Rasakan Magis Senja Bromo! Pesta Budaya Ke-Telu Ambyar Digelar Besok

Probolinggo, Berdampak.net— Gelaran budaya dan musik bertajuk Bromo Sunset: Music and Culture Ke-Telu Ambyar akan digelar besok, Sabtu, 28 Juni 2025 di Amphitheater Seruni Point, kawasan Bromo. Acara ini terbuka gratis untuk umum dan berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 19.00 WIB.

Pagelaran ini akan menampilkan pertunjukan dari Tukang Tabuh, Barya Cantari PGPI Leces, serta dipandu oleh Viskah Rasyid sebagai Master of Ceremony. Diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo, acara ini menjadi bagian dari promosi pariwisata dan seni budaya lokal.

Bromo Sunset diharapkan menjadi daya tarik baru di tengah panorama indah Bromo saat senja. Jangan lewatkan momen budaya yang spektakuler di puncak Jawa Timur ini

Menelusuri Rasa dan Bahasa: Mahasiswa Linguistik UPN Jatim “Ngulik” Kuliner Bali di Luar Kelas

Bali, Berdampak.net — Belajar linguistik tak harus selalu terpaku di dalam kelas. Mahasiswa Program Studi Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur membuktikannya lewat studi lapangan bertajuk “Ngulik Nama Tempat Kuliner dan Bahasa Bali” yang digelar pada 2–5 Juni 2025.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyusuri berbagai titik kuliner di Pulau Dewata, tidak hanya untuk mencicipi cita rasa khas Bali, tetapi juga untuk menyelami makna di balik penamaan tempat-tempat makan yang unik, akrab, dan penuh nilai kultural.

“Banyak nama tempat makan di Bali yang lahir dari inspirasi lokal—baik alam, tradisi, maupun kebiasaan masyarakatnya. Ini menjadi ruang belajar yang kaya bagi para mahasiswa linguistik,” ujar Dr. Endang Sholihatin, Koordinator Prodi Linguistik Indonesia.

Fokus utama dari studi ini adalah onomastika kuliner, yakni kajian linguistik tentang penamaan, khususnya dalam konteks makanan dan tempat makan. Setiap nama yang dipilih pemilik warung atau restoran diyakini menyimpan filosofi tersendiri yang mencerminkan identitas lokal dan strategi komunikasi budaya.

Namun tak berhenti di sana. Studi lapangan ini juga menggali data bahasa Bali dari sisi fonologi (ilmu bunyi bahasa) dan morfologi (struktur kata). Mahasiswa diajak untuk menganalisis langsung bentuk dan bunyi bahasa Bali dari tuturan masyarakat setempat, menjadikannya sebagai bahan riset mikro-linguistik.

“Kami ingin para mahasiswa tidak hanya paham teori linguistik dari buku, tapi juga mengalami bagaimana teori itu hidup dalam masyarakat. Bali, dengan kekayaan budayanya, adalah tempat yang sangat ideal untuk itu,” imbuh Dr. Endang.

Melalui interaksi langsung dengan lingkungan sosial dan budaya, mahasiswa diajak untuk memaknai bahasa tak sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan, sejarah, dan rasa. Setiap kata dan nama yang mereka temui membawa makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bunyi.

Tak pelak, kegiatan ini menjadi kombinasi antara riset ilmiah dan petualangan kultural yang menyenangkan. Di balik meja makan, mahasiswa belajar linguistik dengan cara yang lebih segar, membumi, dan menyentuh kehidupan nyata.

Studi lapangan ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa dan budaya adalah dua sisi dari koin yang sama. Melalui makanan dan bahasa, mahasiswa belajar mengenal dunia, satu suapan dan satu kata dalam satu waktu. (pm)

Lagu “Cantik” Buat Pengunjung Terhanyut dalam Melodi, di Bromo Sunset Music and Culture 2

Probolinggo, Berdampak.net – Kabut tipis turun perlahan menyelimuti Amphitheater Seruni Point, Sabtu (17/5/2025) sore. Semburat jingga senja beradu dengan rintik hujan yang jatuh malu-malu, menciptakan suasana syahdu di panggung Bromo Sunset Music and Culture 2.

