Tegaskan sebagai Kampus dengan Pencetak Guru Profesional Terbaik, IKA UM Probolinggo Raya Perkuat Kolaborasi dalam Rangka HGN 2025

Probolinggo, Berdampak.net – Universitas Negeri Malang (UM) melalui Ikatan Alumninya IKA UM Probolinggo Raya kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang bukan hanya mampu melahirkan alumni guru profesional terbaik di probolinggo raya tetapi juga mampu mendorong kolaborasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) guna memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2025.

Tampak hadir jajaran pengurus dan dewan penasehat IKA UM Probolinggo Raya yang juga mengambil bagian dalam kolaborasi di HGN ini. Dimana pada salah satu event HGN 2025 IKA UM mengirimkan dosen Ediyanto MpD Ph.D sebagai Juri Lomba Inovasi Pembelajaran berbasis STEAM, KKA, AI dan VR/AR jenjang PAUD dan SD. Tidak hanya itu bentuk kolaborasi di puncak HGN IKA UM dan Disdikbud mengadakan seminar nasional pendidikan yang pemateri nya adalah guru besar Universitas Negeri Malang Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd, Dr. Adip Wahyudi, M.Pd Dosen departemen geografi dan Alumni yang sukses dalam profesi keguruan seperti Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd dan M Facrur Rozi Spd , M.pd serta Dr. Siti Romlah sendiri sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo.

Dr. Siti Romlah, dalam laporannya bahwa rangkai HGN tahun ini diwarnai dengan beragam kegiatan seperti digital learning, lomba-lomba, turnamen voli, karya inovasi guru, pemilihan kepala sekolah dan guru inspiratif, fashion show busana Pendalungan, hingga kompetisi inovasi dan seminar pendidikan yang berkolaborasi dengan IKA UM Probolinggo Raya.

Khusus untuk inovasi guru Pemerintah Kota Probolinggo, Jawa Timur, mencatatkan prestasi di bidang pendidikan dengan meraih rekor inovasi guru terbanyak di Indonesia sebanyak 2.302 inovasi karya guru dari seluruh penjuru kota diunggah dan diakui secara nasional oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Walikota Probolinggo dr. Aminuddin memberikan apresiasi tinggi kepada para guru dan mengingatkan pentingnya inovasi dan kolaborasi untuk meningkatkan mutu pendidikan serta berharap rekor ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional tetapi juga peluang untuk meraih penghargaan internasional. (rh)

Kota Probolinggo Raih Rekor MURI Inovasi Pendidikan, Ketua IKA-UB Apresiasi Walikota dan Kepala Disdikbud

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menggelar tasyakuran Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 sekaligus Penganugerahan Guru Inspiratif dan Inovatif Tahun 2025 di Paseban Sena, Selasa (25/11/2025).

Disdikbud juga mengumumkan capaian membanggakan, yakni rekor inovasi guru terbanyak se-Indonesia dengan total 2.302 inovasi (masih terus bertambah lagi).

Acara yang mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” ini turut dihadiri Direktur Marketing MURI Indonesia, Awan Rahargo, yang menyerahkan langsung piagam rekor MURI atas inovasi guru terbanyak di tingkat nasional kepada Walikota mewakili seluruh guru di Kota Probolinggo.

Rekor tersebut lahir dari geliat aktif para pendidik yang telah mengunggah ribuan karya inovasi pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Siti Romlah, dalam laporannya menjelaskan bahwa puncak HGN tahun ini juga dirangkai dengan beragam kegiatan seperti digital learning, lomba-lomba, turnamen voli, karya inovasi guru, pemilihan kepala sekolah dan guru inspiratif, fashion show busana Pendalungan, hingga kompetisi inovasi pembelajaran.

