Saat Kemeja Putih Bertransformasi Biru: Sebuah Memoar di Pagi Bediding Malang

Oleh; Dr. Redy Eko Prasetyo

Kota Malang menyambut pagi itu dengan cara yang paling khas. Bulan Agustus telah tiba, dan bersamanya datang pula fenomena yang disebut “Bediding”—angin musim kemarau yang membawa hawa dingin menusuk tulang, bahkan ketika matahari mulai beranjak naik untuk menebar sinarnya yang cerah. Embun masih membasahi dedaunan, dan napas yang terembus sesekali mengepul menjadi kabut tipis.

Namun, hawa dingin yang menggigit itu seolah takluk oleh kehangatan yang menjalar di setiap sudut kota. Kehangatan itu berasal dari sebuah aliran manusia yang tak putus-putus, berbalut kemeja putih dan celana hitam, bergerak serentak dengan semangat yang menyala. Mereka adalah para calon ksatria, ribuan mimpi dari seluruh penjuru negeri, yang hari itu mengalir menuju satu titik pusat: Universitas Brawijaya.

Suasana yang semula riuh dengan perkenalan dan canda tawa seketika hening saat sesi Pakta Integritas dimulai. Momen ini bukan sekadar formalitas seremonial; ia adalah fondasi moral yang diletakkan di hari pertama. Satu suara perwakilan menggema melalui pengeras suara, mengucapkan sebuah sumpah yang komprehensif. Itu adalah janji untuk tidak melakukan segala bentuk kekerasan—sebuah payung besar yang menaungi kekerasan fisik, psikis, seksual, perundungan, hingga diskriminasi. Ikrar ini adalah manifestasi nyata dari komitmen UB untuk membangun institusi yang kuat dan adil, selaras dengan semangat SDG 16: Perdamaian,

Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Lebih jauh lagi, itu adalah pernyataan perang terhadap narkotika. Sebuah ikrar untuk tidak terlibat dalam penggunaan, penyimpanan, kepemilikan, maupun pengedaran narkotika dan zat adiktif lainnya. Komitmen ini secara langsung mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, memastikan lingkungan kampus menjadi zona sehat yang bebas dari ancaman narkoba.

Puncak dari seremoni ini adalah ketika Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, naik ke panggung. Tiga kali dentuman gong yang beliau pukul terasa seperti dentang lonceng yang menandai dimulainya sebuah era baru. Pidato beliau yang mengikutinya pun terasa lebih bertenaga, karena fondasi integritas telah sama-sama dipahami.

Beliau mengajak audiens menengok ke masa depan yang dinamis, di mana 97 juta pekerjaan baru akan lahir, menuntut keterampilan di bidang talenta digital dan sosial. Ini adalah panggilan untuk mempersiapkan diri, menjawab tantangan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Untuk menghadapi itu, Rektor menegaskan bahwa ijazah saja tidak lagi cukup. Beliau membentangkan sebuah peta kompetensi baru, sebuah resep untuk menjadi generasi yang relevan. Bekal utamanya adalah kemampuan berpikir kritis untuk membedah masalah-masalah kompleks yang menghadang. Kemampuan ini harus dipadukan dengan penguasaan teknologi, daya kreativitas, dan semangat inovasi yang menjadi bahan bakar utama untuk membangun industri masa depan, sebuah pilar kokoh bagi SDG 9. Namun, ide sehebat apapun akan sia-sia jika dipendam sendiri. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi dan kolaborasi menjadi perekatnya; inilah jiwa dari SDG 17, yaitu kesadaran bahwa kemitraan adalah kunci untuk mencapai tujuan besar bersama. Dua pilar terakhir adalah fondasi karakternya: integritas yang tak tergoyahkan sebagai kompas moral, dan jiwa kepemimpinan sebagai mesin penggerak yang inspiratif. Kelima elemen inilah, menurut

Rektor, yang mendefinisikan apa itu Pendidikan Berkualitas (SDG 4) di era sekarang—sebuah pendidikan yang tidak hanya mengisi kepala, tetapi juga membentuk karakter yang siap berkontribusi.

“Universitas memberikan fasilitas,” pesan beliau, “namun yang belajar adalah mahasiswa. Gunakan seluruh fasilitas yang ada untuk berproses menempa diri.” Ini adalah panggilan untuk proaktif, untuk tidak hanya duduk diam di kelas, tetapi juga membangun jejaring dan aktif di berbagai organisasi.
Sebagai penutup, Rektor mempersembahkan dua pantun yang membangkitkan semangat, yang salah satunya berbunyi, “UB pelopori riset yang tepat, berdampak bagi kemaslahatan umat,” menggarisbawahi visi UB sebagai kampus berdampak yang nyata bagi masyarakat.

Dan akhirnya, tibalah saat yang dinanti. Momen penyematan jas almamater. Ketika kain biru kebanggaan itu akhirnya menyentuh bahu, rasanya seperti seorang kesatria yang baru saja menerima baju zirahnya. Kain biru itu seolah menjadi lapisan pelindung, tidak hanya dari hawa dingin Malang yang menusuk, tetapi juga dari berbagai godaan yang dapat melanggar sumpah yang telah diucapkan.

Para mahasiswa baru tidak hanya pulang membawa sebuah jaket. Mereka membawa sebuah janji, sebuah amanah, dan sebuah peta perjalanan yang baru saja dibentangkan di hadapan mereka. Lapangan Rektorat hari itu telah menjadi kilometer nol, titik awal dari ribuan langkah yang akan ditempuh sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Brawijaya.

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.” – Nelson Mandela

RajaBrawijaya2025 #PKKMBUB2025 #UniversitasBrawijaya #KitaSatuBrawijaya #UBMelesat #MabaUB2025 #KampusBerdampak #GenerasiEmas2045 #BedidingMalang

SDGs #SustainableDevelopmentGoals #SDG3 #SDG4 #SDG8 #SDG9 #SDG16 #SDG17 #PendidikanBerkualitas #MahasiswaPenggerakSDGs

foto oleh Heri Hery Prawoto

Sejatah AI, Manfaat, Fungsi dan Masa Depan Kita

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan. Kata algoritma berasal dari kata nama Abu Ja’far Mohammed Ibnu Musa al-Khowarizmi, ilmuwan Persia yang menulis buku “Al Jabr W’Al-Muqabala” (Rules of Restoration and Reduction), terbit 825 M.

Kemajuan teknologi ini tidak terlepas dari perkembangan berbagai disiplin ilmu pengetahuan di masa sebelumnya yang menjadi dasar perkembangan teknologi kedepannya. Salah satu ilmuwan yang memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi terutama di bidang komputer adalah Al Khawarizmi.

Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi dikenal sebagai matematikawan yang menemukan Aljabar dan juga merupakan bapak dari algoritma. Bagi sebagian orang yang berprofesi sebagai programmer atau developer tentunya algoritma ini sering kita pergunakan saat melakukan pengembangan program. Stephen Hawking , seorang ilmuwan brilian asal Inggris, suatu kali pernah menyatakan bahwa artificial intelligence (AI) menyimpan bahaya yang luar biasa bagi masa depan umat manusia. Lebih tepatnya, Hawking menyatakan seperti ini, “The development of full artificial intelligence could spell the end of the human race (Perkembangan artificial intelligence yang menyeluruh dapat mengakhiri ras manusia).persaingan global.

Lebih dari sekadar persoalan akses, tantangan utama terletak pada cara berpikir umat terhadap teknologi ini. Banyak di antara kita yang belum memandang AI sebagai alat strategis untuk membangun masa depan umat, melainkan sekadar sebagai pelengkap gaya hidup. Padahal, di negara-negara lain, AI telah digunakan untuk mengembangkan aplikasi tafsir digital, platform belajar daring berbasis kitab kuning, hingga sistem prediktif untuk penentuan awal Ramadan atau waktu salat berbasis astronomi mutakhir. Jika potensi ini tidak segera digarap secara serius, kita berisiko kembali menjadi konsumen pasif dalam lanskap peradaban digital global.

Pertemuan AI dan agama juga memunculkan dinamika baru dalam hal otoritas keagamaan. Dahulu, jawaban keagamaan hanya bisa diberikan oleh mereka yang mendalami ilmu fikih dan usul. Kini, cukup dengan membuka aplikasi, siapa pun bisa mendapat jawaban dari AI dalam waktu singkat. Walaupun secara keilmuan belum tentu dapat menggantikan ijtihad ulama, tren ini terus menguat, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam bukunya Religion and Artificial Intelligence (Routledge, 2025), Singler mengungkap bahwa agama dan AI kini berada di jalur yang sama—persimpangan yang akan menentukan wajah keagamaan dunia ke depan. Dengan 84% penduduk bumi masih memeluk agama-agama besar, potensi perubahan sosial dan spiritual akibat AI bukan sekadar spekulasi. Dalam konteks sosiologi agama, AI berpotensi menggugat posisi agama sebagai otoritas tertinggi dalam hal moral dan tindakan.

