Prabowo Percayakan Sudaryono Pimpin BGN, Perkuat Keberlanjutan Program Gizi Nasional


JAKARTA, Berdampak.net – Presiden Prabowo Subianto menunjuk Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Keputusan tersebut diambil menyusul pengunduran diri Nanik S. Deyang karena alasan kesehatan, sekaligus untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan dan program prioritas pemerintah.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan, Presiden menghendaki proses transisi kepemimpinan berlangsung cepat sehingga pelaksanaan tugas BGN, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetap berjalan sesuai target. Karena itu, Sudaryono dijadwalkan langsung dilantik sebagai Kepala BGN definitif

Menurut Prasetyo, pemilihan Sudaryono didasarkan pada pengalamannya yang sejak awal terlibat dalam pembahasan dan pengembangan konsep MBG. Selain itu, posisinya di Kementerian Pertanian dinilai memiliki keterkaitan erat dengan penyediaan bahan pangan yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program gizi nasional.

Sementara itu, Nanik S. Deyang mengundurkan diri untuk menjalani perawatan kesehatan. Pemerintah menyampaikan apresiasi atas pengabdiannya dan membuka peluang bagi Nanik untuk tetap berkontribusi melalui Dewan Pengawas BGN setelah kondisi kesehatannya membaik.

Rektor UNIRA Lepas Mahasiswa KKN Tematik 2026, Siap Dampingi Delapan Desa Wisata

Malang, Berdampak.net – Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang kembali menunjukkan komitmennya menjadi kampus berdampak melalui pengabdian masyarakat. Sebanyak 162 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 secara resmi diberangkatkan menuju delapan desa di Kabupaten Malang untuk melaksanakan program pengabdian masyarakat selama lebih dari satu bulan, sepulu hari.

Seremonial pemberangkatan digelar di lapangan Kampus 1 Unira Malang, Senin (20/7/2026). Ini menjadi penanda dimulainya rangkaian KKN Tematik dengan mengusung tema “Penguatan Ekosistem Desa Wisata Berdampak dan Berkelanjutan.” Program KKN berlangsung mulai 20 Juli hingga 30 Agustus 2026 dan melibatkan mahasiswa lintas program studi yang akan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL).

Abdillah, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unira Malang mengatakan bahwa KKN Tematik bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa, maka mahasiswa harus menjalaninya dengan semangat.
“Kami ingin mahasiswa belajar dinamika di desa. Mereka akan belajar dengan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat kelembagaan desa wisata, mengoptimalkan promosi digital, meningkatkan kapasitas UMKM, hingga memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan sehingga desa mampu tumbuh secara mandiri,” jelas Abe sapaan karibya.

Sementara itu, Rektor Unira Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D, dalam arahannya mengingatkan mahasiswa agar menjadikan masa pengabdian sebagai momentum menempa karakter kepemimpinan, integritas, serta kemampuan bekerja bersama masyarakat.
“KKN bukan sekadar hadir di desa, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menjadi bagian dari masyarakat. Bangun komunikasi yang baik, hormati budaya lokal, dengarkan aspirasi masyarakat, kemudian hadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan desa. Jadilah duta Unira yang membawa manfaat dan meninggalkan jejak kebaikan,” dengan nada penuh harap oleh Gus IRH.

“Jaket (KKN-T) yang kalian kenakan itu bukan sekedar melindungi dari dingin atau lainnya, tapi simbol kebanggaan kampus yang harus dijaga,” imbuh Gus IRH.

Masih menurut Gus IRH, tema KKN tahun yang selaras dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan desa sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru. Melalui pendekatan kolaboratif, mahasiswa diharapkan mampu mendampingi kelompok masyarkat untuk memperkuat tata kelola destinasi wisata. meningkatkan literasi digital pelaku usaha, mengembangkan ekonomi kreatif, serta mendorong pengelolaan potensi wisata berbasis alam, relegi dan budaya.
Penyematan jaket KKN oleh Rektor dan Ketua Yayasan kepada perwakilan mahasiswa dan DPL, menjadi simbol amanah sekaligus tanggung jawab moral yang diemban seluruh peserta.

Selain itu, menambah suasana meriah ditandai dengan pemukualn kentongan dan paper confetti oleh Rektor dan pimpinan serta perwakilan dari mahasiswa.
Seremonial ditutup dengan pesan-pesan moral dan doa oleh KH. Dr. Romadlon Chatib, MH selaku Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Raden Rahmat Malang.
Kegiatan pemberangkatan dihadiri oleh Wakil Rektor 1 Dr.(Cand.) Sinolah, SAB.MAB., Wakil Rektor 3, Dr. Hasan Bisri, MPd. Wakil Rektor 4, Dr. Abdur Rofi Maulana, MPd, Dekan FEB, Dr. Yusuf Azwar Anas, SE.,MM, Dekan FISIP, Khusnul Hakim, MH., Kaprodi dilingkungan FEB dan Fisip, dosen pembimbing lapangan, serta seluruh mahasiswa peserta KKN.

