PENGEJAWANTAHAN ILMU ULAMA DAN MAQNUM-OPUSNYA IMAN

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I* Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Menurut Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. Ulama menduduki posisi penting dalam masyarakat Islam. Ulama tidak hanya sebagai figur ilmuan yang menguasai dan memahami ajaran-ajaran agama, tetapi juga sebagai penggerak, motivator dan dinamisator masyarakat ke arah pengembangan dan pembangunan umat. Perilaku ulama selalu menjadi teladan dan panutan. Ucapan ulama selalu menjadi pegangan dan pedoman. Ulama dalam pandangan Nurcholish Madjid adalah menjaga akhlaq masyarakat. Pengetahuan dan pendalaman tentang ajaran agama yang dimilikinya memungkinkan para ulama bertindak selaku kekuatan moral. Yang kedua adalah mereka yang memahami dengan penuh penghayatan gejala-gejala alam sekitarnya seperti hujan (meteorologi), tetumbuhan (flora), fenomena geologis gunung-gunung (mineralogi), gejala kemanusiaan (ilmu-ilmu sosial), dan binatang-binatang (fauna) dengan berbagai variasi dan kompleksitasnya. Hal ini berarti bahwa seorang ulama tidak memisahkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral religius. Antara ilmu dan etika , kesemuanya adalah satu kesatuan mutlak. Ilmu dan aktivitas keilmuan merupkan manifestasi dari pengabdian manusia kepada Tuhan. Konsep ulama menurut Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir Al-Misbah adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang jelas terhadap agama, Al-Qur’an, ilmu fenomena alam. Pengetahuan tersebut mengantarkan seseorang memiliki rasa khasyyah (takut) kepada Allah. Ulama juga mempunyai kedudukan sebagai pewaris Nabi yang mampu mengemban tugas-tugasnya serta memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Namun, relevansi dalam kehidupan sekarang yang lebih sering mengaitkan atau membatasi pengertian ulama hanya kepada para kiai , ustadz dan pendakwah adalah berbeda dengan pemahaman Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA, karena pembatasan itu terkadang mengantarkan pada kekeliruan dan kesalahan dalam menilai seseorang. Kecuali gelar tersebut memang disematkan kepada seseorang yang memang secara ilmu agama mumpuni dan mempunyai akhlak yang baik terhadap kehidupan bersama. Oleh karena itu, konsep ulama menurut Quraish Shihab adalah mengacu pada sifat-sifat, bukan hanya sekadar pada gelar atau atribut lahiriah. Cara pandang tersebut akan lebih sesuai dalam semangat agama, bahwa kemuliaan bukan dikarenakan gelar atau jabatan tertentu, melainkan dengan ketakwaan dan kecintaan manusia kepada Allah dilengkapi dengan ilmu agama yang mumpuni yang dengan ilmu itu mempunyai dampak positif terhadap kehidupan manusia secara umum. Ini menunjukkan bahwa ulama juga termasuk kaum intelektual yang membawa pencerahan kepada masyarakat sekitarnya. Badaruddin Hsukby dalam bukunya Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman (1995) mengungkapkan definisi ulama menurut para Mufassir Salaf, di antarannya, Pertama , menurut Imam Mujahid berpendapat bahwa ulama adalah orang yang hanya takut kepada Allah SWT. Malik bin Anas pun menegaskan bahwa orang yang tidak takut kepada Allah bukanlah ulama. Kedua , pendapat Hasan Basri bahwa ulama ialah orang yang takut kepada Allah dikarenakan perkara ghaib, suka terhadap sesuatu yang disukai Allah, dan menolak segala sesuatu yang dimurkai Allah. Ketiga , pendapat Ali Ash-Shabuni bahwa ulama adalah orang yang rasa takutnya kepada sangat mendalam dikarenakan ma’rifatnya. Keempat , menurut Ibnu Katsir yang menyebutkan ulama adalah yang benar-benar ma’rifatnya kepada Allah sehingga mereka takut kepadanya. Jika ma’rifatnya sudah mendalam, maka sempurnalah takut kepada Allah. Kelima , Syekh Nawawi Al-Bantani yang berpendapat bahwa ulama adalah orang-orang yang menguasai hukum syara’ untuk menetapkan sah itikad maupun amal syari’at lainnya. Dalam hal ini, Wahbah Zuhaili berkata bahwa secara naluri ulama ialah orang-orang yang mampu menganalisa fenomena alam untuk mengubah hidup dunia dan akhirat serta takut ancaman Allah jika terjerumus ke dalam kenistaan. Orang-orang maksiat hakikatnya bukan ulama. Kelima definisi dari para Mufasir Salaf tersebut, bisa ditarik benang merah yakni ulama ialah orang yang takut kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan dalam QS Al-Fathir ayat 28: innama yakhsyallaha min ibadihil ulama (sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama).Ulama itu ada bahasa Arab ada bahasa Indonesia . Kalau dalam bahasa Arab العلماء jamaknya عالم yang mempunyai arti orang yang berilmu.

Secara etimoligi , alim adalah orang yang berilmu dan ulama adalah orang-orang yang berilmu . Ilmu apa saja, tanpa ada pembedaan antara ilmu agama dan ilmu lainnya. Ulama sebagai kata serapan ke dalam bahasa Indonesia, mengalami pergeseran makna, setidaknya dari jamak menjadi tunggal ( mufrad ). Dengan demikian, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ulama bukan lagi kategori kata jamak, melainkan kata tunggal —menunjuk pada orang seorang. Jika dipandang sebagai makna umum, orang-orang yang berpengetahuan, maka setiap individu yang mempunyai pemahaman terhadap bidang kajian tertentu dipandang seharusnya juga disebut sebagai ulama. “Secara bahasa, (ulama itu) orang yang mempunyai pengetahuan. B.J.Habibie itu minal ulama, Todung Mulya Lubis ya ulama, Albert Einstein ulama, Galileo Galilei ulama, karena alim itu orang yang memiliki pengetahuan, ilmu pengetahuan apa saja ( KH. Mustafa Bisri ) . Orang yang mengukur Ulama itu Ilmunya dan prilakunya (lakunya) orang yang alim itu orang yang mengamalkan ilmunya.Orang yang alim itu orang yang mengamalkan ilmu bukan mengetahui Ilmunya tahu ini baik itu di kerjakan tahu itu buruk di tinggalkan. Banyak wacana ulama yang diketahui dan diyakini oleh khalayak masyarakat umum.

Ulama dari perspektif sosiologi, yaitu ulama yang diangkat oleh masyarakat sekitar. Karena keilmuan dan kharismanya, masyarakat beranggapan bahwa orang tersebut pantas menyandang predikat ulama. “Menurut sosiolog Arief Budiman , ulama itu, kiai itu, ada yang produk masyarakat, karena masyarakat melihat ilmunya, lakunya, maka masyarakat menyebut dia ulama atau kiai,”

Pada umumnya, ulama atas persepektif sosiologi ini cenderung lebih menjamin atas terjadinya nilai ulama yang sebenarnya. Masyarakat melihat kepada kedalaman ilmu, tingkah laku, dan kharisma yang tersemat dengan sendirinya. Ulama dalam perspektif ini tidak memerlukan legitimasi legal , namun bukan tidak mungkin, karena suatu problematika , ulama ini tercoreng oleh perilaku di luar syariat Islam. Maka unsur keulamaannya menjadi gugur dengan sendirinya.

Ada ulama produk pers , yaitu ulama yang dibikin oleh aliansi pers . Media yang memberikan predikat ulama kepada seseorang sehingga pada orang tersebut melekat sebutan ulama. Ulama produk pers banyak sekali jumlahnya. “Ada yang produk pers, karena pers menyebut-nyebutnya sebagai ulama, maka terbentuk opini sebagai ulama dan ini banyak sekali,”
Realitasnya, pers atau media seringkali menjustifikasi seseorang sebagai ulama, umumnya, karena ketenarannya. Tidak perlu melakukan riset yang lebih mendalam. Jika ada seseorang yang secara kasat mata dipandang sebagai ulama, maka pers dengan serta-merta mengangkat orang tersebut sebagai ulama. Jadi ulama pers tidak distandarisasi sebagai orang yang paham agama (Islam) dengan perilaku yang mencerminkan ulama (juga). Pers memandang orang ini dari aspek kemasyhurannya dan memberikan efek “laku” terhadap media yang dimiliki.

Ada ulama produk politik , adalah ulama yang sengaja diciptakan oleh politikus untuk sebuah tujuan. Biasanya, tujuan dari “ulama politisi” ini sudah sangat jelas, demi membangun cita-cita politik dalam kelompok politik itu sendiri. Ulama model politisi akan memberikan fatwa atau ungkapan-ungkalan ke-fatwa-an sesuai dengan kemauan partai. Dengan berbagai dalih, atau cara apa pun diformulasi agar sebuah kebijakan partai sejalan dengan kaidah syariat. Maka pada akhirnya, cara apa pun yang digunakan akan dianggap sebagai bagian dari prestasi keagamaan.

Ulama yang politisi, atau politisi yang ulama, ini akan memberikan fatwa atau persepsi hukum yang akan membawa kemanfaatan bagi partainya. Oleh karena itu, ulama produk politikus ini selalu dan senantiasa membangun tuturan dan ujaran yang mendorong terhadap kebijakan partai. Dicari segala cara dan jalan, agar kebijakan partai sejalan dengan yang diinginkan. Memutar-balikkan ayat al-Quran, membangun keselarasan hadits, demi terjalinnya kebijakan partai.

Ada ulama bentukan pemerintah , dalam hal ini adalah ulama yang diangkat oleh pemerintah. Manjlis Ulama Indonesia (MUI) adalah temasuk dalam ulama bentukan pemerintah. Hakikatnya, tidak semua personil yang ada di dalam wadah lembaga MUI berkompeten dalam pengetahuan agama. Namun, karena dipandang memiliki kelebihan lain, misalnya di bidang IT dan lain sebagainya, maka orang ini diangkat oleh pemerintah sebagai bagian dari MUI.

Ada ulama klaim diri sendiri , adalah seseorang yang memandang dirinya sendiri sebagai ulama. Jenis ulama ini hanya bermodalkan peci putih , sorban , dan beberapa ayat atau hadits. Kemudian, dengan sedikit acting, orang tersebut bergaya sebagai seorang ustadz atau ulama. “Ada lagi yang sekarang, bikinan sendiri, produk sendirilah, dan ini murah sekali. Peci haji itu paling Rp 5000, sorban kira-kira Rp 50.000, kalau yang agak wibawa yang hijau. Kemudian menghafalkan kira-kira 3-4 ayat yang pendek-pendek saja yang biasa digunakan untuk umum. Hadits juga, diambil dari Arbain Nawawi juga ada itu, pendek-pendek. Terus sedikit kemampuan acting,”

Ulama model ini sangat berbahaya. Karena bisa saja memberikan fatwa yang bertentangan dengan agama. Misalnya, menghalalkan fitnah, mengadu domba, membikin kekacauan, dan mengacau keadaan . Jika ini yang terjadi, maka orang awam akan terprovokasi dan beranggapan bahwa berbuat anarkis itu sah-sah saja.

“Yang sangat berbahaya, jika dia melakukan sesuatu, mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan agama itu sendiri. Misalnya menghalalkan fitnah, menghalalkan ujaran kebencian, mengadu domba, mengacaukan rumah sendiri . Itu bahaya karena orang-orang awam, tahunya itu dia memang ustadz betul, kyai betul, ulama betul,”

Sesungguhnya, ulama adalah pewaris Nabi. Ulama jenis ini merupakan seseorang yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial i. Menjaga marwah etika dengan tidak berkata kasar, tidak membuat keributan, dan tidak melakukan kegiatan makar. Sebab, Nabi yang mewariskan nilai-nilai ketuhanan kepada para ulama membawa nilai-nilai keagungan dan kemuliaan. Selalu berkata lembut, memandang orang lain dengan penuh kasih, serta menjadikan musuh sebagai wahana dakwah.inilah kemudian yang di sebut dengan pengejawantahan ilmu ulama yang sesungguhnya.
Keimanan dan ilmu yang tinggi tidak akan ada nilainya jika tidak dibarengi dengan proses civilisasi, membangun sebuah peradaban. Kita harus mempunyai kemampuan menerjemahkan agama dalam civilisasi, artinya Sivilisasi sebagai peradaban, sebagai proses pembentukan dan perkembangan masyarakat yang mencapai tingkat kemajuan tinggi dalam berbagai bidang, seperti, agama, budaya, sosial, ekonomi, dan politik ,inilah magnum opus iman dan ilmu. Billahitaufiq Wal Hidayah.
Wallahu A’lam!

