Refleksi Hari Guru, Digitalisasi dan Harapan Humanisme

Oleh : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Pada momentum Hari Guru Tahun 2025 bertema Guru Hebat Indoneisa Kuat ini, negara Indonesia berada di babak perkembangan teknologi. Percepatan digital, pergeseran arah politik, perubahan nilai sosial, hingga pertarungan kompetensi global menciptakan kondisi baru yang menuntut kualitas manusia yang bukan hanya terdidik tetapi berkarakter jiwa kuat. Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional ( HGN ) sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi jasa guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di negeri tercinta ini. Dunia pendidikan akan terus berubah, teknologi berkembang pesat, dan kebutuhan kompetensi abad 21 semakin menuntut guru untuk adaptif, kreatif, dan inovatif. Di sisi lain, hambatan dan tantangan yang dihadapi guru Indonesia juga semakin komplek. Perayaan HGN Tahun 2025 menjadi momentum refleksi bagi pemerintah, satuan pendidikan, maupun masyarakat untuk menyatukan langkah memperkuat peran strategis guru demi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Lebih dari 3,3 juta guru kini memegang peran strategis dalam menyiapkan generasi yang hidup di tengah perkembangan informasi dan teknologi. Di berbagai survei menegaskan tingkat tantangan literasi digital, polarisasi opini, serta menurunnya daya tahan nalar publik. Saat ini Indonesia berupaya mengejar target besar dengan memanfaatkan bonus demografi hingga tahun 2035 dan menyelesaikan agenda pembangunan SDM unggul sebagai fondasi visi Indonesia Emas 2045. Keberhasilan bangsa sangat bergantung pada kualitas pendidikan, dan semua itu ditentukan oleh guru yang hebat. Dengan upaya memperkuat peran guru, Indonesia ini dapat membangun masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing di kancah global. Guru adalah pilar utama dalam mencetak generasi yang berkualitas. Seorang guru yang hebat tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi mampu membentuk karakter, nilai moral, dan keterampilan peserta didik.
Pendidikan yang bermutu adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang produktif, inovatif, dan berdaya saing. Dengan guru yang hebat, pendidikan dapat dijadikan alat utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang pada gilirannya akan memperkuat perekonomian, stabilitas sosial, dan kemajuan bangsa. Guru yang hebat tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga harus memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Pengembangan kapasitas, inovasi dalam metode pembelajaran, serta kemampuan adaptasi terhadap teknologi adalah ciri guru hebat yang relevan di era digital.
Transformasi digital dalam pendidikan tidak lagi sekadar soal penggunaan gawai, aplikasi belajar, atau platform pembelajaran daring. Tentunya pihak guru harus memastikan bahwa setiap inovasi digital tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebaliknya. Kehadiran guru di tengah teknologi menjadi penentu apakah digitalisasi membawa peradaban atau justru kegaduhan permanen. Di banyak sekolah, pihak guru menghadapi beragam fenomena seperti distraksi digital, budaya instan, hingga kemerosotan fokus belajar siswa. Pendidikan digital membutuhkan guru yang mampu menuntun orientasi, mengubah teknologi dari ancaman menjadi peluang.
Literasi digital yang diajarkan oleh guru kini tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat saja. Hal ini jauh lebih penting adalah kemampuan menilai fakta, memahami konteks, membaca data, dan mengenali manipulasi opini. Guru memegang peran vital dalam memperkuat daya tahan anak terhadap hoaks, bias algoritma, dan jebakan viralitas. Di sinilah peran guru berfungsi sebagai penjaga akal sehat publik, sesuatu yang tak dapat digantikan oleh mesin secerdas apa pun. Digitalisasi juga membuka ruang kolaborasi yang tak terbatas. Guru mampu menciptakan ekosistem belajar yang melampaui dinding kelas, menghubungkan siswa dengan dunia industri, komunitas kreatif, hingga jaringan global yang memperkaya pengalaman belajar.
Namun, agar kolaborasi ini efektif, negara harus memastikan ketersediaan infrastruktur digital yang merata. Tanpa keberpihakan kebijakan, digitalisasi hanya memperlebar jurang ketimpangan antarwilayah.Pada akhirnya, transformasi digital harus menempatkan guru sebagai pengarah nilai, bukan korban perubahan. Pihak Guru juga perlu diberikan pelatihan, ruang kreativitas, dan kepercayaan publik untuk membawa kelas menuju pembelajaran abad ke 21. Ketika teknologi dan humanisme menyatu, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang cerdas tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Sinergi Dinas DKP3 dan IKA-UB Probolinggo: Talkshow Pesta Mangga 2025 Lahirkan Banyak Terobosan Baru

