Musik dalam Keheningan: Mencari Makna di Tengah Dinamika Zaman

oleh: Dr. Redy Eko Prastyo

(Akademisi  Fakultas Vokasi Universitas  Brawijaya, Penggagas Kampung Cempluk Festival, Penggagas Festival Dawai Nusantara, Praktisi Jejaring Budaya Kampung, Musik Komposer)

Untuk Acara Memperingati Hari Musik Nasional – 9 Maret 2025

Diskusi: “Musik Membangun Bangsa – Otokritik Fenomena Musik”Tempat :Taman Budaya Jawa Timur

Di sebuah ruangan konser yang penuh sesak, seorang pianis duduk dengan tenang di depan grand piano. Jemarinya terangkat seolah siap memainkan sebuah melodi yang megah. Namun, yang terjadi berikutnya justru membuat seisi ruangan terdiam dalam kebingungan. Tidak ada nada yang dimainkan. Tidak ada tuts yang ditekan. Pianis itu tetap diam, membiarkan keheningan mengisi ruang. Para penonton mulai berbisik, beberapa mengernyitkan dahi, sementara yang lain menunggu dengan gelisah. Empat menit tiga puluh tiga detik berlalu, dan sang pianis menutup piano tanpa memainkan satu nada pun.

Itulah “4’33””, sebuah karya revolusioner dari John Cage (1961) yang membuktikan bahwa

keheningan bukanlah ketiadaan suara, melainkan ruang bagi realitas untuk berbicara.

Musik, dalam pemahaman Cage, bukan hanya tentang bunyi yang dimainkan, tetapi juga tentang suara yang muncul di luar kendali manusia: desahan napas, bisikan di sudut ruangan, gemerisik baju, bahkan detak jantung sendiri.

Karya ini memicu banyak perdebatan. Ada yang menganggapnya sebagai ironi, ada yang melihatnya sebagai eksperimen radikal, tetapi bagi sebagian yang lebih peka, 4’33” adalah refleksi dari bagaimana kita mendengarkan dunia. Dalam  “Silence: Lectures and Writings”, Cage (1961) menjelaskan bahwa kita perlu melatih diri untuk tidak hanya mendengar suara yang dimainkan oleh alat musik, tetapi juga bunyi-bunyi yang biasanya kita abaikan. Dengan kata lain, keheningan adalah bagian dari musik itu sendiri.

Di dunia yang semakin riuh ini, mungkin kita perlu sejenak mengambil inspirasi dari Cage. Di tengah derasnya arus industri musik modern yang didominasi oleh algoritma dan angka, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: untuk apa musik itu ada? Apakah sekadar komoditas yang diperjualbelikan, ataukah ia masih memiliki nilai yang lebih dalam bagi peradaban manusia?

Antara Makna dan Monetisasi: Musik dalam Dunia yang

Berisik

Dulu, musik diciptakan sebagai ekspresi jiwa, sebagai sarana komunikasi yang melampaui kata- kata. Ia lahir dari kebudayaan, dari kisah manusia yang tertuang dalam melodi dan ritme. Namun, di era digital, musik semakin kehilangan sakralitasnya. Ia berubah menjadi produk yang dikemas dengan strategi pemasaran yang agresif, diatur oleh algoritma, dan diukur berdasarkan seberapa viral sebuah lagu bisa menjadi konten di platform media sosial.

Kita menyaksikan bagaimana musik, yang seharusnya menjadi medium refleksi dan estetika, justru semakin tunduk pada tren pasar yang mengedepankan eksploitasi emosi instan. Lirik yang sarat akan erotisme dan eksplisitnya narasi vulgar kini tak lagi sekadar konsumsi terbatas, tetapi justru menjadi arus utama yang bisa dengan mudah diakses oleh siapa saja—termasuk anak-anak yang seharusnya belum terpapar pada konten semacam itu.