“Selamat hari guru kepada seluruh guru di Kota Probolinggo khususnya. Tahun ini sungguh hebat dan meriah. Tadi sudah ditunjukkan dengan cetak rekor MURI inovasi bidang pendidikan oleh guru terbanyak se-nasional setelah 9 bulan kita kerja keras bersama. Pencapaian ini sangat luar biasa dan tidak mudah untuk didapatkan.” jelas Siti Romlah.

Ketua IKA-UB Probolinggo Raya, Tri Septa Agung Pamungkas memberikan apresiasi dan pujian kepada Walikota Probolinggo dan Kepala Disdikbud. “Atas capaian Rekor MURI untuk inovasi pendidikan, IKA-UB mengucapkan selamat kepada Walikota Bapak Dokter Aminudin dan Kepala Disdikbud Ibu Siti Romlah. Beliau berdua menjadi sosok inspirator, role model, dan tokoh penggerak dalam majunya ekosistem pendidikan di Kota Probolinggo. Hadirnya rumah inovasi yang diinisiasi Bang Dokter Aminudin dan Bunda Siti Romlah, mampu menggerakkan dan menjadi trigger para guru di Kota Probolinggo untuk berlomba-lomba melahirkan ribuan karya inovasi dengan beragam spektrum tema. Rekor MURI itu sebuah capaian prestisius dan membanggakan. Dan itu lahir di era kepemimpinan Walikota Dokter Aminudin dan Kepala Disdikbud-nya Bu Siti Romlah. Prestasi ini menjadi bukti sahih kolaborasi yang solid antara pemimpin daerah, pemimpin dinas dan para guru akhirnya melahirkan capaian yang membanggakan. Sekali lagi, Selamat,” kata Ketua IKA-UB Probolinggo, Tri Septa Agung. (fj)

Kolaborasi Dinas Pendidikan Kota Probolinggo dengan IKA-UB Probolinggo: Ketua IKA-UB jadi Dewan Juri Pemilihan Kepala Sekolah Inspiratif

Probolinggo, Berdampak.net – Puluhan Kepala Sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Probolinggo antusias mengikuti kompetisi Pemilihan Kepala Sekolah Inspiratif yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo. Acara bergengsi ini menjadi ajang bagi para pendidik untuk menunjukkan dedikasi, kreativitas, serta inovasi dalam dunia pendidikan, sekaligus menjadi wadah apresiasi bagi mereka yang telah berkontribusi besar dalam memajukan mutu pendidikan di Kota Mangga ini.

Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Dr. Siti Romlah. Dalam sambutannya, Siti Romlah yang juga pengurus inti IKA-UB Probolinggo Raya, menyampaikan “Pentingnya kegiatan ini sebagai upaya mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme para pendidik di era yang semakin menuntut kualitas tinggi. Melalui ajang pemilihan Kepala Sekolah Inspiratif, kami berharap seluruh guru dan kepala sekolah di Kota Probolinggo semakin termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Siapa pun yang terpilih sebagai juara, harapan kami dapat memberi dampak positif bagi sekolah,” ujar Siti Romlah.

Selama tiga hari pelaksanaan, mulai Jumat, 21 November hingga Senin, 24 November 2025, para peserta Kepala Sekolah mengikuti serangkaian tahapan seleksi yang ketat. Penilaian mencakup tes tertulis makalah, penilaian portofolio, wawancara serta pemaparan best practice atau praktik baik dalam pengajaran dan pengelolaan sekolah.

Adapun yang didaulat menjadi Dewan Juri salah satunya adalah Tri Septa Agung Pamungkas (Ketua Umum IKA-UB Probolinggo Raya). Ini menjadi wujud kegiatan resiprokal dari kolaborasi strategis antara Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kota Probolinggo dengan IKA-UB Probolinggo Raya.

