MUI Kota Probolinggo dan Dinkes Gelar Cek Kesehatan Bagi Ulama

Probolinggo, Berdampak.net – Kesehatan merupakan modal penting dalam menjalankan pengabdian kepada umat dan bangsa. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan para ulama dan cendekiawan Muslim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Probolinggo menyelenggarakan Program Cek Kesehatan Gratis yang dilaksanakan pada Rabu, 3 Juni 2026, bertempat di Sekretariat MUI Kota Probolinggo.

Kegiatan ini diikuti oleh para ulama dan cendekiawan Muslim yang tergabung dalam kepengurusan MUI Kota Probolinggo dan MUI Kecamatan se-Kota Probolinggo. Program ini merupakan upaya nyata untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan sekaligus memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis.

Adapun pemeriksaan yang diberikan meliputi pemeriksaan kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol, serta IKG. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendeteksi secara dini berbagai risiko gangguan kesehatan sehingga dapat dilakukan langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.

Ketua MUI Kota Probolinggo Prof. Dr. KH. Muhammad Sulthon, MA. menyampaikan bahwa para ulama memiliki peran strategis dalam membimbing umat dan menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kesehatan para ulama perlu mendapatkan perhatian bersama.

“Sehat adalah ikhtiar, dan menjaga kesehatan adalah bagian dari amanah. Melalui kegiatan ini, kami berharap para ulama dan cendekiawan Muslim dapat terus menjaga kesehatan sehingga mampu menjalankan tugas-tugas keumatan secara optimal,” ujar Kyai Sulthon.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Probolinggo dr. Intan Sudarmadi, Sp.S. menyambut baik sinergi dengan MUI Kota Probolinggo dalam menghadirkan layanan kesehatan bagi para tokoh agama.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya, jelas dokter Intan.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme peserta yang berjumlah 75 orang. Selain mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan, para peserta juga memperoleh edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Melalui program ini, MUI Kota Probolinggo dan Dinas Kesehatan Kota Probolinggo menegaskan komitmen bersama untuk terus menghadirkan pelayanan yang bermanfaat bagi para ulama sebagai penjaga moral, pembimbing umat, dan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, harmonis, dan sejahtera.

“Ulama Sehat, Umat Kuat; Menjaga Kesehatan adalah Menjaga Amanah.”

Multikulturalisme: Merawat Komitmen dan Falsafah Pancasila

Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri
Ketua FKUB & Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo

Indonesia adalah mozaik besar yang tersusun dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, tradisi, dan agama yang hidup berdampingan dalam satu rumah kebangsaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberagaman tersebut bukan sebatas fakta sosial, namun juga merupakan karunia sekaligus amanah yang harus dirawat bersama. Dalam konteks inilah, multikulturalisme menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Multikulturalisme bukan sebatas legitimasi atas adanya perbedaan, melainkan sikap menerima, menghormati, dan memberikan ruang yang setara kepada setiap kelompok untuk hidup dan berkembang dalam bingkai persatuan. Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta meningkatnya polarisasi sosial akibat perbedaan pandangan politik, agama, dan budaya, reaktualisasi semangat multikulturalisme menjadi sangat relevan untuk dikuatkan .

Indonesia sejatinya telah memiliki landasan filosofis yang kuat dalam mengelola keberagaman, yakni Pancasila. Sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, Pancasila memiliki nilai-nilai universal yang menjadi perekat kehidupan masyarakat yang majemuk. Sila pertama mengajarkan penghormatan terhadap kebebasan beragama dan keyakinan. Sila kedua menegaskan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan. Sila ketiga menjadi simbol nyata bahwa persatuan harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Dalam perspektif tersebut, multikulturalisme sesungguhnya merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai Pancasila. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan kehidupan yang harmonis, adil, dan bermartabat di tengah keberagaman. Oleh karena itu, merawat multikulturalisme berarti merawat dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, tantangan terhadap semangat multikulturalisme tidaklah ringan. Meningkatnya penyebaran ujaran kebencian, hoaks, intoleransi, hingga politik identitas di ruang digital sering kali mengancam kohesi sosial masyarakat. Perbedaan yang semestinya menjadi kekuatan justru dapat berubah menjadi sumber konflik ketika tidak dikelola dengan baik.

Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan literasi kebangsaan dan pendidikan multikultural sejak dini. Sekolah, keluarga, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan pemerintah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, moderasi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter kebangsaan yang inklusif dan humanis.

