Tandjoeng Farm Luncurkan Budidaya Melon Premium: Pesantren Jadi Motor Ekonomi Masyarakat

Probolinggo, Berdampak.net — Sebuah langkah inspiratif kembali lahir dari lingkungan pesantren. Tandjoeng Farm, unit usaha yang dikelola oleh Agus Fanani, akan secara resmi meluncurkan program Budidaya Melon Premium sebagai bagian dari bisnis berbasis pesantren. Acara launching ini akan digelar pada Jumat, 28 Juni 2025, dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting dari Pondok Pesantren Nurul Jadid, yakni KH. Zuhri Zaini selaku Pengasuh dan KH. Faiz Ahz sebagai Ketua Yayasan. Jum’at (27/06/2025)

“Ini bukan semata soal bertani, tapi tentang kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” ujar Agus Fanani. Ia menjelaskan bahwa budidaya melon premium merupakan bagian dari model usaha pesantren yang dirancang untuk menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan, khususnya bagi masyarakat sekitar pesantren.

Tandjoeng Farm sendiri mengusung konsep pertanian modern yang ramah lingkungan dengan fokus pada hasil berkualitas tinggi. Melon yang ditanam pun bukan sembarang melon, melainkan varietas unggul yang dipasarkan dengan nilai premium — menyasar pasar yang peduli kualitas dan kesehatan.

Program ini menjadi bagian dari visi besar Pesantren Nurul Jadid untuk memperluas peran sosial dan ekonomi pesantren, tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.

“Melalui langkah ini, kami berharap santri dan masyarakat bisa belajar langsung mengelola usaha, tidak hanya teori tapi praktik nyata yang produktif,” tambah KH. Faiz Ahz.

Dengan dukungan teknologi pertanian terkini dan semangat kolaborasi, launching Budidaya Melon Premium oleh Tandjoeng Farm diharapkan menjadi tonggak baru dalam gerakan ekonomi pesantren — dari santri, oleh santri, untuk masyarakat. (fj)

Berguru Kepada Orang yang Sudah Meninggal

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I . Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Ilmu tidak hanya bisa di ambil dari orang yang masih hidup. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, setiap hadis yang akan ditulis dikonfirmasikan dulu kepada Rasulullah, “Apakah Engkau menyampaikan begini ya Rasulullah?”. Dengan kepakaran beliau, apakah kita mempertanyakan validitasnya? Meminjam kerangka berpikir Abid al-Jabiri, Ini adalah epistemologi Irfani(Pengalaman batin dan intuisi spiritual ) . Jadi, alangkah miskinnya kalau orang belajar gurunya hanya orang hidup (personal lecturer) , semestinya bisa juga impersonal teachers (guru) yang bukan orang,”.
( Prof.Dr. Nasaruddin Umar menteri Agama ). Abdullah Bin Mas’ud mengatakan bahwa berguru kepada orang yang sudah meninggal itu jauh lebih utama karena orang yang sudah meninggal jauh dari fitnah. Seorang revolusioner pasca runtuhnya Turki ottoman, Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan berkata, “ _Ketika ulama wafat, maka sejatinya dia seperti pedang yang keluar dari sarungnya .” Seorang alim_ , wali doanya memang mustajab, namun ketika mereka telah wafat, maka doanya lebih dahsyat. Habib Abdullah bin Alawai Al-Haddad memberikan alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi, karena manusia ketika hidup meiliki dua sifat, yakni basyariyah dan khususiyah. ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I ). Hubungan ( relasi ) guru dan murid secara lahiriah terputus setelah sang guru wafat. Tetapi kelompok Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa hubungan keduanya tetap langgeng meski secara fisik keduanya tidak lagi bersama.

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mengutip pandangan Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang mengatakan bahwa seorang wali akan tetap terhubung dengan batin para pengikutnya. Hubungan batin keduanya membawa keberkahan tersendiri bagi muridnya.

قال سيدي العلامة أحمد دحلان رحمه الله في تقريب الأصول لتسهيل الوصول قد صرح كثير من العارفين أن الولي بعد وفاته تتعلق روحه بمريديه فيحصل لهم ببركاته أنوار وفيوضات

“Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Rahimahullah dalam Taqribul Ushul li Tashilil Wushul mengatakan bahwa banyak orang saleh dengan makrifat kepada Allah menyatakan secara jelas bahwa batin seorang wali Allah sesudah ia wafat akan terhubung dengan para muridnya sehingga berkat keberkahan gurunya itu mereka mendapatkan limpahan cahaya dan aliran anugerah Allah SWT,” ( Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466 ).

