Perkuat Ekonomi Nelayan Tangkap Kecil, FEB UNAIR Berkolaborasi dengan FEB UNIGO dan RISED, Berikan Edukasi KUR di Gorontalo

Gorontalo, Berdampak.net – Permodalan merupakan fondasi penting bagi nelayan tangkap berskala kecil untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperbaiki kualitas sarana tangkap, serta menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga pesisir. Meskipun demikian, akses nelayan terhadap fasilitas pembiayaan formal masih relatif terbatas. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor kelautan dan perikanan secara konsisten berada di bawah 3% dari total penyaluran KUR nasional, jauh lebih rendah dibandingkan sektor pertanian maupun perdagangan. Rendahnya serapan tersebut antara lain berkaitan dengan persepsi risiko yang tinggi pada sektor kelautan, ketidaksiapan administrasi usaha, serta keterbatasan informasi yang diterima nelayan mengenai tata cara dan skema KUR.

Melihat kendala tersebut dan tingginya kebutuhan pendampingan permodalan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gorontalo (FEB UNIGO) dan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menyelenggarakan program edukasi dan pendampingan penyiapan akses KUR bagi nelayan tangkap berskala kecil.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan secara resmi dibuka dengan sambutan dari Bunda Desa Botutonuo, Nurlaila Ahmad, S.AP.; Dekan FEB Universitas Gorontalo, Dr. Silviana Taniu, S.E., M.Si.; serta perwakilan FEB Universitas Airlangga, Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc. Dalam pembukaannya, pihak desa dan fakultas mengapresiasi kolaborasi lintas institusi tersebut sebagai bentuk kepedulian akademisi terhadap peningkatan literasi keuangan dan akses pembiayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan diikuti oleh sekitar 20 peserta yang terdiri atas nelayan tangkap berskala kecil dan istri nelayan yang mewakili keluarganya dari Desa Botutonuo. Kegiatan berlangsung selama sekitar tiga jam, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.

Sebelum sesi edukasi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan kesiapan mereka dalam mengakses KUR. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai kredit bersubsidi tersebut masih terbatas. Sebagian peserta menganggap KUR hanya dapat digunakan sebagai modal untuk mendirikan usaha baru, sementara sebagian lainnya masih memiliki persepsi bahwa KUR merupakan bantuan pemerintah yang tidak perlu dikembalikan kepada lembaga penyalur.
Memasuki sesi edukasi, materi yang disusun oleh tim PkM FEB UNAIR dan RISED, yaitu Prof. Drs. Ec. Tri Haryanto, M.P., Ph.D., Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc., Lyla Rachmaningtyas, Ph.D., Achmad Sjafii, S.E., M.E., dan Iqram Ramadhan Jamil, S.E., disampaikan secara langsung oleh Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc. dan Iqram Ramadhan Jamil, S.E. Kedua pemateri menjelaskan peran kredit dalam pengembangan usaha, skema KUR, mekanisme pengajuan, serta berbagai persyaratan yang perlu dipersiapkan nelayan untuk mengakses pembiayaan tersebut.

Selanjutnya, Ayub Usman Rasid, S.E., M.M. dari FEB UNIGO memberikan edukasi mengenai kesiapan nelayan sebelum mengajukan pembiayaan melalui KUR. Penekanan diberikan pada pentingnya memahami mekanisme pengembalian pinjaman dan kesiapan pengelolaan usaha sebelum mengajukan kredit. Pada sesi ini, peserta juga diperkenalkan dengan daftar persyaratan dan aspek-aspek yang perlu dipersiapkan sebelum mengajukan KUR. 

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan selama sesi diskusi. Peserta mengemukakan sejumlah kendala yang mereka hadapi dalam mengakses KUR, mulai dari persyaratan pengajuan, mekanisme penyelesaian apabila mengalami kendala pembayaran, hingga peluang pengajuan kredit nelayan untuk mendapatkan persetujuan dari bank penyalur.

Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test untuk melihat perubahan pengetahuan dan kesiapan mereka setelah mengikuti rangkaian edukasi. Perbandingan hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai KUR. Namun, peningkatan pengetahuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kesiapan untuk mengajukan KUR. Salah satu kendala yang dirasakan peserta adalah pemenuhan aspek administrasi usaha, terutama pencatatan keuangan kegiatan usaha nelayan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi mengenai KUR merupakan langkah awal yang penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi nelayan tangkap berskala kecil. Namun, edukasi saja belum cukup. Sejumlah persyaratan administratif dan pengelolaan usaha masih menjadi tantangan yang perlu diatasi agar nelayan semakin siap mengakses pembiayaan formal.

Oleh karena itu, upaya memperluas akses KUR bagi nelayan perlu dilanjutkan melalui pendampingan yang lebih praktis dan berkelanjutan. Ke depan, kolaborasi FEB UNAIR, FEB UNIGO, dan RISED diharapkan dapat terus dikembangkan untuk membantu nelayan meningkatkan kesiapan administrasi dan pengelolaan usaha, sehingga peningkatan literasi keuangan dapat diterjemahkan menjadi akses pembiayaan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir.