Di Raker MWCNU Paiton, Gus Mahrus Tekankan Pentingnya Kesadaran Pajak dan Dukung Penuh Perda Fasilitasi Pesantren

Probolinggo, Berdampak.net – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, KH. Muhammad Mahrus Kholil atau yang akrab disapa Gus Mahrus, menghadiri Rapat Kerja (Raker) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton pada Sabtu, 21 Juni 2025. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sejumlah pesan penting terkait peran warga Nahdliyin dalam pembangunan bangsa, termasuk soal pajak dan keberpihakan pemerintah terhadap lembaga keagamaan seperti pesantren.
Di hadapan pengurus MWCNU dan perwakilan dari 20 ranting NU se-Kecamatan Paiton, Gus Mahrus mengajak warga untuk saling mengingatkan dan menyadarkan pentingnya membayar pajak sebagai bentuk tanggung jawab kebangsaan.

“Warga harus saling menyadarkan, mengingatkan satu sama lain untuk taat membayar pajak. Karena dari situ lahir pembangunan, baik fisik maupun non-fisik. Termasuk pembangunan mental dan spiritual warga Nahdlatul Ulama,” tegas Gus Mahrus.

Ia menekankan bahwa pajak tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur seperti jalan atau jembatan, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan, kesehatan, serta program pembinaan masyarakat berbasis keagamaan.

Perda Pesantren Jadi Bukti Keberpihakan Pemerintah Jawa Timur

Dalam kesempatan yang sama, Gus Mahrus juga menyampaikan kabar menggembirakan bagi kalangan pesantren. Ia menginformasikan bahwa saat ini Provinsi Jawa Timur telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang Fasilitasi Pondok Pesantren.

“Alhamdulillah, saat ini Jawa Timur sudah memiliki Perda Fasilitasi Pesantren. Ini adalah bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Perda tersebut, lanjut Gus Mahrus, mencakup dukungan terhadap pengembangan kelembagaan pesantren, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penyediaan akses terhadap layanan publik yang setara. Ia berharap para pengurus NU di berbagai tingkatan dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mengawal dan mengoptimalkan implementasi perda tersebut.

NU Diharapkan Terus Menjadi Pilar Utama Pembangunan

Gus Mahrus juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Raker MWCNU Paiton yang dinilainya strategis dalam memperkuat kelembagaan NU di tingkat kecamatan dan desa. Ia berharap NU tetap menjadi pilar utama dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat sekaligus berkontribusi dalam pembangunan nasional.

“NU tidak hanya mengurusi hal-hal keagamaan, tetapi juga berperan dalam pendidikan, ekonomi, bahkan pembangunan karakter bangsa. Karena itu, sinergi antara NU dan pemerintah mutlak diperlukan,” kata politisi asal Kabupaten Probolinggo itu.

Raker MWCNU Paiton sendiri diikuti oleh berbagai lembaga di bawah naungan MWCNU seperti Lakpesdam, LP Ma’arif NU, LDNU, Lazisnu, LKKNU, dan lainnya. Forum ini menjadi ajang strategis untuk menyusun arah dan program kerja ke depan yang lebih berdampak bagi masyarakat.
Acara ditutup dengan komitmen bersama dari seluruh pengurus untuk terus memperkuat kiprah NU di tengah masyarakat, dan menjadikan MWCNU Paiton sebagai teladan dalam kerja-kerja organisasi yang kolaboratif dan solutif. (pm)

RS Graha Sehat Raih Penghargaan dari BPJS Kesehatan sebagai Perusahaan dengan Pembayaran Iuran Tercepat

Probolinggo, Berdampak.net 19 Juni 2025 – Rumah Sakit Graha Sehat kembali menorehkan prestasi dalam dunia pelayanan kesehatan. Dalam peringatan Satu Dekade Program JKN yang diselenggarakan BPJS Kesehatan di Probolinggo, RS Graha Sehat menerima piagam penghargaan sebagai perusahaan dengan pembayaran iuran tercepat.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pasuruan, dr Dina Diana Permata secara langsung kepada Perwakilan Rumah sakit graha Sehat Kepala Bagian Umum dan Keuangan dalam acara bertajuk “Kolaborasi BPJS Kesehatan dan Badan Usaha Pengusaha Patuh, Pekerja Tangguh”, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen tinggi badan usaha dalam mendukung keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Direktur RS Graha Sehat dr. Susanti Sugianto., MARS. menyampaikan rasa syukur dan bangga atas penghargaan ini. “Bagi kami, komitmen terhadap JKN bukan hanya soal kewajiban administratif, tapi wujud nyata dari kepedulian pada kesejahteraan karyawan. Kami percaya bahwa tenaga kerja yang sehat dan terlindungi adalah fondasi utama mutu pelayanan rumah sakit,” ujarnya.

