Genderang Perang Terbuka: Menguji Ketangguhan “Benteng” Gus Yahya

Oleh: Ponirin Mika
(Pengamat Sosial Keagamaan dan Politik)

Acara halal bihalal Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) baru-baru ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di balik tawa dan jabat tangan, terselip narasi politik yang tajam dan vulgar. Statemen yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh sentral seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nasaruddin Umar memberikan sinyal kuat bahwa ada poros kekuatan baru yang sedang dikonsolidasikan untuk menjadi bagian daripada kegiatan muktamar NU mendatang.


Sinyalemen ini terbaca jelas sebagai upaya sistematis untuk menghalangi KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam melanjutkan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua. Serangan yang dilancarkan bukan lagi berupa sindiran halus khas pesantren, melainkan sudah memasuki ranah konfrontasi terbuka yang sangat eksplisit. Hal ini menandakan bahwa suhu politik di internal nahdliyin sedang mengalami pemanasan dini.


Keterlibatan Muhaimin Iskandar dalam barisan ini tentu memiliki latar belakang historis dan politis yang panjang. Ketegangan antara PBNU di bawah kendali Gus Yahya dengan PKB telah menjadi rahasia umum. Upaya Gus Yahya untuk “mengembalikan NU ke khittah” dan menjauhkan organisasi dari tarikan politik praktis partai tertentu dirasa sebagai ancaman eksistensial bagi gerbong politik Cak Imin.


Di sisi lain, kehadiran sosok seperti Nusron Wahid dan Nasaruddin Umar dalam gerbong kritik ini menambah bobot seakan makin nampak perlawanan tersebut. Nusron, dengan jaringan politiknya yang luas, serta Nasaruddin Umar yang memiliki pengaruh intelektual dan spiritual, menunjukkan bahwa poros ini tidak hanya mengandalkan massa, tetapi juga pengaruh struktural dan kultural di berbagai lini kekuasaan.


Statemen yang muncul dalam acara tersebut seolah menjadi pengumuman “perang terbuka”. Dalam tradisi NU, perbedaan pendapat adalah hal lumrah, namun ketika narasi yang dibangun sudah menjurus pada upaya pendelegitiman kepemimpinan sebelum masa khidmat berakhir, ini menunjukkan adanya pergeseran pola komunikasi politik yang lebih agresif dan frontal.


NU memang selalu menjadi rumah besar yang memiliki daya magnet luar biasa. Sebagai organisasi massa terbesar, NU bukan hanya sekadar wadah keagamaan, tetapi juga episentrum kekuatan politik yang diperebutkan. Siapapun yang memegang kendali di PBNU secara otomatis memiliki daya tawar yang sangat tinggi di hadapan negara dan para aktor politik nasional.


Gus Yahya, sebagai figur utama yang menjadi sasaran, memiliki tipologi kepemimpinan yang unik. Ia bukanlah tipikal pemimpin yang menyerang secara membabi buta tanpa perhitungan. Sebaliknya, Gus Yahya cenderung menggunakan strategi bertahan yang kokoh, sembari sesekali melancarkan serangan balik yang presisi dan mematikan pada momentum yang tepat.


Ketangguhan Gus Yahya telah teruji dalam berbagai upaya “penggulingan” atau makar organisasi yang sempat berembus sebelumnya. Ia mampu menavigasi konflik dengan ketenangan seorang diplomat, namun memiliki ketegasan seorang eksekutor. Pengalamannya di dunia internasional dan kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan menjadikannya lawan tanding yang sulit ditaklukkan begitu saja.


Eskalasi di IKA PMII ini juga menunjukkan bahwa organisasi otonom dan badan otonom di bawah NU—atau yang berafiliasi dengannya—masih menjadi medan tempur yang seksi. IKA PMII, yang diisi oleh para alumni yang kini tersebar di berbagai partai politik dan birokrasi, menjadi instrumen efektif untuk menggoyang kemapanan struktural PBNU saat ini.


Namun, Gus Yahya tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat gerbong pendukung yang solid, yang merasa bahwa arah baru NU di bawah kepemimpinannya memberikan harapan akan kemandirian organisasi. Pendukung Gus Yahya melihat serangan dari poros Muhaimin-Nusron sebagai residu politik yang ingin kembali “menyandera” NU demi kepentingan jangka pendek.


Pertarungan ini sebenarnya adalah pertarungan ideologis mengenai wajah NU di masa depan. Apakah NU akan tetap konsisten pada jalur transformasi organisasi yang profesional dan mandiri, ataukah ia akan kembali menjadi alat legitimasi politik bagi segelintir elite yang selama ini merasa nyaman dengan pola-pola lama?


