Kiai Sepuh sebagai Kompas di Tengah Kasak-Kusuk PBNU

​Oleh: Ponirin Mika
(Redaksi Media Berdampak)

​Sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia, setiap gerak-gerik Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi magnet perhatian publik. Belakangan ini, “kasak-kusuk” di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) seolah menjadi konsumsi harian di ruang digital maupun diskusi warung kopi.

Fenomena ini sebenarnya adalah konsekuensi logis dari sebuah organisasi dengan basis massa jutaan orang; semakin besar kapal yang berlayar, semakin kencang pula angin yang menerpa lambungnya.
​Namun, kita perlu meletakkan dinamika ini dalam kacamata yang jernih. Perbedaan pendapat di tubuh NU bukanlah sebuah aib, melainkan hal yang sangat lumrah. Tradisi intelektual NU yang berakar pada bahtsul masail telah melatih para nahdliyin untuk terbiasa dengan dialektika.

Di sana, perbedaan pikiran tidak dipandang sebagai perpecahan, melainkan sebagai ikhtiar mencari kebenaran yang paling maslahat bagi umat.
​Masalahnya, seringkali riuh rendah di level elite sering disalahpahami oleh akar rumput sebagai retakan yang permanen. Di sinilah letak pentingnya kedewasaan berorganisasi. PBNU bukan sekadar mesin birokrasi, ia adalah representasi dari peradaban Islam Nusantara yang mengedepankan adab di atas segalanya. Dinamika politik dan kebijakan organisasi tidak boleh sampai menggerus nilai-nilai kesantunan yang selama ini menjadi jati diri kaum sarungan.

​Dalam situasi yang penuh dengan silang pendapat, kehadiran kiai sepuh dan pengasuh pesantren menjadi sangat vital. Mereka adalah jangkar moral yang menjaga agar kapal PBNU tidak keluar dari jalurnya. Ketika logika struktural kadang terjebak pada kepentingan taktis dan administratif, para kiai sepuh hadir dengan kearifan spiritual yang melampaui kepentingan-kepentingan sesaat tersebut.
​Kiai sepuh adalah penengah yang paling objektif. Mengapa demikian? Karena mereka telah selesai dengan urusan diri sendiri. Bagi mereka, menjaga keutuhan NU adalah bagian dari menjaga warisan para pendiri (muassis). Nasihat yang keluar dari lisan para pengasuh pesantren bukan didasari oleh ambisi jabatan, melainkan oleh rasa tanggung jawab menjaga gawang moralitas bangsa dan keharmonisan jamaah.

​Objektivitas kiai sepuh inilah yang menjadi obat bagi segala “kasak-kusuk” yang ada. Di pesantren, mereka mengajarkan bahwa kepatuhan kepada guru dan organisasi adalah bentuk pengabdian. Maka, ketika para kiai sepuh sudah turun tangan memberikan dawuh, seyogianya seluruh elemen dalam PBNU menundukkan ego masing-masing demi kemaslahatan yang lebih besar.
​Transformasi PBNU menuju organisasi modern yang profesional memang tidak bisa dihindari. Namun, modernitas tersebut tidak boleh mencabut akar tradisi pesantren. Keseimbangan antara gerak cepat birokrasi dan kedalaman petuah kiai adalah kunci utama. Tanpa restu dan arahan dari kiai sepuh, organisasi ini hanya akan menjadi sekumpulan angka tanpa ruh spiritualitas.

​Kesimpulannya, dinamika yang terjadi saat ini harus dimaknai sebagai proses pendewasaan. PBNU harus tetap menjadi oase di tengah gurun kegaduhan nasional. Dengan menjadikan kiai sepuh sebagai rujukan tertinggi dalam mengambil keputusan strategis, segala perbedaan pendapat akan menemukan titik temu yang indah.
​Mari kita jaga rumah besar ini dengan tetap mendengarkan suara dari langit—suara para kiai yang senantiasa mendoakan keselamatan umat. Keutuhan PBNU adalah jaminan bagi keberlangsungan moderasi beragama di Indonesia. Jika para kiai sepuh sudah bertindak sebagai penengah, maka tugas kita sebagai warga adalah sam’an wa tha’atan, mengawal keputusan tersebut demi kejayaan NU dan bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *