Penanganan Karakter Anak Butuh Peran Banyak Pihak

Probolinggo, Berdampak.net – Kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter pada Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) gelaran MUI Kabupaten Probolinggo, Kamis (31/7/2025) di aula kampus Universitas Islam Zainul Hasan Genggong, juga dihadiri Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo.

Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo yang hadir dalam kegiatan tersebut, Yunita Nurlaili, saat sambutan juga menyinggung kasus seorang anak yang usir ibunya di Kecamatan Besuk. Menurutnya, hal itu terjadi karena karakter anak.

Kepada Komisi Infokom MUI Kabupaten Probolinggo, Yunita menjelaskan bahwa penanganan kasus karakter anak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Semua harus terlibat seperti orangtua, pak camat, dan organisasi lain yang menangani terkait anak,” katanya.

Yunita menjelaskan, jika semua pihak sudah ‘duduk bareng’ maka bisa melakukan pendampingan terhadap anak tersebut. Sehingga, contoh kasus di Kecamatan Besuk tersebut tidak jadi tren. “Sehingga tidak jadi contoh anak-anak sekitar,” jelasnya.

Ia tak menampik bahwa kejadian pilu di Besuk itu banyak diketahui masyarakat karena tersebar luas melalui medsos. Karenanya, ia memastikan butuh peran orangtua untuk mendampingi anak di rumah. Termasuk dalam penggunaan ponsel.

“Kalau di sekolah jelas tidak boleh pakai hp. Kecuali untuk kepentingan pelajaran tertentu. Jadi, peran keluarga dalam hal ini orangtua sangat penting,” katanya. (don)

Rektor Unzah: Penguatan Karakter Butuh Proses Panjang Agar Berdampak

Probolinggo, Berdampak.net – Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter pada Guru Agama se-Kabupaten Probolinggo sukses digelar di aula kampus Universitas Islam Zainul Hasan (Unzah) Genggong, Kamis (31/7/2025). Rektor Unzah menyebut bahwa penguatan karakter positif butuh proses panjang.

Pelatihan itu diikuti guru agama Islam tingkat SD, SMP, SMA/SMK, serta jajaran pengawas dan koordinator. Total sekitar 150 lebih peserta yang hadir.

Rektor Unzah, Profesor Doktor Abdul Aziz Wahab, menilai kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter penting dilakukan. “Pendidikan karakter perlu dilakukan, kapan dan di mana pun,” katanya.

Seperti contohnya, kasus kenakalan remaja terjadi karena dampak kurangnya penguatan pendidikan karakter. “Itu (kurangnya pendidikan karakter, Red) jadi masalah besar, termasuk problematika bagi orangtua,” katanya.

Selain Penguatan Pendidikan Karakter, lanjutnya, yang tidak kalah penting adalah tindak lanjut dari kegiatan pelatihan itu sendiri. Tindak lanjut itu pertama, menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkup keluarga, pendidikan, dan lingkup masyarakat secara umum.

Kedua, menanamkan cinta tanah air. Menurutnya, anak bangsa perlu diberikan pencerahan secara berkelanjutan untuk mencintai bangsanya sendiri yakni bangsa Indonesia. “Bukan mencintai bangsa lain,” lanjutnya.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai toleransi pada sesama. Baik terhadap mereka yang seagama maupun beda agama. Termasuk menghormati pemerintah.

Profesor Aziz meyakini jika hal itu menjadi materi pokok dalam dunia pendidikan maka, tujuan penguatan karakter pada anak akan terwujud.

Proses Panjang Penguatan Karakter

Dengan beragam cara penguatan karakter di atas, Prof Aziz mengingatkan kepada tenaga pendidik dan orangtua bahwa hal itu butuh proses panjang.

Setidaknya ada lima tahapan yang perlu dilakukan dalam proses panjang dimaksud. Yakni pemahaman pentingnya karakter, melatih diri, pembiasaan melakukan karakter positif, pembentukan karakter, dan terakhir penghargaan. “Penghargaan itu harapan dari kita bersama,” jelasnya.

