KAHMI Jatim Siap Ambil Peran Strategis Kawal Pembangunan Jawa Timur Lewat Kebijakan Publik

Surabaya, Berdampak.net — Usai resmi terpilih menakhodai Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur, Luthfi J Kurniawan menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi ini bertransformasi menjadi kekuatan intelektual serta civil society yang progresif. Ia memandang KAHMI memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam mengawal arah kemajuan provinsi Jawa Timur ke depan.

Fokus utama kepemimpinannya diarahkan pada gagasan percepatan pemajuan pembangunan di Jawa Timur, yang mencakup tiga pilar utama, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Jawa Timur harus diimbangi dengan kontribusi nyata dari kalangan intelektual alumni HMI. “Kedepan kita akan mendorong KAHMI untuk terlibat dalam perumusan kebijakan publik,” jelas Luthfi saat menyampaikan visi dan arah gerak organisasinya, Selasa (29/09/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan aktif dalam perumusan kebijakan ini sangat penting agar setiap regulasi maupun program pembangunan yang berjalan benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, inklusif, serta berkelanjutan.

Sebagai wadah berhimpunnya para cendekiawan dan kaum profesional, KAHMI Jatim di bawah kepemimpinan Luthfi siap mengambil peran strategis sebagai mitra kritis sekaligus kolaborator pemerintah daerah. Berikut adalah poin penting dari arah gerak pembangunan yang diusung, seperti pemberdayaan sosial, akselerasi ekonomi, dan pemajuan kebudayaan.

Lebih lanjut, Luthfi menegaskan bahwa KAHMI Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika pembangunan regional. Organisasi ini harus hadir secara aktif memberikan solusi atas berbagai persoalan krusial di akar rumput.

“KAHMI Jatim juga harus ikut serta membangun arah pembangunan kedepan, terutama di Jawa Timur,” tegasnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas sektor, kepengurusan baru MW KAHMI Jawa Timur optimis dapat menghadirkan warna baru dalam kontribusi nyata bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

Diketahui, Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur menetapkan tujuh Presidium untuk periode 2026-2031. Forum organisasi tersebut berlangsung di Hotel Grand Whiz Trawas, Mojokerto, Minggu (27/9/2026).

Muswil diikuti 36 Majelis Daerah (MD) KAHMI kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dalam pemilihan tersebut, peserta menggunakan hak suara untuk menentukan tujuh anggota Presidium MW KAHMI Jatim melalui mekanisme voting.

Berdasarkan hasil rekapitulasi, Lutfi J. Kurniawan memperoleh suara terbanyak dengan 30 suara, disusul Aan Eko Widiarto dengan 29 suara. Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin masing-masing meraih 28 suara. Berikutnya Agus Machfud Fauzi memperoleh 27 suara, Robbah Fatawi 24 suara, dan Nyadin 21 suara. Dengan hasil tersebut, ketujuh nama tersebut ditetapkan sebagai Presidium MW KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031. Sementara kandidat lainnya yakni Samwil memperoleh 20 suara, dr. Agung M 19 suara, Chusnu Romdhoni 14 suara, Moh Ma’ruf Syah 8 suara, serta M Arbayanto dan Ahmad Sanusi masing-masing 2 suara. (fiq)

Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo Angkat Peran Perempuan Hadapi Krisis Iklim

PROBOLINGGO, berdampak.net – Persoalan krisis iklim tidak lagi sebatas isu lingkungan. Dampaknya mulai bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan, pangan, air, hingga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sarasehan Tokoh Perempuan Probolinggo yang digelar Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kantor Bupati Probolinggo, Senin (28/9/2026).

Sekitar 200 tokoh perempuan dari berbagai unsur hadir dalam kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut. Sarasehan mengangkat tema “Peran Kepemimpinan Perempuan dalam Penanggulangan Krisis Iklim”.

Pembahasan diarahkan pada pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan, termasuk persoalan sampah dan perubahan perilaku masyarakat. Para peserta juga diminta membawa tumbler sebagai bagian dari kampanye mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah Fahmi AHZ, S.Th.I., mengatakan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal besar. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar menjadi ruang pertama untuk membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan.

“Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia menyebut persoalan lingkungan memiliki kaitan erat dengan perilaku manusia. Karena itu, upaya menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran sekaligus perubahan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, GOW Kabupaten Probolinggo juga menandatangani rekomendasi bersama terkait penanganan sampah. Komitmen serupa turut dibangun di internal organisasi perempuan sebagai bentuk tindak lanjut dari pembahasan sarasehan.

Sarasehan menghadirkan dua narasumber dan tiga panelis dari unsur lintas agama. Direktur Yayasan Ekosistem Sampah Indonesia, A’ak Abdullah Al-Kudus, menjadi salah satu narasumber dengan materi yang mengaitkan krisis iklim dengan perspektif agama, perempuan, dan masa depan bumi.

