Peran Strategis Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam menghadapi Multikulturalisme Global


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Adalah sebuah fakta ketika informasi digital mewarnai – bahkan mempengaruhi kehidupan sosial. Derasnya informasi digital berpengaruh terhadap perubahan sosial. Sekolah menjadi salah satu ruang paling penting yang juga tidak luput dari perubahan sosial sebagai akibat dari derasnya informasi digital. Oleh karena itu guru menjadi bagian penting di sekolah yang dapat mengimbangi sekaligus memfilter berbagai informasi digital yang nyaris tidak terkendali dari berbagai sumber yang tidak terverifikasi. Informasi beragam yang tidak terverifikasi inilah berpengaruh terhadap perilaku generasi. Terutama perilaku generasi dalam memandang perbedaan dan keberagaman. Baik perbedaan berpendapat maupun keberagaman suku, agama, ras dan adat istiadat.

Peran guru di sekolah utamanya untuk memastikan generasi tumbuh dengan cara pandang yang sehat, moderat, toleran, dan mampu hidup bersama dalam keberagaman. Akan tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan intoleransi masih muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari stereotip antar kelompok, ujaran kebencian di dunia maya, hingga polarisasi identitas yang berdampak ke lingkungan sekolah. Dalam konteks inilah peran guru menjadi sangat strategis—bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai panutan sikap bijaksana dalam menghadapi kemajemukan.

Guru sebagai Role Model Moderasi dalam Keseharian

Moderasi beragama dalam konteks penyikapan terhadap perbedaan dan kemajemukan bukan sebatas teori dan jargon semata; ia adalah nilai yang hidup menyatu dalam perilaku. Siswa belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari apa yang mereka lihat dalam keseharian. Mereka melihat cara guru berbicara, menghadapi konflik, mengelola perbedaan, dan memperlakukan semua siswa secara adil merupakan bentuk pendidikan karakter yang paling penting. Sikap guru yang dapat menghargai dan menyikapi keberagaman dengan bijaksana secara otomatis menanamkan pesan bahwa perbedaan bukan permasalahan apalagi ancaman, akan tetapi merupakan khazanah yang bernilai.

Di sekolah, guru menjadi rujukan sikap moralitas bagi siswa. Ketika guru menunjukkan sikap bijaksana, tidak mudah menjastifikasi, dan bersedia mendengarkan pandangan berbeda, siswa pun belajar memahami bahwa praktik keagamaan tidak harus uniform dan bahwa keberagaman adalah keniscayaan dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.

Integrasi Nilai Moderasi dalam Pembelajaran

Transformasi nilai moderasi beragama tidak mesti selalu dilakukan melalui ceramah atau mata pelajaran agama. Guru dapat mengintegrasikannya dalam hampir semua mata pelajaran. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, misalnya, guru dapat mengajak siswa menganalisis teks tentang toleransi. Pada PPKn, guru bisa memperkenalkan konsep hidup berdampingan berdasarkan konstitusi dan nilai kebangsaan. Bahkan dalam pelajaran sejarah atau IPS, guru bisa menjelaskan bagaimana peradaban besar tumbuh karena keterbukaan dan dialog antarbudaya.

Pendekatan pembelajaran berbasis program penguatan juga memberi ruang luas bagi guru untuk menciptakan kegiatan lintas iman dan lintas elemen. Misalnya proyek kebudayaan daerah, dialog keberagaman, atau kegiatan kolaboratif yang melibatkan siswa dari latar belakang berbeda. Melalui aktivitas ini, siswa tidak hanya memahami moderasi secara kognitif, tetapi juga mengalaminya dalam interaksi nyata. Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memudahkan terwujudnya integrasi sosial.

Membangun Budaya Sekolah yang Moderat

Upaya transformasi moderasi beragama tidak cukup di ruang kelas; ia harus tercermin dalam budaya lingkungan sekolah secara menyeluruh. Guru berperan besar dalam membangun ekosistem sekolah yang aman, inklusif, dan ramah terhadap keberagaman.

Guru dapat menciptakan suasana diskusi yang sehat, di mana siswa tidak takut mengungkapkan pendapat atau bertanya tentang perbedaan keyakinan. Mereka juga berperan dalam mencegah dan menanggapi perilaku perundungan berbasis identitas. Melalui kerja sama terbuka dengan berbagai entitas beragam latar belakang, guru dapat memperkuat nilai-nilai hidup damai serta memastikan sekolah menjadi ruang yang bebas dari alergi, aneh, curiga dan asing terhadap perbedaan.

Dalam era digital, guru juga memiliki tanggung jawab tambahan: memperkuat literasi digital siswa untuk menangkal konten ekstremisme, hoaks, dan ujaran kebencian. Pembiasaan Tabayyun dan berpikir kritis menjadi penting agar siswa mampu memfilter informasi dan tidak mudah terprovokasi narasi intoleran.

Tantangan Nyata di Lapangan

Tentu tidak sedikit tantangan yang dihadapi guru. Tidak semua guru memiliki kompetensi yang memadai mengenai moderasi beragama. Sebagian masih terjebak pada perspektif sektoral atau memiliki bias yang tidak disadari. Beberapa kasus di sekolah, lingkungan interaksi sosial pendidikan belum mendukung terciptanya budaya toleransi secara optimal. Bahkan, pengaruh tradisi dari lingkungan sosial bisa membuat guru tidak berani mengangkat topik-topik keberagaman.

Namun kondisi ini tidak mengurangi pentingnya peran guru. Justru kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi stakeholder pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan untuk memperkuat peningkatan kapasitas kompetensi guru melalui pendidikan moderasi, dan membangun jejaring kolaboratif untuk mendukung terciptanya ekosistem moderat dan toleran di sekolah supaya semakin memperluas dampaknya.

Ajakan dan Harapan
Adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa kompleksitas dinamika sosial, moderasi beragama menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Guru, dengan kedekatannya dengan siswa dan posisinya sebagai pendidik, memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membangun generasi yang tidak alergi terhadap perbedaan, tidak curiga pada keberagaman, dan mampu menjadikan sikap moderat sebagai life style.

Karena itu, dukungan kepada guru harus terus diperkuat—baik melalui kebijakan pendidikan, pengembangan kompetensi, maupun lingkungan sekolah yang inklusif. Moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab guru agama, tetapi seluruh tenaga pendidik yang berinteraksi dengan siswa setiap hari.

Pada akhirnya, masa depan toleransi Indonesia ditentukan oleh sejauh mana guru hari ini mampu menanamkan nilai-nilai inklusif, kebijaksanaan, dan kebaikan. Di tangan guru yang moderat, integrasi sosial dapat tercipta, Indonesia dapat menjadi rumah bersama di mana perbedaan dirayakan dan kedamaian menjadi identitas bangsa.

Bupati Rio Dorong Situbondo Naik Kelas Melalui Sinergi dengan Dunia Usaha

Situbondo, Berdampak.net – Beberapa waktu lalu Bupati Situbondo berkunjung ke PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI) – Paiton energy dalam rangka menindaklanjuti program kerja sama yang telah kita sepakati bulan September kemarin, salah satunya mengenai pemanfaatan fly ash bottom ash.

Silaturahmi Rio ini menegaskan komitmennya untuk mendukung kemajuan Kabupaten Situbondo melalui kerja sama strategis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo dengan multi pihak.

Seperti kita ketahui bawah berdasarkan peraturan pemerintah terbaru, fly ash dan bottom ash kini tidak lagi tergolong limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), sehingga pemanfaatannya dapat diperluas untuk mendukung pembangunan daerah seperti bahan paving, urukan jalan, dan kebutuhan lain yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tidak hanya itu bupati Situbondo juga berharap program yang telah berjalan dan terbukti selama ini dengan POMI paiton energy seperti kampung blekok , hutan rakyat selobanteng , bank sampah, operasi katarak, pembinaan umkm dan literasi membaca melalui besuki membaca untuk bisa di lanjutkan dengan program program lain yang searah dengan Blue print Situbondo Naik Kelas yang tidak hanya sekadar tagline. Bupati Situbondo menegaskan bahwa Pemkab Situbondo telah menyiapkan rencana besar untuk mendorong daerahnya naik kelas melalui sinergi dengan dunia industri. (fiq)

Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Ini perusahaan perusahaan peduli Kabupaten Probolinggo Sehat yang mendapatkan penghargaan

Probolinggo, Berdampak.net – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo bersama jajaran rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta serta puskesmas se-Kabupaten Probolinggo menggelar Gebyar Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 di pelataran Stadion Gelora Merdeka Kraksaan, Sabtu (22/11/2025).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE., MM., Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo Mohammad Anggidigdo, perwakilan Forkopimda serta sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.
Rangkaian Gebyar HKN dimulai dengan senam bersama dan dilanjutkan jalan sehat.

