Bangkit Bersama, Mewujudkan Indonesia Kuat

Oleh Ainur Rofiq

Setiap tahun, tanggal 20 Mei selalu mengingatkan kita pada satu momentum penting: Kebangkitan Nasional. Tahun ini, tepat 117 tahun lalu, lahir semangat Boedi Oetomo yang menandai awal gerakan sadar bangsa untuk membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan Imperialisme. Namun, kebangkitan yang sesungguhnya tak berhenti di sana. Kini, kita diajak bangkit bersama untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, merata, dan berkeadilan.
Tema “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat” bukan sekadar jargon politik atau slogan di spanduk yang terpasang di tembok, tiang papa reklame instansi, tiang papan jalan protokol. Ini adalah janji dan tugas yang harus kita pegang bersama, khususnya di tengah berbagai program strategis yang tengah dijalankan pemerintah hari ini.
Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam proses kebangkitan ini. Bayangkan sebuah Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang sepenuhnya gratis dan diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Sekolah ini bukan sekadar memberikan ilmu, tapi juga kesempatan untuk bermimpi dan keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mengungkung. Ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa dan jaminan kemajuan serta kesejahteraan kedepan.
Dalam konteks ini, kita tak bisa melepas dari ajaran Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia mengingatkan kita bahwa:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya, pemimpin harus bisa memberi contoh di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Prinsip ini sangat relevan dalam upaya memperkuat sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Tak hanya pendidikan, pemerintah juga bergerak di sektor lain yang krusial: kesehatan, perumahan, dan pangan. Akses kesehatan yang gratis dan berkualitas diharapkan bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Perumahan bersubsidi hadir sebagai jawaban atas kebutuhan hunian layak bagi mereka yang selama ini terpinggirkan, serta memberikan kesempatan yang sama bagi para buruh untuk mendapatkan pemukiman yang layak dan terjangkau dengan upah yang diterima. Sementara itu, ketahanan pangan diperkuat dengan mendorong koperasi Merah Putih dan pelaksanaan Reforma Agraria.
Reforma Agraria bukan hanya soal pembagian tanah dan legalitas asetnya. Akan tetapi kebijakan serta pemaknaan yang lebih luas merupakan upaya membangun kedaulatan petani kecil, memastikan sumber daya dapat dinikmati secara adil, dan menumbuhkan ekonomi rakyat yang mandiri. Ini adalah bagian penting dari kebangkitan yang menghunjam ke akar rumput.
Prof. Arief Rachman, tokoh pendidikan yang juga mantan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, menambahkan:
“Kebangkitan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi bagaimana mencerdaskan manusia agar merdeka dalam berpikir dan bertindak.”
Maka, kebangkitan nasional hari ini adalah “gerakan kolektif”. Gerakan yang menuntut kita bersama-sama memperbaiki layanan dasar, menjamin akses pendidikan dan kesehatan yang merata, dan menguatkan ekonomi rakyat. Indonesia kuat bukan hanya sekadar mimpi, tapi sebuah tujuan yang bisa kita capai jika semua pihak pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bersatu dalam semangat kebersamaan dan keadilan sosial.
Mari kita satukan langkah dengan penuh semangat dan keyakinan membangun Indonesia yang lebih baik. Sebuah negeri yang berkeadilan sosial, di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama meraih kesejahteraan. Indonesia yang bermartabat bukan hanya mimpi, melainkan tujuan yang harus kita raih bersama. Kebangkitan ini bukan sekadar mengenang masa lalu yang heroik. Melainkan sebuah panggilan untuk memperkuat fondasi masa depan bangsa.
Kebangkitan Nasional bukan pula sekadar peringatan sejarah yang rutin kita rayakan tiap tahun. Ia adalah momentum nyata untuk bertindak dan bergerak bersama membangun kemajuan. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada langkah kita hari ini. Oleh karena itu, sudah saatnya kita bangkit bersama, bersatu padu, untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa. Demi Indonesia yang kuat, adil, dan berdaulat sepenuhnya.
Wallahu A’lam Bisshowab
Malang 20 Mei 2025

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Kebangkitan Nasional: Hidup tanpa Medsos

oleh: Dr. Ahmad Hudri, ST. ,MAP.,*

Dalam lanskap teknologi yang berkembang pesat saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, konsep” Kebangkitan Nasional ” atau Kebangkitan Bangsa dapat ditelaah melalui lensa kehidupan tanpa media sosial. Gagasan Kebangkitan Nasional erat kaitannya dengan semangat keterlibatan aktif dalam masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Ketika Indonesia mengalami kebangkitannya di awal abad ke-20 melalui gerakan-gerakan yang mengadvokasi kemerdekaan dari kekuasaan kolonial, peran komunikasi menjadi hal yang mendasar. Surat kabar dan pamflet mengedarkan gagasan dan menumbuhkan rasa persatuan di antara masyarakat. Saat ini, media sosial berfungsi sebagai mitra modern untuk media tradisional ini. Hidup tanpanya menginspirasi refleksi tentang bagaimana keterlibatan dan aktivisme dapat berkembang melalui cara yang lebih pribadi dan langsung, mirip dengan metode mobilisasi historis.

Mempertimbangkan dampak dari kehidupan bebas media sosial, bahwa hal itu dapat mengarah pada interaksi yang lebih bermakna. Tanpa gangguan notifikasi dan sifat dangkal dari interaksi online, individu dapat mengembangkan hubungan yang lebih dalam. Hubungan pribadi yang terjalin melalui percakapan tatap muka memiliki dampak psikologis yang mendalam, meningkatkan empati dan pengertian. Individu seperti R. A. Kartini, yang mengadvokasi hak-hak perempuan di Indonesia pada masanya, sangat bergantung pada korespondensi pribadi dan pertemuan komunitas. Pendekatan ini menumbuhkan rasa tujuan bersama yang tulus yang dapat dicerminkan dalam konteks modern tanpa dunia online.

Selain itu, ketiadaan media sosial menumbuhkan pemikiran kritis. Saat ini, banyaknya informasi yang tersedia di platform media sosial sering kali menciptakan ruang gema, di mana pengguna dihadapkan pada perspektif yang terbatas, memperkuat keyakinan yang ada. Tanpa akses langsung ke beragam pendapat, individu perlu mencari pengetahuan melalui buku, diskusi, dan menganalisis sumber berita secara kritis. Metode ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar Tahun 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengedepankan pendidikan dan integritas moral. Diskusi yang hidup seputar pendidikan di awal tahun 1900-an mendorong proses berpikir dan perspektif kritis yang berkontribusi pada kebangkitan intelektual Indonesia.

Sebaliknya, kurangnya media sosial dapat menghambat aspek advokasi dan kesadaran tertentu. Media sosial telah terbukti menjadi alat yang ampuh untuk memobilisasi kelompok besar dan menyebarkan informasi dengan cepat. Gerakan-gerakan seperti Black Lives Matter dan climate activism telah mendapatkan momentum melalui kemampuan menjangkau khalayak secara global hanya dalam hitungan detik. Tidak adanya platform semacam itu dapat berarti berkurangnya jangkauan dan upaya organisasi yang lebih lambat untuk tujuan sosial. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gerakan dapat berkembang bahkan tanpa adanya teknologi, hanya didorong oleh semangat dan komitmen. Gerakan kemerdekaan Indonesia merupakan bukti mobilisasi akar rumput yang efektif tanpa kenyamanan modern.

Selain itu, implikasi hidup tanpa media sosial meluas ke ranah privasi dan kesehatan mental. Maraknya masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan media sosial yang berlebihan, seperti kecemasan dan depresi, menyoroti perlunya mundur dari dunia digital. diperlukan adanya ikhtiar secara sistematis untuk membahas solusi tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental. Lingkungan tanpa media sosial dapat mengurangi stres dan kecemasan, mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dan kerangka mental yang lebih jelas, yang didorong sebagai bagian kesadaran sosial yang bermuara pada kebangkitan nasional yang berfokus pada pembangunan karakter mental anak-anak bangsa.