Ia menjelaskan bahwa krisis iklim memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada persoalan lingkungan. Perubahan iklim berkaitan dengan persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, pangan, kemiskinan hingga keadilan.

Sejumlah dampak yang muncul di antaranya kenaikan suhu bumi, hujan ekstrem dan banjir, kekeringan, gelombang panas, kenaikan muka air laut, krisis air, gangguan terhadap pangan dan pertanian serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Perempuan, kata dia, menjadi salah satu kelompok yang menghadapi kerentanan lebih besar akibat perubahan kondisi lingkungan, termasuk dalam aspek kesehatan dan reproduksi.

Sementara itu, narasumber lainnya, Zaimatus Sa’diyah dari UIN Walisongo Semarang, mengangkat tema “Merawat Bumi, Merawat Kehidupan: Agama, Perempuan, dan Kesadaran Ekologis.”

Ia memandang krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga menyangkut etika, relasi kuasa dan cara manusia menjalani kehidupan.

Dalam konteks tersebut, agama dinilai memiliki peran penting karena mempunyai bahasa moral yang dapat mendorong manusia untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan.

Perubahan iklim juga dinilai dapat memperbesar ketimpangan yang telah ada. Di Indonesia, misalnya, banyak perempuan bergantung pada sektor pertanian, ketersediaan air dan perikanan yang sangat dipengaruhi kondisi iklim.

Ia kemudian memperkenalkan model “Anti 5R” sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga lingkungan. Konsep tersebut meliputi Refuse atau menolak sesuatu yang tidak diperlukan, Reduce dengan mengurangi konsumsi, Reuse atau menggunakan kembali, Recycle dengan memilah dan mengolah sampah, serta Restore untuk memulihkan ekosistem.

Penerapannya dapat dimulai dari aktivitas sederhana di rumah, seperti mengolah sisa dapur menjadi pupuk sehingga sampah organik tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Dalam pembahasan, peran agama juga disebut penting karena memiliki otoritas moral dalam memengaruhi cara pandang dan perilaku masyarakat. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun solidaritas sekaligus kesadaran bersama menghadapi perubahan iklim.

Ancaman krisis iklim yang semakin nyata dinilai perlu diikuti dengan gerakan yang lebih terarah. Sejumlah langkah yang didorong antara lain transisi dan penghematan energi, pelestarian hutan, advokasi kebijakan, pengelolaan sampah terpadu, pengurangan risiko bencana serta penguatan ketahanan pangan.

Dalam sesi diskusi, perwakilan Komunitas Pena Hijau turut menyampaikan pengalaman gerakan lingkungan di lapangan. Komunitas tersebut rutin melakukan kegiatan bersih-bersih sungai setiap pekan di sejumlah titik di Kabupaten Probolinggo.

Namun, gerakan membersihkan sungai dinilai tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.

Karena itu, perwakilan Pena Hijau mempertanyakan kebijakan konkret yang dapat didorong para tokoh perempuan agar gerakan kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih sungai, tetapi berkembang menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi krisis iklim.

Pertanyaan tersebut sekaligus membawa pembahasan sarasehan pada persoalan yang lebih dekat dengan kondisi di lapangan: bagaimana kepedulian lingkungan yang selama ini tumbuh melalui gerakan masyarakat dapat diperkuat menjadi kebijakan dan gerakan bersama yang berkelanjutan.

Muswil VI KAHMI Jatim Tetapkan 7 Presidium Periode 2026-2031

MOJOKERTO, Berdampak.net — Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur menetapkan tujuh Presidium untuk periode 2026-2031. Forum organisasi tersebut berlangsung di Hotel Grand Whiz Trawas, Mojokerto, Minggu (27/9/2026).

Muswil diikuti 36 Majelis Daerah (MD) KAHMI kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dalam pemilihan tersebut, peserta menggunakan hak suara untuk menentukan tujuh anggota Presidium MW KAHMI Jatim melalui mekanisme voting.

Berdasarkan hasil rekapitulasi, Lutfi J. Kurniawan memperoleh suara terbanyak dengan 30 suara, disusul Aan Eko Widiarto dengan 29 suara. Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin masing-masing meraih 28 suara. Berikutnya Agus Machfud Fauzi memperoleh 27 suara, Robbah Fatawi 24 suara, dan Nyadin 21 suara.

Dengan hasil tersebut, ketujuh nama tersebut ditetapkan sebagai Presidium MW KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031. Sementara kandidat lainnya yakni Samwil memperoleh 20 suara, dr. Agung M 19 suara, Chusnu Romdhoni 14 suara, Moh Ma’ruf Syah 8 suara, serta M Arbayanto dan Ahmad Sanusi masing-masing 2 suara.