Langkah vulgar para tokoh di halal bihalal tersebut bisa dibilang sebagai perjudian politik yang berisiko. Jika serangan ini gagal melumpuhkan kepercayaan basis massa nahdliyin terhadap Gus Yahya, maka poros ini justru akan terkucilkan dan kehilangan simpati dari para kiai sepuh yang lebih menyukai stabilitas dan marwah organisasi.


Gus Yahya diprediksi akan merespons gerakan ini dengan cara yang elegan. Ia kemungkinan besar tidak akan membalas dengan orasi yang sama vulgarnya, melainkan melalui penguatan struktur di tingkat bawah dan konsolidasi dengan para kiai-kiai kunci di daerah yang selama ini menjadi penentu arah angin Muktamar.


Dinamika ini juga memperlihatkan betapa pragmatisme politik telah merasuk jauh ke dalam sendi-sendi organisasi yang berbasis nilai. Ketika kepentingan untuk menduduki posisi ketua umum atau menghalangi seseorang naik kembali sudah menjadi agenda utama di acara sosial, maka nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan) sedang dipertaruhkan.


Publik nahdliyin kini disuguhi tontonan politik yang menarik namun juga mencemaskan. Mencemaskan karena jika konflik ini tidak dikelola dengan baik, ia dapat memicu perpecahan yang tajam di akar rumput. Para pengikut di tingkat bawah seringkali menjadi korban yang paling terdampak ketika para elitenya bersitegang demi kursi kekuasaan.


Kita harus melihat apakah poros kekuatan ini akan semakin solid atau justru pecah di tengah jalan. Menghalangi Gus Yahya untuk dua periode bukanlah perkara mudah, mengingat ia memiliki kontrol yang cukup kuat terhadap mesin organisasi dan legitimasi dari hasil Muktamar Lampung yang masih sangat segar di ingatan.


Dalam politik NU, “serangan balik” seringkali tidak datang dari kata-kata, melainkan dari langkah-langkah organisatoris yang tak terduga. Gus Yahya memiliki kemampuan untuk melakukan manuver yang membuat lawan-lawannya kehilangan pijakan, sebagaimana yang pernah ia tunjukkan dalam beberapa krisis internal sebelumnya.


Halal bihalal IKA PMII tersebut pada akhirnya hanyalah “puncak gunung es” dari ketegangan yang sudah lama terpendam. Ini adalah pembukaan dari babak baru persaingan menuju kepemimpinan NU di masa mendatang, di mana integritas dan visi akan diuji oleh syahwat politik dan ambisi pribadi.


Sebagai pengamat, kita melihat bahwa Gus Yahya adalah sosok yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bergerak. Tipologi “bertahan dan sesekali menyerang” ini membuatnya sangat berbahaya bagi lawan yang meremehkan ketenangannya. Ia tidak mudah terpancing emosi, namun sangat taktis dalam mengunci pergerakan lawan.


Kesimpulannya, genderang perang telah ditabuh di acara halal bihalal tersebut. Masa depan PBNU kini berada di persimpangan jalan antara keberlanjutan visi Gus Yahya atau kembalinya pola politik lama yang diusung oleh poros oposisinya. Siapa yang akan memenangkan hati warga nahdliyin akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu menjaga marwah organisasi di tengah badai syahwat politik ini.

Air Kehidupan (Mengkondisikan Kesehatan Tubuh dengan Resonansi Gelombang Hado)

Oleh: Dr. M. Hasyim Syamhudi, M.Si

Dosen Sosial Humaniora Universitas Nurul Jadid

Kalaupun manusia merasa mampu memurnikan air dengan teknologi yang semakin canggih, pada akhirnya ia tetap bergantung pada air sebagai sumber kehidupan yang tidak tergantikan.

Air tidak sekadar mengalir dalam tubuh, tetapi juga membentuk keseimbangan hidup yang sering kali tak disadari. Ia hadir tanpa suara, namun menentukan sehat dan tidaknya manusia dalam menjalani kehidupan.

Sebagaimana firman Allah: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan keduanya, dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30).

Menurut Masaru Emoto (1943–2014), air pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pemurnian secara fisik, tetapi juga penghargaan secara emosional dan spiritual. Dalam pandangannya, di era modern penghargaan terhadap air semakin langka, sementara yang berkembang justru pendekatan teknologis yang berfokus pada pemurnian semata.

Padahal, air yang dimurnikan secara teknis belum tentu menghadirkan kualitas “kemurnian hakiki”, karena tidak selalu mampu membentuk struktur kristal yang indah, sebagaimana diungkap dalam The True Power of Water (terj. Azam Translator, Bandung: MQ Publishing, 2006, hlm. 154).

