Quo Vadis KAHMI di Usia ke-58?

Oleh: Ponirin Mika (Anggota Dewan Pakar MD-KAHMI Kabupaten Probolinggo)

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) didirikan sebagai wadah bagi para alumni HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa setelah menyelesaikan masa studi di perguruan tinggi. KAHMI berdiri pada 17 September 1966 di Jakarta, atas inisiatif para alumni HMI yang merasa perlunya ruang bagi alumni untuk mengonsolidasikan pikiran dan ide-ide besar demi kepentingan umat dan bangsa Indonesia.

KAHMI didirikan oleh tokoh-tokoh penting HMI yang telah lulus dari perguruan tinggi, beberapa di antaranya adalah Lafran Pane (pendiri HMI), Akbar Tanjung, dan Anwar Sanusi, yang sejak awal sudah aktif dalam organisasi HMI. Mereka melihat pentingnya kesinambungan perjuangan ideologis, politik, dan sosial HMI dalam level yang lebih luas, yaitu melalui para alumninya.

KAHMI didirikan dengan tujuan utama untuk melanjutkan cita-cita perjuangan HMI, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT, sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, KAHMI bertujuan untuk membentuk dan memfasilitasi para alumninya agar tetap bisa berperan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik di pemerintahan, swasta, pendidikan, maupun sosial kemasyarakatan.

Seiring dengan bertambahnya usia, tantangan yang dihadapi KAHMI juga semakin kompleks. Tantangan terbesar yang dihadapi KAHMI saat ini adalah dinamika politik nasional, globalisasi, serta perubahan sosial dan teknologi yang begitu pesat. KAHMI harus dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut sambil tetap mempertahankan jati dirinya sebagai organisasi yang memegang teguh nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan demokrasi.

Selain itu, krisis moral, kesenjangan sosial, dan tantangan keberagaman di Indonesia juga menjadi isu-isu penting yang memerlukan perhatian serius dari KAHMI. Tantangan bagi KAHMI adalah bagaimana tetap relevan dalam menjawab persoalan-persoalan tersebut dan memastikan alumninya tetap memiliki peran signifikan dalam menentukan arah kebijakan bangsa.

Di usia ke-58, KAHMI diharapkan bisa tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga idealisme perjuangan HMI. Peran strategis alumni HMI yang tersebar di berbagai bidang—politik, ekonomi, akademik, dan sosial—dapat menjadi kekuatan bagi KAHMI untuk memberikan kontribusi nyata dalam menghadapi tantangan kebangsaan. KAHMI juga dapat berfungsi sebagai jembatan antar-generasi, menyatukan pemikiran, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini.

KAHMI juga perlu terus meningkatkan konsolidasi internalnya agar bisa lebih solid dan sinergis dalam menghadapi tantangan global dan nasional. Inovasi, kolaborasi lintas sektor, dan kepemimpinan yang berintegritas adalah jawaban bagi KAHMI agar tetap relevan dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Quo vadis KAHMI di usia 58? Jawabannya adalah KAHMI harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, tetap teguh pada prinsip-prinsip perjuangan HMI, serta terus memperkuat kontribusinya dalam membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Ra Hamid Sang Inspirator dan Pemersatu Umat

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.

Adalah Kyai Abdul Hamid Wahid Zaini yang lebih dikenal dengan Ra Hamid adalah putra sulung dari KH. Abdul Wahid Zaini pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid ke II. Ra Hamid saat ini merupakan kepala pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, ia termasuk salah satu Kyai muda yang energik dan transformatif dalam menciptakan perubahan. Tentu dengan berbekal pengalaman sebagai akademisi dan organisator, Ra Hamid tidak mengalami hambatan untuk mendesain peradaban.

Sebagai mantan DPRD dan DPR-RI, Ra Hamid memiliki segudang pengetahuan berkait dengan banyak hal, diantaranya yang ia kuasai adalah manajemen organisasi, manajemen keuangan, leadership dan teori komunikasi massa.

Pada tahun 2014 silam, tepatnya di pesantren Nurul Jadid, Ra Hamid menjadi idola mahasiswa dan santri organisator. Mengapa demikian? Ra Hamid tengah aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra di sekolahnya kala itu. Pada tahun 2017, saya termasuk orang yang beruntung, yang seringkali mendapat kesempatan berbincang dengannya. Saat itu saya sebagai sekretaris Biro Kepesantrenan dan Ra Hamid sebagai kepala pesantren. Salah satu yang masih diingat oleh saya adalah gagasan yang berkait pengembangan pesantren. Tentu ide-idenya yang segar itu membuat pesantren Nurul Jadid seperti sekarang ini.

