Hari Santri 2026: Menguatkan Negeri Lewat Jihad Ekologi dan Pengelolaan Sampah


Oleh: Taufiqur Rohim (Founder Pena Hijau)

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 kembali diselenggarakan pada Kamis, 22 Oktober 2026, mengusung tema resmi Kementerian Agama: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema ini memanggil ingatan sejarah saat KH Hasyim Asy’ari memekikkan Resolusi Jihad pada 1945 untuk membela tanah air. Namun, dalam konteks hari ini, ancaman terhadap kedaulatan bangsa tak lagi datang dari militer asing, melainkan dari krisis lingkungan, khususnya penumpukan sampah plastik yang menyelimuti sungai, laut, dan pemukiman kita.

Bagaimana santri dapat benar-benar “menguatkan negeri” menuju cita-cita Indonesia Emas 2045 jika fondasi bumi tempat kita berpijak mengalami degradasi lingkungan yang parah?

Indonesia saat ini masih berjibaku dengan timbulan sampah harian yang amat masif. Plastik sekali pakai, limbah rumah tangga, hingga persoalan penutupan atau kelebihan kapasitas di berbagai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menjadi potret nyata di berbagai daerah. Dampaknya bukan sekadar estetika, melainkan juga banjir berkala akibat sungai tersumbat, pencemaran mikroplastik pada sumber air minum, hingga emisi gas rumah kaca dari pembusukan limbah yang tak terkelola, dan pula akhir-akhir ini Indonesia digemparkan dengan kebakaran hutan terjadi di berbagai daerah, yang juga berdampak pada polusi udara mengancam yang mengancam kesehatan kita semua.

Dari data yang berhasil kami himpun melalui aksi river clean up yang komunitas kami lakukan (Komunitas Pena Hijau, red), dari bulan Juli hingga pertengahan September 2026, delapan kali aksi, terhitung sekitar 6,36 ton sampah berbagai jenis berhasil kita angkat dari beberapa sungai yang berada di Kecamatan Paiton, Kotaanyar dan Pakuniran.

Selanjutnya, dari pertengahan bulan September hingga akhir November dari empat kali aksi clean up pada empat sungai di Kecamatan Paiton, kami berhasil mengangkat sekitar 7,12 ton sampah. Dari data tersebut menunjukkan minimnya kesadaran kita sebagai warga tentang lingkungan, dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.

Dalam ajaran Islam, kebersihan dan kelestarian alam adalah bagian integral dari iman (An-Nadhifatu minal iman). Namun, kerap kali wacana kebersihan berhenti pada tataran kebersihan ritual semata, belum menyentuh kebersihan ekologis (ecological sanitation). Padahal, menjaga keseimbangan alam (hifdzul bi’ah) merupakan bagian terpenting dalam menjaga jiwa, keturunan, dan keberlanjutan hidup umat manusia.

Pesantren sebagai entitas pendidikan berbasis komunitas terbesar di Indonesia memiliki akar sosial yang sangat kuat. Dengan ribuan pondok pesantren dan puluhan juta santri di seluruh penjuru nusantara, pesantren memiliki potensi besar menjadi pilar penggerak transformasi lingkungan hidup.

Penguatan peran santri harus dimulai dari dalam tembok pesantren sendiri. Penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik di asrama, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan komposting, hingga pengolahan air limbah mandiri adalah bentuk nyata latihan kemandirian dan kedisiplinan santri.

Peringatan Hari Santri 2026 juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Inovasi pengelolaan sampah, seperti pembentukan Bank Sampah Santri, budidaya maggot (black soldier fly) untuk limbah sisa makanan, dan pengolahan daur ulang—dapat menjadi peluang ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi keuangan pesantren dan masyarakat sekitar.

Semangat dakwah santri kini saatnya dirasakan langsung oleh alam. Gerakan aksi sosial seperti river clean-up (bersih sungai), penanaman pohon mangrove di kawasan pesisir, serta advokasi bahaya pembakaran sampah liar menjadi sarana konkrit santri menyapa dan menyehatkan masyarakat.

Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan juga dari kualitas lingkungan hidup yang berkelanjutan dan peradaban masyarakat yang ramah lingkungan.

Logo Hari Santri 2026 menggambarkan bentuk jalinan dan ikatan dinamis sebuah simbol kebersamaan, persatuan, dan ikatan antarunsur yang saling menguatkan.Kebersamaan ini harus diwujudkan dalam kolaborasi antara santri, pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk menghentikan krisis sampah di tanah air.

Menjadi santri modern berarti menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, dan berilmu mendalam. Ketika seorang santri membawa kitab di tangan kanannya, ia juga membawa kepedulian terhadap kelestarian alam di tangan kirinya.

Memperingati Hari Santri 2026 bukan sekadar seremoni mengenang masa lalu, melainkan panggilan aksi untuk masa depan. Melalui jihad ekologi dan komitmen nyata dalam mengurangi serta mengelola sampah, para santri memegang peranan kunci dalam membentengi alam Indonesia dari kehancuran.

Mari jadikan peringatan Hari Santri tahun ini sebagai momentum kebangkitan gerakan hijau dari pesantren: Santri Resik, Pesantren Asri, Indonesia Menguat Menuju Masa Depan Emas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *