Napak Tilas Bulan Rabiul Awal

Oleh Moh Ali Muhsin Rofiey Notonogoro, Ama. Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan dan Pengurus ICMI Kabupaten Pamekasan.

Napak tilas Rabiul Awal sebagai medium pemikiran holistik adalah sebuah upaya merenungkan kembali nilai-nilai kelahiran, hijrah, dan risalah Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh mencakup aspek spiritual, sosial, ekonomi, hingga kemanusiaan.Makna Holistik Rabiul Awal dimensi Spiritual: Memahami kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan Rabiul Awal sebagai titik terang pembawa rahmat bagi semesta alam, yang direfleksikan melalui kecintaan dan perbanyakan shalawat.Dimensi Sosial-Politik: Menjadikan momentum hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai strategi peradaban yang merajut persaudaraan (ukhuwah) dan membangun tatanan masyarakat yang berkeadilan.Dimensi Kemanusiaan: Mendorong etika kepedulian, berbagi kasih, dan sedekah sebagai manifestasi nyata dari akhlak kenabian di tengah dinamika zaman. Maulid Nabi adalah sebuah spektrum luas yang merefleksikan cinta, budaya, dan spiritualitas umat Islam dalam merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW( Raden Bindoro Moh Ali Muhsin Rofiey Notonogoro, Ama.Spd.I ) Dalam karya Husnul Maqashid fi Amalil Mawlid, Imam al-Suyuthi mencatat bahwa perayaan maulid secara formal pertama kali diselenggarakan oleh Raja al-Mudzaffar (549–630 H), seorang penguasa Irbil di wilayah Irak. Raja ini membuka istananya dan mengadakan perayaan besar-besaran pada bulan Rabiul Awal, mengundang para ulama dan masyarakat umum. Meski tidak dikenal di masa sahabat atau tabi’in dalam bentuk perayaan besar, para ulama membolehkan peringatan Maulid sebagai bid’ah hasanah, karena substansinya adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Salah satu argumentasi yang sering dijadikan dasar adalah hadis riwayat al-Bukhari, di mana disebutkan bahwa Abu Lahab ,seorang penentang keras Nabi, diringankan azabnya setiap hari Senin karena pernah memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai wujud kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika Abu Lahab yang kafir dan menentang Islam saja mendapatkan keringanan siksa karena pernah bergembira atas kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan umat Islam yang merayakan maulid dengan penuh cinta dan penghormatan ? Karena itu, bulan Rabiul Awal menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak shalawat dan meneladani kisah hidup Rasulullah SAW . Dengan mengenang perjuangan beliau, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan kecintaan dan kedekatannya dengan Sang Nabi. Dalam karya Husnul Maqashid fi Amalil Mawlid, Imam al-Suyuthi mencatat bahwa perayaan maulid secara formal pertama kali diselenggarakan oleh Raja al-Mudzaffar (549–630 H), seorang penguasa Irbil di wilayah Irak. Raja ini membuka istananya dan mengadakan perayaan besar-besaran pada bulan Rabiul Awal, mengundang para ulama dan masyarakat umum. Meski tidak dikenal di masa sahabat atau tabi’in dalam bentuk perayaan besar, para ulama membolehkan peringatan Maulid sebagai bid’ah hasanah, karena substansinya adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Salah satu argumentasi yang sering dijadikan dasar adalah hadis riwayat al-Bukhari, di mana disebutkan bahwa Abu Lahab ,seorang penentang keras Nabi, diringankan azabnya setiap hari Senin karena pernah memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai wujud kegembiraannya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika Abu Lahab yang kafir dan menentang Islam saja mendapatkan keringanan siksa karena pernah bergembira atas kelahiran Nabi, maka bagaimana dengan umat Islam yang merayakan maulid dengan penuh cinta dan penghormatan? Karena itu, bulan Rabiul Awal menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak shalawat dan meneladani kisah hidup Rasulullah SAW . Dengan mengenang perjuangan beliau, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan kecintaan dan kedekatannya dengan Sang Nabi. Pendapat empat mazhab terkait Maulid nabi Muhammad Saw Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali menegaskan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad saw diperbolehkan, bahkan disunnahkan. Syekh Ahmad Ibnu Abidin berkata: اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ Ketahuilah bahwa di antara bid’ah-bid’ah yang terpuji adalah melaksanakan maulid nabi yang mulia pada bulan dilahirkannya Nabi Muhammad saw (Ahmad Ibnu Abidin, Natsrud Durar Ala Maulidi Ibni Hajar, juz 3, h. 391). Sama dengan pendapat Syekh Ahmad Ibnu Abidin, Syekh Ibnul Haj dari mazhab Maliki juga menyatakan kebolehan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw: فَكَانَ يَجِبُ أَنْ نَزْدَادَ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِي عَشَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْخَيْرِ؛ شُكْراً لِلْمَوْلَى عَلَى مَا أَوْلَانَا مِنْ هَذِهِ النِّعَمِ الْعَظِيْمَةِ، وَأَعْظَمُهَا مِيْلَادُ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ Maka wajib bagi kita pada hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awal menambah ibadah dan kebaikan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas apa yang dianugerahkan kepada kita berupa nikmat-nikmat besar ini, terutama nikmat kelahiran Nabi Muhammad saw (Ibnul Haj Al-Maliki, Al-Madkhal, juz 1, h. 361). Imam Jalaluddin Assuyuthi dari mazhab Syafi’i juga menyatakan bahwa memperingati maulid nabi adalah bid’ah hasanah (baik): هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا؛ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ Ia (peringatan maulid Nabi) merupakan bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala, sebab hal itu sebagai bentuk mengagungkan kemulian Nabi Muhammad shallallahu a’laihi wa’alihi wasahbihi wasallam, dan mengungkapkan rasa bahagia akan kelahiran Nabi mulia (Jalaluddin Assuyuthi, Al-Hawi Lilfatawa, juz 1, h. 292). Sedangkan menurut Syekh Zaini Dahlan, ia menambahi bahwa memuliakan Nabi di malam kelahirannya adalah dengan membaca maulid (sejarah kehidupan Nabi): وَمِنْ تَعْظِيْمِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ الْفَرَحُ بِلَيْلَةِ وِلَادَتِهِ، وَقِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ Di antara cara memuliakan Nabi shallallahu a’laihi wa’alihi wasahbihi wasallam adalah berbahagia di malam kelahirannya, dan membaca maulid (Zaini Dahlan, Addurarus Saniyyah, h. 190). Senada dengan para ulama di atas, seorang ulama bermazhab Hanbali, Syekh Ibnul Jauzi Al-Hanbali menerangkan: مِنْ خَوَاصِهِ أَنَّهُ أَمَانٌ فِي ذَلِكَ الْعَامِ وَبُشْرَى عَاجِلَةً بِنَيْلِ الْبُغْيَةِ وَالْمَرَامِ Di antara keistimewaan peringatan maulid adalah bahwa hal itu (diharapkan) memberikan rasa aman pada tahun itu, dan kabar bahagia akan tercapainya harapan dan tujuan (Muhammad bin Abdul Baqi Al-Zarqani, Syarhul Allamah Azzarqani Bisyarhil Mawahib Al-Laduniyyah, 262; Usman bin Syatha Al-Bakri, I’anatut Thalibin, juz 3, h. 414). Terakhir, menurut Ibnu Taimiyyah, seorang ulama yang menjadi rujukan utama bagi sebagian umat Islam yang selama ini mengharamkan peringatan maulid Nabi. Beliau menulis: فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِماً قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ، وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ Maka memuliakan maulid, dan menjadikannya sebagai kebiasaan merupakan perbuatan yang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya, pahala yang besar atas hal itu, karena baiknya niat, dan penghormatannya kepada Rasulullah shallallahu a’laihi wa’alihi wasahbihi wasallam (Ibnu Taymiyyah, Iqtidhaus Shiratil Mustaqim fi Mukhalafati Ashhabil Jahim, juz 1, h. 297). Demikianlah pendapat dari para ulama tentang kebolehan merayakan maulid nabi, karena hal tersebut merupakan kesunnahan. Merayakan maulid Nabi juga menjadikan kita mencintai Nabi dan meneladani perjalanan hidupnya baik dari segi perbuatan,prilaku, tindakan, ucapan dan ketegasan beliau. Semoga bermanfaat. Billahit Taufiq Wal Hidayah. Wallahu a’lam