FKUB Kabupaten Purworejo Pelajari Model Sinergi Pemerintah dan FKUB di Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Purworejo melaksanakan studi komparasi ke FKUB Kota Probolinggo yang difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Probolinggo, Kamis (16/7/2026), sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kelembagaan sekaligus memperkuat sinergi antara FKUB dan pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan umat beragama serta stabilitas sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Probolinggo tersebut diikuti oleh 22 peserta yang dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Kabupaten Purworejo, KH. Khabib, S.Pd., didampingi Sekretaris FKUB Kabupaten Purworejo, Rr. Nurul Komariyah, S.Sos., M.A.P.

Rombongan diterima oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Probolinggo, M. Sonhaji, bersama Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, S.T., M.A.P., didampingi Wakil Sekretaris FKUB Kota Probolinggo, Erfan Sudjianto, dan Wakil Bendahara FKUB Kota Probolinggo, Masyhuri Nurzah.

Acara dipandu langsung oleh Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, M. Sonhaji, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan FKUB sebagai pilar utama dalam menjaga kondusivitas daerah di tengah keberagaman masyarakat.

“Sinergi yang terbangun selama ini dinilai menjadi modal sosial yang sangat penting dalam mencegah potensi konflik sekaligus memperkuat persatuan”, kata Sonhaji.

Materi utama disampaikan oleh Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, S.T., M.A.P., dengan tema “Kebijakan dan Strategi Pemerintah Daerah dalam Menjalin Sinergitas dengan FKUB untuk Menjaga Kerukunan Umat Beragama serta Stabilitas Sosial.” Dalam paparannya dijelaskan bahwa keberhasilan menjaga kerukunan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga memerlukan komunikasi yang intensif, kemitraan yang kuat, deteksi dini terhadap potensi persoalan, serta kolaborasi aktif antara pemerintah, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.

“Berbagai praktik baik yang telah dikembangkan FKUB Kota Probolinggo bersama Pemerintah Kota Probolinggo, mulai dari penguatan dialog lintas agama, edukasi moderasi beragama, penyelesaian persoalan melalui musyawarah, hingga berbagai program kolaboratif yang melibatkan organisasi keagamaan, pemerintah daerah, dan masyarakat”, papar Hudri.

Hudri juga memaparkan program unggulan FKUB kota Probolinggo diantaranya ecoHarmony, rumah ibadah ramah anak, rumah ibadah ramah lingkungan, profiling rumah ibadah, FKUB goes to school/ pesantren, dan pembinaan guru non formal pada sekolah Minggu di gereja, pasraman, dan klenteng sumber naga.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dan pertukaran pengalaman mengenai tata kelola kelembagaan FKUB, pola koordinasi dengan pemerintah daerah, serta strategi menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Suasana yang terbuka dan penuh semangat kebersamaan mencerminkan komitmen kedua daerah untuk terus memperkuat nilai-nilai toleransi dan persaudaraan.

Ketua FKUB Kabupaten Purworejo, KH. Khabib, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Kota Probolinggo, Bakesbangpol, dan FKUB Kota Probolinggo. Menurutnya, studi komparasi ini memberikan banyak wawasan dan praktik baik yang dapat diadaptasi untuk memperkuat peran FKUB Kabupaten Purworejo sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

“Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin hubungan kelembagaan yang semakin erat antardaerah, sekaligus menjadi media pembelajaran bersama dalam mengembangkan inovasi dan strategi penguatan kerukunan umat beragama”, ujar Habib Sol

Sinergi yang baik antara pemerintah daerah, FKUB, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.

RS R.Ismoyo Dukung PPDS Bedah FK Unhalu

KENDARI, Berdampak.net – Rumah Sakit (RS) dr.R.Ismoyo menjalin kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo dalam rangka pembentukan PPDS (program pendidikan dokter spesialis) prodi ilmu bedah RS dr.R Ismoyo sebagai rumah sakit jejaring, Rabu (15/7) di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Dalam kegiatan kerjasama tersebut hadir dari pihak manajemen RS dr.R.Ismoyo Karumkit Kapten CKM dr. Idul Saputra, S.IP, MH.Kes. Dari FK Universitas Haluoleo Dekan Dr.dr.I Putu Sudayasa M.Kes, Wakil Dekan 2 dr. Ashaeryanto M.Med.Sp.N, Wakil Dekan 3 dan Kaprodi PPDS Bedah Umum dr Muhammad Rustam Sp.OT. Selain itu hadir juga perwakilan dari pihak RS Bhayangkara, RSUD Abunawas, dan RSUD Bahteramas Kendari.