AI juga membawa penguatan rasionalitas, bahkan narasi baru yang lebih logis dan sistematis. Bila tidak dikelola, kekuatan naratif ini dapat menyaingi bahkan menggantikan otoritas agama tradisional. Dalam jangka panjang, ini bisa melahirkan gelombang ateisme digital yang tumbuh bukan dari penolakan terhadap Tuhan, melainkan karena ketergantungan pada mesin yang dianggap lebih netral dan faktual.Ada hukum mengembangkan teknologi AI dan menggunakannya sebagai sumber rujukan dalam beberapa persoalan khususnya masalah agama? Sebelum membahasnya, Islam sangat mendukung perkembangan teknologi itu sendiri dikarenakan umat muslim harus memiliki sifat-sifat ilmuwan, yakni kritis sebagaimana dalam firman Allah Swt: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra/ 17:36). Ataupun senantiasa menggunakan akal pikiran untuk berpikir secara kritis seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 44: اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al-Baqarah: 44). Inilah kemudian yang mengantarkan pada sebuah keharusan bagi setiap umat muslim agar mampu unggul dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) sebagai sarana kehidupan yang harus diutamakan untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Ada keputusan Munas Alim Ulama NU 2023, Komisi Waqi’iyah yang memutuskan bahwa menanyakan persoalan keagamaan kepada AI dan menjadikannya pedoman tidak diperbolehkan, alasannya ada 3, yaitu: Tidak dapat dipastikan kebenaran output-nya karena faktor randomness (sifat tidak berstruktur atau tidak teratur, atau tidak dapat diprediksi) dan hallucination (pengalaman sensori palsu yang terjadi tanpa rangsangan eksternal). AI NLP (Natural Language Processing) tidak memiliki kreativitas dan empati untuk mengetahui kondisi riil penanya. Bias dari data yang dimasukkan (atau dilatihkan ke AI). Dikarenakan permasalahan agama itu wajib merujuk kepada pakar atau sumber referensi agama yang otoritatif dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya (mautsuq bih). Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhazdzab وَلَا يَأْخُذُ الْعِلْمَ إلَّا مِمَّنْ كَمُلَتْ أَهْلِيَّتُهُ وَظَهَرَتْ دِيَانَتُهُ وَتَحَقَّقَتْ مَعْرِفَتُهُ وَاشْتَهَرَتْ صِيَانَتُهُ وَسِيَادَتُهُ: فَقَدْ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ وَمَالِكٌ وَخَلَائِقُ مِنْ السَّلَفِ هَذَا الْعِلْمُ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ “Janganlah orang mengambil ilmu kecuali dari orang yang sempurna keahliannya, terlihat jelas keteguhan agamanya, luas pengetahuannya dan masyhur kredibilitasnya. Ibnu Sirin, Imam Malik, dan ulama salaf berkata: “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.’’ (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, [Beirut: Darul Fikr, T.th], jilid I, hlm. 36). Selain itu, dalil yang dijadikan sebagai acuan dalam menetapkan hukum ini adalah Al-Qur’an Surat al-Anbiya ayat 7 yang berbunyi: ‎فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Anbiya’: 7). Dalam Durrul Mantsur, Imam As-Suyuthi menafsirkan ayat tersebut dan mengaitkannya dengan sabda Nabi SAW di bawah ini: ‎لَا يَنْبَغِي لِلْعَالِمِ أَن يَسْكُتَ عَنْ عِلْمِهِ وَلَا يَنْبَغِي لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَنْ جَهْلِهِ “Tidak sepatutnya seorang yang berilmu menyembunyikan ilmunya, dan seorang yang bodoh menyembunyikan kebodohannya.” Berdasarkan firman Allah SWT dan sabda Nabi SAW di atas, ia kemudian menjelaskan: ‎وَقد قَالَ الله: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُم لَا تَعْلَمُونَ، فَيَنْبَغِي لِلْمُؤمنِ أَن يَعْرِفَ عَمَلَهُ عَلَى هُدًى أَمْ عَلَى خِلَافِهِ “Dan sungguh Allah Swt. telah berfirman “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” Maka sepatutnya bagi seorang mukmin untuk mengetahui setiap tindakan yang dilakukannya apakah telah sesuai dengan petunjuk (syariat) atau justru sebaliknya.” Meskipun begitu, keputusan Munas Alim Ulama NU memperbolehkan masyarakat untuk ikut serta dalam menyempurnakan perkembangan kecerdasan buatan, bahkan, hukumnya adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Dengan catatan, tujuannya adalah menyajikan konten rujukan keislaman yang otoritatif kepada masyarakat melalui media digital. Oleh karena itu, penggunaan dalil-dalil tersebut dalam konteks ini dapat dipahami sebagai tuntutan kepada orang yang berilmu agar berani tampil dengan hujjah dan akhlak yang baik, sementara orang yang tidak berilmu dituntut untuk tampil dengan menghilangkan kebodohannya, yakni dengan cara mencari ilmu dan bertanya perihal isu keagamaan kepada orang yang berilmu (ulama/Ahlul ilmi). AI dalam Islam pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran agama, asalkan digunakan dengan bijak dan dalam batasan moral yang jelas. Sebagai alat, AI dapat menjadi sarana untuk kemajuan umat manusia jika dimanfaatkan untuk kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan. Namun, penggunaannya harus didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yang melindungi hak-hak individu, menghargai moralitas, dan tidak merusak tatanan sosial.

