Sosialisasi dan Percepatan KNMP 2027, Satgas Perencanaan Perkuat Dukungan Lintas Kementerian/Lembaga

JAKARTA, Berdampak.net – Untuk percepatan dan menyukseskan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2027, Satgas Penyiapan dan Perencanaan KNMP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggeber sosialisasi dan memperkuat dukungan lintas kementerian/lembaga (K/L) terutama di level pemeritahan daerah.

“Kita tidak ingin di level daerah terjadi kendala yang terkait regulasi dan aturan yang melibatkan instansi lain. Misalnya soal status tanah yang dijadikan lokasi KNMP belum clear dari BPN atau bangunannya tidak memiliki dokumen perizinan dari Dinas PU setempat dan lainnya,” ujar Ketua Satgas Penyiapan dan Perencanaan KNMP 2027, Muhammad Abdi Suhufan disela-sela kegiatan sosialiasi KNMP secara daring dengan Dinas Kelautan dan Perikanan seluruh Indonesia, UPT, Penyuluh Perikanan dan lainnya, Kamis (24/9/2026) di Jakarta.

Selain dukungan kementerian/lembaga, lanjut Abdi, Satgas KNMP yang dibentuk oleh KKP juga menjalin kerjasama dengan pihak akademisi yang berasal dari perguruan tinggi pada berbagai provinsi dan lembaga NGO lokal di setiap daerah yang akan menjadi lokasi pembangunan KNMP pada 2027.

Menurut Abdi yang juga Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Perlindungan Nelayan dan Awak Kapal Perikanan Tangkap, pada pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) 2027 pihaknya merancang pendekatan yang berbeda dari tahapan sebelumnya. Terutama dalam hal waktu perencanaan, penyesuaian kebutuhan lokal, serta pelibatan pemerintah daerah, perguruan tinggi, LSM, dan penyuluh perikanan.

“Kita tidak ingin program yang menjadi proyek strategis nasional Presiden Prabowo Subianto ini mengalami hambatan dan tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Karena itu kami selalu mengharapkan sinergi dengan pihak dan instansi terkait lainnya,” tegas Abdi.

Program KNMP sendiri telah berjalan dalam beberapa tahapan. Tahap pertama mencakup 65 lokasi, kemudian tahap kedua sebanyak 35 lokasi, sementara tahap ketiga sedang berjalan dengan target sekitar 1.200 lokasi.

Pemerintah sendiri dalam hal ini KKP menargetkan pembangunan Kampung Nelayan diarahkan mencapai 5.000 titik di berbagai wilayah Indonesia. Dengan target tersebut, masih terdapat sekitar 4.000 titik yang harus dipersiapkan dan dibangun, termasuk sekitar 2.000 titik yang menjadi sasaran perencanaan untuk tahun 2027. (fj)

UU Reforma AgrariaUntuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Oleh Anas Urbaningrum
Koordinator Presidium PPI

Ini boleh dibilang sebagai UU yang sangat sentral. Mungkin secara ekonomi politik menjadi UU terbaik dan terpenting untuk periode sekarang.

Terang bahwa politik pertanahan yang baik bukan saja harus menciptakan kepastian hukum dan perlindungan hak, transparansi dan akuntabilitas administrasinya, keberlanjutan lingkungan, tetapi juga musti menjamin keadilan sosial dan pemerataan penguasaan dan pemanfaatan tanah.

Karena itu, hadirnya UU Reforma Agraria adalah batu pijak kuat untuk mengoreksi ketimpangan penguasaan dan pemanfaatan tanah. Program redistribusi kepada kalangan “tuna lahan” musti digalakkan dengan sungguh-sungguh dan disegerakan. Ini momentum yang baik bagi Pemerintah dan rakyat Indonesia.

Reforma Agraria adalah tindakan Pancasilais. Tidak harus menjadi komunis untuk menjadikan reforma agraria sebagai sarana bagi keadilan bagi rakyat.

Reforma agraria bukan sekadar bagaimana negara mampu mendistribusikan tanah secara berkeadilan dan produktif. Tetapi juga tentang kewajiban negara untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan akses lahan, ruang hidup dan kesempatan untuk berhehidupan yg layak bagi kemanusiaannya. (fj)

SMADA Sampang Tingkatkan Kesadaran Hak Anak, Hadirman Edukasi Perlindungan Anak bersama Dinsos PPA

SAMPANG, Berdampak.net — SMA Negeri 2 Sampang terus menunjukkan komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Edukasi Hak-Hak dan Perlindungan Anak yang dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA).

Kegiatan edukatif tersebut turut dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang, Bapak Mas’udi Hadiwijaya, M.Pd., serta seluruh wali murid kelas X dan XI yang hadir sebagai tamu undangan. Kehadiran para wali murid menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara sekolah dan keluarga dalam memberikan pemahaman serta perlindungan terbaik bagi peserta didik.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa dan wali murid untuk mendapatkan pemahaman mengenai berbagai hak yang melekat pada diri anak, bentuk-bentuk perlindungan anak, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.

Melalui edukasi tersebut, para peserta diajak untuk memahami bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat.

Bagi peserta didik, kegiatan ini memberikan bekal untuk lebih mengenali hak-haknya, menghormati hak orang lain, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan keamanan dan perlindungan dirinya.

Sementara bagi para wali murid, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga dalam mendampingi, mengawasi, dan memberikan ruang tumbuh yang positif bagi anak. Sinergi antara orang tua dan sekolah diharapkan mampu menciptakan pola pendampingan yang semakin harmonis dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi peserta didik.

Kehadiran Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang juga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya SMADA Sampang dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, pemenuhan hak, serta perlindungan peserta didik.

Kolaborasi SMADA Sampang bersama Dinsos PPA menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.

Melalui kegiatan ini, SMADA Sampang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program edukatif dan inovatif yang melibatkan seluruh elemen pendidikan, termasuk peserta didik, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan terkait.

Dengan semangat kebersamaan, SMADA Sampang mengajak seluruh orang tua, pemerintah, lembaga terkait, serta masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dan kepedulian terhadap perlindungan anak. Karena ketika sekolah dan keluarga berjalan bersama, lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak akan semakin mudah diwujudkan.

Bersama SMADA Sampang, mari bergerak, bersinergi, dan berkolaborasi untuk menciptakan ruang tumbuh terbaik bagi generasi muda—anak terlindungi, sekolah aman, dan generasi semakin gemilang.

Deni Frust Sukses “Guncang” Lereng Argopuro


PROBOLINGGO, Berdampak.net — Musisi Deni Frust sukses mengguncang panggung Argopuro Scooter Holiday (ASH) yang digelar di Bremi Ecopark, Kabupaten Probolinggo, Minggu (20/9/2026).

Penampilan Deni Frust menjadi salah satu hiburan yang paling dinanti dalam gelaran yang dihadiri ribuan scooterist dari berbagai daerah di Indonesia. Suasana semakin meriah ketika Deni membawakan sejumlah lagu andalannya dan mengajak penonton bernyanyi bersama.

Argopuro Scooter Holiday menjadi ajang berkumpulnya para pecinta Vespa sekaligus mempererat silaturahmi komunitas scooterist. Selain hiburan musik, kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan dan kebersamaan bagi para peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

2.500 Skuteris Ramaikan ASH 2026 di Bermi, Gus Haris Dorong Vespa Jadi Penggerak Wisata dan UMKM

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Sekitar 2.500 skuteris memadati kawasan Bermi Eco Park, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, dalam gelaran Argopuro Scooter Holiday (ASH) 2026, Sabtu (19/9/2026). Event komunitas Vespa ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya para pecinta skuter, tetapi juga menjadi ruang promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat di lereng Gunung Argopuro.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris menyambut langsung para peserta ASH 2026. Menurutnya, kehadiran ribuan skuteris dari berbagai daerah memberikan dampak positif bagi daerah, khususnya dalam memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Probolinggo kepada komunitas dan masyarakat yang lebih luas.