Dalam buku “Noise: The Political Economy of Music”, Jacques Attali (1985) menyebutkan bahwa musik telah bertransformasi dari bentuk seni menjadi alat produksi yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme industri. Attali (1985) menegaskan bahwa industri rekaman dan digital distribution tidak lagi berorientasi pada estetika atau nilai budaya, melainkan lebih pada daya jual. Semakin kontroversial dan menggugah sensasi sebuah lagu, semakin tinggi potensi monetisasinya.

Fenomena ini semakin diperparah dengan peran teknologi dalam menentukan selera pendengar. Algoritma di platform streaming dan media sosial mengondisikan preferensi kita, membuat kita mendengarkan apa yang sistem ingin kita dengarkan, bukan apa yang benar-benar ingin kita pilih secara sadar. Lagu-lagu viral yang diproduksi dengan formula repetitif mendominasi daftar putar, mengesampingkan karya-karya dengan kedalaman lirik dan kompleksitas komposisi.

Namun, apakah ini semata-mata salah industri? Ataukah kita sebagai pendengar juga turut berperan dalam membentuk lanskap musik yang seperti ini?

Nang   Ning   Nong   Gung:   Sebuah   Filosofi   Musik   yang

Terlupakan

Dalam tradisi musik Nusantara, khususnya gamelan Jawa, terdapat sebuah filosofi yang dikenal dengan “Nang Ning Nong Gung”—sebuah konsep yang mengajarkan keseimbangan antara bunyi dan jeda, antara ekspresi dan refleksi.

•    “Nang” menggambarkan tahap awal, sebuah permulaan yang membutuhkan persiapan dan kesadaran.

•   “Ning” mencerminkan ketenangan dan fokus, sebuah fase di mana manusia belajar untuk

mendengarkan sebelum bertindak.

•   “Nong” melambangkan kreativitas dan ekspresi, simbol kebebasan dalam berkarya.

•    Gung” adalah puncak dari harmoni, simbol kebijaksanaan yang mengakhiri setiap siklus dengan sebuah gong besar.

Seperti yang diungkapkan oleh Sumarsam (1995) dalam “Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development in Central Java”, jeda dalam gamelan bukanlah ruang kosong, melainkan bagian dari komposisi yang menciptakan keseimbangan. Hal ini berlaku pula dalam dunia musik secara keseluruhan—tanpa momen refleksi dan makna, musik hanya akan menjadi kebisingan yang terus-menerus memaksa kita untuk mendengar, tetapi tidak benar-benar memahami.

Mendengarkan Keheningan, Menemukan Suara Sejati

Baik dalam filosofi gamelan Jawa maupun dalam 4’33” karya John Cage, keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan ruang bagi kesadaran. Ia bukan sekadar jeda, tetapi juga momentum untuk merefleksikan makna di balik bunyi yang kita dengar setiap hari. Dalam dunia yang semakin bising—baik oleh derasnya arus musik digital yang seragam maupun oleh hiruk-pikuk wacana industri yang lebih menitikberatkan pada monetisasi ketimbang makna—keheningan menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Kita seringkali berpikir bahwa semakin keras suatu suara, semakin besar pula dampaknya. Namun, seperti gamelan yang menemukan harmoni dalam jeda, atau seperti 4’33” yang mengajarkan kita untuk mendengar suara yang tersembunyi, musik seharusnya tidak hanya menjadi produk yang dipasarkan tetapi juga medium yang membangun kesadaran sosial.

Dalam momentum Hari Musik Nasional 9 Maret 2025 di Taman Budaya Jawa Timur, kita diajak untuk kembali merenungkan sejauh mana musik yang kita dengarkan saat ini masih membawa nilai dan kesadaran sosial. Apakah ia hanya menjadi konsumsi instan, atau masih menjadi jembatan bagi ekspresi kultural dan refleksi kebangsaan?

Musik yang membangun bangsa bukanlah musik yang sekadar ramai didengar, tetapi musik yang benar-benar didengarkan dengan kesadaran. Kita perlu ruang untuk menemukan kembali suara

sejati—bukan suara yang hanya ditentukan oleh tren pasar, tetapi suara yang lahir dari kejujuran, kebijaksanaan, dan keberanian untuk menjaga nilai yang lebih besar daripada sekadar angka dalam industri.