Sebagai umat Islam, kita perlu terus mengawasi bagaimana teknologi ini berkembang dan memastikan bahwa AI digunakan dengan cara yang mendukung kehidupan yang lebih baik sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Teknologi AI adalah amanah yang harus dimanfaatkan dengan bijak untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Mari jadikan kemajuan teknologi sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih baik secara duniawi dan ukhrawi. ( Raden Bindoro Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I ). Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam Bissowab. Billahitaufiq Wal Hidayah.

Kecerdasan Nabi Yusuf AS. Manajer Logistik dan Pemimpin yang Berempati

Oleh Muhammad Ali Muhsin Rofiey Notonegoro, Ama.Spd.I. Wakil Sekretaris MD KAHMI Kabupaten Pamekasan.

Kebanyakan dari kita saat mendengar kisah Nabi Yusuf A.S hanya pada cerita Nabi yusuf yang dibuang ke sumur oleh saudara-saudara (tiri)-nya, Ketampanan Nabi Yusuf yang mempesona banyak wanita terutama Siti Zulaikha dan Nabi Yusuf yang ahli di dalam menafsirkan mimpi.Tapi ada kisah perjalanan Nabi Yusuf A.S yang menarik namun luput di dalam perhatian kita semua. Terutama kisah bagaimana nabi Yusuf A.S dapat mengelola dan memanajemen Pangan di dalam Negara saat itu di zaman Kerajaan Mesir. Semuanya berawal dari mimpi unik seorang penguasa Mesir.Mimpi itu tersebar dan banyak masyarakat yang bingung dengan mimpi sang Penguasa. Namun salah seorang Pelayan sang Penguasa ingat bahwa dia mengenal Nabi Yusuf A.S yang mampu menafsirkan mimpi saat mereka masih bersama di dalam penjara. Setelah pelayanan itu memberitahukan perihal kemampuan Nabi Yusuf A.S ke Sang Penguasa, maka penguasa tersebut langsung memerintahkan agar Nabi Yusuf A.S dikeluarkan dari penjara agar menemui dan menafsirkan mimpinya.Mesir di era tersebut merupakan masyarakat yang maju di dalam Pearadaban dan Ilmu pengetahuan.. Ilmu Kimia, biolagi, biokimia dan arsitektur sangat berkembang saat itu. Kemampuan ilmu pengetahuan tersebut dikembangkan untuk Teknik Pertanian dan Pengawetan makanan.

Dengan modal perberdayaan masyarakat dengan peradaban yang tinggi tersebut, Nabi Yusuf A.S tidak banyak menemui masalah di dalam teknik dan manajemen pengelolaan Pangan saat pasca panen. Teknik pengawetan makanan, system sirkulasi pangan, Bangunan penyimpanan pangan yang sesuai standar, serta yang terpenting adalah peraturan dan pegaturan mengenai gaya hidup dan kosumsi masyarakat juga diperhatikan.Dalam upayanya menghidupkan produktivitas lahan untuk pertanian mengingatkan pada Kisah Nabi Yusuf atau Joseph di masa silam. Hal ini terjadi berkat manajemen atau pengaturan air pada masa beliau.

Air diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan lahan gurun menjadi sangat subur, seperti yang kemudian dikenal sebagai Kota Al-Fayyūm, yang menjadi sentra pertanian.

Al-Fayyūm merupakan daerah di hulu Mesir, yang terletak di depresi besar Gurun Barat di barat daya Kairo.

Air dari Sungai Nil disalurkan ke dalam Danau Qarun (jarak Sungai Nil dengan Danau Qorun sekitar 100 km) melalui Kanal Yusuf (Joseph Canal’s) mengikuti saluran kuno ke Fayyūm yang bercabang-cabang untuk menyediakan air irigasi.

Nabi Yusuf juga membangun kincir air untuk menaikkan air dari danau ke lahan Al-Fayyūm yang posisinya lebih tinggi di hulu Mesir.

Singkatnya, manajemen air melalui teknologi kincir air pada masa tersebut menjadi kunci guna menghidupkan lahan agar berproduksi sepanjang tahun.

Berkat air, selama tujuh tahun Yusuf memanen gandum dan menyimpannya untuk persediaan tujuh tahun paceklik berikutnya.

Dengan cara itu Yusuf membawa Bangsa Mesir selamat dari bencana kekeringan, kelaparan, dan kekacauan akibat krisis pangan.

Strategi Efisiensi

Apabila diamati dari literatur sejarah, maka secara garis besar terdapat strategi kunci dan efisiensi Nabi Yusuf dalam mengatasi kekeringan yang diprediksi bakal melanda.

Pertama , perencanaan selama tahun-tahun kelimpahan. Ketika Nabi Yusuf memahami mimpi tentang tujuh tahun kelimpahan diikuti oleh tujuh tahun kelaparan, beliau segera menyadari pentingnya merencanakan masa depan.

Ia menyarankan kepada Raja Mesir, kala itu, untuk menyimpan sebagian besar hasil pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Nabi Yusuf mengoptimalkan tujuh tahun kelimpahan dengan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun. Ia membangun kincir angin dan kanal-kanal untuk mengambil air dari sumbernya, lalu mengalirkannya ke lahan-lahan subur.

Kedua , penyimpanan makanan. Nabi Yusuf mengatur penyimpanan makanan secara besar-besaran selama tahun-tahun kelimpahan.

Ia membangun gudang-gudang besar alias lumbung pangan di seluruh Mesir untuk menyimpan gandum dan sumber daya pangan lainnya.

Ini memungkinkan Mesir untuk memiliki persediaan makanan yang cukup selama masa kelaparan.

Ketiga , distribusi selama masa kelaparan. Ketika masa kelaparan tiba, Nabi Yusuf bertanggung jawab mendistribusikan sumber daya pangan yang disimpan dengan adil kepada masyarakat Mesir.

Ia melakukan ini dengan bijaksana, memastikan bahwa makanan didistribusikan secara merata dan tidak ada yang kelaparan.

Keempat , kebijaksanaan dalam pengelolaan. Nabi Yusuf menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya.

Nabi Yusuf telah mengatur sistem pengaturan harga atau alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

Ini membantu mencegah penimbunan atau penyalahgunaan sumber daya oleh pihak tertentu.

Kelima , pengawasan dan pengelolaan pertanian. Nabi Yusuf juga telah memimpin upaya untuk mengoptimalkan produksi pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.

Ini bisa termasuk teknik irigasi yang lebih efisien atau strategi pertanian lainnya untuk meningkatkan hasil tanaman.

Selain itu, selama masa kelaparan, beliau mungkin telah memberikan nasihat kepada petani tentang cara mengelola sumber daya air yang terbatas.

Dengan mengelola pertanian dan persediaan pangan dengan bijaksana selama tahun-tahun kelimpahan dan kelaparan, Nabi Yusuf berhasil mengatasi kekeringan dengan mengurangi dampaknya pada masyarakat Mesir dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup untuk semua orang. Kitab suci Al-Qur’an tidak hanya kitab petunjuk spiritual , melainkan juga kitab ekologi , yang memuat strategi keberlanjutan hidup manusia dalam harmoni dengan alam. Salah satu babak penting dalam narasi ekologi transenden kitab suci Al-Qur’an adalah kisah Nabi Yusuf a.s., terutama dalam Surat Yusuf ayat 47, yang menggambarkan strategi mengatasi krisis pangan dan multikrisis lainnya secara lestari dan visioner .

Surat Yusuf Ayat 47

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّم فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

“Yusuf berkata, ‘Kalian bertani selama tujuh tahun seperti biasa. Maka apa yang kalian panen, biarkanlah dalam bulir-bulirnya, kecuali sedikit untuk kalian makan.’”

Ayat ini merupakan argumentasi filosofis dan praktis bagi konsep ekologi transenden, yakni pendekatan ekologis yang mengakar pada ajaran kesadaran spiritual manusia sempurna, Nabi Yusuf as. Memproduksi yang Lestari, tidak untuk di eksploitasi

Yang disampaikan Nabi Yusuf adalah perintah untuk bertani selama tujuh tahun secara konsisten. Ini bukan sekadar strategi pertanian, tetapi sebuah nasihat ekologis. Bertani dalam konteks ekologi transenden berarti melestarikan siklus hayati: menjaga tanah, air, dan benih agar tetap produktif dan berkesinambungan.