“Event seperti ini bukan hanya soal berkumpulnya komunitas. Ada potensi besar untuk mempromosikan destinasi wisata sekaligus menggerakkan UMKM masyarakat,” demikian semangat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Dalam rangkaian acara, Gus Haris bersama rombongan turut melakukan penanaman pohon, menyerahkan santunan kepada anak yatim, serta mengunjungi stan UMKM yang berada di lokasi kegiatan.

Suasana ASH 2026 semakin semarak dengan penampilan sejumlah pengisi acara, di antaranya Fredy Kayaman, Bali Banyak Bunyi, dan Denny Frust. Kehadiran para musisi tersebut menambah warna dalam perhelatan komunitas skuter yang mengusung semangat kebersamaan, wisata dan ekonomi kreatif.
Bagi komunitas Vespa, istilah “menyukseskan acara” bukan sekadar tentang meriahnya panggung dan banyaknya peserta. ASH 2026 juga membawa pesan bahwa komunitas dapat ikut “menyukseskan” destinasi wisata, dengan datang, menikmati, mempromosikan, sekaligus membelanjakan uangnya di UMKM lokal.

Dari Bermi, ribuan skuteris tidak hanya meninggalkan jejak perjalanan, tetapi juga membawa cerita tentang potensi wisata Argopuro. Event komunitas pun menjadi salah satu cara mempertemukan pariwisata, ekonomi lokal, komunitas dan kreativitas dalam satu perhelatan.

FKUB Kota Probolinggo Dorong Pemuda Lintas Agama Jadi “Penjaga Kerukunan” di Ruang Digital

PROBOLINGGO, Berdampak.net — Derasnya arus informasi di media sosial menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi kehidupan sosial dan kerukunan umat beragama. Di tengah transformasi digital tersebut, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo mendorong generasi muda lintas agama tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan sosial sekaligus penjaga kerukunan di ruang digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Pemuda Lintas Agama Kota Probolinggo yang diselenggarakan FKUB Kota Probolinggo di Aula KPU Kota Probolinggo, Jumat (18/9/2026).

Sarasehan mengangkat tema utama: “Digitalisasi Berkarakter: Penguatan Literasi dan Jurnalisme Digital sebagai Fondasi Generasi Muda Lintas Agama Kota Probolinggo yang Cerdas, Beretika, dan Berdaya Saing.”

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur Pemerintah Kota Probolinggo, FKUB, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, pegiat literasi digital, serta pemuda lintas agama.

Untuk memperkaya perspektif peserta, sarasehan menghadirkan dua narasumber yang membahas transformasi digital dari sisi pemerintahan dan penguatan kapasitas generasi muda.

Narasumber pertama adalah Dr. Lucia Aries Yulianti, S.STP., M.M., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Probolinggo, yang menyampaikan materi: “Smart City, Smart Generation: Sinergi Pemkot dan Pemuda Lintas Agama dalam Ekosistem Digital Kota Probolinggo”

Materi tersebut menyoroti pentingnya sinergi antara Pemerintah Kota Probolinggo dan generasi muda dalam membangun ekosistem digital kota.

Konsep smart city tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan pemerintahan, tetapi juga membutuhkan smart generation, yaitu generasi yang memiliki kecakapan digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran etika dalam menggunakan teknologi.

Dalam konteks tersebut, pemuda lintas agama dapat menjadi bagian penting dari ekosistem digital Kota Probolinggo. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat transformasi digital, tetapi juga dapat berkontribusi melalui kreativitas, inovasi, produksi konten positif, serta partisipasi dalam berbagai program pembangunan kota.

