Pimpinan Fakultas Kesehatan Universitas Nurul Jadid Probolinggo Turut Hadiri RUA ke-7 AIPNI Tahun 2025 di Batam

Probolinggo, Berdampak.net — Fakultas Kesehatan Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Probolinggo menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan keperawatan di Indonesia dengan turut serta dalam Rapat Umum Anggota (RUA) ke-7 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Tahun 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh AIPNI Pusat dan dihadiri oleh pimpinan dari berbagai institusi pendidikan ners di seluruh Indonesia. Minggu (12/10/2025)

Rapat Umum Anggota di Batam menghasilkan sejumlah poin penting, antara lain penyelarasan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan kebutuhan layanan dan perkembangan iptek keperawatan; penguatan standar pembelajaran klinik dan sistem preseptorship melalui pelatihan preseptor bersama jejaring rumah sakit dan puskesmas; pemantapan strategi Uji Kompetensi Ners dengan bank soal berbasis riset, tryout berkala, serta pembelajaran berbasis kasus; optimalisasi kebijakan kampus berdampak melalui mekanisme rekognisi yang lebih jelas pada wahana layanan dan komunitas.

Kehadiran pimpinan Fakultas Kesehatan UNUJA dalam RUA ini menjadi bukti aktifnya partisipasi lembaga dalam mendukung arah kebijakan dan pengembangan mutu pendidikan keperawatan secara nasional. Agenda penting dalam RUA ke-7 AIPNI ini meliputi evaluasi program kerja, pemilihan kepengurusan baru, serta penetapan langkah strategis untuk menjawab tantangan dunia keperawatan di masa depan.

“Partisipasi kami dalam forum ini tidak hanya sebagai bentuk keterlibatan institusional, tetapi juga sebagai upaya untuk terus memperkuat jejaring antar lembaga pendidikan ners di Indonesia serta meningkatkan kualitas lulusan keperawatan di UNUJA,” ungkap Dr. Sri Astutik Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Nurul Jadid.

Rapat Umum Anggota AIPNI merupakan forum tertinggi yang menjadi wadah bagi seluruh anggotanya dalam menyampaikan aspirasi, memberikan evaluasi terhadap kinerja organisasi, serta merumuskan arah dan kebijakan strategis untuk masa depan pendidikan ners.

Dengan mengikuti kegiatan ini, Fakultas Kesehatan UNUJA diharapkan semakin adaptif dalam menghadapi perkembangan dunia keperawatan, serta mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing global.

MUI Kota Probolinggo Tolak Legalisasi Jenis Hiburan Bernuansa Maksiat dalam Perda Pajak Daerah

Probolinggo, 9 Oktober 2025 —
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait disahkannya Perubahan atas Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah yang mencantumkan sejumlah jenis hiburan seperti panti pijat, diskotek, karaoke, bar, dan pub sebagai subjek Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT).

Dalam konferensi pers di Sekretariat MUI Kota Probolinggo, Dewan Pimpinan MUI Kota Probolinggo menegaskan bahwa keberadaan jenis hiburan tersebut berpotensi menimbulkan kemaksiatan, merusak moralitas masyarakat, serta bertentangan dengan nilai-nilai agama dan norma sosial, khususnya di kalangan masyarakat Kota Probolinggo yang religius.

“MUI Kota Probolinggo menghormati kewenangan Pemerintah Daerah dan DPRD dalam menyusun serta menetapkan kebijakan pajak dan retribusi daerah. Namun kami menolak segala bentuk pengesahan dan legalisasi kegiatan yang secara substansial bertentangan dengan ajaran agama, etika, dan moral publik,” demikian pernyataan yang dibacakan oleh Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. Muhammad Sulthon, MA dan didampingi jajaran pengurus.

MUI menyoroti bahwa dalam Pasal 16 Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2015, disebutkan secara tegas bahwa usaha tempat hiburan yang dilarang adalah diskotek, klab malam, dan panti pijat.
Namun, dengan diberlakukannya Perubahan Perda Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, muncul kekhawatiran bahwa pengenaan pajak terhadap jenis hiburan bernuansa maksiat dapat menimbulkan kesan legalisasi aktivitas amoral yang sejatinya dilarang oleh norma agama dan sosial.

MUI Kota Probolinggo menyerukan agar Pemerintah Daerah dan DPRD Kota Probolinggo meninjau kembali ketentuan dalam perda tersebut, khususnya yang berkaitan dengan pengenaan pajak terhadap hiburan berpotensi maksiat.
“Peninjauan kembali diperlukan agar tidak menimbulkan persepsi publik seolah-olah pemerintah melegalkan praktik yang bertentangan dengan moralitas dan nilai-nilai agama,” ujar Kyai Sulthon dalam pernyataannya.