Ayat Suci, Khamr, dan Batas Kebebasan


Oleh Ainur Rofiq
Sekrataris Komisi Hubungan Ulama dan Umaro Dewan Pimpinan Daerah
MUI Kota Probolinggo 2025-2030

Beberapa hari terakhir publik dikejutkan oleh sebuah sayembara yang mengaitkan hafalan Surat Ad-Duha dengan hadiah berupa minuman beralkohol. Peristiwa tersebut segera menimbulkan reaksi luas karena mempertemukan dua simbol yang secara substantif berada dalam ruang nilai yang berbeda: Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan minuman beralkohol yang dalam ajaran Islam termasuk khamr dan dilarang untuk dikonsumsi. Persoalan tersebut kemudian dilaporkan kepada aparat penegak hukum dan berkembang menjadi perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi, penghormatan terhadap agama, tanggung jawab pengelola usaha, serta penerapan hukum pidana.

Peristiwa ini penting ditempatkan dalam kerangka negara hukum. Indonesia menjamin kebebasan beragama dan kebebasan menyampaikan pendapat. Pasal 28E UUD 1945 memberikan jaminan terhadap kebebasan beragama, meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, serta mengeluarkan pendapat. Namun, Pasal 28J menegaskan bahwa pelaksanaan hak dan kebebasan harus menghormati hak orang lain serta tunduk pada pembatasan yang ditetapkan undang-undang demi moral, nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum.

Dengan demikian, kebebasan bukanlah ruang tanpa batas. Kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab untuk menghormati keyakinan dan hak orang lain. Apa yang oleh seseorang dianggap sebagai kreativitas atau strategi promosi dapat dipandang berbeda ketika memasuki ruang kesucian agama. Dalam masyarakat yang plural, persoalannya bukan hanya apa yang hendak disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut ditempatkan dan dampaknya terhadap kehidupan bersama.

Bagi umat Islam, mempertemukan hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman beralkohol tentu bukan perkara sederhana. Al-Qur’an memiliki kedudukan sakral, sedangkan khamr secara tegas diperintahkan untuk dijauhi sebagaimana QS. Al-Ma’idah ayat 90. Karena itu, tindakan tersebut sangat wajar menimbulkan keberatan dan keresahan keagamaan. Namun, keberatan masyarakat tetap harus dibedakan dari kesimpulan bahwa seseorang telah terbukti melakukan tindak pidana. Kemarahan publik bukan alat pembuktian; hukumlah yang menentukan terpenuhi atau tidaknya unsur pidana.

Hak Asasi dan Penghormatan terhadap Agama
Dalam perspektif hak asasi manusia, seseorang yang diduga melakukan penghinaan atau penodaan agama tetap mempunyai hak sebagai manusia. Ia berhak atas praduga tak bersalah, pendampingan hukum, pemeriksaan objektif, dan proses peradilan yang adil. Akan tetapi, perlindungan terhadap hak terduga pelaku tidak berarti negara boleh mengabaikan hak masyarakat yang merasa direndahkan atau terganggu.

Di sinilah prinsip keseimbangan menjadi penting. Negara tidak boleh menggunakan mayoritas sebagai alasan untuk menekan kelompok lain. Sebaliknya, kebebasan berekspresi juga tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang memenuhi unsur tindak pidana atau menimbulkan permusuhan dan diskriminasi.

Kajian mengenai hukum penodaan agama di Indonesia menunjukkan bahwa persoalan tersebut berada pada titik temu antara kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, ketertiban umum, dan perlindungan hak asasi manusia (Hasani & Halili, 2022). Kajian lain juga menekankan pentingnya pendekatan hak asasi manusia dalam pembaruan hukum penodaan agama agar perlindungan terhadap agama tetap berjalan tanpa menghilangkan kebebasan yang dijamin negara (Indrayanti & Saraswati, 2022). Karena itu, dugaan penistaan agama tidak boleh diputuskan melalui tekanan publik. Hukum harus bekerja berdasarkan perbuatan, unsur, alat bukti, dan proses yang sah.

Pasal 300 dan 301 KUHP: Hukum Harus Berbicara
KUHP Nasional melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 telah mengatur tindak pidana yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan. Pasal 300 mengatur perbuatan di muka umum yang bersifat permusuhan, menyatakan kebencian atau permusuhan, atau menghasut untuk melakukan permusuhan, kekerasan, atau diskriminasi terhadap agama atau kepercayaan orang lain atau kelompok atas dasar agama atau kepercayaan. Ancaman pidananya paling lama tiga tahun atau denda kategori IV.

Pasal 301 mengatur penyiaran, pertunjukan, tulisan, gambar, rekaman, termasuk penyebarluasan melalui teknologi informasi, yang berisi tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 dengan maksud agar diketahui umum. Ancaman pidananya paling lama lima tahun atau denda kategori V. Sementara Pasal 302, 303, dan 304 mengatur bentuk lain yang berkaitan dengan kehidupan beragama dan kepercayaan.

Dengan demikian, kasus tersebut harus diuji secara hati-hati. Apakah terdapat unsur permusuhan, kebencian, penghasutan, atau perbuatan lain yang memenuhi rumusan KUHP? Pertanyaan inilah yang harus dijawab melalui proses hukum.

Pandangan Yusril Ihza Mahendra mengenai kasus tersebut relevan untuk ditempatkan dalam kerangka ini. Ia menyatakan bahwa perkara promosi minuman keras yang dikaitkan dengan hafalan Al-Qur’an dapat diproses secara hukum, tetapi aparat perlu mencermati Pasal 300 dan 301 KUHP baru. Ia juga mengingatkan bahwa peristiwa tersebut tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai penodaan atau penghasutan terhadap agama.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap agama dan penghormatan terhadap hukum harus berjalan bersamaan. Hukum tidak boleh menjadi alat penghukuman berdasarkan tekanan massa, tetapi juga tidak boleh membiarkan kebebasan berubah menjadi tindakan yang melampaui batas hukum.

Khamr dan Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Dari perspektif Islam, khamr memiliki kedudukan normatif yang jelas. QS. Al-Ma’idah ayat 90 memerintahkan orang beriman untuk menjauhinya. Karena itu, menjadikan minuman beralkohol sebagai hadiah setelah seseorang menghafalkan ayat Al-Qur’an memiliki persoalan etis dan keagamaan yang kuat. Namun, dalam hukum positif, minuman beralkohol diatur melalui mekanisme pengendalian dan pengawasan, antara lain melalui Perpres Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta berbagai ketentuan sektoral dan daerah.

Di sinilah tanggung jawab pelaku usaha menjadi penting. Kebebasan berusaha bukan kebebasan untuk mengabaikan norma. Kreativitas promosi tetap mempunyai batas ketika berhadapan dengan hukum dan sensitivitas kehidupan beragama. Pelaku usaha yang memproduksi, mendistribusikan, menjual, atau menyajikan minuman beralkohol juga tidak cukup hanya menunjukkan bahwa usahanya terdaftar dalam OSS. PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko telah menggantikan PP Nomor 5 Tahun 2021 dan mengatur persyaratan dasar, Perizinan Berusaha, PB UMKU, standar usaha, OSS, pengawasan, evaluasi, dan sanksi.

Karena itu, anggapan bahwa “sudah memiliki OSS berarti usaha otomatis boleh dijalankan” adalah keliru. Legalitas usaha bergantung pada kegiatan yang dilakukan, KBLI, tingkat risiko, persyaratan dasar, standar usaha, perizinan sektoral, dan lokasi. Produsen tidak sama dengan distributor. Distributor tidak sama dengan pengecer. Pengecer juga tidak otomatis sama dengan restoran atau tempat hiburan yang menyajikan minuman. Begitu pula reseller atau stockist harus dilihat berdasarkan kegiatan usaha yang sebenarnya serta KBLI yang sesuai.

KBLI, KKPR, dan Pengendalian Ruang
Kegiatan usaha selalu berhubungan dengan ruang. KBLI menentukan klasifikasi kegiatan ekonomi, sedangkan kesesuaian lokasi dengan tata ruang menjadi bagian penting dalam persyaratan dasar. KKPR menjadi instrumen untuk memastikan kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Pelaksanaannya diatur antara lain melalui Permen ATR/Kepala BPN Nomor 13 Tahun 2021. Sementara Forum Penataan Ruang diatur melalui Permen ATR/Kepala BPN Nomor 15 Tahun 2021.

Namun, perlu dihindari generalisasi bahwa semua usaha berisiko tinggi otomatis harus berada di Kawasan Peruntukan Industri. Penentuan lokasi harus melihat KBLI, karakteristik kegiatan, tingkat risiko, ketentuan sektoral, rencana tata ruang, dan zonasi yang berlaku. Demikian pula terhadap penjualan minuman beralkohol. Produsen dan penjual tidak dapat diperlakukan secara identik. Pemeriksaan harus dimulai dari kegiatan usaha yang sebenarnya, kemudian dilanjutkan dengan penilaian risiko, persyaratan dasar, ketentuan sektoral, kesesuaian lokasi, dan peraturan daerah.

Legalitas usaha tidak hanya persoalan izin, tetapi juga persoalan ruang. Perda Harus Ditegakkan Dalam kerangka otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai kewenangan membentuk Peraturan Daerah sesuai kewenangannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Ketentuan tersebut dapat dijabarkan melalui Peraturan Kepala Daerah sesuai kewenangan dan materi muatannya. Penegakan Perda dan Perkada merupakan tugas penting Satpol PP. PP Nomor 16 Tahun 2018 menegaskan tugas Satpol PP dalam menegakkan Perda dan Perkada, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman, serta perlindungan masyarakat. Pasal 6 mengatur fungsi Satpol PP, sedangkan Pasal 7 mengatur kewenangannya, termasuk tindakan penertiban nonyustisial terhadap pelanggaran Perda dan/atau Perkada.
Karena itu, apabila suatu daerah memiliki Perda atau Perkada mengenai pengendalian, peredaran, penjualan, lokasi, atau pengawasan minuman beralkohol, aturan tersebut harus benar-benar ditegakkan. Peraturan yang tidak diawasi pada akhirnya hanya menjadi tulisan di atas kertas. Diperlukan koordinasi antara DPMPTSP, perangkat daerah teknis, Satpol PP, kepolisian, ATR/BPN, dan lembaga terkait. Perizinan bukan sekadar proses administratif, melainkan instrumen pengendalian agar kegiatan ekonomi sesuai dengan tata ruang, ketertiban umum, dan kepentingan masyarakat.

MUI dan Kemitraan Ulama-Umaro
Dalam masyarakat religius, pemerintah daerah juga perlu membangun komunikasi dengan organisasi keagamaan, termasuk MUI. MUI bukan aparat penegak hukum dan bukan pengadilan. Namun, MUI mempunyai posisi strategis dalam memberikan pandangan keagamaan, masukan sosial, edukasi, dan rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah seyogianya menjadikan MUI sebagai mitra strategis, bukan hanya ketika konflik telah terjadi. Masukan ulama dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan, sosialisasi, pengawasan, dan pencegahan konflik sosial-keagamaan.

Hubungan ulama dan umaro bukan hubungan subordinatif. Ulama memberikan arah moral; umaro menjalankan kewenangan negara. Keduanya memiliki ruang berbeda tetapi dapat bertemu dalam tujuan yang sama: menjaga kemaslahatan dan ketenteraman masyarakat. Ungkapan al-‘ulama waratsatul anbiya’—ulama adalah pewaris para nabi—dapat dipahami sebagai pesan moral tentang tanggung jawab ulama menjaga ilmu dan kehidupan umat. Namun, dalam negara hukum, pesan tersebut tetap harus berjalan bersama hukum positif.
Supremasi Hukum yang Berkeadaban
Peristiwa ini pada akhirnya memberikan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar persoalan sebuah sayembara. Ia menunjukkan bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab sosial; kebebasan berusaha harus berjalan bersama etika; dan penghormatan terhadap agama harus berjalan bersama supremasi hukum.

Masyarakat berhak menyampaikan keberatan, tetapi melalui mekanisme hukum. Pelaku usaha berhak menjalankan kegiatan ekonomi, tetapi harus memahami batas hukum dan etika. Aparat wajib memproses dugaan pelanggaran, tetapi tetap menjunjung praduga tak bersalah. Pemerintah daerah wajib menegakkan Perda, sekaligus memastikan aturan memiliki dasar kewenangan yang jelas.

Al-Qur’an bukan komoditas promosi, agama bukan bahan permainan pemasaran, kebebasan bukan kebebasan tanpa batas, dan hukum bukan alat untuk melampiaskan kemarahan.

Di sinilah negara hukum diuji: mampu melindungi hak individu tanpa mengorbankan hak masyarakat; mampu menghormati kebebasan tanpa membiarkan kebebasan kehilangan etika; dan mampu menegakkan hukum tanpa kehilangan keadilan. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab, usaha membutuhkan etika, agama membutuhkan penghormatan, dan hukum membutuhkan keadilan. Keempatnya harus bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan kehidupan publik yang tertib, bermartabat, dan berkeadaban.