“Kami mendukung pembelajaran prodi tersebut karena RS dr.R Ismoyo akan menjadi RS jejaring dan salah satu rumah sakit pendidikan bagi FK Unhalu di kota Kendari,” kata dr.Idul Saputra dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/7).

Apalagi sebelumnya, tambah Idul, pihaknya sudah bekerjasama dengan Fakultas Kedoktern (FK) Unhalu untuk kegiatan coass bedah,obgyn,jiwa,interna.

PPDS prodi Ilmu Bedah adalah jenjang pendidikan lanjutan bagi dokter umum untuk menjadi Spesialis Bedah (Sp.B). Program ini membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 tahun (8-10 semester), di mana dokter muda akan dilatih menangani operasi dan perawatan pasien secara intensif.

Program ini menjadi tonggak sejarah bagi FK Unhalu dan RS jejaringnya karena kehadirannya menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran serta pelayanan kesehatan di wilayah Kendari dan sekitarnya

PPDS prodi bedah FK Unhalu dirancang untuk mencetak dokter spesialis bedah yang kompeten, profesional, dan beretika tinggi. Kurikulum yang diterapkan mengacu pada standar nasional dan internasional, dengan penekanan pada keterampilan bedah dasar hingga lanjutan.

Selain itu, peserta program akan dibekali dengan ilmu dan teknologi terkini dalam bidang bedah, termasuk teknik minimal invasif dan manajemen kasus-kasus bedah kompleks. ***

GEKRAFS Probolinggo Gelar Turnamen PS4 dan Nobar Piala Dunia 2026


Probolinggo, Berdampak.net – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) menggelar Turnamen PlayStation 4 (PS4) dan nonton bareng (nobar) semifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol melawan Prancis di Vibes Space, Desa Bucor Kulon, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan anak muda tersebut berlangsung meriah. Selain menyuguhkan persaingan seru dalam turnamen gim sepak bola, peserta dan masyarakat juga menikmati nobar laga semifinal Piala Dunia 2026. Suasana semakin semarak dengan pembagian berbagai doorprize kepada peserta dan penonton.

Ketua Pelaksana, Ahmad Fauzan, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya GEKRAFS menghadirkan ruang hiburan yang positif sekaligus memperkuat silaturahmi dan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang positif bagi generasi muda untuk berkumpul, berkompetisi secara sportif, dan merasakan euforia Piala Dunia 2026 bersama. Semoga kegiatan ini dapat mempererat kebersamaan sekaligus mendukung perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo,” ujar Ahmad Fauzan.

Menurut Fauzan, turnamen gim dan nobar sepak bola menjadi salah satu media yang efektif untuk mempertemukan komunitas, menumbuhkan sportivitas, serta membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif lokal untuk berkembang melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan kreatif.

GEKRAFS berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sebagai wadah kolaborasi, kreativitas, dan kebersamaan generasi muda. Dengan demikian, selain menjadi sarana hiburan, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Probolinggo. (fj)

Santri dan Pengembangan Kepemimpinan: dari Pesantren ke Masyarakat

Oleh : NORIS SOLEH

Santri Nusantara

Sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesi, pesantren berperan penting dalam membantu generasi muda mengembangkan pemahaman agama dan karakter moral mereka. Kebijakan pengembangan telah menjadi bagian dari fungsi pesantren dalam beberapa dekade terakhir, baik dalam ekosistem pesantern maupun dalam masyarakat yang lebih luas. Tulisan ini membahas bagaimana pengembangan kepemimpinan santri dan dampaknya terhadap masyarakat setelah lulus difasilitasi oleh sekolah pesantren.

Selain mata pelajaran akademik dan keagamaan, pendidikan di pesantren menekankan pada pengembangan prinsip-prinsip moral dan karakter. Dalam konteks pesantren, gagasan kepemimpinan sering dikaitkan dengan prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, akuntabilitas, dan kejujuran. Pada tahun 2006, Kuntowijoyo menyoroti dalam bukunya Pendidikan Islam di Pesantren bahwa “pesantren memegang peranan penting dalam membentuk karakter santri melalui pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai moral dan spiritual.” Selain mengajarkan santri tentang agama, pesantren juga melatih mereka untuk menjadi pemimpin yang berlandaskan moral dan etika.

Untuk menanamkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Islam, metode pelatihan ini menggabungkan ceramah, diskusi, dan praktik langsung. “kepemimpinan dalam Islam tidak hanya berkisar pada kemampuan untuk memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengelola diri sendiri dengan integritas dan kedewasaan” dalam bukunya Leadership in Islam (2004). Oleh karena itu, pesantren berupaya keras untuk mengembangkan siswa menjadi pemimpin yang cakap yang juga menjunjung tinggi standar moral yang tinggi.

