Gus Chasbullah Kafabie, Ajak Gen Z untuk Terus Bangun Personal Branding di Era Digitalisasi

Probolinggo, Berdampak.net – Membangun citra diri yang positif adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Gus Chasbullah Kafabie, Jajaran Pengasuh Ponpes Nurul Qadim yang juga sebagai Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, memberikan paparan terkait pentingnya membangun citra diri di era Digitalisasi kepada para Generasi Z, di Kecamatan Pakuniran, Jum’at (21/03/2025).

Kegiatan yang dikonsep Reuni dan Talk Show tersebut, diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Madrasah Diniyah Ihyaul Iman, Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo.

“Citra diri yang positif dapat membantu kita untuk meningkatkan kepercayaan diri, membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain, untuk mencapai tujuan-tujuan kita,” jelas beliau.

Beliau juga menyampaikan, personal branding di era Digitalisasi ini tentunya sangat mudah, terlebih dengan adanya media sosial yang saat ini sudah menjamur di hampir semua kalangan masyarakat.

“Jadi kita bisa berekspresi tentang siapa diri kita sebenarnya, apa yang menjadi pengalaman atau skill yang kita miliki, dengan tujuan orang lain tahu dan mengenal siapa diri kita, tentunya saat ini personal branding itu sangat mudah, dengan adanya media sosial,” tambah beliau.

Terlebih dari itu semua, beliau juga mengajak kepada para Generasi Z, untuk terus mengembangkan keterampilan dalam membangun citra diri yang positif.

“Ayo dari sekarang kita terus mengembangkan keterampilan kita dengan cara belajar untuk meningkatkan kemampuan kita dan mencapai tujuan-tujuan kita, tentunya tujuan yang positif,” ajak beliau. (fiq)

BADKO HMI JATIM Gelar FGD Tentang Sisi Terang & Gelap BUMD Pemprov Jatim

Surabaya, Berdampak.net – BADKO Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Quo Vadis Manfaat BUMD Pemprov Jatim untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Diskusi yang berlangsung secara hybrid di Kampi Hotel Tunjungan Surabaya dan melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, DPRD Jawa Timur, serta pengusaha pada Rabu (19/3/2025).

Acara ini menghadirkan Anggota V BPK RI, H. Bobby Adhityo Rizaldi, S.E., Ak., MBA., CA., CFE., sebagai keynote speaker. Sementara itu, para narasumber dalam diskusi ini meliputi Dr. Mhd. Aftabuddin Rijaluzzaman, S.Pt, M.Si. (Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jatim), Ardi Krisnamurti (Executive Committee, EXCO Himpunan Pengusaha Alumni ITS), Yuan Candra Djaisin (Kepala BPK RI Perwakilan Provinsi Jawa Timur), serta Wakil Ketua DPRD Jawa Timur yang diwakili oleh Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim, Pranaya Yudha Mahardhika.

Dalam diskusi tersebut, H. Bobby Adhityo Rizaldi menegaskan bahwa BPK RI memiliki peran penting dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas keuangan BUMD. Menurutnya, BUMD di Jawa Timur memiliki kontribusi yang signifikan dalam menunjang kesejahteraan masyarakat, sehingga diperlukan sinergi yang lebih kuat antara BPK RI dan BUMD untuk meningkatkan kinerja dan transparansi.

“BUMD harus dikelola dengan prinsip tata kelola yang baik dan transparan. Kepercayaan publik harus dijaga agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujar Bobby Adhityo Rizaldi.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Jawa Timur, Pranaya Yudha Mahardhika, menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap direksi dan komisaris BUMD JATIM. Ia meminta Pemprov Jawa Timur untuk segera melakukan evaluasi guna memastikan kinerja yang optimal dalam mengelola perusahaan daerah tersebut.

“Kami minta kepada pemerintah provinsi untuk mengevaluasi kinerja direksi, bahkan kalau perlu komisaris juga dievaluasi kinerjanya. Karena komisaris ini adalah pengawas dari kinerja direksi,” tegasnya.

Selain itu, Pranaya juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap operasional BUMD agar kasus penyelewengan dana tidak kembali terjadi di masa mendatang.

