Energy, Geopolitik dan Harapan Ramadan

Oleh : Diajeng Maharani – Senior Business Analyst Pertamina

“Ketika energi terganggu, bukan hanya mesin yang berhenti—harapan sebuah bangsa pun ikut dipertaruhkan.”

Turbulence pasar dan geopolitik membuat setiap gangguan energi berdampak melampaui batas wilayah. Gangguan jalur distribusi energi, perubahan kebijakan produksi, hingga volatilitas harga minyak dunia adalah konsekuensi yang langsung dirasakan banyak negara.

Energi kini bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia telah menjadi elemen strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, keamanan nasional, dan keberlanjutan pembangunan.

Bagi Indonesia, turbulence global menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi stabilitas nasional. Pasokan energi yang terjaga memungkinkan transportasi tetap bergerak, distribusi logistik berjalan lancar, dan roda perekonomian berputar tanpa hambatan.

Bagi Indonesia, turbulence global menegaskan pentingnya ketahanan energi sebagai fondasi stabilitas nasional. Pasokan energi yang terjaga memungkinkan transportasi tetap bergerak, distribusi logistik berjalan lancar, dan roda perekonomian berputar tanpa hambatan.

Presiden ke-8 Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, berulang kali menekankan bahwa kemandirian dan ketahanan energi adalah bagian dari kedaulatan bangsa. Dalam lanskap geopolitik yang terus berubah, kemampuan menjaga stabilitas pasokan energi menjadi indikator kekuatan nasional.

Indonesia memiliki posisi unik dalam peta energi global. Populasi besar dan mobilitas ekonomi yang tinggi menambah kebutuhan energi domestik, sementara sistem energi tetap terhubung dengan pasar global. Dari fluktuasi harga minyak hingga perubahan produksi energi dunia, setiap faktor eksternal berpotensi berdampak langsung pada negeri ini.

Peran rantai pasok energi, demand planning, dan market intelligence menjadi sangat krusial. Demand planning memastikan kebutuhan energi diproyeksikan secara presisi, sedangkan market intelligence membaca risiko global yang dapat memengaruhi pasokan nasional. Bersama, mereka menjaga stabilitas energi meski dunia menghadapi turbulence geopolitik.

Ketahanan energi bukan hanya soal infrastruktur dan kebijakan, tetapi juga kemampuan membaca masa depan. Analisis data, proyeksi permintaan, dan pemantauan pasar global membentuk strategi adaptif untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ramadan menambahkan dimensi khusus pada tantangan ini. Peningkatan mobilitas masyarakat, distribusi logistik yang padat, dan lonjakan konsumsi energi harus diantisipasi melalui perencanaan matang. Demand planning dan market intelligence memastikan energi tersedia tepat waktu dan jumlah, sehingga masyarakat bisa menjalani aktivitasnya tanpa hambatan.

Namun Ramadan juga menjadi momen refleksi. Di tengah dunia yang masih diwarnai ketegangan geopolitik, bulan suci ini mengingatkan pada nilai kesabaran, solidaritas, dan harapan akan perdamaian. Dalam konteks energi, nilai-nilai itu tercermin dalam kerja kolektif menjaga stabilitas pasokan.

Energi yang tersedia hari ini bukan hanya hasil sistem logistik yang efisien, tetapi juga buah kerja kolektif banyak pihak yang menjaga ketahanan nasional. Mesin dan kendaraan bergerak, tapi yang lebih penting, kehidupan masyarakat tetap berjalan.

Ramadan mengajarkan bahwa di tengah turbulence global, harapan tidak boleh padam. Selama energi mengalir, selama itu pula harapan Indonesia untuk melangkah menuju masa depan yang damai, kuat, dan berdaulat akan terus menyala.

Selamat Jalan Ramadhan: Perpisahan dengan Sebuah Cahaya

Oleh: Fathur Rosy ( KAHMI Banjarbaru )

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika Ramadhan mulai meninggalkan kita. Ia datang dengan penuh kehangatan, menghidupkan malam-malam kita, melembutkan hati kita, dan mendekatkan kita kepada Allah. Namun kini, perlahan ia pergi—meninggalkan jejak-jejak yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah tersentuh olehnya.

Ramadhan bukan sekadar bulan dalam kalender. Ia adalah tamu agung yang datang membawa cahaya. Dalam kehadirannya, banyak hal yang berubah. Waktu terasa lebih bermakna, doa terasa lebih dekat, dan air mata lebih mudah jatuh dalam keheningan ibadah.
Namun seperti semua tamu, Ramadhan tidak tinggal selamanya.