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahkan menambahkan bahwa hubungan seorang wali dan para muridnya lebih erat pada saat wali tersebut telah wafat. Pasalnya, wali tersebut memiliki perhatian dan kesempatan lebih lapang setelah ia wafat. Sementara seorang wali ketika hidup disibukkan oleh kewajiban dan tanggung jawab manusiawinya.

Sisi keistimewaan seorang wali kadang tidak terlalu dominan ketika ia hidup karena tertutup oleh sisi manusiawinya. Tetapi ada juga seorang wali yang semasa hidupnya memiliki sisi keistimewaan yang cukup dominan.

وممن صرح بذلك قطب الإرشاد سيدي عبد الله بن علوى الحداد فإنه قال رضي الله عنه الولي يكون اعتناؤه بقرابته واللائذين به بعد موته أكثر من اعتنائه بهم في حياته لأنه كان في حياته مشغولا بالتكليف وبعد موته طرح عنه الأعباء والحي فيه خصوصية وبشرية وربما غلبت إحداهما الأخرى وخصوصا في هذا الزمان فإنها تغلب البشرية والميت ما فيه إلا الخصوصية فقط

“Salah satu orang saleh yang menjelaskan masalah ini secara terbuka Quthbul Irsyad Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ia mengatakan bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang ‘bersandar’ kepadanya lebih besar disbandingkan perhatiannya terhadap mereka seketika ia hidup. Hal demikian terjadi karena ia saat hidup sibuk menunaikan pelbagai kewajiban. Sementara setelah wafat, beban kewajiban itu sudah diturunkan dari pundaknya. Wali yang hidup memiliki keistimewaan dan memiliki sisi manusiawi. Bahkan terkadang salah satunya lebih dominan dibanding sisi lainnya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sisi manusiawinya lebih dominan. Sementara seorang wali yang telah meninggal dunia hanya memiliki sisi keistimewaan,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466).

Keyakinan semacam ini yang bagi banyak orang menguatkan hubungan murid dan guru meski gurunya telah wafat sekian tahun dan bahkan ratusan tahun. Oleh karenanya, seorang wali atau sang guru ini–meski telah wafat–akan tetap hidup di hati para murid dan pengikutnya. Saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tidak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tidak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.

Logika sederhananya, jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.

Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia. Pengalaman lain, Ibnu ‘Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.

Kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu ‘Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, “Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”

Kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ karangan Syekh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani, sebanyak dua jilid, mengulas sekitar 625 tokoh/ulama yang memiliki karamah, yaitu pengalaman luar biasa mulai dari sahabat nabi hingga tokoh abad ke-19. Mereka hidup di dunia dan di akhirat.” (QS Yunus/10:64). Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini.

Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah SWT kepadanya.” Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (QS al-Zumar/39:42).

Dalam kita-kitab tafsir Isyari, ayat ini mendapatkan komentar panjang bahwa di waktu tidur orang bisa mendapatkan banyak pencerahan. Bahkan, dalam Alquran juga menunjukkan kepada kita sejumlah syariat dibangun di atas mimpi (al-manam), seperti perintah ibadah kurban (QS al-Shafat/37:102). Demikian semoga bermanfaat dan mari kita berdoa untuk guru-guru kita, yang masih hidup dan yang telah wafat. Syekh Abdul Fattah Abu Guddah menuliskan lafal doa untuk mendoakan guru-guru kita semua. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. “Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajarkan kami. Sayangilah mereka. Muliakanlah mereka dengan ridha-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.” Demikian doa untuk meminta ampunan bagi guru-guru kita semua. Semoga kita diberikan manfaat ilmu dari semua yang kita pelajari, baik di dunia maupun di akhirat. Aamin Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a‘lam.

Rasakan Magis Senja Bromo! Pesta Budaya Ke-Telu Ambyar Digelar Besok

Probolinggo, Berdampak.net— Gelaran budaya dan musik bertajuk Bromo Sunset: Music and Culture Ke-Telu Ambyar akan digelar besok, Sabtu, 28 Juni 2025 di Amphitheater Seruni Point, kawasan Bromo. Acara ini terbuka gratis untuk umum dan berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 19.00 WIB.

Pagelaran ini akan menampilkan pertunjukan dari Tukang Tabuh, Barya Cantari PGPI Leces, serta dipandu oleh Viskah Rasyid sebagai Master of Ceremony. Diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo, acara ini menjadi bagian dari promosi pariwisata dan seni budaya lokal.