Ra Hamid mampu mendobrak kejumudan dalam organisasi “yang’ seakan berjalan di tempat. Ia berani melakukan terobosan-terobosan tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah mengakar di pesantren Nurul Jadid. Saya sejak jadi mahasiswa termasuk orang yang mengidolakannya. Bukan karena Ra Hamid sebagai putra kyai melainkan seorang akademisi yang cerdas dan kutu buku.

Sebagai santri baru di pesantren Nurul Jadid, saya sempat mengikuti pengajian kitab yang diampunya, yaitu kitab adabul alim wal muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari. Ra Hamid memaknai kitab dengan bahasa-bahasa populer (ilmiah) yang pada waktu itu bahasa populer sangat digandrungi kawan-kawan mahasiswa. Sebagai organisator ulung, Ra Hamid mampu menghipnotis para santri-santrinya. Tak sedikit dari santri pesantren Nurul Jadid yang terinspirasi dari sosok Ra Hamid muda.

Kini, Ra Hamid hadir sebagai pengayom umat dengan peran kyai yaitu penjaga moral litas umat dan pencipta transformasi sosial. Kehadirannya untuk menjadi orang nomor wahid di tengah-tengah masyarakat Bondowoso sebagai wujud dari komitmennya bahwa tidak akan pernah lelah untuk berbuat baik demi kemaslahatan semesta. Sebagai seorang putra kyai bukan hal mustahil bila dirinya berdiam di pesantren, dan musti akan dihormati orang banyak. Namun darah seorang pejuang telah mengalir pada dirinya yang datang dari KH. Zaini Mun’im seorang ulama kharismatik yang alim dan pejuang kemerdekaan.

“Tidak berjuang, maksiat” penggalan kalimat ini merupakan ungkapan kyai Zaini Mun’im yang sangat masyhur dikalangan masyarakat pesantren.

Saya berkeyakinan bahwa Ra Hamid adalah manusia yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pemersatu umat yang sudah mulai teriris-iris oleh perbedaan politik, nasab maupun ketimpangan sosial.

Bersatunya pesantren besar yang ada di daerah tapal kuda dengan bersedinya Ra Hamid sebagai calon bupati merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Ia juga sudah lama berkecimpung dalam dunia politik. Bahkan Ra Hamid juga dikenal sebagai seorang akademisi yang sangat cerdas dan punya dedikasi tinggi di dunia pendidikan. Sebagai seorang politisi, ia sibuk mengurus pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mengembangkan perguruan tinggi.

Dengan sentuhan tangan dinginnya, Universitas Nurul Jadid telah mendapatkan prestasi dan diakui sebagai PT yang terbaik di Jawa Timur.

Kemampuan yang komplit dimiliki oleh Ra Hamid mampu menghipnotis masyarakat Bondowoso sehingga mereka berkeyakinan untuk menitipkan Kabupaten yang dikenal kota tape ini agar menjadi salah satu kabupaten yang maju dan berkembang.

Kelebihan yang ada pada Ra Hamid adalah berbekal pengalaman, kemampuan dan jejaring dan tentu dengan keberanian melakukan terobosan dalam membuat kebijakan menciptakan optimisme masyarakat Bondowoso bermimpi daerahnya menjadi salah satu daerah terbaik di Indonesia. (*)

Menjelang Libur Maulid, Ini Pesan Kepada Santri Nurul Jadid

Probolinggo, Berdampak.net – Santri harus menjaga nama baik pesantren. Liburan pondok ini merupakan momentum untuk bisa mengamalkan perbuatan baik di tengah-tengah masyarakat. Hal itu disampaikan Gus Madarik Kepala Biro Kepesantrenan saat memberikan pengarahan di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Rabu (11/09/24)

Ia menegaskan, santri itu harus memberi contoh dari segala aspek perbuatannya, baik prilaku dan tutur katanya.

“Kalau berbicara harus menggunakan kata-kata yang sopan. Jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang kotor,” katanya.

Pesantren meliburkan santri dua kali dalam setiap tahun ini sebagai salah satu upaya dalam memberikan kesempatan pada santri untuk berbuat kegiatan yang positif di tengah-tengah masyarakat, baik pada libur maulid dan liburan ramadan.

“Forum komunikasi santri (FKS) silahkan membuat kegiatan yang berbentuk edukasi bagi masyarakat di setiap daerahnya masing-masing,” tegasnya.