Di tengah atmosfer penuh kehangatan itu, DPM Project Band asal Probolinggo, membawakan lagu legendaris Kahitna “Cantik” sebagai lagu ketiga dalam setlist mereka.

Dengan formasi Faris Fahrusi (gitar), Radite Purnomo (bass), Rudi (drum), Diva (vokal), dan Zacky (keyboard), DPM Project menyulap lagu lawas tersebut menjadi persembahan romantis di kaki Gunung Bromo. 

Iringan keyboard Zacky membuka tembang itu dengan lembut, diikuti petikan gitar Faris yang mendayu. Saat Diva mulai menyanyikan bait, “Ingin rasa hati berbisik, untuk melepas keresahan dirimu, oh cantik…” suasana pun seolah larut dalam rindu.

Bukan sekadar nostalgia, lagu “Cantik” menjadi pengikat rasa antara penonton, pegunungan, dan musik. Penonton tampak larut, beberapa menyandarkan kepala ke bahu pasangan, yang lain menutup mata menikmati melodi.

“Kalau mentari bisa terbit di utara, maka cinta pun bisa hadir di tempat dan waktu yang tak biasa. Lagu ini cocok banget dinyanyikan di sini,” ucap Diva, Sabtu (17/5/2025).

Salah satu penonton, Alexander, pria asal Malang yang mengaku sudah lebih dari 10 kali naik ke Bromo, mengungkapkan kekagumannya terhadap kemasan acara.

“Biasanya saya ke Bromo buat liat sunrise. Tapi ini beda banget. Musiknya, kabutnya, rintiknya hujan, lengkap sudah. Lagu ‘Cantik’ barusan benar-benar bikin merinding,” ujar Alexander yang datang bersama rekannya dari BNI.

Acara Bromo Sunset Music and Culture 2 sendiri merupakan bagian dari rangkaian promosi wisata budaya dan musik yang digelar rutin untuk menghidupkan kawasan wisata Gunung Bromo, khususnya di kawasan Seruni Point. Event ini dikemas apik oleh Bright Pantura, event organizer yang dikenal piawai meramu elemen seni, musik, dan keindahan alam menjadi satu kesatuan pengalaman yang tak terlupakan. Tak hanya sebagai pengisi acara, DPM Project menunjukkan kapasitas sebagai band lokal yang siap tampil di panggung nasional.

Dengan musikalitas lintas genre dan penampilan yang energik namun peka suasana, mereka berhasil menjembatani antara keindahan alam dan romantisme musik.

Lebih dari sekadar hiburan, gelaran ini juga menjadi salah satu strategi promosi unggulan yang diusung Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata atau Dinasporapar Kabupaten Probolinggo untuk memperkenalkan potensi wisata daerah secara lebih luas.

Hujan belum juga reda. Tapi di tengah rintik, rindu, dan lagu, satu hal terasa nyata, Bromo tak hanya tentang lanskap yang megah, tapi juga tentang rasa yang hidup seperti lagu “Cantik” yang mengalun di amfiteater alam itu. (*)

Sumber https://www.bromotoday.id/

Ada Aliran Kepercayaan Menyimpang di Wilayahnya, Ini Kata Wabup Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Keberadaan aliran kepercayaan menyimpang bukan hal baru di Kabupaten Probolinggo. Beberapa kali muncul, berulang kali pula MUI Kabupaten Probolinggo menindaknya. Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo pun mendukung langkah MUI.

Hal itu diungkapkan Wabup Probolinggo, Lora Fahmi AHZ saat menghadiri kegiatan Halal Bihalal dan peresmian kantor baru MUI Kabupaten Probolinggo di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Rabu (16/4/2025).

Sebelum menyatakan dukungannya, Wabup Lora Fahmi mendapat informasi dari Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo KH Abdul Wasik Hannan. Informasi itu disampaikan saat Kiai Wasik -sapaannya- memberikan sambutan dalam kegiatan halal bihalal.

“Ada petilasan palsu Syekh Maulana Ishaq di Krucil dan Maron, ada pula patung nyeleneh yang dibangun oleh Bintaos,” papar Kiai Wasik.

Menanggapi hal itu, Wabup Lora Fahmi menyatakan mendukung langkah MUI Kabupaten Probolinggo untuk menindak kasus kepercayaan menyimpang. “Kami mendukung langkah MUI dalam menekan kasus aliran kepercayaan menyimpang,” katanya saat diwawancara Komisi Kominfo MUI Kabupaten Probolinggo.

