Mujadalah Kiai Kampung Serukan Tiga Pesan Penting Jelang Kemerdekaan RI

Probolinggo, Berdampak.net – Menjelang perayaan akbar Kemerdekaan Republik Indonesia, HUT RI yang ke 80, pada 17 Agustus 2025, Mujadalah Kiai Kampung (MKK) menyerukan tiga hal penting untuk masa depan Indonesia lebih baik, adil makmur dan sejahtera bagi rakyatnya

Dalam siaran persnya, Jumat (15/8/2025), Pendiri Yayasan Mujadalah Kiai Kampung MKK), Najib Salim Atamimi menyampaikan, bahwa pada 17 Agustus 2025, bangsa Indonesia akan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang ke-80.

Perayaan hari kemerdekaan Indonesia tahun ini, diwarnai dengan bayang-bayang munculnya konflik sosial akibat beberapa kebijakan pemerintah daerah yang semakin membebani rakyat.

Beberapa kebijakan tersebut diantaranya jelas pria yang karib disapa Syekh Najib, bahwa kenaikan pajak yang naik secara drastis, seperti di Kabupaten Pati PBB-P2 naik 250 persen, Kota Cirebon, pajak PBB-nya naik sampai hampir 1000 persen.

Selanjutnya, Kabupaten Jombang naik hingga 800 persen, Kabupaten Semarang, pajak naik 400 persen, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan pajak naik 300 persen, dan berbagai pungutan lain yang sangat membebani rakyat.

“Kebijakan-kebijakan ini, seperti kado pahit bagi rakyat di hari kemerdekaan. Memasuki usia kemerdekaan yang sudah 80 tahun, rakyat seolah belum merasakan lepas dari belenggu-belenggu penjajahan,” terangnya.

Berbagai kebijakan yang membebani rakyat ini, dinilai sangat bertolak belakang dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto, yang sangat pro-rakyat. Diantaranya, kebijakan penghapusan hutang para petani dan nelayan, penambahan anggaran pupuk subsidi untuk petani, makan bergizi gratis.

“Hadirnya sekolah rakyat untuk kaum miskin, pemeriksaan kesehatan gratis, peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kesehatan, serta banyak program baik lainnya. Program itu sudah sangat luar biasa dilahirkan oleh Presiden Prabowo,” kata Najib.

Namun, disaat yang sama, juga lahir, kebijakan pemerintah daerah yang membebani rakyat. Hal itu merupakan sesuatu yang tidak tepat, karena dilakukan di tengah suasana ekonomi rakyat yang masih sulit.

“Gelombang PHK yang terus berlanjut. Minimnya lapangan pekerjaan dan sulitnya mencari sumber penghasilan, telah menempatkan rakyat pada posisi yang tertekan, sulit dan menderita,” jelasnya.

Dalam kondisi demikian jelas Najib, kebijakan kenaikan pajak akan menambah beban rakyat menjadi semakin berat. Sehingga dapat memancing timbulnya konflik sosial, seperti yang terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Selain itu, juga bisa memunculkan gejolak yang sama di daerah-daerah lainnya di Indonesia. “Selain dapat memancing munculnya konflik sosial, kebijakan pemerintah dan daerah yang membebani rakyat itu, juga dapat mengganggu pelaksanaan program-program Presiden Prabowo, yang sangat pro-rakyat,” tegasnya.

Dengan kata lain, beber Najib, program kerakyatan Presiden Prabowo, dapat gagal karena dihambat oleh kebijakan para Bupati dan Wali Kota, yang dikoordinir oleh Menteri Dalam Negeri yang tidak pro-rakyat dan justru menambah beban pada rakyat.

“Jika hal ini terus terjadi, maka akan dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat (public distrust) kepada presiden Prabowo. Segera hentikan dan jangan ada lagi kebijakan daerah yang bertentangan dengan kebijakan Presiden Prabowo,” tegas Najib.

Sementara itu, Ketua Yayasan Mujadalah Kiai Kampung (MKK), Wahyu Muryadi menambahkan, sebagai perpanjangan pemerintah pusat, pemerintah daerah berkewajiban melaksanakan kebijakan dan program pemerintah pusat yang dibuat oleh Presiden Prabowo, terutama program-program yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Wahyu menilai, jika kebijakan pemerintah daerah tidak sesuai atau justru bertentangan dengan kebijakan dan program Presiden Prabowo, maka hal ini akan dapat memancing timbulnya konflik sosial, baik secara vertikal maupun horizontal, yang dapat mengganggu terwujudnya cita-cita kemerdekaan sebagaimana tercermin dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Dari itu kata Wahyu, setelah mencermati berbagai fenomena sosial, mendengar dan memperhatikan keluhan masyarakat di seluruh pelosok pedesaan tanah air dan dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT, Majelis Mujadalah Kiai Kampung (MKK) menyampaikan tiga hal seruan untuk pemerintah saat ini.

Pertama, agar pemerintah daerah di bawah koordinasi Menteri Dalam Negeri, secara serius harus menjalankan program-program Presiden Prabowo, yang pro-rakyat, demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, sehingga tercipta negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sesuai yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Kedua, agar seluruh rakyat Indonesia dapat merasakan kemerdekaan dan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan dengan penuh suka cita, pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang pro-rakyat dan mencabut berbagai kebijakan yang membebani dan merugikan rakyat.

Ketiga tegas Wahyu, tidak menjadikan program-program kerakyatan Presiden Prabowo sekadar proyek untuk kepentingan milik dan keuntungan ekonomi, tetapi benar-benar sebagai sarana menciptakan kesejahteraan rakyat.

“Tiga hal ini yang menjadi seruan dari MKK. Semoga menjadi bahan muhasabah dalam peringatan HUT ke 80 RI,” harap Wahyu Muryadi. (fiq)

Mahasiswa KKN Ganting Kulon Gelar Sosialisasi Penanggulangan Kenakalan Remaja

Probolinggo, Berdampak.net – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Ganting Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo menggelar sosialisasi penanggulangan kenakalan remaja pada hari Sabtu 9 Agustus 2025. Kegiatan di balai desa ini diikuti belasan remaja dan orang tua.

Koordinator Desa (KORDES) KKN Ganting Kulon Ahmad Fauzan mengatakan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja agar menjauhi perilaku menyimpang. “Kenakalan remaja itu ibarat api kecil di ladang. Jika dibiarkan, ia bisa membakar masa depan. Tapi jika diarahkan, semangat itu bisa menjadi cahaya yang menerangi jalan mereka. Melalui sosialisasi ini, kami ingin remaja di Ganting Kulon memahami bahwa pilihan hari ini akan menentukan cerita hidup mereka di masa depan.” ujarnya.

Dosen UPM Emmy Sunarlin, S.H., M.H yang menjadi pemateri menyampaikan materi seputar faktor penyebab kenakalan remaja, dampak yang dapat merugikan masa depan, serta strategi pencegahan. Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam membimbing perilaku remaja.

“Kenakalan remaja memiliki banyak faktor penyebab, mulai dari lingkungan, kurangnya pengawasan, hingga pergaulan yang salah. Dampaknya bisa merugikan masa depan mereka. Karena itu, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting untuk membimbing remaja agar tumbuh dengan perilaku positif,” terangnya.
Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga diisi sesi tanya jawab interaktif. Peserta terlihat antusias bertanya seputar sumber hukum, KDRT, UU perlindungan anak Ketika anak tersebut melakukan kenakalan remaja, dan cara penanggulangan kenakalan remaja.

Kepala Desa Ganting Kulon Ali Baksin mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap generasi muda di desanya mampu menjaga diri dari pengaruh buruk lingkungan dan fokus membangun masa depan.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi penanggulangan kenakalan remaja yang dilakukan mahasiswa KKN ini. Remaja di Ganting Kulon perlu dibekali pengetahuan tentang dampak dan risiko kenakalan, termasuk konsekuensi hukumnya. Harapan saya, mereka yang belum pernah terlibat bisa terus menjaga diri, dan yang pernah terlibat tidak lagi mengulanginya. Generasi muda harus menjadi kebanggaan desa, bukan sumber masalah,” tegasnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, agar terhindar dari perilaku menyimpang dan siap menghadapi tantangan masa depan. (rud)

FEB UNJ Gelar Pelatihan Kewirausahaan Internasional Bagi Pekerja Migran Indonesia di Taiwan

Taiwan, berdampak.net — Dalam rangka memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat lintas negara, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Internasional di Taiwan. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan bertema “Merintis Masa Depan Sejahtera Melalui Keterampilan Kewirausahaan bagi Pekerja Migran Taiwan.” Rabu (06/08/2025).

