Sinergi TNI Menjaga Kedaulatan NKRI; Turut Merawat Kerukunan dengan Moderasi Beragama


Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa. TNI selalu hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TNI tidak hanya berperan di medan pertahanan dan keamanan, tetapi juga turut aktif berperan dalam merawat harmoni sosial, termasuk dalam penguatan moderasi beragama sebagai pilar kerukunan dan integrasi sosial kebangsaan.

Di tengah realitas sosial kebangsaan dengan kemajemukan etnis, bahasa, dan agama, Indonesia membutuhkan penjaga yang tidak hanya tangguh secara militer, tetapi juga arif dan humanis dalam merawat perbedaan. Di sinilah TNI memainkan peran strategis: membangun sinergi antara tugas menjaga kedaulatan negara dengan upaya meneguhkan semangat kerukunan dan persatuan untuk menciptakan harmoni sosial kebangsaan melalui moderasi beragama.

Moderasi beragama bukanlah upaya mengaburkan atau mencampuradukkan keyakinan yang berbeda, melainkan sikap bijak dan saling memghormati dalam beragama yang mengedepankan Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (adil), dan Tasamuh (toleran). Prinsip ini selaras dengan jati diri TNI yang sejak awal mengedepankan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Dengan menanamkan nilai moderasi, TNI membantu mencegah potensi konflik bernuansa agama yang bisa mengancam stabilitas bangsa.

Program-program teritorial TNI, seperti komunikasi sosial dengan masyarakat, pembinaan desa, serta sinergi dengan forum kerukunan umat beragama (FKUB), sebagai cara bahwa TNI tidak semata mengandalkan kekuatan senjata. Justru dengan pendekatan kultural dan dialogis inilah yang menjadi cara untuk memperkuat rasa aman dan rasa memiliki di tengah masyarakat majemuk.

Sinergi TNI bersama tokoh agama, pemerintah daerah, serta elemen civil society menjadi kunci dalam merawat kerukunan dan harmoni. Dengan cara ini, TNI tidak hanya menjaga batas teritorial NKRI, tetapi juga menjaga “batas sosial” agar bangsa tidak terpecah belah oleh sentimen perbedaan karena kemajemukan. Begitu pula dalam menghadapi menghadapi tantangan dan godaan politik identitas.

Pada momentum Hari TNI ini perlu diingatkan kembali bahwa kekuatan sejati bangsa bukan hanya pada persenjataan, melainkan juga pada persatuan. Sinergi TNI menjaga NKRI dengan moderasi beragama adalah ikhtiar strategis agar Indonesia terus kokoh, damai, dan berdaulat. Dengan ikhtiar Moderasi beragama, harmoni dan nasionalisme akan senantiasa terpupuk.

Karena itu, perlu didukung peran strategis TNI bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan teritorial, tetapi juga sebagai mitra bangsa dalam merawat kerukunan dan harmoni bangsa. Moderasi beragama adalah ikhtiar untuk memastikan Indonesia tetap tegak di tengah dinamika zaman, dan TNI adalah salah satu pilar penting yang mengawal jalan tersebut.

Menjaga Kesaktian Pancasila dengan Spirit Moderasi Beragama


Oleh:
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Ketua FKUB Kota Probolinggo

Momentum hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober menjadi peristiwa bernilai historis dan ideologis bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini bukan semata seremonial saja, namun juga momentum untuk upgrading keyakinan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang mampu menjaga keutuhan bangsa di tengah kemajemukan. Oleh karena itu, kesaktian Pancasila bukan sekedar slogan; akan tetapi harus terus dijaga, dihidupi, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara. Salah satu ikhtiar strategis untuk menjaganya adalah melalui penguatan moderasi beragama.

Moderasi beragama merupakan sikap beragama yang mengedepankan keseimbangan atau yang populer dengan Tawassuth I’tidal: tidak ekstrem ke kanan, tidak pula ekstrem ke kiri. Dalam konteks Indonesia, moderasi beragama berfungsi sebagai perekat sosial yang menjembatani keragaman keyakinan, etnis, dan budaya. Dengan semangat moderasi ini, nilai-nilai luhur Pancasila menemukan ruang aktualisasinya. Karena dengan Moderasi beragama integrasi sosial terwujud persatuan dalam bingkai NKRI.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, bangsa yang berkeyakinan akan adanya Tuhan dengan beragama. Namun, religiusitas ini harus bersanding dengan pengakuan terhadap pluralitas keyakinan. Moderasi beragama hadir untuk memastikan bahwa wujud nyata penghormatan dan keyakinan kepada Tuhan adalah berupa penghormatan atas hak asasi dan kebebasan untuk menjalankan ibadah dan keyakinan sesuai dengan agama dan keyakinannya di tengah pluralitas umat beragama. Di sinilah Pancasila menjadi payung pelindung yang menaungi seluruh umat beragama agar dapat hidup berdampingan secara damai.