Selain menyatakan dukungannya. Wabup juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga siap berkolaborasi dengan MUI Kabupaten Probolinggo dalam menjalankan program kegiatan. “Kolaborasi ini demi melayani masyarakat,” ujarnya.

Diketahui, pada tahun 2024 MUI menerima banyak laporan terkait aliran kepercayaan menyimpang. Seperti adanya sebuah makam di Desa Kalianan, Kecamatan Krucil yang disebut petilasan Syekh Maulana Ishaq.

MUI pun merespons. Mulai mencari data sejarah jejak Syekh Maulana Ishaq di Probolinggo, hingga menggali informasi dari masyarakat setempat. Hasilnya, tidak ada data yang menyebut ada petilasan Syekh Maulana Ishaq di Krucil.

Petilasan palsu itupun dibongkar. Itu berkat kerjasama lintas instansi dan masyarakat Desa Kalianan.

Jauh bertahun-tahun silam, MUI Kabupaten Probolinggo juga aktif mengambil langkah tegas aliran menyimpang di Desa Krampilan, Kecamatan Besuk. Kelompok aliran tersebut dipimpin oleh seseorang bernama Ardi Husein.

Dinyatakan menyimpang karena Ardi menghalalkan dua orang lawan jenis bukan suami istri berhubungan badan. Ardi pun diseret ke pengadilan dan divonis bersalah.

Nah, yang tak kalah heboh yaitu kasus yang melilit Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, di Kecamatan Gading. Di “kerajaan kecil” itu ditemukan banyak kasus. Mulai dari kepercayaan menyimpang, penipuan, hingga pembunuhan.

Taat Pribadi selaku pemimpin padepokan divonis bersalah oleh pengadilan dan hingga kini masih menjalani masa tahanan. (don)

Festival Gandrung Sewu 2024 Bertema “Payung Agung” Rayakan Keberagaman Budaya Banyuwangi

Banyuwangi, Berdampak.net – Festival Gandrung Sewu 2024 kembali digelar dengan tema besar “Payung Agung,” yang diangkat untuk merayakan keberagaman etnis dan budaya di Kabupaten Banyuwangi. Diadakan di Pantai Marina Boom, festival ini melibatkan lebih dari 1.350 pelajar yang tampil memukau dalam pagelaran seni kolosal Tari Gandrung. Tema “Payung Agung” dipilih sebagai simbol keharmonisan, di mana beragam budaya dan nilai-nilai hidup berbaur dalam keseharian masyarakat Banyuwangi. Sabtu (26/10/2024).

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Banyuwangi, Sugirah, menjelaskan bahwa tema ini mencerminkan nilai-nilai kebudayaan yang saling berinteraksi di daerah tersebut. “Banyuwangi merupakan tempat di mana budaya dan nilai hidup saling berinteraksi,” ujar Sugirah. Ia menambahkan bahwa Gandrung Sewu, yang sejak 2023 telah menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN), tidak hanya merayakan kekayaan budaya lokal, tetapi juga mengajak seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestariannya.

“Kemasan tradisi dalam format modern seperti Gandrung Sewu kami yakini akan melestarikan kekayaan seni budaya lokal sambil menarik generasi muda untuk terus melestarikannya,” kata Sugirah. Penyelenggaraan ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap seni tradisional Banyuwangi dengan konsep yang lebih segar dan relevan.

Festival tahun ini juga mendapatkan apresiasi dari Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Kreativitas Kementerian Pariwisata, Restog Krisna Kusuma. Ia menyampaikan dukungannya terhadap Pemkab Banyuwangi yang terus mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif. “Gandrung Sewu ini tidak terlepas dari inovasi serta peningkatan kualitas pelaksanaan dari tahun ke tahun, sehingga menjadi agenda unggulan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara,” katanya.

Selain pertunjukan tari kolosal, Festival Gandrung Sewu 2024 juga menyajikan beragam kegiatan lain seperti bazar kuliner, pameran kerajinan lokal, serta area interaktif bagi wisatawan. Dengan peningkatan kualitas dan kemasan yang lebih modern, festival ini diharapkan tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya lokal.