Acara ini juga menjadi momentum refleksi dan dialog antar pelaku usaha serta BPJS Kesehatan dalam memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Penghargaan ini sekaligus menegaskan posisi RS Graha Sehat sebagai institusi kesehatan yang tidak hanya fokus pada layanan pasien, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap tata kelola SDM dan kepatuhan regulasi. (fj)

Menelusuri Rasa dan Bahasa: Mahasiswa Linguistik UPN Jatim “Ngulik” Kuliner Bali di Luar Kelas

Bali, Berdampak.net — Belajar linguistik tak harus selalu terpaku di dalam kelas. Mahasiswa Program Studi Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur membuktikannya lewat studi lapangan bertajuk “Ngulik Nama Tempat Kuliner dan Bahasa Bali” yang digelar pada 2–5 Juni 2025.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyusuri berbagai titik kuliner di Pulau Dewata, tidak hanya untuk mencicipi cita rasa khas Bali, tetapi juga untuk menyelami makna di balik penamaan tempat-tempat makan yang unik, akrab, dan penuh nilai kultural.

“Banyak nama tempat makan di Bali yang lahir dari inspirasi lokal—baik alam, tradisi, maupun kebiasaan masyarakatnya. Ini menjadi ruang belajar yang kaya bagi para mahasiswa linguistik,” ujar Dr. Endang Sholihatin, Koordinator Prodi Linguistik Indonesia.

Fokus utama dari studi ini adalah onomastika kuliner, yakni kajian linguistik tentang penamaan, khususnya dalam konteks makanan dan tempat makan. Setiap nama yang dipilih pemilik warung atau restoran diyakini menyimpan filosofi tersendiri yang mencerminkan identitas lokal dan strategi komunikasi budaya.

Namun tak berhenti di sana. Studi lapangan ini juga menggali data bahasa Bali dari sisi fonologi (ilmu bunyi bahasa) dan morfologi (struktur kata). Mahasiswa diajak untuk menganalisis langsung bentuk dan bunyi bahasa Bali dari tuturan masyarakat setempat, menjadikannya sebagai bahan riset mikro-linguistik.

“Kami ingin para mahasiswa tidak hanya paham teori linguistik dari buku, tapi juga mengalami bagaimana teori itu hidup dalam masyarakat. Bali, dengan kekayaan budayanya, adalah tempat yang sangat ideal untuk itu,” imbuh Dr. Endang.

Melalui interaksi langsung dengan lingkungan sosial dan budaya, mahasiswa diajak untuk memaknai bahasa tak sekadar sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan, sejarah, dan rasa. Setiap kata dan nama yang mereka temui membawa makna yang jauh lebih dalam dari sekadar bunyi.

Tak pelak, kegiatan ini menjadi kombinasi antara riset ilmiah dan petualangan kultural yang menyenangkan. Di balik meja makan, mahasiswa belajar linguistik dengan cara yang lebih segar, membumi, dan menyentuh kehidupan nyata.

Studi lapangan ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa dan budaya adalah dua sisi dari koin yang sama. Melalui makanan dan bahasa, mahasiswa belajar mengenal dunia, satu suapan dan satu kata dalam satu waktu. (pm)

Peresmian Kantor HNSI Gresik, Samaun: “Wadah Perjuangan Nelayan

Gresik, Berdampak.net -Kantor Dewan Piminan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) kabupaten Gresik, Jawa Timur diresmikan, kamis siang (12/6/2025).Peresmian kantor baru tersebit menjadi momentum penting bagi nelayan dan pengusaha perikanan.

“HNSI sebagai wadah perjuabgan bagi nelayan serta pengusaha perikanan untuk mengadukan masalah dan mencari solusi yang berkelanjutan,” ujar Samaun, Ketua DPC HNSI Kabupaten Gresik saat dihubungi.

Hadir dalam acara peresmian kantor DPC HNSI Gresik anggota DPR RI Komisi XI Thoriq Majiddanor, Kadis Perikanan Gresik mewakili Bupati,Waketum DPP HNSI Agus Suherman, Sekretaris DPD HNSI Jawa Timur, Muslih, dan perwakilan nelayan dari 35 Rukun Nelayan dari 7 kecamatan se kabupaten Gresik.