Dalam perkembangan industri modern, berbagai zat kimia seperti merkuri, timbal, krom, pewarna sintetis, pelarut, sisa pestisida, minyak, serta limbah organik dari industri tekstil, kimia, makanan, pertambangan, farmasi, dan elektronik telah merusak ekosistem air.

Dampak tersebut tidak hanya mengganggu keseimbangan fauna dan flora, tetapi juga membahayakan kesehatan manusia.

Dengan demikian, menghargai air bukan sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan dasar manusia. Lebih jauh, air dipandang sebagai bagian dari makhluk ciptaan Allah yang harus dijaga kelestarian, keseimbangan, dan keharmonisannya.

Namun, hidup di era modern membuat manusia sulit menghindari dampak industrialisasi. Karena itu, selain upaya pemurnian secara teknis, diperlukan pula kesadaran untuk menjaga idealitas kemurnian air sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.

Dalam pandangan Masaru Emoto, idealitas air tersebut tampak melalui struktur kristal yang indah, yang ia sebut sebagai hado—yakni energi getaran yang terbentuk dari resonansi gelombang air.

Hado yang teratur, harmonis, dan serasi diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia, bahkan sebagai bagian dari proses penyembuhan terhadap berbagai penyakit yang dipicu oleh dampak industrialisasi maupun faktor lainnya.

Sebaliknya, air yang tercemar tidak hanya disebabkan oleh limbah fisik, tetapi juga oleh “pencemaran non-material”, seperti kemarahan, kebencian, kesombongan, dan sikap amoral manusia. Dalam kondisi ini, hado air menjadi tidak stabil, yang tercermin dari struktur kristal yang buram dan tidak teratur.

Dengan demikian, kualitas hado air sangat dipengaruhi oleh sikap, perlakuan, serta suasana batin manusia terhadap air itu sendiri.

Dalam proses penelitiannya, Kazuya Ishibashi dari Universitas Kumamoto turut membantu Masaru Emoto. Pada awalnya, Ishibashi bersikap skeptis terhadap penelitian tersebut. Namun, sikap Emoto yang penuh kesungguhan, disertai pendekatan emosional seperti ucapan “cinta” dan “terima kasih” yang ditujukan kepada air, serta tanpa orientasi keuntungan materi, perlahan mengubah keraguan tersebut.

Hasilnya, Ishibashi menyaksikan respons air dalam bentuk pola kristal yang terbentuk secara teratur, harmonis, dan indah. Dari struktur kristal yang rapi dan berkilau inilah, Emoto menyimpulkan bahwa hado yang positif dapat terbentuk dan berkontribusi pada kesehatan manusia.

Sebaliknya, perlakuan yang kasar terhadap air—melalui ucapan negatif, hinaan, dan energi emosional yang buruk—akan menghasilkan hado yang tidak seimbang. Air menjadi “buram” secara struktural, yang dalam perspektif ini berpotensi memperburuk kondisi kesehatan manusia.

Masaru Emoto juga berpendapat bahwa manusia dapat beresonansi dengan seluruh unsur alam. Manusia mampu menerima gelombang energi dari matahari dan bunga, sekaligus memancarkan gelombang dari tubuhnya ke alam sekitar.

Karena itu, manusia seharusnya membangun relasi harmonis dengan semesta agar resonansi gelombang dalam tubuh tetap terjaga dan tidak tercemar.

Sebagaimana diuraikan dalam The True Power of Water (hlm. 166), dalam perspektif Islam, penghargaan terhadap air tidak hanya didasarkan pada aspek ekologis dan etis, tetapi juga pada keyakinan bahwa air merupakan fondasi kehidupan seluruh makhluk.

Semakin dalam interaksi manusia dengan semesta, semakin teratur pula resonansi energi yang terbentuk dalam tubuh.

Dalam perspektif ini, keteraturan hado air di dalam tubuh akan menghadirkan ketenangan batin, dan ketenangan batin menjadi pintu masuk bagi kesehatan lahir dan batin manusia.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga keseimbangan antara tubuh, kesadaran, dan semesta.

Semoga Allah Swt. senantiasa menganugerahkan kepada kita kesehatan lahir dan batin, dalam harmoni penghargaan kita terhadap air dan seluruh ciptaan-Nya. Aamiin.

Biaya Full Tank Fortuner & Pajero Sport Usai Harga BBM Diesel Meroket, Jadi Segini Sekarang

Berdampak.net – Kenaikan harga bahan bakar mesin (BBM) non-subsidi jenis diesel membuat pengeluaran para pengguna SUV bongsor ikut membengkak. Terutama bagi pemilik Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport yang kini harus menyiapkan dana lebih besar saat mengisi tangki di SPBU.

Menurut informasi di lapangan, lonjakan harga diesel terjadi setelah Pertamina dan BP mengerek harga jual produk mereka secara signifikan. Kenaikan bahkan nyaris menyentuh selisih Rp10.000 per liter pada beberapa varian diesel.