Panitia juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang berbagai lomba yang digelar dalam rangka HKN ke-61 salah satunya Pengumuman dan pemberian penghargaan terkait lomba video K3 Perkantoran dan GP2SP.

Beberapa perusahaan penerima penghargaan diantaranya : Lomba video K3 : Juara 1 : PT POMI, Juara 2 : PT SASA INTI, Juara 3 : PT Secco Nusantara, Juara, harapan 1 : PT Dharma Sukses Niaga dan
Juara harapan 2 : PT SGN PG Wonolangan

Untuk Lomba GP2SP : Juara 1 : PT Secco Nusantara, Juara 2 : IHC RS Wonolangan
Dan Juara 3 : RS Graha Sehat. Sedangkan lomba Responsif K3 di raih oleh PT YTL Jawa Timur, Kopkar Usaha Bakti, PT SGN PG Gending, PT Mitra Energi Sembilan dan PT Sinar Biru Cemerlang

Gus haris dan kepala dinas kesehatan berharap Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi seluruh perusahaan untuk terus berinovasi dan tahun 2026 semakin banyak perusahaan yang berpartisipasi dan berkomitmen mewujudkan Kabupaten Probolinggo Sehat.

Pada momentum juga di lakukan launching Unit Kesehatan Wisata yang akan mendukung sektor pariwisata daerah. Ini merupakan inovasi untuk memperkuat layanan kesehatan di kawasan wisata unggulan seperti Bromo, Pantai Bentar dan Bermi di mana Pariwisata adalah peluang besar selain industri atau perusahaan yang ada di Probolinggo. Dengan Unit kesehatan ini akan menjadi penopang titik-titik mercusuar wisata Probolinggo menjadi lebih SAE. (fiq)

Kolaborasi Multi Pihak, Festival 7 Ranu Sukses Berdampak pada Ekonomi Masyarakat

Probolinggo, Berdampak.net – Festival 7 Ranu yang diselenggarakan sejak 7 – 16 November 2025 dinilai banyak pihak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi lokal dan menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Festival 7 Ranu merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Probolinggo di bawah kepemimpinan Gus Harris dan Ra Fahmi untuk memperkenalkan keindahan dan kekayaan kearifan lokal di tujuh danau alami, yaitu Ranu Segaran, Ranu Agung, Ranu Satsit, Ranu Klakah, Ranu Tunjung, Ranu Gedang, dan Ranu Lamongan. Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan seni budaya, wisata dan petualangan alam, serta sport tourism, termasuk prosesi penyatuan tujuh mata air, lomba perahu naga, dan kegiatan glamping.

Salah satu yang menonjol dari sukses nya acara ini adalah kebersamaan dan sinergi multi sektor baik dari pemerintah , swasta , komunitas, media dan masyarakat. Terlebih dengan dukungan Paiton Energy dan POMI untuk pengembangan ekowisata 7 Ranu adalah penyediaan infrastruktur ramah lingkungan berupa eco paving block FABA yang digunakan di area festival dan kawasan ekowisata di sekitar tujuh Paiton Energy – POMI turut berkontribusi melalui penyediaan lebih dari 160.000 unit eco paving block FABA dari total 350.000 unit dengan luas pemanfaatan mencapai 8.140 m², serta 600 ton material FABA untuk alas dan jalan akses menuju area festival. Produk ini digunakan di sejumlah desa sekitar kawasan danau, antara lain Desa Segaran, Tlogoargo, Andungsari, dan Ranuagung.

Diketahui Fly Ash and Bottom Ash (FABA) merupakan abu sisa pembakaran batu bara dari proses pembangkitan listrik di PLTU yang Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, FABA dikategorikan sebagai Non B3 (Non-Bahan Berbahaya dan Beracun) dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bangunan ramah lingkungan, seperti paving block, batako, bata interlock, pemadatan tanah, pembenah tanah dan beton jalan desa.