Ketua IKA-UB Probolinggo, Tri Septa Agung Pamungkas menilai bahwa “Kegiatan ini bukan sekadar kontestasi, tetapi juga merupakan bagian upaya pembinaan berkelanjutan terhadap tenaga pendidik. Aspek-aspek yang menjadi pilar penilaian diharapkan mampu menggambarkan kompetensi menyeluruh dari setiap peserta, baik dari segi pedagogik, manajerial, maupun inovasi yang diterapkan di lingkungan kerja masing-masing. Ajang seperti ini baik untuk membentuk iklim kompetisi positif guna meningkatkan kualitas ekosistem pendidikan di Kota Probolinggo,” ujar Tri Septa Agung.

Dalam rangkaian pemilihan Kepala Sekolah Inspiratif di Kota Probolinggo, akhirnya terpilih nama David Jonatha Badra (Kepala Sekolah SMP Negeri 6) untuk kategori SMP dan Fathor Mulyono (Kepala Sekolah SD Jrebeng Kidul) untuk kategori SD. (fj)

Kajati Jatim Resmi Menjadi Anggota Kehormatan Kavaleri, Tegaskan Komitmen Sinergitas bersama Pasmar 2 di Jawa Timur

Surabaya, Berdampak.net – Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Dr. Kuntadi, S.H., M.H., menerima Brevet Kehormatan Kavaleri Korps Marinir yang disematkan langsung oleh Komandan Pasukan Marinir 2 (Danpasmar 2) Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto di Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra Karang Pilang, Surabaya, Jawa Timur. Selasa (25/11/2025).

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian agenda kunjungan kerja Kajati Jatim ke Pasukan Marinir 2 TNI AL sebagai bentuk penguatan hubungan kelembagaan yang selaras dan berkelanjutan.

Sebelum prosesi penyematan, Kajati Jatim bersama jajaran melaksanakan peninjauan pembekalan hukum bertema Penanganan Perkara Koneksitas, yang diselenggarakan oleh Pasmar 2. Setelah itu, rombongan diajak mengikuti facility tour dan merasakan langsung pengalaman mengemudikan kendaraan tempur BMP-3F.

Agenda kemudian berlanjut pada prosesi penyematan Brevet Kavaleri dan penyerahan piagam penghargaan oleh Danpasmar 2 kepada Kajati Jatim, Wakajati, para Asisten, Kabag TU, Kajari Surabaya, Kajari Tanjung Perak, Koordinator dan Pejabat Eselon IV.

Penyematan ini menandai disahkannya para penerima brevet sebagai anggota kehormatan Kavaleri Korps Marinir.

Dalam sambutannya, Kajati Jatim, Dr. Kuntadi, menyampaikan apresiasi atas penerimaan serta penghargaan yang diberikan oleh Pasmar 2. Ia menegaskan pentingnya membangun sinergitas yang produktif sebagai fondasi tercapainya keselarasan langkah dalam menjaga kedaulatan hukum serta pertahanan dan keamanan nasional.

Sebagai penutup kunjungan, Kajati Jatim dan jajaran berkesempatan mengikuti latihan menembak menggunakan senjata sniper. Latihan ini disambut antusias dan menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Keseluruhan agenda ini menjadi wujud nyata penguatan koordinasi dan sinergitas antara Kejati Jatim dan Pasmar 2, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang semakin luas untuk mendukung pelaksanaan tugas penegakan hukum yang berintegritas serta kesiapsiagaan pertahanan negara secara profesional. (fj)

Erupsi Gunung Semeru: Status Awas dan Ancaman APG

Lumajang, Berdampak.net – Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, mempertahankan statusnya pada level tertinggi, yaitu Level IV (Awas).

Erupsi masif yang dimulai sejak 19 November 2025 terus berlanjut hingga saat ini, Selasa 25 November 2025, dengan beberapa kali letusan pagi hari yang menghasilkan kolom abu setinggi hingga 1.000 meter.

Ancaman terbesar yang diwaspadai adalah Awan Panas Guguran (APG) dan guguran lava pijar. Oleh karena itu, masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan, serta di sekitar sungai/lembah yang berhulu di puncak Semeru, mengingat bahaya luapan lahar, terutama saat musim hujan.

Dampak dari aktivitas Semeru ini sangat terasa. Tiga warga dilaporkan mengalami luka berat akibat erupsi dan kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Haryoto, Lumajang. Jumlah jiwa yang mengungsi telah mencapai ratusan orang, yang tersebar di sejumlah titik pengungsian di Lumajang dan sekitarnya.

Kerusakan fisik pun meluas, mencakup ratusan unit rumah warga yang rusak parah di desa-desa, serta kerusakan pada lahan pertanian hingga lebih dari 200 hektare. Selain itu, banyak hewan ternak yang menjadi korban dan infrastruktur listrik terganggu.

Mengingat kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius bahaya yang ditetapkan, terutama di sepanjang lembah dan aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru.

Saat ini, upaya penanganan darurat melibatkan TNI, Polri, BNPB, dan relawan untuk evakuasi, penyaluran bantuan logistik, serta pemberian dukungan psikososial (trauma healing) bagi para pengungsi. (tim)

Peran Strategis Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam menghadapi Multikulturalisme Global


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Adalah sebuah fakta ketika informasi digital mewarnai – bahkan mempengaruhi kehidupan sosial. Derasnya informasi digital berpengaruh terhadap perubahan sosial. Sekolah menjadi salah satu ruang paling penting yang juga tidak luput dari perubahan sosial sebagai akibat dari derasnya informasi digital. Oleh karena itu guru menjadi bagian penting di sekolah yang dapat mengimbangi sekaligus memfilter berbagai informasi digital yang nyaris tidak terkendali dari berbagai sumber yang tidak terverifikasi. Informasi beragam yang tidak terverifikasi inilah berpengaruh terhadap perilaku generasi. Terutama perilaku generasi dalam memandang perbedaan dan keberagaman. Baik perbedaan berpendapat maupun keberagaman suku, agama, ras dan adat istiadat.

Peran guru di sekolah utamanya untuk memastikan generasi tumbuh dengan cara pandang yang sehat, moderat, toleran, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Akan tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan intoleransi masih muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari stereotip antar kelompok, ujaran kebencian di dunia maya, hingga polarisasi identitas yang berdampak ke lingkungan sekolah. Dalam konteks inilah peran guru menjadi sangat strategis—bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai panutan sikap bijaksana dalam menghadapi kemajemukan.

Guru sebagai Role Model Moderasi dalam Keseharian

Moderasi beragama dalam konteks penyikapan terhadap perbedaan dan kemajemukan bukan sebatas teori dan jargon semata; ia adalah nilai yang hidup menyatu dalam perilaku. Siswa belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari apa yang mereka lihat dalam keseharian. Mereka melihat cara guru berbicara, menghadapi konflik, mengelola perbedaan, dan memperlakukan semua siswa secara adil merupakan bentuk pendidikan karakter yang paling penting. Sikap guru yang dapat menghargai dan menyikapi keberagaman dengan bijaksana secara otomatis menanamkan pesan bahwa perbedaan bukan permasalahan apalagi ancaman, akan tetapi merupakan khazanah yang bernilai.

Di sekolah, guru menjadi rujukan sikap moralitas bagi siswa. Ketika guru menunjukkan sikap bijaksana, tidak mudah menjastifikasi, dan bersedia mendengarkan pandangan berbeda, siswa pun belajar memahami bahwa praktik keagamaan tidak harus uniform dan bahwa keberagaman adalah keniscayaan dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.

Integrasi Nilai Moderasi dalam Pembelajaran

Transformasi nilai moderasi beragama tidak mesti selalu dilakukan melalui ceramah atau mata pelajaran agama. Guru dapat mengintegrasikannya dalam hampir semua mata pelajaran. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, guru dapat mengajak siswa menganalisis teks tentang toleransi. Pada PPKn, guru bisa memperkenalkan konsep hidup berdampingan berdasarkan konstitusi dan nilai kebangsaan. Bahkan dalam pelajaran sejarah atau IPS, guru bisa menjelaskan bagaimana peradaban besar tumbuh karena keterbukaan dan dialog antarbudaya.