Bromo Sunset diharapkan menjadi daya tarik baru di tengah panorama indah Bromo saat senja. Jangan lewatkan momen budaya yang spektakuler di puncak Jawa Timur ini

JADILAH HARIMAU YANG BERJIWA KESATRIA SEJATI

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I.

Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Seorang ilmuan bernama Abbas Mahmud Al-Aqqad pemikir dan sastrawan Mesir yang lahir pada 1889 M. menulis dalam bukunya Matla’ Al-Nur mengatakan, “ Ketika saya membahas kepribadian Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali maka saya menemukan kepribadiannya. Akan tetapi, ketika saya membahas kunci kepribadian Nabi Muhammad Saw., setiap saya temukan kuncinya saya lalu membuka kamar dan di dalamnya ada lagi kunci-kunci.”

Seperti Sayyidina Abu Bakar kepribadiaannya adalah seorang pengagum , Umar kepribadiaannya militer ( tegas ) dan patuh kepada pimpinan, Utsman kepribadiaannya dermawan dan sabar , Ali kunci kepribadiaannya Kesatria . Masing-masing ada kepribadiaannya. Namun tidak dengan Nabi Muhammad Saw. yang banyak kepribadiaanya sehingga terkadang membuat orang kebingungan.

Ketika seseorang belum tahu maka itu betul. Buktinya, waktu mi’raj ada orang yang berkata kepada Sabahat Abu Bakar, “Itu kau punya sahabat katanya pergi ke Baitul Maqdis ini…” Kata Abu Bakar, “Karena dia yang bilang maka saya percaya.” Jadi ia percaya sebelum kenal Islam. Sementara Umar percaya setelah membaca al-Qur’an.

Tidak heran jika Nabi Muhammad Saw. dalam al-Qur’an dikatakan bahwa akhlaknya Nabi Muhammad Saw. adalah al-Qur’an. Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Sayyidah Aisyah tentang akhlak Rasulullah Saw., Aisyah kemudian menjawab, “ Kana khuluquhu Al-Qur’an ( Akhlak Nabi saw adalah Al-Qur’an ).” (HR. Muslim). Ketika kaum Muslimin telah hijrah ke Madinah, Rasulullah menyatukan setiap kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar menjadi saudara. Pada hari persaudaraan itu, Rasulullah memilih Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya.

Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Karena kecerdasannya, Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Utsman sering datang kepadanya meminta pendapat dan bantuan untuk memecahkan masalah. Bahkan, Rasulullah menjulukinya sebagai Babul’ilmi yang berarti pintu ilmu.Selain cerdas,
Sifat-sifat mulia Ali Bin Abi Thalib yang layak diteladani oleh umat Muslim, dikutip dari buku 10 Sahabat Rasul Penghuni Surga oleh Ariany Syurfah.

  1. Pemberani
    Ia adalah sosok yang memiliki keberanian yang sangat besar. Banyak peperangan besar yang telah ia ikuti seperti perang Badar, perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan sebagainya.

Dalam peperangan itu, Ali tidak pernah kalah apalagi melarikan diri. Saat perang Uhud, Ali termasuk dalam 12 orang yang melindungi Rasulullah dari serangan orang-orang kafir Quraisy yang berusaha membunuh Beliau.

  1. Rela Berkorban
    Rela berkorban menjadi sifat Ali bin Abi Thalib yang patut diteladani umat Muslim. Ali adalah pribadi yang rela berkorban demi memperjuangkan kebenaran. Selain itu, ia dikenal sangat mencintai Allah dan Rasul.

Ali bahkan rela ketika Rasulullah memintanya menggantikannya untuk tidur di ranjangnya. Padahal, ia tahu risikonya adalah terbunuh oleh kafir Quraisy. Namun, Ali sama sekali tidak keberatan melakukan permintaan tersebut.

  1. Dapat Dipercaya

Ali mendapatkan kehormatan dari Rasulullah untuk mengembalikan barang-barang milik orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Nabi saat hendak hijrah. Barang itu kembali kepada miliknya dengan utuh tanpa kurang sedikitpun.

  1. Memiliki Pengetahuan yang Tinggi

Ali Bin Abi Thalib adalah seseorang yang sangat mencintai ilmu. Sifat ini tentunya wajib diteladani oleh umat Muslim. Ia rajin mencari ilmu dan sangat menguasai Alquran. Bahkan, tidak ada satu ayat pun di dalam Alquran yang tidak ia hafal. Ali bahkan mengetahui setiap makna dan asbabun nuzulnya.

  1. Sederhana

Ali adalah sosok manusia yang hidup sangat sederhana. Ia makan secukupnya dan tidak berlebihan. Ali bahkan memakai pakaian yang kasar, hanya untuk menutupi tubuhnya di saat panas dan menahan dingin di saat hujan. Pendapat beberapa tokoh muslim tentang jiwa kesatria Menurut Prof Dr M. Quraish Shihab, kesatria ( Knightliness ) bukanlah hanya tentang kekuatan fisik atau keberanian dalam pertempuran, tetapi juga tentang sifat-sifat moral dan kepribadian yang kuat. Ia menganggap kesatria sebagai representasi dari semangat untuk mengasihi, melayani, dan melindungi yang lemah, serta selalu bertindak dengan adil dan bijaksana. Lebih detailnya, Kekuatan Moral. Kesatria bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang memiliki kekuatan moral dan spiritual yang kuat. Ini mencakup kemampuan untuk mengendalikan emosi, bertindak dengan adil, dan selalu menepati janji,Kerja keras dan ketekunan.
Seorang kesatria harus memiliki semangat kerja keras dan ketekunan untuk mencapai tujuan. Ini mencerminkan kemampuan untuk terus belajar dan berjuang untuk kebaikan.
Melayani yang lemah,
Kesatria harus memiliki rasa empati dan belas kasih terhadap yang lemah. Ia harus selalu siap untuk melindungi dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan.Keberanian yang berlandaskan kebijaksanaan.
Seorang kesatria harus berani dalam menghadapi bahaya, tetapi juga harus berani bertindak dengan bijaksana. Ini berarti selalu mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka dan menghindari tindakan yang dapat merugikan orang lain.
Kesatria harus memiliki rasa keadilan dan harus selalu bertindak dengan adil, baik dalam urusan pribadi maupun urusan publik. Ini termasuk memperlakukan semua orang dengan adil, tidak membedakan berdasarkan status sosial atau keyakinan.Kesatria harus memiliki rasa persaudaraan dan harus selalu berusaha untuk menjalin persatuan dengan orang lain. Ini berarti selalu terbuka untuk dialog dan mencari solusi bersama untuk masalah yang dihadapi.Quraish Shihab melihat kesatria sebagai ideal yang mencakup berbagai kualitas baik yang dapat meningkatkan kualitas hidup individu dan masyarakat. Prof Dr Nurcholish Madjid (Cak Nur) tidak secara langsung membahas “kesatria” dalam pengertian ksatria dalam budaya Hindu atau dalam narasi tertentu. Namun, ia memiliki pemikiran yang relevan dengan nilai-nilai kesatria dalam konteks Islam.Cak Nur menekankan pentingnya “fitrah manusia” dan “sunnatullah” (hukum Allah) dalam berfikir dan bertindak. Fitrah manusia adalah kecenderungan alami manusia menuju kebenaran dan keadilan, sedangkan sunnatullah adalah hukum yang berlaku di alam semesta. Dalam pandangan Cak Nur, seorang Muslim yang “modern” (dalam arti rasional dan ilmiah) harus memahami dan berpegang pada sunnatullah, serta bertindak berdasarkan fitrahnya. Ini mencakup semangat untuk berjuang demi kebenaran, melindungi yang lemah, dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka. Selain itu, Cak Nur juga menekankan pentingnya etos kerja dalam Islam. Ia melihat kerja sebagai bagian integral dari tujuan hidup seorang Muslim, yaitu meraih keridhaan Allah SWT. Ini juga sejalan dengan nilai-nilai ksatria, di mana seorang ksatria tidak hanya berjuang dengan pedang, tetapi juga berjuang untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat melalui pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Jadi, meskipun Cak Nur tidak menggunakan istilah ” kesatria “, pemikirannya mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan semangat kesatria, seperti keberanian dalam berjuang untuk kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab dalam bertindak.Dalam buku Kehidupan Masyarakat Pada Masa Praaksara, Masa Hindu Buddha, dan Masa Islam (2019) karya Tri Worosetyaningsih, pada masa Hindu-Buddha masyarakat Hindu terbagi dalam empat golongan yang disebut kasta. Keempat kasta tersebut adalah kasta Brahmana , kasta Kesatria , kasta Waista , dan kasta Sudra . Di luar kasta tersebut masih ada golongan masyarakat yang tidak termasuk dalam kasta, yaitu mereka yang masuk dalam kelompok Paria.Kasta Brahmana merupakan kasta tertinggi . Kaum Brahmana bertugas menjalankan upacara- upacara keagamaan . Kasta Kesatria merupakan kasta yang bertugas menjalankan pemerintahan . Golongan kasta kesatria seperti raja, bangsawan, dan prajurit masuk dalam kelompok tersebut. Kasta Waisya merupakan kasta dari rakyat biasa, yaitu petani dan pedagang . Kasta Sudra adalah kasta dari golongan hamba sahaya dan para budak . Setelah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha pelan- pelan mulai mengalami kemunduran dan runtuh. Kesatria mesti tegas dan tanpa kompromi menegakkan kebenaran meski lawannya adalah saudaranya sendiri.Jika 1000 HARIMAU di pimpin oleh kambing, maka harimau akan embek semua, jika 1000 kambing di pimpin oleh harimau maka kambing akan mengaung semua dan apalagi HARIMAU di pimpin oleh HARIMAU itu akan tambah kuat.( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. ) “Seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian,” ( Jenderal TNI (HOR) (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo Presiden Republik Indonesia Ke 8 ). Dalam Surat Yasin Ayat 20 menjelaskan secara eksplisit menggunakan kata ” KESATRIA ” tindakan seorang laki-laki yang terdapat dalam kronologi ayat itu dapat di hubungkan dengan semangat kesatrian, kesatria di sini dapat di artikan sebagai keberanian , kesetiaan ,dan keperdulian terhadap kebenaran , setia kepada kepercayaan . Semoga bermanfaat. Billahitaufiq Wal Hidayah. Wallahu a’lam bisshawab.

