Adab, Kesopanan, Etik, Etika dan Estetika

Oleh M Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama,Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan ( RKH ABD MAJID Pengasuh PON-PES MUBA) Etika dan estetika sopan santun sangat erat kaitannya dengan etika komunikasi dalam ajaran Al-Qur’an. Sopan santun tidak hanya soal perilaku, tetapi juga bagaimana cara penyampaian, terutama dalam berbicara. Ia menekankan bahwa etika berbicara harus memperhatikan aspek keindahan (estetika) sehingga pesan dapat diterima dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang lain ( Prof Dr Quraish Shihab MA ) Adab adalah sikap moral yang didapat dari proses pendidikan dan berlaku umum dalam pergaulan sosial, sedangkan akhlak adalah sikap moral yang berasal dari proses ibadah kepada Allah SWT dan bersifat lebih mendalam. Perbedaan utamanya terletak pada sumber dan motivasi: adab bersumber dari pelajaran dan aturan, sementara akhlak bersumber dari hati yang ikhlas karena ibadah ( Ustadz Adi Hidayat ) . Etik sebuah ilmu tentang prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku benar dan salah, sedangkan kesopanan adalah penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam tindakan sehari-hari untuk menunjukkan rasa hormat, santun, dan tata krama saat berinteraksi dengan orang lain ( Raden Bindoro M Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I). Islam disebut agama paripurna karena mencakup dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari hubungan dengan Tuhan (ibadah, akidah, akhlak) hingga hubungan dengan sesama manusia (muamalah) dalam aspek sosial, ekonomi, dan politik. Kesempurnaan ini menjadikannya sebagai panduan hidup yang komprehensif untuk urusan dunia dan akhirat. Tentang Akhlak sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Itu sebabnya, dalam salah satu haditsnya, nabi menegaskan bahwa salah satu tujuan utama di balik kerasulannya adalah untuk menyempurnakan akhlak, إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya, aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak (kesopanan).” (HR Abu Hurairah). Dengan adab dan kesopanan yang selalu dijunjung tinggi, Islam bisa diterima oleh masyarakat yang sangat multikultural, hingga terus berkembang pesat mulai dari semenanjung Arab sampai bisa terus tersebar ke seluruh penjuru dunia. Oleh sebab itu, Islam dan kesopanan merupakan dua komponen yang tidak terpisahkan. Ragam adab dan norma kesopanan dalam Islam yang penting untuk kita ketahui bersama, guna menerapkan dalam mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ragam Adab dan Norma Kesopanan menurut Syekh Sayyid Amin dalam salah satu karyanya at-Tahliyatu wa at-Targhib fit Tarbiyati wa at-Tahzib, menjelaskan bahwa adab dan kesopanan memiliki banyak cabang dan dalam setiap kehidupan sehari-hari terdapat adabnya. Namun, sebelum membahas lebih lanjut tentang hal itu, penting bagi kita semua untuk mengetahui definisi dari adab agar bisa memahami dengan utuh konsep dan keragamannya. Menurut Syekh Sayyid Amin, adab adalah bertingkah laku dengan perangai terpuji, yang diridhai oleh Allah, Rasulullah, dan semua orang-orang yang berakal. Hal itu dengan cara mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya, memperlakukan manusia dengan lemah lembut, sopan santun, membantu, menghormati mereka, tidak menyakiti, dan tidak mengganggu kehidupan mereka. Sedangkan ragam atau macam-macam adab sangat banyak jumlahnya, di antaranya adalah selalu jujur dan berbuat baik kepada sesama, memiliki sifat malu, bijaksana, senang untuk bermusyawarah, dan lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitabnya, ia mengatakan : اَلْأَدَبُ أَنْوَاعُهُ كَثِيْرَةٌ: مِنْهَا اَلصِّدْقُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَالْحَيَاءُ وَالْحِلْمُ وَمُحَادَثَةُ الْعُقَلاَءِ وَالْمَشُوْرَةُ وَكِتْمَانُ السِّرِّ وَالْمُرُوْءَةُ وَحُبُّ الْوَطَنِ وَتَرْكُ الْكِبْرِ “Macam-macam adab itu sangat banyak: di antaranya adalah jujur, berperilaku baik, memiliki sifat malu, sabar, berdiskusi dengan orang-orang cerdas (bijak bestari), bermusyawarah, menyimpan rahasia, wibawa, cinta tanah air, dan tidak sombong.” (Syekh Amin, at-Tahliyatu wa at-Targhib fit Tarbiyati wa at-Tahzib, [Al-Hidayah, Surabaya: tt], halaman 12-13). Itulah ragam dan macam-macam adab yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara selalu bersabar atas apa yang diterima olehnya, baik nikmat maupun ujian, selalu berbuat baik, baik pada manusia maupun alam dan makhluk lainnya, memiliki sifat malu terhadap perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah dan rasul-Nya, senang untuk berdiskusi dengan orang-orang yang berpengetahuan, senang untuk bermusyawarah, menyimpan rahasia dan tidak menyebarkannya, menjaga kewibawaan, cinta kepada saudara dan tidak sombong. Ada kisah tauladan yang pernah di contohkan oleh Baginda nabi Muhammad Saw . Suatu ketika Nabi dan sahabat-sahabat berangkat dari Madinah, menuju kota Mekkah untuk melaksanakan Umroh. Nahasnya, diperjalanan beliau mendapat hadangan dari kaum Quraish. Nabi dan rombongan tidak dibolehkan memasuki Mekah. Tidak diperkenankan untuk Umroh.