Probolinggo, Berdampak.net – Rangkaian Pesta Mangga Kota Probolinggo 2025 semakin semarak dengan hadirnya talkshow bertema “Mangga Kota Probolinggo, Identitas yang Terus Menyala” pada Minggu (23/11) malam.

Diskusi berlangsung menarik, berbobot dan kaya akan gagasan, membahas strategi mempertahankan serta menguatkan branding Probolinggo sebagai Kota Mangga.

Beragam pertanyaan masyarakat mengemuka terkait masa depan mangga Kota Probolinggo.

Sebagai respons, Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) menegaskan komitmen mengembalikan kejayaan mangga sebagai identitas kota, berdampingan dengan komoditas anggur.

Kepala DKPPP, Fitriawati Jufri, mengakui adanya tantangan besar, terutama berkurangnya lahan produktif untuk kebun mangga.

“Luas lahan kebun mangga semakin berkurang, yang produktif hanya separuh. Karena itu, dibutuhkan pemikiran bersama untuk mengembalikan branding Kota Mangga. Semoga muncul ide kreatif yang bisa menjadi bekal meningkatkan produksi,” ujarnya.

Pj Sekda Kota Probolinggo, Rey Suwigtyo, yang turut menjadi narasumber, menyampaikan bahwa pemerintah telah berupaya memperkuat branding mangga dan anggur melalui regulasi berupa peraturan daerah.

Namun intervensi tambahan diperlukan untuk menjaga agar potensi mangga arum manis dan manalagi tidak diklaim daerah lain.

“Kami akan membuat regulasi yang memungkinkan, seperti satu warga menanam mangga dan anggur di rumah masing-masing. Pemerintah juga akan memberikan subsidi bibit, pendampingan dari penanaman hingga pengembangan, serta dukungan bagi warga pemilik kebun mangga dan anggur,” jelas Tiyok, sapaan akrabnya.

Tiyok juga menyoroti pentingnya aspek budaya dalam pengembangan olahan mangga. Ia mendorong revitalisasi kuliner tradisional berbahan mangga.

“Dulu ketan mangga jadi suguhan di rumah-rumah, tapi sekarang sudah jarang. Mari kita angkat kembali budaya itu,” ujarnya.

Sementara itu, intelektual muda sekaligus Ketua Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA-UB) Probolinggo Raya, Tri Septa Agung Pamungkas, mendukung Pesta Mangga sebagai agenda kalender rutin tahunan.

Ia menilai event-event di Kota Probolinggo perlu diperkaya dengan unsur edutainment, menggabungkan unsur entertainment dan edukasi. Talkshow malam itu menjadi langkah awal yang tepat. Ke depan perlu disusul event-event lanjutan tentang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Mangga Kota Probolinggo.

Menurutnya, meski Probolinggo dikenal sebagai Kota Mangga, kenyataan di lapangan belum benar-benar mencerminkan identitas tersebut.

“Mangga Probolinggo memiliki diferensiasi keunikan yang dipengaruhi kondisi alam strategis. Ada pengaruh angin gending yang membantu penyerbukan pohon Mangga, pengaruh abu vulkanis dari gunung Bromo dan pegunungan yang menyuburkan tanah, serta pengaruh letak di kawasan pesisir yang menjadikan cita rasa Mangga-nya khas,” ujar Tri Septa Agung.

