Wamentan Dukung TMI: Harus Eksis dan Bermanfaat bagi Petani Indonesia

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam suasana santai penuh kehangatan, Wakil Menteri Pertanian yang akrab disapa Mas Dar bersilaturahmi dengan para pengurus dan anggota Tani Merdeka Indonesia (TMI) dari Malang Raya dan Probolinggo. Pertemuan tersebut menjadi ajang berbagi semangat dan visi ke depan bagi pertanian Indonesia yang lebih berdaulat.

Mas Dar memberikan dorongan moral kepada TMI agar terus tumbuh dan menjadi gerakan petani yang kuat, eksis, serta memberi manfaat nyata, terutama bagi petani di wilayah Malang Raya dan Probolinggo. “TMI harus besar, harus eksis, dan memberi manfaat bagi seluruh petani Indonesia,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua TMI Malang Raya, Alayk Mubarrok menyampaikan terima kasih atas perhatian dan apresiasi dari Wamentan. “Dukungan Mas Dar menjadi penyemangat bagi kami untuk terus bergerak bersama petani membangun kemandirian pangan,” ujarnya. (fj)

Menimbang Karakter Pelayanan Wisata Empat Wilayah Tengger: Siapa yang Terdepan?

Oleh: Fajar Satrio

Masyarakat Tengger yang tersebar di empat kabupaten—Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang—memiliki ciri khas dan karakter tersendiri dalam menyambut serta melayani tamu. Meski mereka bersaudara dalam budaya dan tradisi, namun pendekatan terhadap wisatawan tidak bisa digeneralisasi. Keempat wilayah memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing, yang turut membentuk peringkat pelayanan wisata berbasis pengalaman dan observasi lapangan.

  1. Tengger Malang: Fleksibilitas dan Koneksi Eksternal

Masyarakat Tengger di kawasan Malang (khususnya Tumpang dan Gubugklakah) menempati posisi utama dalam hal pelayanan wisata, bukan semata karena keramahtamahan adat, tetapi karena fleksibilitas dan koneksi dengan kawasan Malang Raya. Banyak warga memanfaatkan momentum kunjungan wisatawan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi harian: belanja logistik, urusan pendidikan, hingga akses layanan kesehatan di Kota Malang. Ini membuat mereka lebih terbuka, pragmatis, dan responsif dalam menyambut tamu.

Kawasan ini juga dikenal sebagai gerbang awal menuju Ranu Pane dan Semeru, menjadikan warga Tengger Malang terbiasa melayani wisatawan domestik dan mancanegara. Menurut data Dinas Pariwisata Kabupaten Malang (2023), jalur Malang–Bromo menyumbang 21% dari total kunjungan ke kawasan Bromo Tengger Semeru.

  1. Tengger Pasuruan: Sunrise dan Rasa Aman

Secara geografis, Pasuruan paling diuntungkan karena puncak Penanjakan 1—titik utama melihat sunrise Bromo—berada di wilayah ini. Tidak heran jika banyak turis memadati Tosari atau Wonokitri untuk menikmati fajar pertama yang magis. Namun kelebihan Pasuruan tidak berhenti di lanskap.

Masyarakat Pasuruan dikenal memiliki karakter pelayanan yang tenang dan mengayomi, membuat tamu merasa aman dan nyaman. Ini sesuai dengan hasil survei internal oleh Balai Besar TNBTS (2022) yang menunjukkan bahwa wilayah Tosari memiliki rating kepuasan tertinggi dalam hal keamanan dan kenyamanan, mencapai skor 4,6 dari 5.

  1. Tengger Probolinggo: Potensi Hebat, Tantangan dalam Pelayanan

Sebagai jalur paling populer dan akses termudah ke Bromo, wilayah Probolinggo seharusnya menempati urutan pertama dalam pelayanan wisata. Infrastruktur menuju Cemoro Lawang sudah baik, bahkan tersedia banyak fasilitas jeep dan homestay.

Namun, realitas di lapangan memperlihatkan ketimpangan antara potensi alam dan kualitas pelayanan. Beberapa wisatawan mengeluhkan pengalaman yang kurang ramah, orientasi komersial yang berlebihan, hingga kurangnya informasi budaya lokal. Ini ironi besar, mengingat secara visual Cemoro Lawang adalah “wajah” Bromo di mata publik dunia. Dengan peningkatan manajemen sosial dan pelayanan, Probolinggo sejatinya bisa menjadi ikon unggulan.