Sementara itu, narasumber kedua adalah Amir Hamzah, Pegiat Literasi Digital KommitLab, yang menyampaikan materi: “Dari Konsumen Menjadi Kreator: Membangun Generasi Muda Lintas Agama Kota Probolinggo yang Cakap Digital dan Berakhlak”

Materi ini menekankan pentingnya perubahan paradigma generasi muda dari sekadar konsumen informasi menjadi kreator informasi.

Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengakses media sosial dan berbagai platform digital. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk menghasilkan konten yang informatif, edukatif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Lebih dari itu, kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan akhlak dan etika. Kemampuan teknologi tanpa karakter berpotensi melahirkan persoalan baru. Sebaliknya, kemampuan digital yang disertai karakter dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas, inklusif, dan harmonis.

Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.Og.(K), M.Kes., dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap inisiatif FKUB yang menghadirkan forum dialog pemuda lintas agama dengan isu yang sangat relevan dengan perkembangan zaman.

Menurut Wali Kota, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, membangun relasi sosial, bahkan membentuk opini publik. Karena itu, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sebatas kemampuan menggunakan teknologi.

“Tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” ujar Aminuddin.

Ia menekankan perlunya generasi muda yang tidak hanya memiliki kecakapan digital (digital savvy), tetapi juga memiliki kebijaksanaan digital (digital wise).

“Bukan sekadar cepat membagikan informasi, tetapi mampu memastikan kebenarannya. Bukan sekadar mampu membuat konten, tetapi memahami dampaknya,” tegasnya.

Menurut Aminuddin, kemampuan tersebut menjadi semakin penting dalam masyarakat yang plural seperti Kota Probolinggo.

Wali Kota juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

“Saring sebelum sharing. Karena satu klik dapat membawa manfaat, tetapi satu klik pula dapat menimbulkan persoalan,” katanya.

Ia mengajak pemuda lintas agama memproduksi dan menyebarluaskan konten yang memperkenalkan Kota Probolinggo sebagai kota yang damai, toleran, inklusif, religius, dan berbudaya.

“Kalau ada konten yang mempertemukan, kita perbanyak. Kalau ada informasi yang mencerdaskan, kita sebarkan. Kalau ada narasi yang memperkuat persaudaraan, kita dukung,” pesannya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang semakin terkoneksi, Wali Kota menilai pembangunan kerukunan tidak cukup hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka.

“Kerukunan tidak cukup hanya dibangun melalui pertemuan tatap muka. Di era digital, kerukunan juga harus dibangun di ruang digital.”

Karena itu, ia mendorong pemuda lintas agama menjadi bagian dari ekosistem digital yang mampu menghadirkan narasi positif tentang keberagaman.

Pemuda dari berbagai agama dapat berkolaborasi membuat konten mengenai toleransi, gotong royong, kebudayaan, lingkungan, pendidikan, sejarah Kota Probolinggo, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.

“Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi, tetapi menjadi ruang membangun peradaban,” ujarnya.

Salah satu gagasan penting dalam sarasehan adalah perlunya mengubah posisi generasi muda dalam ekosistem informasi digital.

Selama ini anak muda sering ditempatkan sebagai konsumen informasi. Padahal, perkembangan teknologi memberikan kesempatan yang luas bagi mereka untuk menjadi kreator, jurnalis warga, edukator, sekaligus penggerak perubahan sosial.

Melalui materi “Dari Konsumen Menjadi Kreator”, peserta diajak memahami bahwa setiap konten yang diproduksi memiliki konsekuensi sosial.

Karena itu, kreativitas digital harus dibangun bersama kecakapan, etika, dan akhlak.

Pemuda lintas agama juga memiliki peluang untuk memproduksi konten bersama yang mengangkat pengalaman keberagaman dan praktik baik kehidupan masyarakat Kota Probolinggo.