Doa Lintas Agama, Energi Persatuan: FKUB Kota Probolinggo Rayakan Kemerdekaan dengan Harmoni

Probolinggo, Berdampak.net — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menyelenggarakan Do’a Bersama Lintas Agama dalam rangka mensyukuri HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (21/8/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Halaman Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan lintas agama, merawat kebinekaan, serta meneguhkan komitmen bersama menjaga Kota Probolinggo tetap aman, damai, dan harmonis.

Kegiatan dihadiri oleh perwakilan Forkompinda, Kepala Kementerian Agama, OPD terkait, jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo, unsur tokoh dan pemuka agama, dan pimpinan organisasi keagamaan.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Probolinggo yang diwakili Kabag Kesra Samsul Arif menyampaikan apresiasi kepada FKUB Kota Probolinggo yang telah menggagas kegiatan Do’a Bersama Lintas Agama. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni peringatan kemerdekaan, tetapi merupakan ruang spiritual sekaligus kebangsaan untuk memperkuat persaudaraan.

“Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi kita memiliki cita-cita kebangsaan yang sama. Kita sama-sama menginginkan Indonesia yang aman, damai, adil, maju, dan sejahtera,” ujar Samsul.

Sementara itu Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP. dalam sambutan sekaligus orasinya juga menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan modal sosial yang sangat penting bagi pembangunan.

“Keberagaman agama, keyakinan, suku, budaya, dan latar belakang harus ditempatkan sebagai kekuatan untuk saling mengenal, menghormati, membantu, dan bekerja sama. Jika ini terwujud maka secara otomatis juga akan mendukung proses pembangunan yang inklusif dan berkeadilan”, tegasnya.

Do’a bersama dilaksanakan dengan melibatkan perwakilan pemuka agama. Masing-masing secara bergiliran menyampaikan doa sesuai dengan agama dan keyakinannya, dalam suasana penuh penghormatan dan persaudaraan.

Doa bersama tersebut ditujukan antara lain bagi keselamatan bangsa dan negara, para pahlawan dan pendahulu bangsa, para pemimpin Indonesia, serta masyarakat Kota Probolinggo.

Momentum tersebut juga menjadi refleksi bahwa kemerdekaan merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa yang harus dijaga bersama.

“Memperingati kemerdekaan tidak cukup hanya dengan upacara dan perayaan, tetapi juga harus diwujudkan dengan rasa syukur, menjaga persatuan, serta mengisi kemerdekaan dengan karya nyata bagi masyarakat dan bangsa,” tegas Hudri.

FKUB Kota Probolinggo terus didorong untuk menjadi ruang dialog dan jembatan komunikasi antarpemuka agama. Melalui komunikasi yang intensif, potensi kesalahpahaman di tengah masyarakat dapat dicegah sejak dini.

Pemerintah Kota juga Probolinggo menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan FKUB, tokoh agama, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat dalam membangun ekosistem kerukunan yang kokoh dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Do’a Bersama Lintas Agama diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi penguat komitmen bersama bahwa kerukunan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Generasi Muda Harus Menjadi Penjaga Kebinekaan

Dalam kesempatan ini Hudri juga mengajak tokoh agama Kota Probolinggo untuk senantiasa membina dan mendampingi generasi muda dan anak-anak dengan memberikan edukasi agar merawat kebinekaan. Edukasi bagi henerasi muda diharapkan agar cerdas dalam menggunakan media sosial, terbuka dalam pergaulan, kuat dalam karakter, dan memiliki semangat gotong royong.

Kemajuan teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan menyebarkan pesan-pesan positif, bukan menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian, provokasi, hoaks, maupun informasi yang dapat memecah persatuan.

“Probolinggo adalah rumah bersama. Indonesia adalah rumah besar kita. Persatuan adalah kekuatan yang harus kita jaga bersama,” pesan Hudri.

Semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika, bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih damai, maju, dan sejahtera.

Inovasi Kepala SMA 2 Sampang Semakin Nyata, Kelas Kreasi Wujudkan Sekolah sebagai Rumah Kreativitas Siswa

SAMPANG, Berdampak.net — Inovasi pendidikan di SMA 2 Sampang terus berkembang. Di bawah kepemimpinan Dimas Bayu Perdana Putra, M.Pd, sekolah tersebut kembali menghadirkan terobosan melalui Kelas Kreasi, sebuah program yang dirancang untuk menjadi ruang tumbuh bagi bakat, minat, kreativitas, dan karakter peserta didik.