  1. Tengger Lumajang: Keindahan Tersembunyi, Akses Tersulit

Terakhir adalah wilayah Lumajang, yang memiliki akses ke sisi selatan Tengger dan jalur pendakian Semeru melalui Ranu Pane. Sayangnya, akses dari Lumajang ke Bromo atau Ranu Pane masih sulit dan kurang terintegrasi. Rute menanjak dan belum meratanya infrastruktur jalan membuat wisatawan membutuhkan upaya lebih untuk menjangkau wilayah ini.

Selain itu, penyebaran homestay dan sarana wisata masih minim dibanding tiga wilayah lainnya. Meski begitu, panorama alam Lumajang (terutama di sekitar Ranupani dan Oro-oro Ombo) menawarkan keaslian yang jarang tersentuh, cocok bagi wisatawan pencari ketenangan dan keaslian.

Jika disusun berdasarkan pengalaman pelayanan tamu, konektivitas, dan kesiapan masyarakat, maka peringkat pelayanan wisata dari masyarakat Tengger menurut opini ini adalah:

  1. Malang – Responsif dan pragmatis
  2. Pasuruan – Nyaman dan aman
  3. Probolinggo – Akses bagus, pelayanan perlu diperbaiki
  4. Lumajang – Indah namun sulit dijangkau

Namun perlu dicatat bahwa keempat wilayah memiliki potensi yang setara jika dibina secara merata, dengan memperhatikan faktor infrastruktur, pelatihan SDM pariwisata, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Singkatnya adalah Konsolidasi Bersama.

Silaturahmi dengan Mas Dar, Ra Fahmi Sambut Dukungan Kementan untuk Ketahanan Pangan dan Agrowisata

Berdampak.net, Jakarta – Dalam momen penuh kehangatan, Ra Fahmi bersilaturahmi dengan Wakil Menteri Pertanian yang juga dikenal sebagai “Mas Dar”. Pertemuan ini bukan sekadar ajang temu tokoh, melainkan menjadi jembatan penting dalam menyatukan langkah menuju penguatan ketahanan pangan nasional serta pengembangan sektor agrowisata yang berkelanjutan.

Ra Fahmi menyampaikan apresiasi atas dukungan dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang selama ini konsisten mendorong berbagai program strategis, termasuk pengembangan potensi pertanian lokal. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan solusi nyata atas tantangan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui sektor agrowisata.

Dalam diskusi hangat tersebut, Mas Dar juga menegaskan komitmennya untuk terus menjembatani aspirasi masyarakat daerah dengan kebijakan nasional. Ia menilai bahwa daerah dengan potensi pertanian yang besar harus menjadi pusat inovasi dan edukasi agrowisata, yang tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat lokal.

SRI DAN MIMPI MELAMPAUI BATAS

HARI itu, seorang perempuan muda berjalan menuju mimbar kecil. Mengenakan jilbab coklat muda dan baju biru. Ia didaulat memberi kuliah umum di hadapan peserta training raya HMI cabang Ciputat, Senin 28 Juli 2025. Namanya: Sri Suparni.

Menengok latarbelakang Sri Suparni sungguh inspiratif. Rasanya tak salah panitia mengundangnya. Namanya sangat “Jawa”, tapi jejak hidupnya menembus batas geografi. SD sampai SMA di desa pedalaman Sragen, Jawa Tengah. Lalu merantau ke Sorong Papua- sebuah daerah nun jauh di ujung timur-lalu menembus Jakarta, pusat pemerintahan dan ekonomi terbaik negeri ini.

Melalui video pendek yang dikirimkan teman, saya melihat Sri- begitu ia akrab disapa- menyampaikan materi penuh semangat, terstruktur dan efektif dalam menyampaikan poin-poin pesannya. Tanpa menggunakan teks apalagi power poin. Semuanya mengalir. Bahasanya pun sederhana dan terkesan sebagai motivasi yang mudah dipahami para audiens.

“Kalau manusia ingin sekedar hidup, babi di hutan pun hidup,” ujarnya. Ia memantik perhatian para peserta dengan mengutip kalimat dari Buya Hamka tersebut.

“Lalu, apa yang membedakan?” tanyanya melanjutkan. Wajah peserta penasaran, mereka saling tatap menerka-nerka jawaban.

Menurut Sri, yang membedakan karena manusia memiliki “akal” dan “hati” untuk mencapai tujuan hidupnya.

Dalam kesempatan itu, Sri ingin menjelaskan kepada para kader muda HMI itu bahwa akal adalah alat untuk berpikir, memahami, dan menganalisis informasi yang diterima dari indra dan pengalaman. Sedangkan hati adalah dimensi spiritualitas dalam diri manusia.

“Meskipun punya fungsi yang berbeda, namun keduanya dalam pengambilan keputusan, bekerja secara seimbang dan saling melengkapi, sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tepat dan bijaksana.”