Menerima kabar itu, Nabi pun menggelar dialog perdamaian. Untuk menggapai kesepakatan. Dalam dialog itu disepakati pentingnya perdamaian dan gencatan senjata selama sepuluh tahun. Kedua dua belah pihak telah setuju. Tinggal menuangkannya dalam dokumen perjanjian. Yang ditulis untuk kedua belah pihak ; kaum muslimin dan pagan Mekah.

Nabi menunjuk Ali sebagai juru tulis dokumen perdamaian. Ali memang orang yang pandai. Yang mahir dalam diplomasi, sekaligus dalam tulis-menulis. Dalam penulisan butir-butir perjanjian, terlihat keindahan toleransi dan kesopanan Nabi Yang membuat pelbagai orang kagum akan keindahan akhlak (Kesopanan) beliau.

Sebagai juru tulis, nabi memerintahkan Sayyidina Ali untuk menulis “Bismillahirrahmanirrahim”. Sebagai pembuka perjanjian. Namun, kata itu diprotes pemimpin kaum musyrik, “Kami tidak mau ada bismillah. Kami ingin Bismika Allohumma,”. Kaum pagan ini tak ingin ada kata Rahman dan Rahim.

Mendengar pinta kaum pagan itu, Nabi pun setuju. Ia perintahkan sayyidina Ali untuk menulis seperti yang mereka inginkan. Ali pun tidak mau menghapusnya. Ia tidak setuju dengan kata basmalah yang diganti. Melihat itu, Nabi maju dan menghapusnya sendiri. Nabi tidak keberatan, bila tidak memakai bismillah.

Selepas menghapus, Nabi pun mendiktekan butir-butir perjanjian tersebut. Ali yang menulis; “Ini perjanjian antara Muhammad Rasulullah dengan tokoh-tokoh Mekah,”. Mendengar kata “Rasulullah” kaum musyrik pun protes kedua kali. Mereka tidak ingin kata itu. Pasalnya mereka tidak mengakui Nabi sebagai utusan Allah. Mereka meminta menghapus kata itu.

Apa yang diperbuat Nabi? Rasulullah menunjukkan kerendahan hati,kelapangan hati dan kesopanan memerintahkan Ali untuk menghapus kembali. Sebagai gantinya, Nabi menuliskan “Muhammad putra Abdullah” . Itulah Nabi, akhlak dan budinya yang luar biasa.

Dalam perjanjian itu, ada satu butir lagi yang membuat Umar bin Khattab sampai tak terima. Umar gusar hati mendengar poin yang disampaikan kaum musyrik. Yang ia nilai tidak adil. Yang mengandung tipu dan muslihat licik.

Adapun poin perjanjian itu berbunyi; “Siapa orang dari Mekah yang datang ke Madinah untuk memeluk Islam, maka ia harus dikembalikan lagi ke Mekkah. Dan siapa orang Islam yang pergi ke Mekah dari Madinah, maka ia tidak boleh lagi dikembalikan ke Madinah”.

