Tafsir Ayat Puasa dan Perisai (Mujahar Al-Nafs), Self Control

Oleh Moh Ali Muhsin rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I.

Wakil sektaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Penekanan akan pentingnya ajaran puasa sebagai kewajiban dan sebagai bagian dari ketakwaan diungkapkan dengan “ditulis” (kutiba), yang kemudian diterjemahkan dengan “diwajibkan”. Semula akar kata kaf-ta-ba (كتب) semula berarti mengumpulkan sesuatu ke sesuatu. Kemudian, kata berkembang dengan makna “kewajiban” (Q.S. al-Baqarah: 183), dan kata kitāb bermakna “hukum/aturan” (Ibn Fāris, Mu’jam Maqāyīs al-Lughah V: 158-159).

Menarik untuk diamati bahwa Q.s. al-Baqarah: 183 yang berisi perintah berpuasa berada dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya yang juga menggunakan redaksi “ditulis” (kutiba), kemudian di ujung masing-masing ayat dikaitkan dengan indikator ketakwaan. Lalu kemudian kebanyakan mengenali puasa di bulan suci Ramadhan itu sebagai kewajiban berdasarkan syariat Islam tanpa mengetahui seluk beluk ayat Al-Qur’an yang mewajibkan akan hal itu. Sebab kita berpuasa sudah jelas sandaran hukumnya yaitu fardlu (wajib). Ibadah puasa ini jadi istimewa karena ibadah yang hubungannya langsung dengan Allah, bahkan sejajar dengan shalat, zakat, dan haji sebagai rukun Islam.

Dalil tentang wajibnya puasa di bulan Ramadhan berdasarkan pada ayat 183 Surat Al-Baqarah, tetapi dalam ayat tersebut tidak menggunakan lafadz فرض atau وجب tapi lafadz كتب lalu bertanya-tanya tentang lafadz tersebut, karena lafadznya juga bentuknya fiil bukan isim, bahkan masuknya jumlah khabariyah bukan insyaiyah. Kita tahu kalau insyaiyah selalu menunjukkan perintah ( أمر ) dan atau larangan ( نهي ).
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
’’Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’’ (QS Al-Baqarah Ayat 183).

Ayat 183 ini yang paling masyhur sebagai dalil (qothi’ addilalah) atas kewajiban puasa bagi kaum mukminin, dan tidak menggunakan lafadz muslimin. Ini yang menjadikan kita tergugah untuk memahaminya. Kalau kita tahu murad atau yang dimaksud Allah dari lafadz tersebut tentu kita tidak perlu cari tafsirnya. Tetapi jelas tafsir mendekatkan dan mengantarkan ke kita memahami muradnya Allah mengkhitob lafadz itu.

Ada beberapa tafsir atas ayat itu dari berbagai kalangan mufassirin lintas madzhab, dan bagaimana tafsirnya.

  • Imam Mujtahid Muthlaq Muhammad bin Idris al-Syafi’i dalam tafsirnya Tafsir al-Imam al-Syafi’i telah menjelaskan.

قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: قال الله تبارك وتعالى: (كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣) الآية.
قال الشَّافِعِي رحمه الله تعالى: فافترض الله عليهم الصوم، ثم بين أنه شهر، والشهر عندهم ما بين الهلالين، وقد يكون ثلاثين، وتسعاً وعشرين.فكانت الدلالة في هذا كالدلالة في الآيتين، وكان في الآيتين قبله
Dalam kitab tafsir yang ditulisnya, Imam Syafi’i telah menjelaskan bahwa lafadz كتب itu yang dimaksud adalah افترض yaitu telah menjadi kefardluan. Sementara tafsir atas ayat ياايهاالذين آمنوا ditafsirkan sebagai البالغين و العاقلين yakni muslim yang sudah masuk baligh dan tetap dalam keadaan berakal (mukallaf).

-Imam Ibnu Jarir al-Thobary dalam tafsirnya Jami’u al-Bayani atau masyhur disebut Tafsir Ibnu Jarir Thobary telah menjelaskan.

قال أبو جعفر: يعني تعالى ذكره بقوله:”يا أيها الذين آمنوا”، يا أيها الذين آمنوا بالله ورسوله وصدقوا بهما وأقرُّوا. (١)
ويعني بقوله:”كتب عليكم الصيام”، فرض عليكم الصيام. (٢)
و”الصيام” مصدر، من قول القائل:”صُمت عن كذا وكذا” -يعني: كففت عنه-“أصوم عَنه صوْمًا وصيامًا”. و معنى”الصيام”، الكف عما أمر الله بالكف عنه

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir al-Thobary menyatakan bahwa yang dimaksud آمنوا adalah iman kepada Allah, iman kepada Rasulullah dan mereka membenarkan sekaligus mengikrarkan keduanya. Kemudian Ibnu Jarir pun menyatakan bahwa lafadz كتب adalah فرض sedangkan lafadz الصيام dimaksudkan sebagai mencukupi apa yg jadi perintah Allah dan mencegah dari apa yang dilarangnya.

-Imam Abu Laits al-Samarqandi dalam kitabnya Tafsir Bahrul Ulum atau masyhur dikenal dengan Tafsir Samarqandi telah menjelaskan berikut ini.

قوله تعالى: يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ، يعني فرض عليكم صيام رمضان، كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، أي فرض على الذين من قبلكم من أهل الملل كلها. لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الأكل والشرب والجماع بعد صلاة العشاء الآخرة وبعد النوم

Imam Abu Laits menyatakan bahwa كتب adalah فرض artinya difardukan atau diwajibkan, sementara lafadz الذين من قبلكم itu adalah من أهل الملل كلها yaitu para penganut agama-agama seluruhnya sebelum Islam. Jadi syariat agama terdahulu sebelum Islam sudah ada kewajiban puasa.

-Imam Makki bin Hammus bin Muhammad al-Andalusyi Cordova, seorang mufassir dari kalangan Madzhab Maliki dalam kitabnya al-Hidayah ilaa Bulughi al-Nihayah telah menafsirkan begini.

قوله: {يا أيها الذين آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصيام كَمَا كُتِبَ عَلَى الذين مِن قَبْلِكُمْ} إلى قوله: {إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}.
أي: فرض عليكم أن تصوموا أياماً معدودات كما كتب على الذين من قبلكم الصيام، يعني / النصارى.

Lafadz كتب ditafsir beliau فرض sedangkan lafadz من قبلكم itu ditafsiri pemeluk agama Nasrani (Kristen).

  • Syaikh Najmuddin Umar bin Muhammad al-Nasafi dari kalangan Madzhab Hanafi di dalam kitabnya Taisir fi al-Tafsiri telah menjelaskan.

وقولُه تعالى: {كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ}؛ أي: فُرِضَ عليكم، والصِّيامُ والصَّومُ في اللُّغة: هو الإمساك، يُقال: صامَت الدَّابَّةُ على آريِّها (١)، إذا قامَت فلم تعتلِف، ومصامُ الفرسِ: موقفه، وقالت مريم عليها السلام: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا}.
Syaikh al-Nasafi ini menafsirkan lafadz كتب dengan فرض sedangkan menafsiri lafadz الصيام dengan الامساك yaitu menahan diri dengan sekuat-kuatnya. Sementara menafsiri ayat الذين من قبلكم menurut Syaikh al-Nasafi sebagai berikut.

الصَّومُ على آدمَ عليه السلام أيَّام البيض، وقصَّته معروفةٌ ، وصومُ عاشوراء كان على قومِ موسى عليه السَّلام، وكان على كلِّ أمَّةٍ صومٌ

Yakni puasanya Nabi Adam yang dikenal ayyamu al-baidl, dan puasa ‘Asyura-nya kaum Nabi Musa dan seluruh umat nabi-nabi yang telah menjalankan puasa.

-Imam Izzuddin bin Abdul Aziz bin Abdul Salam, seorang yang dikenal sultannya seluruh ulama yang bermadzhab Syafi’i telah menafsiri Surat Al-Baqarah Ayat 183 seperti di dalam kitabnya Tafsir al-‘Izzu Abdul Salam Ikhtishar ala Tafsiri al-Mawardi ” sebagai berikut.
{الصِّيَامُ} الصوم عن كل شيء الإمساك عنه، ويقال عند الظهيرة صام النهار، لإبطاء سير الشمس حتى كأنها أمسكت عنه. {كَمَا كُتِبَ} شبّه صومنا بصومهم في حكمه وصفته دون قدره، كانوا يصومون من العتمة الى العتمة {الَّذِينَ من قَبْلِكُمْ} جميع الناس، أو اليهود، أو أهل الكتاب
Imam Izzuddin menafsirkan lafadz كتب dengan وجب atau يجب sedangkan menafsirkan lafadz من قبلكم adalah seluruh manusia sebelum diutusnya al-Musthofa Muhammad Ibnu Abdullah, Rasulillah dan kaum Yahudi dan seluruh ahli kitab (Nasrani).