Banyak pesantren yang menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk menumbuhkan kualitas kepemimpinan di samping kurikulum resmi. Kegiatan ini meliputi organisasi mahasiswa, debat kelompok, pengembangan kepemimpinan, dan berbagai inisiatif pengabdian kepada masyarakat. Di pesantren, kegiatan ekstrakurikuler memberi kesempatan kepada santri untuk mempraktikkan kepemimpinan dan menerapkan pengetahuan akademis mereka dalam lingkungan praktis. Melalui latihan-latihan ini, santri dapat mengembangkan keterampilan manajemen waktu, inisiatif, dan pemecahan masalah.

Program pengembangan kepemimpinan, yang sering ditawarkan di pesantren untuk membekali santri dalam menghadapi kesulitan di luar lembaga, adalah salah satu contohnya. Kursus-kursus ini sering kali mencakup instruksi manajemen konflik, pelatihan keterampilan komunikasi, dan simulasi skenario kepemimpinan. Untuk membangun kemampuan kepemimpinan yang sukses, seseorang harus memiliki pengalaman kepemimpinan di dunia nyata. Memberikan kesempatan untuk kepemimpinan dan terlibat dalam kegiatan yang menantang adalah metode yang baik untuk mengembangkan keterampilan ini.

Para santri sering kali menghadapi kesulitan serius dalam menerapkan kualitas kepemimpinan yang baru mereka peroleh setelah mereka meninggalkan pesantren dan terjun ke masyarakat. Dunia luar, dengan kebutuhan dan dinamikanya yang lebih rumit, dapat sangat berbeda dengan lingkungan pesantren. “Santri harus menghadapi tantangan transisi saat mereka mencoba menerapkan nilai-nilai dan keterampilan kepemimpinan yang telah mereka pelajari di pesantren dalam konteks masyarakat yang lebih luas,” tulis Nurdin dalam Santri dan Kepemimpinan Sosial (2015).

Namun, ada banyak peluang luar biasa yang menyertai perubahan ini. Para santri sering bertindak sebagai agen perubahan di masyarakat mereka, menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang mereka peroleh di pesantren untuk memperbaiki masyarakat tempat mereka tinggal. Para santri yang dididik di pesantren sering kali menjadi pemimpin yang dapat mengangkat dan menyemangati orang lain serta membawa perubahan positif di masyarakat mereka. Kapasitas mereka untuk memadukan kepemimpinan kontemporer dengan prinsip-prinsip Islam menjadikan mereka sumber daya yang tak ternilai bagi masyarakat.

Para santri yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren dan memperoleh pelatihan kepemimpinan kini kerap menduduki jabatan di berbagai bidang industri, termasuk bisnis, politik, dan layanan sosial. Mereka mengawasi berbagai inisiatif masyarakat, menangani berbagai masalah sosial, dan menegakkan keadilan dengan menggunakan kemampuan kepemimpinan mereka.

Beberapa santri, misalnya, mempelopori berbagai kampanye untuk memajukan kesehatan dan pendidikan, sementara yang lain berpartisipasi dalam berbagai organisasi sosial yang membantu peningkatan tersebut. Hasan dan Abdullah mengamati bahwa “Santri yang menjadi pemimpin sering kali menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengelola sumber daya dan memimpin berbagai proyek sosial yang berdampak besar bagi masyarakatnya” dalam The Role of Islamic Leadership in Social Development (2020). Hal ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan pendidikan di pondok pesantren membekali para santri untuk memimpin tidak hanya dalam agama mereka sendiri tetapi juga dalam konteks sosial yang lebih luas.

Di pesantren, pengembangan kepemimpinan merupakan komponen penting pendidikan yang membantu membentuk kemampuan dan karakter santri. Pesantren memberikan santri pendidikan formal dan kegiatan ekstrakurikuler yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam masyarakat. Mereka juga menanamkan cita-cita kepemimpinan yang kuat dan keterampilan praktis. Meskipun mungkin sulit bagi santri untuk menyesuaikan diri dari pesantren ke masyarakat, mereka sering kali berhasil mengubah keadaan menjadi lebih baik dan meninggalkan dampak yang langgeng di lingkungan mereka. Para santri dapat menekankan cita-cita keadilan dan manfaat dalam masyarakat modern, berkembang dengan integritas, dan menjadi agen perubahan yang sukses dengan menerapkan keterampilan kepemimpinan yang mereka pelajari di pesantren. Pesantren memainkan peran penting dalam mengembangkan pemimpin yang tidak hanya cakap tetapi juga bermoral dan sadar lingkungan demi kepentingan masyarakat karena pendekatan mereka yang unik terhadap pengembangan karakter dan kepemimpinan.