Ramadhan: Momentum Pembentukan Karakter dan Jalan Menuju Ketakwaan

Oleh Ainur Rofiq
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ulum Jetis Dau Malang.

Berdampak.net – Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan. Terdapat tiga fase utama dalam bulan Ramadhan. Sepuluh hari pertama adalah fase rahmat, di mana Allah SWT melimpahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Ini menjadi waktu bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal shaleh, berbuat baik kepada sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, serta orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 156).

Memasuki sepuluh hari kedua, Ramadhan memasuki fase maghfirah atau pengampunan. Allah SWT semakin membuka pintu taubat bagi siapa saja yang dengan tulus memohon ampunan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit pula yang menjalani Ramadhan tanpa perubahan berarti. Sebagian tetap melakukan kebiasaan buruk, atau berbuat zalim kepada sesama. Ini menunjukkan bahwa kesempatan yang Allah berikan tidak selalu dimanfaatkan dengan baik. Sejatinya, fase maghfirah ini bukan hanya tentang memohon ampunan, tetapi juga tentang kesadaran untuk memperbaiki diri agar tidak kembali pada kebiasaan buruk setelah Ramadhan berlalu.
Pada sepuluh hari terakhir, Ramadhan mencapai puncaknya sebagai fase itqun minan naar atau pembebasan dari api neraka. Ini adalah kesempatan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadah untuk mendapatkan keselamatan dari siksa akhirat.

Keistimewaan terbesar dalam fase ini adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Rasulullah SAW bahkan meningkatkan ibadahnya secara luar biasa dalam sepuluh hari terakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadis, “Ketika masuk sepuluh malam terakhir (bulan Ramadhan), Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika Rasulullah yang telah dijamin ampunannya saja meningkatkan ibadahnya, maka bagaimana dengan manusia biasa yang penuh dengan kesalahan?
Namun, meskipun setan dibelenggu selama Ramadhan, mengapa masih ada orang yang melakukan kebiasaan buruk? Para ulama menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh hawa nafsu yang telah terbiasa dengan maksiat sebelum Ramadhan. Kebiasaan buruk yang sudah mengakar sulit hilang hanya karena perubahan waktu. Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam membentuk karakter seseorang. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lamanya, ini menunjukkan bahwa perubahan yang dilakukan belum benar-benar tertanam dalam hati.

Oleh karena itu, usaha dalam beribadah selama bulan suci ini harus lebih maksimal agar benar-benar mampu meraih ketakwaan dan menjadikan Ramadhan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih baik.

Salah satu amalan utama yang diajarkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak istighfar. Rasulullah, meskipun memiliki sifat ma’shum (terjaga dari dosa), tetap beristighfar lebih dari 70 kali sehari sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT. Ini menjadi pelajaran bagi umatnya bahwa manusia, yang tidak luput dari kesalahan, seharusnya lebih banyak memohon ampunan. Dalam kehidupan modern, di mana godaan dunia semakin besar dan dosa bisa dilakukan dengan mudah, istighfar menjadi cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lebih dari sekadar ibadah ritual, puasa Ramadhan juga melatih kesabaran dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam Islam, sabar terbagi menjadi tiga jenis. Sabar dalam ketaatan kepada Allah berarti terus beribadah meskipun terasa berat, seperti bangun di sepertiga malam untuk shalat tahajud atau tetap menjaga puasa dalam kondisi lelah. Sabar dalam menjauhi maksiat adalah ketahanan untuk menolak godaan yang bisa membawa pada dosa, seperti mengendalikan diri dari bergunjing atau menahan diri dari kemarahan. Sedangkan sabar dalam menghadapi ujian adalah ketabahan dalam menerima setiap cobaan hidup dengan tetap berserah diri kepada Allah SWT.

Dalam firman-Nya, Allah SWT berjanji, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Namun, di tengah keutamaan Ramadhan, masih banyak yang terjebak dalam kebiasaan buruk yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Sifat sombong, misalnya, semakin terlihat dalam kehidupan modern, di mana seseorang merasa lebih unggul dari yang lain hanya karena status sosial, pekerjaan, atau kekayaan. Media sosial juga menjadi ajang pamer dan membandingkan diri dengan orang lain, menumbuhkan rasa iri dan dengki. Sifat malas beribadah juga semakin marak, di mana banyak orang menganggap ibadah hanya sebagai rutinitas, tanpa benar-benar merasakan maknanya. Begitu pula dengan kebiasaan menunda taubat, menganggap bahwa masih ada waktu untuk berubah, padahal kematian bisa datang kapan saja.

Ramadhan seharusnya menjadi titik balik untuk membersihkan diri dari sifat-sifat negatif. Dengan memahami bahwa bulan ini bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga melatih hati dan jiwa, bahwa setiap Muslim memiliki peluang besar untuk benar-benar berubah. Jika seseorang masih kembali kepada kebiasaan buruk setelah Ramadhan, maka bisa jadi hanya menjalankan ibadah secara fisik tanpa memahami esensinya. Oleh karena itu, setiap Muslim harus berusaha agar Ramadhan benar-benar meninggalkan bekas dalam kehidupan setelahnya. “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda, ‘Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga,’” (HR An-Nasai dan Ibnu Majah).

Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133). Ramadhan bukan hanya tentang ibadah selama sebulan, tetapi tentang bagaimana ibadah tersebut mampu mengubah diri seseorang menjadi lebih baik sepanjang hidupnya. Jika bulan ini diisi dengan istighfar, ketakwaan, dan perjuangan melawan hawa nafsu, maka setelah Ramadhan, seseorang akan tetap berada dalam kebaikan. Inilah kesempatan terbaik untuk membentuk karakter, mendekatkan diri kepada Allah, dan meniti jalan menuju surga.
Wallahu A’lam Bishowab

Warga Keluhkan BPJS Pasca PHK, Khairul Anam: Perlu Solusi Konkret Agar Tidak Ada yang Kehilangan Akses Kesehatan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam kegiatan Reses anggota DPRD, warga menyampaikan keluhan terkait kepesertaan BPJS Kesehatan yang sebelumnya ditanggung oleh perusahaan, namun kini harus dibayar sendiri setelah mereka mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, H. Khairul Anam yang akrab dipanggil Cak Anam, dari Fraksi PDI Perjuangan menerima aspirasi warga yang mengaku kesulitan membayar iuran BPJS setelah tidak lagi bekerja. “Ini masalah serius yang harus segera dicarikan solusi. Kesehatan adalah hak dasar, dan jangan sampai warga kehilangan akses layanan kesehatan hanya karena kendala administrasi atau ketidakmampuan membayar,” ujar Khairul Anam. Kamis (13/03/2025).

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan regulasi, BPJS Kesehatan pekerja yang terkena PHK sebenarnya masih aktif hingga enam bulan setelah pemberhentian kerja, sesuai Perpres No. 82 Tahun 2018. Namun, setelah periode itu berakhir, mereka harus beralih menjadi peserta mandiri atau masuk dalam Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah.

Untuk mengatasi hal ini, Khairul Anam menegaskan akan mendorong pemerintah daerah agar lebih proaktif dalam memperbarui Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar warga yang tidak mampu bisa mendapatkan bantuan iuran BPJS. Akan tetapi ini belum bisa dilakukan dalam waktu dekat, karena saat ini masih ada proses migrasi DTKS menjadi DTSEN. Selain itu, ia juga meminta agar Dinas Sosial dan BPJS Kesehatan mempermudah proses pendaftaran peserta PBI bagi warga yang terdampak PHK.

“Kami di DPRD, khususnya Fraksi PDI Perjuangan, akan mengawal masalah ini agar ada solusi konkret. Selain mendorong pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk membantu warga, kami juga akan memastikan adanya program pelatihan kerja dan wirausaha bagi mereka yang terdampak PHK, sehingga mereka bisa kembali bekerja dan tetap memiliki jaminan kesehatan,” tegasnya.

Khairul Anam berharap warga yang mengalami kendala dalam kepesertaan BPJS segera melaporkan ke pihak desa atau dinas terkait agar dapat dibantu dalam proses administrasi. “Kami siap menjadi jembatan bagi masyarakat agar tidak ada yang kehilangan akses kesehatan karena persoalan biaya,” pungkasnya. (fiq)

Potensi Laut Besar, Pabrik Pengalengan Ikan Layak Dibangun di Situbondo

Surabaya, Berdampak.net – Potensi laut yang besar diharapkan mampu ditangkap oleh Pemda Situbondo dalam upaya mensejahterakan masyarakatnya. Misalnya perlu dibangun pabrik pengalengan ikan di wilayah tersebut.

Anggota DPRD Jawa Timur Pranaya Yudha Mahardhikan mengatakan keberadaan pabrik tersebut diharapkan mampu mengatasi tingginya angka pengangguran di wilayah tersebut.” Pemerintahan mas Rio dan mbak Ulfi diharapkan memiliki pemikiran yang visioner tentang optimalisasi potensi laut dan wilayah pesisir di Situbondo,” ujar politisi Golkar ini, Kamis (13/3/2025).

Ketua fraksi Golkar Jawa Timur ini mengatakan kabupaten Situbondo merupakan wilayah dengan panjang pantai terpanjang di Jawa Timur. ”Jelas potensi lautnya luar biasa. Banyak hasil laut yang dinikmati masyarakat Jawa Timur maupun dari luarpun berasal dari Situbondo,” terangnya.

Selain membangun pabrik pengalengan ikan, lanjut anggota komisi C DPRD Jawa Timur ini, perlu juga optimalisasi pelabuhan perikanan yang sudah ada.” Pelabuhan dihidupkan kembali dan dilakukan revitalisasi. Alat tangkap nelayan layak diperbarui dan diberi pelatihan,” jelas ketua AMPG Jawa Timur ini.

Untuk realisasi pabrik pengalengan ikan ini, lanjut Pranaya Yudha, perlu kelihaian dari pemda setempat untuk menarik investor agar mau berinvestasi di Situbondo tersebut.

“Dengan mendatangkan investor ini merupakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh bupati yang baru sekarang ini,” tandasnya.

Situbondo sendiri memiliki potensi sumberdaya laut dan perikanan yang potensial yakni memiliki sebanyak 2.844 kapal perikanan, 15.326 nelayan, 1.264,66 hektar tambak budidaya, serta 195 unit usaha kelautan dan perikanan lainnya.Kabupaten Situbondo terletak di pesisir pantai utara Provinsi Jawa Timur dimana disana memiliki pelabuhan Panarukan, yang merupakan ujung timur Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan.

Sedangkan Komoditas unggulan perikanan di Situbondo, antara lain, Ikan Teri, Lemuru, Ikan Kembung, Tongkol, Rajungan, Kepiting, Cumi-cumi, Manyung, Layur dan Udang. (fiq)

BALADA AMRAN DI NEGERI SINGKONG

SELALU ada juru selamat yang datang. Di mana saja. Juga di Lampung, provinsi ujung selatan Sumatera. Posisinya strategis. Jalur logistik tersibuk yang menghubungkan pulau Jawa.

Bagi petani singkong Lampung, juru selamat itu bernama Andi Amran Sulaiman. Anak Bugis dari selatan juga. Di pulau Sulawesi. Anda pun sudah tahu. Yang sekarang dipercaya Presiden Prabowo sebagai Menteri Pertanian.

Dipenghujung Januari 2025 lalu, Amran “memadamkan” bara api konflik petani dan pengusaha. Ribuan petani singkong berunjuk rasa di tiga pabrik tapioka yang ada di Tulangbawang, Lampung.

Demo dilakukan sebagai bentuk kekecewaan petani karena perusahaan menyerap singkong petani dengan harga rendah. Ada yang beli singkong di harga Rp 1.100 per kg dengan rafaksi 15-18%. Pabrik tapioka lainnya menetapkan harga Rp 1.300-Rp 1.400 per kg, tetapi rafaksinya di angka 35-38%.

Semula sudah dilakukan mediasi antara pemerintah setempat, DPRD, petani, dan pengusaha menyepakati harga singkong Rp 1.400 per kg pada 2025 ini. Namun dalam praktiknya, pabrik tapioka enggan membeli dengan patokan harga itu. Alasannya: rugi.

Gantian pengusaha yang unjuk rasa. Mereka menunjukkan protesnya dengan menutup pabrik dan tak mau beli singkong. Petani kelimpungan. Sebab singkong ada batas usia tanamnya. Harus segera dipanen. Jadi, kalau tidak ada yang beli, singkong yang sudah dipanen terancam membusuk.

Mendapat informasi peristiwa tersebut, Mentan Amran merespon sigap. Ia turun gunung. Ia mengumpulkan pengusaha pelaku industri dan petani singkong Lampung yang berkonflik. Ia mengundang perwakilan kedua pihak ke kantornya di Jakarta.