Kesaktian Pancasila diuji ketika muncul ideologi transnasional, paham intoleransi, dan radikalisme yang berupaya menggerus fondasi kebangsaan. Tantangan-tantangan ini hanya bisa dihadapi jika masyarakat memiliki imunitas ideologis. Moderasi beragama berfungsi sebagai vaksin yang menguatkan daya tahan bangsa: ia mencegah perpecahan, mengikis prasangka, dan membangun keadaban publik yang berlandaskan penghormatan pada keberagaman dan perbedaan.

Selain itu, sila-sila lain dalam Pancasila—kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial—hanya bisa diwujudkan bila moderasi beragama dijadikan praksis dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa moderasi, beragama bisa jatuh pada fanatisme buta yang memecah belah. Dengan moderasi, agama justru menjadi energi spiritual yang meneguhkan persatuan, menggerakkan solidaritas, dan mendorong lahirnya keadilan sosial.

Menjaga kesaktian Pancasila bukan berarti mengkultuskannya, melainkan menghidupkan nilai-nilainya dalam realitas kebangsaan. Di era globalisasi dan digital yang penuh polarisasi, moderasi beragama menjadi kunci agar Pancasila tidak hanya dikenang sebagai warisan sejarah, tetapi juga tetap relevan sebagai pedoman hidup berbangsa.

Moderasi beragama juga menjadi methode untuk menghidupkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagaimana yang termaktub dalam sila-sila Pancasila. Jika moderasi beragama terus teredukasi secara sistematis dan masif, maka tujuan luhur Pancasila akan terwujud dalam pembangunan yang berkeadilan dalam bingkai NKRI.

Pada akhirnya, Pancasila dan moderasi beragama adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pancasila menjadi fondasi ideologis, sementara moderasi beragama menjadi praksis sosialnya. Keduanya sama-sama menuntun bangsa Indonesia untuk tetap kokoh, sakti, dan bermartabat di tengah dinamika zaman.

Fenomena Baru Tradisi Musik Era Post Modern


Oleh Penulis  : CHOIRUL ANAM FATUR ROHMAN

Kondisi realitas kita saat ini sedang berada di zaman Post Modern dimana suatu hal yang dapat mudah sekali terganti dengan hal yang baru jika memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan hal yang lain. Semua penilaian hanya terdapat pada rasa dan
kenyaman individu atau kelompok. Dalam artian pada era Post Modern ini kondisi apapun bisa menjadi seni seperti fenomena tradisi musik yakni Sound Horeg.
Fenomena ini telah eksis sehingga menjadi bagian dari budaya populer di berbagai wilayah Indonesia terutama Pulau Jawa. Setiap wilayah pasti memiliki ragam budaya dan tradisi yang dapat dikembangkan dan ditunjukkan kepada masyarakat sekitar dengan konsep kegiatan sebuah pertunjukan seni atau festival yang digelar secara umum. Kegiatan festival tentunya dimeriahkan dengan banyak lagu-lagu, biasanya setiap komunitas menyalakan lagu menggunakan sound horeg. Adanya konstruksi sistem suara raksasa, parade musik jalanan ini bukan hanya menjadi pusat perhatian di kalangan masyarakat pedesaan, tetapi juga menciptakan sebuah fenomena baru pada tradisi musik dan budaya.
Fenomena sound horeg semakin sering muncul dalam ruang publik sebagai bentuk sarana hiburan dengan kekuatan audio luar biasa. Kondisi speaker yang berukuran besar dan daya tinggi kegiatan acara ini kerap menarik kerumunan dan menimbulkan euforia. Namun tidak juga menimbulkan keluhan yang sangat fatal akibat kebisingan ekstrem ditimbulkannya. Dikenal sound horeg oleh sebagian masyarakat karena bukan hanya suara ( audio ) yang volumenya keras dan kadang dianggap melampaui batas. Tapi hal ini juga muncul efek horeg atau getaran dan hentakan bunyi yang membuat bumi serta benda disekitarnya bergetar keras. Dampak buruknya adalah bagian rumah bisa rontok dan runtuh ketika sound system melewatinya. Dampak lainnya pada kesehatan terutama bagi yang punya sakit jantung.
Bermula sound system ini yang menghasilkan suara keras diperuntukkan kebutuhan fungsional seperti menyampaikan pesan agar suara yang disampaikan bisa menjangkau kerumunan massa dengan jumlah besar dalam kegiatan kampanye politik, keagamaan, dan acara komunitas untuk memastikan bahwa suara orator atau penceramah terdengar jelas oleh audiens di lapangan terbuka atau ruang besar. Tetapi kondisi belakangan ini sound horeg menjadi tradisi dimana volume tinggi suara dijadikan ukuran estetik dari kehadiran musik ala diskotik dan DJ ( Disc Jockey ) / HipHop. Selain itu ditambah lagi kehadiran para perempuan seksi dengan goyangan asik yang dianggap sensual. Tarian sensual ini yang semata menghibur penonton dengan mengeksploitasi tubuh tidak seharusnya disemarakkan pada tempat publik.
Kemajuan budaya juga menekankan pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa maka dari itu ekspresi budaya yang baik adalah tersalurnya peran konsep edukatif. Sementara yang merusak moral dan memberikan inspirasi buruk pada anak-anak seharusnya dicegah. Esensi kebudayaan dari sound horeg ini mendengarkan suara dengan ukuran estetiknya volume keras.