MEMPERTAHANKAN ILMU, AKHLAK DAN HUKUM SYARIAH

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I . Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Mempertahankan ilmu, akhlak, dan hukum Syariah adalah tanggung jawab bersama. Dengan menjaga nilai-nilai ini, masyarakat dapat mencapai kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan.“Akhlak merupakan ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dituju oleh perbuatan manusia. Akidah, Syariah, dan Akhlak merupakan kesatuan yang integral dalam kepribadian seorang Muslim-Mukmin,”. Akhlak sangat diperhatikan dalam Islam. Dalam Al-Quran dijumpai banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang akhlak, diantaranya akhlak berbicara (QS. 17:53), akhlak berjalan (QS. 17:37) akhlak terhadap anak yatim (QS. 4:36), akhlak kepada orang tua (QS. 31:15), akhlak kepada karib kerabat (QS. 4:36) , akhlak kepada saudara dan tetangga (QS. 4:36), akhlak kepada kaum (bangsa) lain (QS. 49:11), sampai akhlak dalam memperlakukan binatang (QS. 5:2). AKHLAK (أخلاق) berasal dari kata Arab, yaitu sebuah istilah agama yang digunakan untuk menilai perbuatan manusia, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jika kata ini dikaitkan dengan kata “ilmu” sehingga menjadi ilmu akhlak, maka akhlak menjadi sebuah bidang ilmu pengetahuan agama Islam yang memberikan tuntunan kepada manusia tentang cara-cara berbuat baik dan menghindarkan perbuatan buruk.

Etika dan moral adalah dua istilah yang berasal dari bahasa asing. Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos”, yang berarti adat, watak atau kesusilaan. Etika digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada, karena etika merupakan suatu ilmu. Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin, yaitu “mos”, yang juga berarti adat atau cara hidup. Moral digunakan untuk memberikan kriteria perbuatan yang sedang dinilai. Moral bukanlah sebuah ilmu, tetapi merupakan suatu perbuatan manusia.
Kesopanan adalah bahasa Indonesia, yang artinya “tenang, beradab, baik, dan halus baik dalam perkataan maupun perbuatan. Suatu ketika KH. Bahauddin Nursalim bercerita ketika putra beliau minta uang untuk beli jajan,maka beliau minta di bangunkan meski sedang tidur bahkan beliau sempat di tegur oleh istrinya karena kesannya mengajarkan tidak sopan pada putra beliau dan beliau berkata ” hukum Syariah itu di atas Akhlak ” karena anak itu tanggung jawab kita (orang tua) ” Gus Baha.
Ilmu adalah pengetahuan yang disusun secara sistematis dan terbukti kebenarannya, berdasarkan metode ilmiah. Ilmu merupakan usaha manusia untuk memahami dunia dan lingkungannya.
Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al- Luma’ fî Ushûlil Fiqih (Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyyah, 2010) halaman 4 menyebutkan bahwa secara definitif.

Ilmu dimaknai sebagai berikut:

فأما العلم فهو معرفة المعلوم على ما هو عليه. وقالت المعتزلة: هو اعتقاد الشيء على ما هو به مع سكون النفس إليه وهذا غير صحيح لأن هذا يبطل باعتقاد العاصي فيما يعتقده

“Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (kenyataan), sedangkan kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa ilmu ialah meyakini sesuatu sesuai dengan apa yang memuaskan hati seseorang. Definisi ini keliru karena bisa saja seorang pendosa meyakini bahwa ia berbuat benar.” Al-ghazali berpendapat bahwa akhlak bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan. Akan tetapi, akhlak harus menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan-perbuatan, dan situasi itu harus melekat sedemikian rupa sehingga perbuatan yang muncul darinya tidak bersifat sesaat melainkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kesempurnaan akhlak sebagai suatu keseluruhan tidak hanya bergantung kepada suatu aspek pribadi, akan tetapi terdapat empat kekuatan didalam diri manusia yang
menjadi unsur bagi terbentuknya akhlak baik dan buruk. Kekuatankekuatan itu ialah kekuatan ilmu, kekuatan nafsu syahwat, kekuatan amarah dan kekuatan keadilan diantara ketiga kekuatan ini.Puncak dari beriman ialah menjadikan manusia memiliki moral yang baik (akhlak) dan melahirkan sebuah amal perbuatan yang memiliki efek positif dalam hubungan antar manusia. Ibadah yang merupakan sebagai institusi iman hal itu harus melahirkan sebuah konsekuensi pada amal perbuatan. Dengan kata-kata lain, disamping bersifat serba transendental dan mahatinggi, menurut persepsi agama-agama samawi, tuhan juga bersifat etikal , dalam arti bahwa Dia menghendaki pada manusia tingkah laku yang akhlaki atau etis, bermoral (Nurcholis Madjid, 2008:61 ). Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat (Kepala Desa, Bupati, Gubernur dan Presiden) harusnya memberi contoh akhlak yang baik dan benar kepada masyarakat . Dalam buku Interpreting the Qur’an: Towards a Contemporary Approach oleh Abdullah Saeed, syariat dalam Islam adalah panduan hukum dan etika yang diambil dari Al-Quran, Hadis (tradisi dan tindakan Nabi Muhammad), ijtihad (analogi dan penalaran), serta konsensus umat Islam.