Produk hayati adalah produk yang dapat diperbarui secara alamiah. Ia tumbuh melalui waktu, mengalami regenerasi, dan menjawab kebutuhan hidup tanpa menghabiskan sumber daya bumi secara fatal. Inilah prinsip dasar dari keberlanjutan. Dalam konteks modern, ini berarti produksi harus berbasis pada pendekatan hayati ( bio-based ), bukan ekstraktif. Nabi Yusuf tidak menyuruh menambang, menggunduli, atau mengeksploitasi; beliau menyuruh untuk membudidayakan. Dengan kata lain, Nabi Yusuf menyuruh kita untuk melakukan produksi tentang apa saja yang lestari atau berkelanjutan.

Paham dengan Siklus Hidupnya Spesies

Kemudian yang diajarkan Nabi Yusuf adalah agar hasil panen disimpan dalam bulirnya. Di balik perintah ini terdapat kecerdasan ekologis tingkat tinggi. Menyimpan gandum dalam bulirnya adalah bentuk penghormatan terhadap siklus hidup spesies tanaman. Ia tidak dirusak bentuknya, tidak dipecah struktur biologisnya, agar tetap hidup, stabil, dan dapat dikembangkan kembali ketika dibutuhkan.

Secara ekologis, ini adalah pesan bahwa manusia sebagai produsen harus memahami siklus hidup dari setiap organisme yang dimanfaatkan. Tanpa pemahaman ini, manusia akan menjadi perusak. Dengan pemahaman ini, manusia menjadi penjaga. Maka, ekologi transenden mengajarkan bahwa produksi harus dibarengi dengan perlindungan terhadap sifat hidup suatu spesies.

Mengkonsumsi Secukupnya, Menyimpan Lebih Banyak

Nabi Yusuf AS menyarankan kita agar yang dikonsumsi hanya sedikit, sisanya disimpan. Ini bukan hanya strategi menghadapi musim paceklik, melainkan etika pemanfaatan sumber daya. Dalam kerangka ekologi transenden, ini adalah perintah untuk tidak serakah. Kita hanya boleh mengambil dari alam seperlunya, sementara sisanya disimpan, dijaga, dan diperkaya agar berguna di masa depan.

Menkonsumsi secukupnya, tetapi berikan nilai tambah pada hasil hayati itu dengan teknologi. Inilah yang kini disebut sebagai enrichment meningkatkan kualitas gizi dan daya guna produk tanpa perlu memperbesar volume ekstraksi dari alam. Dalam konteks ini, sedikit dari alam, tetapi banyak untuk manusia, menjadi prinsip emas. Itulah sebabnya Nabi Yusuf tidak menganjurkan eksploitasi berlebih, tetapi pengolahan cerdas atas apa yang sudah ada.

Melampaui proyeksi ekonomi, Menuju Etika keseimbangan

Yang diajarkan Nabi Yusuf bukan sekadar ekonomi pangan biasa, tetapi etika ekologis yang melampaui dimensi fisik transenden. Karena bencana ekologis terbesar di dunia hari ini bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan keserakahan dalam mengonsumsinya. Setiap banjir, krisis iklim, degradasi hutan, dan krisis air, berpangkal pada kegagalan manusia membatasi diri dan menghormati keseimbangan ekosistem.

Ekologi transenden tidak bisa hanya mengandalkan data dan kebijakan. Ia membutuhkan kesadaran transenden bahwa semua makhluk hidup tumbuhan, hewan, manusia adalah ciptaan Allah yang harus dihargai bukan hanya karena manfaatnya, tapi juga karena keberadaannya. Dan Nabi Yusuf adalah teladan bagaimana strategi pangan berbasis spiritualitas ini mampu menyelamatkan sebuah bangsa dan negara dari kehancuran.

Tanggung Jawab Moral dan Hikmah ekologi transenden

Apa yang diajarkan Nabi Yusuf lebih dari cukup menjadi landasan bagi dunia modern yang sedang menghadapi krisis multidimensi—pangan, iklim, energi, dan moralitas. Jika dunia ingin selamat, maka arahkan kembali strategi pembangunan ke basis ekologi transenden: produksi hayati yang lestari, pemahaman atas siklus hidup, pengolahan yang cerdas, konsumsi yang bijak, dan penghindaran mutlak dari kerakusan. Tidak ada ajaran agama untuk mengandalkan pembangunan ekonomi pada hutang dan tidak ada ajaran untuk mengatasi kelangkaan dengan impor, tetapi dengan manajemen stok.