Dalam proses mediasi, pengusaha bersikukuh beli dengan harga Rp 1.300 per kg. Petani ngotot minta jual di harga Rp.1.400. Tak ada titik temu soal harga. Deadlock. Belum ada solusi.

Amran diam sejenak. Raut wajahnya berubah seakan memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia teringat istilah anak-anak ”breaker” saat dirinya remaja era 80-an di kampungnya di Bone, pelosok Sulawesi Selatan. Agar bisa berkomunikasi dalam frekuensi yang sama, masing-masing lawan kontak bicara harus kompromi: disana “turun satu” dan disini “naik satu”.

Setelah mendengar dan menganalisa keinginan kedua pihak, Amran menempuh “jalan tengah”. Ia kemudian memutuskan harga singkong dipatok Rp 1.350 per kg. Tok. Keputusan ini berlaku secara nasional mulai, Jumat (31/1/2025).

Sontak petani bersorak. “Turun Rp 50 tak mengapa yang penting bisa diserap,” teriak mereka. Pihak pengusaha juga menerima. Tapi mereka ajukan syarat tambahan: pemerintah harus menyetop impor tapioka. Saat itu juga Amran langsung mengontak koleganya Menteri Perdagangan Budi Santoso. “Mendag sudah setuju stop impor tapioka,” kata Amran.

Tak lupa Amran mengingatkan bahwa keputusan ini harus dijalankan oleh semua pihak, baik petani maupun industri. Jika ada industri yang melanggar kesepakatan maka dikenakan sanksi tegas.

“Kalau ada industri yang melarang harga ini, kami akan beri sanksi. Jangan main-main! Saya bapaknya petani dan industri singkong. Jangan ada yang melanggar komitmen. Industri harus untung, petani harus tersenyum,” ujarnya.

//Negeri Singkong//

Singkong boleh dibilang komoditas hajat hidup orang banyak di Lampung dan daerah lainnya di Indonesia. Bahkan sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai salahsatu negara penghasil singkong terbesar di dunia.

Berlimpahnya produksi singkong di Nusantara, memicu kreativitas masyarakat untuk mengolahnya. Salah satunya menjadi kerupuk.

Dalam catatan Sejarah, singkong atau yang disebut juga sebagai ketela dikenalkan pertama kali oleh bangsa Portugis pada sekitar abad ke-15 dan 16. Meski umbi-umbian yang satu ini sejatinya berasal dari wilayah Amerka Selatan.

Melimpahnya produksi singkong pada dan pasca era cultuurstelsel (tanam paksa) yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada era itu, setiap desa diwajibkan menyisihkan sebagian lahannya untuk ditanami komoditas yang dinilai menguntungkan seperti teh,kina,kopi, dan kakao.

Situasi ini membuat akses terhadap padi jadi terbatas. Pasalnya, sebagaian besar lahan digunakan untuk tanaman yang dinilai lebih cuan.

Tak ayal, masyarakat pun hanya bisa menanam singkong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah Hindia Belanda sendiri telah mengimbau pribumi menanam singkong sebagai solusi dimasa paceklik.

Tak dinyana, poduksi singkong justru melimpah di era yang sama. Hal ini membuat kreativitas masyarakat diuji. Untuk mengolah hasil panen singkong yang berlimpah itu.

Surplus singkong kala itu direspons dengan pembangunan pabrik tapioka. Di pabrik ini, singkong disulap jadi tepung yang bisa diolah jadi berbagai pangan.

Jawa Barat (Jabar) kala itu menjadi salah satu wilayah penghasil singkong terbesar. Hal ini diperkuat dengan adanya jalur di Jabar yang dibangun karena adanya kebun singkong. Kondisi yang sama dengan jalur kereta penghubung Semarang, Solo, dan Yogyakarta yang dibangun karena keberadaan kebun tebu.

Dari sana, beragam olahan dari tepung tapioka pun bermunculan, salahsatunya kerupuk Aci yang fenomenal pada masa awal abad ke-20 seiring surplus tepung tapioka.

Balada Amran di negeri singkong ini, menurut saya ibarat petikan gitar, yang terus beresonansi dalam ruang publik yang kadang buta dan tuli.*** (Rusman Madjulekka).

Bupati Baru, Harapan Baru: Menggali Potensi Pariwisata Probolinggo untuk Masa Depan

oleh : Fajar Satrio Bangun Wibowo (Pegiat Wisata Kabupaten Probolinggo)

Berdampak.net – Kehadiran Gus dr. Mohammad Haris sebagai Bupati Probolinggo yang baru membawa harapan segar bagi masyarakat. Salah satu sektor yang paling diharapkan mengalami perubahan signifikan adalah pariwisata. Dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Kabupaten Probolinggo, sektor ini sejatinya menyimpan potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Namun, tanpa sentuhan inovasi dan kebijakan yang tepat, potensi tersebut hanya akan menjadi mimpi yang tak terwujud.

Probolinggo memiliki daya tarik wisata yang luar biasa, mulai dari Gunung Bromo yang mendunia hingga pesona Pantai Bentar dan air terjun Madakaripura. Namun, tantangannya adalah bagaimana pemerintah daerah mampu mengelola aset-aset ini secara profesional dan berkelanjutan. Infrastruktur sering kali menjadi hambatan utama. Jalan menuju destinasi wisata yang kurang memadai, minimnya fasilitas umum, serta kurangnya promosi membuat wisatawan enggan berlama-lama di Probolinggo.

Kepemimpinan Gus Haris memberikan secercah harapan bahwa permasalahan ini akan segera diatasi. Dalam beberapa kesempatan, beliau menyampaikan komitmennya untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Ini adalah langkah awal yang sangat penting. Tanpa aksesibilitas yang baik, mustahil sektor pariwisata dapat berkembang maksimal.

Namun, pembangunan fisik saja tidak cukup. Pariwisata modern menuntut inovasi dan daya tarik unik. Probolinggo perlu mengembangkan konsep wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) yang mengedepankan budaya lokal, kuliner khas, dan kearifan lokal masyarakatnya. Desa-desa wisata bisa menjadi ujung tombak dalam hal ini. Dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, pariwisata tidak hanya akan meningkatkan pendapatan daerah tetapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat.

Selain itu, promosi digital harus menjadi fokus utama. Di era media sosial seperti sekarang, destinasi wisata hanya akan dikenal jika dipromosikan secara masif melalui platform digital. Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan content creator lokal maupun nasional untuk memperkenalkan keindahan Probolinggo ke dunia luar.

Tidak kalah penting adalah keberlanjutan lingkungan. Pariwisata sering kali membawa dampak negatif terhadap alam jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, konsep ekowisata harus menjadi bagian integral dari strategi pengembangan pariwisata Probolinggo.

Harapan masyarakat terhadap Gus Haris sangat besar. Mereka ingin melihat perubahan nyata yang tidak hanya dirasakan oleh segelintir pihak tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat. Pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat mewujudkan harapan tersebut jika dikelola dengan baik.

Kini saatnya bagi Gus Haris untuk membuktikan bahwa kepemimpinannya mampu membawa angin segar bagi Probolinggo. Dengan visi yang jelas, kebijakan yang tepat sasaran, dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Probolinggo memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Harapan baru telah lahir—tinggal bagaimana kita semua bersama-sama mewujudkannya.

Fahmi AHZ Dampingi dr. Haris Pimpin Apel Perdana di Lingkungan Pemkab Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net– Bupati Probolinggo, Gus dr. Mohammad Haris, bersama Wakil Bupati Ra Fahmi AHZ (panggilan akrab beliau red), menggelar apel perdana yang dihadiri oleh seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Probolinggo di Alun-Alun Kota Kraksaan pada Senin, 10 Maret 2025. Acara ini juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, H. Ugas Irwanto, serta para staf ahli, asisten, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan Camat.

Dalam apel tersebut, Gus Haris menyampaikan komitmennya untuk menjalankan program 100 hari pertama yang akan fokus pada pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, dan peningkatan pelayanan publik. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara semua elemen pemerintahan untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagai bagian dari kegiatan, Gus Haris dan Ra Fahmi juga menyerahkan santunan BPJS Ketenagakerjaan kepada penerima manfaat, yang didampingi oleh Kepala Kantor BPJS TK Pasuruan dan Probolinggo. Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan ASN dan masyarakat.

Apel perdana ini menjadi simbol awal kepemimpinan Gus Haris dan Ra Fahmi yang diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi Kabupaten Probolinggo. (fjr)