Ia juga menyoroti pentingnya membuat road-map pertanian, pusat kajian inovasi pertanian, dan wisata edukasi pertanian yang estetik. (fj)

Menakar Karakter Orang Madura dari Sejarah, Budaya, dan Realitas Sosial

Oleh: Ponirin Mika Ketua Umum Jong Madura Probolinggo Raya

Sebagai bagian dari masyarakat Madura sekaligus saksi hidup perjalanan budayanya, saya sering merenungi bagaimana sejarah dan lingkungan telah membentuk karakter orang Madura hingga kini. Madura, yang sejak lama dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam kering dan lahan yang tidak selalu bersahabat, secara alami menumbuhkan etos hidup yang berbeda. Di tanah yang tidak terlalu subur, masyarakat kami belajar bahwa bertahan hidup tidak bergantung pada kemurahan alam, melainkan pada kerja keras, ketekunan, dan usaha tanpa henti. Maka tidak mengherankan jika prinsip “kerja lebih keras dari orang lain” begitu melekat dalam jiwa orang Madura.

Karakter itu kemudian bertransformasi menjadi etos sosial dan ekonomi yang menonjol: kemandirian, keuletan, dan keberanian mengambil risiko. Banyak orang Madura merantau bukan karena ingin meninggalkan tanah kelahiran, melainkan karena dorongan untuk mencari ruang hidup yang lebih luas. Sikap hemat, daya tahan menghadapi kesulitan, dan motivasi kuat untuk memperbaiki keadaan adalah nilai yang saya lihat setiap hari — baik pada para perantau maupun masyarakat yang tetap tinggal di kampung halaman.

Dalam pergaulan antarpribadi, orang Madura sering dikenal tegas, jujur, dan lugas. Kami diajarkan untuk menyatakan pendapat apa adanya, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menjaga integritas. Bagi kami, harga diri dan kejujuran adalah dua hal yang tidak boleh ditawar. Lebih baik dianggap keras, daripada hidup dengan kepura-puraan. Prinsip itulah yang membentuk karakter pribadi orang Madura dalam mengambil keputusan, berinteraksi, maupun menjaga komitmen.

Satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Madura adalah agama dan tradisi. Islam bukan sekadar identitas, melainkan fondasi moral yang mengatur cara kami berperilaku. Penghormatan kepada kiai, kepatuhan pada nilai-nilai keagamaan, dan kuatnya tradisi lokal seperti gotong royong dan solidaritas sosial menjadi unsur penting dalam membangun harmoni di tengah masyarakat. Perpaduan antara religiusitas dan adat inilah yang melahirkan komunitas yang kokoh dan penuh rasa persaudaraan.

Saya perlu menegaskan bahwa stereotip negatif yang sering dilekatkan pada orang Madura-seperti anggapan keras, kasar, atau mudah marah—sering kali tidak mencerminkan kenyataan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa citra tersebut lahir dari generalisasi berlebihan atas kasus-kasus tertentu. Padahal, karakter sejati orang Madura jauh lebih kompleks dan manusiawi: ada moralitas yang kuat, solidaritas tanpa batas, kejujuran, dan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Nilai-nilai positif ini justru menjadi perekat yang membuat masyarakat Madura terus bertahan dan berkembang.

Memahami karakter orang Madura membutuhkan kacamata yang jernih, bukan sekadar menilai dari stereotip. Kita harus melihatnya melalui sejarah, budaya, dan realitas sosial yang membentuknya. Orang Madura adalah cermin ketegasan, kemandirian, religiusitas, dan dedikasi pada kerja keras. Mereka adalah bagian penting dari mozaik kebinekaan Indonesia-sebuah kekayaan yang harus dihargai, bukan disederhanakan.

Menghadirkan Iklim Ilmiah dan Harmoni Lintas Agama, FKUB Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional Agama, Etika dan Perdamaian

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menggelar Seminar Nasional, dengan tema “Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural” . Dalam acara ini juga dilakukan pengukuhan Pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) Periode 2025-2026. Pelaksanaan acara pada tanggal 26 Nopember 2025 di Aula PD. Muhammadiyah Kota Probolinggo Jalan Sutoyo.
Acara ini dihadiri Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og. (K), M.Kes, jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo dan peserta seminar berjumlah 122 orang dari berbagai unsur masyarakat terutama organisasi guru dan ormas keagamaan di kota Probolinggo. Sebagai narasumber adalah Ahmad Sahidah, PhD. Dosen Program Pascasarjana S3 Universitas Nurul Jadid Paiton – Probolinggo dan Romo Ignasius Budiono. O.Carm Dosen STFT Widya Sasana Malang.

