Ribuan Pesepeda Berangkat dari NU Babat Center Menuju Panorama Gunung Pegat: Gowes Muharram Meriah

Lamongan, Berdampak.net – Ribuan pesepeda memadati jalur dari NU Babat Center menuju kawasan wisata alam Gunung Pegat, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Selasa (16/6/2026) pagi. Kegiatan Gowes Muharram ini digelar untuk memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah merupakan
diinisiasi dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Babat tersebut tidak hanya diikuti warga Lamongan. Ratusan peserta juga datang dari berbagai daerah sekitar, seperti Bojonegoro, Tuban, dan Gresik, untuk meramaikan kegiatan yang memadukan olahraga, silaturahmi, dan syiar Islam tersebut.

Kegiatan semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), gus maksum. Pengasuh Pondok Pesantren Langitan itu tampak membaur dan mengayuh sepeda bersama para peserta sepanjang rute.
Menurut Gus Maksum, momentum pergantian tahun baru Hijriah perlu diisi dengan kegiatan positif yang melibatkan masyarakat secara luas. Bersepeda bersama dinilai menjadi sarana efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus menjaga kesehatan.

Ia menambahkan, syiar Islam melalui kegiatan olahraga rekreasi dapat menjadi upaya menghidupkan kembali semangat peringatan Tahun Baru Islam yang belakangan mulai berkurang gaungnya di tengah masyarakat.

Selain menawarkan rute yang melintasi panorama alam Bukit Kapur Pegat, panitia juga menyediakan berbagai hadiah menarik bagi peserta. Doorprize utama berupa paket umrah gratis menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Setibanya di garis finis, peserta disuguhi sarapan gratis berupa Sego Gunung, yang semakin menambah semarak suasana kebersamaan. Di akhir kegiatan, Gus Maksum menegaskan komitmennya untuk menjadikan Gowes Muharram sebagai agenda tahunan.

MUI Kecamatan Mayangan, Komisi Fatwa MUI dan IASS Gelar Diklat Fikih Darah Wanita di MTsN Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net– Dalam upaya meningkatkan pemahaman keagamaan, khususnya terkait fikih perempuan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Mayangan bekerja sama dengan Komisi Fatwa MUI dan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) menyelenggarakan Diklat Fikih Darah Wanita pada Senin, 15 Juni 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula MTsN Kota Probolinggo dan diikuti oleh para siswi serta guru.

Diklat ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya pemahaman hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan haid, nifas, dan istihadhah. Materi yang disampaikan tidak hanya berorientasi pada aspek teoritis, tetapi juga memberikan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pelaksanaan ibadah.

Ketua MUI Kecamatan Mayangan Ustadz Asnafun dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemahaman fikih darah wanita merupakan bagian penting dari pendidikan keislaman yang sering kali belum dipahami secara mendalam oleh kalangan remaja putri.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi yang efektif untuk membekali peserta dengan pengetahuan yang benar sesuai tuntunan syariat Islam”, ujar Asnafun.

Para pemateri dari Komisi Fatwa MUI dan IASS menjelaskan berbagai persoalan yang sering dihadapi perempuan terkait hukum darah wanita, mulai dari batasan masa haid, nifas, istihadhah, hingga implikasinya terhadap pelaksanaan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memahami materi yang disampaikan.

Kepala MTsN Kota Probolinggo Abd. Manaf, S.Pd.I. menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini dan menyampaikan apresiasi kepada MUI Kecamatan Mayangan, Komisi Fatwa, dan IASS atas inisiatif yang sangat bermanfaat bagi para siswi dan tenaga pendidik.

“Pendidikan fikih yang aplikatif sangat diperlukan untuk membentuk generasi muslimah yang cerdas, berakhlak, dan memahami kewajiban agamanya dengan baik”, tegas Manaf.