Lantas apa yang diperbuat Nabi? Rasulullah mengatakan pada Umar untuk melapangkan dada, dan menerima perjanjian ini demi perdamian. Tidak ada yang lebih indah dari perdamian. Nabi akhirnya kembali, diusir sesampai di gerbang Mekah. Terpaksa mengurungkan niatnya untuk menunaikan Umrah. “Pergi kalian wahai Muhamad, tahun depan baru boleh umrah,” usir kaum musyrik Mekah.

Kenapa nabi mau menerima perjanjian damai ini ? Kenapa pula Rasulullah mau mengalah dengan pendapat kaum musyrik Mekah? Nabi Muhammad menyadari ini semua tidak berkaitan dengan prinsip ajaran agama. Ini demi mencapai perdamaian. Pun demi menggapai hubungan yang harmonis. Inilah yang diperbuat Nabi. Semoga bermanfaat. Billahitaufiq Wal Hidayah

Hilirisasi Semangat Juang Pemuda Bangsa

Oleh : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Negara Indonesia memiliki potensi sumber kekayaan yang sangat besar sampai di lirik oleh negara asing. Segala potensi kekayaan ini berupa Sumber Daya Alam ( SDA ) dan Sumber Daya Manusia. Wilayah yang sangat tropis ini mengakibatkan kondisi alam di negara ini sangatlah subur baik itu di darat, udara dan lautannya. Di berbagai wilayah dari ujung sabang sampai merauke memiliki potensi sumber alam sesuai dengan ciri khas masing-masing berupa emas, tembaga, nikel, kayu, minyak bumi dan lainnya. Dengan adanya keunggulan potensi tersebut, tentunya perlu adanya sistem kebijakan yang dibuat untuk dapat memanfaatkan sumber daya secara maksimal.  Salah satunya dengan cara proses hilirisasi. Langkah proses ini merupakan cara strategis yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Tidak hanya itu proses ini juga mengacu pada pengolahan bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional. 
Kali ini proses hilirisasi tidak hanya diperuntukkan kepada sektor sumber daya alam saja tetapi hal yang lebih utama pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia yakni terkhusus kepada kalangan pemuda-pemudi. Hari ini bertepatan pada tanggal 28 Oktober 2025 sebuah momentum yang sangat berharga bagi pemuda tanah air bangsa. Salah satu momen bersejarah ini dengan memperingati Hari Sumpah Pemuda ( HSP ) ke 97 Tahun 2025 ini dengan mengangkat tema “ Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu “. Momen bersejarah ini tidak hanya sekedar peringatan ceremonial semata tetapi yang lebih penting khususnya kepada pemuda pemudi bangsa sebagai hari refleksi dan koreksi diri sejauh mana peran kontribusi kita terhadap negara tanah air Indonesia.
Dalam puncak acara memperingati Hari Sumpah Pemuda ( HSP ) ke 97 yang akan digelar malam hari di Hall Basket, Gelora Bung Karno ( GBK ) Senayan Jakarta. Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir menyampaikan peringatan HSP ke 97 Tahun 2025 ini memuat tema pesan bahwa kejayaan Indonesia di masa depan harus diwujudkan melalui kolaborasi lintas elemen bangsa. Lahir semangat ini sejalan dengan arah pembangunan kepemudaan dalam RPJMN ( Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ) dan asa cita yang sinergi pusat dan daerah, peran organisasi kepemudaan, inovasi generasi muda serta penguatan jejaring nasional dan global.
Melalui pernyataan menpora tersebut tentu harus ditingkatkan sistem pola hilirisasi semangat juang kepada pemuda pemudi bangsa dengan tujuan untuk menerapkan nilai-nilai persatuan, nasionalisme, dan gotong-royong. Tujuan ini agar proses hilirisasi menjadi alat pemersatu bangsa untuk mencapai motor penggerak kemajuan bangsa Indonesia. Pencapaian agar melahirkan arah pembangunan kepemudaan dengan cara memadukan hilirisasi industri dengan semangat juang pemuda-pemudi, negara Indonesia dapat terhindar dari jebakan ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang kapitalis. Program hilirisasi menjadikan sebuah gerakan nasional yang inklusif dan terwujudnya kemakmuran yang merata sesuai dengan cita-cita para pemuda pendahulu bangsa.
Berikut beberapa langkah penerapan hilirisasi semangat juang pemuda yaitu 1). Sinergi Antar Daerah. Contohnya pemerintah daerah memberikan ruang akses kepada organisasi kepemudaan dalam proses mengawasi segala kebijakan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah agar selaras dalam aspek pembangunan. 2). Penggunaan Produk Dalam Negeri.  Contohnya menjunjung tinggi penggunaan produk lokal UMKM dan membantu proses pemasaran melalui platform media sosial. Hal ini salah satu upaya implementasi semangat juang di Era Digitalisasi. 3). Gotong Royong Untuk Kemandirian. Contohnya peran pemuda ikut terlibat dalam kerja sama dan partisipasi sektor inovasi dalam pengolahan sumber daya alam. 4). Keterlibatan Pemuda Dan Pendidikan. Contohnya pemuda terlibat langsung dalam penyampaian gagasan pendapat dalam mengoreksi dan memastikan kurikulum pendidikan yang efektif dan efisien. Selain itu pemuda juga dapat menjadi agen perubahan dalam menyebarkan informasi positif untuk membangun akses transparansi publik di ruang media sosial.
******