Karena pada akhirnya, di dalam keheningan, kita tidak kehilangan suara—kita justru menemukannya kembali.

Referensi:

1.   Cage, J. (1961). Silence: Lectures and Writings. Wesleyan University Press.

2.   Dewey, J. (1934). Art as Experience. Minton, Balch & Company.

3.   Frith, S. (1996). Popular Music and Society. Routledge.

4.   Gritten, A., & King, E. (2011). Music and Gesture. Routledge.

5.   Hood, M. (1971). The Evolution of Javanese Gamelan. Ethnomusicology Journal.

6.   Kohut, D., & Levarie, S. (1950). Music as a Means of Communication. The Musical

Quarterly.

7.   Sumarsam. (1995). Gamelan: Cultural Interaction and Musical Development in Central

Java. University of Chicago Press.

8.   Attali, J. (1985). Noise: The Political Economy of Music. University of Minnesota Press.

Swasembada Pangan?, Indonesia Harus Dibangun dari Desa

oleh: Taufiqur Rohim

Berdampak.net – Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia saat ini haruslah menjadi Negara yang mandiri, dimana dalam salah satu misi Prabowo yakni Indonesia harus swasembada pangan, hal itu dibuktikan dalam pidato perdananya setelah dilantik sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia, Prabowo Subianto menekankan bahwa ketahanan dan swasembada pangan adalah prioritas utama pemerintah. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan langkah strategis untuk menjamin kesejahteraan dan kemandirian bangsa di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Salah satu strategi utama dalam mencapai swasembada pangan adalah pengoptimalan lahan pertanian desa. Teknologi modern dan pendampingan petani menjadi kunci untuk meningkatkan hasil pertanian yang lebih efisien. Hal itu dikarenakan desa memiliki peran penting dalam mencapai swasembada pangan di Indonesia. Potensi lokal yang melimpah, seperti lahan subur, dapat dijadikan sumber daya pangan yang mandiri dan berkelanjutan, harusnya saat ini pemerintah sudah memfokuskan pembangunan yang ada di Desa, bukan lagi terfokus kepada perkotaan.


Sejatinya desa memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan di Tanah Air karena lebih 70 persen lebih penduduk Indonesia berada hidup dan bertempat tinggal di desa. Artinya, ketika kita membangun desa, maka sesungguhnya kita membangun Indonesia.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan bahwa swasembada pangan harus dimulai dari desa. Hal ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 yang lebih mandiri.

Indonesia adalah negara besar, namun jika ketahanan pangan rapuh dapat membuatnya rentan. Sumber daya yang melimpah di desa dapat dimaksimalkan jika dipadukan dengan kolaborasi antara berbagai pihak.

Penting bagi Indonesia untuk tidak bergantung pada impor pangan dari luar. Dengan memanfaatkan potensi desa secara optimal, kebutuhan pangan dalam negeri dapat dipenuhi, tanpa harus bergantung pada negara lain.

Disamping itu, Pemerintah saat ini juga harus fokus kepada pemberdayaan generasi muda yang ada di desa, hal itu bisa menjadi salah satu lokomotif utama dalam membangun swasembada pangan. Pemuda dianggap sebagai agen perubahan yang mampu membawa inovasi dan semangat baru ke sektor pertanian.

Bonus demografi Indonesia menjadi peluang besar untuk memperkuat sektor pertanian. Dengan keterlibatan pemuda, potensi pertanian desa dapat berkembang melalui pendekatan yang lebih modern dan efisien.

Pemerintah juga harus memperhatikan dan mendorong para lulusan perguruan tinggi untuk terjun menjadi petani muda, sehingga pertanian yang ada di Indonesia dapat dilakukan moderenisasi dengan pemikiran yang selaras dengan perkembangan zaman. Jika hal itu bisa terjamah oleh pemerintah Indonesia saat ini, saya yakin Indonesia Mandiri, Indonesia Swasembada Pangan akan bisa tercapai dengan baik. (fiq)

Ra Hamid Sang Inspirator dan Pemersatu Umat

Oleh : Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo.

