Cak Item: Wartawan Kompeten Harus Mampu Menerangi Masyarakat Probolinggo Raya

Probolinggo, Berdampak.net – Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar PWI Probolinggo menjadi salah satu upaya mendorong kehidupan pers yang sehat dan profesional. Dalam kegiatan tersebut, Cak Item menyampaikan bahwa wartawan yang kompeten harus mampu memberikan informasi yang menerangi masyarakat Probolinggo Raya.

Menurutnya, UKW bukan sekadar sertifikasi. Nilai pentingnya terletak pada penerapan kompetensi dalam kerja jurnalistik sehari-hari. UKW merupakan bagian dari upaya memenuhi standar kompetensi, sementara wartawan juga perlu mengembangkan soft skill dan kemampuan memberikan nilai lebih di tengah derasnya arus informasi.

“Yang dibutuhkan bukan hanya sertifikat, tetapi bagaimana kompetensi itu diterapkan. Wartawan harus mampu memberikan nilai lebih di tengah banyaknya berita,” demikian pesan yang disampaikan Cak Item.

Ia juga menyebut kehadiran pemerintah daerah baik di kabupaten dan kota Probolinggo termasuk perusahaan seperti PT Paiton Energy – PT POMI, PLN nusantara Power, Bank Jatim sebagai mitra dalam kegiatan tersebut merupakan bukti dukungan terhadap pembangunan daerah dan kehidupan pers yang sehat. Cak Item menyampaikan terima kasih kepada para pemangku kepentingan di Probolinggo yang telah mendukung pelaksanaan UKW.

Dalam kesempatan itu, Probolinggo disebut sebagai daerah yang memiliki potensi, termasuk dari sisi ketahanan fiskal yang berada di angka 22 persen. Potensi daerah dan kebutuhan industri, menurutnya, dapat didukung melalui pemberitaan yang positif, disertai masukan serta koreksi yang membangun agar daerah terus berkembang.

UKW tersebut menghadirkan Direktur UKW dari PWI Pusat, Dr. Eko, sebagai bagian dari pelaksanaan uji kompetensi bagi para wartawan. Secara kompak dan sabil bercanda perwakilan pemerintah daerah dan khusus nya ketua Babul ketua PWI Probolinggo Raya menyampaikan harapan agar peserta bisa lulus semua agar bisa segera bisa berkontribusi untuk dunia pers. (rh)

Pukau Peserta Upacara HSN 2026, 60 Personel Pagar Nusa Kota Probolinggo Tampilkan Jurus Kolosal, TEGUHKAN SEMANGAT PERJUANGAN SANTRI

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 di Kota Probolinggo berlangsung khidmat dan meriah. Usai pelaksanaan upacara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo pada Kamis, 22 Oktober 2026, di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, suasana semakin semarak dengan penampilan seni kolosal pencak silat dari Tim Seni Pencak Silat Pagar Nusa Kota Probolinggo.

Mengusung judul “Gema Jurus Santri Nusantara”, penampilan tersebut melibatkan 60 personel yang menampilkan perpaduan gerakan pencak silat, kekompakan, kedisiplinan, dan semangat perjuangan. Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian peringatan Hari Santri, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan warisan seni bela diri Nusantara yang tumbuh dan berkembang di lingkungan para ulama dan pesantren.

Pagar Nusa merupakan perguruan pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki komitmen dalam melestarikan seni bela diri sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, persaudaraan, dan kedisiplinan kepada generasi muda.

Ketua Pagar Nusa Kota Probolinggo, Rudi Hermanto, menyampaikan bahwa penampilan kolosal tersebut menjadi momentum penting untuk mengenalkan kekayaan tradisi pencak silat yang diwariskan oleh para ulama Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Melalui “Gema Jurus Santri Nusantara”, Pagar Nusa ingin menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya seni bela diri, melainkan juga bagian dari identitas budaya bangsa yang sarat dengan nilai perjuangan, keberanian, pengabdian, dan tanggung jawab.

“Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan para santri dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santri sejak dahulu memiliki peran penting dalam perjuangan bangsa dan selalu berada di garda terdepan dalam mendampingi serta menjaga para kiai,” Jelas Rudi Hermanto.

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memiliki makna historis bagi perjalanan bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang membangkitkan semangat perjuangan umat Islam dan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam konteks tersebut, penampilan Pagar Nusa menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan santri tidak berhenti pada perjuangan fisik di masa lalu. Nilai-nilai tersebut perlu diteruskan melalui pengabdian kepada masyarakat, pelestarian kebudayaan, pembentukan karakter, serta kontribusi nyata dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Seni kolosal pencak silat juga memperlihatkan bahwa tradisi pesantren memiliki kekuatan untuk terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Bagi generasi muda, pencak silat dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun mental yang tangguh, menghormati guru dan orang tua, menjaga persaudaraan, serta mengembangkan sikap disiplin dan tanggung jawab.

Penampilan 60 personel Tim Seni Pencak Silat Pagar Nusa Kota Probolinggo dalam peringatan HSN 2026 menjadi simbol bahwa santri memiliki banyak cara untuk berkontribusi bagi bangsa. Melalui pendidikan, seni, budaya, olahraga, dan pengabdian sosial, santri dapat mengambil peran strategis dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, dan bermartabat.

Momentum Hari Santri Nasional di Kota Probolinggo pun tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah perjuangan, tetapi juga kesempatan untuk meneguhkan komitmen bersama dalam merawat warisan ulama, memperkuat nasionalisme, serta membangun generasi muda yang berakar pada nilai-nilai agama dan kebangsaan.

Melalui “Gema Jurus Santri Nusantara”, Pagar Nusa Kota Probolinggo mengirimkan pesan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi, melainkan juga penjaga identitas bangsa dan penerus perjuangan para ulama dalam mengawal Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Semangat Hari Santri Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga negeri merupakan tanggung jawab bersama. Sebab, ketika tradisi dilestarikan, nilai perjuangan dihidupkan, dan persatuan dirawat, semangat santri akan terus bergema dari pesantren untuk Indonesia.

Kompak Bersarung, Bupati-Wabup Probolinggo dan PCNU Kraksaan Satukan Langkah di HSN 2026

Probolinggo, Berdampak.net – Ribuan santri dan masyarakat memeriahkan kegiatan Jalan Sehat Bersarung dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan identitas budaya pesantren.

Acara yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kraksaan bekerja sama dengan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Klaseman tersebut berlangsung meriah dengan diikuti para santri dan masyarakat umum yang mengenakan sarung.

Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo turut hadir bersama pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Habib Ali Zainal Abidin bin Toha Ba’aqil. Kehadiran unsur pemerintah daerah dan tokoh pesantren mencerminkan sinergi antara ulama dan umara dalam mendukung kegiatan keagamaan serta sosial kemasyarakatan.

Pelepasan peserta ditandai dengan pengibaran bendera start oleh pimpinan daerah bersama pengasuh pesantren, diiringi lantunan selawat yang menambah semangat para peserta.

Dalam sambutannya, Bupati Probolinggo menyampaikan apresiasi kepada RMI PCNU Kraksaan dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Klaseman atas penyelenggaraan kegiatan yang memadukan olahraga, kebersamaan, dan pelestarian tradisi pesantren.

Sementara itu, Habib Ali Zainal Abidin bin Toha Ba’aqil mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme para santri dan masyarakat. Menurutnya, jalan sehat dengan mengenakan sarung bukan sekadar aktivitas olahraga, tetapi juga menjadi simbol kerendahan hati, kemandirian, dan keteguhan karakter santri dalam menghadapi perkembangan zaman.

Selain mendorong pola hidup sehat, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Sepanjang kegiatan, para peserta menunjukkan semangat kebersamaan sekaligus membawa pesan perdamaian, keharmonisan, dan kecintaan terhadap bangsa.