Acara yang diselenggarakan secara kolaboratif ini diikuti oleh 59 peserta secara online via Line dan Zoom, diikuti oleh komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Kegiatan terlaksana atas dukungan IMIT (Ikatan Muslim Indonesia Taiwan) serta beberapa organisasi pekerja seperti Serikat Pekerja Migran Indonesia & FKKBWIT yang berkomitmen pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan anggotanya.

Pelatihan ini menghadirkan fasilitator Arif Firmansyah, Ph,D, dosen FEB Universitas Airlangga (UNAIR), yang memandu jalannya pelatihan dengan pendekatan partisipatif.

Kegiatan dibagi dalam dua sesi utama dengan pembicara dari FEB UNJ. Sesi 1: Andi Muhammad Sadat, SE., M.SM., Ph.D Kepala Program Studi Pemasaran Digital FEB UNJ, yang membawakan materi terkait Cara Membuat Perencanaan Usaha di Era Digital. Sedangkan Sesi 2: Sheyla S. Siregar, S.S., M.Si., dengan topik Strategi Memanfaatkan teknologi Digital Untuk Usaha.

Dalam paparannya, Dr. Andi Muhammad Sadat menekankan pentingnya membangun pola pikir kreatif dan berani mengambil risiko terukur sebagai fondasi utama dalam memulai usaha. Ia juga menggarisbawahi potensi bisnis digital yang bisa diakses oleh PMI bahkan saat masih berada di luar negeri. “Wirausaha bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga sarana membangun kemandirian dan masa depan yang berkelanjutan. Dengan kemajuan teknologi, pekerja migran punya peluang besar untuk mulai merintis usaha sejak dini,” ungkap Dr. Andi Sadat.

Sementara itu, Sheyla Siregar membekali peserta dengan keterampilan praktis dalam merancang strategi pemasaran melalui media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp Business, agar usaha yang baru dirintis dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Pelatihan ini juga menjadi ruang kolaborasi yang erat antara akademisi dan komunitas migran. IMIT dan Serikat Pekerja Migran di Taiwan menyampaikan apresiasi atas inisiatif dari FEB UNJ dan berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan ini sendiri merupakan komitmen FEB UNJ untuk membangun jejaring pengabdian masyarakat internasional yang memberdayakan diaspora Indonesia dengan pendekatan akademik dan praktis. Pelatihan ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi lahirnya wirausaha-wirausaha tangguh dari kalangan pekerja migran Indonesia di Taiwan. (fj)

FKUB Kota Probolinggo Gelar Sarasehan Moderasi Beragama untuk Segmen Guru SMP/MTs dan Penyuluh Agama Lintas Agama

Probolinggo, 5 Agustus 2025 — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat harmoni sosial dan memperkuat nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat. Kali ini, FKUB menggelar kegiatan Sarasehan Moderasi Beragama dengan segmen khusus guru agama SMP/MTs serta penyuluh lintas agama se-Kota Probolinggo, bertempat di Aula Pondok Pesantren Raudhatul Hasaniyah, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Selasa (5/8).

Kegiatan yang bertemakan Deteksi dini kerawanan berbasis agama ini merupakan lanjutan dari rangkaian sarasehan sebelumnya yang menyasar segmen guru agama tingkat SD/MI. FKUB Kota Probolinggo secara konsisten menyasar para pendidik dan penyuluh sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda.

Sarasehan yang dimulai pada pukul 11.30 WIB ini dibuka secara langsung oleh Wali Kota Probolinggo, dr. Aminudin, Sp.OG.(K)., MM.Kes. Dalam sambutannya, Wali Kota menekankan pentingnya penguatan moderasi beragama dalam membangun peradaban bangsa yang inklusif dan berkeadaban.

“Moderasi beragama bukan hanya konsep, melainkan kebutuhan. Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, kita akan menghadapi bonus demografi. Di sinilah peran para guru agama dan penyuluh sangat penting untuk membentuk karakter generasi bangsa yang toleran, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar Wali Kota.

Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang agama, antara lain Arifin Budianto, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kota Probolinggo, serta Agus Maryono dari Gereja Katolik Bunda Karmel. Kehadiran narasumber lintas agama ini mempertegas semangat inklusivitas dan dialog antariman yang diusung oleh FKUB. Arifin Budianto memaparkan tentang strategi kementerian agama dalam melakukan deteksi din dalam menghadapii kerawanan konflik berbasis agama. Sedangkan Agus Maryono memaparkan konflik antar umat beragama di media sosial dan dampaknya terhadap kerukunan umat beragama.

Setidaknya 100 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari guru-guru agama jenjang SMP/MTs dan para penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha di Kota Probolinggo.

Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. Ahmad Hudri, ST., MAP., dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membekali para pendidik dengan perspektif moderasi beragama yang dapat diteruskan kepada para siswa dan masyarakat luas.

 “Tugas kita bukan hanya menjaga kerukunan, tapi juga mentransformasikan nilai-nilai itu ke dalam ruang kelas dan masyarakat. Guru dan penyuluh memiliki peran strategis untuk menjadi agen perubahan sosial,” tegasnya.

FKUB berharap melalui kegiatan ini, semangat toleransi, saling menghargai perbedaan, dan kolaborasi lintas iman akan terus mengakar di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pendidik sebagai agen pembentuk karakter bangsa.

Probolinggo, 5 Agustus 2025

Ketua FKUB

Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.

MUI Kabupaten Probolinggo Keluarkan Maklumat Tentang Kegiatan HUT RI Ke-80

Probolinggo, Berdampak.net – MUI Kabupaten Probolinggo mengeluarkan maklumat tentang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80. Maklumat itu salah satunya melarang adanya penampilan waria.

Maklumat tentang peringatan HUT RI ke-80 itu berisi dua hal. Pertama, imbauan bagaimana memaknai dan mengisi kegiatan hari kemerdekaan. Kedua, larangan kegiatan tertentu dalam mengisi kegiatan HUT RI ke-80.

Untuk hal pertama, umat Islam khususnya warga Kabupaten Probolinggo, hendaknya memaknai HUT RI sebagai wujud syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Umat Islam juga disarankan untuk mendoakan para pahlawan.

Berikutnya, mengisi kemerdekaan sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Umat Islam juga wajib mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam maklumat itu juga mengatur tentang beberapa larangan kegiatan dalam memperingati HUT RI ke-80. Seperti, larangan penggunaan sound horeg sebagaimana yang ditetapkan dalam fatwa MUI Jawa Timur nomor 1 tahun 2025.

Maklumat MUI Kabupaten Probolinggo ini juga melarang sajian penampilan waria dalam kegiatan HUT RI, dan tampilan maksiat lainnya.

Umat Islam, juga diimbau untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban umum. Tentunya dengan tetap memperhatikan waktu salat selama menggelar kegiatan HUT RI ke-80. Maklumat ditandatangani oleh Ketua Umum, KH Munir Kholili dan Sekretaris Umum H Taufik.

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Probolinggo, H Taufik, mengatakan bahwa maklumat tersebut menjadi pedoman bagi kita dalam memperingati HUT RI ke-80. “Sehingga yang kita lakukan sesuai syariat Islam,” katanya.

H Taufik melanjutkan, maklumat MUI Kabupaten Probolinggo khusus momen hari kemerdekaan RI itu sesuai dengan visi Bupati Probolinggo yakni Sejahtera, Amanah, Religius, dan eksis berdaya saing. “Jadi Kabupaten Probolinggo ini yang religius,” lanjutnya.

Dengan adanya maklumat itu pula, ia berharap agar peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia tidak menciderai nilai-nilai agama Islam. (don)

Prof. Bafadal Apresiasi Mandarin di SMA Nurul Jadid

Probolinggo, Berdampak.net – Sabtu (02/08/2025) SMA Nurul Jadid Paiton, Probolinggo kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang pendidikan bahasa asing. Kali ini, keberhasilan mereka dalam pengembangan bahasa Mandarin mendapat apresiasi langsung dari Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd., tokoh pendidikan nasional yang juga pembina Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang.