Keteladanan dari Nabi Yusuf lainnya sebagai ciri pemimpin yang baik di antaranya tata kelola yang baik (good governance), berilmu, bersimpati dan berintegritas. Billahitaufiq Wal Hidayah . Wallahu a’lam Bissowab

Massif Protes di Harbour Bridge: WNI Bergabung dalam “March for Humanity” di Sydney

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

 Minggu, 3 Agustus 2025 pendukung Palestina, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI) di Australia, berpartisipasi dalam aksi long march damai di atas Sydney Harbour Bridge, menuntut gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Aksi ini digelar sejak pagi hari di tengah guyuran hujan dan penutupan jembatan secara penuh oleh otoritas. Mereka membawa spanduk, bendera Palestina, serta simbol-simbol kelaparan seperti panci dan wajan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Tepat setelah pukul 17.00 waktu setempat, Pejabat Wakil Komisaris Polisi NSW, Peter McKenna, menyampaikan bahwa sekitar 90.000 orang hadir dalam aksi tersebut, hal ini jauh melebihi estimasi awal penyelenggara yang hanya 50.000. Menurutnya, ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah ia dan Asisten Komisaris Adam Johnson saksikan selama karier kepolisian mereka. Bahkan Johnson menyebutnya sebagai aksi paling berisiko dalam 35 tahun masa tugasnya.

Namun, salah satu penyelenggara utama, Josh Lees, mengatakan bahwa jumlah peserta bisa jadi mendekati 300.000 orang. Ia menyatakan bahwa berbagai pihak telah melakukan analisis mandiri berdasarkan rekaman udara yang tersebar luas di media sosial, dan hasilnya menunjukkan jumlah peserta jauh melampaui perkiraan awal. “Ini lebih besar dari yang pernah saya bayangkan,” ungkap Lees dari titik tengah barisan demonstran.

Beberapa tokoh terkenal turut hadir, seperti pendiri WikiLeaks Julian Assange, mantan Menteri Luar Negeri Bob Carr, Senator Mehreen Faruqi, Senator Greens, serta anggota parlemen seperti Ed Husic. Para peserta membawa panci dan wajan sebagai simbol kelaparan di Gaza dan meneriakkan slogan seperti “We are all Palestine”, “Stop the genocide”, dan menyerukan pengakuan negara Palestina serta sanksi terhadap Israel

Momen ini menekan pemerintah Australia, mendorong diskusi tentang pengakuan negara Palestina dan sanksi terhadap Israel. Menteri Luar Negeri Penny Wong menyebut aksi ini sebagai “luar biasa” dan mencerminkan kegelisahan warga terhadap krisis di Gaza, dengan komunitas internasional semakin menuntut solusi dua negara.

Fenomena Pengibaran Bendera One Piece Jelang 17 Agustus: Sekadar Tren atau Simbol Perlawanan?

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

 Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke‑80 Republik Indonesia, publik dikejutkan oleh fenomena pengibaran bendera Jolly Roger yang merupakan simbol bajak laut dari anime One Piece di berbagai daerah. Aksi ini sontak menjadi viral dan memunculkan beragam reaksi dari masyarakat, politisi, dan akademisi. Banyak yang mempertanyakan, apakah ini sekadar tren atau bentuk simbolik dari kekecewaan terhadap kondisi bangsa saat ini?

 Anggota Komisi III DPR RI, Firman Soebagyo, menilai bahwa fenomena ini berbahaya karena dapat memicu konflik politik. “Ini bisa menimbulkan masalah jika tidak ada edukasi mengenai makna bendera dari anime One Piece tersebut. Oleh karena itu, fenomena ini bisa berdampak negatif dan berpotensi menimbulkan konflik politik. Masalah ini harus menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum,” ujarnya.

 Sementara itu, tanggapan berbeda datang dari Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya. Ia menilai fenomena pengibaran bendera One Piece tidak serta-merta perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menurutnya, ekspresi semacam ini merupakan bentuk kreativitas masyarakat yang bisa dimaknai sebagai simbol harapan, bukan semata bentuk perlawanan. “Selama tidak ada unsur provokatif atau niat merusak simbol negara, kita perlu menyikapinya dengan bijak. Ini bagian dari ekspresi warga dalam menyuarakan keresahan dan harapan terhadap bangsa,” ungkapnya dalam wawancara dengan media.

Dari sisi akademis, Saipul Bahtiar, dosen Universitas Mulawarman, menyebut pengibaran bendera Jolly Roger sebagai bentuk protes diam yang dilakukan secara simbolik oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa generasi muda kini cenderung menyuarakan kritik melalui simbol-simbol budaya pop, karena merasa ruang berpendapat secara langsung semakin sempit. “Mereka tidak turun ke jalan, tetapi memilih bentuk ekspresi kreatif untuk menyampaikan keresahan terhadap berbagai kebijakan dan kondisi negara,” ujarnya.

Fenomena ini pun menarik perhatian media internasional. Situs MeriStation yang berbasis di Spanyol menyebut Indonesia sebagai negara di mana bendera bajak laut One Piece dianggap sebagai “ancaman nasional”. Penilaian ini menuai kontroversi, namun di sisi lain menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya populer dalam membentuk narasi sosial dan politik masa kini.

Pengibaran bendera Jolly Roger menjelang Hari Kemerdekaan RI bukan hanya soal tren viral atau fandom semata. Ia mencerminkan keresahan kolektif, sekaligus membuktikan bahwa simbol-simbol dari dunia fiksi bisa menjadi alat komunikasi politik yang kuat di tengah terbatasnya ruang dialog publik. Alih-alih menindaknya dengan represif, pemerintah dan masyarakat perlu membuka ruang diskusi dan edukasi agar semangat kritis generasi muda bisa disalurkan secara konstruktif dan tetap dalam semangat kebangsaan.

Roblox: Platform Bermain Masa Kini atau Tambang Risiko Digital?

oleh; Husnul Hotimah Mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni UNESA

Di tengah banyaknya game online, Roblox muncul sebagai plaform game digital yang digemari jutaan anak dan remaja di seluruh dunia. Platform ini tak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga ruang kreasi tanpa batas. Namun di balik dunia penuh warna ini, tersembunyi pula sejumlah risiko, mulai dari konten tidak layak, sistem monetisasi yang bisa mendorong kecanduan, hingga potensi interaksi dengan pengguna yang tidak bertanggung jawab. Maka, wajar jika muncul pertanyaan: apakah Roblox benar-benar aman menjadi ruang tumbuh generasi muda, atau justru menyimpan ancaman tersembunyi di balik layar?

Roblox memiliki banyak manfaat positif, terutama dalam menumbuhkan kreativitas dan keterampilan digital anak-anak. Melalui Roblox Studio, mereka bisa belajar dasar pemrograman dengan bahasa Lua sambil menciptakan game sendiri. Interaksi dengan pemain dari berbagai belahan dunia juga memberi kesempatan untuk belajar bahasa asing secara alami. Tak jarang, anak-anak bahkan mulai memahami konsep bisnis sederhana seperti menjual item virtual, menetapkan harga, atau mempromosikan karya mereka.

Selain itu, pengalaman bermain bersama di Roblox dapat melatih kemampuan berbicara di depan umum dan kepemimpinan. Banyak pemain yang belajar memimpin tim, menyusun strategi, atau mempresentasikan proyek mereka kepada orang lain. Keterampilan semacam ini sering kali tidak diajarkan secara formal di sekolah, sehingga Roblox menjadi media alternatif yang berharga. 

Namun, di balik manfaat tersebut, ada risiko serius yang perlu diwaspadai. Sebagai platform terbuka, Roblox mempertemukan pengguna dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang berperilaku tidak pantas. Anak-anak bisa saja terpapar kata-kata kasar, konten tidak senonoh, atau bahkan manipulasi oleh pengguna jahat. Ruang obrolan dalam game terkadang menjadi tempat peredaran konten dewasa terselubung atau praktik grooming yang membahayakan. 

Masalah lain yang sering muncul adalah kecanduan dan kebiasaan belanja impulsif. Sistem pembelian dalam game menggunakan Robux dapat memicu pola konsumsi tidak sehat, terutama pada anak yang belum paham nilai uang. Tanpa pengawasan, mereka bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli skin atau aksesoris virtual. Algoritma Roblox yang dirancang untuk membuat pemain terus menjelajah juga berpotensi mengganggu keseimbangan waktu antara dunia digital dan kehidupan nyata.  Roblox bukanlah platform yang sepenuhnya buruk, tetapi juga tidak bisa dianggap sebagai hiburan yang sepenuhnya aman. Seperti halnya media sosial, ia membutuhkan pengawasan orang tua dan pendidik. Dengan bimbingan yang tepat, Roblox dapat menjadi alat edukasi yang efektif. Namun, tanpa kontrol, ia bisa menjadi gerbang masuk ke risiko-risiko dunia maya yang sulit diantisipasi.