Seminar Nasional Hari Guru Nasional: Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang dan Dinas Pendidikan Kota Probolinggo wujudkan Kolaborasi untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka rangkaian hari guru nasional 2025, Ikatan Alumni Universitas Negeri Malang menggelar Seminar Nasional dengan tema Membentuk Kembali Pengajaran Sebagai Profesi
Kolaboratif di Gedung Puri Manggala Bhakti Kota Probolinggo. Acara yang diikuti oleh sekitar 250an peserta dengan 190 peserta hadir langsung dan sisanya mengikuti melalui live streaming online. Peserta terdiri dari guru , mahasiswa , dosen dan praktisi pendidikan tidak hanya dari area kota dan kabupaten Probolinggo tetapi bahkan sampai Semarang , banyuwangi, tegal dan daerah lainnya.

Ketua Ikatan Alumni IKA UM dalam sambutannya bahwa kegiatan ini bagian dari kontribusi nyata alumni UM dalam peningkatan mutu pendidikan dan wujud sumbangsih alumni di area Probolinggo Raya melalui kolaborasi dengan pemerintah Kota Probolinggo melalui dinas pendidikan dan kebudayaan kota Probolinggo. Harapannya sinergi antar alumni ini menjadi modal penting dalam eksistensi alumni di mana alumni berada.

Hadir dalam pembukaan seminar Walikota Probolinggo Dr. H. Aminuddin dan Dr. Siti Romlah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo serta jajaran pengurus IKA UM , kepala sekolah di kabupaten dan kota Probolinggo serta pemateri Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd, Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd.

Dr. Siti Romlah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo membawakan Peran Rumah Inovasi Guru sebagai Ruang Kolaboratif dalam
Membentuk Kembali Pengajaran sebagai Profesi Kolaboratif (Studi di
Kota Probolinggo) , Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd membahas mengenai tantangan pendidikan remaja saat ini dan implementasi pembelajaran melalui keluarga dan sekolah berbasis masyarakat, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd menyampaikan tentang trend riset inovasi dalam bidang pendidikan dan Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd tentang Sharing Best practice pendidikan kolaboratif dalam perjalanan karir di lapangan sebagai penggerak bidang pendidikan.

Dr Aminuddin dalam sambutannya menyampaikan bahwa kabupaten Probolinggo mempunyai target indeks pendidikan manusia diatas 7.5 dan untuk itu diperlukan kolaborasi semua pihak termasuk guru sebagai penggerak utama pendidikan dan dalam visi Probolinggo bersolek kota Probolinggo juga menempatkan pendidikan sebagai fokus utama tidak hanya dari aspek infrastruktur , kolaborasi peluang beasiswa dengan universitas terbuka dan salah satunya juga dengan universitas negeri Malang. Walikota Probolinggo juga mengapresiasi peran guru dan sekaligus mengajak kontribusi melalui inovasi para guru dalam memajukan pendidikan di Probolinggo.

Sesi diskusi panel yang diadakan di akhir seminar memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya langsung kepada narasumber dan mendiskusikan tantangan serta peluang dalam perkembangan pendidikan saat ini.

Dengan suksesnya acara ini, Ikatan Alumni UM berharap dapat mendorong lebih banyak inisiatif dan dukungan terhadap kemajuan pendidikan di Probolinggo, serta memperkuat jaringan alumni dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Seminar ini diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk dialog yang lebih intens dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkelanjutan dan berkualitas di masa depan. (rh)