Adalah Kyai Abdul Hamid Wahid Zaini yang lebih dikenal dengan Ra Hamid adalah putra sulung dari KH. Abdul Wahid Zaini pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid ke II. Ra Hamid saat ini merupakan kepala pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, ia termasuk salah satu Kyai muda yang energik dan transformatif dalam menciptakan perubahan. Tentu dengan berbekal pengalaman sebagai akademisi dan organisator, Ra Hamid tidak mengalami hambatan untuk mendesain peradaban.

Sebagai mantan DPRD dan DPR-RI, Ra Hamid memiliki segudang pengetahuan berkait dengan banyak hal, diantaranya yang ia kuasai adalah manajemen organisasi, manajemen keuangan, leadership dan teori komunikasi massa.

Pada tahun 2014 silam, tepatnya di pesantren Nurul Jadid, Ra Hamid menjadi idola mahasiswa dan santri organisator. Mengapa demikian? Ra Hamid tengah aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra di sekolahnya kala itu. Pada tahun 2017, saya termasuk orang yang beruntung, yang seringkali mendapat kesempatan berbincang dengannya. Saat itu saya sebagai sekretaris Biro Kepesantrenan dan Ra Hamid sebagai kepala pesantren. Salah satu yang masih diingat oleh saya adalah gagasan yang berkait pengembangan pesantren. Tentu ide-idenya yang segar itu membuat pesantren Nurul Jadid seperti sekarang ini.

Ra Hamid mampu mendobrak kejumudan dalam organisasi “yang’ seakan berjalan di tempat. Ia berani melakukan terobosan-terobosan tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah mengakar di pesantren Nurul Jadid. Saya sejak jadi mahasiswa termasuk orang yang mengidolakannya. Bukan karena Ra Hamid sebagai putra kyai melainkan seorang akademisi yang cerdas dan kutu buku.

Sebagai santri baru di pesantren Nurul Jadid, saya sempat mengikuti pengajian kitab yang diampunya, yaitu kitab adabul alim wal muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari. Ra Hamid memaknai kitab dengan bahasa-bahasa populer (ilmiah) yang pada waktu itu bahasa populer sangat digandrungi kawan-kawan mahasiswa. Sebagai organisator ulung, Ra Hamid mampu menghipnotis para santri-santrinya. Tak sedikit dari santri pesantren Nurul Jadid yang terinspirasi dari sosok Ra Hamid muda.

Kini, Ra Hamid hadir sebagai pengayom umat dengan peran kyai yaitu penjaga moral litas umat dan pencipta transformasi sosial. Kehadirannya untuk menjadi orang nomor wahid di tengah-tengah masyarakat Bondowoso sebagai wujud dari komitmennya bahwa tidak akan pernah lelah untuk berbuat baik demi kemaslahatan semesta. Sebagai seorang putra kyai bukan hal mustahil bila dirinya berdiam di pesantren, dan musti akan dihormati orang banyak. Namun darah seorang pejuang telah mengalir pada dirinya yang datang dari KH. Zaini Mun’im seorang ulama kharismatik yang alim dan pejuang kemerdekaan.

“Tidak berjuang, maksiat” penggalan kalimat ini merupakan ungkapan kyai Zaini Mun’im yang sangat masyhur dikalangan masyarakat pesantren.

Saya berkeyakinan bahwa Ra Hamid adalah manusia yang dikirim oleh Allah untuk menjadi pemersatu umat yang sudah mulai teriris-iris oleh perbedaan politik, nasab maupun ketimpangan sosial.

Bersatunya pesantren besar yang ada di daerah tapal kuda dengan bersedinya Ra Hamid sebagai calon bupati merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Ia juga sudah lama berkecimpung dalam dunia politik. Bahkan Ra Hamid juga dikenal sebagai seorang akademisi yang sangat cerdas dan punya dedikasi tinggi di dunia pendidikan. Sebagai seorang politisi, ia sibuk mengurus pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mengembangkan perguruan tinggi.

Dengan sentuhan tangan dinginnya, Universitas Nurul Jadid telah mendapatkan prestasi dan diakui sebagai PT yang terbaik di Jawa Timur.

Kemampuan yang komplit dimiliki oleh Ra Hamid mampu menghipnotis masyarakat Bondowoso sehingga mereka berkeyakinan untuk menitipkan Kabupaten yang dikenal kota tape ini agar menjadi salah satu kabupaten yang maju dan berkembang.

Kelebihan yang ada pada Ra Hamid adalah berbekal pengalaman, kemampuan dan jejaring dan tentu dengan keberanian melakukan terobosan dalam membuat kebijakan menciptakan optimisme masyarakat Bondowoso bermimpi daerahnya menjadi salah satu daerah terbaik di Indonesia. (*)

Menelaah Politik Idealis dan Pragmatis

Oleh : Ponirin Mika

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Sosial Research, Probolinggo

Sejarah panjang idealisme politik merujuk pada pemaknaan tentang manusia sebagai makhluk politik (zoon politicon) yang menjadi subjek penentu arah dan gerak zaman. Sejak era Yunani Kuno, Aristoteles (384-322 SM) telah menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Aktualisasi ke-diri-annya hanya mungkin terwujud dalam ruang polis (kota), di mana di dalamnya manusia berinteraksi dengan sesamanya.

Berbicara politik selalu asyik dan terkadang menegangkan. Sebab, dalam dunia politik tidak ada yang abadi yang ada hanya “kepentingan”, begitu kata salah seorang teman pada saya. Ungkapan ini tidak salah dan tidak selamanya benar. Hal itu pula yang tak pernah henti diperdebatkan. Saya salah satu diantara segelintir orang yang mengatakan bahwa politik itu suci. Perjuangan dalam politik adalah untuk kemaslahatan dan kesejateran bangsa. Politik merupakan sarana yang disahkan dalam undang-undang di negara Indonesia. Maka siapapun orangnya yang akan berjuang untuk dapat berbuat legacy pada bangs aini harus melalui jalan politik.

Cita-cita luhur dalam politik itu ialah kemuliaan. Dimana kegiatan yang ada dalam politik berkait dengan pengambilan keputusan dalam kelompok, atau bentuk hubungan kekuasaan lainnya di antara individu. Tentu merupakan sebuah keniscayaan berada di negeri yang menjadikan partai politik sebagai tempat untuk dapat memperoleh kebijakan ini, maka setiap warga negara tidak diperkenakan serta merta melakukan kebijakan yang tak dibenarkan melalui undang-undang. Pertanyaannya adalah adakah cita-cita mulia itu kesuciannya terpelihara? Melihat carut-marutnya demokrasi yang ada saat ini, politik telah ternodai oleh tangan-tangan kotor yang mengatasnamakan rakyat. Maka bisa dibilang bahwa politik tidak lagi mampu menjaga keperawananya dari sentuhan-sentuhan para kapitalis. Dengan carut marutnya demokrasi yang terkebiri ini maka seyogyanya politik perlu dikemalaikan pada visi-misi awalnya.

Belum lagi kalau kita memahami politik di masyarakat kota dan desa. Kota adalah ruang realitas interaktif tempat manusia-manusia berkualitas saling bertukar manfaat antara satu sama lain. Mereka yang bermukim di dalamnya adalah subjek-subjek beradab (civilized) dan berbudaya yang dihasilkan dari penggunaan rasio. Dengan demikian, manusia yang berpolitik adalah sekaligus manusia yang membedakan dirinya dengan makhluk lain, seperti binatang. Rasio menjadi instrumen berpikir dan menganalisa tentang diri dan lingkungannya.
Rasionalitas itulah yang kemudian diagung-agungkan pada masa-masa berikutnya, bahkan menjadi pembeda dengan masa lalu. Penggunaan rasio digambarkan dalam mitologi Yunani sebagai kereta yang bertolak dari kegelapan malam yang diliputi mitos menuju terang siang. Mitos diibaratkan sebagai masa lalu yang diwarnai lakon-lakon yang “tidak terjelaskan” oleh pikiran manusia. Mitos dipandang menghambat lahirnya perubahan dan kemajuan; keduanya adalah fenomena yang “dapat dijelaskan” secara rasional.