Semakin keras dan menggetarkan dianggap yang indah bagi penikmat sound horeg dari aspek volume suara. Hal lain dari musik DJ dan perempuan dancer seksi adalah sebuah estetik tubuh yang mungkin menarik bagi kebanyakan penonton laki-laki. Dari sisi inilah yang disebut eksploitasi tubuh yang paling membahayakan ketika kemajuan budaya menitikberatkan pada daya cipta membiarkan sosok perempuan menjadi tontonan objek oleh pihak orang lain.

Gen Z Cerdas, Parpol Dikubur, Demokrasi Selamat

Oleh: Prof. Dr. Hanif Nurcholis, M.Si
Guru Besar Universitas Terbuka.

Hari ini kita menyaksikan babak baru demokrasi lahir…

…bukan di gedung parlemen.
…bukan di TPS.
…tapi di aplikasi digital.

SELAMAT.

Gen Z udah ogah nunggu parpol yang makin mirip zombie. Yang menakutkan rakyat pemilihnya. Rakyat makin ngeri kepada parpol.

Mereka bikin panggung sendiri, lewat platform yang mereka kuasai, untuk memilih siapa yang layak memimpin dan siapa yang pantas dipercaya.

Dan yang mereka pilih bukan figur hasil lobi politik, bukan orang yang pasang baliho di pohon pinggir jalan, tapi tokoh yang bersih, tegas, dan kompeten.

Demokrasi Tanpa Parpol

Gen Z sadar: kita gak bisa lagi berharap pada parpol yang sibuk nipu rakyat dan jadi perpanjangan tangan pemodal. Pemilih dibohongi mentah2.

Maka mereka bikin “parlemen digital” sendiri. Server Discord, channel komunitas, aplikasi voting—semuanya jadi alat demokrasi baru.

Bukan teori, tapi praktik nyata. Dari polling digital → konsensus publik → tekanan sosial → hingga keputusan politik.

Parpol Jadi Kutukan

Di mata Gen Z, parpol bukan rumah demokrasi lagi. Ia jadi kutukan. Maka layak dimasukkan kubur. Saat ini sudah jadi zombie yang menyeret demokrasi ke kuburan.

Tapi Gen Z datang dengan obor digital—menyelamatkan demokrasi tanpa parpol.

Nepal Jadi Contoh

Yes, Nepal!

Negara kecil di kaki Himalaya ini baru saja bikin gebrakan. Anak mudanya ogah lagi main politik gaya lama. Mereka pindah ke server Discord, bikin parlemen digital, lalu rame-rame voting siapa yang paling layak jadi Perdana Menteri interim.

Dan pemenangnya?
Sushila Karki—mantan Ketua Mahkamah Agung, bersih, tegas, tanpa drama, sekaligus perempuan pertama yang duduk di kursi tertinggi pemerintahan Nepal.

Yang bikin heboh bukan hanya siapa yang dipilih, tapi bagaimana cara mereka memilih:

Bukan lewat siaran TV.

Bukan lewat baliho pohon pisang.

Bukan hasil lobi politik kotor.

Tapi lewat voting digital → konsensus publik → tekanan sosial → hingga akhirnya Presiden Nepal meresmikan pilihan mereka secara formal.

Parpol Jadi Zombie

Fenomena Nepal adalah tamparan keras buat demokrasi yang masih disandera parpol. Parpol makin mirip zombie: hidup segan, mati tak mau, tapi tetap menyeret demokrasi ke kuburan.

Sementara itu, Gen Z Nepal menunjukkan bahwa demokrasi bisa diselamatkan tanpa parpol. Dengan alat yang mereka kuasai—Discord, aplikasi, komunitas digital—mereka langsung menyalurkan suara rakyat.

Refleksi Buat Kita

  • Kita masih sibuk jadi silent reader di grup WA alumni, mereka bikin parlemen digital.
  • Kita masih nyinyir elite korup, mereka bikin ruang alternatif yang transparan.
  • Kita masih nunggu “figur bersih” dilirik parpol, mereka justru kasih panggung langsung tanpa perantara.

Masa Depan Itu Sudah Tiba

Banyak yang bilang, “Ah, itu kan cuma Nepal.”
Tapi justru karena itu Nepal—negara kecil, minim fasilitas—harusnya kita lebih malu.

Mereka gak punya anggaran digital miliaran.
Mereka gak punya mesin politik canggih.
Tapi mereka punya trust, koordinasi, dan keberanian.

Dan itu cukup untuk mengubur parpol, sekaligus menghidupkan kembali demokrasi.

Ngeri kali Gen Z.

Generasi masa depan.

Mereka akan mengubur parpol. Partai Dodolan Indonesia kepada Pemodal, Partai Golongan Kerakusan, Partai Amat Naif, Partai Kemunafikan Busuk, Partai Gerombolan Indonesia Rakus, Partai Nasional Demagog, Partai Kena Sana-sini, Partai Persatuan Pengkhianat, Partai Siluman Indonesia, Partai Bobrok Banget.

Saat parpol terkubur mereka menyalakan obor digital untuk menyelamatkan demokrasi.

Maulid Nabi Muhammad SAW, dan Pengakuan Para Ahli Ilmu Dunia

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Nikmat yang paling agung yang diberikan oleh Allah swt kepada umat ini adalah diutusnya Baginda Sayyidina Nabi Muhammad saw kepada mereka . Lathaiful Ma’arif Halaman 189 (Lathaiful Maarif) adalah karya Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali yang membahas amalan-amalan sunnah dan ibadah khusus sepanjang tahun Hijriah, yaitu dari bulan Muharram hingga Dzulhijjah. Tugas kenabian adalah tanggung jawab kemanusiaan dalam sejarah, yang mesti dijalankan dengan motif religiusitas. Bagaimana Aku Menirumu, Oh Kekasihku
Ya Muhammad, Ya Abaz Zahra Ya Jaddal Hasan Wal Hussain Oh Kekasihku sekali lagi bagaimana aku menirumu ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama. Spd.I ) Nabi Muhammad ﷺ‎: Pemimpin Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Menurut Ilmuwan Global
Nabi Muhammad ﷺ‎: Pemimpin Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Menurut Ilmuwan Global
Rasulullah Muhammad saw lahir di Makkah, pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (570 M). Muncul dari latar belakang sosial yang dipenuhi kebudayaan jahiliyah. Sejak usia dini, tanda-tanda kenabiannya telah diakui oleh beberapa tokoh agama saat itu.

Salah satu ramalan tentang kelahirannya datang dari pendeta Buhaira, yang memperhatikan tanda kenabian pada diri Muhammad saw saat masih muda. Sejarawan juga mencatat nubuat dalam teks-teks Yahudi dan Kristen yang meramalkan kedatangan seorang nabi akhir zaman. Di dalam karya-karya akademik semisal Muhammad: Prophet of Islam karya Montgomery Watt , disebutkan bagaimana berbagai nubuah ini menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat Semit pada masa itu.