Media tradisional menawarkan pandangan sekilas yang menarik ke dalam dunia media pasca-sosial. Surat kabar, papan buletin komunitas, dan keterlibatan langsung dapat mewakili kembalinya ke bentuk komunikasi yang lebih bijaksana, yang berpotensi menghasilkan konesitas masyarakat sipil yang lebih erat. Diskusi dalam lingkungan sosial yang nyata akan mendorong inklusivitas dan partisipasi. Civil Society dapat mengambil peran yang berbeda dalam lanskap yang sedang berkembang ini, melayani sebagai mentor dan pendidik, bukan hanya pemberi pengaruh media sosial. Pergeseran ini dapat menciptakan babak baru dalam keterlibatan sipil, mengingatkan pada upaya kolektif yang dilakukan selama awal abad ke-20.

Kebangkitan Nasional melalui lensa living without social media membutuhkan perenungan tentang dampak sosial dari era digital saat ini. Keberadaan media sosial tidak dapat disangkal memfasilitasi konektivitas dan kesadaran yang luas, kesejajaran sejarah menekankan potensi interaksi yang bermakna, pemikiran kritis, dan gerakan berbasis komunitas. Dengan paradigma ini akan menguatkan sejarah Indonesia bahwa hubungan yang tulus, wacana yang sehat, dan tindakan yang terinformasi dapat muncul menjadi katalisator dari penyimpangan kebisingan digital media sosial. Pendekatan ini mungkin menandakan gelombang kebangkitan nasional berikutnya, menyelaraskan individu menuju tujuan bersama, memperkaya jalinan komunitas, dan membina masyarakat yang lebih bersatu.

* Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo

Judul beserta isi dari opini ini merupakan tanggungjawab mutlak penulis.

Presiden BPP HISMI Lantik “Cak Ramda” Nahkodai BPW HISMI Jawa Timur

Sidoarjo, Berdampak.net – Minggu (18 /05/ 2025) – Himpunan Saudagar Mahasiswa Indonesia (HISMI) menorehkan babak baru di Bumi Majapahit. Seribu mahasiswa padati Kampus Kemandirian Sidoarjo, 20 Ketua Umum BPD HISMI ikut dikukuhkan dalam seremoni bertajuk “ Pelantikan Raya BPW HISMI Jawa Timur dan BPD HISMI se-Jawa Timur” di Auditorium Kampus Kemandirian Sidoarjo.

Presiden BPP HISMI 2024‑2026 Agung Andika Nugroho Wicaksono resmi melantik Muhammad Ramzi Ramadhan akrab disapa Cak Ramda sebagai Ketua Umum BPW HISMI Jawa Timur periode 2025‑2027 serta Ketua Umum dari 20 BPD HISMI se – Jawa Timur resmi dikukuhkan.

Usai menerima bendera kepemimpinan, Cak Ramda langsung memimpin prosesi pengukuhan 20 Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) HISMI se – Jawa Timur, mulai dari Banyuwangi hingga Pacitan. Formasi lengkap ini disebut sebagai motor penggerak agenda kewirausahaan mahasiswa di tingkat kabupaten/kota.

Acara dihadiri berbagai tokoh bisnis dan pendidikan, antara lain:

  • H. Jarot Warjito – Dewan Pembina BPP HISMI & Owner Tractorindo, LDA
  • Dedy Pratama – Owner Sogeh Bareng Group
  • M. Jerry Ari Ananta – Presiden BPP HISMI 2022 – 2024 & CEO Isen Mulang Konveksi
  • ⁠Dzhilal Bahalwan – Direktur Adinara Institue
  • ⁠Tamu undangan lainnya
  • Perwakilan 1.000 mahasiswa dari 30‑an kampus se – Jawa Timur

Wakil Gubernur Jawa Timur 2025 – 2030 Emil Elestianto Dardak tidak dapat hadir secara langsung, namun menyampaikan ucapan selamat atas dilantiknya BPW HISMI Jawa Timur dan menyampaikan pesan :

“HISMI adalah laboratorium bagi mahasiswa untuk bisa menjadikan para mahasiswa menjadi seorang pengusaha muda. Pemprov siap bersinergi agar lahir wirausahawan kampus yang kompeten dan berdaya saing global,” ujarnya dalam video paparan.