Dalam konteks politik, rasionalitas juga dijadikan sebagai rujukan kebenaran. Hanya politik yang rasional yang dianggap mampu melahirkan kebaikan. Karena itu, rasionalitas politik mengandaikan manusia politik yang memiliki arah dan tujuan kemanusiaan. Di dalamnya, janji-janji kemajuan dan kesejahteraan diyakini akan terwujud.

Tapi, pada kenyataannya, rasionalitas politik justru tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan janji-janji tersebut. Semakin kelihatan rasional, anomali pun bermunculan. Politik sebagai seni untuk mengabadikan diri, justru lebih tampak sebagai seni yang melanggengkan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Manusia-manusia politik yang rasional menjadi goyah saat berhadapan dengan realita di luar dirinya. Rasionalitas politik hanya sebatas idealisme yang rapuh dihantam arus deras pragmatisme.

Realitas semacam ini telah menghantui perjalan politik di tanah air sehingga publik mengalami ketidapercayaannya. Para politisi perlu mengembalikan citra positif politik agar partisipasi masyarakat dengan kesadaran politiknya bukan karena keterpaksaan hanya karena mengharap uang semata. Politik idealis adalah cita-cita luhur. Jangan dimatikan oleh kepentingan sesaat yang “hanya” untuk memperkaya diri dan golongannya dengan dalih “politik kami untuk rakyat’ naudzubillah.

Cara Diet Tanpa Olahraga: Solusi Praktis untuk Kaum Mager

berdampak.com – Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan merasa terintimidasi dengan ide harus berolahraga secara rutin. Namun, bagi kaum mager (malas gerak), ada kabar baik: menurunkan berat badan tanpa harus berolahraga bisa jadi sangat mungkin. Berikut beberapa cara praktis untuk diet tanpa harus melakukan aktivitas fisik yang intens.

1. Mengatur Pola Makan: Kunci Utama

Pola makan yang sehat adalah fondasi utama dalam program diet tanpa olahraga. Fokuslah pada konsumsi makanan yang rendah kalori tetapi tinggi nutrisi. Sayuran, buah-buahan, dan protein tanpa lemak seperti ayam tanpa kulit atau ikan bisa menjadi pilihan yang baik. Hindari makanan olahan, makanan tinggi gula, dan makanan cepat saji yang seringkali mengandung kalori kosong.

2. Kontrol Porsi Makan

Mengontrol porsi makan dapat membantu mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi tanpa perlu berolahraga. Cobalah untuk makan dalam porsi kecil dan gunakan piring yang lebih kecil untuk membantu mengurangi ukuran porsi secara tidak langsung. Makan perlahan dan nikmati setiap gigitan juga bisa membantu merasa kenyang lebih cepat.

3. Tetap Terhidrasi

Minum cukup air sangat penting dalam proses diet. Air membantu metabolisme tubuh dan dapat menekan rasa lapar. Mengonsumsi air putih atau minuman bebas kalori secara teratur dapat menghindarkan Anda dari makan berlebihan. Hindari minuman manis dan beralkohol yang dapat menambah jumlah kalori harian Anda.

4. Pilih Karbohidrat Kompleks

Karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, oatmeal, dan quinoa memiliki efek kenyang yang lebih lama dibandingkan dengan karbohidrat sederhana seperti roti putih dan pasta. Ini membantu mengurangi keinginan untuk ngemil di luar jadwal makan.