Di sisi lain, para tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan pesan-pesan perdamaian dan persaudaraan. Agama pada hakikatnya hadir untuk memuliakan manusia, bukan menjadi alat pembenaran bagi sikap eksklusif dan diskriminatif. Nilai-nilai keagamaan yang rahmatan lil ‘alamin harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa penghormatan terhadap sesama warga bangsa.

Multikulturalisme juga harus diwujudkan dalam kebijakan publik yang menjamin keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara. Negara harus hadir sebagai penjamin hak-hak konstitusional setiap warga tanpa membedakan latar belakang identitasnya. Sehingga rasa memiliki terhadap bangsa dan negara akan mengakar secara kuat dalam diri setiap anak bangsa.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa Indonesia mampu bertahan dan berkembang bukan karena keseragaman, melainkan karena kemampuan mengelola keberagaman. Para pendiri bangsa telah mewariskan sebuah konsensus luhur melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan ini bukan sekadar slogan, melainkan filosofi hidup yang harus terus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Oleh karena itu merawat multikulturalisme adalah merawat Indonesia itu sendiri. Ketika masyarakat mampu menghargai perbedaan, membangun dialog, dan menumbuhkan rasa saling percaya, maka persatuan nasional akan semakin kokoh. Sebaliknya, ketika intoleransi dan fanatisme sempit dibiarkan berkembang, maka sendi-sendi kebangsaan akan mengalami erosi.
Karena itu, komitmen terhadap multikulturalisme harus terus diperkuat sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila. Indonesia masa depan membutuhkan warga negara yang tidak hanya bangga terhadap identitas kelompoknya, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Di atas fondasi itulah cita-cita Indonesia yang maju, damai, adil, dan berkeadaban dapat diwujudkan.

Multikulturalisme bukan sekadar pilihan sosial, melainkan jalan kebangsaan. Dan Pancasila adalah pedoman yang menuntun perjalanan itu menuju Indonesia yang rukun dalam keberagaman dan kuat dalam persatuan.

Menakar Optimisme Baru Pemuda Probolinggo di Tangan Iwan Afnani

Probolinggo, Berdampak.net – Peta gerakan pemuda di Kabupaten Probolinggo tampaknya akan memasuki babak baru. Momentum Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Probolinggo kian hangat dengan munculnya figur-figur potensial yang siap membawa perubahan. Salah satu nama yang kini santer diperbincangkan adalah Iwan Afnani.

Hadir sebagai calon ketua umum, Iwan Afnani membawa visi segar yang dirangkum secara apik dalam sebuah komitmen kuat: “Mengabdi dengan Tegas, Berdampak Nyata Terhadap Gerakan Pemuda di Kabupaten Probolinggo.”

Bukan sekadar deretan kata tanpa makna, tagline ini menjadi representasi atas kegelisahan sekaligus jawaban bagi masa depan pemuda di bumi Bayuangga ini.

Ketegasan dalam Mengabdi; Fondasi Kepemimpinan Baru

Di tengah dinamisnya tantangan zaman—mulai dari isu digitalisasi, bonus demografi, hingga keterlibatan pemuda dalam kebijakan daerah—KNPI dinilai membutuhkan nakhoda yang berkarakter kuat. Sifat “Tegas” yang diusung Iwan bukan berarti kaku, melainkan tegas dalam prinsip, transparan dalam manajerial, dan berani mengambil keputusan strategis demi kepentingan pemuda di akar rumput.

“Mengabdi itu harus totalitas. Ketegasan diperlukan agar roda organisasi KNPI tidak berjalan di tempat, melainkan mampu menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah daerah,” ungkap salah satu kolega dekat Iwan saat mendiskusikan visi tersebut.

Ketegasan ini diyakini akan menjadi energi baru untuk menyatukan berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yang bernaung di bawah payung KNPI Kabupaten Probolinggo, memperkuat konsolidasi, dan mengikis ego sektoral.

Sentuhan “Berdampak Nyata”; Menolak Menjadi Menara Gading

Aspek kedua yang menjadi pilar utama perjuangan Iwan Afnani adalah “Berdampak Nyata”. Sudah bukan saatnya lagi organisasi kepemudaan terjebak dalam seremonial belaka atau menjadi ‘menara gading’ yang jauh dari realitas sosial masyarakat.

Iwan mendorong agar KNPI ke depan berfokus pada program-program konkret yang langsung menyentuh potensi dan kebutuhan pemuda.