Konten-konten tentang gotong royong, dialog lintas agama, kepedulian lingkungan, kegiatan sosial, budaya lokal, pendidikan, dan berbagai praktik kerukunan dapat menjadi narasi alternatif yang memperkuat kohesi sosial.

Sementara itu, perspektif yang disampaikan oleh Dr. Lucia Aries Yulianti, S.STP., M.M. memperkuat pemahaman bahwa pembangunan smart city tidak semata-mata persoalan teknologi. Kota yang cerdas membutuhkan masyarakat yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi.

Karena itu, keberadaan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital Kota Probolinggo. Pemuda lintas agama dapat mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyebarkan informasi pembangunan, mengedukasi masyarakat, menciptakan inovasi digital, serta membangun komunikasi publik yang sehat.

Sinergi tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas pemuda dalam menciptakan ekosistem digital yang produktif dan inklusif.

Sarasehan juga memberikan perhatian terhadap penguatan jurnalisme digital dan keterampilan citizen journalism di kalangan generasi muda.

Di era media sosial, setiap orang dapat memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Namun, kemampuan membuat konten tidak otomatis menjadikan seseorang mampu menjalankan prinsip jurnalistik.

Karena itu, penting bagi generasi muda memahami prinsip verifikasi, akurasi, keseimbangan, etika, dan tanggung jawab terhadap publik.

Ketika menemukan sebuah informasi, generasi muda perlu membiasakan diri bertanya:

Apa faktanya? Dari mana sumbernya? Apakah sudah diverifikasi? Siapa yang terdampak? Apa manfaat jika informasi ini disebarluaskan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi kebiasaan baru dalam membangun budaya bermedia sosial yang sehat.

Sementara itu Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP menyampaikan pesan penting lainnya adalah perlunya perubahan posisi generasi muda dalam ekosistem digital.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi netizen yang mengonsumsi dan membagikan informasi. Mereka perlu berkembang menjadi citizen yang sadar bahwa setiap aktivitas digital memiliki konsekuensi sosial”, ujar Hudri.

Lebih lanjut Hudri menegaskan bahwa menulis komentar, membuat video, membagikan berita, mengunggah foto, maupun melakukan siaran langsung merupakan aktivitas yang dapat memengaruhi orang lain.

Karena itu, kebebasan berekspresi di ruang digital perlu berjalan bersama tanggung jawab.

Dalam konteks Kota Probolinggo yang memiliki keberagaman agama dan budaya, pemuda lintas agama diharapkan mampu menghadirkan narasi yang menunjukkan bahwa perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.

FKUB Kota Probolinggo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.

Penguatan literasi digital lintas agama dapat dikembangkan melalui sekolah literasi digital, pelatihan jurnalisme warga, produksi konten positif, kampanye toleransi digital, serta pengembangan jejaring kreator muda lintas agama Kota Probolinggo.

Dengan demikian, pemuda tidak hanya ditempatkan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pelaku perubahan sosial.

Sarasehan ini sekaligus memperkuat komitmen FKUB Kota Probolinggo untuk menjadikan generasi muda sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem kerukunan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Sarasehan ditutup dengan pesan bahwa transformasi digital harus diimbangi dengan pembangunan karakter. Teknologi tanpa karakter dapat menjadi alat penyebar masalah. Tetapi teknologi yang digunakan oleh generasi berkarakter dapat menjadi kekuatan perubahan.

FKUB Kota Probolinggo berharap forum ini menjadi salah satu langkah memperkuat kolaborasi antara pemuda lintas agama dalam merawat kerukunan.

Sebab, masa depan kerukunan tidak hanya ditentukan oleh bagaimana generasi muda hidup berdampingan di lingkungan sosial, tetapi juga oleh bagaimana mereka berinteraksi, berkomunikasi, memproduksi informasi, dan membangun narasi bersama di ruang digital. Ruang digital adalah ruang publik. Karena itu, kerukunan juga harus hadir di dalamnya.