Dengan demikian kita tentu telah mengenal ragam tafsir dari berbagai ulama lintas madzhab tentang tafsir ayat 183 dari Surat Al-Baqarah tersebut. Itu artinya semua sepakat bahwa lafadz كتب dimaksud adalah difardukan atau diwajibkannya puasa kepada seluruh umat Islam. Terutama yang termasuk kriteria syarat wajib puasa yang tertulis dalam Kitab Kasyifatu al-syaja yaitu Islam (muslim), mukallaf, ithaqah (kuat), shihhat (sehat); dan iqomah (mendirikan puasa selama sebulan). Dalam banyak hadits, Rasulullah saw menggambarkan puasa sebagai junnah atau perisai yang melindungi seorang Muslim dari berbagai godaan duniawi dan api neraka. Rasulullah saw bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ Puasa adalah perisai (pelindung dari perbuatan buruk) (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga benteng bagi jiwa dan akhlak seorang Muslim. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperkuat ketakwaan, melatih kesabaran, serta membentengi diri dari hawa nafsu dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Berikut beberapa manfaat berpuasa : 1 Perisai dari Hawa Nafsu Puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang, termasuk mengendalikan amarah, menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Rasulullah saw bersabda: وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa’ (HR Bukhari dan Muslim). Dengan menahan diri dari perkataan kasar dan tindakan emosional, puasa membantu seseorang untuk lebih tenang, sabar, dan berakhlak baik, sehingga membentuk karakter Muslim yang kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. 2 . Perisai dari Api Neraka Puasa juga menjadi benteng yang melindungi seorang Muslim dari siksa neraka. Rasulullah saw bersabda: الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai dalam peperangan (HR Ahmad dan An-Nasa’i). Puasa membentuk keimanan yang kokoh dan menjadi penghalang dari perbuatan dosa, yang jika dilakukan secara konsisten akan menjauhkan seseorang dari kebinasaan di akhirat. 3 . Perisai dari Konsumsi yang Berlebihan Salah satu tantangan terbesar manusia adalah gaya hidup konsumtif dan kerakusan terhadap dunia. Puasa mengajarkan kesederhanaan dan kepuasan dengan hal yang cukup. Rasulullah saw bersabda: مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ Tidak ada tempat yang lebih buruk untuk diisi oleh manusia selain perutnya (HR Tirmidzi). Dengan menahan diri dari makanan dan minuman sepanjang hari, seseorang belajar untuk lebih bersyukur atas nikmat yang ada, serta memahami bagaimana rasanya kelaparan yang dialami oleh orang-orang yang kurang beruntung. Puasa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada tatanan sosial dan kesejahteraan masyarakat. 4 . Membentuk Masyarakat yang Lebih Sabar dan Santun Ketika setiap Muslim menjalankan puasa dengan penuh kesadaran, mereka akan lebih mengutamakan kesabaran, menghindari konflik, dan memperkuat persaudaraan sesama Muslim. Ini menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh keberkahan. 5 . Mendorong Kepedulian terhadap Sesama Puasa mengajarkan arti berbagi dan kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Dalam bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, memberi makan orang yang berbuka, dan menolong fakir miskin. Hal ini mempererat hubungan sosial dan mengurangi kesenjangan dalam masyarakat. 6 . Mengokohkan Nilai Keislaman dalam Peradaban Sejarah membuktikan bahwa umat Islam mencapai kejayaan saat mereka menjadikan ibadah sebagai landasan utama dalam kehidupan. Ketika Ramadhan dijalankan dengan sungguh-sungguh, nilai-nilai Islam semakin kokoh dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi, membentuk peradaban yang bermartabat dan berkeadilan. Ramadhan adalah waktu yang diberikan Allah sebagai sarana penyucian diri dan peningkatan spiritual. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membangun ketahanan jiwa, mengendalikan nafsu, dan memperkuat keimanan. Puasa adalah perisai yang melindungi kita dari berbagai keburukan dunia dan akhirat. Namun, perisai ini hanya akan berfungsi jika kita menjalankan puasa dengan kesadaran penuh, keikhlasan, dan pengamalan yang benar. Ramadhan itu…