Secara umum, syariat mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk ibadah, moralitas, hukum pidana, hukum keluarga, dan lainnya. Kemudian, memandu cara seorang Muslim menjalani kehidupannya dan menjalankan kewajiban agamanya.Bagaimana caranya mempertankan akhlak mulia, mempertahankan ilmu dan Syariah itu. Tentu, jawabnya adalah sulit jika tidak mengetahui jalannya. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah adalah sama halnya dengan membangun atau membersihkan hati, ruh, atau jiwa. Sekedar menjadikan orang pintar mungkin saja dilakukan dengan cara dibuatkan sekolah. Akan tetapi membuat seseorang berhati bersih tidak cukup melalui sekolahan dan atau bahkan perguruan tinggi sekalipun.

Sebenarnya membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah sudah ada contoh, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul dan nabi. Selain melalui contoh kehidupan nyata, yaitu kehidupan Nabi itu sendiri juga terdapat pedoman berupa kitab suci. Sosok seorang Nabi, sekarang sudah tidak ada lagi. Muhammad sebagai Nabi terakhir sudah wafat dan tidak akan lahir nabi baru. Akan tetapi, para ulama yang mampu menjalankan keulamaannya adalah disebut sebagai pewaris para Nabi. Demikian pula kitab suci, hingga sekarang ini sudah dibukukan dengan sempurna dan bisa dibaca oleh siapapun pada setiap saat.

Oleh karena itu, membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah sebenarnya masih mungkin dilakukan, yaitu dengan cara mendekatkan masyarakat dan pemimpin dengan kitab suci, dengan tempat ibadah, dan dengan para tokoh yang bisa dijadikan tauladan. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah lewat cara-cara yang masih akan disusun, dalam arti menggunakan akal manusia biasa, hingga kini sebenarnya belum tersedia sejarah yang berhasil. Membangun akhlak mulia,mempertahankan ilmu dan Syariah harus dilakukan oleh orang yang menyandang akhlak,mempertahankan ilmu dan Syariah yang dimaksudkan itu. KESOPANAN LEBIH TINGGI NILAINYA DARI PADA KECERDASAN ( RKH.ABDUL MAJID ) Billahitaufiq Wal Hidayah Wallahu a’lam.

GURU,MURID DAN BONUS DEMOGRAFI TELADAN YANG FUTURISTIK

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI kabupaten Pamekasan.

Pesantren dalam bahasa sansekerta tempat untuk mencari ilmunya Allah SWT (Tuhan) pembina nya di sebut guru . Guru juga bahasa sansekerta GU artinya kegelapan RU artinya obor , jadi guru adalah obor yang mengusir kegelapan . Jangan mengaku seorang guru jika tidak bisa mengusir kegelapan. Guru dalam agama Hindu bukan guru sembarangan ,bukan guru biasa, bukan kyai biasa dan bukan ustadz biasa.Padananya murid itu mestinya disebut Mursyid, ketika di bahasa Indonesiakan menjadi murid, murid itu bukan anak sekolahan bukan siswa, murid itu bahasa tasawuf dari akar kata arada yuridu muridon artinya orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmunya Allah SWT, bukan ilmunya guru, bukan ilmunya dosen, itu tilmidz ((Thullab) lebih tinggi istilah murid daripada Thullab , padananya murid itu Mursyid itu seperti pipa penghubung antara mata air di sana dengan gelas murid murid disini. ( Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA Menteri Agama Republik Indonesia ) Dalam diri manusia kedalam ada tujuh lapisan 1 . Yang kelihatan adalah dada ( Sodrun ). 2 . Di dalam dada ada Hati ( Qolbun ). 3 . Di dalam Hati ada Ruh ( Ruhun ). 4 . Di dalam Ruh ada hidup “kehidupan “( Hayatun ). 5 . Di dalam kehidupan ada Sirrun ( Rahasia ). 6 . Di dalam Rahasia ada ngilmun ( ilmu ). 7 . Di dalam ilmu ada paham ( Fahmun ) orang yang tidak faham sulit di ajak untuk berkomunikasi. seseorang yang tidak mengerti suatu hal akan sulit untuk diberi tahu atau diberi informasi yang jelas. (Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama,Spd I) Ketika bingkai kehidupan kapitalisme dan materialisme yang berada di paradigma positivisme dan post positivisme yang saat ini mendominasi dengan
ideologi pasarnya, pendidikan seolah-olah hanya sekadar sebagai proses penyesuaian peserta didik untuk masuk dalam arus pasar ( industrialisasi ) yang berkembang. Akibatnya, pendidikan tidak lagi sebagai sarana bebas dan otonom
dalam memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, pembebasan dan lain-lain, melainkan hanya mengarah pada kepentingan-
kepentingan pragmatis politik-ekonomi tertentu. Bahkan, moralitas dan nilai-nilai kebajikan yang selama ini menjadi substansi dan dasar pendidikan telah
mengalami degradasi, digantikan dengan semangat pragmatisme ekonomi dan
politik. Padahal Pendidikan juga sepenuhnya membebaskan tidak hanya untuk bekal keahlian, namun bekal kebebasan untuk
menjadi manusia yang memiliki pemahaman yang baik dan luas tentang dunianya dan dunia di sekitarnya.Problematika di atas dalam bedah kritis tampak belum ada langkah ilmiah yang sistematis berbasis filosofis Islami yang disepakati sebagai landasan untuk menggagas wacana-wacana pemikiran alternatif. Karena itu, telaah kritis reflektif atas problematika epistemologis adalah tidak hanya menjadi driving force ke depan untuk diskursus paradigma integralistik menuju elemen ontologis, epistemologis, metodologis dan aksiologis yang holistik. Akan tetapi, juga menghimbau kepada para cendekiawan untuk
membangun sebuah “jembatan epistemologis” untuk menyeberang ke ranah worldview , sehingga kelak tidak lagi captive mind terhadap eurosentris dan
paradigma Barat.
Harapan ada ditangan pendidik dan peserta didik, karena Guru dan murid adalah komponen inti dari proses pendidikan dalam mencapai tujuan
pendidikan . Dalam mencapai tujuan proses pendidikan relasi guru dengan murid menjadi penentu, hanya saja interaksi dalam proses belajar mengajar sangat diperankan oleh seorang guru. Hal ini terlihat dalam teori pembelajaran behavorisme yang sangat menentukan guru yang hanya mempelajari psikologi empiris-positif. Karena itu, problematika hubungan guru dengan murid sering kali mengalami diskomunikasi sehingga ranah tujuan pembelajaran tidak tercapai, yang pada akhirnya mutu dan standar pendidikan tidak tercapai, padahal untuk tercapainya kualitas pembelajaran, maka kajian komunikasi pembelajaran dibangun secara efektif.Sebagai bukti profesionalisme guru untuk mencari tipe-tipe belajar dalam proses pembelajaran, di mana seorang pendidik sangat strategis dan berfungsi sebagai ujung tombak terjadinya perubahan ( the agent of change ) dari belum bisa menjadi bisa, dari belum menguasai menjadi menguasai dan belum mengerti menjadi mengerti. Bahkan keberhasilan perubahan suatu kualitas pengajaran suatu lembaga pendidikan apa pun tergantung kepada keberhasilan kualitas
pendidiknya, Artinya Kualitas belajar murid dan lulusannya banyak ditentukan oleh keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas.
Sehebat apa pun rencana dan tujuan yang ingin dicapai di atas kertas semuanya
akan ditentukan guru dalam ruangan ukuran 6×8 meter (kelas). Pengelolaan
kelas dapat terlaksana dengan maksimal apabila guru sebagai manajer dapat
melaksanakan komunikasi yang efektif di dalam kelas, hal ini dapat terlaksana
apabila guru sebagai manajer mengaktualisasikan tahapan-tahapan manajerial
dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas. Guru dengan murid dalam proses
pembelajaran dapat membentuk hubungan yang baik dan efektif. Analisa ini menjadi urgen dalam melihat relasi guru dengan murid
dalam perspektif pendidikan Islam, yang kemudian memiliki nilai-nilai profetik
dalam pembelajaran.Guru harus menjadi teladan yang baik untuk menyambut bonus demografi, karena mereka memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan keterampilan generasi muda, yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Keteladanan guru dapat mendorong murid untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.Bonus demografi adalah periode di mana suatu negara memiliki proporsi penduduk usia produktif yang tinggi. Untuk memaksimalkan potensi bonus demografi, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Guru berperan penting dalam mempersiapkan generasi muda dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan. Guru harus menjadi teladan yang baik untuk menyambut bonus demografi. Keteladanan guru sangat penting dalam membentuk karakter dan keterampilan generasi muda, yang akan menjadi tumpuan bangsa di masa depan. Dengan menjadi teladan, guru dapat membantu murid menjadi individu yang bertanggung jawab, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.Guru harus memiliki pandangan futuristik agar mampu mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan. Pandangan futuristik ini mencakup kemampuan untuk melihat perubahan, memahami teknologi baru, dan mempersiapkan siswa untuk menjadi problem solver yang inovatif dan adaptif. Wahai generasi Z Rengkuhlah masa depan dengan semangat dan ketekunan, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, teruslah berinovasi dan berkontribusi untuk meraih kegemilangan masa depan. Billahitaufiq Wal Hidayah

PEMIMPIN IDAMAN YANG IDEAL BUTUH PUJANGGA

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Pada titik genting krisis multidimensi, para pemimpin seperti kehilangan rasa krisis dan rasa tanggung jawab. Kepemimpinan eksekutif, legislatif, dan yudikatif lebih memedulikan “ apa yang dapat diambil dari apa yang sudah kita menangkan ”, bukan “ apa yang dapat diberikan pada kepada masyarakat ”. Kepemimpinan hidup dalam penjara narsisme yang tercerabut dari suasana kebatinan rakyatnya. Para pemimpin kita terjebak dalam short-termism, di mana segala sesuatu harus diselesaikan untuk keuntungan hari ini saja,Dalam kondisi terburuknya, pola pikir jangka pendek dapat mengarah pada perilaku yang tidak etis atau ilegal. Namun, bahkan dalam kondisi terbaiknya, pola pikir jangka pendek dapat menghambat jalan pemimpin menuju kesuksesan ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I )Tingginya biaya kekuasaan membuat banyak partai lebih mendukung orang semenjana yang populer dan berani bayar ketimbang orang eksentrik yang tidak bermodal. Ada juga paradoks antara preferensi pada pemilihan langsung yang mengarahkan masyarakat menuju individualisme dengan ketiadaan pranata sosial yang dapat mengembangkan otonomi dan karakter individu.

Menurut John Stuart Mill, kreativitas sosial memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Lantas ia tambahkan, ”Jumlah eksentrisitas dalam suatu masyarakat pada umumnya proporsional dengan jumlah genius, kekuatan mental, dan keberanian moral yang dikandung masyarakat tersebut.”Dalam lemahnya logika pencerahan, kepastian hukum, dan ekosistem kreativitas, ruang otonomi individu dipersempit oleh keharusan keguyuban. Kebanyakan individu tumbuh dengan mentalitas konformis, bukan subyek berdaulat yang bisa memilih atas dasar daya pikirnya dan melakukan pembelajaran untuk tidak belajar (meniru) dari tradisi buruk.

Pergeseran ke arah individualisme tanpa kekuatan individualitas melahirkan buih kerumunan di ruang publik. Mentalitas kerumunan tanpa kapasitas nalar publik inilah yang rentan dimanipulasi oleh mesin pencitraan dan politik uang atau dipersuasi oleh sentimen pemujaan identitas.Dalam situasi demikian, yang diperlukan bukanlah pemimpin konformis, yang gestur politiknya mengikuti ekspektasi kemapanan yang korosif. Yang dibutuhkan justru pemimpin eksentrik yang berani menawarkan pilihan berbeda dari arus utama.

Demokrasi individualisme di tengah mentalitas kerumunan menyuburkan dua tipe pemimpin, satu mereka yang gila kuasa dua berkuasa gila. Padahal, yang cocok untuk memulihkan krisis dan membawa transformasi keadaan ke depan adalah pemimpin eksentrik ” . Pemimpin yang ideal harus memiliki karakteristik yang kokoh, yaitu kejujuran , kecerdasan , dan keberanian , ketiga hal ini merupakan fondasi dalam menciptakan pemerintahan yang berintegritas dan bermanfaat bagi rakyat. Ia menegaskan bahwa kualitas-kualitas ini sangat penting dalam menjaga kredibilitas dan efektivitas seorang pemimpin. Jujur: Integritas sebagai Dasar Kepemimpinan Kejujuran adalah kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat. John C. Maxwell, mengatakan, “Kepercayaan adalah mata uang dalam kepemimpinan.” Tanpa kepercayaan, setiap kebijakan yang diambil oleh pemimpin akan diragukan dan dianggap tidak efektif. Misalnya, berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik menunjukkan pentingnya integritas dalam pemerintahan. Ketidakjujuran hanya akan menambah penderitaan rakyat dan merusak struktur sosial. Kejujuran adalah salah satu pilar utama yang harus dimiliki oleh pemimpin. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa pemimpin harus memiliki hati yang bersih dan tidak menipu rakyatnya, karena kejujuran adalah syarat utama mencapai ketenangan dan kesejahteraan masyarakat. Khalifah Umar bin Khattab juga terkenal dengan integritasnya. Ia pernah berkata, “ Seandainya ada seekor keledai terperosok di jalanan Baghdad, maka aku takut Allah akan menanyai aku kenapa aku tidak meratakan jalan tersebut.” Ini menunjukkan betapa pentingnya tanggung jawab dan kejujuran seorang pemimpin dalam melindungi rakyatnya. Cerdas : Kepemimpinan yang Berbasis Pengetahuan Kecerdasan adalah syarat utama dalam menghadapi tantangan zaman. Pemimpin yang cerdas dapat menganalisis situasi, merumuskan kebijakan inovatif, dan melaksanakan solusi yang efektif. Plato, seorang filsuf Yunani, menegaskan bahwa pemimpin harus memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan dalam mengelola pemerintahan (The Republic). Al-Mawardi, menyebutkan bahwa kecerdasan adalah syarat utama seorang pemimpin ideal. Pemimpin harus memiliki pengetahuan luas agar mampu memerintah dengan baik dan adil. Wawasan yang dalam tentang agama, politik, serta kemampuan untuk memecahkan masalah kompleks menjadi modal utama bagi seorang pemimpin. Di tengah masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan, pemimpin yang dapat membuat kebijakan berbasis data akan membawa perubahan berarti. Misalnya, Kebijakan yang berfokus pada peningkatan infrastruktur dan pendidikan berkualitas, dapat mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Berani : Keberanian dalam Mengambil Keputusan Keberanian adalah kemampuan untuk mengambil keputusan penting meski tidak selalu populer. Nelson Mandela pernah berkata, “Keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, tetapi kemampuan untuk mengatasinya.” Pemimpin yang berani mampu mendorong perubahan positif dan memperjuangkan keadilan sosial meski harus menghadapi tekanan. Dari sudut pandang filosofis, keberanian adalah kebajikan yang terletak di antara dua ekstrem: ketakutan dan kenekatan (Aristoteles, Nicomachean Ethics). Pemimpin yang berani menimbang risiko dan manfaat, bertindak demi kepentingan bersama. Keberanian dalam kepemimpinan ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Islam. Beliau pernah berkata, “Jangan takut pada kebenaran meskipun hal itu akan membahayakanmu.” Ini menunjukkan bahwa pemimpin harus berani mengambil keputusan yang benar, walau mungkin tidak populer atau berisiko bagi dirinya. Keberanian juga merupakan karakteristik penting dalam fiqh siyasah ( politik Islam ), di mana pemimpin dituntut bersikap tegas dan berani menghadapi ketidakadilan, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Artinya, kepemimpinan tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, tetapi juga aspek spiritual. Seorang pemimpin harus sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah serta tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh seorang pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Pemimpin dengan visi yang jauh ke depan perlu didukung oleh pujangga yang mencatat dan mendokumentasikan pemikiran serta gagasannya. Hal ini penting agar ide-ide tersebut tidak hanya menjadi wacana lisan, tetapi tertulis sebagai bagian dari sejarah yang bisa menjadi panduan bagi generasi mendatang.visi yang kokoh harus berakar pada nilai-nilai spiritual dan ilahi, bukan hanya ambisi politis semata. Dengan visi ini memiliki fondasi yang mendalam dan bisa memberi arah yang jelas bagi perjalanan kepemimpinan ke depan, serupa dengan bagaimana Kesultanan Mataram Islam bertahan lebih dari 400 tahun berkat visi yang kokoh. Dalam buku The Power of Vision karya George Barna untuk menjelaskan lebih jauh bahwa visi bukan hanya sekadar mimpi, tetapi merupakan wahyu dari Tuhan yang memiliki gambaran mental jelas tentang masa depan. “Visi itu cirinya yang pertama adalah ada gambaran mental yang jelas tentang masa depan yang jelas. Jadi, ada konsep, ada gambaran mentalnya. Itu memang imajinasi, tetapi visi, yang membedakannya dengan cita-cita atau obsesi, menurut George Barna, adalah bahwa visi itu diimpartasikan atau ditanamkan atau diwangsitkan oleh Tuhan,”Visi ilahi berbeda dengan visi politis yang berdasarkan ambisi pribadi. Visi illahi harus menjalani topo broto, atau meditasi, sebagai bagian dari proses spiritual untuk mendapatkan inspirasi ilahi.Last but not least, Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita.” Menurut Mohammad Roem, Dalam bahasa Belanda, ada dua kata yang berbunyi sama, tapi ditulis berbeda: leiden ( memimpin ) dan lijden ( menderita )” (Mohammad Roem, Prisma, No. 8, 1977). Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a’lam