Agung Andika Nugroho Presiden BPP HISMI 2024 – 2026, menegaskan bahwa kehadiran BPW HISMI Jatim melengkapi jaringan HISMI di berbagai provinsi lainnya.

“HISMI bukanlah organisasi yang mengedepankan eksistensi tetapi mengutamakan sinergi dan kolaborasi untuk saling memperkuat jejaring demi tujuan bersama yaitu mencetak generasi muda khususnya untuk mahasiswa menjadi saudagar yang gemilang,” ungkapnya.

Sementara Cak Ramda, Ketua Umum BPW HISMI Jatim 2025 – 2027 mengajak seluruh pengurus bersinergi :

“Mari jadikan Jawa Timur lumbung saudagar mahasiswa. Kita bergerak, berdaya, dan berkontribusi nyata untuk Indonesia.” serunya disambut tepuk tangan ribuan peserta.

Pelantikan raya yang dikemas interaktif, edukatif, dan inspiratif. Karena setelah prosesi pelantikan, HISMI berkolaborasi dengan Aliansi BEM Delta Sidoarjo menampilkan sebuah Konser Pendidikan Nasional Tour Public Speaking Training For Business “Edutainment” ini selaras misi HISMI: belajar, berjejaring, dan beraksi dalam satu panggung.

Dengan kepengurusan lengkap hingga tingkat daerah, BPW HISMI Jawa Timur menargetkan program – program unggulan demi terwujudnya 1.000 Saudagar Mahasiswa yang gemilang.

Pelantikan Raya di Sidoarjo menandai langkah serempak HISMI Jawa Timur menuju VISI “Mahasiswa Berdikari, Saudagar Menginspirasi” menginjak gas menuju Indonesia Gemilang. (fj)

KONI Kabupaten Probolinggo Gelar Raker, Ini Harapan Bupati Gus Haris

Probolinggo, Berdampak.net – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Probolinggo menggelar rapat kerja (raker) tahun 2025 yang dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan (reward) kepada atlet berprestasi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut tahun 2024 di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Sabtu (17/5/2025).

Kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris, Kapolres Probolinggo AKBP Wisnu Wardana, Wakil Ketua DPRD M. Zubaidi dan sejumlah anggota DPRD, perwakilan Forkopimda dan Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan.

Turut hadir pula Pemimpin Bank Jatim Cabang Kraksaan Siska Dian Permatasari, Ketua Forum CSR Kabupaten Probolinggo Sugeng Nufindarko, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Heri Mulyadi, Kepala Dinas Kominfo, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Ulfiningtyas serta ketua cabang olahraga (cabor) dan atlet berprestasi di Kabupaten Probolinggo.

Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih, KONI Kabupaten Probolinggo memberikan penghargaan kepada para atlet dan pelatih yang berhasil meraih medali dalam PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menekankan pentingnya sinergi antara KONI dan Pemerintah Daerah dalam memajukan dunia olahraga di Kabupaten Probolinggo. Harapannya agar KONI mampu memperluas jangkauan pembinaan hingga ke tingkat akar rumput melalui sistem desentralisasi berbasis wilayah dan institusi pendidikan dan juga mengusulkan integrasi antara olahraga dan pariwisata.

Ketua Umum KONI Kabupaten Probolinggo Zainul Hasan menyampaikan apresiasinya atas dukungan pemerintah daerah dan berharap semangat para atlet dan pelatih dapat terus meningkat dan KONI berkomitmen untuk terus melatih dan membina atlet-atlet muda agar dapat berprestasi di tingkat nasional dan internasional dengan dukungan semua pihak. (rh)

ARAH MASA DEPAN SIDRAP: MENUNGGU ATAU MEMBENTUK?