Menyalakan Kembali Obor Gerakan Kepemudaan

Langkah Iwan Afnani menuju kursi kepemimpinan KNPI Kabupaten Probolinggo ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan aktivis dan pemuda. Kombinasi antara karakter yang berintegritas dan rekam jejak yang dekat dengan dunia pergerakan menjadikannya magnet tersendiri dalam bursa pemilihan kali ini.

Kabupaten Probolinggo memiliki potensi pemuda yang luar biasa, tersebar dari wilayah pesisir hingga pegunungan. Di tangan pemimpin yang tepat, potensi ini bisa menjadi mesin penggerak kemajuan daerah.

Melalui komitmen mengabdi secara tegas dan berorientasi pada dampak nyata, Iwan Afnani siap menghibahkan waktu dan energinya untuk membawa KNPI Kabupaten Probolinggo menjadi episentrum pergerakan pemuda yang progresif, inklusif, dan disegani.

Kini, bola ada di tangan para pemilik suara di Musda KNPI untuk menentukan, apakah optimisme baru ini akan segera mewujud nyata bagi bumi Probolinggo.

Usung Meritokrasi, Partai Gelora Probolinggo Jadi Wadah Pemuda Potensial

Probolinggo, Berdampak.net – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gelora Kabupaten Probolinggo berkomitmen penuh untuk menjadi wadah bagi generasi muda dan Sumber Daya Manusia (SDM) potensial yang selama ini belum terakomodir di kancah politik lokal. Dengan menerapkan sistem meritokrasi, partai besutan Anis Matta ini membuka pintu lebar-lebar bagi pemuda yang memiliki kompetensi dan keterampilan untuk dikembangkan secara optimal.

Langkah konkret ini dibuktikan dengan penunjukan Abu Bakar Rohim sebagai Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo. Sebagai figur muda, Abu Bakar diberi kepercayaan penuh untuk menakhodai partai di wilayah yang secara historis didominasi oleh partai-partai politik mapan.

“Kami menerapkan prinsip meritokrasi dalam memilih kader. Partai Gelora saat ini aktif mencari pemuda-pemuda yang memiliki kompetensi tinggi dan bertekad kuat untuk berkembang bersama,” ujar Abu Bakar Rohim.

Sementara itu, Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo, Ponirin Mika, menegaskan bahwa partainya tengah fokus mempersiapkan kader muda potensial agar mampu meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, Gelora hadir bukan sekadar sebagai kendaraan politik, melainkan sebagai ruang inkubasi bagi bakat-bakat kepemimpinan masa depan.

“Kami ingin memastikan bahwa pemuda yang memiliki keterampilan dan potensi besar mendapatkan ruang yang tepat. Melalui Partai Gelora, mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan yang kompeten,” tutur Ponirin.

Dengan strategi pengaderan berbasis kompetensi dan keterbukaan ini, Partai Gelora Kabupaten Probolinggo optimistis dapat membawa warna baru sekaligus menjadi kekuatan politik alternatif yang segar bagi masyarakat Probolinggo. (pm)

Gelar Pelantikan PAC PDI Perjuangan Se-Kabupaten Probolinggo; Ketua DPC Tegaskan Manifesto Gerakan Baru

Probolinggo, Berdampak.net – Jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo resmi melantik serentak Pengurus Anak Cabang (PAC) dari 24 kecamatan. Momentum pasca-Hari Raya Idul Adha ini dimanfaatkan oleh partai sebagai tonggak konsolidasi total, sekaligus meluncurkan pesan ideologis utama yang menjadi komitmen dasar gerak perjuangan partai ke depan.

Acara sakral ini dihadiri oleh jajaran fungsionaris teras, di antaranya Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bung Deni Witjaksono beserta rombongan DPD, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Gus dr. H. Mufti Anam, serta Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur H. Edi Paripurna. Panggung pelantikan ini juga dihormati oleh kehadiran tokoh keagamaan terkemuka, seperti Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Ketua PCNU Kraksaan, dan Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo.

Sinergi horizontal antar partai dan birokrasi daerah turut tercermin lewat kehadiran Bupati Probolinggo Gus Haris, Wakil Bupati sekaligus Ketua DPC PKB Lora Fahmi AHZ, Ketua DPRD sekaligus Ketua DPD Golkar Mas Oka, Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC Gerindra H. Zubaidi, serta para pimpinan dari Partai Nasdem, Ketua DPC PPP Kang Mahdi, dan Ketua DPD PKS Mas Rifki.