( Doc. Semangat Perjuangan Pemuda Pemudi Bangsa )

Khitan Massal Gratis dalam Rangka Hari Santri Nasional 2025

Probolinggo, 25 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025, Credit Union (CU) Amanah Tongas bekerja sama dengan Klinik NU – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kota Probolinggo menyelenggarakan kegiatan Khitanan Massal Gratis.
Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Klinik NU Kota Probolinggo. Tahun kesepuluh peringatan HSN dengan mengusung tema, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Sebanyak 25 anak dari berbagai wilayah sekitar Tongas dan Kota Probolinggo mengikuti kegiatan sosial tersebut. Suasana penuh keceriaan tampak mewarnai kegiatan yang sarat dengan nilai kemanusiaan dan pengabdian ini.

Ketua CU Amanah Tongas, Musyarrofah, M.Pd.I, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun sebagai bentuk nyata kepedulian sosial lembaga.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kami kepada masyarakat. Kami berharap dapat terus berkontribusi bagi kemaslahatan bersama,” tegas Musyarrofah.

Sementara itu, Ketua LKNU Kota Probolinggo, drg. Muhammad Irfan, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antarlembaga sosial-keagamaan dalam memberikan pelayanan kesehatan dan kemaslahatan bagi umat.

“Kegiatan kolaboratif seperti ini perlu terus didorong untuk mengoptimalkan peran entitas sosial keagamaan seperti LKNU dalam berkhidmat untuk umat,” ujar drg. Irfan.

Penegasan senada disampaikan oleh Direktur Klinik NU Kota Probolinggo, dr. Arif, yang menegaskan kesiapan pihaknya dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk kegiatan kemanusiaan.

“Klinik NU siap bermitra dengan siapa pun dalam rangka kemaslahatan umat. Kami mendukung penuh kegiatan seperti ini,” ungkap dr. Arif.

Kegiatan khitanan massal ini tidak hanya menjadi momentum memperingati Hari Santri Nasional, tetapi juga menjadi wujud nyata pengabdian santri dalam mengabdi kepada masyarakat, sesuai dengan nilai-nilai ke-NU-an yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan solidaritas sosial.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, CU Amanah Tongas bersama Klinik NU–LKNU Kota Probolinggo berharap dapat terus menjadi pelopor gerakan sosial dan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan, membawa manfaat luas bagi umat dan bangsa.

Pemkot dan FKUB Kota Probolinggo Terima Kunjungan Silaturahmi GKJW Malang III Timur

Probolinggo, 25 Oktober 2025 — Pemerintah Kota Probolinggo bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menerima kunjungan silaturahmi dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) lingkup Pelayanan Wilayah Malang III Timur pada Minggu (25/10) pukul 10.00 WIB di Command Center (CC) Pemerintah Kota Probolinggo.

Rombongan GKJW yang dipimpin oleh Pendeta Hutomo Suryo Widodo, selaku Ketua Pelayan Harian GKJW Malang III Timur, disambut dengan hangat oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Budi Wirawan, dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), M. Sonhaji. Dari FKUB hadir langsung Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, bersama jajaran pengurus.