Pendekatan pembelajaran berbasis program penguatan juga memberi ruang luas bagi guru untuk menciptakan kegiatan lintas iman dan lintas elemen. Misalnya proyek kebudayaan daerah, dialog keberagaman, atau kegiatan kolaboratif yang melibatkan siswa dari latar belakang berbeda. Melalui aktivitas ini, siswa tidak hanya memahami moderasi secara kognitif, tetapi juga mengalaminya dalam interaksi nyata. Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memudahkan terwujudnya integrasi sosial.

Membangun Budaya Sekolah yang Moderat

Upaya transformasi moderasi beragama tidak cukup di ruang kelas; ia harus tercermin dalam budaya lingkungan sekolah secara menyeluruh. Guru berperan besar dalam membangun ekosistem sekolah yang aman, inklusif, dan ramah terhadap keberagaman.

Guru dapat menciptakan suasana diskusi yang sehat, di mana siswa tidak takut mengungkapkan pendapat atau bertanya tentang perbedaan keyakinan. Mereka juga berperan dalam mencegah dan menanggapi perilaku perundungan berbasis identitas. Melalui kerja sama terbuka dengan berbagai entitas beragam latar belakang, guru dapat memperkuat nilai-nilai hidup damai serta memastikan sekolah menjadi ruang yang bebas dari alergi, aneh, curiga dan asing terhadap perbedaan.

Dalam era digital, guru juga memiliki tanggung jawab tambahan: memperkuat literasi digital siswa untuk menangkal konten ekstremisme, hoaks, dan ujaran kebencian. Pembiasaan Tabayyun dan berpikir kritis menjadi penting agar siswa mampu memfilter informasi dan tidak mudah terprovokasi narasi intoleran.

Tantangan Nyata di Lapangan

Tentu tidak sedikit tantangan yang dihadapi guru. Tidak semua guru memiliki kompetensi yang memadai mengenai moderasi beragama. Sebagian masih terjebak pada perspektif sektoral atau memiliki bias yang tidak disadari. Beberapa kasus di sekolah, lingkungan interaksi sosial pendidikan belum mendukung terciptanya budaya toleransi secara optimal. Bahkan, pengaruh tradisi dari lingkungan sosial bisa membuat guru tidak berani mengangkat topik-topik keberagaman.

Namun kondisi ini tidak mengurangi pentingnya peran guru. Justru kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi stakeholder pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan untuk memperkuat peningkatan kapasitas kompetensi guru melalui pendidikan moderasi, dan membangun jejaring kolaboratif untuk mendukung terciptanya ekosistem moderat dan toleran di sekolah supaya semakin memperluas dampaknya.

Ajakan dan Harapan
Adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa kompleksitas dinamika sosial, moderasi beragama menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Guru, dengan kedekatannya dengan siswa dan posisinya sebagai pendidik, memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun generasi yang tidak alergi terhadap perbedaan, tidak curiga pada keberagaman, dan mampu menjadikan sikap moderat sebagai life style.

Karena itu, dukungan kepada guru harus terus diperkuat—baik melalui kebijakan pendidikan, pengembangan kompetensi, maupun lingkungan sekolah yang inklusif. Moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab guru agama, tetapi seluruh tenaga pendidik yang berinteraksi dengan siswa setiap hari.

Pada akhirnya, masa depan toleransi Indonesia ditentukan oleh sejauh mana guru hari ini mampu menanamkan nilai-nilai inklusif, kebijaksanaan, dan kebaikan. Di tangan guru yang moderat, integrasi sosial dapat tercipta, Indonesia dapat menjadi rumah bersama di mana perbedaan dirayakan dan kedamaian menjadi identitas bangsa.