“Sampai di mana tupoksi pengawasan itu dijalankan? Sampai di mana controlling itu terus dilakukan di BUMD? Ini yang perlu diperjelas,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Mhd. Aftabuddin Rijaluzzaman, selaku Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jawa Timur, menegaskan bahwa BUMD harus menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Ia menyampaikan bahwa keberadaan BUMD tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan bagi daerah, tetapi juga untuk memastikan distribusi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“BUMD memiliki peran strategis dalam perekonomian daerah. Keberadaannya bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan bagi daerah, tetapi juga untuk memastikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur saat ini merupakan kontributor ekonomi terbesar kedua di Indonesia, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Jawa mencapai 25,23% dan terhadap ekonomi nasional sebesar 14,39%. Oleh karena itu, menurutnya, BUMD harus mampu menjawab tantangan dan peluang ekonomi, termasuk keberlanjutan proyek strategis nasional, digitalisasi sistem pembayaran, serta penguatan ekonomi mitra dagang utama Jawa Timur.

Dalam kesempatan ini, Kepala BPK RI Perwakilan Jawa Timur, Yuan Candra Djaisin, menegaskan bahwa BPK RI memiliki batasan tertentu dalam mengaudit BUMD. Menurutnya, audit yang dilakukan oleh BPK RI lebih berfokus pada aspek kepatuhan terhadap regulasi dan transparansi penggunaan dana publik.

“BPK RI tidak dapat melakukan audit secara menyeluruh terhadap BUMD yang berstatus sebagai entitas bisnis murni. Oleh karena itu, audit eksternal melalui lembaga akuntansi independen juga diperlukan untuk memastikan akuntabilitas keuangan dan operasional BUMD,” ujar Yuan Candra Djaisin.

Selain itu, dalam FGD ini juga dibahas berbagai langkah konkret untuk memperkuat BUMD, di antaranya evaluasi berkala terhadap kinerja, sinergi dengan pihak ketiga untuk meningkatkan daya saing, serta restrukturisasi manajemen dan regulasi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pembangunan daerah. Para peserta FGD turut menyampaikan gagasan serta kritik konstruktif terkait efektivitas BUMD dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ardi Krisnamurti, selaku perwakilan dari EXCO Himpunan Pengusaha Alumni ITS, menyoroti pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan bisnis BUMD. Ia menekankan bahwa BUMD harus memiliki strategi bisnis yang jelas, termasuk dalam peremajaan aset dan peningkatan efisiensi operasional.

“Pengelolaan bisnis BUMD harus berbasis profesionalisme dan efisiensi. Peremajaan aset yang sudah tidak produktif perlu dilakukan agar BUMD dapat lebih kompetitif di pasar,” ujar Ardi.

Selain itu, Ardi juga menyoroti pentingnya audit menyeluruh terhadap BUMD, baik dari segi aset, keuangan, maupun sumber daya manusia.

“Audit aset dan audit keuangan harus dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan dalam pengelolaan BUMD. Selain itu, audit SDM juga diperlukan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia yang ada memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini, Kepala Biro Perekonomian juga menegaskan bahwa proses penyusunan direksi BUMD dilakukan secara profesional tanpa intervensi politik.

Ketua Umum BADKO HMI Jawa Timur, Yusfan Firdaus, menegaskan bahwa BUMD tidak boleh menjadi alat korupsi dan pencucian uang oleh pemerintah provinsi.

“Jangan sampai BUMD dijadikan alat atau tempat korupsi dan pencucian uang pemprov. BADKO HMI Jawa Timur meminta BPK RI Perwakilan Jawa Timur untuk mengevaluasi dan mengaudit menyeluruh seluruh BUMD Pemerintah Provinsi Jawa Timur sehingga bisa menjawab kekhawatiran publik dan mengembalikan kepercayaan masyarakat serta investor terhadap pengelolaan BUMD,” pungkasnya.

BADKO HMI JATIM juga menyampaikan kekecewaannya terhadap Kejadian Korupsi di Bank Jatim yang sedang dalam proses Hukum, serta BUMD Non-Bank Jatim yang tidak dikelola secara Profesional sehingga mengakibatkan minimnya kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Terakhir, BADKO HMI JATIM akan melakukan Hearing / Audiensi dengan Komisi C DPRD JATIM dan Biro Perekonomian Pemprov Jatim untuk menyampaikan rekomendasi-rekomendasi yang dilahirkan dari FGD tersebut. (fiq)

Mengangkat Gerakan Kalaborasi, Gekrafs & Forum Ekraf Kabupaten Probolinggo, Petakan Potensi Ekonomi kreatif

Probolinggo, Berdampak.net – Gekrafs Kabupaten Probolinggo menggelar buka bersama pengurus pada Minggu, (16 /05/2025). Pertemuan Gekrafs sore tersebut dilaksanakan di Cendana Seafood & Bebakaran Paiton. Dalam pertemuan ini hadir juga Ketua Forum Ekonomi Kreatif Kabupaten Probolinggo Zainuri Amin.

Sebagai organisasi, regenerasi harus tetap berjalan. Untuk itu, adanya bukber ini sekaligus mempersiapkan kepengurusan dan program kedepan.

“Pertemuan Gekrafs pada hari ini melakukan silaturahmi serta buka puasa bersama, selain itu juga melakukan diskusi ringan terkait pergantian estafet Gekrafs ditahun 2025 serta program-program kedepan” ujar M. Afifuddin, Ketua Gekrafs Kabupaten Probolinggo.

Dalam pertemuan itu, M. Afifuddin mendiskusikan terkait peta potensi ekonomi kreatif tahun ini. Ia berharap pelaku ekonomi kreatif mempunyai ruang untuk berkontribusi bagi daerah sesuai kapsitasnya.

Program-program kedepan harus mampu memberikan kontribusi positif terhadap Kabupaten Probolinggo serta mendukung program Pemerintah Kabupaten Probolinggo kedepannya. Selaras dengan itu, M. Afifuddin mendorong pemetaan ruang potensi pelaku ekonomi kreatif di setiap daerah dibahas pada pelaksanaan musyawaroh cabang dengan konsep event agar lebih nyata demi kemajuan pembangunan daerah kedepannya.

“Di tahun 2025 Gekrafs akan adakan muscab akhir jabatan dan kedepan kami akan membuat program-program untuk pelaku ekonomi kreatif seperti event di wisata Kabupaten Probolinggo, Branding sektor pariwisata, serta memberikan pelatihan kepada subsektor ekonomi kreatif kedepan dan
Juga mendata sektor pelaku ekraf yang baru,” ujarnya.

Sinergi antara Gekrfas & Forum Ekraf memiliki komitmen kedepan untuk menciptakan banyak program yang memberikan kontribusi positif kepada Kab Probolinggo. (fiq)

Malam Nuzulul Qur’an, Gus Chasbullah Kafabie: “Refleksi Keseimbangan Antara Rasionalisme dan Emosionalisme”

Probolinggo, Berdampak.net – Malam Nuzulul Qur’an adalah malam yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada malam ini, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Malam ini diperingati setiap tahun pada tanggal 17 Ramadan, dan merupakan momentum yang sangat penting bagi umat Islam untuk memperkuat iman dan memohon ampun.

Pada momentum Malam Nuzulul Qur’an ini, Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Gus Chasbullah Kafabie mengajak seluruh elemen Masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas ibadah, dengan cara melakukan refleksi keseimbangan antara rasionalisme dan emosionalisme.

“Kita haruslah mengembangkan kematangan emosional, menghindari kefanatikan, mengembangkan kecerdasan spiritual, mengintegrasikan akal dan hati, dan mengembangkan kesadaran spiritual. Malam Nuzulul Qur’an memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam. Pada malam ini, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai sumber hidayah dan petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran yang benar dan lurus, serta merupakan sumber kebenaran dan keadilan,” ujarnya, Minggu (16/03/2025) petang.

Malam Nuzulul Qur’an juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk mengembangkan kematangan emosional. Kematangan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain.

“Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi umat yang memiliki kematangan emosional yang tinggi, Malam Nuzulul Qur’an juga mengingatkan kita tentang pentingnya menghindari kefanatikan. Kefanatikan dapat terjadi ketika kita terlalu mengutamakan aspek rasional atau emosional. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi umat yang moderat dan seimbang,” jelasnya.

Beliau mengatakan, banyak hal yang dapat kita petik dalam setiap kandungan Al-Qur’an, untuk dipedomani dalam menjalankan kehidupan di dunia sebagai khalifah fil ‘Ardh.

“Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi umat yang memiliki kecerdasan, dan kesadaran spiritual yang tinggi, selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan kita untuk menjadi umat yang memiliki akal dan hati yang seimbang,” paparnya.

“Dengan melakukan refleksi diri pada Malam Nuzulul Qur’an, semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Kita dapat meningkatkan kualitas ibadah kita, mengembangkan sifat-sifat baik, dan menjadi lebih sabar dan Syukur,” harapnya. (fiq)

Ramadhan: Momentum Pembentukan Karakter dan Jalan Menuju Ketakwaan

Oleh Ainur Rofiq
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ulum Jetis Dau Malang.

Berdampak.net – Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan. Terdapat tiga fase utama dalam bulan Ramadhan. Sepuluh hari pertama adalah fase rahmat, di mana Allah SWT melimpahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Ini menjadi waktu bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal shaleh, berbuat baik kepada sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, serta orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156).

Memasuki sepuluh hari kedua, Ramadhan memasuki fase maghfirah atau pengampunan. Allah SWT semakin membuka pintu taubat bagi siapa saja yang dengan tulus memohon ampunan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit pula yang menjalani Ramadhan tanpa perubahan berarti. Sebagian tetap melakukan kebiasaan buruk, atau berbuat zalim kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa kesempatan yang Allah berikan tidak selalu dimanfaatkan dengan baik. Sejatinya, fase maghfirah ini bukan hanya tentang memohon ampunan, tetapi juga tentang kesadaran untuk memperbaiki diri agar tidak kembali pada kebiasaan buruk setelah Ramadhan berlalu.
Pada sepuluh hari terakhir, Ramadhan mencapai puncaknya sebagai fase itqun minan naar atau pembebasan dari api neraka. Ini adalah kesempatan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadah untuk mendapatkan keselamatan dari siksa akhirat.

Keistimewaan terbesar dalam fase ini adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Rasulullah SAW bahkan meningkatkan ibadahnya secara luar biasa dalam sepuluh hari terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Ketika masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadhan), Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Rasulullah yang telah dijamin ampunannya saja meningkatkan ibadahnya, maka bagaimana dengan manusia biasa yang penuh dengan kesalahan?
Namun, meskipun setan dibelenggu selama Ramadhan, mengapa masih ada orang yang melakukan kebiasaan buruk? Para ulama menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh hawa nafsu yang telah terbiasa dengan maksiat sebelum Ramadhan. Kebiasaan buruk yang sudah mengakar sulit hilang hanya karena perubahan waktu. Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam membentuk karakter seseorang. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lamanya, ini menunjukkan bahwa perubahan yang dilakukan belum benar-benar tertanam dalam hati.

Oleh karena itu, usaha dalam beribadah selama bulan suci ini harus lebih maksimal agar benar-benar mampu meraih ketakwaan dan menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih baik.

Salah satu amalan utama yang diajarkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak istighfar. Rasulullah, meskipun memiliki sifat ma’shum (terjaga dari dosa), tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT. Ini menjadi pelajaran bagi umatnya bahwa manusia, yang tidak luput dari kesalahan, seharusnya lebih banyak memohon ampunan. Dalam kehidupan modern, di mana godaan dunia semakin besar dan dosa bisa dilakukan dengan mudah, istighfar menjadi cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lebih dari sekadar ibadah ritual, puasa Ramadhan juga melatih kesabaran dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam Islam, sabar terbagi menjadi tiga jenis. Sabar dalam ketaatan kepada Allah berarti terus beribadah meskipun terasa berat, seperti bangun di sepertiga malam untuk shalat tahajud atau tetap menjaga puasa dalam kondisi lelah. Sabar dalam menjauhi maksiat adalah ketahanan untuk menolak godaan yang bisa membawa pada dosa, seperti mengendalikan diri dari bergunjing atau menahan diri dari kemarahan. Sedangkan sabar dalam menghadapi ujian adalah ketabahan dalam menerima setiap cobaan hidup dengan tetap berserah diri kepada Allah SWT.

Dalam firman-Nya, Allah SWT berjanji, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Namun, di tengah keutamaan Ramadhan, masih banyak yang terjebak dalam kebiasaan buruk yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Sifat sombong, misalnya, semakin terlihat dalam kehidupan modern, di mana seseorang merasa lebih unggul dari yang lain hanya karena status sosial, pekerjaan, atau kekayaan. Media sosial juga menjadi ajang pamer dan membandingkan diri dengan orang lain, menumbuhkan rasa iri dan dengki. Sifat malas beribadah juga semakin marak, di mana banyak orang menganggap ibadah hanya sebagai rutinitas, tanpa benar-benar merasakan maknanya. Begitu pula dengan kebiasaan menunda taubat, menganggap bahwa masih ada waktu untuk berubah, padahal kematian bisa datang kapan saja.

Ramadhan seharusnya menjadi titik balik untuk membersihkan diri dari sifat-sifat negatif. Dengan memahami bahwa bulan ini bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga melatih hati dan jiwa, bahwa setiap Muslim memiliki peluang besar untuk benar-benar berubah. Jika seseorang masih kembali kepada kebiasaan buruk setelah Ramadhan, maka bisa jadi hanya menjalankan ibadah secara fisik tanpa memahami esensinya. Oleh karena itu, setiap Muslim harus berusaha agar Ramadhan benar-benar meninggalkan bekas dalam kehidupan setelahnya. “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, ‘Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga,’” (HR An-Nasai dan Ibnu Majah).

Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133). Ramadhan bukan hanya tentang ibadah selama sebulan, tetapi tentang bagaimana ibadah tersebut mampu mengubah diri seseorang menjadi lebih baik sepanjang hidupnya. Jika bulan ini diisi dengan istighfar, ketakwaan, dan perjuangan melawan hawa nafsu, maka setelah Ramadhan, seseorang akan tetap berada dalam kebaikan. Inilah kesempatan terbaik untuk membentuk karakter, mendekatkan diri kepada Allah, dan meniti jalan menuju surga.
Wallahu A’lam Bishowab

Warga Keluhkan BPJS Pasca PHK, Khairul Anam: Perlu Solusi Konkret Agar Tidak Ada yang Kehilangan Akses Kesehatan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam kegiatan Reses anggota DPRD, warga menyampaikan keluhan terkait kepesertaan BPJS Kesehatan yang sebelumnya ditanggung oleh perusahaan, namun kini harus dibayar sendiri setelah mereka mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam yang akrab dipanggil Cak Anam, dari Fraksi PDI Perjuangan menerima aspirasi warga yang mengaku kesulitan membayar iuran BPJS setelah tidak lagi bekerja. “Ini masalah serius yang harus segera dicarikan solusi. Kesehatan adalah hak dasar, dan jangan sampai warga kehilangan akses layanan kesehatan hanya karena kendala administrasi atau ketidakmampuan membayar,” ujar Khairul Anam. Kamis (13/03/2025).

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan regulasi, BPJS Kesehatan pekerja yang terkena PHK sebenarnya masih aktif hingga enam bulan setelah pemberhentian kerja, sesuai Perpres No. 82 Tahun 2018. Namun, setelah periode itu berakhir, mereka harus beralih menjadi peserta mandiri atau masuk dalam Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah.

Untuk mengatasi hal ini, Khairul Anam menegaskan akan mendorong pemerintah daerah agar lebih proaktif dalam memperbarui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar warga yang tidak mampu bisa mendapatkan bantuan iuran BPJS. Akan tetapi ini belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, karena saat ini masih ada proses migrasi DTKS menjadi DTSEN. Selain itu, ia juga meminta agar Dinas Sosial dan BPJS Kesehatan mempermudah proses pendaftaran peserta PBI bagi warga yang terdampak PHK.

“Kami di DPRD, khususnya Fraksi PDI Perjuangan, akan mengawal masalah ini agar ada solusi konkret. Selain mendorong pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk membantu warga, kami juga akan memastikan adanya program pelatihan kerja dan wirausaha bagi mereka yang terdampak PHK, sehingga mereka bisa kembali bekerja dan tetap memiliki jaminan kesehatan,” tegasnya.

Khairul Anam berharap warga yang mengalami kendala dalam kepesertaan BPJS segera melaporkan ke pihak desa atau dinas terkait agar dapat dibantu dalam proses administrasi. “Kami siap menjadi jembatan bagi masyarakat agar tidak ada yang kehilangan akses kesehatan karena persoalan biaya,” pungkasnya. (fiq)