Dalam sambutannya, Budi Wirawan mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi atas kunjungan GKJW yang menunjukkan semangat kebersamaan lintas iman.

“Kami menyambut baik kunjungan ini sebagai wujud nyata kemitraan antara Pemerintah Kota Probolinggo dan GKJW dalam memperkuat sinergi sosial-keagamaan di daerah,” ujarnya.

Budi Wirawan juga menegaskan bahwa suasana aman dan damai di Kota Probolinggo tidak lepas dari kontribusi seluruh umat beragama yang terus menjaga harmoni.

“Kondusivitas ini tercipta berkat dukungan semua pihak yang konsisten menumbuhkan nilai toleransi dan saling menghormati,” tambahnya.

Sementara itu, Pendeta Hutomo Suryo Widodo menjelaskan bahwa maksud kedatangan pihaknya adalah untuk mempererat jalinan persaudaraan dan memperluas kerja sama dengan Pemerintah Kota dan FKUB.

“Melalui silaturahmi ini, kami berharap muncul gagasan dan kolaborasi baru yang memberi manfaat bagi masyarakat dan turut berkontribusi pada pembangunan kota,” ungkap Pendeta Hutomo.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. H. Ahmad Hudri menyampaikan paparan mengenai berbagai program yang dijalankan FKUB Kota Probolinggo dalam menjaga keharmonisan umat beragama.

“FKUB berkomitmen memperkuat kerukunan melalui pendidikan, dialog lintas agama, dan pendekatan moderasi beragama yang dilakukan secara berkelanjutan,” tutur Hudri.

Hudri juga menjelaskan bentuk dukungan nyata Pemkot Probolinggo terhadap FKUB, antara lain melalui bantuan hibah yang sebagian digunakan untuk honorarium 38 guru nonformal dari Sekolah Minggu, Pasraman, dan Klenteng sebesar Rp. 500.000 per bulan, yang disalurkan setiap tiga bulan. Sebelum penyaluran, FKUB melakukan monitoring dan evaluasi terhadap lembaga penerima untuk memastikan tepat sasaran.

Selain itu, Hudri memaparkan sejumlah program unggulan FKUB, seperti Pendidikan Kader Penggerak Moderasi Beragama (PKPMB) segmen kepemudaan lintas agama, Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama, serta berbagai kegiatan edukatif seperti Festival Budaya Lintas Agama, Silaturahmi Umat Lintas Agama, Rumah Pintar Moderasi Beragama, dan Gerakan Ekoteologi yang menekankan harmoni antara iman dan lingkungan.

Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini ditutup dengan sesi diskusi dan dialog bersama yang memperkuat komitmen untuk terus menumbuhkan semangat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di Kota Probolinggo.

Pesantren, Santri dan Tantangan Masa Depan

Oleh Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.Rumah besar bernama PESANTREN akan terus berkembang, akan terus maju untuk mengasah kualitas keilmuan, keumatan dan kebangsaan ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I). Pesantren sebagai Kawah Candradimuka, pondok pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa. Sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari kontribusi pesantren yang telah melahirkan ulama, cendekiawan, hingga pejuang dan pemimpin bangsa.
Di tengah modernisasi, pesantren seperti menjadi oase. Tempat anak-anak belajar ilmu agama dan nilai-nilai kehidupan seperti tanggung jawab, disiplin, dan akhlak mulia.

Sekitar Tahun 2010 Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah memprediksi bahwa akan muncul gelombang profesor dari kalangan santri. Ia membaca tren bahwa santri tradisional muncul sejak 1990-an dalam menempuh pendidikan tinggi.

Fenomena yang dulu dibayangkan Cak Nur Kholis Madjid kini menjadi kenyataan. Santri-santri mulai menembus ruang akademik modern. Mereka tak lagi hanya belajar fiqh, tapi juga sains, ekonomi, teknik, dan kebudayaan.