Gus Madarik juga menyampaikan bahwa liburan pesantren jangan dimaknai libur total dengan meninggalkan aturan syariat dan pesantren.

“Jangan tinggalkan sholat jamaah, ngaji dan perbuatan baik yang telah dilakukan secara istikamah di pesantren,” harapnya.

Ia pula berharap agar santri membatasi menggunakan HP dan media sosial. Kata Gus Madarik “bermedia sosial itu harus bijak, tidak boleh menggunakan hp dan bermedsos itu tidak melampaui batas,”.

Putra bungsu alm. Kiai Wahid Zaini juga meminta agar orang tua santri ikut mengawasi putra-putrinya di saat berada di rumah.

“Minta tolong pada semua wali santri untuk mengawasi kegiatan putra-putrinya. Jangan sampai keluar rumah tanpa izin orang tua,” pungkasnya.

Saat ini pergaulan bebas antar laki-laki dan perempuan yang bukan mahram marak terjadi.

“Santri tidak boleh bergaul bebas pada yang bukan mahramnya, dan pada mahramnya perlu ada pembatasan juga,” terangnya. (pm)

Pesantren Bersatu Menangkan Gus Haris dan Ra Fahmi di Pilkada Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net- Pondok Pesantren di Kabupaten Probolinggo, bersatu untuk memenangkan pasangan Gus Haris-Ra Fahmi dalam Pilkada Kabupatrn Probolinggo tahun 2024 mendatang.

Hal itu disampaikan Koordinator Gus, Lora Nun Bersatu untuk Probolinggo SAE, KH Hafidzul Hakim Noer, dalam deklarasi di Desa Bulang, Kecamatan Gending, kabupaten setempat, Senin (2/9/2024) sore.

Deklarasi dukungan untuk Gus Haris dan Ra Fahmi sore itu, dihadiri oleh 75 gus, lora dan nun di Kabupaten Probolinggo. Mereka adalah putra kiai atau pengasuh pesantren.

“Baru kali ini Pilkada Probolinggo pesantren bersatu, saatnya kita bersama meraih mimpi Probolinggo berbenah untuk Probolinggo yang lebih sae,” kata figur yang biasa disapa Gus Hafidz itu.

Berdasarkan data Kementerian Agama pada tahun 2021, terdapat sedikitnya 266 pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo. Jumlah santrinya puluhan ribu.

Dewan Pengasuh Ponpes Nurul Qodim itu mengatakan, dukungan kepada Gus Haris dan Ra Fahmi diberikan karena keduanya merupakan representasi dari pondok pesantren. Keduanya lahir dan ditempa di lingkungan pesantren.

Gus Haris merupakan keluarga Ponpes Zainul Hasan Genggong. Sedangkan Ra Fami berasal dari keluarga Ponpes Nurul Jadid.

“Beliau (Gus Haris dan Ra Fahmi) merupakan replika dari kami dari pesantren. Tadi sudah berkomitmen semuanya untuk bersama-sama, bahu-membahu memenangkan Gus Haris dan Ra Fahmi,” kata Gus Hafidz.

Pimpinan Majelis Shalawat Syubbanul Muslimin itu menambahkan, dalam waktu dekat ia juga akan berkomunikasi dengan para kiai kampung dan guru ngaji agar satu suara dalam Pilkada Kabupaten Probolinggo.

“Pemilik musholla atau kiai kampung dan guru ngaji, akan kita akomodir, dan kita akan pikirkan juga kesejahteraan serta masa depan beliau-beliau,” kata Gus Hafidz.

Gus Haris dan Ra Fahmi yang hadir dalam dalam forum kompak berterima kasih atas komitmen para gus, lora dan nun yang hadir.

“Harapannya, kami ini menjadi representasi semua pesantren, karenanya kami butuh panjenengan semua untuk bersama-sama membangun Kabupaten Probolinggo dengan membawa perubahan yang siginifikan,” sambut Gus Haris.

“Terima kasih, tentu kedepan kesejahteraan pondok pesantren akan menjadi pikiran kami. Kami juga tidak akan pandang bulu sepanjang itu memperjuangkan agama,” timpal Ra Fahmi. (fiq)

Dugaan Korupsi Aset Korpri Kabupaten Malang, Fraksi Mahasiswa dan Pemuda Desak Kejaksaan Agung Bertindak

Malang, Berdampak.net – Kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat, kembali menjadi sorotan. Fraksi Mahasiswa dan Pemuda Malang-Jakarta (FMJ) gelar aksi demonstrasi pada Rabu (11/9/24) di Kejaksaan Agung RI.