Oleh: Mursalim Nohong
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin)

Ditengah gelombang perubahan global yang melanda dunia, seperti perubahan iklim, transformasi digital, krisis energi, dan tekanan sosial ekonomi, muncul satu pertanyaan mendasar.

“Apakah akan menunggu masa depan terjadi ataukah ikut membentuknya?”

Tanya ini makin relevan saat kita bicara tentang daerah-daerah yang punya kekayaan alam dan kultural seperti kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan dan seringkali menjadi sumber keunggulan.

Sidrap tidak hanya dikenal karena sejarah dan keislamannya tetapi juga karena potensinya yang besar dalam sektor pertanian (bahkan menjadi lumbung pangan nasional), energi terbarukan, dan sumber daya manusia yang kuat.

Sidrap bukan hanya sekadar nama administratif. Ia adalah tanah warisan nilai, tanah perjuangan, dan simbol transformasi. Dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Sidrap tumbuh dengan identitas agraris yang kuat.

Beberapa dekade terakhir, Sidrap menunjukkan langkah progresif melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) terbesar di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa Sidrap tidak hanya menunggu perubahan, tetapi mulai merintis jalan sebagai pelaku dalam transformasi energi nasional.

Pembangunan infrastruktur besar ini belum cukup jika tidak dibarengi dengan pembangunan karakter manusianya. Tapi juga butuh inovasi berbasis kearifan lokal, dan pengelolaan sumber daya secara adil dan lestari.

Namun, ditengah potensi dan keunggulan tersebut, apakah Sidrap akan menjadi penonton dalam kancah perubahan atau mengambil peran dan menjadi aktor utama dalam membentuk masa depannya sendiri yang berkelanjutan?

Menunggu masa depan atau menyusunnya?

Dalam realitas pembangunan daerah, pemerintah dan masyarakat seringkali tampil dengan sikap menunggu. Menunggu instruksi dari pusat, menunggu bantuan dari luar, menunggu investor datang.

Padahal, menunggu tanpa bertindak adalah jalan pelan tapi pasti menuju stagnasi apalagi ditengah issu efisiensi yang seharusnya dijadikan momentum melakukan perubahan.

Dalam konteks ini, Sidrap tidak bisa lagi hanya menunggu. Perubahan iklim sudah merusak siklus pertanian. Anak-anak muda (Gen Z) meninggalkan kampung halaman dan tata nilai yang telah menjadi pondasi peradaban generasi “nene mallomo”.

Ketergantungan pada beras tanpa diversifikasi membuat ekonomi lokal rentan terhadap gejolak harga. Kini saatnya untuk menempatkan Sidrap sebagai subjek perubahan bukan objek pembangunan.

Masa depan bukan sesuatu yang jatuh dari langit ibarat pepatah durian runtuh. Mada depan harus dibangun dengan kesadaran, strategi, dan aksi nyata—mulai dari desa hingga tingkat kabupaten.

Keberlanjutan ditanah kelahiran

Isu keberlanjutan telah berkembang luas sehingga pembicaraan tidak bisa hanya soal lingkungan tetapi lebih luas dari itu. Di Sidrap, keberlanjutan adalah soal:

Pertama, Keberlanjutan lingkungan. Timbul pertanyaan, bagaimana menjaga dan merawat danau Sidenreng dari pencemaran? Bagaimana mencegah banjir akibat alih fungsi lahan? Apakah hutan di wilayah pegunungan tetap lestari, ataukah menjadi korban ekspansi? Masyarakat dan pemerintah secara proporsional mengambil peran bukan menunggu peran.

Kedua , Keberlanjutan sosial. Apakah generasi muda Sidrap masih mewarisi nilai-nilai Nene’ Mallomo yang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab? Apakah budaya lokal masih hidup atau sudah tergeser budaya instan?