Perpisahan dengan Ramadhan sering menghadirkan dua perasaan yang bertemu: syukur dan kehilangan. Syukur karena kita diberi kesempatan untuk menjalaninya—untuk berpuasa, berdoa, dan memperbaiki diri. Namun juga ada rasa kehilangan, karena kita tahu tidak ada jaminan kita akan bertemu dengannya lagi di masa depan.

Di sinilah perpisahan ini menjadi refleksi yang dalam.
Ramadhan datang untuk mengajarkan kita tentang siapa diri kita sebenarnya. Ia menunjukkan bahwa kita mampu menahan diri, mampu bersabar, mampu memperbanyak kebaikan, dan mampu mendekat kepada Allah lebih dari yang kita bayangkan.
Ia seperti membuka sebuah kemungkinan baru dalam diri kita.

Namun kini, ketika Ramadhan pergi, pertanyaannya adalah: apakah kemungkinan itu akan kita jaga, atau kita biarkan menghilang bersama kepergiannya?
Sering kali, yang kita rasakan bukan kehilangan Ramadhan, tetapi kehilangan versi terbaik dari diri kita yang muncul selama Ramadhan. Kita kehilangan ketenangan saat membaca Al-Qur’an, kehilangan kehangatan saat berdoa di malam hari, dan kehilangan kesadaran yang lebih dalam tentang kehidupan.
Jika itu yang terjadi, maka sebenarnya yang kita rindukan bukan hanya Ramadhan, tetapi keadaan hati kita di dalamnya.

Perpisahan ini mengajarkan bahwa Ramadhan bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia adalah madrasah spiritual yang melatih kita selama sebulan penuh, agar kita siap menjalani sebelas bulan berikutnya dengan kualitas iman yang lebih baik.

Namun seperti seorang murid yang meninggalkan sekolah, keberhasilan kita tidak diukur dari apa yang kita lakukan di dalamnya, tetapi dari bagaimana kita hidup setelah keluar darinya.
Apakah kita tetap menjaga shalat dengan kesadaran yang sama?
Apakah kita masih menyisakan waktu untuk Al-Qur’an?
Apakah kita tetap berusaha menjaga hati dan lisan?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah Ramadhan benar-benar telah mengubah kita.

Selamat jalan, Ramadhan. Engkau telah datang dengan lembut, mengajarkan tanpa memaksa, dan menyentuh tanpa banyak kata. Engkau telah menjadi saksi dari doa-doa yang diam-diam kami panjatkan, dari air mata yang mungkin tidak pernah dilihat oleh siapa pun selain Allah.
Jika kami masih penuh kekurangan dalam menjalanimu, itu bukan karena ajaranmu kurang sempurna, tetapi karena hati kami yang belum sepenuhnya siap.

Namun kami berharap, apa yang telah engkau tanamkan tidak hilang begitu saja.
Biarlah sedikit cahaya yang engkau tinggalkan tetap hidup di dalam hati kami. Biarlah kebiasaan baik yang kami bangun tetap bertahan, meskipun tidak sebesar ketika engkau bersama kami. Biarlah kerinduan kepada Allah tetap menjadi bagian dari kehidupan kami.
Karena sejatinya, perpisahan dengan Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, tetapi ujian dari kejujuran kita.
Apakah kita mencintai Ramadhan, atau kita mencintai Allah yang kita temui di dalamnya?

Jika yang kita cintai adalah Allah, maka meskipun Ramadhan telah pergi, jalan menuju-Nya tetap terbuka.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari perpisahan ini: bukan tentang kehilangan, tetapi tentang apakah kita mampu menjaga apa yang telah kita temukan.

Selamat jalan, Ramadhan. Jika kami tidak lagi bertemu denganmu di masa depan, semoga apa yang engkau tinggalkan menjadi saksi bahwa kami pernah berusaha untuk kembali.
Dan jika Allah masih mempertemukan kami denganmu lagi, semoga kami datang sebagai pribadi yang lebih siap—dengan hati yang lebih hidup, iman yang lebih kuat, dan kerinduan yang lebih dalam.

Pererat Tali Silaturahmi Antar Alumni HMI, MD KAHMI Jakpus, Gelar Buka Puasa Bersama

Jakarta, Berdampak.net – Majelis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jakarta Pusat menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan santunan anak yatim serta serah terima Koordinator Presidium, pada Senin, 16 Maret 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung HDI HIVE Menteng ini dihadiri oleh pengurus dan anggota MD KAHMI Jakarta Pusat, serta menghadirkan santunan bagi 50 anak yatim.