FMJ mendesak Kejaksaan Agung untuk segera mengambil tindakan tegas dalam menangani kasus yang dianggap mandek tersebut. Wahyu Hidayat diduga terlibat dalam kasus korupsi aset Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Kabupaten Malang yang mencuat pada tahun 2023.

Menurut pernyataan FMJ, proses hukum terhadap kasus ini telah bergulir di Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Beberapa pejabat, termasuk Didik Budi Mulyono dan Wahyu Hidayat, telah dipanggil untuk dimintai keterangan. Namun, hingga saat ini, FMJ menilai perkembangan kasus tersebut tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.

“Kami mendesak Kejaksaan Agung di bawah pimpinan ST Baharudin untuk memanggil dan mendalami kembali dugaan kasus korupsi ini,” ujar perwakilan FMJ.

Mereka juga menyoroti pernyataan Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, Rahmat Supriyadi, S.H., yang menyebutkan bahwa Wahyu Hidayat telah dipanggil untuk diperiksa, namun proses tersebut diduga terhenti tanpa penjelasan lebih lanjut.

FMJ menyatakan keprihatinannya terhadap ketidakpastian penegakan hukum dalam kasus ini. Mereka meminta Kejaksaan Agung untuk mengambil langkah lebih tegas dan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, untuk mempertanggungjawabkan kelambanan penanganan kasus tersebut.

Dalam pernyataan tertulisnya, FMJ menegaskan bahwa korupsi di Indonesia sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan dan mendesak adanya tindakan serius dari penegak hukum untuk memastikan keadilan ditegakkan.

“Kami meminta agar Kejaksaan Agung tidak hanya diam, tetapi aktif dalam memberantas korupsi, terutama di kalangan pejabat pemerintahan daerah. Ini adalah komitmen untuk menjaga integritas hukum di Indonesia,” tambah perwakilan FMJ.

Kasus dugaan korupsi ini menjadi ujian bagi konsistensi penegakan hukum di Indonesia, khususnya dalam hal pemberantasan korupsi yang melibatkan pejabat publik. Masyarakat kini menunggu langkah tegas dari Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus ini dan memastikan bahwa prinsip equality before the law diterapkan secara adil. (fjr)

Konferensi Internasional Angkat Pentingnya Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengobatan Tradisional

Malang, berdampak.net – Dalam rangka meningkatkan kesadaran global tentang konservasi sumber daya alam dan pengobatan tradisional, 15th International Conference on Global Resource Conservation (ICGRC) dan 1st International Conference on Jamu and Alternative Medicine (IC JAM) digelar dengan sukses di Ballroom Ijen Suites Hotel, Malang. Acara yang diselenggarakan oleh Departemen Biologi Universitas Brawijaya dan Dewan Jamu Indonesia ini mengusung tema “Harmony in Nature and Health: Bioprospecting in Practices and Regulatory“. 11 September 2024, besok.

Konferensi ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, termasuk akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, pemerintah, dan komunitas pegiat lingkungan. Mereka berkumpul untuk membahas pentingnya menjaga keseimbangan antara konservasi alam dan pengembangan pengobatan berbasis bahan alami seperti jamu dan terapi tradisional.

Salah satu moderator acara, Prof. Amin Setyo Leksono, menekankan pentingnya melestarikan tanaman di alam liar dan di lahan milik pribadi. “Melestarikan keberadaan tanaman, baik di habitat alami maupun di lingkungan kita sendiri, merupakan upaya fundamental dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan sebagai sumber utama pengobatan tradisional,” ujar Prof. Amin.

Ia juga menjelaskan bahwa teknik pengobatan ala Timur menekankan pendekatan terapi holistik, yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga mental dan emosional. “Konservasi alam harus menjadi prioritas utama dalam praktik pengobatan timur ini. Menanamkan pentingnya penggunaan tanaman herbal kepada generasi sekarang sangat krusial untuk keberlanjutan pengobatan alami dan warisan budaya kita,” tambahnya.

Konferensi ini juga menghadirkan berbagai diskusi panel tentang bioprospecting, yaitu eksplorasi sumber daya hayati untuk kebutuhan ilmiah dan komersial, yang sangat relevan dengan pengembangan jamu dan obat-obatan herbal lainnya. Berbagai praktik terbaik di bidang konservasi alam dan regulasi terkait bioprospecting dipaparkan oleh para ahli dari berbagai negara.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu dan praktik terbaik, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara sektor konservasi lingkungan dan pengobatan tradisional untuk keberlanjutan masa depan yang lebih sehat dan selaras dengan alam. (fjr)