Pembukaan Kelas Kreasi berlangsung dengan penuh antusias dan turut dihadiri oleh para wali murid. Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur, yang turut memberikan dukungan terhadap upaya sekolah dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang berpihak pada pengembangan potensi siswa.

Kelas Kreasi bukan sekadar program tambahan, tetapi diproyeksikan menjadi bagian dari hidden curriculum dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMA 2 Sampang. Konsep ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar, berkreasi, berkolaborasi, dan mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakat serta minat masing-masing.

Enam bidang Kelas Kreasi yang dikembangkan meliputi Kelas Kreasi Seni, Kelas Kreasi Keagamaan, Kelas Kreasi Bela Negara, Kelas Kreasi Bahasa Asing, Kelas Kreasi Olahraga, dan Kelas Kreasi Multimedia.

Keenam bidang tersebut menjadi gambaran bahwa SMA 2 Sampang berupaya membangun pendidikan yang lebih komprehensif. Sekolah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap karakter, kreativitas, keterampilan, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kebugaran, hingga literasi digital siswa.

Kepala SMA 2 Sampang, Dimas Bayu Perdana Putra, M.Pd, mengatakan bahwa sekolah harus mampu menjadi tempat yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk berkembang.

“Kami ingin menjadikan sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga rumah bagi kreativitas siswa. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas kita adalah memberikan ruang, pendampingan, dan kesempatan agar potensi tersebut dapat berkembang menjadi prestasi dan karya,” ungkapnya.

Penerapan Kelas Kreasi dalam hidden curriculum diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, bekerja sama, berkomunikasi, berkreasi, serta menghasilkan karya nyata.

Kehadiran para wali murid dalam pembukaan program ini juga menjadi bagian penting dari penguatan sinergi antara sekolah dan keluarga. Dukungan orang tua diharapkan semakin memperkuat proses pendampingan siswa dalam mengembangkan potensi mereka.

Langkah inovatif tersebut sekaligus mempertegas arah pengembangan SMA 2 Sampang sebagai sekolah yang adaptif terhadap perubahan zaman, terbuka terhadap kreativitas, dan konsisten memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk tumbuh sesuai potensinya.

Dengan semangat “sekolah sebagai rumah kreativitas”, Kelas Kreasi diharapkan mampu melahirkan generasi SMA 2 Sampang yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, berkarakter, percaya diri, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Dari ruang kelas lahir pengetahuan, dari Kelas Kreasi lahir karya, dan dari inovasi sekolah lahir generasi yang siap mengukir prestasi. (rh)

Kepala SMA 2 Sampang Raih Penghargaan Kepala Sekolah Penggerak, Tegaskan Kepemimpinan Muda yang Inovatif dan Inspiratif

SAMPANG, Berdampak.net — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMA 2 Sampang. Kepala SMA 2 Sampang berhasil meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah Penggerak dalam Apresiasi Sekolah Terawat Cabang Dinas Pendidikan Sampang Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi bukti nyata komitmen kepemimpinan sekolah dalam membangun budaya pendidikan yang inovatif, inspiratif, dan berorientasi pada peningkatan mutu.

Capaian tersebut semakin istimewa karena sosok kepala sekolah yang meraihnya dikenal sebagai kepala sekolah muda yang inovatif, bertalenta, dan memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan kompetensi pendidikan. Sebelum dipercaya memimpin satuan pendidikan, ia telah melalui berbagai pengalaman dan peran strategis dalam ekosistem pendidikan, mulai dari Guru Penggerak, Pengajar Praktik, Fasilitator hingga Instruktur.

Berbekal pengalaman tersebut, kepemimpinan di SMA 2 Sampang tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada terciptanya lingkungan sekolah yang nyaman, tertata, bersih, sehat, kreatif, dan mampu memberikan ruang tumbuh bagi seluruh warga sekolah.

Penghargaan Kepala Sekolah Penggerak – Apresiasi Sekolah Terawat Cabang Dinas Pendidikan Sampang 2026 menjadi salah satu refleksi atas kerja bersama seluruh warga SMA 2 Sampang. Kepala sekolah tidak berdiri sendiri dalam pencapaian ini, melainkan menjadi penggerak yang mengorkestrasi guru, tenaga kependidikan, peserta didik, serta seluruh elemen sekolah untuk bergerak dalam satu visi.