Selain itu, MUI mengajak seluruh umat Islam dan masyarakat Kota Probolinggo untuk menjaga kesucian moral, memperkuat ketahanan keluarga, serta mendukung kebijakan daerah yang berpihak pada nilai-nilai agama, Pancasila, dan budaya luhur bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, MUI Kota Probolinggo menegaskan akan tetap menjadi mitra konstruktif Pemerintah Daerah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang adil, berakhlak mulia, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
MUI juga mendorong agar setiap perencanaan kebijakan publik, terutama yang menyangkut moral dan sosial masyarakat, melibatkan unsur masyarakat termasuk MUI dalam proses pengambilan keputusan.

Pernyataan sikap ini, menurut MUI, merupakan bentuk tanggung jawab moral dan keagamaan dalam menjaga kemaslahatan masyarakat dan menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan keberkahan bagi kita semua dalam menjalankan amanah ini,” tutup Kyai Sulthon dalam pernyataan resminya.

MUI Kabupaten Probolinggo Bekali Dai di Era Milenial

Probolinggo, Berdampak.net – Menjadi pendakwah atau dai harus mengikuti perkembangan zaman. Untuk memenuhi tantangan itu, MUI Kabupaten Probolinggo menggelar workshop dengan tema “Tantangan Dakwah di Era Milenial”.

Workshop diselenggarakan oleh Komisi Dakwah dan Ukhuwah Islamiah. Kegiatan dihelat pada Rabu (8/10/2025) pagi, di ruang Amanah Gedung Islamic Center Kota Kraksaan.

Ketua Komisi Dakwah dan Ukhuwah Islamiah MUI Kabupaten Probolinggo, HM Barzan Ahmadi, mengatakan bahwa workshop ini diikuti 50 pendakwah dari lintas organisasi.

Selain pengurus MUI, peserta berasal dari unsur PCNU Kota Kraksaan, MWCNU Kota Kraksaan, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Baznas. “Alhamdulillah, peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusias mendengarkan materi dari narasumber,” kata ustaz Barzan, sapaannya.

Workshop ini menghadirkan dua orang narasumber. Pertama, KH Dr Abdullah Syamsul Arifin selaku Ketua MUI Jawa Timur yang juga Ketua Lembaga Dakwah PBNU. Narasumber kedua yakni ustaz Barzan sendiri dari MUI Kabupaten Probolinggo.

Ustaz Barzan menuturkan, workshop semacam ini penting diikuti oleh para dai agar bisa jadi pendakwah yang mampu mengikuti perkembangan zaman. “Berdakwah, saat ini tidak hanya dilakukan dengan tatap muka. Tapi bisa juga melalui media sosial seperti YouTube, Tiktok dan sebagainya,” tuturnya.

Karena itu, lanjutnya, jadi pendakwah di era milenial juga harus melek teknologi. “Harapan kita agar para peserta mendapat pembekalan atau pencerahan dalam menjalankan strategi dakwah,” jelasnya. (don)

MUI Kota Probolinggo Selenggarakan TADRIBUL QURRA’: Upaya Membangun Generasi Qur’ani Sejak Usia Dini

Probolinggo, 5 Oktober 2025 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo kembali menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda yang mencintai Al-Qur’an melalui penyelenggaraan TADRIBUL QURRA’, sebuah program pelatihan intensif bagi anak-anak dan remaja untuk memperdalam kemampuan membaca, melantunkan, dan memahami Al-Qur’an secara baik dan benar.

Kegiatan Tadribul Qurra’ ini akan berlangsung selama tiga bulan, dilaksanakan setiap hari Minggu mulai 5 Oktober 2025 hingga Desember 2025, bertempat di masing-masing wilayah MUI kecamatan se-Kota Probolinggo.

Program ini mendapat sambutan hangat dan antusias luar biasa dari masyarakat. Tercatat sebanyak 250 peserta turut ambil bagian, yang didominasi oleh anak-anak usia Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), serta sebagian kecil peserta dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Para peserta akan dibimbing langsung oleh Qari’ dan Qariah profesional yang berpengalaman dalam seni baca Al-Qur’an, dengan fokus pada peningkatan kemampuan tajwid, makhorijul huruf, dan irama tilawah agar peserta dapat membaca dan melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan baik, indah, dan penuh penghayatan.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. M. Sulthon, MA., menyampaikan bahwa kegiatan Tadribul Qurra’ merupakan salah satu program unggulan MUI Kota Probolinggo yang dirancang untuk membina generasi Qur’ani sejak usia dini.