Dalam kesempatan itu Samaun juga menyampaikan pentingnya keradaan HNSI sebagai pusat informasi dan koordinasi bagi nelayan dan pengsuaha perikanan.

Ia juga bertekad untuk membawa HNSI Kabupaten Gresik menjadi lebih baik.

“Semoga HNSI Kabupaten Gresik semakin lebih baik kedepannya, dan HNSI DPC Kabupaten Gresik mampu memperjuangkan hak-hak nelayan,” kata Samaun.

Selama ini, menurut Samaun, kepengurusan HNSI DPC Kabupaten Gresik masih dibutuhkan dan perlu diperhatikan oleh kita semua, dalam rangka untuk kesejahteraan nelayan di Kabupaten Gresik.

Sementara itu Sekretaris DPD HNSI Jawa Timur, Sutoyo Muslih mengatakan HNSI menjadi wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman antara nelayan dan pengusaha perikanan.

Mereka dapat saling tukar menukar informasi tentang teknik penangkapan ikan yang efektf, penggunaan teknologi modern dalam kegiatan perikanan atau peluang pasar yang sedang berkembang.

“Dengan adanya kolaborasi dan kerjasama diharapkan memberi manfaat yang bermuara pada kesejahteraan nelayan kita,” katanya.

Peresmian kantor di Jl.Tanjungrejo RT 02/RW 13 Pangkhwetan, Ujungpajgkah Gresik merupakan simbol komitmen pemerintah dan masyarakat dalam mendukung nelayan dan pengusaha perikanan.

Sebelumnya Samaun terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gresik periode 2023-2028 dalam Musyawarah Cabang (Muscab) DPC HSNI Gresik yang digelar di Graha KOPSIYAH Mitra Usaha Ideal (MUI) di Jalan Pahlawan, Desa Asempapak, Kecamatan Sidayu, 10 Oktober 2023. (fjr)

Pengurus PWI Probolinggo Raya Periode 2025-2028 Resmi Dilantik, Ini Trobosan Babul Arifandi

Probolinggo, Berdampak.net – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo Raya resmi dilantik, pelantikan tersebut digelar di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Pemkab Probolinggo. Rabu (11/06/2025) Babul Arifandi resmi memimpin PWI Probolinggo Raya untuk periode 2025-2028.

Babul Arifandi, Ketua PWI Probolinggo Raya dalam sambutannya mengatakan, pentingnya peran wartawan menyajikan hasil jurnalistik yang informatif dan inovatif untuk masyarakat.

“Kompetisi itu penting, tetapi jangan bangga dulu jika tidak bisa menghasilkan karya jurnalistik yang menghadirkan hal baru. Kita harus bisa mengisi ruang kosong yang ada di masyarkat guna memenuhi kebutuhan informasi,” jelasnya.

Sebagai pimpinan PWI Probolinggo Raya ia berkomitmen untuk terus meningkatkan sumber daya manusia di tubuh PWI Probolinggo Raya, melalui pelatihan dan penguatan kapasitas seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Sementara itu, Plt Ketua PWI Jawa TImur, Mamud Suhermono dalam sambutannya memberikan pesan kepada jajaran pengurus yang baru dilantik, ia menegaskan keberadaan PWI harus menjadi penunjuk arah bagi masyarakat dalam membedakan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dengan informasi yang tidak jelas asal usulnya.

“PWI harus mendorong masyarakat untuk menjadikan media pers sebagai rujukan utama dalam mendapatkan informasi, bukan media sosial. Wartawan anggota PWI harus berpegang teguh pad kode etik jurnalistik, berita harus melalui proses verifikasi, validasi, dan konfirmasi,” ujarnya. (fiq)

Diujung Tikungan Dunia Kerja, Menyusuri Jejak Mereka yang Bertahan dan Berjuang di 2025

Pagi itu, udara bulan Juni di kabupaten Probolinggo belum benar-benar terang. Sinar mentari masih tertahan mendung, namun deru motor ojek online sudah bersahut-sahutan. Di sebuah gang kecil, Salam (37) memeriksa aplikasinya sambil menyesap kopi sachet yang dia seduh di depan rumah nya di sebuah gang dekat dengan pasar semampir. Dulu, salam adalah karyawan pengambil sample untuk uji analisa batu bara dan sawdust di sebuah perusahaan pembangkit listrik. Tapi pandemi mengubah jalannya. Pabrik itu melakukan efisiensi. Dan kini salam menggantungkan harap pada notifikasi pengantaran yang kadang riuh, kadang sepi seperti senyapnya WhatsApp grup alumni SMA nya yang dulu sibuk tawar-menawar lowongan kerja.