Urgensi Peran MUI Mengatasi Realitas LGBT


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Sangat mencengangkan ketika terungkap adanya 20 pasangan LGBT di kota Probolinggo sebagaimana dilansir Harian Radar Bromo (23 Juni 2025). Melihat realitas yang ada, sepertinya perkembangannya tidak hanya terbatas pada ranah individu, tetapi telah masuk dalam wilayah sosial yang lebih luas—dari media sosial, dunia hiburan, hingga wacana kebijakan publik. Dan yang memprihatinkan, ternyata secara khusus menyentuh berbagai lapisan usia. Tidak terkecuali anak-anak muda usis. Kondisi ini menuntut tanggapan serius, khususnya dari lembaga otoritatif keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang selama ini menjadi penopang moral dan spiritual umat Islam khususnya di kota Probolinggo.
Sebagai institusi dengan mandat moral dan keagamaan, MUI tidak cukup hanya menyampaikan fatwa yang mengharamkan perilaku LGBT. Lebih dari itu, MUI harus dengan pendekatan yang komprehensif—edukatif, preventif, dan solutif—untuk menyentuh akar permasalahan dan memberikan jalan keluar yang manusiawi serta sesuai syariat.
Edukasi Berkelanjutan: Jalan Awal Membina Umat
Sebagai langkah strategis dan fundamental adalah penguatan pendidikan keagamaan dan dakwah yang mencerdaskan. Banyak remaja yang terpapar isu LGBT bukan karena pilihan sadar, melainkan karena minimnya pemahaman agama, krisis identitas, dan minimnya peran keluarga dan lingkungan pergaulan. Dalam hal ini, MUI dapat berperan aktif melalui lembaga-lembaga pendidikan Islam, pesantren, majelis taklim, dan media dakwah digital untuk sebagai langkah edukasi bagi anak-anak usis muda agar mulai memahami jati dirinya sebagaimana ajaran Islam.
Pendekatan Dakwah yang dilakukan juga harus menyentuh hati, bukan menghujat. Alih-alih menstigma pelaku LGBT, pendekatan dakwah yang ramah, persuasif, dan membuka ruang dialog justru akan lebih tepat dalam proses pemulihan dan penyadaran.
Advokasi Kebijakan Publik dan Pendampingan
Dari sisi kebijakan, MUI perlu menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah dalam menyusun regulasi yang melindungi generasi muda dari pengaruh LGBT, sekaligus menyediakan sarana rehabilitasi dan pendampingan bagi yang berupaya memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Adanya sarana rehabilitasi dan pendampingan berbasis spiritual dan konseling keagamaan bisa menjadi solusi tepat yang bisa diadvokasi MUI bersama pemerintah dan stakeholder berkompeten lainnya.
Kolaborasi dan Kepemimpinan Moral
Mengatasi realitas LGBT bukan persoalan sederhana, namun juga bukan bukan tidak mungkin tanpa solusi. MUI sebagai representasi moral umat harus memimpin gerakan kolektif ini dengan penuh kebijaksanaan, kasih sayang, dan komitmen keagamaan yang kokoh. Kolaborasi lintas sektor—dari berbagai kalangan seperti  tokoh masyarakat, akademisi, psikolog, hingga pemerintah —akan memperkuat upaya ini menjadi gerakan yang beradab dan solutif.
Kita berharap, dengan pendekatan yang tepat dan komprehensif, Kota Probolinggo dapat menjaga moralitas generasi mudanya dan menghadirkan lingkungan sosial yang sehat, adil, dan beradab. Perjuangan ini bukan tentang kebencian, melainkan tentang kasih sayang yang ingin menyelamatkan masa depan generasi.