Melalui kegiatan ini, MUI Kecamatan Mayangan, Komisi Fatwa, dan IASS berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan literasi keagamaan di tengah masyarakat, khususnya bagi generasi muda perempuan, sehingga mampu menjalankan ajaran Islam secara benar, moderat, dan penuh kesadaran. (fiq)

MUI Kota Probolinggo dan UNUJA Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah Bereputasi

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan memperkuat budaya akademik yang berintegritas, Komisi Penelitian dan Pengkajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo bekerja sama dengan Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton menyelenggarakan Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah Bereputasi pada tanggal 12–14 Juni 2026 di Kampus Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Komisi Penelitian dan Pengkajian beserta Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Kota Probolinggo yang dipersiapkan menjadi pengelola jurnal ilmiah MUI Kota Probolinggo yang berlatarbelakang sebagai akademisi, peneliti, dosen, pegiat literasi dan publikasi ilmiah dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Probolinggo dan sekitarnya.

Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelola jurnal dalam menerapkan tata kelola jurnal yang profesional, transparan, akuntabel, dan sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi antar pengelola jurnal dalam mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah yang bereputasi.

Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Kota Probolinggo Dr. KH. Hefny yang juga dosen Unuja menyampaikan bahwa penguatan tata kelola jurnal ilmiah merupakan langkah strategis dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan berbasis riset yang berkualitas.

“Jurnal ilmiah merupakan instrumen penting dalam diseminasi hasil penelitian. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara profesional agar mampu menghasilkan publikasi yang kredibel, berkualitas, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta kemaslahatan umat,” ujar Ra Hefny.

Sementara itu, Prof. Hasan Baharun Wakil Rektor III Universitas Nurul Jadid menyambut baik sinergi yang dibangun bersama MUI Kota Probolinggo. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga keagamaan dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem riset dan publikasi ilmiah di Indonesia.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi strategis, antara lain tata kelola jurnal berbasis Open Journal System (OJS), manajemen editorial dan peer review, etika publikasi ilmiah, strategi peningkatan akreditasi jurnal, indeksasi nasional dan internasional, hingga praktik terbaik dalam pengelolaan jurnal bereputasi.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber termasuk Prof. Hasan Baharun sendiri yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pengelolaan jurnal ilmiah terakreditasi nasional maupun terindeks internasional. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi praktik, diskusi, dan pendampingan teknis untuk pengelolaan jurnal yang mereka kelola.

Melalui workshop ini, MUI Kota Probolinggo dan Universitas Nurul Jadid berharap lahir pengelola jurnal yang semakin profesional serta terbangun jejaring kolaborasi yang kuat dalam meningkatkan mutu publikasi ilmiah. Ke depan, sinergi antara lembaga keagamaan, perguruan tinggi, dan komunitas akademik diharapkan mampu mendorong lahirnya karya-karya ilmiah yang berkualitas, inovatif, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

MUI saat ini sedang mempersiapkan layanan penerbitan jurnal ilmiah. Adapun OJS (Open Jurnal system) MUI kota probolinggo yang sedang dipersiapkan adalah sebagai berikut:

  1. Journal of Religion and Social Dynamics.
  2. Journal of Applied Mechanical System and Manufacturing.
  3. Journal of Education and Culture.
  4. Journal of Advanced intelligent System.
  5. Journal of Social Transformation and Community Service.
APINDO Jawa Timur Gelar Ramah Tamah dengan Tripartit Lintas Provinsi Kalimantan Selatan

Surabaya, Berdampak.net – DPP APINDO Jawa Timur melaksanakan kegiatan ramah tamah bersama Tripartit Provinsi Kalimantan Selatan di Kayana Restauran. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, sekaligus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi serta membangun komunikasi yang lebih baik antar pemangku kepentingan di bidang ketenagakerjaan dan hubungan industrial. Kamis (04/06/2026).

Dalam kesempatan tersebut, para peserta berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai berbagai perkembangan ketenagakerjaan, tantangan dunia usaha, serta upaya menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan produktif. Melalui dialog yang konstruktif, diharapkan terbangun keselarasan pandangan untuk menghadapi dinamika yang terus berkembang di sektor ketenagakerjaan.