Ia meyakini, jika semua proses panjang dilakukan secara bertahap maka tujuan pembentukan karakter positif pada anak akan terwujud. (don)

MUI Kabupaten Probolinggo Bekali Guru Agama dengan Ilmu Penguatan Karakter

Probolinggo, Berdampak.net – Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter Guru Agama se-Kabupaten Probolinggo gelaran MUI Kabupaten Probolinggo, sukses digelar pada Kamis (31/7/2025) di aula kampus Universitas Islam Zainul Hasan (Unzah) Genggong Kraksaan. Tak satupun peserta yang absen, dan mendapat banyak ilmu baru.

Pelatihan Penguatan Pendidikan Karakter ini kolaborasi MUI Kabupaten Probolinggo dan Unzah, serta didukung Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo. Pesertanya ialah guru agama Islam pada jenjang SD, SMP, SMA/SMK, serta para pengawas dan koordinator lembaga. Jumlahnya lebih dari 150 peserta dan memenuhi aula kampus.

Rektor Unzah, Profesor Doktor H Abdul Aziz Wahab, mengatakan kehadiran peserta membawa keberkahan tersendiri bagi kampus Unzah. “Kami terus berkembang dari zaman ke zaman. Bahkan kami pernah menetapkan slogan Kampus Juara, Kampus Digital,” kata Profesor Aziz.

Kegiatan ini, kata Prof Aziz, penting dilakukan karena pendidikan karakter sangat dibutuhkan oleh tenaga pendidik untuk ditularkan kepada anak didik. “Karakter itu tidak muncul tiba-tiba. Harus dibentuk lewat proses panjang melalui keluarga, sekolah, sampai lingkungan sosial,” katanya.

Sementara menurut Kepala Kemenag, H Samsur, masyarakat saat ini menunggu ilmu bermodal karakter positif. “Kami apresiasi kegiatan kolaborasi MUI dan Unzah ini,” katanya.

Dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) juga hadir dalam kegiatan ini, dan diwakili oleh Sekretaris Disdikdaya Yunita Nurlaili. Menurutnya, kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter ini sejalan dengan langkah Disdikdaya.

Yunita menjelaskan, saat ini Disdikdaya menerapkan tambahan kegiatan keagamaan sebelum dimulainya pembelajaran. “Misalnya, salat duha dan mengaji sebelum pembelajaran, serta salat duhur,” jelas Yunita.

Kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter kemudian dibuka oleh Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo, KH Abdul Wasik Hannan.

Dalam sambutannya, Kiai Wasik -panggilannya- menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Milad MUI ke-50. “Sebelumnya, kami melakukan ziara ke para pendahulu pengurus MUI yang wafat,” tuturnya.

Ia mengatakan, pelatihan ini untuk menciptakan karakter yang baik dan bertanggung jawab. “Agar Probolinggo ke depannya, utamanya gen Z tidak lagi melakukan seperti kasus di Besuk,” katanya.

Diketahui, beberapa waktu lalu publik Probolinggo dikejutkan dengan kasus seorang anak usir ibunya, di Kecamatan Besuk.

Pelatihan Oleh Dua Rektor

Usai serangkaian seremoni, kegiatan dilanjutkan dengan paparan materi oleh dua narasumber. Pertama, oleh Rektor Universitas Hafsawati (Unhasa) Genggong, Doktor Nur Hamim. Lalu, oleh Rektor Unzah Prof Doktor Abdul Aziz Wahab.

Doktor Nur Hamim, dalam paparannya menjelaskan bagaimana fenomena kenakalan remaja. Peserta aktif dalam sesi ini, sebab banyak kasus kenakalan remaja di tengah masyarakat seperti pesta miras yang melibatkan anak dan orangtua.

Materi kedua oleh Profesor Abdul Aziz Wahab tak kalah menariknya. Profesor Aziz lebih menekankan pada pembentukan pribadi yang berakhlakul karimah, serta menguatkan keimanan kepada Allah dan mengikuti sunah Rasulullah.

Uniknya, Profesor Aziz menyelingi materinya dengan lagu keislaman untuk menyemangati peserta. (don)

Milad ke-50 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo dan Launching Muallaf Center

Probolinggo, Berdampak.net – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menyelenggarakan Tasyakuran Milad ke-50 MUI sekaligus Launching Muallaf Center pada Minggu malam, 27 Juli 2025, bertempat di Gedung Puri Manggala Bhakti, Pemerintah Kota Probolinggo. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB ini diawali dengan penampilan musik religi dan dihadiri lebih dari 150 peserta yang terdiri dari jajaran pengurus MUI Kota dan Kecamatan, pimpinan ormas keagamaan, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Turut hadir dalam acara ini Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og., M.M.Kes, Wakil Walikota Hj. Ina Dwi Lestari, jajaran Forkopimda, serta tokoh-tokoh masyarakat dan agama.
Dalam sambutannya, Walikota Probolinggo menyampaikan apresiasi atas kiprah MUI yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembinaan umat. Ia juga memohon doa dan pemikiran para ulama demi kelancaran dan kesuksesan pembangunan Kota Probolinggo agar senantiasa memberikan manfaat bagi masyarakat luas. “Kami sangat membutuhkan dukungan spiritual dan intelektual dari para ulama agar pembangunan di kota ini selalu berjalan dalam bingkai keberkahan dan maslahat,” ujarnya.
Puncak acara tasyakuran ditandai dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ketua MUI Provinsi Jawa Timur, KH. Ahsanul Haq. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan ulama dalam menjaga persatuan, menguatkan akhlak mulia, serta memastikan arah pembangunan bangsa berjalan sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. “MUI bukan hanya benteng moral, tapi juga mitra konstruktif bagi pemerintah. Karena itu, pemerintah pun perlu memberikan dukungan yang memadai untuk program-program keumatan yang dijalankan oleh MUI,” tegas KH. Ahsanul Haq.
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah Launching Muallaf Center MUI Kota Probolinggo sebagai pusat layanan terpadu untuk para muallaf. Layanan ini mencakup bimbingan pasca syahadat, konseling keagamaan dan psikologis, pelatihan kemandirian ekonomi, perlindungan hukum, serta pembentukan jejaring komunitas Sahabat Muallaf. Kehadiran Muallaf Center ini diharapkan menjadi solusi holistik bagi pembinaan muallaf agar mereka dapat menjalani kehidupan beragama dengan mantap, mandiri, dan bermartabat.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, rangkaian acara Milad juga diisi dengan kegiatan santunan kepada 100 anak yatim piatu dan dhuafa, yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Probolinggo.
Melalui Milad ke-50 ini, MUI Kota Probolinggo meneguhkan kembali komitmennya sebagai penjaga moral, penjembatan umat dan pemerintah, serta pelayan umat yang inklusif, adaptif, dan solutif terhadap dinamika zaman. (fiq)

Momentum Setengah Abad, MUI Kabupaten Probolinggo Ziarahi Maqbarah Mantan Pengurus

Probolinggo, Berdampak.net – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini telah berusia 50 tahun. Dalam momentum setengah abad itu, MUI Kabupaten Probolinggo meneguhkan khidmat perannya dan meneladani para pendahulu.

Tidak ada kegiatan istimewa yang digelar MUI Kabupaten Probolinggo pada milad MUI ke-50, tepat pada Sabtu, 26 Juli 2025. Meski begitu, peran MUI Kabupaten Probolinggo kian terasa kehadirannya di tengah masyarakat dalam berbagai isu penting dan strategis.

Peran MUI di Kabupaten Probolinggo tentu tidak lepas dari jejak para pengurus terdahulu. Termasuk para alim ulama yang telah wafat. Untuk itu, pengurus aktif MUI Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan “Ziarah Maqbaroh” mantan pengurus MUI Kabupaten Probolinggo, Ahad (27/7/2025).

Ada tujuh pesarean atau makam mantan pengurus MUI Kabupaten Probolinggo yang diziarahi pengurus. Yakni makam almarhum KH Mahfudz Samsul Hadi, almarhum KH Amin Fathullah di Gending, almarhum KH Syihabuddin Sholeh, dan makam almarhum KH Nuruddin Musyiri di Pesantren Nurul Qadim Kalikajar.

Berikutnya, makam almarhum KH Idrus Ali di Pesantren Nurul Jadid Paiton, almarhum KH Ahmad Fauzi Imron, dan almarhum KH Hasan Syaiful Islam Genggong.

Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten, KH Abdul Wasik Hannan yang memimpin rombongan, mengatakan bahwa kegiatan ziarah maqbaroh ini untuk mengenang jasa alim ulama yang pernah aktif di MUI Kabupaten Probolinggo.