Berdasarkan data yang dikutip dari mypertamina.id, Dexlite saat ini dibanderol Rp23.600 per liter. Angkanya naik tajam hingga Rp9.400 dari harga pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, harga Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter. Di sisi lain, BP menetapkan Ultimate Diesel Rp25.560 per liter, naik dari sebelumnya yang hanya Rp14.620.

Toyota Fortuner memiliki kapasitas tangki bahan bakar hingga 80 liter. Dengan kebutuhan bahan bakar low sulfur untuk mendukung performa mesin, pengguna umumnya memilih produk diesel seperti Pertamina Dex.

  • Full tank dari kondisi kosong (80 liter):
  • Pertamina Dex: Rp1.912.000
  • BP Ultimate Diesel: Rp2.044.800

Jika di tangki masih tersisa 5 liter, maka pemilik hanya perlu mengisi 75 liter:

  • Pertamina Dex: Rp1.792.500
  • BP Ultimate Diesel: Rp1.917.000

Mitsubishi Pajero Sport juga ikut terdampak kenaikan harga diesel. Tangki Pajero Sport berkapasitas 68 liter.

  • Full tank dari kondisi kosong (68 liter):
  • Pertamina Dex: Rp1.625.200
  • BP Ultimate Diesel: Rp1.738.080

Dengan selisih yang terasa di setiap pengisian, kenaikan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengguna SUV diesel yang rutin beraktivitas.

Kenaikan biaya pengisian BBM secara langsung berdampak pada pengeluaran bulanan pemilik kendaraan. Saat harga diesel terus bergerak naik, pengisian rutin yang sebelumnya lebih ringan kini harus dianggarkan ulang agar tetap sesuai dengan kebutuhan penggunaan kendaraan. (rh)

Menjadi Kartini Modern: Lebih dari Sekadar Sanggul dan Kebaya

Oleh: Fatmawati Ningsih, (Alumni PMII UNUJA, Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Setiap tanggal 21 April, lini masa kita dipenuhi dengan foto-foto anggun mengenakan kebaya, kutipan-kutipan puitis tentang emansipasi, dan perayaan seremonial di berbagai instansi. Namun, di balik kemeriahan visual tersebut, sudahkah kita benar-benar meresapi api yang dinyalakan Raden Ajeng Kartini dari balik tembok pingitannya lebih dari seabad yang lalu?

Kartini bukan sekadar simbol pakaian adat. Beliau adalah intelektual yang gelisah. Di tengah keterbatasan akses fisik, ia mendobrak dunia melalui surat-suratnya. Senjata utamanya bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan literasi dan korespondensi.
Bagi kita saat ini, merayakan Kartini berarti merayakan hak untuk memiliki opini, hak untuk mengakses pendidikan setinggi mungkin, dan hak untuk menentukan jalan hidup sendiri.
Kartini modern adalah mereka yang berani bersuara melawan ketidakadilan di ruang digital maupun nyata, Terus belajar tanpa memandang batasan usia atau status sosial, Saling mendukung sesama perempuan (women supporting women), bukan malah saling menjatuhkan.

Dulu, tantangan Kartini adalah pingitan dan akses pendidikan. Sekarang, tantangannya telah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih halus namun tetap tajam: beban ganda (double burden) dan stigma sosial.
Banyak perempuan saat ini dituntut untuk menjadi “sempurna” di segala lini: karier yang cemerlang, pengasuhan anak yang tanpa cela, hingga penampilan yang selalu estetis. Opini saya, semangat Kartini di era ini seharusnya menjadi pengingat bahwa emansipasi adalah tentang pilihan.

Menjadi ibu rumah tangga penuh waktu adalah pilihan yang terhormat, menjadi pemimpin perusahaan adalah prestasi yang luar biasa, dan melakukan keduanya adalah dedikasi yang hebat. Kuncinya adalah kebebasan untuk memilih tanpa tekanan penghakiman dari lingkungan.

Habis gelap terbitlah terang. Cahaya yang dibawa Kartini kini telah menerangi jutaan jalan perempuan Indonesia. Namun, tugas kita belum usai. Selama masih ada kekerasan terhadap perempuan, selama upah kerja masih timpang karena gender, dan selama akses pendidikan belum merata, maka “Kartini” harus terus lahir di setiap generasi.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan hebat di Indonesia. Teruslah bercahaya, teruslah belajar, dan jangan pernah takut untuk bermimpi setinggi langit. Karena seperti kata Kartini:
“Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”

Selamat Hari Kartini! Mari kita jadikan hari ini bukan sekadar seremoni pakaian, tapi momentum untuk memperkuat karakter dan kemandirian berpikir.