo, Nurhadi Wijayanto, SE, MM, menyoroti peran jaminan sosial ketenagakerjaan dalam memberikan perlindungan terhadap risiko kerja. Ia mengajak para pelaku usaha dan pekerja untuk memastikan kepesertaan aktif sebagai bentuk mitigasi risiko yang nyata.

Dari sisi kesehatan kerja, Dr. dr. Lubna Anwar Sadat, MKK., Sp.Ok, HIMA, AIFO-K, dokter okupasi Rumah Sakit Wonolangan, mengulas pentingnya pencegahan penyakit akibat kerja melalui pendekatan promotif dan preventif. Beliau menekankan bahwa deteksi dini serta pengelolaan lingkungan kerja yang sehat dapat menekan dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup pekerja.

Kegiatan yang dipandu oleh Master of Ceremony Izzah Afkarina ini berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari perwakilan perusahaan, tenaga kerja, hingga masyarakat umum.

Melalui talkshow ini, penyelenggara berharap semangat Bulan K3 tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan berlanjut menjadi praktik nyata di lingkungan kerja masing-masing. Budaya K3 diharapkan tumbuh sebagai kesadaran kolektif bahwa keselamatan kerja adalah tanggung jawab bersama untuk menciptakan dunia kerja yang produktif, aman, dan berkelanjutan. (and)

Pemerintah Kecamatan Gending Gandeng PT POMI Gelar Pelatihan Bank Sampah

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kecamatan Gending berkolaborasi dengan PT POMI–Paiton Energy menggelar pelatihan bank sampah dan kewirausahaan berbasis bank sampah di Recreation Hall POH 1, Jalan Raya Surabaya–Situbondo Km 141 Paiton Kabupaten Probolinggo, Kamis dan Jum’at (12-13/2/2026).

Kegiatan ini diikuti 85 peserta dengan melibatkan unsur PKK Kecamatan Gending (Ketua, Sekretaris dan Ketua Pokja III), kader lingkungan dan/atau calon pengurus bank sampah desa, perwakilan unit usaha BUMDes, Komunitas Alam Hijau, unsur Pramuka, perwakilan Puskesmas (sanitasi lingkungan dan promosi kesehatan), organisasi kemasyarakatan (Muslimat dan Fatayat), dunia usaha (PT Sasa Inti Gending dan PT Sinergi Gula Nusantara/PG Gending) serta unsur pendidikan dari SMAN 1 Gending, SMKN 1 Gending dan SMPN 1 Gending.

Pelatihan bank sampah dan kewirausahaan berbasis bank sampah ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, Manager Human Capital Facilities and Community (HCFC) PT POMI Rochman Hidayat, Facility Supervisor Erfin Budianto, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo Jurianto, Camat Gending Winda Permata Erianti serta perwakilan Puskesmas Gending.

Manager HCFC PT POMI Rochman Hidayat menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun dalam momentum peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tersebut.

“Kami berterima kasih karena kegiatan ini tidak kami laksanakan sendiri, tetapi didukung oleh berbagai stakeholder, termasuk Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo dan para mitra,” ujarnya.

Rochman menegaskan persoalan sampah bukan hanya isu daerah, melainkan juga menjadi perhatian serius di lingkungan perusahaan. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan program lingkungan lainnya, PT POMI berupaya memastikan pengelolaan sampah berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan.

“Kami diminta oleh pemerintah dan KLHK untuk melihat sampah bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan. Setiap bulan kami wajib melaporkan neraca sampah, mulai dari jumlah yang diolah hingga yang dibuang ke TPA. Jika rasionya tidak seimbang, itu menjadi catatan penting bagi kami,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini perusahaan dituntut mampu mengurangi pembuangan sampah ke TPA hingga 30–40 persen melalui pengelolaan mandiri. Berbagai inisiatif telah dijalankan, mulai dari pelatihan eco enzyme, pembuatan kompos, budidaya maggot hingga pengembangan perikanan berbasis hasil olahan sampah.

“Dulu mungkin 100 persen sampah langsung ke TPA. Sekarang tidak bisa lagi seperti itu. Kami sudah menginisiasi pengelolaan di kompleks perusahaan, termasuk di PLTU. Harapannya, kegiatan hari ini dan penguatan bank sampah bisa menjadi role model baru di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Sementara Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Umi Haniah Fahmi AHZ menegaskan isu lingkungan hidup kini telah menjadi isu global yang menentukan masa depan peradaban manusia.
“Persoalan sampah, perubahan iklim, pencemaran air dan tanah serta menurunnya kualitas lingkungan hidup adalah tantangan nyata yang kita hadapi bersama,” katanya.

Menurut Ning Hani, sampah tidak selalu menjadi masalah apabila dikelola dengan baik. “Sampah sering dipandang sebagai masalah. Namun jika dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi sumber daya ekonomi. Di sinilah pentingnya bank sampah dan kewirausahaan berbasis sampah,” jelasnya. (fiq)