Dalam orasi politiknya, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam menyampaikan apresiasi mendalam kepada pengurus periode sebelumnya yang berhasil merampungkan tahapan Musancab secara konstitusional mulai dari akar rumput hingga Pleno DPD. Ia menekankan bahwa kerja politik kepengurusan baru wajib dilandasi oleh semangat ketulusan gotong royong.

Anam menjabarkan secara rinci makna di balik pesan utama tersebut. menurutnya, frasa “seni melayani masyarakat” menempatkan kepentingan wong cilik di atas segala-galanya, mempertegas watak bahwa politik tidak melulu soal perebutan kekuasaan. Hal ini dibuktikan dengan profil kepengurusan yang sangat inklusif, merangkul kader dari lintas ormas keagamaan (NU, Muhammadiyah, Hindu Tengger, serta Kristiani), serta memberikan panggung strategis bagi kaum muda yang nyata terbukti lewat 7 anggota fraksi PDI Perjuangan di parlemen daerah saat ini.

Sementara itu, pilar “struktur yang kuat” dipresentasikan lewat komposisi demografi fungsionaris PAC yang baru dilantik, yang terdiri dari 40,8% Generasi Z (Gen Z), 23,2% Millenial, dan 36,8% Generasi X. Komposisi gender pun sangat kokoh dengan angka keterwakilan perempuan mencapai 41,2% dan laki-laki 58,8%, sebuah ketetapan yang melampaui regulasi kuota perempuan 30% berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi serta selaras dengan amanat UUD NRI 1945.

Terakhir, mengenai “kemandirian yang bermartabat”, Ketua DPC mengingatkan fungsionaris untuk teguh memegang prinsip suci dari Kitab Bhagavad Gita, “Karmanye Vadhikaraste Ma Phaleshu Kadachana” yang berarti fokus pada kewajiban kerja nyata melayani rakyat, bukan pada hasil akhir atau pamrih sepihak. Berbekal soliditas dan kemandirian inilah, DPC PDI Perjuangan mematok target terukur untuk mengamankan 10 Kursi pada Pemilu 2029. (fiq)

Pemuda Asal Hongkong Resmi Memeluk Islam dipandu Mualaf Center MUI Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net — Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti prosesi ikrar syahadat seorang pemuda asal Hongkong bernama Chi Yeung Richard yang resmi memeluk agama Islam pada Kamis, 28 Mei 2026 pukul 09.00 WIB bertempat di Masjid Jami’ Nurul Hasan, Kelurahan Kedungasem, Kota Probolinggo.

Prosesi ikrar syahadat dipandu langsung oleh Direktur Mualaf Center Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo, Dr. KH. Ahmad Hudri. Dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati, Richard mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan jamaah yang hadir dengan mantap dan penuh kebahagiaan pula.

Richard, sapaan akrabnya, sebelumnya diketahui tidak menganut agama tertentu. Pada usia 28 tahun, ia mantap memilih Islam sebagai jalan hidup dan keyakinannya.

“Hari ini saya sangat bahagia. Dan terima kasih saya bisa menjadi muslim,” ucap Richard singkat penuh haru.

Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Ahmad Hudri menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam. Ia menegaskan bahwa memeluk Islam tidak boleh didasarkan pada paksaan, melainkan lahir dari kesadaran dan hidayah Allah SWT.

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Oleh karena itu tidak ada paksaan untuk beragama Islam. Berislam berangkat dari kesadaran dan hidayah dari Allah. Begitu pula yang dialami saudara Richard. Semoga saudara Richard istiqomah dalam iman dan Islam. Aamiin,” ujar KH. Ahmad Hudri dengan mata berkaca-kaca penuh haru.

Lebih lanjut, KH. Ahmad Hudri menjelaskan bahwa setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka secara otomatis melekat kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim, di antaranya melaksanakan sholat fardhu lima waktu serta kewajiban ibadah lainnya.

“Mohon teman terdekat muslim agar membantu membimbing,” terang Hudri.

Mualaf Center MUI Kota Probolinggo juga menegaskan komitmennya dalam memberikan layanan pendampingan dan bimbingan keagamaan Islam secara gratis bagi para mualaf, khususnya dalam bidang aqidah dan ibadah sebagai penguatan keimanan dan pendalaman ajaran Islam.

Pada akhir prosesi pelaksanaan ikrar syahadat, Mualaf Center MUI Kota Probolinggo menyerahkan Mushaf Al-Qur’an serta sertifikat mualaf kepada Richard sebagai bentuk dukungan dan pendampingan awal dalam perjalanan spiritualnya sebagai seorang muslim.

Prosesi tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan, doa, dan harapan agar Richard senantiasa diberikan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.