Di akhir acara terlihat Bu Sri berdialog interaktif dengan peserta dan tak lupa ia membagikan buku biografinya yang berisi proses perjalanan hidupnya yang berliku dan terjal. Seorang gadis dari desa yang merantau, jadi pedagang keliling, lanjut kuliah jadi aktivis HMI, dan akhirnya menembus Jakarta.

Dari ruang hikmah di Ciputat itu, saya mencatat Sri ingin menitipkan jejak pesan kuat. Tentang sebuah keberanian untuk bermimpi melampaui batas. *** (Rusman Madjulekka).

Krisis BBM Akibat Penutupan Gumitir: Negara Terlambat Berpikir?

oleh; Fajar Satrio Bangun Wibowo

JEMBER – Penutupan Jalur Nasional Gumitir sejak 24 Juli 2025 memicu krisis distribusi BBM di Jember, Bondowoso, dan Lumajang. Jalur penghubung utama Banyuwangi–Jember itu bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan urat nadi logistik dan energi wilayah timur Jawa.

Akibatnya, antrean panjang mengular di SPBU. Solar dan Pertalite langka. Harga di pasar gelap menembus Rp27.000 per liter. Warga harus mengantre sejak dini hari hanya untuk mendapati dispenser kosong sebelum siang.

Masalah utamanya bukan semata jalur ditutup, tapi gagalnya antisipasi. Padahal informasi penutupan sudah diketahui sejak awal Juli. Tapi skenario distribusi alternatif baru dijalankan setelah krisis meledak, ketika 79 mobil tangki tambahan dikirim terlambat dari Surabaya dan Malang.

Waktu tempuh distribusi bertambah dari 4 jam menjadi 11 jam lewat jalur baru. Tapi tidak ada penyesuaian armada atau simulasi distribusi sebelumnya. Yang muncul justru narasi.

Milad ke-50 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo dan Launching Muallaf Center

Probolinggo, Berdampak.net – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menyelenggarakan Tasyakuran Milad ke-50 MUI sekaligus Launching Muallaf Center pada Minggu malam, 27 Juli 2025, bertempat di Gedung Puri Manggala Bhakti, Pemerintah Kota Probolinggo. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB ini diawali dengan penampilan musik religi dan dihadiri lebih dari 150 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus MUI Kota dan Kecamatan, pimpinan ormas keagamaan, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Turut hadir dalam acara ini Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og., M.M.Kes, Wakil Walikota Hj. Ina Dwi Lestari, jajaran Forkopimda, serta tokoh-tokoh masyarakat dan agama.
Dalam sambutannya, Walikota Probolinggo menyampaikan apresiasi atas kiprah MUI yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembinaan umat. Ia juga memohon doa dan pemikiran para ulama demi kelancaran dan kesuksesan pembangunan Kota Probolinggo agar senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat luas. “Kami sangat membutuhkan dukungan spiritual dan intelektual dari para ulama agar pembangunan di kota ini selalu berjalan dalam bingkai keberkahan dan maslahat,” ujarnya.
Puncak acara tasyakuran ditandai dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ketua MUI Provinsi Jawa Timur, KH. Ahsanul Haq. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan ulama dalam menjaga persatuan, menguatkan akhlak mulia, serta memastikan arah pembangunan bangsa berjalan sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. “MUI bukan hanya benteng moral, tapi juga mitra konstruktif bagi pemerintah. Karena itu, pemerintah pun perlu memberikan dukungan yang memadai untuk program-program keumatan yang dijalankan oleh MUI,” tegas KH. Ahsanul Haq.
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah Launching Muallaf Center MUI Kota Probolinggo sebagai pusat layanan terpadu untuk para muallaf. Layanan ini mencakup bimbingan pasca syahadat, konseling keagamaan dan psikologis, pelatihan kemandirian ekonomi, perlindungan hukum, serta pembentukan jejaring komunitas Sahabat Muallaf. Kehadiran Muallaf Center ini diharapkan menjadi solusi holistik bagi pembinaan muallaf agar mereka dapat menjalani kehidupan beragama dengan mantap, mandiri, dan bermartabat.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, rangkaian acara Milad juga diisi dengan kegiatan santunan kepada 100 anak yatim piatu dan dhuafa, yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Probolinggo.
Melalui Milad ke-50 ini, MUI Kota Probolinggo meneguhkan kembali komitmennya sebagai penjaga moral, penjembatan umat dan pemerintah, serta pelayan umat yang inklusif, adaptif, dan solutif terhadap dinamika zaman. (fiq)