Diharapkan, melalui kegiatan ramah tamah ini, hubungan antara APINDO Jawa Timur dan Tripartit Provinsi Kalimantan Selatan dapat semakin erat. Kolaborasi yang terbentuk diharapkan mendukung terwujudnya penguatan iklim investasi dan ketenagakerjaan di daerah, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan pekerja dan pengembangan dunia usaha. (fj)

Komitmen UM Siapkan Guru dan Profesional Berdaya Kinerja Tinggi: Diskusi serta Sosialisasi Program Magister dan Doktor FEB UM di Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Sebagai bentuk komitmen Universitas Negeri Malang untuk berkontribusi menyiapkan guru dan profesional yang memiliki performa kinerja yang tinggi dan kapabilitas keilmuan yang dapat dapat mendukung Program pembangunan manusia di pemerintahan Kota Probolinggo dan Probolinggo Raya pada umumnya, mengadakan diskusi pendidikan dan sekaligus sosialisasi tentang Universitas negeri Malang khusus nya program di FEB UM .

Kegiatan tersebut di laksanakan Pada hari Jumat 8 Mei 2026 di aula SMAN 4 Kota Probolinggo. Peserta yang hadir dalam sosialisasi dan diskusi bersama Program Magister dan Doktor FEB UM di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo, Perwakilan MGMP Kota Probolinggo dan Pengurus Ikatan Alumni UM Probolinggo Raya.

Kegiatan ini sangat di apresiasi oleh Pemerintah Kota Probolinggo melalui kepala dinas pendidikan Doktor Siti Romlah S.Si M.Pd sebagai bentuk kontribusi UM dan Alumni bersama sama dinas pendidikan untuk membuka akses informasi dalam rangka program kelas studi lanjut untuk kalangan pendidik di Kota Probolinggo yang tentunya sangat bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas pendidik dan output mutu pendidikan di Kota Probolinggo.

Program Studi Magister dan Doktor di FEB UM sendiri adalah program pendidikan lanjutan di bidang ekonomi   yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan keahlian dalam berpikir  analitis  dan komprehensif. Program ini  sangat  baik untuk calon-calon ekonom profesional  yang bekerja baik di  sektor  publik maupun swasta.

Sesi inti diskusi diisi dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. Hari Wahyono, M.Pd., yang akrab disapa Prof. Ayong. Dengan gaya penyampaian yang santai, diselingi dan kisah inspiratif, beliau berhasil memberikan inspirasi para guru yang hadir yang kemudian di lanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab.

Sebagai tuan rumah plt Kepala Sekolah SMAN 4 Kota Probolingggo dan juga sebagai wakil Ketua Ikatan alumni Muhammad Fachrur Rozi, S.Pd., M.Pd sangat senang atas kepercayaan UM kepada SMAN 4 Kota Probolinggo dan menyampaikan ini merupakan sebuah bentuk kolaborasi konnstruktif dalam sinergi jejaring alumni yang dapat di kembangkan dalam bentuk variasi lainnya oleh UM dan alumni kedepannnya agar semakin memberikan manfaat kepada di mana alumni dimanapun berada.

Haji Mabrur dalam Dialektika Ilmu Sosial

Oleh Muhammad Ali Muhsin rofiey Notonogoro Ama, Spd.I. Waki Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan dan Pengurus ICMI Kabupaten Pamekasan.

Perjalanan haji bukanlah sekadar perjalanan fisik semata. Ibadah haji juga merupakan perjalanan spiritual yang menguji kesabaran, ketekunan, dan ketakwaan. Setiap langkah para jamaah haji merupakan kesempatan untuk memperdalam iman, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperbaiki diri ( Raden Bindoro Moh Ali Muhsin rofiey notonogoro, Ama.Spd.I) Haji merupakan bentuk perwujudan ragam peribadatan yang kompleks.

Hal ini disebabkan dalam menjalankan ibadah haji, dibutuhkan modal fisik, lisan maupun finansial yang besar. Haji juga merupakan bentuk ibadah yang tidak membedakan kedudukan dan status sosial manusia. Nilai kesetaraan sosial tersebut dapat dilihat dari berbagai prosesi dalam praktik ibadah haji . Oleh sebab itu, menjadi hal penting dipahami dan disadari bahwa faidah di balik ibadah haji lebih besar dari segala pengorbanan tersebut.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda , “tidak ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa Atau surgalah hadiah atau bentuk penghargaan agung bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat haji mabrur , Hadis di atas menarik untuk dipahami dan direnungkan muatan pesan moralnya. Dalam pertanyaan filosofis, mengapa seseorang yang mendapatkan predikat haji mabrur langsung diberikan pahala surga?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus memahami melalui pendekatan segi semantik, yakni dengan memahami makna dari kata mabrur itu sendiri. Dijelaskan bahwa kata mabrur berasal dari bahasa Arab, yakni mabrūrun yang artinya mendapatkan kebaikan atau menjadi baik. Jika dilihat akar katanya, kata mabrūr berasal dari kata barra yang artinya berbuat baik atau patuh. Dari sini terlihat bahwa dalam memahami term haji mabrur, terlebih dahulu menggunakan pendekatan linguistik (bayani). kata al-birru dalam kaitanya dengan terma haji mabrur, merupakan konsep ajaran Islam yang berkaitan erat dengan sikap sosial kemanusiaan. Dalam konteks makna term al-birru ini menjelaskan lebih detail bahwa seseorang yang mendapatkan predikat al-birru (al-mabrur) dapat diidentifikasi dengan beberapa sikap sosial kemanusiaannya yang dimilikinya, antara lain, senantiasa benar, taat, menepati janji, dan jujur. Hakikat seseorang yang mendapat predikat mabrur adalah orang memiliki sikap kebaikan sosial yang luas terhadap sesama makhluk.

Memahami makna kata barra dapat ditelusuri dalam berbagai ayat al-Qur’an maupun Hadis.Di antaranya, Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad pernah ditanya oleh Ibn Mas’ud tentang amal apa yang sangat disukai Allah. Kemudian Nabi Muhammad menjawab amal yang sangat disukai Allah itu ada tiga. Salah satunya adalah birral-wālidayn, (berbuat baik kepada kedua orang tua). Dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, al-Qur’an menggunakan redaksi kata barra yang menunjukan sikap baik kepada orang tua.

Selain Hadis, Kemudian kata al-birru dalam Qs al-Imron ayat 92 yang
berbunyi “lan tanālū al-birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun,” Kamu tidak akan mendapatkan kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai. Jika kita berhenti pada ayat ini, maka segala perbuatan kita yang tidak menunujukan pengorbanan harta untuk orang lain atau kepentingan sosial tidak termasuk bagian konsep al-birru (kebaikan). Konsep al-birru yang mengacu pada QS Al-
Imron ayat 92 ini juga bisa diaktualisasikan pada predikat haji mabrur dalam konteks sosial, yaitu apabila para jamaah haji pasca
menunaikan ibadah haji, mereka ikut ambil
bagian terkait gerakan perubahan sosial dalam
mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat
yang teratur,baik dan benar.

Dari pendekatan semantik di atas, bahwa predikat haji mabrur yaitu gelar haji bagi orang yang memiliki komitmen sosial yang lebih baik dan kuat pasca menunaikan ibadah haji. Jadi titik tekan predikat haji mabrur adalah meningkatkan komitmen sosial. term al-hajj al-mabrūr (haji mabrur) ke dalam dua makna universal. Pertama, ibadat haji yang diterima oleh Allah SWT. Kedua, ibadah haji yang berdampak pada sikap kepribadian yang baik dan benar . Dalam perspektif al-Qur’an, terdapat empat faktor yang harus dilakukan jamaah haji agar ibadah hajinya diterima oleh Allah. Pertama, bebas dari syirik. kedua, ikhlas karena Allah. Ketiga, selalu berdzikir kepada Allah, keempat, selalu membiasakan amal baik dan takwa .

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa keutamaan ibadah haji tidak hanya menekankan aspek keabsahan legal formal
fikih semata, melainkan dimensi sosial juga menjadi hal yang tidak boleh terabaikan.Orang yang hajinya diterima akan lebih peduli kepada sesama, ringan membantu, ramah dalam pergaulan, serta menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan. Haji yang benar melahirkan manfaat sosial, bukan sekadar kebanggaan pribadi.

Para ulama juga menjelaskan hakikat haji mabrur dari berbagai sudut pandang yang saling menguatkan. Imam al-Qurthubi menyebut:

وَقَالَ الْفُقَهَاءُ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ هُوَ الَّذِي لَمْ يُعْصَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ أَثْنَاءَ أَدَائِهِ

“Para fuqaha berkata: Haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi kemaksiatan kepada Allah selama pelaksanaannya.” (Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)

Sejak berihram hingga selesai, ibadah itu dijaga dari dosa, pertengkaran, kezaliman, dan pelanggaran syariat. Haji bukan sekadar hadir di tempat suci, tetapi juga menjaga diri dengan sungguh-sungguh.

Tidak berhenti pada aspek teknis ibadah, Imam al-Qurthubi juga menukil ucapan Hasan al-Bashri:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ هُوَ أَنْ يَرْجِعَ صَاحِبُهُ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ

“Haji mabrur ialah ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” (Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)

Ini menunjukkan bahwa tanda paling nyata dari haji mabrur adalah perubahan orientasi hidup. Seseorang yang sebelumnya terlalu sibuk mengejar dunia, setelah berhaji menjadi lebih sadar bahwa hidup ini singkat dan akhirat jauh lebih penting.

Makna ini diperkuat Imam al-Ghazali, beliau menegaskan:

بَلْ عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ

“Tanda haji mabrur ialah ia pulang dengan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, dan bersiap bertemu Pemilik Ka‘bah setelah berjumpa dengan Ka‘bah.” (Ihya’ ‘Ulumiddin [Beirut: Dar al-Ma‘rifah], juz 1, h. 261)

Kiranya ungkapan ini perlu untuk benar-benar direnungkan. Betapa banyak orang dapat melihat Ka‘bah, tetapi tidak semua pulang dengan hati yang semakin rindu kepada Allah.

Dalam Hasyiyah al-Jamal dijelaskan pula:

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الْحَجَّ الَّذِي وُفِّيَتْ أَحْكَامُهُ وَوَقَعَ مَوْقِعًا لِمَا طُلِبَ مِنْ الْمُكَلَّفِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ

“Intinya, haji mabrur adalah haji yang ditunaikan dengan memenuhi seluruh ketentuannya dan dilaksanakan sebagaimana yang dituntut secara sempurna.” (Hasyiyah al-Jamal/Futuhat al-Wahhab bi Tawdih Syarh Manhaj ath-Thullab [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 440)

Ini berarti kemabruran menuntut kesungguhan lahir dan batin. Dengan kata lain, diperlukan pemahaman seputar ilmu manasik yang benar, niat yang lurus, serta adab yang terjaga.

Sementara Imam al-Munawi menyimpulkan dengan sangat praktis, sebagai berikut:

وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنَّهُ يَرْجِعُ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِدُ الْمَعَاصِي

“Tanda diterimanya haji adalah ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali mengulangi maksiat.” (Faidh al-Qadir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir [Mesir: al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra], juz 3, h. 406)
Jika setelah haji seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih menjaga shalat, lebih lembut kepada keluarga, lebih amanah dalam pekerjaan, dan semakin menjauhi dosa, maka itu pertanda baik bagi hajinya. Sebaliknya, jika sepulang haji tetap tenggelam dalam kebiasaan lama, maka ia perlu banyak muhasabah.

Haji mabrur sejatinya bukan gelar sosial yang disematkan masyarakat. Makna kemabruran bukan terletak pada sebutan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Haji mabrur adalah perubahan nyata yang terlihat dalam ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.

Jadi ukuran kemabruran tidak selesai saat thawaf terakhir, tidak berhenti saat pesawat mendarat di tanah air, dan tidak cukup dengan pakaian ihram yang telah dilepas. Ukurannya justru dimulai dan bisa dilihat dari ketika seseorang kembali menjalani hidup sehari-hari. Bila hidupnya menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi manusia, maka di sanalah cahaya haji mabrur mulai tampak. Billahit Taufiq Wal Hidayah.