“Tadribul Qurra’ ini menjadi wadah untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Kami ingin anak-anak terbiasa dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya dalam bacaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Kyai Sulthon.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa program ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu:

  1. Meningkatkan keterampilan membaca Al-Qur’an secara tartil dan sesuai kaidah tajwid.
  2. Memperdalam ilmu tajwid, makhorijul huruf, dan irama tilawah agar peserta memahami dan mengamalkan seni membaca Al-Qur’an dengan benar.
  3. Membentuk generasi cerdas, tangguh, dan berkarakter Qur’ani, sebagaimana yang dicita-citakan oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam. “Besar harapan kami agar semua peserta dapat mengikuti kegiatan ini secara konsisten hingga Desember nanti, bahkan terus melanjutkan pembinaan di tahap berikutnya untuk berprestasi di bidang tilawah dan tahsin,” pungkas Kyai Sulthon.

Dengan terselenggaranya Tadribul Qurra’ ini, MUI Kota Probolinggo berharap dapat melahirkan generasi muda Qur’ani yang tidak hanya fasih dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjiwai nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak mulia.

FKUB Kota Probolinggo Lakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) ke Sejumlah Gereja, Pasraman dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga

Probolinggo, 5 Oktober 2025, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) terhadap pelaksanaan pendidikan karakter keagamaan nonformal di sejumlah tempat ibadah pada 3–5 Oktober 2025. Kegiatan ini menyasar Gereja, Pasraman, dan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Sumber Naga di wilayah Kota Probolinggo.

Kegiatan Monev ini dipimpin langsung oleh Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP, yang mengomandani sejumlah tim pengurus FKUB yang terdiri dari 18 tim dimana setiap tim terdiri dari 2 (dua) orang untuk turun ke lapangan meninjau kegiatan pendidikan nonformal yang dilaksanakan di berbagai tempat ibadah. Setiap tim bertugas memantau secara langsung pelaksanaan Sekolah Minggu di Gereja, Pasraman, maupun Kelas Keagamaan Tri Dharma, yang menjadi bagian penting dari penguatan pendidikan karakter keagamaan bagi generasi muda lintas agama.

Dr. Ahmad Hudri menjelaskan bahwa pelaksanaan Monev ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Wali Kota (Perwali) Probolinggo Nomor 82 Tahun 2024 tentang Pedoman Pemberian Insentif Guru Keagamaan Nonformal.
“Pendidikan karakter keagamaan melalui Sekolah Minggu di Gereja, Pasraman, maupun TITD merupakan bagian dari pembinaan moral dan spiritual anak-anak di masing-masing komunitas keagamaan. Karena itu, FKUB memastikan program ini berjalan baik dan transparan, termasuk dalam hal pemberian insentif bagi para guru nonformal,” terang Hudri.

Dalam Perwali tersebut dijelaskan bahwa:
Guru Minggu adalah seseorang yang mengajarkan pelajaran keagamaan Kristen dan Katolik di gereja, Guru Agama Buddha di Vihara, Guru Agama Hindu di Pasraman, dan Guru Agama Khonghucu di TITD atau Klenteng. Khusus untuk Budha dan Konghucu berpusat di TITD Sumber Naga atau Klenteng.

Para guru keagamaan nonformal tersebut berhak menerima insentif bulanan yang disalurkan melalui mekanisme hibah pemerintah kota. FKUB Kota Probolinggo berperan dalam penyaluran dan pembinaan, termasuk memastikan pertanggungjawaban dan pelaporan kegiatan Sekolah Minggu secara periodik.

Secara teknis, FKUB menyalurkan insentif setiap tiga bulan sekali, setelah menerima laporan kegiatan dari masing-masing guru keagamaan nonformal. Monev ini juga menjadi ajang evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan keagamaan, termasuk sarana dan metode pembelajaran yang diterapkan di setiap tempat ibadah.

Melalui kegiatan ini, FKUB berharap sinergi antara pemerintah kota, FKUB, dan para tokoh lintas agama dapat semakin memperkuat kerukunan umat beragama di Kota Probolinggo. Pendidikan karakter keagamaan yang berjalan baik di setiap komunitas diyakini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berakhlak, toleran, dan cinta damai.

“FKUB tidak hanya berperan menjaga kerukunan, tetapi juga membina dan memastikan bahwa pendidikan keagamaan nonformal di tempat ibadah berjalan sesuai regulasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” harap Dr. Ahmad Hudri.

Kegiatan Monev ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pengurus tempat ibadah yang dikunjungi. Mereka menilai langkah FKUB sebagai bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap pembinaan keagamaan lintas umat, yang menjadi ciri khas kerukunan di Kota Probolinggo.