“Juga sekaligus agar kepengurusan yang ada sekarang ini dapat meniru semangat juang dan dedikasi yang telah diteladankan semasa para beliau masih aktif di kepengurusan MUI,” kata Kiai Wasik, sapaannya.

Dengan meneladani dedikasi pengurus terdahulu, katanya, maka semakin meneguhkan peran MUI khususnya di Kabupaten Probolinggo.

Dalam usianya yang sudah mencapai setengah abad, Kiai Wasik menyebut bahwa MUI adalah organisasi yang hadir sebagai pelayan umat (khadimul ummah) dan mitra pemerintah (shadiqul hukumah), keberadaannya. “Harus semakin dirasakan oleh umat secara keseluruhan,” katanya.

Menurutnya, usia setengah abad MUI adalah momentum untuk meneguhkan khidmat kepada umat sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga keharmonisan bangsa.

“MUI tidak boleh berhenti berkhidmat di usia emasnya ini, malah harus semakin menunjukkan kiprahnya dalam berbagai hal, baik dalam menjaga kerukunan antar umat, menyelamatkan umat dari fatwa nyeleneh, fatwa yang keras, dan fatwa yang memudah-mudahkan. Sebab, fatwa harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada,” jelasnya.

Dan tidak kalah pentingnya, kata Kiai Wasik, MUI harus menjaga umat dari makan minum yang tidak halal, menjaga umat dari muamalah yang tidak sesuai syariat.

Selamat di usia emasnya. “MUI untuk Kemaslahatan Umat dan Keharmonisan Bangsa”. (don)

FKUB Kota Probolinggo Gelar Sarasehan Moderasi Beragama: Upaya Kolaboratif Jaga Harmoni Umat

Probolinggo, Berdampak.net – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo terus bergerak aktif dalam mendorong semangat toleransi dan kerukunan melalui edukasi moderasi beragama. Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, FKUB menggelar Sarasehan Moderasi Beragama yang dilaksanakan pada Kamis, 25 Juli 2025 bertempat di Aula Gereja Katolik Bunda Karamel, Kota Probolinggo.

Acara yang dimulai pukul 13.30 WIB ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Probolinggo yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Surya Darmawati, yang membacakan sambutan Wali Kota Probolinggo. Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas upaya FKUB dalam merawat kerukunan antarumat beragama yang telah terjalin baik di Kota Probolinggo.

“Moderasi beragama adalah kunci untuk menjaga persatuan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih dalam masyarakat yang majemuk seperti kita. Kami sangat mengapresiasi FKUB yang secara konsisten menggerakkan edukasi lintas iman untuk memperkuat harmoni sosial,” demikian disampaikan dalam sambutan Wali Kota.

Ketua FKUB Kota Probolinggo, Ahmad Hudri, dalam sambutannya menekankan bahwa FKUB hadir sebagai mitra strategis umat dalam mengarusutamakan moderasi beragama sebagai pendekatan yang tepat dalam konteks kebinekaan Indonesia.

“Moderasi beragama bukan sekadar wacana, tapi menjadi metode efektif dalam menjawab tantangan keberagaman. FKUB berkomitmen untuk terus hadir mendampingi masyarakat dalam menjaga harmoni sosial yang berkeadilan,” tegasnya.

Sarasehan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni I Nengah Windia dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang juga merupakan pengurus FKUB, serta Didik Kurniawan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo. Kedua narasumber mengulas tema penting seputar Deteksi Dini Kerawanan Sosial Berbasis Agama, yang menjadi perhatian bersama dalam menjaga ketenteraman masyarakat.

Kegiatan ini diikuti oleh 125 peserta yang terdiri dari guru-guru lintas agama tingkat SD dan MI se-Kota Probolinggo. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi dialog terbuka, di mana banyak muncul pertanyaan dan diskusi konstruktif yang menggambarkan kepedulian bersama terhadap nilai-nilai toleransi dan kerukunan.
Dengan berlangsungnya sarasehan ini, FKUB Kota

Probolinggo kembali menegaskan posisinya sebagai jembatan strategis dalam menjaga keharmonisan umat beragama melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif.(fiq)