Melalui Jalan Sehat Bersarung, peringatan HSN 2026 di Kraksaan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga ruang untuk meneguhkan identitas santri serta mempererat hubungan antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat. (rh)

Ketua ISLA UNHAS Usung Gagasan Strategis Pembangunan Kelautan di Forum Munas ISKINDO

JAKARTA, Berdampak.net – Dalam forum Musyawarah Nasional Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) yang digelar pertengahan Oktober 2026 di Jakarta, Ketua ISLA (Ikatan Sarjana Kelautan) Universitas Hasanuddin, Darwis Ismail ST,MM mengusung tiga gagasan yang menjadi tema strategis peningkatan pembangunan kelautan dalam forum Munas tersebut.

“Ketiga gagasan yang akan dibawa dalam forum Munas itu sangat strategis dan menyentuh inti dari berbagai tantangan pengelolaan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia saat ini,” kata Darwis Ismail yang juga menjadi salahsatu kandidat calon ketua umum Iskindo yang dihubungi, sabtu malam (10/10/2026).

Ketiga poin gagasan tersebut, lanjut Darwis memiliki relevansi yang sangat kuat jika diusung oleh Iskindo di masa datang.

Pertama, mendesak pembentukan kembali dinas kelautan dan perikanan (DKP) tingkat kabupaten/kota. Karena sejak diberlakukannya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan pengelolaan wilayah laut (0–12 mil) ditarik penuh ke pemerintah provinsi.

Dampak dari aturan itu banyak kabupaten/kota yang membubarkan atau menggabungkan Dinas Kelautan dan Perikanan dengan dinas lain (seperti Pertanian atau Pangan).

Mengapa hal tersebut mendesak, karena menurut Darwis, penarikan kewenangan ini sering kali menciptakan vacuum of power dan memperlambat pelayanan di tingkat akar rumput. Masyarakat pesisir, nelayan kecil, dan pembudidaya berinteraksi langsung di wilayah kabupaten/kota, sementara rentang kendali dinas tingkat provinsi sering kali terlalu jauh.

Oleh karena itu itu, Iskindo dapat menginisiasi kajian akademis dan advokasi kebijakan (policy brief) untuk merevisi regulasi terkait, sehingga kabupaten/kota kembali memiliki wadah kelembagaan (dinas) yang fokus mengurus wilayah pesisir, perizinan nelayan kecil, penyuluhan, serta pemberdayaan ekonomi lokal.

Yang kedua, penginisiasian BUMN khusus budidaya biota ekonomi tinggi. Menurut Darwis, sektor maritim Indonesia membutuhkan penggerak utama (center of excellence sekaligus komersialisasi) pada komoditas marikultur bernilai tinggi (seperti lobster, kerapu, udang vaname, rumput laut kualitas industri, hingga kerang mutiara).

Selama inAdai budidaya komoditas bernilai tinggi masih didominasi pemain swasta besar atau pembudidaya tradisional yang kekurangan modal dan teknologi. BUMN khusus budidaya dapat berperan sebagai offtaker (pembeli siaga), penyedia benih unggul, riset terapan, sekaligus stabilisator harga pasar internasional.

Adapun peran Iskindo bisa menjadi think tank dalam menyusun feasibility study (uji kelayakan) serta model bisnis BUMN ini, agar tidak hanya mengejar profit tetapi juga mendorong inklusivitas nelayan/pembudidaya lokal melalui pola kemitraan (plasma-inti).

Dan yang ketiga, mendorong pembentukan Perhimpunan Ahli Kelautan Indonesia (PAKI). Keberadaan wadah keprofesian resmi, menurut Darwis, sangat krusial untuk menjamin standar kompetensi, sertifikasi, serta perlindungan hukum bagi para profesional di bidang ilmu dan teknologi kelautan.

Indonesia membutuhkan kepastian standar profesi kelautan (mulai dari pemetaan laut, survei hidrografi, oseanografi, hingga konservasi maritim) agar dapat bersaing secara global dan memberikan masukan berbasis bukti (evidence-based policy) kepada pemerintah.