Produk eco paving block FABA dari Paiton Energy – POMI telah melalui uji mutu di Laboratorium Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan memiliki kelas mutu K300 ke atas, sehingga memenuhi standar kualitas konstruksi. Selain memperkuat infrastruktur ekowisata, pemanfaatan FABA ini juga membuka peluang ekonomi sirkular, mendorong produksi produk unggulan desa, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

President Director PT Paiton Energy, Fazil Erwin Alfitri, mengatakan bahwa keterlibatan Perusahaan dalam program Ekowisata 7 Ranu merupakan bagian dari komitmen Paiton Energy dalam membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan di wilayah operasional. Perusahaan percaya pengembangan ekowisata yang berakar pada potensi alam dan kearifan lokal dapat menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat Probolinggo.

Pemanfaatan FABA sebagai material pembangunan infrastruktur bukan sekadar inovasi pengelolaan limbah, tapi wujud aksi nyata mendukung pembangunan berkelanjutan untuk memperkuat masa depan Indonesia. Kami juga ingin menunjukkan bahwa praktik ekonomi sirkular bisa berjalan seiring dengan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Fazil Erwin Alfitri.

President Director PT POMI, Sugiyanto, mengatakan bahwa kontribusi Perusahaan pada Festival 7 Ranu merupakan bentuk nyata sinergi multipihak dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

“Perusahaan melihat potensi besar dalam kolaborasi lintas sektor seperti ini. Dukungan infrastruktur FABA tidak hanya membantu kesiapan kawasan wisata, tetapi juga menjadi contoh penerapan prinsip green industry yang mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Sugiyanto.

Dalam hal ini dukungan multipihak termasuk swasta melalui program CSR dalam penyelenggaraan Festival 7 Ranu Probolinggo sangat penting untuk ikut mempromosikan dan mengangkat potensi wisata alam dan budaya lokal Probolinggo ke tingkat nasional.  

PT Paiton Energy – POMI telah melaksanakan program CSR sejak tahun 2000 yang dirancang setiap tahun, dan dipantau oleh Komite Pengembangan Masyarakat. Program dikategorikan dalam tiga fokus yaitu mendukung keberlanjutan Perusahaan (pembangkit), keberlanjutan sosial ekonomi, serta keberlanjutan energi dan lingkungan.

PT Paiton Energy adalah produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) pertama dan terbesar yang beroperasi di Indonesia. Pemegang saham Perusahaan terdiri dari RATCH Group, Nebras Power, dan Medco Daya Energi Sentosa (MDES). (fiq)

Masyarakat dan Prajurit Baret Ungu Menyatu di Panggung Hiburan HUT Ke-80 Korps Marinir

Jakarta, Berdampak.net – Dispen Kormar TNI Angkatan Laut. (Jakarta). Serangkaian kegiatan dalam rangka HUT ke-80 Korps Marinir TNI Angkatan Laut resmi ditutup dengan Panggung Hiburan Rakyat yang digelar di Lapangan Brigif 1 Marinir Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (17/11/2025). Acara ini menjadi puncak perayaan yang menggabungkan kekuatan TNI, keceriaan masyarakat, dan apresiasi kepada para prajurit serta keluarga besar Korps Baret Ungu.

Sejak pagi, ribuan prajurit, keluarga, dan masyarakat umum memadati lokasi acara untuk menikmati hiburan dari berbagai artis papan atas. Penampilan band ska legendaris Tipe-X membuka kemeriahan dengan 10 lagu hits yang disambut gegap gempita oleh para penonton. Setelahnya, DJ Una tampil memanaskan panggung dengan set musik elektronik yang dinamis, diikuti kolaborasi musik akustik oleh Delisa Herlina dan Badicustik, serta tembang-tembang romantis dari Kagum Band.

Panglima Korps Marinir (Pangkormar) Letnan Jenderal TNI (Mar) Dr. Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP., dalam menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit dan masyarakat yang telah terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan sosial, upacara, dan kesiapsiagaan dalam rangka HUT ke-80 ini. “Panggung hiburan ini bukan semata hiburan, tetapi wujud syukur dan kebersamaan antara Marinir dan rakyat. 80 tahun Marinir berdiri, bersama rakyatlah kekuatan kami terbentuk,” ujarnya.

Acara semakin meriah dengan kehadiran Nella Kharisma bersama Donel Musik, yang membawakan deretan lagu dangdut populer yang membuat suasana semakin cair dan penuh keakraban. Tidak hanya itu, sepanjang acara juga hadir bazar UMKM, pameran alutsista, hingga permainan anak-anak yang menambah semarak suasana.