Refleksi Hari Guru, Digitalisasi dan Harapan Humanisme

Oleh : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Pada momentum Hari Guru Tahun 2025 bertema Guru Hebat Indoneisa Kuat ini, negara Indonesia berada di babak perkembangan teknologi. Percepatan digital, pergeseran arah politik, perubahan nilai sosial, hingga pertarungan kompetensi global menciptakan kondisi baru yang menuntut kualitas manusia yang bukan hanya terdidik tetapi berkarakter jiwa kuat. Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional ( HGN ) sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi jasa guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri tercinta ini. Dunia pendidikan akan terus berubah, teknologi berkembang pesat, dan kebutuhan kompetensi abad 21 semakin menuntut guru untuk adaptif, kreatif, dan inovatif. Di sisi lain, hambatan dan tantangan yang dihadapi guru Indonesia juga semakin komplek. Perayaan HGN Tahun 2025 menjadi momentum refleksi bagi pemerintah, satuan pendidikan, maupun masyarakat untuk menyatukan langkah memperkuat peran strategis guru demi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Lebih dari 3,3 juta guru kini memegang peran strategis dalam menyiapkan generasi yang hidup di tengah perkembangan informasi dan teknologi. Di berbagai survei menegaskan tingkat tantangan literasi digital, polarisasi opini, serta menurunnya daya tahan nalar publik. Saat ini Indonesia berupaya mengejar target besar dengan memanfaatkan bonus demografi hingga tahun 2035 dan menyelesaikan agenda pembangunan SDM unggul sebagai fondasi visi Indonesia Emas 2045. Keberhasilan bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan, dan semua itu ditentukan oleh guru yang hebat. Dengan upaya memperkuat peran guru, Indonesia ini dapat membangun masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing di kancah global. Guru adalah pilar utama dalam mencetak generasi yang berkualitas. Seorang guru yang hebat tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi mampu membentuk karakter, nilai moral, dan keterampilan peserta didik.
Pendidikan yang bermutu adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang produktif, inovatif, dan berdaya saing. Dengan guru yang hebat, pendidikan dapat dijadikan alat utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang pada gilirannya akan memperkuat perekonomian, stabilitas sosial, dan kemajuan bangsa. Guru yang hebat tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga harus memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Pengembangan kapasitas, inovasi dalam metode pembelajaran, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi adalah ciri guru hebat yang relevan di era digital.
Transformasi digital dalam pendidikan tidak lagi sekadar soal penggunaan gawai, aplikasi belajar, atau platform pembelajaran daring. Tentunya pihak guru harus memastikan bahwa setiap inovasi digital tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya. Kehadiran guru di tengah teknologi menjadi penentu apakah digitalisasi membawa peradaban atau justru kegaduhan permanen. Di banyak sekolah, pihak guru menghadapi beragam fenomena seperti distraksi digital, budaya instan, hingga kemerosotan fokus belajar siswa. Pendidikan digital membutuhkan guru yang mampu menuntun orientasi, mengubah teknologi dari ancaman menjadi peluang.
Literasi digital yang diajarkan oleh guru kini tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat saja. Hal ini jauh lebih penting adalah kemampuan menilai fakta, memahami konteks, membaca data, dan mengenali manipulasi opini. Guru memegang peran vital dalam memperkuat daya tahan anak terhadap hoaks, bias algoritma, dan jebakan viralitas. Di sinilah peran guru berfungsi sebagai penjaga akal sehat publik, sesuatu yang tak dapat digantikan oleh mesin secerdas apa pun. Digitalisasi juga membuka ruang kolaborasi yang tak terbatas. Guru mampu menciptakan ekosistem belajar yang melampaui dinding kelas, menghubungkan siswa dengan dunia industri, komunitas kreatif, hingga jaringan global yang memperkaya pengalaman belajar.
Namun, agar kolaborasi ini efektif, negara harus memastikan ketersediaan infrastruktur digital yang merata. Tanpa keberpihakan kebijakan, digitalisasi hanya memperlebar jurang ketimpangan antarwilayah.Pada akhirnya, transformasi digital harus menempatkan guru sebagai pengarah nilai, bukan korban perubahan. Pihak Guru juga perlu diberikan pelatihan, ruang kreativitas, dan kepercayaan publik untuk membawa kelas menuju pembelajaran abad ke 21. Ketika teknologi dan humanisme menyatu, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang cerdas tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Menghadirkan Iklim Ilmiah dan Harmoni Lintas Agama, FKUB Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional Agama, Etika dan Perdamaian

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menggelar Seminar Nasional, dengan tema “Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural” . Dalam acara ini juga dilakukan pengukuhan Pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) Periode 2025-2026. Pelaksanaan acara pada tanggal 26 Nopember 2025 di Aula PD. Muhammadiyah Kota Probolinggo Jalan Sutoyo.
Acara ini dihadiri Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og. (K), M.Kes, jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo dan peserta seminar berjumlah 122 orang dari berbagai unsur masyarakat terutama organisasi guru dan ormas keagamaan di kota Probolinggo. Sebagai narasumber adalah Ahmad Sahidah, PhD. Dosen Program Pascasarjana S3 Universitas Nurul Jadid Paiton – Probolinggo dan Romo Ignasius Budiono. O.Carm Dosen STFT Widya Sasana Malang.

Walikota Probolinggo dokter Aminudin dalam sambutannya menyampaikan dalam sambutannya bahwa kota Probolinggo adalah kota yang kaya keberagaman agama, budaya, dan berbagai tradisi hidup berdampingan dan saling melengkapi. “Keragaman yang ada ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi juga investasi peradaban. Namun keberagaman hanya akan menjadi berkah apabila kita kelola dengan prinsip saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga”, ujar Aminudin

Dalam kesempatan ini Aminudin juga mengukuhkan pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) yang dibentuk oleh FKUB Kota Probolinggo sebagai forum bagi anak-anak muda lintas agama.

Sementara itu Dr. Ahmad Hudri Ketua FKUB Kota Probolinggo dalam sambutannya menjelaskan peran strategis FKUB. “FKUB adalah jembatan dialog, rumah bersama, dan ruang perjumpaan bagi seluruh elemen masyarakat lintas agama. Jajaran FKUB terus hadir di tengah masyarakat, menghadirkan kesejukan, memastikan ruang publik tetap inklusif, serta memperkuat ketahanan sosial di Kota Probolinggo”, jelas Hudri

Lebih lanjut Hudri menambahkan bahwa tema seminar tentang Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural, sangat relevan dengan kebutuhan bangsa, terlebih menjelang tahun-tahun politik dan perubahan sosial yang begitu cepat.

“Tantangan kita bukan hanya menjaga kedamaian, tetapi juga memastikan agar nilai-nilai etika tetap menjadi fondasi dalam setiap interaksi sosial dan kebijakan publik.
Perdamaian tidak lahir semata-mata dari ketiadaan konflik, melainkan dari hadirnya keadilan, dialog, dan sikap saling memahami. Agama, yang pada dasarnya membawa misi kemanusiaan dan kasih sayang, harus mampu menjadi kompas moral dalam perjalanan masyarakat multikultural”, tandas Hudri.

Usai seremoni pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh kedua narasumber. Kesempatan pertama pemaparan pemateri disampaikan oleh Romo Ignasius Budiono. Romo Budiono menyampaikan bahwa dalam konteks masyarakat modern, ada pilar penting untuk menemukan titik tengah kehidupan bersama, yakni: Etika Lintas Iman (Interfaith Ethics)
“Setiap agama membawa pesan universal tentang kebaikan. Ketika nilai-nilai ini dipertemukan, lahirlah etika bersama yang mampu menjadi pedoman harmoni dalam masyarakat. Kota Probolinggo perlu terus membangun ruang dialog yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi masuk ke dalam implementasi kehidupan sehari-hari”, jelas Budiono.

Budiono menambahkan tentang pentingnya penguatan Moderasi Beragama. Bahwa Moderasi bukan memoderatkan ajaran agama, tetapi memoderatkan cara kita memahami dan mengekspresikan agama. Sikap anti-ekstrem, anti-kekerasan, dan anti-diskriminasi harus menjadi prinsip yang terus ditanamkan melalui pendidikan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik.

Sementara itu narasumber kedua Ahmad Sahidah memaparkan mengenai pentingnya memperkuat literasi agama yang inklusif, mengembangkan platform dialog antar komunitas, membangun kebijakan negara yang adil bagi semua kelompok agama dan perlunya mengedepankan etika kemanusiaan universal sebagai dasar interaksi.

“Agama dapat menjadi sumber etika universal untuk perdamaian. Dalam Masyarakat multikultural butuh ruang perjumpaan yang menghormati perbedaan. Titik tengah ditemukan melalui dialog, pendidikan, keadilan, dan empati.
Perdamaian terjadi ketika agama dan etika berjalan bersama”, tutup Sahidah.

Usai pemaparan materi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Sesi tanya jawab direspon dengan sangat antusias oleh peserta hadir yang berjumlah 122 orang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, acara seminar ditutup hingga menjelang waktu magrib tiba.

Dosen Peraih Excellent Student Scholarship dari Hiroshima University, Juri Inovasi Guru: Mendorong Karya Kreatif dalam Dunia Pendidikan

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Ediyanto M.Pd., PH.D baru-baru ini diamanahkan menjadi juri dalam ajang inovasi guru sebagai kolaborasi IKA UM Probolinggo Raya dengan Disdikdaya Kota Probolinggo dalam rangka HGN 2025. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ediyanto memberikan testimoni yang menyoroti pentingnya inovasi dalam dunia pendidikan.

“Karya guru guru di kota Probolinggo sangat inovatif dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan,” ungkapnya. Penilaian ini menunjukkan betapa krusialnya peran guru guru di kota Probolinggo dalam menciptakan solusi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Lebih lanjut, dosen program studi S2 pendidikan khusus FIP dan Kepala LPPM Universitas Negeri Malang yang pernah meraih Hiroshima University Excellent Student menekankan bahwa praktik baik dalam inovasi tidak hanya terbatas pada momen lomba atau pameran. Ia mengatakan, “Inovasi guru adalah tanggung jawab yang berkelanjutan untuk memberikan yang terbaik bagi siswa.”

Dalam konteks pembelajaran, ia menekankan pentingnya merujuk pada “cipta, rasa, dan karsa” sesuai dengan kepakaran masing-masing. “Dengan pendekatan ini, Universitas Negeri Malang (UM) siap untuk menjadi pelopor pendidikan yang berkeadilan untuk semua,” tambahnya.