Ketiga , Keberlanjutan ekonomi. Bisakah Sidrap bertahan sebagai penghasil pangan ketika sawah mulai tergantikan oleh properti? Bisakah petani mendapatkan nilai tambah dari produksi, bukan hanya sebagai produsen primer?

Riset Yusriah Arief (2022) menemukan bahwa alih fungsi lahan yang terjadi di Sidrap terutama di kecamatan Maritengngae dan Panca Rijang dengan melihat data 2021 terus meningkat disebabkan oleh pertambahan penduduk dan faktor ekonomi yang membuat masyarakat menjual dan mengalihfungsikan lahan yang dimiliki untuk peruntukkan lain.

Keempat, Keberlanjutan energi dan inovasi. Dengan hadirnya PLTB, akankah masyarakat lokal hanya menjadi penonton ataukah juga terlibat sebagai pelaku ekonomi hijau?

Kelima, Keberlanjutan spiritual dan moral. Nilai religius yang tertanam kuat di Sidrap harus menjadi energi moral dalam menghadapi zaman. Tidak cukup hanya membangun fisik, tapi juga membangun jiwa dan akhlak masyarakatnya.

Reorientasi dan reaktualisasi menjadi penting dilakukan sebagai upaya mempertahankan tatanan hidup masyarakat. Keduanya sangat dibutuhkan oleh karena penurunan kualitas moral akibat pengaruh negatif globalisasi, teknologi, dan modernisasi dan masyarakat kehilangan arah dalam menentukan baik-buruk karena adanya relativisme nilai.

Keberhasilan diukur hanya dengan pertimbangan ekonomi padahal dipahami bersama bahwa ekonomi selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan lingkungan.

Agar tidak hanya menunggu, Sidrap perlu strategi transformasi keberlanjutan jangka panjang berbasis empat pilar:
Pilar pertama , pendidikan dan literasi masa depan. Pendidikan di Sidrap harus melampaui kurikulum nasional yang normatif dengan memberikan penguatan pada:Pendidikan lingkungan hidup berbasis lokal (ekosistem danau, pertanian ramah lingkungan), Literasi teknologi untuk generasi muda, Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kearifan lokal seperti pesan-pesan Nene’ Mallomo misalnya dengan memasukkan kedalam bahan ajar di SD hingga SMP.

Pilar kedua , ekonomi hijau dan inovatif. Transformasi ekonomi Sidrap harus menuju:Agroindustri berbasis teknologi yang tidak hanya menjual hasil panen tapi juga produk olahan, Pertanian organik dan sistem tanam ramah iklim, Pengembangan ekowisata dan wisata spiritual di kawasan-kawasan religius yang selama ini belum tergarap maksimal.

Pilar ketiga , Digitalisasi dan kewirausahaan lokal.Generasi muda Sidrap harus digerakkan untuk menjadi:Wirausahawan digital bukan hanya pencari kerja apalagi menggeluti profesi Passobis, Pelopor platform lokal berbasis komunitas untuk memasarkan produk, jasa, dan budaya, Pengembang konten digital yang merepresentasikan Sidrap secara positif ke dunia luar.

Pilar keempat , kepemimpinan transformasional dan partisipatif. Sidrap membutuhkan pemimpin yang:Visioner dan tidak hanya berorientasi pada periode jabatan, Membangun partisipasi masyarakat bukan dominasi elit, Mengedepankan etika publik dan keberanian membuat keputusan strategis meskipun tidak populis seperti tindakan berani kepala daerah terhadap praktik-praktik 4S.

Spirit nene’ Mallomo dan Menyatukan Narasi

Tokoh legendaris Nene’ Mallomo meninggalkan pesan yang sangat dalam “Resopa natemmangingngi namalomo naletei pammase dewata.”