  • Puasanya Akal
  • Puasanya Ruh
  • Puasanya Jiwa
  • Puasanya Jasad.Dialektika puasa Ramadhan adalah proses spiritual dan mental yang mempertemukan nafsu jasmani (lapar/haus) dengan kebutuhan rohani (ketakwaan/empati), bertujuan mentransformasi individu menjadi insan bertakwa. Ini adalah dialog sakral antara manusia dan Tuhan untuk merajut kembali iman, yang membakar dosa-dosa masa lalu dan menyeimbangkan kehidupan duniawi serta ukhrawi.“` ( Raden Bindoro Moh Ali Muhsin rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I). Semoga bermanfaat. Billahittaufiq Wal Hidayah.
Bertemakan “Quarter Life Crisis: Ramadhan Jawabannya”, Gen Z gelar Kajian Ramadhan

Probolinggo, Berdampak.net – Komunitas Da’i Muda (KOMDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo berkolaborasi dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta Lembaga Manajemen Infaq (LMI) menggelar Kajian Ramadhan bertema “Quarter Life Crisis: Ramadhan Jawabannya”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026 bertempat di Mushollah Baitul Hikmah, Jrebeng Lor, Kota Probolinggo.
Kajian ini bertujuan memberikan penguatan spiritual dan wawasan keislaman kepada generasi muda, khususnya dalam menghadapi fenomena quarter life crisis, yakni kegelisahan yang kerap dialami generasi muda terkait masa depan, karier, dan arah kehidupan.
Acara dibuka secara langsung oleh Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. M. Sulton, MA. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi positif terhadap inisiatif generasi muda, khususnya Gen Z, yang berupaya memperkuat wawasan keilmuan melalui kajian keislaman di bulan suci Ramadhan.
“Langkah seperti ini patut diapresiasi. Generasi muda yang mau belajar dan memperdalam pemahaman agama akan memiliki fondasi spiritual yang kuat. Jika Gen Z memiliki ikhtiar seperti ini, insya Allah tidak akan mudah cemas dan khawatir dengan masa depannya,” ujar Kyai Sulton.
Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi kajian oleh Dr. KH. Ahmad Hudri, ST., MAP., yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa fenomena quarter life crisis sebenarnya dapat diatasi dengan memperkuat dimensi spiritual dan kedekatan kepada Allah SWT.
Menurutnya, bulan Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki orientasi hidup, serta menumbuhkan ketenangan batin melalui ibadah puasa, tilawah Al-Qur’an, dan penguatan nilai-nilai keimanan.
Kegiatan kajian ini diikuti oleh para pelajar, mahasiswa, serta generasi muda dari berbagai organisasi kepemudaan di Kota Probolinggo. Suasana kajian berlangsung interaktif dan penuh antusiasme, menunjukkan besarnya minat generasi muda untuk memperdalam pemahaman keislaman sekaligus mencari solusi atas dinamika kehidupan yang mereka hadapi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya mampu menghadapi tantangan zaman dengan lebih bijak, tetapi juga memiliki ketahanan spiritual dan mental yang kuat, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan optimisme serta nilai-nilai keislaman yang kokoh.

Rakor Sinkronisasi Program Kerja KomisiMUI Kota Probolinggo Tahun 2026

Probolinggo, Berdampak.net – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Kota Probolinggo menggelar Rapat Koordinasi Sinkronisasi Program Kerja Komisi pada Minggu, 8 Maret 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Rumah Sakit Dharma Husada. Kegiatan ini dimulai pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga berbuka puasa bersama.

Rapat koordinasi ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menyinkronkan dan mengonsolidasikan program kerja seluruh komisi di lingkungan MUI Kota Probolinggo, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih tertata, terarah, dan saling mendukung dalam mewujudkan peran strategis MUI sebagai mitra umat dan pemerintah.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Umum DP MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. M. Sulthon, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antar-komisi agar program-program yang dirancang tidak berjalan secara parsial, melainkan menjadi gerakan kolektif yang memberikan dampak nyata bagi umat.

“Rapat koordinasi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi dan langkah seluruh komisi, sehingga program kerja MUI dapat berjalan efektif, terukur, dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan di Kota Probolinggo,” ujarnya.

Rapat koordinasi dipimpin oleh Wakil Ketua Umum DP MUI Kota Probolinggo, Dr. KH. Ahmad Hudri, ST., MAP, yang memandu jalannya diskusi dan pemaparan program dari masing-masing komisi. Dalam forum tersebut, setiap komisi menyampaikan program prioritas yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026, sekaligus melakukan penyesuaian dan penguatan koordinasi antarbidang.

Melalui rapat koordinasi ini diharapkan seluruh program kerja komisi dapat tersusun secara sistematis, terintegrasi, serta memiliki arah yang jelas dalam pelaksanaannya, sehingga peran MUI Kota Probolinggo sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra strategis pemerintah) dapat semakin optimal.

Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama, yang sekaligus menjadi momentum mempererat ukhuwah dan kebersamaan di antara para pengurus MUI Kota Probolinggo dalam mengemban amanah pelayanan kepada umat. (fiq)

KPU Kota Probolinggo Gelar SPIRIT Bersama MUI untuk Perkuat Sinergi Kepemiluan

Probolinggo, Berdampak.net – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo menggelar kegiatan Sosialisasi Pemilu dan Koordinasi Intensif (SPIRIT) melalui audiensi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo pada Jumat (5/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor MUI Kota Probolinggo ini bertujuan memperkuat sinergi antara penyelenggara pemilu dan para tokoh ulama dalam meningkatkan kualitas demokrasi serta partisipasi masyarakat dalam pemilu.

Rombongan KPU Kota Probolinggo dipimpin langsung oleh Ketua KPU Kota Probolinggo Radfan Faisal, didampingi anggota KPU Ilmiyah dan Mat Rosit, serta jajaran sekretariat KPU. Kehadiran rombongan KPU disambut oleh Ketua Umum MUI Kota Probolinggo Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA., bersama jajaran Pengurus Harian serta Komisi Hubungan Ulama dan Umaro MUI Kota Probolinggo.

Dalam sambutannya, Ketua KPU Kota Probolinggo Radfan Faisal menyampaikan bahwa kegiatan SPIRIT merupakan bagian dari upaya KPU untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai elemen strategis masyarakat, termasuk para ulama yang memiliki peran penting dalam membangun kesadaran demokrasi di tengah masyarakat.
Ia menegaskan bahwa ulama dan tokoh agama memiliki pengaruh yang besar dalam memberikan edukasi politik yang sehat, mendorong partisipasi pemilih, serta menjaga suasana kondusif di tengah dinamika demokrasi.
“Melalui audiensi ini, kami berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara KPU dan MUI dalam menyampaikan pesan-pesan kepemiluan kepada masyarakat, agar pemilu dapat berlangsung secara damai, jujur, dan berintegritas,” ujar Radfan.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Kota Probolinggo Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA. menyambut baik inisiatif dan langkah KPU Kota Probolinggo dalam menjalin komunikasi dan koordinasi dengan para ulama. Menurutnya, peran ulama sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat agar menyikapi perbedaan pilihan politik secara bijak serta tetap menjaga ukhuwah dan persatuan.

“MUI Kota Probolinggo turut berkomitmen untuk mendukung upaya edukasi kepemiluan kepada masyarakat melalui pendekatan moral dan keagamaan, sehingga demokrasi dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai etika, persatuan, dan kemaslahatan bersama”, tegas Sulthon.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh keakraban, dengan pembahasan berbagai isu strategis terkait peningkatan literasi demokrasi, penguatan partisipasi pemilih, serta pentingnya menjaga stabilitas sosial dalam setiap tahapan pemilu.
Melalui kegiatan SPIRIT (Sosialisasi Pemilu dan Koordinasi Intensif) ini, diharapkan terbangun kerja sama yang semakin erat antara KPU dan MUI Kota Probolinggo dalam mewujudkan pemilu yang berkualitas, damai, dan bermartabat.(fiq)

Mahasiswa Linguistik UPN “Veteran” Jatim Tampil di Dua Forum Internasional Filipina dan Thailand

Surabaya, Berdampak.net— Komitmen internasionalisasi pendidikan tinggi kembali ditunjukkan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) melalui kiprah mahasiswanya di forum akademik global. Pada 2025, Adista Larasati, mahasiswa S-1 Linguistik Indonesia UPNVJT, tampil sebagai pembicara dalam dua konferensi internasional di Filipina dan Thailand.
Di Filipina, Adista menjadi presenter pada BINTANA International Conference: Studies, Analysis, and Research Initiatives on the Humanities (SARIH 2025) yang diselenggarakan oleh Institute of Arts and Sciences, Far Eastern University, Manila, pada 22–24 April 2025. Forum ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas perkembangan kajian humaniora di era kecerdasan artifisial dan transformasi pendidikan global.
Dalam konferensi tersebut, Adista mempresentasikan penelitian berjudul “The Role of Literacy in Early Childhood Second Language Acquisition at the International Islamic School Magetan.” Riset ini menyoroti pentingnya literasi awal dalam pemerolehan bahasa kedua pada anak usia dini serta relevansinya terhadap pengembangan pendidikan bahasa yang inklusif dan berorientasi global.
Partisipasi ini merupakan implementasi kerja sama akademik antara UPNVJT dan Far Eastern University yang diinisiasi melalui kolaborasi Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd. (UPNVJT) dan Dr. Dennis H. Pulido (FEU).
Selain di Filipina, Adista juga tampil sebagai pembicara pada SSVIT International Conference 2025 yang digelar oleh Sarasas Suvarnabhumi Institute of Technology di Peboonsuvarnabhumi Auditorium, Samut Prakan, Thailand, pada 10 Oktober 2025.
Pada forum tersebut, ia mempresentasikan topik “Artificial Intelligence for the Preservation of Endangered Languages Through a Case Study from Indonesia in the Context of Global Sustainability.” Presentasi ini membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial dalam pelestarian bahasa terancam punah sebagai kontribusi linguistik terhadap agenda keberlanjutan global.
Keikutsertaan Adista di Thailand merupakan bagian dari kerja sama akademik antara UPNVJT dan Sarasas Suvarnabhumi Institute of Technology yang diinisiasi melalui kolaborasi Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Rattanaporn Muhry.
Selain aktif sebagai presenter internasional, Adista juga berperan sebagai KANCA BIPA (student buddy) dalam Program Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) – BIPA UPNVJT. Dalam peran tersebut, ia mendampingi mahasiswa internasional dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta adaptasi akademik dan budaya.
Keterlibatan ini menegaskan peran mahasiswa sebagai aktor diplomasi akademik sekaligus representasi kontribusi generasi muda Indonesia dalam dialog ilmiah lintas negara. Partisipasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi UPNVJT dalam memperkuat kualitas pendidikan, riset, serta jejaring global di kawasan ASEAN dan tingkat internasional.

KPU Kota Probolinggo Gelar Sosialisasi Pemilu dan Koordinasi Intensif Bersama FKUB

Probolinggo, Berdampak.net — Komisi Pemilihan Umum Kota Probolinggo menggelar audiensi dan sosialisasi pemilu bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Probolinggo pada Senin (2/3/2026). Kegiatan ini berlangsung dalam suasana dialogis dan konstruktif sebagai bagian dari upaya memperkuat partisipasi masyarakat serta menjaga kondusivitas daerah menjelang tahapan pemilu.
Audiensi yang dilaksanakan di Kantor FKUB Kota Probolinggo ini bertujuan untuk membangun sinergi strategis antara penyelenggara pemilu dan tokoh lintas agama dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilu yang damai, jujur, dan berintegritas.

Ketua KPU Kota Probolinggo Radfan Faisal dalam sambutan pengantarnya menegaskan bahwa peran tokoh agama dan FKUB sangat vital dalam menjaga stabilitas sosial serta memberikan literasi politik yang menyejukkan kepada umat.

“Pemilu bukan hanya agenda politik lima tahunan, tetapi momentum demokrasi yang harus dijaga bersama agar tetap bermartabat dan berintegritas,” ujar Radfan.
Sementara itu, Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, MAP. menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan komitmen untuk turut serta dalam menyosialisasikan nilai-nilai demokrasi yang santun, mengedepankan persaudaraan, serta menolak segala bentuk provokasi dan politik identitas yang berpotensi memecah belah kerukunan umat beragama.
“Peran tokoh agama sangat urgen dalam mengawal umat menjaga moralitas politik agar terwujud demokrasi dan pemilu yang berkualitas dan berintegritas”, sambut Hudri.

Dalam forum tersebut, KPU juga memaparkan tahapan pemilu, strategi peningkatan partisipasi pemilih, serta pentingnya peran masyarakat dalam menjaga netralitas dan ketertiban selama proses demokrasi berlangsung. FKUB diharapkan menjadi mitra strategis dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan demokrasi melalui jaringan tokoh agama dan komunitas keagamaan di Kota Probolinggo.

Melalui kegiatan ini, KPU Kota Probolinggo berharap terbangun kolaborasi berkelanjutan dengan FKUB guna memastikan penyelenggaraan pemilu berjalan aman, damai, serta mencerminkan kedewasaan demokrasi masyarakat Kota Probolinggo. (fiq)