* Ketua V MUI Kota Probolinggo Merangkap Humas
* Ketua FKUB Kota Probolinggo

Prima Energi Gandeng DPC HNSI Gresik, Sosialisasi Daerah Terbatas dan Terlarang

Gresik, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan keselamatan dan keamanan nelayan dalam aktivitasnya mencari nafkah, PT. Prima Energi Bawean (PEB) melakukan sosialisasi daerah terbatas dan terlarang (DTT) di lapangan camar blok Bawean di kantor DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kabupaten Gresik, Rabu (25/6/2025) pagi.

Kegiatan sosialiasi ini diikuti oleh para perwakilan dari SKK Migas, jajaran manajemen PT. Prima Energi Bawean, Mohammad Rusman Kabid. Humas Dewan Pimpinam Pusat (DPP) HNSI, Dinas Perikanan dan Kelautan Gresik yang diwakili Kabid. Perikanan Tangkap Ir. Kusnaim, Forkopimda kecamatan Ujungpangkah, Polairud Polres Gresik, KAMLADU kabupaten Gresik, jajaran pengurus DPC HNSI Gresik, serta perwakilan 35 rukun nelayan (RN) dari tujuh kecamatan di kabupaten Gresik.

Government Relation Manager PT Prima Energi Bawean Tribuono B.Prawiro menyampaikan sosialisasi ini diharapkan dapat membentuk sikap saling peduli di antara nelayan dan pemangku kepentingan dalam menjaga aset-aset dan kegiatan operasional migas yang dikategorikan sebagai objek vital nasional (obvitnas).

“Saya mengapresiasi seluruh pihak atas kerja sama yang terjalin selama ini. Dan saya juga menyampaikan permohonan maaf karena baru bisa silaturahmi ke masyarakat nelayan Gresik setelah platform beroperasi selama satu setengah tahun ini,” katanya.

Kegiatan sosialiasi ini, lanjut Tribuono, menjadi momen penting dalam mewujudkan langkah strategis guna memastikan keselamatan dan keamanan area DTT operasi migas. Kinerja keselamatan yang unggul dan lingkungan laut yang aman-selamat dapat mendukung keberlanjutan operasi dan bisnis migas dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Secara aspek penetapan daerah terlarang adalah daerah dengan radius 500 meter dari objek atau fasilitas migas, di mana tidak diperbolehkan adanya aktivitas yang berpotensi mengganggu operasional.

“Daerah terbatas adalah daerah di mana kapal dilarang membuang atau membongkar saur. Daerah terbatas mempunyai jarak maksimal 1.250 meter dari objek dari sisi terluar zona terlarang atau 1.750 meter dari titik terluar instalasi,” jelasnya.

Semoga dengan adanya sosialisasi ini, harapnya masyarakat nelayan Gresik lebih peka pada keselamatan diri dan aktivitas di obyek vital nasional dalam menjalankan aktivitas penangkapan sehari hari.

Muhammad Rusman selaku Kabid Hubungan Masyarakat DPP HNSI dalam sambutannya menyampaikan mendukung dan mengapresiasi kegiatan sosialisasi hari ini dengan harapan menumbuhkan rasa peduli masyarakat nelayan terhadap area daerah terlarang dan terbatas dalam rangkah menjemput program “Nelayan Milenial” yang modern melaksanakan kegiatan nelayan yang didasarkan pada teknologi dan berbasis IT.

Disela-sela kegiatan sosialisasi, Ketua DPC HNSI Gresik, Samaun menyampaikan, dengan adanya sosialisasi diharapakan adanya kontribusi yang riel dari PT Prima Energi Bawean untuk masyarakat nelayan Gresik dalam hal penyaluran dana CSR. (fj)