Sekarang banyak wajah-wajah santri yang mengisi ruang kampus umum dan dunia internasional. Ada Salahudin Kafrawi mengajar filsafat di Amerika; Etin Anwar menulis tentang feminisme; Ismail Fajri Alatas mengajar di New York; Eva Nisa mengajar antropologi di Australia. Di bidang sains dan teknologi, Muhammad Azis menjadi profesor Energy and Process Integration Engineering di Jepang; Hendro Wicaksono seorang Prof bidang Data-Driven Industrial Systems di Jerman; Bakhtiar Hasan menekuni Biostatistika di Belgia dan masih lagi.
Dalam negeri, ada Burhan Muhtadi (alumni Australia), pakar survei dan guru besar FISIP UIN, Agus Zainal Arifin (alumni Jepang) ahli informatika di ITS, hingga TB Ace Hasan Syadzily, santri-akademisi-politisi yang menjadi Gubernur Lemhannas.

Prediksi Cak Nur Kholis Madjid bukan sekadar soal gelar, tapi lahirnya generasi baru Islam yang berpikir universal tanpa kehilangan akar spiritual. Para santri ini menulis jurnal ilmiah sambil tetap membaca Ihya’ Ulumuddin, berbicara tentang epistemologi tapi masih bershalawat sebelum mengajar.

Generasi santri akan terus melahirkan generasi seterusnya, penerus Cak Nur dan Gus Dur, akan terus bergerak—menggabungkan olah pikir dan zikir hati, menembus laboratorium dan masjid, menulis dengan akal tapi juga dengan hati.

Dengan banyaknya generasi santri yang telah berhasil di produksi oleh Pesantren, pesantren dan santri harus siap mengabdi pada umat dan bangsa sesuai dengan kualitas. Pesantren menjadi bagian sub-kultur Nusantara adalah institusi tradisional pendidikan agama Islam yang eksis sejak abad 15 Masehi, hingga kini memasuki era post modernisme, dengan keajegan landskap seperti masjid atau majlis, asrama ( kobong), kiai, santri, kitab kuning ( kurikulum). Terus berkembang seiring zaman yang terus bergerak cepat.

Pada etape zaman ini, pesantren mulai harus terbuka atas fenomena sosial, perlawanan Gen Z atas kekakuan hidup, perlawanan Gen Z atas ketidakadilan, korupsi, dan hal hal yang intimidatif. Dengan cara ala pesantren, ada sikap membaca watak sosial, mengambil posisi mujawir ( membaur tapi tak bercampur), membaca keinginan, menyikapi keadaan zuhandenes di kalangan Gen Z, yang sewaktu waktu tindakan anarkisme tak terduga.

Pesantren tidak perlu mempertahankan egoisme elitis yang justru menciptakan jarak jauh, ketidaknyamanannya mereka untuk mengeluh dan mengadu, karena tetap masyarakat hari ini adalah anak-anaknya kiai pesantren, bukan hanya santri.

Pesantren , harus bersikap cepat untuk memposisikan sebagai tempat yang nyaman, aman dan damai dalam situasi pembelajaran, menguatkan sikap ketaatan atas agama, kenyamanan aktivitas dan kebersamaan santri. Tidak perlu lagi ketertutupan atas disiplin pesantren, tentu dengan kompromi semua pihak. Ada fakta integritas yang perlu disodorkan saat pendaftaran santri baru, antara pesantren, santri dan orang tua, bahkan bila perlu disaksikan pihak kepolisian. Ini jika diperlukan.

Sistem harus jadi pijakan dan tidak terlalu mengandalkan superioritas pimpinan pesantren, meski ada hak atas itu. Dari sistem itu agar tidak ada lagi terjadi bullying, pelecehan seksual, bahkan pemerasan atas nama program pesantren. Saya kira mari pertahankan yang lama dan baik, dan mengambil yang baru dan lebih baik. Pesantren harus hadir menjadi penjaga moralitas bangsa sekaligus lokomotif pencerahan bangsa Indonesia.Pada akhirnya, pesantren bukanlah sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah rumah yang merangkul, membimbing, dan menempa jiwa para santri. Di balik setiap aturan yang dijalankan, terselip cinta yang mendidik ; di balik setiap pembiasaan, ada doa yang menguatkan. Kepercayaan dan sinergi antara orang tua dan para pengasuh adalah kunci agar proses ini berjalan utuh. Sebab dengan cinta yang tulus, disiplin yang konsisten, dan doa yang tidak pernah putus, pesantren akan melahirkan generasi yang berkarakter kuat, berani dan bertanggung jawab,berhati lembut, dan siap memberi cahaya bagi kehidupan umat dan bangsa . Semoga bermanfaat. Billahitaufiq Wal Hidayah

Tampil di Bromo Sunset, Begini Cerita Terciptanya Tari Rangkarang

Probolinggo, Berdampak.net – Event Bromo Sunset yang di Gelar di Seruni Point Gunung Bromo, Sabtu (18/10/2025) kemarin, menyuguhkan penampilan yang ciamik, ada yang menarik perhatian para pengunjung, yakni penampilan Tari Rangkarang, (mencari kerang).