Menjaga Harmoni Lanskap Desa Wisata Cafe Sawah Pujon Kidul


Oleh: Ainur Rofiq
Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, tak hanya menyuguhkan lanskap perbukitan dan udara sejuk yang menjadi dambaan pelancong kota. Sejak tahun 2016, desa ini menjelma menjadi percontohan desa wisata melalui keberadaan Café Sawah yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Berbekal semangat kemandirian, desa seluas 330 hektare dengan jumlah penduduk lebih dari empat ribu jiwa ini kini bergerak maju dalam skema pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang berupa Café Sawah.
Café Sawah berdiri di atas lahan seluas enam hektare, menjadi ikon sekaligus simpul utama pertumbuhan ekonomi desa. Pengelolaannya tidak semata-mata berorientasi bisnis, tetapi menjadi ruang kolaboratif antara BUMDes dan masyarakat sekitar. Tidak ada pungutan retribusi kepada warga yang membuka warung atau toko oleh-oleh di kawasan wisata ini. Bahkan setiap tiket masuk senilai Rp15.000 dilengkapi dengan voucher Rp5.000 yang dapat ditukar di gerai milik warga. Inisiatif ini membuat perputaran uang tidak berhenti di pintu masuk, melainkan menyebar ke tangan-tangan warga yang menjadi pelaku langsung ekonomi desa.
Namun, seiring berkembangnya sektor wisata, kebutuhan akan legalitas dan regulasi menjadi tak terhindarkan. Pemerintah Desa tengah mengurus berbagai perizinan seperti PKKPR, dokumen lingkungan, serta SIMBG sebagai prasyarat kelangsungan usaha. Salah satu hambatan administratif yang masih dihadapi adalah ketiadaan sertifikat tanah atas lahan yang dikelola BUMDes. Oleh karena itu, pemetaan bidang tanah dan proses pendaftaran aset desa menjadi kebutuhan mendesak. Sertifikasi atas nama Pemerintah Desa dan yang dikelola BUMDes tidak hanya memberi kepastian hukum, tetapi juga menjadi dasar dalam mengakses program-program penguatan kelembagaan.
Kunjungan wisatawan yang semula konsisten kini mengalami fluktuasi. Rata-rata kunjungan harian berkisar 860 hingga 938 orang, dan melonjak hingga 1.160 saat akhir pekan. Namun, tren penurunan jumlah kunjungan tahunan turut menurunkan kontribusi pajak BUMDes kepada daerah, dari semula Rp500 juta pada 2023 menjadi Rp300 juta di tahun 2024. Persaingan dari tumbuhnya desa-desa wisata tematik lain di Kabupaten Malang turut memengaruhi situasi ini. Meski demikian, pengelola tetap optimistis. Mereka meyakini bahwa kekuatan Pujon Kidul terletak pada “keberlanjutan kolaborasi warga dan keberagaman inovasi berbasis lingkungan.”
Langkah penting lainnya telah dimulai di Dusun Tulungrejo. Pada tahun 2022, sebanyak 148 bidang tanah hasil pelepasan kawasan hutan disertifikatkan dan telah diserahkan kepada warga. Langkah ini menjadikan desa ini sebagai salah satu Kampung Reforma Agraria, sebagaimana ditetapkan melalui SK Bupati Malang Nomor 188/409.06/KPTS/2024. Melalui pendekatan sosial berupa pemetaan partisipatif dan kegiatan Akses Reform, masyarakat perlahan mulai memperoleh kekuatan legal atas ruang hidupnya. Namun tantangan masih menghadang. Lahan-lahan yang saat ini digunakan warga untuk bertani masih berstatus sewa kepada Perhutani, sehingga menyulitkan akses terhadap subsidi pupuk. Kepala Desa telah mengupayakan kerja sama formal melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), namun hingga kini belum mendapat respon afirmatif dari otoritas kehutanan.
Mayoritas penerima manfaat reforma agraria merupakan peternak sapi perah dengan rata-rata kepemilikan tiga sampai lima ekor sapi per keluarga. Hasil perahan—sekitar 15 liter per ekor per hari—disalurkan ke koperasi KOP SAE dengan skema pembiayaan yang bervariasi, mulai dari penggantian indukan hingga potongan hasil produksi. Di tengah geliat pertanian dan peternakan, desa ini juga mengembangkan pendekatan ekologi dalam pengelolaan sampah. Salah satunya melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup serta TPA Randuagung.

Yang menarik, desa ini mulai merintis budidaya cacing tanah sebagai solusi atas tumpukan limbah organik. Bersama CV RAJ, sebanyak 1,6 ton bibit cacing senilai Rp70 juta telah ditebar di bedengan-bedengan sepanjang 32 meter dengan lebar 1 meter. Lokasi budidaya berdampingan dengan area parkir Café Sawah dan dikelola dalam sistem greenhouse beratap paranet. Pada bulan kelima, budidaya ini ditargetkan menghasilkan empat ton panen, yang akan ditampung oleh mitra dengan harga Rp20.000 per kilogram. Program ini juga mendapat sokongan dari PT Nestlé melalui skema CSR berupa pengolahan limbah kohe sapi menjadi media ternak cacing, dengan satu bak budidaya untuk setiap kandang berukuran 16 meter persegi.
BUMDes mengalokasikan dana pengelolaan sampah sebesar Rp100 juta per tahun, di samping subsidi Rp65 juta untuk operasional TPST. Tak hanya itu, lembaga ini juga membiayai iuran BPJS bagi warga senilai Rp50 juta serta membantu tagihan kebutuhan dasar lainnya melalui alokasi PAD dari 100 desa. Semua ini dirancang untuk memperkuat fondasi sosial agar usaha desa tidak hanya menjadi mesin pendapatan, tetapi juga jaring pengaman sosial bagi warga.
Meski banyak yang telah dilakukan, pekerjaan rumah tetap menanti. Pemerintah Desa berharap adanya pendampingan dalam penerbitan sertifikat tanah aset desa agar perizinan PKKPR dapat segera dilanjutkan. Selain itu, pengajuan pelepasan kawasan hutan melalui mekanisme PPTKH telah diajukan ke Dinas Pertanahan Kabupaten Malang, sembari mendorong pengalokasian program PTSL yang ditargetkan untuk 2.500 bidang tanah. Di tengah perjalanan panjang dan tantangan zaman ini, Pujon Kidul menjadi bukti bahwa desa bisa hidup dari tanah dan ruang, tumbuh dari kolaborasi, dan berdiri dari ragam inovasi.
Wallahu A’lam Bishowab