Jejak profesional kepala sekolah tersebut juga diperkuat dengan keberhasilannya menyelesaikan program manajerial serta BCKS (Bakal Calon Kepala Sekolah) Jawa Timur. Kompetensi tersebut menjadi modal penting dalam menjalankan kepemimpinan sekolah yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis inovasi.

Bagi SMA 2 Sampang, penghargaan ini bukan sekadar sebuah piala atau apresiasi, tetapi menjadi energi baru untuk terus bergerak dan berbenah. Sekolah terawat dimaknai bukan hanya sebagai lingkungan fisik yang bersih dan rapi, tetapi juga sebagai ekosistem pendidikan yang mampu merawat karakter, potensi, kreativitas, dan masa depan peserta didik.

Kepala SMA 2 Sampang menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil dari kolaborasi dan komitmen seluruh warga sekolah. Semangat yang dibangun adalah bahwa setiap perubahan positif harus dimulai dari langkah kecil, dilakukan secara konsisten, dan dikerjakan bersama-sama.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Sekolah yang terawat bukan hanya tentang lingkungan yang tertata, tetapi bagaimana kita bersama-sama merawat semangat belajar, karakter, prestasi, dan mimpi setiap peserta didik,” demikian semangat yang menjadi landasan kepemimpinan SMA 2 Sampang.

Ke depan, SMA 2 Sampang berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inovasi pendidikan dan memperkuat budaya positif sekolah. Sosok kepala sekolah muda dengan pengalaman sebagai Guru Penggerak, Pengajar Praktik, Fasilitator, Instruktur, serta lulusan manajerial dan BCKS Jawa Timur tersebut diharapkan mampu menjadi lokomotif perubahan yang membawa SMA 2 Sampang semakin maju, berprestasi, dan adaptif menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

Dari sekolah yang terawat, lahir lingkungan belajar yang hebat. Dari pemimpin yang terus bergerak, lahir perubahan yang berdampak. SMA 2 Sampang membuktikan bahwa inovasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang visioner dapat menjadi kekuatan untuk mengantarkan sekolah menuju prestasi yang lebih tinggi. (rh)

SMKN 3 Probolinggo Perkuat Layanan melalui In House Training “Service Excellence for Level Up Performance”

Probolinggo, Berdampak.net — Dalam rangka memperkuat budaya kerja dan kualitas layanan di lingkungan sekolah, SMK Negeri 3 Kota Probolinggo menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertema “Service Excellence for Level Up Performance”. Acara ini menjadi momentum penguatan kinerja melalui peningkatan kemampuan pelayanan, kerja sama, serta sikap profesional seluruh elemen sekolah.

Kegiatan IHT dibuka dengan rangkaian pembinaan kebangsaan, meliputi penyanyian Indonesia Raya dan Mars SMKN 3 Probolinggo. Selain itu, rangkaian perayaan tersebut turut menyertakan tema besar “Membangun Budaya Kerja Profesional, Kolaboratif, dan Berorientasi pada Pelayanan Prima” guna mewujudkan sekolah yang unggul, bermartabat, dan berwawasan global.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMKN 3 Probolinggo, Bapak Adi Abdullah, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mempertegas arah budaya kerja sekolah. Ia juga mengungkapkan pentingnya orientasi pelayanan prima sebagai dasar dalam melayani kebutuhan peserta didik maupun seluruh pemangku kepentingan.

Acara berlangsung di Hall Adenium dan diikuti oleh para peserta dari lingkungan SMKN 3 Probolinggo. Setelah rangkaian pembukaan dan pengarahan, kegiatan dilanjutkan pada sesi pelatihan dengan pendekatan yang lebih aplikatif dan interaktif.

Pada sesi utama, peserta diberikan materi menggunakan metode Conceptual Loading Experiential Learning yang menggabungkan problem solver dan permainan misi. Melalui model pembelajaran tersebut, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga dilatih untuk menyelesaikan permasalahan layanan secara bersama-sama, meningkatkan komunikasi, serta memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan kerja.

Pelatihan juga diisi dengan penyampaian program dan arahan penguatan kompetensi, termasuk menekankan pembentukan budaya kerja inovatif serta berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Diharapkan, seluruh peserta mampu menerapkan hasil pelatihan ke dalam rutinitas kerja sehingga kualitas pelayanan di sekolah semakin meningkat. (rh)