Tarian khas Desa Randutatah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo yang didukung penuh oleh PT. Paiton Energy dan PT. POMI ini merupakan tarian baru, tarian ini menceritakan kegiatan warga pesisir Randutatah yang setiap sore hari saat air laut surut berbondong-bondong pergi ke pantai untuk mencari kerang.

Kerang yang didapat bisa dijadikan tambahan lauk untuk dimakan bersama keluarga di rumah, dan sebagian untuk dijual sebagai tambahan ekonomi.

Dalam syair dan gerakannya menceritakan bagaimana warga saat mencari kerang dan bersyukur kepada Tuhan yang maha Kuasa Allah SWT, yang telah menganugerahkan kekayaan alam yang melimpah di Desa Randutatah.

“Di desa kami sangat surplus sekali kerang, dulu waktu saya masih remaja, banyak sekali warga duduk di pinggir pantai untuk mencari kerang, terutama saat sore hari, kerang yang didapatpun bervariasi, dari segala jenis kerang ada di Desa Randutatah,” jelas Kepala Desa Randutatah, Suham.

Namun lambat laun, bersamaan dengan berkembangnya era teknologi, banyak warga setempat yang sudah tidak lagi datang ke pantai untuk mencari kerang.

“Mungkin karena banyak makanan instan ya mas, jadi banyak warga yang memilih untuk mengkonsumsi makanan tersebut, jadi sudah jarang untuk mencari kerang lagi, dan anehnya malah banyak warga dari luar desa kami yang datang untuk mencari kerang, dan hasilnya sampai satu karung kerang,” tambah Kades.

“Kami ceritakan fenomena tersebut kepada mas Rochman dan ibu Nina, salah satu pimpinan PT. POMI, dan Alhamdulillah tercetuslah Festival Rangkarang (Festival Mencari Kerang) pada Agustus 2025 kemarin,” sambungnya.

Dari Festival Rangkarang tersebutlah, ide pembuatan Tarian Rangkarang ini direncanakan untuk melestarikan budaya mencari kerang di Desa Randutatah. “Muncul ide nya dari Mas Rochman, saya masih ingat saat itu kita ngopi malam-malam di dekat rumah saya, dan Mas Rochman bilang gimana kalau kita buat Tari Rangkarang, saya bilang oke,” ceritanya.

Dari diskusi tersebut, pihaknya membentuk tim pembuatan Tari Rangkarang, mulai dari sya’ir hingga gerakan tariannya.

“Untuk sya’ir Tari Rangkarang, diciptakan oleh Ustd Syaifullah, sya’ir tersebut melalui beberapa tahapan, mulai dari bertawassul kepada para leluhur desa hingga bersilaturahmi ke beberapa sesepuh sekedar meminta izin untuk membuat sya’ir dan gerakan tari rangkarang,” lanjut Kades Suham.

Akhirnya, persisnya pada tanggal 31 Agustus 2025, Sya’ir dan gerakan tari rangkarang rampung, dan dilaunching. Namun untuk gerakan tarinya masih ada revisi dan belum pakem.

“Di hari akan kita launching itu, ada beberapa kendala, dan tidak jadi dilaksanakan launching, dan juga saat hendak tampil di salah satu acara di Candi Jabung juga gagal, banyak sekali kendalanya, tapi Alhamdulillah kemarin sudah dilaksanakan Festival Kreasi Tari Rangkarang, dan juga bisa tampil di Bromo Sunset di depan Bupati Probolinggo, Gus Haris,” tambahnya.

Selain dapat melestarikan budaya mencari kerang yang ada di Desa Randutatah. Ia berharap Tari Rangkarang juga bisa ikut memberikan warna Seni dan Budaya di Kabupaten Probolinggo. (fiq)