Berguru Kepada Orang yang Sudah Meninggal

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I . Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Ilmu tidak hanya bisa di ambil dari orang yang masih hidup. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, setiap hadis yang akan ditulis dikonfirmasikan dulu kepada Rasulullah, “Apakah Engkau menyampaikan begini ya Rasulullah?”. Dengan kepakaran beliau, apakah kita mempertanyakan validitasnya? Meminjam kerangka berpikir Abid al-Jabiri, Ini adalah epistemologi Irfani(Pengalaman batin dan intuisi spiritual ) . Jadi, alangkah miskinnya kalau orang belajar gurunya hanya orang hidup (personal lecturer) , semestinya bisa juga impersonal teachers (guru) yang bukan orang,”.
( Prof.Dr. Nasaruddin Umar menteri Agama ). Abdullah Bin Mas’ud mengatakan bahwa berguru kepada orang yang sudah meninggal itu jauh lebih utama karena orang yang sudah meninggal jauh dari fitnah. Seorang revolusioner pasca runtuhnya Turki ottoman, Syekh Sulaiman Hilmi Tunahan berkata, “ _Ketika ulama wafat, maka sejatinya dia seperti pedang yang keluar dari sarungnya .” Seorang alim_ , wali doanya memang mustajab, namun ketika mereka telah wafat, maka doanya lebih dahsyat. Habib Abdullah bin Alawai Al-Haddad memberikan alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi, karena manusia ketika hidup meiliki dua sifat, yakni basyariyah dan khususiyah. ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I ). Hubungan ( relasi ) guru dan murid secara lahiriah terputus setelah sang guru wafat. Tetapi kelompok Ahlussunnah wal Jamaah meyakini bahwa hubungan keduanya tetap langgeng meski secara fisik keduanya tidak lagi bersama.

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mengutip pandangan Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang mengatakan bahwa seorang wali akan tetap terhubung dengan batin para pengikutnya. Hubungan batin keduanya membawa keberkahan tersendiri bagi muridnya.

قال سيدي العلامة أحمد دحلان رحمه الله في تقريب الأصول لتسهيل الوصول قد صرح كثير من العارفين أن الولي بعد وفاته تتعلق روحه بمريديه فيحصل لهم ببركاته أنوار وفيوضات

“Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Rahimahullah dalam Taqribul Ushul li Tashilil Wushul mengatakan bahwa banyak orang saleh dengan makrifat kepada Allah menyatakan secara jelas bahwa batin seorang wali Allah sesudah ia wafat akan terhubung dengan para muridnya sehingga berkat keberkahan gurunya itu mereka mendapatkan limpahan cahaya dan aliran anugerah Allah SWT,” ( Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466 ).

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahkan menambahkan bahwa hubungan seorang wali dan para muridnya lebih erat pada saat wali tersebut telah wafat. Pasalnya, wali tersebut memiliki perhatian dan kesempatan lebih lapang setelah ia wafat. Sementara seorang wali ketika hidup disibukkan oleh kewajiban dan tanggung jawab manusiawinya.

Sisi keistimewaan seorang wali kadang tidak terlalu dominan ketika ia hidup karena tertutup oleh sisi manusiawinya. Tetapi ada juga seorang wali yang semasa hidupnya memiliki sisi keistimewaan yang cukup dominan.

وممن صرح بذلك قطب الإرشاد سيدي عبد الله بن علوى الحداد فإنه قال رضي الله عنه الولي يكون اعتناؤه بقرابته واللائذين به بعد موته أكثر من اعتنائه بهم في حياته لأنه كان في حياته مشغولا بالتكليف وبعد موته طرح عنه الأعباء والحي فيه خصوصية وبشرية وربما غلبت إحداهما الأخرى وخصوصا في هذا الزمان فإنها تغلب البشرية والميت ما فيه إلا الخصوصية فقط

“Salah satu orang saleh yang menjelaskan masalah ini secara terbuka Quthbul Irsyad Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ia mengatakan bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang ‘bersandar’ kepadanya lebih besar disbandingkan perhatiannya terhadap mereka seketika ia hidup. Hal demikian terjadi karena ia saat hidup sibuk menunaikan pelbagai kewajiban. Sementara setelah wafat, beban kewajiban itu sudah diturunkan dari pundaknya. Wali yang hidup memiliki keistimewaan dan memiliki sisi manusiawi. Bahkan terkadang salah satunya lebih dominan dibanding sisi lainnya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sisi manusiawinya lebih dominan. Sementara seorang wali yang telah meninggal dunia hanya memiliki sisi keistimewaan,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466).

Keyakinan semacam ini yang bagi banyak orang menguatkan hubungan murid dan guru meski gurunya telah wafat sekian tahun dan bahkan ratusan tahun. Oleh karenanya, seorang wali atau sang guru ini–meski telah wafat–akan tetap hidup di hati para murid dan pengikutnya. Saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tidak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tidak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.

Logika sederhananya, jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.

Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia. Pengalaman lain, Ibnu ‘Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.

Kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu ‘Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, “Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”

Kitab Jami’ Karamat al-Auliya’ karangan Syekh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani, sebanyak dua jilid, mengulas sekitar 625 tokoh/ulama yang memiliki karamah, yaitu pengalaman luar biasa mulai dari sahabat nabi hingga tokoh abad ke-19. Mereka hidup di dunia dan di akhirat.” (QS Yunus/10:64). Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini.

Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah SWT kepadanya.” Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (QS al-Zumar/39:42).

Dalam kita-kitab tafsir Isyari, ayat ini mendapatkan komentar panjang bahwa di waktu tidur orang bisa mendapatkan banyak pencerahan. Bahkan, dalam Alquran juga menunjukkan kepada kita sejumlah syariat dibangun di atas mimpi (al-manam), seperti perintah ibadah kurban (QS al-Shafat/37:102). Demikian semoga bermanfaat dan mari kita berdoa untuk guru-guru kita, yang masih hidup dan yang telah wafat. Syekh Abdul Fattah Abu Guddah menuliskan lafal doa untuk mendoakan guru-guru kita semua. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. “Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajarkan kami. Sayangilah mereka. Muliakanlah mereka dengan ridha-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang.” Demikian doa untuk meminta ampunan bagi guru-guru kita semua. Semoga kita diberikan manfaat ilmu dari semua yang kita pelajari, baik di dunia maupun di akhirat. Aamin Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a‘lam.