Koordinasi dan kerjasama juga menjadi fokus utama dalam inovasi ini, terutama dalam penguatan pendidikan inklusif yang menjadi kebutuhan penting dalam masyarakat saat ini. Dengan kolaborasi antara berbagai pihak, diharapkan inovasi yang dihasilkan dapat menjadikan pendidikan lebih berkualitas dan merata bagi semua kalangan.

Dengan penugasan ini, Dosen yang baru saja mendapatkan gelar kehormatan dari Circhik State Pedagogical University, Uzbekistan ini berharap dapat mendorong lebih banyak guru untuk terus berinovasi dan berkontribusi terhadap kemajuan dunia pendidikan di Indonesia khusus nya di Probolinggo Raya. (rh)

Tegaskan sebagai Kampus dengan Pencetak Guru Profesional Terbaik, IKA UM Probolinggo Raya Perkuat Kolaborasi dalam Rangka HGN 2025

Probolinggo, Berdampak.net – Universitas Negeri Malang (UM) melalui Ikatan Alumninya IKA UM Probolinggo Raya kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang bukan hanya mampu melahirkan alumni guru profesional terbaik di probolinggo raya tetapi juga mampu mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) guna memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2025.

Tampak hadir jajaran pengurus dan dewan penasehat IKA UM Probolinggo Raya yang juga mengambil bagian dalam kolaborasi di HGN ini. Dimana pada salah satu event HGN 2025 IKA UM mengirimkan dosen Ediyanto MpD Ph.D sebagai Juri Lomba Inovasi Pembelajaran berbasis STEAM, KKA, AI dan VR/AR jenjang PAUD dan SD. Tidak hanya itu bentuk kolaborasi di puncak HGN IKA UM dan Disdikbud mengadakan seminar nasional pendidikan yang pemateri nya adalah guru besar Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd Dosen departemen geografi dan Alumni yang sukses dalam profesi keguruan seperti Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd dan M Facrur Rozi Spd , M.pd serta Dr. Siti Romlah sendiri sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo.

Dr. Siti Romlah, dalam laporannya bahwa rangkai HGN tahun ini diwarnai dengan beragam kegiatan seperti digital learning, lomba-lomba, turnamen voli, karya inovasi guru, pemilihan kepala sekolah dan guru inspiratif, fashion show busana Pendalungan, hingga kompetisi inovasi dan seminar pendidikan yang berkolaborasi dengan IKA UM Probolinggo Raya.

Khusus untuk inovasi guru Pemerintah Kota Probolinggo, Jawa Timur, mencatatkan prestasi di bidang pendidikan dengan meraih rekor inovasi guru terbanyak di Indonesia sebanyak 2.302 inovasi karya guru dari seluruh penjuru kota diunggah dan diakui secara nasional oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Walikota Probolinggo dr. Aminuddin memberikan apresiasi tinggi kepada para guru dan mengingatkan pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk meningkatkan mutu pendidikan serta berharap rekor ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional tetapi juga peluang untuk meraih penghargaan internasional. (rh)

Erupsi Gunung Semeru: Status Awas dan Ancaman APG

Lumajang, Berdampak.net – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, mempertahankan statusnya pada level tertinggi, yaitu Level IV (Awas).

Erupsi masif yang dimulai sejak 19 November 2025 terus berlanjut hingga saat ini, Selasa 25 November 2025, dengan beberapa kali letusan pagi hari yang menghasilkan kolom abu setinggi hingga 1.000 meter.

Ancaman terbesar yang diwaspadai adalah Awan Panas Guguran (APG) dan guguran lava pijar. Oleh karena itu, masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan, serta di sekitar sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru, mengingat bahaya luapan lahar, terutama saat musim hujan.

Dampak dari aktivitas Semeru ini sangat terasa. Tiga warga dilaporkan mengalami luka berat akibat erupsi dan kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Haryoto, Lumajang. Jumlah jiwa yang mengungsi telah mencapai ratusan orang, yang tersebar di sejumlah titik pengungsian di Lumajang dan sekitarnya.

Kerusakan fisik pun meluas, mencakup ratusan unit rumah warga yang rusak parah di desa-desa, serta kerusakan pada lahan pertanian hingga lebih dari 200 hektare. Selain itu, banyak hewan ternak yang menjadi korban dan infrastruktur listrik terganggu.

Mengingat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius bahaya yang ditetapkan, terutama di sepanjang lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.

Saat ini, upaya penanganan darurat melibatkan TNI, Polri, BNPB, dan relawan untuk evakuasi, penyaluran bantuan logistik, serta pemberian dukungan psikososial (trauma healing) bagi para pengungsi. (tim)