Pesan ini harus dijadikan etos pembangunan keberlanjutan. Artinya, membentuk masa depan bukan hanya tentang teknologi atau infrastruktur. Tumpuannya pada warisan nilai, komitmen, dan integritas. Tinggal bagaimana warisan tersebut dijadikan fondasi untuk membentuk masa depan yang lebih hijau, adil, dan manusiawi.

Membentuk masa depan bukanlah kerja satu orang atau satu lembaga. Ia adalah kerja kolaboratif. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, tokoh adat, dan masyarakat sipil harus bersatu.

Pembangunan yang hanya berorientasi pada proyek akan cepat lapuk. Tapi pembangunan yang berbasis narasi bersama akan langgeng. Maka perlu disusun “Narasi Besar Sidrap Masa Depan” yang dijadikan acuan lintas sektor yang mengedepankan keadilan generasi, menyatukan tradisi dan inovasi dan menjadikan keberlanjutan sebagai misi utama.

Apa yang terjadi di Sidrap hari ini, adalah cermin dari pilihan kolektif masyarakatnya. Apakah memilih untuk menunggu dan bersikap reaktif, ataukah memilih untuk membentuk dan menjadi pelaku sejarah?

Masa depan tidak datang sebagai hadiah. Ia datang sebagai hasil dari keberanian, kerja keras, dan imajinasi. Sidrap memiliki semua potensi sumber daya alam, modal sosial, nilai religius, dan semangat kearifan lokal.

Tugas bersama adalah memastikan bahwa semuanya diarahkan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Masa depan Sidrap bukan untuk ditunggu, tapi untuk dibentuk.

Ketika Sidrap memilih membentuk masa depannya sendiri, ia tidak hanya menyelamatkan tanahnya tetapi ikut menyumbangkan bab penting dalam pembangunan Indonesia yang berkelanjutan sekiranya 2045 memang ada. (fj)

Partai Gelora Probolinggo Konsolidasi di Bromo: Satukan Visi, Ciptakan Legacy Perubahan

Probolinggo, Berdampak.net — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Gelora Kabupaten Probolinggo menggelar konsolidasi internal di Hotel Nadia, kawasan Bromo. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi dan pemahaman para pengurus terkait visi dan misi partai.

Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Probolinggo, Abu Bakar Rohim, menegaskan bahwa konsolidasi ini penting untuk menyatukan energi dan semangat seluruh pengurus dalam satu arah gerak yang sejalan dengan tujuan partai.

“Menyatukan energi dan semangat sesuai visi-misi partai sangat penting bagi seluruh pengurus DPD,” ujarnya.

Abu Bakar juga menekankan bahwa bergabung dalam partai politik adalah bagian dari misi kehidupan yang bermakna.

“Hidup ini jangan hanya fokus bekerja. Hewan pun bekerja. Tapi manusia harus bisa memberi manfaat bagi banyak orang,” imbuhnya.

Dengan penuh semangat, ia menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam partai harus diarahkan untuk membangun warisan kebaikan.

“Saya hadir di Gelora untuk menciptakan legacy (amal jariyah). Ketika kita berkontribusi membuat undang-undang yang baik, itu adalah amal jariyah yang dapat kita ceritakan kepada anak cucu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abu Bakar mengajak seluruh kader untuk bergerak menciptakan perubahan, khususnya di Kabupaten Probolinggo.

“Probolinggo masih berada di peringkat ke-4 dalam hal pengentasan kemiskinan. Maka perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW Partai Gelora Jawa Timur, Fathurrozi, menegaskan bahwa berpartai bukan untuk mencari keuntungan materi, melainkan sebagai wadah perjuangan dan kontribusi bagi masyarakat.

“Berpartai bukan untuk mencari uang, tapi untuk berjuang. Partai Gelora membawa semangat kepemimpinan ala Rasulullah dalam membangun bangsa,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi kepemimpinan saat ini yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat, dan menekankan bahwa Partai Gelora memiliki komitmen untuk melahirkan pemimpin yang adil.

“Pemimpin yang adil akan membawa kemaslahatan bagi umat,” tandasnya. (pm)