5. Kurangi Konsumsi Gula dan Garam

Gula dan garam berlebihan dapat menyebabkan penumpukan air dalam tubuh dan meningkatkan nafsu makan. Cobalah untuk mengurangi penggunaan gula tambahan dalam minuman dan makanan serta batasi konsumsi garam untuk menghindari retensi cairan.

6. Perhatikan Kualitas Tidur

Kualitas tidur yang baik berhubungan erat dengan pengaturan berat badan. Kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan peningkatan berat badan. Usahakan untuk tidur 7-9 jam setiap malam agar metabolisme tubuh berjalan optimal.

7. Manfaatkan Teknik Mindful Eating

Mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh dapat membantu Anda lebih menyadari sinyal lapar dan kenyang tubuh Anda. Fokus pada makanan yang dikonsumsi dan hindari makan sambil melakukan aktivitas lain seperti menonton TV atau bekerja di komputer.

8. Konsultasi dengan Ahli Gizi

Jika Anda merasa kesulitan untuk menyusun rencana diet yang sesuai, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Mereka dapat membantu Anda merancang diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh Anda tanpa harus melakukan olahraga berat.

Dengan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan ini, Anda dapat mencapai tujuan diet tanpa harus terikat pada rutinitas olahraga yang intens. Tentu saja, menambahkan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki bisa memberikan manfaat tambahan, tetapi perubahan gaya hidup yang sehat tetap menjadi kunci utama.

Tetap semangat dalam perjalanan diet Anda, dan ingat bahwa setiap langkah kecil menuju perubahan positif adalah sebuah pencapaian.

Malam Jum’at: Adakah Anjuran Khusus untuk Hubungan Suami Istri Menurut Hadist?

Berdampak.net – Malam Jum’at sering dianggap sebagai waktu yang istimewa dalam Islam. Banyak umat Muslim yang mencari tahu tentang sunah-sunah yang dianjurkan pada malam tersebut, termasuk pertanyaan mengenai hubungan suami istri. Benarkah ada anjuran khusus dalam hadist mengenai hal ini?

Dalam tradisi Islam, hari Jum’at adalah hari yang mulia dan memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda bahwa hari Jum’at adalah hari terbaik di mana matahari terbit. Banyak umat Muslim yang memperbanyak ibadah seperti membaca surat Al-Kahfi, shalat sunnah, dan memperbanyak doa pada hari tersebut.

Namun, mengenai hubungan suami istri pada malam Jum’at, ada beberapa pandangan yang beredar di kalangan umat Muslim. Beberapa orang percaya bahwa hubungan suami istri pada malam Jum’at memiliki keutamaan tertentu. Mereka sering merujuk pada hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Ash, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian pergi pada jam pertama, maka seakan-akan ia berkurban dengan unta. Barangsiapa pergi pada jam kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan sapi. Barangsiapa pergi pada jam ketiga, maka seakan-akan ia berkurban dengan kambing. Barangsiapa pergi pada jam keempat, maka seakan-akan ia berkurban dengan ayam.

Dan barangsiapa pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia berkurban dengan telur. Kemudian apabila imam keluar (untuk berkhutbah), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mandi yang dimaksud dalam hadist ini adalah mandi besar (ghusl) yang dilakukan setelah hubungan suami istri. Sehingga, beberapa ulama menginterpretasikan hadist ini sebagai anjuran tidak langsung untuk melakukan hubungan suami istri pada malam Jum’at, kemudian mandi besar sebelum pergi ke masjid untuk shalat Jum’at.

Namun, penting untuk dicatat bahwa hadist ini tidak secara eksplisit menganjurkan hubungan suami istri pada malam Jum’at. Islam sangat menghargai kebersihan dan kesucian, serta mendorong umatnya untuk mandi sebelum shalat Jum’at, tanpa harus mengaitkannya secara langsung dengan hubungan suami istri pada malam sebelumnya.

Dalam hal ini, yang lebih penting adalah niat dan kesucian hati dalam menjalankan ibadah. Umat Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan hari Jum’at dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih, serta menjaga kebersihan diri.