Walikota Probolinggo dokter Aminudin dalam sambutannya menyampaikan dalam sambutannya bahwa kota Probolinggo adalah kota yang kaya keberagaman agama, budaya, dan berbagai tradisi hidup berdampingan dan saling melengkapi. “Keragaman yang ada ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi juga investasi peradaban. Namun keberagaman hanya akan menjadi berkah apabila kita kelola dengan prinsip saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga”, ujar Aminudin

Dalam kesempatan ini Aminudin juga mengukuhkan pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) yang dibentuk oleh FKUB Kota Probolinggo sebagai forum bagi anak-anak muda lintas agama.

Sementara itu Dr. Ahmad Hudri Ketua FKUB Kota Probolinggo dalam sambutannya menjelaskan peran strategis FKUB. “FKUB adalah jembatan dialog, rumah bersama, dan ruang perjumpaan bagi seluruh elemen masyarakat lintas agama. Jajaran FKUB terus hadir di tengah masyarakat, menghadirkan kesejukan, memastikan ruang publik tetap inklusif, serta memperkuat ketahanan sosial di Kota Probolinggo”, jelas Hudri

Lebih lanjut Hudri menambahkan bahwa tema seminar tentang Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural, sangat relevan dengan kebutuhan bangsa, terlebih menjelang tahun-tahun politik dan perubahan sosial yang begitu cepat.

“Tantangan kita bukan hanya menjaga kedamaian, tetapi juga memastikan agar nilai-nilai etika tetap menjadi fondasi dalam setiap interaksi sosial dan kebijakan publik.
Perdamaian tidak lahir semata-mata dari ketiadaan konflik, melainkan dari hadirnya keadilan, dialog, dan sikap saling memahami. Agama, yang pada dasarnya membawa misi kemanusiaan dan kasih sayang, harus mampu menjadi kompas moral dalam perjalanan masyarakat multikultural”, tandas Hudri.

Usai seremoni pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh kedua narasumber. Kesempatan pertama pemaparan pemateri disampaikan oleh Romo Ignasius Budiono. Romo Budiono menyampaikan bahwa dalam konteks masyarakat modern, ada pilar penting untuk menemukan titik tengah kehidupan bersama, yakni: Etika Lintas Iman (Interfaith Ethics)
“Setiap agama membawa pesan universal tentang kebaikan. Ketika nilai-nilai ini dipertemukan, lahirlah etika bersama yang mampu menjadi pedoman harmoni dalam masyarakat. Kota Probolinggo perlu terus membangun ruang dialog yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi masuk ke dalam implementasi kehidupan sehari-hari”, jelas Budiono.

Budiono menambahkan tentang pentingnya penguatan Moderasi Beragama. Bahwa Moderasi bukan memoderatkan ajaran agama, tetapi memoderatkan cara kita memahami dan mengekspresikan agama. Sikap anti-ekstrem, anti-kekerasan, dan anti-diskriminasi harus menjadi prinsip yang terus ditanamkan melalui pendidikan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik.

Sementara itu narasumber kedua Ahmad Sahidah memaparkan mengenai pentingnya memperkuat literasi agama yang inklusif, mengembangkan platform dialog antar komunitas, membangun kebijakan negara yang adil bagi semua kelompok agama dan perlunya mengedepankan etika kemanusiaan universal sebagai dasar interaksi.

“Agama dapat menjadi sumber etika universal untuk perdamaian. Dalam Masyarakat multikultural butuh ruang perjumpaan yang menghormati perbedaan. Titik tengah ditemukan melalui dialog, pendidikan, keadilan, dan empati.
Perdamaian terjadi ketika agama dan etika berjalan bersama”, tutup Sahidah.

Usai pemaparan materi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Sesi tanya jawab direspon dengan sangat antusias oleh peserta hadir yang berjumlah 122 orang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, acara seminar ditutup hingga menjelang waktu magrib tiba.