Kunjungan Prof. Ibrahim ke Pondok Pesantren Nurul Nurul Jadid dilakukan bersama rombongan sebanyak sepuluh orang pengelola dari Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang. Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk belajar langsung tentang pengelolaan pembelajaran bahasa Mandarin di lingkungan pesantren.

Dalam sambutannya, Prof. Ibrahim menyampaikan rasa kagumnya terhadap sistem yang diterapkan SMA Nurul Jadid. Menurutnya, pembiasaan berbahasa Mandarin yang terstruktur, kurikulum yang progresif, serta perhatian pada kualitas guru menjadi kunci keberhasilan lembaga ini.

“Kami sangat terkesan. Tidak banyak sekolah, apalagi yang berbasis pesantren, mampu menyelenggarakan pembelajaran bahasa Mandarin dengan kualitas seperti ini. Bahkan sudah sampai pada tahap pelaksanaan ujian HSK,” ungkapnya.

HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) merupakan ujian standar kemampuan bahasa Mandarin yang diakui secara internasional. Fakta bahwa siswa-siswi SMA Nurul Jadid sudah mampu mengikuti ujian ini menunjukkan tingginya level penguasaan mereka terhadap bahasa tersebut.

Lebih lanjut, Prof. Ibrahim menyebut bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari kepemimpinan dan manajemen pendidikan yang baik. Ia menilai bahwa ada sistem yang konsisten diterapkan di SMA Nurul Jadid untuk membentuk budaya literasi dan kemampuan bahasa asing di kalangan santri.

Salah satu alumni yang menjadi bukti konkret keberhasilan pendidikan bahasa Mandarin di SMA Nurul Jadid adalah Novi Basuki. Novi dikenal sebagai sosok muda yang fasih berbahasa Mandarin dan kini menempuh studi S1 hingga doktoral di Tiongkok dengan beasiswa penuh.

Prestasi Novi menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Nurul Jadid. Bahkan, Prof. Ibrahim secara pribadi mengaku mengikuti perkembangan Novi melalui berbagai kanal digital, termasuk menonton video-videonya di YouTube dan media sosial lainnya.

“Kami sering menonton kanal video Novi Basuki. Beliau menjadi gambaran bagaimana lembaga pendidikan pesantren mampu mencetak generasi global dengan bekal bahasa internasional,” tambah Prof. Ibrahim.

Delegasi dari Yayasan Pendidikan Sabilillah pun menggali banyak hal selama kunjungan, mulai dari strategi pembiasaan berbahasa Mandarin di lingkungan sekolah, model kurikulum, metode pembelajaran, hingga program upgrading guru-guru bahasa Mandarin.

Para guru SMA Nurul Jadid juga dengan terbuka berbagi pengalaman dan strategi dalam menyusun roadmap pembelajaran bahasa asing yang kontekstual dengan dunia pesantren. Salah satunya adalah dengan integrasi antara bahasa, budaya, dan nilai-nilai akhlak dalam pembelajaran.

Kunjungan ini tidak hanya bersifat observasi, tetapi juga menjadi forum diskusi dan kolaborasi antar-lembaga pendidikan Islam. Para tamu dari Malang terlihat sangat antusias mencatat dan berdialog dengan para pengelola SMA Nurul Jadid.

Dengan adanya kerja sama dan kunjungan seperti ini, SMA Nurul Jadid berharap dapat terus memperluas jaringan dan memperkuat program bahasa asing, terutama Mandarin, sebagai bagian dari misi internasionalisasi pendidikan pesantren.

Sugiono Kepala Bidang Kurikulum Biro Pendidikan dan mantan WaKa Kurikulum SMA Nurul Jadid dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif tim, dukungan yayasan, dan semangat para santri dalam menyambut tantangan global.

“Penguasaan bahasa asing, termasuk Mandarin, bukan hanya untuk keperluan akademik, tetapi juga sebagai pintu dialog peradaban. Kami ingin santri memiliki kesiapan menghadapi dunia global, tanpa kehilangan akar keislamannya,” ujarnya.

Kunjungan Prof. Ibrahim dan tim dari Yayasan Pendidikan Sabilillah Malang ini diakhiri dengan sesi foto bersama, penandatanganan kenang-kenangan, dan rencana tindak lanjut kerja sama dalam pengembangan bahasa asing antar kedua lembaga. (pm)