Kabid Kebudayaan Dinas Dikdaya Kabupaten Probolinggo Beserta Istri, Resmi menjadi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Yogyakarta, Berdampak.net – Kabid Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabulaten Probolinggo, Akhmad Arief Hermawan menerima gelar dan nama baru dari Ingkang Sinuwun Sri Sultan Karaton Ngayoyakarta Hadiningrat dengan nama Mas Wedono Wasitoprobodipuro.
Gelar ini didapat setelah Arief mengikuti wisuda abdi dalem Kraton yang dilaksanakan di Kagungan Dalem Bangsal Kematangan pada Rabu, 22 Okt 2025.
Bagi Arief gelar MW Wasitoprobodipuro memberikan makna yang dalam bagi dirinya dan keluarga.

“Bermakna sekali untuk saya. Tentu saya harus bisa menjaga kehormatan nama itu, sehingga nanti dapat memberikan pengaruh baik pada pelayanan masyarakat dan adat budaya.

Wasitoprobodipuro berarti harus bisa memberikan nasihat (wasita) yang baik dan bijaksana bagi siapapun. Harus bekerja baik dan adil untuk memajukan masyarakat dan budaya khususnya yang ada di Probolinggo” kata Arief kepada wartawan.

Sebelum melaksanakan wisuda, ia mendapatkan pelatihan/gladen selama 4 hari di Keraton. Pada kesempatan itu, ia dan abdi dalem lainnya menerima sejumlah materi seperti halnya terkait sejarah Jogja, kebudayaan, hingga materi terkait unggah-ungguh atau etika.

“Bagi saya ini bukan hal yang biasa, hal yang luar biasa pastinya. Menerima nama pemberian Ngarsa Dalem ini saya harus mempersiapkan batin secara sungguh-sungguh agar yang dikersakke (diinginkan) Ngarsa Dalem dapat terwujud dan saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam menjalankan amanah ini,” ujarnya.

Festival Rangkarang di Randutatah, Kolaborasi Seni dan Ekonomi Warga Paiton

Probolinggo, Berdampak.net – Pemerintah Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, sukses menggelar Festival Rangkarang pada Sabtu (18/10/25) di wisata Greenthing Beach and Mangrove Forest. Acara ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kepala Desa Randutatah, Suham, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan bentuk komitmen desa dalam menjaga eksistensi seni dan budaya yang mulai ditinggalkan masyarakat.

Menurutnya, arus globalisasi membuat minat terhadap seni tradisional menurun. Karena itu, pihaknya berupaya menghadirkan kegiatan yang mampu menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya lokal.

“Festival Rangkarang bukan sekadar hiburan. Ini adalah langkah konkret agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak melupakan akar budayanya,” ujar Suham.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Banyak warga yang berjualan makanan, minuman, dan produk kerajinan selama acara berlangsung.

“Melalui kegiatan budaya, ekonomi warga juga ikut bergerak. Kami ingin desa menjadi pusat kegiatan yang bermanfaat bagi banyak pihak,” tambahnya.

Festival ini menampilkan beragam pertunjukan kesenian tradisional, mulai dari musik daerah, tari, hingga teater rakyat. Berbagai kelompok seni dari Randutatah dan desa sekitar turut ambil bagian memeriahkan acara.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Sejak pagi hingga malam hari, ratusan pengunjung memadati area festival untuk menikmati sajian budaya yang penuh warna dan makna.

Manager SDM PT POMI, Rochman Hidayat, turut hadir dan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Festival Rangkarang. Menurutnya, kegiatan seperti ini memperkuat hubungan sosial dan menjadi wadah ekspresi budaya masyarakat.

“POMI mendukung penuh kegiatan seni dan budaya di lingkungan sekitar. Melalui festival ini, kita tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga membangun potensi wisata dan ekonomi desa,” kata Rachman.

Selain itu, Kepala Budang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Arief Hermawan, memberikan apresiasi kepada pemerintah desa atas inisiatifnya dalam menggelar festival tersebut.

Ia menilai, kegiatan ini menunjukkan bahwa Randutatah memiliki kesadaran budaya yang kuat dan dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Kabupaten Probolinggo.

“Festival Rangkarang adalah contoh bagaimana pendidikan karakter dan pelestarian budaya bisa berjalan seiring. Anak-anak muda perlu diperkenalkan dengan kekayaan budaya daerahnya,” ujar Arif.

Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan bagi para peserta dan penampilan kolaboratif dari siswa sekolah dasar setempat. Pementasan tersebut menjadi simbol semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga dan mencintai budaya lokal. (pm)

2 Oktober: Hari Batik Nasional, Simbol Persatuan dan Warisan Budaya Indonesia

Hari ini, seluruh penjuru Nusantara merayakan Hari Batik Nasional, sebuah momen tahunan yang ditetapkan untuk memperingati diakuinya batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Perayaan kali ini memperkuat posisi batik tidak hanya sebagai wastra tradisional, tetapi juga sebagai simbol identitas dan persatuan bangsa Indonesia di mata dunia.

Dasar Penetapan dan Kebanggaan
Penetapan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional dikukuhkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009. Keppres ini menjadi penegasan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan kerajinan yang kaya akan filosofi ini.

Tanggal 2 Oktober juga diperingati sebagai Hari Internasional Tanpa Kekerasan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kebersamaan tanggal ini memberikan dimensi tambahan bagi perayaan nasional, membawa pesan bahwa keindahan budaya dan keragaman yang diwakili batik harus dilestarikan dalam semangat kedamaian, toleransi, dan non-kekerasan.

Melalui perayaan Hari Batik Nasional 2025, Indonesia kembali mengirimkan pesan kuat ke dunia: bahwa kekayaan budaya adalah aset yang tak ternilai dan menjadi pilar penting dalam membangun identitas bangsa yang kuat dan damai.

Condong Carnival Festival 2025: Semangat Budaya dan Kemerdekaan di Tengah Hujan

Probolinggo, Berdampak.net – Desa Condong, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, kembali menggelar Condong Carnival Festival (CCF) pada Selasa, 19 Agustus 2025. Acara tahunan ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Meskipun diguyur hujan deras, semangat warga dan peserta tidak surut sedikit pun.
Festival ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar TK/RA, SD/MI, hingga SMA/MA, serta kelompok umum dan perwakilan RT. Tidak hanya dari Kabupaten Probolinggo, peserta juga datang dari luar daerah, seperti Madura dan Kabupaten Lumajang. Mereka menampilkan beragam atraksi budaya, mulai dari tarian tradisional, busana khas daerah, hingga pertunjukan seni yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.
Meskipun hujan deras mengguyur wilayah tersebut, warga tetap bertahan di tempat, menikmati setiap penampilan yang disuguhkan. Ini membuktikan bahwa semangat masyarakat untuk merayakan kemerdekaan dan melestarikan budaya begitu tinggi.
Wakil Bupati Probolinggo, Ra Fahmi AHZ, hadir secara langsung dalam acara tersebut. Kehadirannya disambut hangat oleh Camat Gading Satrio Sinung Raharjo, jajaran Forkopimka, serta Kepala Desa Condong Jasuri beserta perangkat desa. Wabup Fahmi mengapresiasi penyelenggaraan CCF yang telah tiga tahun berturut-turut digelar. Festival ini bukan hanya hiburan, tetapi juga merupakan ekspresi cinta terhadap Tanah Air dan budaya bangsa.
Kepala Desa Condong, Jasuri, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan serta ungkapan kebahagiaan masyarakat. “Ini adalah bagian dari identitas kami sebagai bangsa yang mencintai budayanya,” ujarnya. Sementara itu, Wabup Fahmi mengingatkan pentingnya mengenal dan mencintai budaya sendiri agar tidak kalah oleh budaya asing. “Ini bagian dari tanggung jawab kita dalam mengisi kemerdekaan secara produktif dan positif,” tegasnya.
Lebih jauh, Wabup Fahmi berharap acara seperti ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan daya saing daerah, tidak hanya di tingkat Jawa Timur, tetapi juga secara nasional. “Condong Carnival Festival 2025 berhasil membuktikan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan secara kreatif, meriah, dan melibatkan semua lapisan masyarakat, bahkan di tengah hujan sekalipun,” pungkasnya.
Dengan semangat yang tinggi dan dukungan dari berbagai pihak, Condong Carnival Festival 2025 menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan bersama.(fj)

Pemdes Randutatah Paiton &  PT POMI Gelar Festival Rangkarang

Probolinggo, Berdampak.net – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke 80 Republik Indonesia, dan selamatan Desa Randutatah, Pemerintah Desa Randutatah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo bersama PT. Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI) menyelenggarakan Festival Budaya Rangkarang (mencari kerang). Kamis (07/08/2025).

Kepala Desa Randutatah, Suham menyampaikan, Festival Rangkarang ini bentuk melestarikan warisan budaya agar tidak punah.

“Jadi warga pesisir Randutatah setiap sore hari saat air pantai mulai surut, mulai dari dulu selalu ke pantai untuk mencari kerang untuk dikonsumsi bersama keluarga ataupun dijual kembali,” jelasnya.

Dalam festival tersebut, semua warga Randutatah mulai mencari kerang dengan durasi waktu selama satu jam, kemudian hasil dari kerangnya akan ditimbang oleh panitia dan ditukarkan dengan kupon undian.

“Hadiahnya kami siapkan sepeda listrik, kulkas, mensin cuci serta alat elektronik untuk memasak, itu semua merupakan persembahan dari PT. POMI Paiton, yang selalu mendukung setiap kegiatan yang kita lakukan di Desa Randutatah,” ungkapnya.

Sementara itu, Human Capital and Community (HCFC) Manager PT POMI, Rochman Hidayat, menyampaikan ini merupakan langkah awal untuk terus melesatarikan budaya rangkarang di Desa Randutatah.

“Kami akan terus mendukung program dari Pemerintah Desa Randutatah, mulai dari eko wisata hingga pelestarian budaya,” jelasnya.

Kedepan harapannya festival serupa bisa terus dilaksanakan dalam skup yang lebih besar. “Untuk tahun ini hanya skala warga Desa Randutatah saja, mungkin di tahun depan bisa skala Kabupaten, dan di adakan di Desa Randutatah,” ungkapnya. (fiq)

Kolaborasi Budaya Mistis dan Musik Ambyar, Sunset di Bromo Makin Asik

Probolinggo, Berdampak.net- Bromo Sunset Music and Culture Ke-Telu Ambyar Suguhkan Kolaborasi Budaya Mistis dan Musik Patah Hati di Seruni Point, Sabtu (28/06/2025)

Panorama senja di kawasan Bromo sore ini berubah menjadi panggung megah bagi kolaborasi seni, budaya, dan musik dalam gelaran Bromo Sunset Music and Culture Ke-Telu Ambyar. Bertempat di Amfiteater Seruni Point, acara ini menjadi sajian budaya yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga membangkitkan rasa bangga akan kearifan lokal.

Dengan mengusung tema “Halimun Argopuro”, acara ini memadukan seni tari, musik tradisional, hingga narasi mistis yang mengangkat legenda Dewi Rengganis. Balutan kabut tipis dan hawa pegunungan yang sejuk kian menambah indah nya  suasana senja pertunjukan dari Sanggar Barya Gantari PGRI Leces – gerak tari penuh makna.

Acara ini merupakan bagian dari program SAE Wisata, gagasan Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris Damanhuri (Gus Haris) yang kini mulai menunjukkan wujud nyatanya. Melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), Pemkab Probolinggo menjadikan event ini sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus memperpanjang durasi tinggal (length of stay) di kawasan wisata Bromo.

Bekerja sama dengan tim kreatif Bright Pantura dan melibatkan penuh komunitas ekonomi kreatif lokal, event ini menjadi wadah ekspresi bagi seniman daerah—mulai dari penari, pemusik, perias, UMKM, hingga konten kreator. Pengunjung pun disuguhi pengalaman budaya yang tak terlupakan: menyusuri lorong legenda Argopuro dalam pertunjukan terbuka dan gratis untuk umum.

Puncak acara ditutup dengan penampilan spesial dari Tukang Tabuh, yang membawakan musik-musik bertema patah hati khas “ambyar” yang mengaduk emosi para penonton. Dentuman ritmis dan lirik sendu menjadi penutup manis di langit Bromo yang mulai temaram, sekaligus menegaskan bahwa musik dan budaya bisa berpadu dalam satu irama, bahkan di tengah alam bebas.

Gelaran ini membuktikan bahwa Bromo bukan hanya tentang sunrise, tapi juga tentang sunset yang sarat makna budaya. (tr)