Guru Geografi Batu Belajar Meracik Dunia 3D, Gunung dan Longsor Kini Bisa Dijelajahi di Layar
Batu, Berdampak.net – Selama ini, gunung, lapisan bumi, dan lereng rawan longsor di kelas geografi lebih sering hadir sebagai gambar datar di buku atau slide presentasi. Awal Juli 2026, 16 guru geografi yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Kota Batu mencoba cara lain: membangun sendiri ruang tiga dimensi berbasis metaverse. Pendampingan itu digelar selama dua hari, 6-7 Juli, secara hybrid, oleh tim pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Malang (UM) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hari pertama berlangsung daring lewat Google Meet. Para guru dikenalkan pada urgensi pembelajaran mendalam (deep learning), kerangka pedagogi imersif, serta arsitektur dasar platform metaverse. Esok harinya, mereka berkumpul tatap muka di auditorium SMA Negeri 1 Batu, sekolah yang dipilih sebagai tuan rumah karena fasilitasnya memadai dan statusnya sebagai salah satu sekolah unggulan di kota itu. Di sana, guru praktik langsung merancang ruang virtual 3D sambil menyusun skenario belajar berbasis proyek secara berkelompok.
Peserta dan tim pendamping dalam seminar pendampingan media metaverse di Batu.
Program bertajuk pendampingan pengembangan media virtual interaktif berbasis metaverse ini memakai pendekatan service learning, yakni mahasiswa terlibat sebagai mitra guru sejak perencanaan hingga evaluasi. Sebelum turun ke lapangan, mahasiswa dibekali metode Asset-Based Community Development (ABCD) dan Community-Based Research (CBR) untuk memetakan aset sekolah dan profil guru. Dari pemetaan itu, tim menyusun modul praktis tentang litosfer, dari lapisan bumi, jenis batuan, hingga bentang alam pegunungan. Hasilnya antara lain museum litosfer 3D dan model topografi Andongrejo.
Proses rendering aset metaverse oleh peserta.
Kegiatan ini lahir dari kegelisahan guru. Dalam wawancara awal, mereka mengaku kesulitan membuat materi digital 3D karena keterbatasan keterampilan desain, waktu yang sempit, dan belum adanya pelatihan terstruktur. Akibatnya, pembelajaran sering bertumpu pada ceramah dan slide statis yang membuat siswa pasif. Karyawisata pun kerap terganjal biaya, jangkauan lokasi, dan keselamatan. Metaverse ditawarkan sebagai jalan keluar karena memungkinkan siswa menjelajah permukaan bumi, mengamati mitigasi bencana seperti letusan gunung api dan longsor, serta menelaah pola permukiman tanpa meninggalkan kelas.
Hasilnya, menurut temuan tim, terasa pada cara mengajar. Guru yang semula kesulitan menjelaskan fenomena spasial abstrak, seperti bentang pegunungan dan kerentanan bencana, kini bisa menampilkannya secara kontekstual. Seorang peserta menyebut, lewat metaverse siswa tak lagi sekadar melihat gambar dua dimensi, tetapi berdiskusi dan menganalisis kawasan rawan longsor bersama di ruang virtual. Pengurus MGMP menilai pendampingan ini membuka arah baru bagi organisasi, sebab guru selama ini umumnya hanya memakai perangkat presentasi seperti PowerPoint.
Lingkungan virtual metaverse yang dibangun dengan platform Spatial.io.
Tentu tak semulus yang dibayangkan. Spesifikasi komputer sekolah yang terbatas dan koneksi internet yang naik-turun menyulitkan proses rendering objek 3D yang berat. Para guru menyiasatinya dengan memakai platform berbasis web yang ringan, seperti Spatial.io dan FrameVR, serta merancang skenario satu perangkat untuk banyak pengguna. Dalam skema ini, satu siswa menjadi navigator di ruang 3D, sementara anggota kelompok lain mengamati indikator geografis di lembar kerja dan memimpin diskusi analisis mitigasi. Siasat itu, tulis tim peneliti, sekaligus menepis anggapan bahwa teknologi canggih selalu membuat siswa terisolasi.
Tim mengakui ada batasan, antara lain jumlah peserta yang relatif kecil dan cakupan yang hanya satu wilayah MGMP, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi. Mereka menyarankan riset lanjutan yang mengukur dampak jangka panjang metaverse terhadap capaian belajar siswa.
Penulis: Adip Wahyudi, Evi Fitriana, Slamet Arifin, Dewa Putra Cisnaulin, dan Feri Fahrian Maulana.