Grand Launching Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin (STAIRO) Kademangan Probolinggo

Probolinggo, Berdampak.net 13 September 2025 — Sebuah tonggak sejarah pendidikan Islam kembali tercipta di Kota Probolinggo dengan diresmikannya Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin (STAIRO) Kademangan. Acara Grand Launching ini berlangsung pada Sabtu pagi (13/09), pukul 08.30 – 12.00 WIB bertempat di halaman Kampus STAIRO, Jalan Prof. Hamka Nomor 54 A, Kelurahan Kademangan, Kota Probolinggo.

Launching secara resmi dilakukan oleh Ketua KOPERTAIS IV, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Ph.D, bersama Walikota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.Og. (K), MM.Kes, dan Ketua STAIRO KH. Abdul Malik Haramain, M.Si. Dengan peresmian ini, STAIRO resmi memulai aktivitas akademiknya, membuka pendaftaran mahasiswa untuk dua program studi unggulan: Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan Hukum Keluarga Islam (HKI).

Dalam sambutannya, KH. Abdullah Zabut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, menyampaikan bahwa pendirian STAIRO merupakan kelanjutan dari komitmen yayasan untuk mendidik generasi bangsa. “Kami akan senantiasa istiqamah di jalur pendidikan Islam. Sejak tahun 2011 dan 2015 kami upayakan, dan alhamdulillah terealisasi di tahun 2025,” ujar Gus Zabut.

Ia menambahkan, STAIRO hadir sebagai bentuk kontribusi nyata pondok pesantren dalam menciptakan solusi bagi tantangan pendidikan di Indonesia.

Walikota: STAIRO Adalah Cahaya Baru Probolinggo

Sementara itu, Walikota Probolinggo, dr. Aminuddin, menyambut antusias kehadiran STAIRO. Ia menyampaikan rasa bangga dan harapan besar terhadap kontribusi kampus ini ke depannya.
“Kehadiran STAIRO memberikan pelita bagi pembangunan Kota Probolinggo. Kami yakin STAIRO akan turut berkontribusi dalam pembangunan kota berbasis manajemen finansial dan menjadi lembaga pendidikan tinggi yang maju, baik di Tapal Kuda maupun di tingkat nasional,” tegasnya.

Sementara itu Ketua STAIRO, KH. Abdul Malik Haramain, M.Si, memaparkan bahwa pendirian STAIRO merupakan buah perjuangan panjang yang dimulai sejak gagasan almarhum KH. Mujib Abdullah.
“Prosesnya tidak mudah, butuh perjuangan bertahun-tahun. Kami ingin menjaga agar pendidikan tidak tergelincir menjadi komoditas ekonomi. STAIRO hadir untuk membangun SDM yang berkualitas dan berkarakter,” jelas Gus Malik.
Ia juga menekankan enam prinsip utama STAIRO:

  1. Menjaga konsistensi tujuan pendidikan Islam.
  2. Memaksimalkan potensi lembaga pendidikan yang dimiliki pondok pesantren.
  3. Menyambungkan pendidikan santri hingga jenjang perguruan tinggi.
  4. Memenuhi kebutuhan SDM daerah dengan kualitas unggul.
  5. Mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa di bidang pendidikan.
  6. Mencetak lulusan yang kompeten, unggul, dan berakhlak mulia.

Grand Launching juga diisi dengan Studium General oleh Prof. Akh. Muzakki yang memberikan motivasi dan pemahaman mendalam tentang tantangan dan harapan SDM masa kini.
Beberapa poin penting yang disampaikan Prof. Muzakki antara lain : Pentingnya SDM unggul yang tidak hanya pergi ke luar daerah tapi juga berkontribusi kembali ke kampung halaman.
Prof. Muzakki juga mengingatkan tentang Peran ulama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang harus terus diapresiasi.
Selain itu, Pentingnya karakter dalam pendidikan, bukan hanya kecerdasan akademik. Dan Menuntut ilmu harus memiliki sanad keilmuan dan sanad kemuliaan.
Lebih lanjut Prof. Muzakki berharap bahwa muslim masa kini harus cerdas dan benar, ditandai dengan akhlaqul karimah.

Acara Grand Launching STAIRO ini ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Jamaludin tepat pukul 12.00 WIB. Diharapkan dengan peresmian ini, STAIRO mampu menjadi pilar baru pendidikan tinggi Islam di Probolinggo dan memberikan kontribusi strategis dalam menciptakan SDM yang unggul, berkarakter, serta berwawasan keilmuan dan keislaman yang kuat.