Jum’at Bersih SMADA: Menjaga Budaya Sekolah Terawat, Menguatkan Komitmen Sang Juara

Sampang, Berdampak.net– Semangat menjaga lingkungan sekolah tetap bersih, sehat, nyaman, dan asri terus digaungkan oleh keluarga besar SMA Negeri 2 Sampang. Melalui Gerakan Jum’at Bersih yang terintegrasi dalam program SIKAP, seluruh warga sekolah kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya positif dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan SMA 2 Sampang dalam mempertahankan predikat sebagai sang juara bertahan Lomba Apresiasi Sekolah Terawat 2026 yang diselenggarakan oleh Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur.

Gerakan Jum’at Bersih tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan membersihkan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi peserta didik untuk menumbuhkan sikap disiplin, gotong royong, tanggung jawab, kepedulian, serta kesadaran bahwa kebersihan merupakan bagian penting dari karakter warga sekolah.

Kepala SMA 2 Sampang terus mendorong agar budaya sekolah terawat tidak berhenti pada sebuah perlombaan maupun penghargaan, tetapi menjadi kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

“Predikat juara adalah sebuah apresiasi, tetapi mempertahankan budaya sekolah yang bersih, sehat, tertib, dan nyaman adalah sebuah komitmen. Karena sekolah terawat bukan hanya tentang lingkungan yang terlihat bersih, tetapi tentang sikap dan karakter seluruh warga sekolah dalam menjaganya,” demikian semangat yang terus dibangun dalam pelaksanaan Gerakan Jum’at Bersih.

Program tersebut juga menjadi wujud dukungan SMA 2 Sampang terhadap berbagai program strategis yang berdampak bagi masyarakat dan dunia pendidikan di Jawa Timur, termasuk semangat membangun lingkungan pendidikan yang sehat, nyaman, berkarakter, dan mampu memberikan dampak positif bagi peserta didik.

Dengan mengintegrasikan kebersihan lingkungan ke dalam program SIKAP, SMA 2 Sampang berupaya membentuk ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik dan nonakademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan budaya hidup bersih.

Semangat gotong royong yang terlihat dalam Gerakan Jum’at Bersih menjadi bukti bahwa mempertahankan predikat Sekolah Terawat membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik bergerak bersama dalam satu semangat: sekolah bersih, sekolah sehat, sekolah nyaman, dan sekolah berprestasi.

Sebagai sang juara bertahan, SMA 2 Sampang ingin membuktikan bahwa prestasi bukanlah garis akhir. Justru, prestasi menjadi energi untuk terus berbenah, berinovasi, dan memberikan dampak yang lebih luas.

Dari Jum’at Bersih lahir kebiasaan. Dari kebiasaan tumbuh karakter. Dari karakter lahir generasi yang peduli dan bertanggung jawab. Inilah semangat SMA 2 Sampang untuk terus menjaga budaya sekolah terawat dan menghadirkan pendidikan yang berdampak bagi masa depan generasi muda Jawa Timur. (rh)

Wajah Baru TK Melati Gending, Berkat Sentuhan CSR PT Sasa Inti

PROBOLINGGO, Berdampak.net – TK Melati di Desa Gending, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, kini tampil dengan wajah baru. Fasilitas pendidikan anak usia dini tersebut mendapat renovasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Sasa Inti.
Peresmian hasil renovasi dilakukan pada Kamis (3/9/2026), dihadiri Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris dan Presiden Direktur PT Sasa Inti Shiv Ranjan Sahgal.

Renovasi meliputi ruang guru dan dua ruang kelas. Dengan adanya pembenahan tersebut, proses belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung lebih nyaman, aman, dan mendukung tumbuh kembang para siswa.

Selain renovasi gedung, kegiatan CSR juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim serta bantuan perlengkapan sekolah bagi siswa TK Melati.

Bupati Probolinggo mengapresiasi kepedulian PT Sasa Inti terhadap dunia pendidikan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah.

Sementara itu, PT Sasa Inti menyampaikan bahwa dukungan terhadap TK Melati merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, khususnya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi generasi masa depan.

Dengan dukungan tersebut, TK Melati Gending diharapkan tidak hanya memiliki fasilitas yang lebih layak, tetapi juga mampu menjadi ruang belajar yang nyaman bagi anak-anak untuk tumbuh, bermain, dan mengembangkan potensi mereka.

Menko Yusril: Etika Peradaban dan Kedaulatan Kemampuan Kunci Masa Depan RI

Jakarta, Berdampak.net – Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra menjadi pembicara tunggal dalam B.J. Habibie Memorial Lecture ke-5 di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pada Rabu (2/9). Dalam kuliah memorial bertajuk “Etika Peradaban dalam Membangun Masa Depan Bangsa: Membaca Ulang Pemikiran Filosofis M. Natsir dan Cita-cita B.J. Habibie”. Menko Yusril menegaskan pentingnya perpaduan etika dan kemampuan untuk membangun masa depan bangsa.

Menko Yusril memaparkan sintesis pemikiran Mohammad Natsir dan B.J. Habibie : Natsir menekankan orientasi moral dan etika dalam mengelola kekuasaan politik, sedangkan Habibie mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis iman dan takwa agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi memiliki kapasitas industri dan riset mandiri.

Ia juga menyoroti kontribusi Habibie dalam masa transisi Reformasi 1998–1999 yang menjadi fondasi demokrasi modern serta kebijakan berbasis konstitusi. Sebagai penutup, Menko Yusril menyampaikan lima agenda etika peradaban menuju 2045: penguatan IP, evaluasi kebijakan industri strategis, pemeliharaan demokrasi sebagai mekanisme koreksi, internalisasi Pancasila, serta penguatan adaptasi hukum terhadap perkembangan teknologi.

Acara ditutup dengan sambutan Ilham Akbar Habibie yang menyampaikan apresiasi atas pidato memorial serta menekankan dimensi cinta dan kemanusiaan dalam warisan Habibie yang dinilai akan terus menjadi penuntun perjalanan bangsa. (rh)

Perkuat Ekonomi Nelayan Tangkap Kecil, FEB UNAIR Berkolaborasi dengan FEB UNIGO dan RISED, Berikan Edukasi KUR di Gorontalo

Gorontalo, Berdampak.net – Permodalan merupakan fondasi penting bagi nelayan tangkap berskala kecil untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperbaiki kualitas sarana tangkap, serta menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga pesisir. Meskipun demikian, akses nelayan terhadap fasilitas pembiayaan formal masih relatif terbatas. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor kelautan dan perikanan secara konsisten berada di bawah 3% dari total penyaluran KUR nasional, jauh lebih rendah dibandingkan sektor pertanian maupun perdagangan. Rendahnya serapan tersebut antara lain berkaitan dengan persepsi risiko yang tinggi pada sektor kelautan, ketidaksiapan administrasi usaha, serta keterbatasan informasi yang diterima nelayan mengenai tata cara dan skema KUR.

Melihat kendala tersebut dan tingginya kebutuhan pendampingan permodalan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gorontalo (FEB UNIGO) dan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menyelenggarakan program edukasi dan pendampingan penyiapan akses KUR bagi nelayan tangkap berskala kecil.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan secara resmi dibuka dengan sambutan dari Bunda Desa Botutonuo, Nurlaila Ahmad, S.AP.; Dekan FEB Universitas Gorontalo, Dr. Silviana Taniu, S.E., M.Si.; serta perwakilan FEB Universitas Airlangga, Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc. Dalam pembukaannya, pihak desa dan fakultas mengapresiasi kolaborasi lintas institusi tersebut sebagai bentuk kepedulian akademisi terhadap peningkatan literasi keuangan dan akses pembiayaan masyarakat pesisir.

Kegiatan diikuti oleh sekitar 20 peserta yang terdiri atas nelayan tangkap berskala kecil dan istri nelayan yang mewakili keluarganya dari Desa Botutonuo. Kegiatan berlangsung selama sekitar tiga jam, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.

Sebelum sesi edukasi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan kesiapan mereka dalam mengakses KUR. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai kredit bersubsidi tersebut masih terbatas. Sebagian peserta menganggap KUR hanya dapat digunakan sebagai modal untuk mendirikan usaha baru, sementara sebagian lainnya masih memiliki persepsi bahwa KUR merupakan bantuan pemerintah yang tidak perlu dikembalikan kepada lembaga penyalur.
Memasuki sesi edukasi, materi yang disusun oleh tim PkM FEB UNAIR dan RISED, yaitu Prof. Drs. Ec. Tri Haryanto, M.P., Ph.D., Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc., Lyla Rachmaningtyas, Ph.D., Achmad Sjafii, S.E., M.E., dan Iqram Ramadhan Jamil, S.E., disampaikan secara langsung oleh Wahyu Wisnu Wardana, S.E., M.Sc. dan Iqram Ramadhan Jamil, S.E. Kedua pemateri menjelaskan peran kredit dalam pengembangan usaha, skema KUR, mekanisme pengajuan, serta berbagai persyaratan yang perlu dipersiapkan nelayan untuk mengakses pembiayaan tersebut.

Selanjutnya, Ayub Usman Rasid, S.E., M.M. dari FEB UNIGO memberikan edukasi mengenai kesiapan nelayan sebelum mengajukan pembiayaan melalui KUR. Penekanan diberikan pada pentingnya memahami mekanisme pengembalian pinjaman dan kesiapan pengelolaan usaha sebelum mengajukan kredit. Pada sesi ini, peserta juga diperkenalkan dengan daftar persyaratan dan aspek-aspek yang perlu dipersiapkan sebelum mengajukan KUR. 

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan selama sesi diskusi. Peserta mengemukakan sejumlah kendala yang mereka hadapi dalam mengakses KUR, mulai dari persyaratan pengajuan, mekanisme penyelesaian apabila mengalami kendala pembayaran, hingga peluang pengajuan kredit nelayan untuk mendapatkan persetujuan dari bank penyalur.

Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test untuk melihat perubahan pengetahuan dan kesiapan mereka setelah mengikuti rangkaian edukasi. Perbandingan hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai KUR. Namun, peningkatan pengetahuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kesiapan untuk mengajukan KUR. Salah satu kendala yang dirasakan peserta adalah pemenuhan aspek administrasi usaha, terutama pencatatan keuangan kegiatan usaha nelayan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi mengenai KUR merupakan langkah awal yang penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi nelayan tangkap berskala kecil. Namun, edukasi saja belum cukup. Sejumlah persyaratan administratif dan pengelolaan usaha masih menjadi tantangan yang perlu diatasi agar nelayan semakin siap mengakses pembiayaan formal.

Oleh karena itu, upaya memperluas akses KUR bagi nelayan perlu dilanjutkan melalui pendampingan yang lebih praktis dan berkelanjutan. Ke depan, kolaborasi FEB UNAIR, FEB UNIGO, dan RISED diharapkan dapat terus dikembangkan untuk membantu nelayan meningkatkan kesiapan administrasi dan pengelolaan usaha, sehingga peningkatan literasi keuangan dapat diterjemahkan menjadi akses pembiayaan yang lebih baik bagi masyarakat pesisir.

SMADA Sampang Bersinar, Raih Prestasi Karaoke dan Best Costume Modeling, Bukti Nyata Semangat Kepala Sekolah Muda Dorong Talenta Pelajar

Sampang, Berdampak.net – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh peserta didik SMA Negeri 2 Sampang. Tak hanya unggul dalam bidang akademik, talenta siswa SMADA juga terus berkembang melalui berbagai ajang nonakademik. Kali ini, prestasi membanggakan datang dari bidang tarik suara dan modeling.

Dalam ajang talenta yang diikuti, siswi SMADA berhasil membawa pulang piala lomba karaoke sekaligus meraih penghargaan Best Costume Modeling. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa potensi dan kreativitas peserta didik SMA Negeri 2 Sampang terus mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berprestasi.

Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen SMADA Sampang dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap bakat, minat, kreativitas, kepercayaan diri, dan karakter peserta didik.

Kepala SMA Negeri 2 Sampang, Dimas Bayu Perdana Putra, M.Pd, sebagai sosok kepala sekolah muda yang penuh semangat dan inovasi, terus mendorong seluruh warga sekolah untuk berani mengembangkan potensi dan menjadikan setiap kesempatan sebagai ruang untuk berprestasi.

Di bawah kepemimpinan yang energik dan visioner, sekolah terus membuka ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi berbagai bidang, termasuk seni, olahraga, kreativitas, kepemimpinan, hingga pengembangan talenta lainnya.

“Prestasi bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang keberanian untuk mengembangkan potensi, berproses, dan memberikan karya terbaik.”

Raihan piala karaoke dan Best Costume Modeling menjadi penyemangat baru bagi keluarga besar SMA Negeri 2 Sampang. Setiap prestasi yang diraih siswa merupakan hasil dari keberanian untuk mencoba, kerja keras, dukungan guru dan orang tua, serta ekosistem sekolah yang memberikan ruang bagi tumbuhnya talenta generasi muda.

SMADA Sampang pun terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang adaptif, kreatif, berkarakter, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik.

Semangat berprestasi tersebut diharapkan terus menular kepada seluruh siswa. Karena sejatinya, setiap anak memiliki talenta masing-masing, dan tugas sekolah adalah membantu menemukan, mengasah, serta mengantarkan talenta tersebut menjadi prestasi.

SMADA Sampang — terus bergerak, terus berkarya, dan terus mencetak generasi berprestasi!

Wali Kota Probolinggo Dorong FPRB Masuk Sekolah, Edukasi Kebencanaan Jadi Kunci Tangguh!

Probolinggo, Berdampak.net – Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mendorong Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) memperluas edukasi kebencanaan hingga ke sekolah dan seluruh lapisan masyarakat.

Dorongan ini disampaikan saat menerima audiensi jajaran FPRB Kota Probolinggo pada Selasa (1/9/2026). Pertemuan membahas strategi penguatan ketangguhan daerah menghadapi ancaman bencana yang beragam, baik dari faktor hidrometeorologi maupun geologi.

Wali kota menilai pengurangan risiko bencana harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi melalui pencegahan, kesiapsiagaan, serta penguatan masyarakat. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu fokus utama; FPRB diharapkan masuk ke lingkungan sekolah dengan metode yang mudah dipahami agar membentuk generasi yang siap dan berpengetahuan tentang kebencanaan.

Tidak hanya sekolah, sosialisasi juga diminta menjangkau masyarakat luas. FPRB diharapkan mampu mengedukasi warga mengenai apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Wali kota turut meminta FPRB terus meningkatkan kapasitas serta memperkuat sinergi dengan BPBD agar program berjalan sesuai ketentuan.

Audiensi juga menyoroti rencana Jambore FPRB yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 sebagai ajang konsolidasi dan penguatan jejaring antarpihak. (rh)