Momentum Ramadan ini juga menjadi ajang regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi. Serah terima jabatan Koordinator Presidium dilakukan dari Ario Pringgodany kepada Patriyuni.Dalam sambutan serah terima kepemimpinan, Ario Pringgodany menyampaikan rasa terima kasih atas amanah yang telah diberikan selama masa kepemimpinannya. Ia juga berharap, di bawah kepemimpinan baru, organisasi dapat semakin berkembang.

Acara berlangsung khidmat dan penuh kehangatan dengan kehadiran Ketua Umum MW KAHMI Jaya, M. Ichwan Ridwan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antar pengurus, baik di tingkat Majelis Daerah maupun Majelis Rayon KAHMI se-Jakarta.

Sementara itu, perwakilan Majelis Nasional KAHMI, Taufik Lubis, menyampaikan bahwa selama bulan Ramadan, seluruh jajaran KAHMI dari tingkat nasional hingga rayon aktif menggelar kegiatan buka puasa bersama yang juga diiringi dengan aksi sosial.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian KAHMI kepada masyarakat, khususnya dalam momentum Ramadan yang penuh keberkahan.

Di sisi lain, Sekretaris Umum MD KAHMI Jakarta Pusat, Fuadul Aufa, yang juga menjabat sebagai Koordinator Presidium Jaringan Muda Merah Putih (JMMP), turut berpartisipasi langsung dalam penyerahan santunan kepada anak yatim.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan penyerahan santunan, menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat serta memperkuat nilai kepedulian sosial di bulan suci Ramadan.

Jalan Tol Prosiwangi Hanya Dibuka Sementara, Netizen Juluki Jalan Tol Musiman

Probolinggo, Berdampak.net – Jalan tol Probolinggo Situbondo Banyuwangi (Prosiwangi), yang baru saja dibuka untuk publik selama periode arus mudik dan balik Lebaran, kini menjadi sorotan masyarakat. Pembukaan yang berlangsung selama dua minggu saja telah menuai banyak pertanyaan dan kebingungan di kalangan pengguna jalan. Dengan tujuan untuk mengurangi kemacetan dan mempercepat waktu tempuh, ekspektasi terhadap jalan tol ini sangat tinggi. Namun, keputusan untuk membukanya secara sementara bikin pertanyaan banyak orang apalagi durasi nya lebih pendek dari waktu libur natal dan tahun baru.

Ketika pertama kali dibuka, jalan tol ini disambut antusias oleh masyarakat yang merasa waktu tempuh mereka dapat dipersingkat secara signifikan. Dalam sepekan, jalan tol tersebut memberikan dampak positif dengan mengurangi beban lalu lintas di jalan-jalan utama. Namun, kebijakan yang hanya berlaku sementara selama dua minggu menimbulkan pertanyaan.

Masyarakat menilai bahwa jalan tol ini sangat diperlukan, terutama pada jam-jam sibuk, di mana lalu lintas sering kali macet parah. Mereka berharap jalan tol Prosiwangi bisa beroperasi lebih lama atau bahkan secara permanen. Pihak berwenang belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai alasan di balik pembatasan waktu operasional jalan tol selama seminggu. Dalam situasi ini, banyak warga menantikan informasi lebih lanjut yang dapat menjelaskan situasi ini.

Selain itu, pembatasan waktu operasional ini tampaknya menciptakan dampak lebih luas terhadap perekonomian lokal, di mana aksesibilitas yang lebih baik diharapkan bisa mendukung peningkatan aktivitas perdagangan dan bisnis. Sebagai infrastruktur yang sangat ditunggu-tunggu, masyarakat kini menaruh harapan besar agar pihak berwenang segera memberikan keputusan yang lebih jelas mengenai nasib jalan tol Prosiwangi. Apakah ia akan kembali dibuka untuk layanan publik dan berapa lama pengujian ini akan dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi topik hangat yang terus dibahas di kalangan masyarakat.

Komisi Perempuan MUI Gelar Talkshow Remaja: “Jadi Remaja Berkelas untuk Indonesia Emas”

Probolinggo, Berdampak.net— Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menggelar kegiatan Talkshow Remaja bertema “Jadi Remaja Berkelas untuk Indonesia Emas” pada Sabtu, 14 Maret 2026. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WIB di Puri Manggala Bhakti Pemerintah Kota Probolinggo dan diikuti oleh 130 remaja dari berbagai wilayah di Kota Probolinggo.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya membangun kesadaran generasi muda agar mampu menjadi remaja yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

Melalui forum dialog interaktif ini, Ketua Umum MUI Kota Probolinggo Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA. dalam sambutan pembukaan mengajak para peserta untuk memahami pentingnya membangun karakter remaja yang berintegritas, berwawasan luas, serta memiliki tanggung jawab sosial sebagai bagian dari generasi penerus bangsa.