“Kata orang, 2025 ini tahun pemulihan. Tapi buat kami, ini tahun pertarungan.”

Tahun 2025 disebut banyak pengamat sebagai era percepatan digitalisasi AI di kantor, otomasi di pabrik, dan sistem kerja hybrid jadi norma. Tapi tidak semua bisa menari dalam irama yang baru ini. Di Paiton, Sari (33), seorang mantan staf administrasi, kini mengajar kursus online dari rumah. Ia dipaksa belajar desain canva, SEO, dan manajemen media sosial hanya agar tetap relevan.

“Saat kantor bilang mereka tidak butuh staf admin karena semua sudah pakai sistem otomatis, rasanya saya seperti dibuang zaman,” ujarnya lirih. Tapi dia tidak mau tenggelam. “Saya ambil pelatihan daring dari Kartu Prakerja. Itu titik baliknya.”

Namun tidak semua seberuntung Sari. Data dari BPS awal tahun menunjukkan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia masih berada di atas 5%, dan kabupaten probolinggo TPT berada pada 3,4% dengan dominasi usia produktif. Lulusan baru baik SMK maupun sarjana berebut kursi yang terus menyusut.

Di pinggir jalan Kraksaan samping Rumah Sakit Graha Sehat, Warung Sambal Mbok Eni tetap buka meski dengan meja plastik yang semakin jarang terisi. Eni (45) baru saja menolak tawaran “franchise digital” yang menjanjikan sistem online, branding, dan cloud kitchen. Eni ragu, takut tidak paham, dan takut terjebak utang.

“Sekarang semua serba medsos. Katanya harus viral, harus endorse. Tapi saya cuma bisa masak,” katanya. Anak sulungnya sedang kuliah di Malang, dan warung kecil itu adalah nyawa keluarganya.

Usaha mikro seperti milik Eni tak hanya bertarung dengan algoritma media sosial, tapi juga harus melawan kompetisi harga dari aplikasi makanan daring. Konsumen makin banyak pilihan, dan loyalitas jadi barang langka. Meski pemerintah terus menggencarkan program pendampingan UMKM, banyak pelaku usaha merasa mereka sendirian di medan tempur yang tak mereka pahami.

Sedangkan Mira (19), siswi SMK jurusan Tata Busana di Kraksaan, sudah pesimis jauh sebelum wisuda. “Kami belajar menjahit, tapi lowongannya lebih banyak jadi admin atau content creator,” katanya sambil menunjukkan akun TikTok tempat imengunggah hasil karyanya. “Guru saya bilang, sekarang skill harus bisa dijual, bukan hanya ditunjukkan.”

mira benar. Dunia kerja hari ini menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan kemampuan berpikir lintas disiplin yang kadang belum sempat diajarkan di ruang kelas. Padahal, saat dunia bergerak cepat, kurikulum tak selalu bisa mengikutinya.

Sementara itu, di sisi lain spektrum, para pekerja formal juga menghadapi tekanan baru target makin tinggi, jam kerja makin fleksibel tapi tak terbatas, dan PHK makin mudah. Banyak yang pindah ke pekerjaan lepas, bergantung pada gig economy yang tak menjamin keamanan jangka panjang.

Di tengah tantangan itu, muncul generasi baru pejuang mereka yang belajar ulang, membangun ulang, dan berpikir ulang. Seorang buruh bangunan menjadi tukang las online, seorang ibu rumah tangga menjadi dropshipper, seorang guru honorer membuka kelas daring berbayar.
Tidak ada satu jalan yang pasti. Di 2025 ini, tidak cukup hanya punya ijazah, tidak cukup pula hanya punya usaha. Dunia kerja telah menjadi labirin yang butuh kompas baru keterampilan digital, jaringan sosial, dan kemauan untuk terus berubah.

NamunMereka yang Tak Menyerah,
Matahari mulai menyengat ketika Salam akhirnya mendapat pesanan antar kopi dari sebuah kantor baru. “Kadang cuma satu dua order, tapi lumayan buat bertahan, katanya sambil mengenakan helm. Salam tahu, dunia yang dia jalani sekarang jauh dari ideal. Tapi diajuga tahu, diam bukan pilihan.
Di tahun 2025 ini, mungkin dunia kerja bukan lagi tentang siapa yang paling pintar. Tapi siapa yang paling mau berubah

Begitulah wajah dunia kerja dan usaha di 2025 berubah, menantang, dan penuh ketidakpastian. Tapi di dalamnya, tetap ada yang konstan keberanian untuk bertahan, dan harapan yang terus disulam dalam diam.