Panggung hiburan ini menutup rangkaian HUT ke-80 yang telah dimulai sejak awal November. Mengusung tema “Bersama Rakyat Membangun Indonesia Maju”, Korps Marinir melalui kegiatan sosial, upacara militer, demonstrasi alutsista hingga panggung hiburan, sekali lagi menegaskan perannya sebagai pasukan rakyat yang setia, profesional, dan senantiasa hadir membawa manfaat bagi masyarakat dan bangsa. (fj)

Universitas Negeri Malang Lakukan Pemberdayaan Kelompok Tani Bawang Merah di Kabupaten Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Sebagai bagian dari Program Pengabdian Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025, melalui Universitas Negeri Malang melakukan pelatihan diversifikasi produk bawang merah diselenggarakan untuk meningkatkan nilai jual komoditas bawang merah di Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah mindset petani bawang merah yang awalnya hanya sebagai produsen bawang merah mentah untuk mencoba untuk memperoduksi olahan bawang merah. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai produk olahan bawang merah yang dapat memperkaya pilihan pasar dan membuka peluang ekonomi baru bagi para petani. Pelatihan dilaksanakan di Balai Desa Tegal Rejo, Kecamatan Dringu, dengan melibatkan petani bawang merah dari berbagai kelompok tani yang ada di tegal Rejo, Curah Sawo, dan Watuwungkuk.

Pelatihan ini dipimpin oleh tim ahli yang terdiri dari Dr. Adip Wahyudi, M.Pd, Prof. I Komang Astina, M.S., Ph.D, serta Melati Julia Rahma, S.P., M.Ling. Mereka berfokus pada pemberdayaan kelompok tani dengan cara mengajarkan teknik-teknik diversifikasi produk. Dalam sesi ini, peserta diajarkan cara mengolah bawang merah menjadi berbagai produk bernilai tambah, yaitu bawang goreng, minyak bawang dan bubuk bawang. Hal ini diharapkan dapat membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan penghasilan mereka, dengan tidak hanya mengandalkan penjualan bawang merah mentah.

Selain materi pelatihan, kelompok tani juga menerima bantuan alat pengolah bawang merah yang sangat dibutuhkan dalam proses produksi. Alat-alat seperti mesin pemotong, peniris bawang, pemroses bubuk bawang merah dan juga untuk pengemasan produk, dan alat lainnya diserahkan langsung kepada kelompok tani.

“Kami berharap bantuan alat ini dapat membantu petani dalam mengolah bawang merah dengan lebih efisien dan berkualitas tinggi, sehingga hasil olahan dapat dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi,” ujar Prof. I Komang Astina, Ph.D, yang turut memberikan dukungan dalam pelatihan.

Para peserta terlihat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Selain mendapatkan pengetahuan baru, mereka juga merasakan manfaat langsung dari bantuan alat yang diberikan.

“Dengan adanya alat baru ini, kami tidak lagi kesulitan dalam mengolah bawang merah. Proses produksi menjadi lebih cepat, dan kami bisa menghasilkan lebih banyak produk,” kata salah satu petani, Siti Nur, yang merupakan anggota Kelompok Tani Tegal Rejo.

Dalam sesi pelatihan, peserta juga diberikan pengetahuan tentang pentingnya pengemasan yang menarik dan strategi pemasaran produk. Mereka diajarkan cara mengemas produk olahan bawang merah dengan kemasan yang menarik dan ramah lingkungan, serta cara memasarkan produk melalui platform online dan toko-toko lokal. Hal ini bertujuan untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk olahan bawang merah dari Probolinggo.

Program ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang terlibat untuk turut serta dalam pengabdian masyarakat. Mahasiswa turut membantu dalam proses pelatihan, pengenalan alat, dan memberikan saran-saran untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat diimplementasikan secara langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pelatihan diversifikasi produk bawang merah dan bantuan alat pengolah ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi kelompok tani di Kabupaten Probolinggo untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian mereka. Dengan diversifikasi produk, diharapkan para petani bisa mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga mereka. Program ini menjadi langkah awal yang penting untuk mendorong keberlanjutan sektor pertanian di Probolinggo, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal. (fj)