Pada usia 40 tahun, Muhammad saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, yang menjadi awal dari misinya menyebarkan Islam. Tantangan yang dihadapinya sangat besar. Terutama di Makkah, yang pada saat itu menentang keras ide monoteisme. Namun, hanya dalam waktu singkat, Muhammad saw berhasil mengubah tatanan sosial, politik, dan agama di Jazirah Arab.

Menurut Karen Armstrong dalam bukunya Muhammad A Biography of the Prophet, Muhammad saw bukan hanya menyebarkan agama, tetapi juga membangun tatanan masyarakat yang lebih egaliter dan berkeadilan sosial. Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menempatkan Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia. Hart berpendapat bahwa pengaruh Muhammad saw lebih besar daripada tokoh-tokoh lain, karena beliau adalah satu-satunya pemimpin yang berhasil menciptakan perubahan besar di dua bidang utama: agama dan politik.

Di dalam analisis Hart, Muhammad saw mendirikan Islam yang bukan hanya sebuah agama, tetapi juga sistem kehidupan yang menyentuh seluruh aspek sosial, ekonomi, dan politik. Hart menekankan bahwa Muhammad saw berhasil mendirikan sebuah peradaban yang mampu menyatukan berbagai suku dan bangsa dalam satu visi global.

Misteri Konsultan Politik Dari Najed
Para elit yang hadir di Darun Nadwah baru menyadari kehadiran sosok ini sesaat sebelum sidang parlemen Darun Nadwah dibuka. Pria tua yang gagah itu berdiri di depan pintu utama ruang sidang.
Will Durant, seorang sejarawan terkenal, dalam The Story of Civilization menggambarkan Muhammad saw sebagai seorang reformator sosial dan politik yang luar biasa. Durant menyatakan, Muhammad saw mampu membangun dasar-dasar sebuah negara yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga adil secara sosial dan moral. Ia menganggap Muhammad saw sebagai salah satu pembangun peradaban terbesar yang pernah ada, karena keberhasilan beliau dalam mengubah masyarakat Arab yang terpecah menjadi kekuatan global, dalam waktu yang relatif singkat. Piagam Madinah, yang dibentuk Muhammad saw setelah hijrah ke Madinah, sering dikaji sebagai salah satu dokumen paling awal mengenai tatanan hukum sosial-politik yang pluralistik. Mahatma Gandhi, seorang tokoh spiritual dan politikus India dalam koran Young Hindia menyebutkan tentang sifat-sifat Rasulullah saw yang tidak dapat dipungkiri, sehingga mampu menarik hati jutaan umat manusia untuk berpegang teguh kepadanya. Bukan pedang sebagai media yang menjadikan Islam menempati posisi mulia, tetapi kesederhanaan, keikhlasan, menepati janji, keberanian dan percaya diri sebagai pembuka jalan menuju agama yang benar dan suci.

Demikian juga dengan Michael H Hart, seorang penulis dunia yang terkenal. Dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah ia menulis, Muhammad menempati urutan nomor satu sebagai sosok paling penting dan agung dalam sejarah. Muhammad berhasil menyelesaikan risalah agamanya dan hukum-hukum yang diimani oleh semua bangsa di dunia. Ia mampu menyatukan bangsa-bangsa menjadi satu umat yang kuat.

‘Aidh al-Qarni menulis, Lamartine, seorang penyair Paris dalam bukunya Sejarah Turki mengatakan, “Tidak seorang pembesar sejarah modern pun yang mampu menyamai kegeniusan Rasulullah saw. Para pembesar yang menciptakan senjata, membuat undang-undang dan mendirikan peradaban. Mereka tidak menuai kecuali keagungan yang usang dan akhirnya runtuh bersama mereka. Namun Rasulullah saw tidak hanya sekedar sebagai pemimpin, pejabat, pembuat hukum dan pendiri pemerintahan, tetapi pembimbing umat manusia di seluruh pelosok dunia. Dengan sabar ia menghapus tradisi jahiliah meraih kemenangan dari Allah Swt.”

Menurut orientalis Perancis Gustave Le Bon dalam bukunya Peradaban Arab, ia berkata, “Muhammad menyikapi berbagai perlakuan buruk dan penyiksaan dengan lapang dada. Ia memperlakukan kaum Quraisy yang menjadi musuhnya selama 20 tahun dengan lemah lembut. Menyelamatkan mereka dari kesesatan, menghilangkan gambar-gambar sesat di Ka’bah, membersihkan 360 patung berhala untuk dihancurkan. Lalu menjadikan Ka’bah sebagai tempat beribadah hingga sekarang ini.”

Aidh al-Qarni melanjutkan tulisannya, seorang sastrawan dunia, Leo Tolstoy berkata, “Cukup Muhammad sebagai penyelamat umatnya yang hina dari cengkraman adat tercela. Lalu dibukakan jalan menuju kemajuan dan kemuliaan. Syariatnya mampu memimpin dunia, karena selaras dengan akal dan kebijaksanaan.”

Dalam bukunya Prinsip-Prinsip Bermasyarakat, seorang filsuf Inggris, Herbert Spencer juga berkata, “Muhammad simbul dalam politik agama yang benar. Sosok yang paling jujur dan penegak amanah yang nyata. Dia selalu membimbing umat siang dan malam tanpa lelah.”

Maulid Nabi dan Buah-buahan


Oleh: USTADZ MOHAMAD KHOIRUL ADHIM, S.H.I
Ketua Umum MUI Kecamatan Wonoasih – Kota Probolinggo

Setiap tiba bulan Rabi’ul Awwal, yakni bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw., ada tradisi menarik di masyarakat kita. Untuk menyambut kelahiran beliau, masyarakat beramai-ramai mengadakan slametan atau syukuran. Mereka berkumpul di masjid, mushalla, atau rumah-rumah lalu membaca shalawat nabi bersama-sama.

Setelah acara selesai, masing-masing pulang dengan membawa berkat berisi nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Tidak ketinggalan didalamnya juga ada buah-buahan sebagai pelengkapnya.

Yang menggelitik rasa penasaran penulis adalah buah-buahan yang selalu disertakan di dalam berkat tadi. Seperti kita tahu, setiap kali ada yang mengadakan slametan ia pasti akan menyiapkan berkat sebagai oleh-olehnya. Nah, di dalam bingkisan tadi tidak satupun ada buahnya. Hanya di acara maulidan inilah buah-buahan selalu bisa kita temukan.

Mengapa bisa demikian? Apa istimewanya buah-buahan sehingga ia selalu hadir untuk ikut memeriahkan acara syukuran atas kelahiran Rasulullah Saw. ini?

Semula saya juga tidak mengerti apa alasannya. Saya pikir itu hanya kebetulan atau kebiasaan belaka yang tidak memiliki alasan historis.

Ternyata anggapan penulis kurang tepat. Fenomena munculnya buah-buahan di dalam berkat maulidan bisa jadi memiliki latar belakang sejarah yang erat kaitannya dengan tradisi di Arab (Mekah), tempat kelahiran Rasulullah Saw.

Hal ini penulis simpulkan setelah mempelajari Hamisy Tafsiir Suurah Yaasiin karya As-Syekh Hamami Zadah hal. 3 terbitan Karya Toha Putra Semarang. Disitu diceritakan bahwa suatu ketika Sayyid Abdul Muththalib memanggil putranya, Sayyid Abdullah. Beliau ini tidak lain ayah Rasulullah Saw.

Sayyid Abdul Muththalib menjelaskan kepada putranya itu tentang tradisi Arab jika ada keluarga bangsawan yang melahirkan. Biasanya masyarakat berbondong-bondong menjenguk bayi tersebut sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur.

Nah, untuk menghormati dan menjamu para tamu, Sayyid Abdul Muththalib menyuruh putranya itu pergi ke Madinah. Tujuannya untuk berbelanja kurma dalam jumlah besar. Seperti kita ketahui, Madinah merupakan salah satu daerah penghasil kurma terbesar dan terbaik di jazirah Arab. Tidak lupa kakek Rasulullah itu berpesan agar Sayyid Abdullah memilih kurma terbaik di tiap-tiap daerah di Madinah.

Singkat kata, Sayyid Abdullah telah berhasil melaksanakan perintah ayahnya lalu bermaksud kembali ke Mekah. Namun saat berada di desa An-Naabighah, masih di wilayah Madinah, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dan dikuburkan disitu.

Menurut hemat penulis, dari sinilah asal muasal tradisi yang berkembang di masyarakat kita saat ini. Dalam perkembangannya, buah yang disajikan bukan berupa kurma saja melainkan beraneka ragam jenisnya. Tapi anehnya, penulis sendiri belum pernah ketemu berkat acara maulidan yang di dalamnya ada buah kurmanya. Wallaahu a’lam bis-shawaab