Sementara itu Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Kota Probolinggo Romiyati menyampaikan bahwa talkshow ini bertujuan untuk mencetak generasi remaja Kota Probolinggo yang “Ulul Albab”, yakni generasi yang mampu memadukan kekuatan dzikir, pikir, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. “Remaja yang berkelas bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kedewasaan berpikir, akhlak yang baik, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial”, jelas Romiyati.

Dalam kesempatan tersebut, Izzul Rojabi, S.E. hadir sebagai narasumber utama yang memberikan pemaparan inspiratif mengenai pentingnya membangun karakter remaja yang visioner, produktif, dan berdaya saing di tengah dinamika perkembangan zaman.

“Bahwa remaja saat ini merupakan pilar utama menuju Indonesia Emas 2045, sehingga perlu dipersiapkan dengan nilai-nilai moral, keilmuan, serta semangat kontribusi bagi masyarakat”, ujar Izzul.

Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas secara interaktif melalui sesi pemaparan materi, diskusi, dan tanya jawab. Melalui kegiatan ini, diharapkan para remaja dapat memperoleh wawasan, motivasi, serta inspirasi untuk menjadi generasi muda yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa.

Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI Kota Probolinggo berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pembinaan generasi muda. Dengan demikian, lahir generasi remaja yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat, spiritualitas yang kokoh, dan komitmen untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Ketua Jong Madura Ponirin Mika Soroti Perang AS–Israel vs Iran sebagai Pertarungan Geopolitik dan Kepentingan Dunia

Probolinggo, Berdampak.net – Ketua Jong Madura Ponirin Mika menilai konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik ideologi atau agama, melainkan pertarungan geopolitik dan kepentingan bisnis global yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Menurut Ponirin, dinamika konflik di Timur Tengah selama ini sering kali dipengaruhi oleh perebutan pengaruh politik, kontrol sumber daya energi, serta dominasi ekonomi global. Kawasan Timur Tengah dikenal sebagai salah satu wilayah dengan cadangan minyak dan gas terbesar di dunia, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut hampir selalu berkaitan dengan kepentingan strategis negara-negara besar.

Ia menilai Iran selama ini kerap menjadi sasaran tekanan politik, ekonomi, hingga militer karena sikapnya yang tidak sepenuhnya tunduk terhadap hegemoni Amerika Serikat di kawasan tersebut. Sikap independen Iran dalam berbagai kebijakan regional dan internasional sering dianggap sebagai tantangan bagi kepentingan geopolitik Amerika dan sekutunya.

“Perang ini bukan hanya soal agama, tetapi juga tentang dominasi ekonomi, energi, dan pengaruh global. Iran dianggap menjadi hambatan bagi kepentingan geopolitik Amerika dan sekutunya,” ujar Ponirin.

Sejumlah laporan internasional juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik tersebut. Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Iran pada awal tahun 2026 dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada berbagai fasilitas sipil dan memicu jatuhnya korban di kalangan masyarakat.
Dalam salah satu insiden yang disorot organisasi hak asasi manusia internasional, sebuah serangan dilaporkan mengenai fasilitas pendidikan sehingga menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil, termasuk anak-anak. Lembaga pemantau HAM internasional menilai peristiwa tersebut perlu diselidiki secara independen karena berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

Di sisi lain, berbagai organisasi HAM global seperti Amnesty International dan Human Rights Watch juga telah lama menyoroti berbagai dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional dalam konflik Timur Tengah, termasuk tuduhan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konflik di Gaza dan sejumlah wilayah konflik lainnya.
Konflik terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga dikhawatirkan dapat memperluas instabilitas kawasan dan memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama di Timur Tengah.

Berbagai laporan menyebutkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus terjadi.
Ponirin menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terus berulang di kawasan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius masyarakat internasional. Ia menilai perang yang mengorbankan masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

“Tidak ada perang yang benar jika yang menjadi korban adalah rakyat sipil. Dunia harus bersuara agar konflik ini tidak terus melahirkan tragedi kemanusiaan,” tegasnya. (pm)