Sekretaris Umum Majelis Nasional KAHMI Syamsul Qomar menjelaskan, mekanisme zonasi yang diterapkan dalam Muswil VI hanya digunakan pada tahap penjaringan bakal calon Presidium. Menurutnya, pemilihan akhir tetap dilakukan melalui voting dalam forum Muswil.

“Pembagian zona sifatnya hanya sebatas penjaringan bakal calon. Sedangkan proses pemilihan dilaksanakan dalam Muswil kali ini,” ujar Syamsul saat memimpin persidangan pleno.

Muswil VI KAHMI Jatim juga menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran KAHMI di Jawa Timur. Kepemimpinan baru diharapkan mampu meningkatkan kontribusi strategis organisasi dalam berbagai bidang pembangunan sekaligus memperkuat sinergi antar-MD KAHMI di Jawa Timur.

2.500 Skuteris Ramaikan ASH 2026 di Bermi, Gus Haris Dorong Vespa Jadi Penggerak Wisata dan UMKM

PROBOLINGGO, Berdampak.net – Sekitar 2.500 skuteris memadati kawasan Bermi Eco Park, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, dalam gelaran Argopuro Scooter Holiday (ASH) 2026, Sabtu (19/9/2026). Event komunitas Vespa ini tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya para pecinta skuter, tetapi juga menjadi ruang promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat di lereng Gunung Argopuro.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris menyambut langsung para peserta ASH 2026. Menurutnya, kehadiran ribuan skuteris dari berbagai daerah memberikan dampak positif bagi daerah, khususnya dalam memperkenalkan potensi wisata Kabupaten Probolinggo kepada komunitas dan masyarakat yang lebih luas.

“Event seperti ini bukan hanya soal berkumpulnya komunitas. Ada potensi besar untuk mempromosikan destinasi wisata sekaligus menggerakkan UMKM masyarakat,” demikian semangat yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Dalam rangkaian acara, Gus Haris bersama rombongan turut melakukan penanaman pohon, menyerahkan santunan kepada anak yatim, serta mengunjungi stan UMKM yang berada di lokasi kegiatan.

Suasana ASH 2026 semakin semarak dengan penampilan sejumlah pengisi acara, di antaranya Fredy Kayaman, Bali Banyak Bunyi, dan Denny Frust. Kehadiran para musisi tersebut menambah warna dalam perhelatan komunitas skuter yang mengusung semangat kebersamaan, wisata dan ekonomi kreatif.
Bagi komunitas Vespa, istilah “menyukseskan acara” bukan sekadar tentang meriahnya panggung dan banyaknya peserta. ASH 2026 juga membawa pesan bahwa komunitas dapat ikut “menyukseskan” destinasi wisata, dengan datang, menikmati, mempromosikan, sekaligus membelanjakan uangnya di UMKM lokal.

Dari Bermi, ribuan skuteris tidak hanya meninggalkan jejak perjalanan, tetapi juga membawa cerita tentang potensi wisata Argopuro. Event komunitas pun menjadi salah satu cara mempertemukan pariwisata, ekonomi lokal, komunitas dan kreativitas dalam satu perhelatan.

Perwira Brigif 2 Marinir Asah Profesionalisme Lewat Lomba Menembak Pistol

Sidoarjo, Berdampak.net – Dispen Kormar, TNI AL (Sidoarjo). Para perwira Brigade Infanteri 2 Marinir (Brigif 2 Marinir) memperkuat kemampuan dan profesionalisme melalui Lomba Menembak Pistol di Lapangan Tembak Pistol Bhumi Marinir Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (17/09/2026).

Lomba menembak pistol tersebut dipimpin langsung Komandan Brigif 2 Marinir Kolonel Marinir Eko Budi Prasetyo Adi Saputro. Kegiatan diikuti para perwira staf, komandan Satuan pelaksana, hingga seluruh perwira di jajaran Brigif 2 Marinir.

Lomba menembak menjadi bagian dari pembinaan kemampuan personel untuk menjaga sekaligus meningkatkan keterampilan menembak pistol. Para peserta menjalani perlombaan dengan metode Slow Fire dan Rapid Fire.

Selain aspek teknis, perlombaan diarahkan untuk memperkuat kebersamaan di antara para perwira. Interaksi dalam kegiatan bersama diharapkan turut membangun jiwa korsa dan soliditas personel di lingkungan Brigif 2 Marinir.

“Menembak pistol selain bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan perwira dalam bidang menembak, juga untuk mewujudkan kekompakan, kebersamaan, memupuk jiwa korsa, menjalin soliditas, serta sebagai ajang silaturahmi,” kata Komandan Brigif 2 Marinir.

Kolonel Marinir Eko Budi Prasetyo Adi Saputro, juga menyampaikan bahwa keterampilan menembak merupakan salah satu kemampuan yang harus dipelihara melalui latihan secara rutin. Kompetensi tersebut menjadi bagian dari kesiapan perwira dalam menjalankan tugas secara profesional dan optimal.

“Dengan dilaksanakannya Lomba Menembak ini, diharapkan selain dapat mengasah juga mengetahui sejauh mana kemampuan menembak, khususnya bagi perwira Brigif 2 Marinir,” ujarnya.

Pada perlombaan tersebut Yonif 1 Marinir keluar sebagai juara umum, juara ke 2 diraih oleh Yonif 15 Marinir dan Juara ke 3 diraih oleh Kompi Markas Brigif 2 Marinir, sedangkan untuk juara perorangan, Komandan Batalyon Infanteri 1 Marinir Letkol Marinir Andy Sinaga menjadi yang terbaik dan terbaik 2 di raih oleh Letda Marinir Mayong Awang Edrik Putra S.Tr., Han dan terbaik ke 3 diraih oleh Komandan Batalyon Infanteri 15 Marinir Letkol Marinir Alamsyah, S.H., M.Tr.Opsla.

PA GMNI Kota dan Kabupaten Malang Resmi Dilantik, Siap Turun Langsung ke Masyarakat

Malang, Berdampak.net – Pengurus PA GMNI Kota Malang dan PA GMNI Kabupaten Malang periode 2026–2031 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang digelar di Hotel Mirabel, Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (16/9/2026).

Pelantikan tersebut menjadi momentum baru bagi PA GMNI di wilayah Malang Raya untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menegaskan kembali komitmen pengabdian kepada masyarakat.

Kepengurusan baru PA GMNI Kota dan Kabupaten Malang tidak ingin aktivitas organisasi hanya berhenti pada kegiatan internal. Semangat yang dibawa adalah memperkuat kehadiran alumni GMNI di tengah masyarakat, khususnya masyarakat akar rumput yang secara langsung merasakan dampak dari berbagai kebijakan.

Wakil Ketua Bidang Media, Informasi, dan Digitalisasi PA GMNI Kota Malang, Andreas, S.Sos., MSDM., SHRM-CP., mengatakan bahwa kepengurusan ke depan akan mendorong organisasi untuk lebih dekat dengan masyarakat.

“PA GMNI Kota Malang ingin hadir bukan hanya di ruang-ruang diskusi atau kegiatan organisasi, tetapi benar-benar turun dan mendengar langsung suara masyarakat. Terutama mereka yang berada di lapisan bawah dan merasakan langsung dampak dari sebuah kebijakan,” ujar Andreas.

Menurut Andreas, masyarakat seperti petani, pedagang, pelaku UMKM, pekerja, serta kelompok masyarakat lainnya memiliki persoalan yang perlu mendapatkan ruang untuk disampaikan.

“Petani punya persoalan sendiri, pedagang punya persoalan, UMKM juga menghadapi tantangannya. Kita ingin mengetahui persoalan itu dari lapangan secara langsung. Semangat Marhaenisme harus diterjemahkan menjadi kerja nyata dan keberpihakan terhadap persoalan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia PA GMNI Kabupaten Malang, Aldiano Modal, menegaskan bahwa keberpihakan kepada masyarakat juga harus dibangun melalui perspektif hukum dan hak asasi manusia.

“Masyarakat harus memahami bahwa setiap warga negara memiliki hak yang harus dihormati dan dilindungi. Karena itu, PA GMNI Kabupaten Malang ingin hadir untuk melihat persoalan-persoalan masyarakat secara langsung, terutama ketika terdapat kebijakan atau persoalan hukum yang berdampak terhadap kehidupan mereka,” ujar Aldiano.

Ia menambahkan, persoalan masyarakat tidak selalu dapat dilihat hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek keadilan, kepastian hukum, perlindungan hak, dan akses masyarakat terhadap kebijakan publik.

“Kami ingin membuka ruang komunikasi dengan masyarakat. Ketika ada persoalan yang menyangkut hak-hak masyarakat, kita harus mampu mendengar, memahami persoalannya, kemudian mendorong penyelesaian melalui jalur yang tepat dan sesuai dengan koridor hukum,” lanjutnya.

Menurut Aldiano, kehadiran PA GMNI Kabupaten Malang di tengah masyarakat diharapkan tidak bersifat seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses pengabdian yang berkelanjutan.

Pelantikan kepengurusan PA GMNI Kota Malang dan Kabupaten Malang periode 2026–2031 pun diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat sinergi alumni sekaligus memperluas kerja-kerja kerakyatan di Malang Raya.

Dengan semangat tersebut, kepengurusan baru PA GMNI Kota dan Kabupaten Malang berkomitmen menjadikan organisasi bukan sekadar tempat berhimpun para alumni, tetapi juga ruang untuk mendengar suara masyarakat, mengawal persoalan kerakyatan, serta mendorong hadirnya keadilan sosial di tengah masyarakat.