Peran Iskindo mengonsolidasikan pakar dari akademisi, peneliti (BRIN), praktisi industri, dan birokrat untuk memformulasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang kelautan serta melegalkan himpunan profesi ini secara formal.

Langkah-langkah di atas dapat menjadi agenda strategi utama ISKINDO dalam menyusun rekomendasi kebijakan nasional (national ocean policy).

Darwis Ismail menekankan agar ketiga poin gagasan ini menjadi program utama Iskindo kedepan dan memperjuangkannya siapapun yang terpilih jadi Ketum Iskindo diforum Munas Iskindo yang sebentar lagi digelar di Jakarta. (fiq)

Tokk! Terpilih Aklamasi, Tri Septa Agung Jadi Ketua KNPI Kota Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net – Setelah vakum bertahun-tahun, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Probolinggo akhirnya menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub), Jumat (9/10) siang, di Aula Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Probolinggo.

Mengusung tema “Pemuda Bergerak, Kota Probolinggo Maju: Menguatkan Peran Sentral KNPI dalam Pembangunan Daerah”, Musdalub diikuti 50 peserta dari berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Kota Probolinggo.

Hadir para pimpinan dan delegasi utusan dari organisasi kepemudaan besar seperti HMI, GMNI, PMII, GP Ansor, IMM, Fatayat, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiah, IPNU, IPPNU, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan lima pimpinan KNPI Kecamatan. Semua OKP secara aklamasi sepakat memilih Tri Septa Agung Pamungkas sebagai Ketua Umum DPD KNPI Kota Probolinggo 2026-2030. Perlu diketahui, KNPI merupakan induk organisasi tertinggi yang mewadahi organ kepemudaan.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengapresiasi terselenggaranya Musdalub sebagai langkah untuk menghidupkan kembali KNPI Kota Probolinggo setelah vakum selama kurang lebih sembilan tahun. Menurutnya, KNPI memiliki posisi strategis sebagai wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan untuk menyatukan aspirasi, memperkuat sinergi, dan melahirkan gagasan yang mendukung pembangunan daerah.

Wali kota mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif melalui semangat Probolinggo Bersolek. Karena pembangunan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan membuka ruang partisipasi dan menerima aspirasi dari beragam lapisan masyarakat.

Menutup sambutannya, Dokter Aminuddin berharap KNPI Kota Probolinggo yang kembali terbentuk dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menghadirkan ide kreatif, program inovatif, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dari Riset ke Industri: Membangun Kedaulatan Teknologi Indonesia

Surabaya, Berdampak.net – Kedaulatan teknologi Indonesia tidak cukup diukur dari jumlah paten, tetapi dari kemampuan mengubah hasil riset menjadi teknologi yang digunakan dan dikomersialisasikan oleh industri dalam negeri.
Hal ini menjadi perhatian dalam diskusi bersama Kementerian Hukum RI – What’s Up “Campus Calls Out” di Universitas Airlangga, Surabaya, beberapa minggu lalu, yang dihadiri Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani, Ketua DPP APINDO Jawa Timur Eddy Widjanarko, serta jajaran pengurus DPP APINDO Jawa Timur.

Ketergantungan terhadap teknologi dan produk luar negeri masih menjadi tantangan. Kapasitas R&D serta hubungan antara perguruan tinggi dan industri juga perlu diperkuat agar hasil riset tidak berhenti pada pengetahuan atau paten, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dan model bisnis yang sesuai kebutuhan pasar.

Dalam hal ini, APINDO berperan menjembatani kebutuhan industri dengan potensi riset dan inovasi perguruan tinggi. Empat inovasi yang dipresentasikan dalam sesi audit paten, yaitu blockchain untuk rantai distribusi, sepeda listrik hybrid, teknologi baterai, dan hilirisasi sawit, menunjukkan potensi riset dalam menjawab kebutuhan industri.

Tahap selanjutnya adalah mendorong validasi, komersialisasi, dan scale-up agar inovasi tersebut dapat masuk ke rantai nilai, memberikan manfaat ekonomi, serta memperkuat kemandirian teknologi Indonesia.